Selasa, 21 November 2023

Gonjalisuta (Samba Juwing)

 Hai semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan. Kisah kali ini mengisahkan tentang perang Gonjalisuta, perang antara Prabu Boma Sitija melawan ayahnya, Sri Kresna. Dalam kisah ini juga dikisahkan Samba dikutuk hamil lalu melahirkan sebuah moshala (gada besi) akibat mengejek Batara Narada dan kelak karena gada itulah kejayaan Wangsa Yadawa akan berakhir dan akan menumbalkan nyawa Sri Kresna. Kisah ini juga prolog pertama menuju Bharatayudha.  Kisah ini mengambil sumber dari Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa,  https://albumkisahwayang.blogspot.com/2019/04/perang-gojalisuta.html, https://www.kompasiana.com/jayakardi/550d93d8a33311781b2e3ccc/kisah-boma-2-anak-yang-terbunuh-oleh-ayahnya, https://caritawayang.blogspot.com/2015/05/samba-juwing.html, dan https://www.balipost.com/news/2022/09/24/293961/Samba,Tukang-Onar.html dengan perubahan dan penambahan seperlunya.

Setelah menyelesaikan masalah di Upalawaya, Prabu Sri Kresna kembali ke kerajaan dan mendapati Raden Samba tiba-tiba hamil. Para pemuda Yadawa berkata kalau Samba berbuat nakal dengan berpura-pura jadi wanita hamil dan menggoda Batara Narada yang menyamar menjadi sorang pendeta. Para pemuda menirukan Samba saat itu "Maharesi, aku permaisuri Arya Babru, punggawa Sri Kresna. Apakah aku akan melahirkan bayi? laki-lakikah? atau perempuankah?" Batara Narada marah dan mengutuk Samba "Kurang ajar! kau bukan istri Babru! kau Samba anak Basudewa Sri Kresna! yang kau kandung itu bukan bayi! Kau mengandung sebuah senjata penghancur Trah Yadawa!" para pemuda juga mengatakan kalau Batara Narada juga mengutuk Samba akan mengalami dua kematian yang tragis. Prabu Sri Kresna marah sekali mendengarnya, lalu ia membedah perut Samba secara gaib dan mengambil senjata penghancur itu. Senjata itu berupa gada besi (moshala). Prabu Sri Kresna segera menghancurkan senjata itu dan menyebarkan abunya ke laut.

Samba melahirkan sebilah gada besi
Raden Samba diperintahkan bapaknya untuk bertapa demi merenungi kesalahannya " Samba, Kau Sudah Berbuat Macam-macam dengan Déwa. Sebagai Hukuman, Pergilah dari sini dan bertapa sana !" Samba pun kaget dengan kemarahan sang ayah dan segera pergi ke Astana Gandamadana, tempat tinggal sang kakak, Resi Gunadewa. Selama ia bertapa, ia teringat pada iparnya, Dewi Hagnyanawati. Ia selalu terbayang-bayang akan ayu paras kakak iparnya itu.  Ia jatuh cinta. Maka ia curhat kepada sang kakak " kakang, aku tidak bisa menghilangkan Yunda Hagnyanawati dari pikiranku. Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Bantu aku kakang agar akau bisa bertemu dengannya." Resi Gunadewa kaget mendengarnya dan berkata " Samba, kau ini benar-benar gila! Hagnyanawati itu kakak iparmu, isteri kakang prabu Sitija. Buang pikiranmu yang ngeres itu. Kau sendiri punya anak dan isteri. Ingat-ingat Harya Dwara dan Dinda Sunggatawati." Raden Samba tersinggung " kakang tega! Sungguh kau bukan kakangku lagi. Aku akan menjemput Yunda Hagnyanawati baik dengan restumu atau tidak. Persetan dengan itu!." Maka pergilah Samba menuju Trajutrisna meninggalkan sang kakak.

Di kerajaan Trajutrisna, Dewi Hagnyanawati baru melahirkan putranya dengan Prabu Boma Sitija yakni Bambang Kismaka. Setelah selesai masa nifas, Dewi Hagnyanawati kembali tidak mau disentuh sang suami. Prabu Boma Sitija berkata " isteriku, kenapa kau ini? Jangan buat aku berdosa dengan tak memberikan nafkah batin." "Kakanda, aku hanya lelah dengan ini. Tapi rasa lelah ini akan hilang jika kakanda mau membuatkan jalan lurus dari Trajutrisna dengan Giyantipura." Tanpa pikir panjang, Tumenggung Ancakogra dan Tumenggung Yayahgriwa diperintahkan membuat jalan itu. Meski siapapun yang menghalangi, lebih baik disingkirkan saja. Jalan lurus itu rupanya harus memotong Astana Gandamadana. Resi Gunadewa tidak berkenan karena Astana ini adalah tempat leluhur Trah Yadawa bersemayam dan wilayahnya ada di Mandura. Maka ia memanggil sang kakak sepupu yakni Arya Wisatha, putra mahkota Mandura untuk menengahi. Meskipun demikian, tetap tak ada jalan tengah untuk masalah ini. Tumenggung Yayahgriwa tetap memaksa Resi Gunadewa menandatangani akta kontrak pembebasan lahan. Arya Wisatha marah " kau benar-benar tidak beretika, tumenggung. Jangan memaksakan kehendak. Rajamu, Dinda Sitija pasti sedang sakit jiwa karena menuruti keinginan Dinda Hagnyanawati. Kami lebih baik mati berkalang tanah daripada membiarkan leluhur kami tersiksa di akhirat." Tak terima sang raja dihina, terjadilah perang di Gandamadana. Perang tanding tak terelakkan. Tumenggung Yayahgriwa mengabulkan perkataan Resi Gunadewa dan Arya Wisatha. Ia lantas menghantam kepala resi muda dan putra mahkota Mandura itu menggunakan gada di tangannya. Resi Gunadewa pun gugur seketika dengan kepala remuk.

Sengketa Astana Gandamadana
Namun Arya Wisatha yang sudah terluka parah masih bisa membunuh Tumenggung Yayahgriwa dengan meremukkan kepalanya. Setelah berhasil, Arya Wisatha akhirnya gugur menyusul adik sepupunya itu. Patih Pragota segera memanggil bala bantuan dan berhasil mengusir pasukan Trajutrisna dengan kedatangan Arya Sencaki. Arya Sencaki berkata "masalah ini bisa diselesaikan oleh tiga raja negara masing-masing . Kakang Prabu Baladéwa, kakang Prabu Sri Kresna, dan Ananda Prabu Boma harus berunding masalah ini." Mereka pun setuju namun Tumênggung Ancakogra tidak setuju maka ia menyerang Sencaki lalu tak berapa lama, tewaslah Ancakogra bersama Tumênggung Yayahgriwa. Arya Sencaki dan Arya Pragota membawa jasad Gunadewa dan Wisatha juga dua tumenggung Trajutrisna itu untuk segera dikebumikan secara layak.

Sementara itu, Samba bertemu Arjuna dan Prabu Gatotkaca. Arjuna mengajak keponakannya yang masih berduka karena kematian Kalabendana untuk hendak menjenguk isteri dan anak Samba yang tak lain putri dan cucu Arjuna yakni Dewi Sunggatawati dan Harya Dwara. Samba berkata pada mertuanya kalau dia ingin menikah lagi dengan Dewi Hagnyanawati. Arjuna marah besar mendengar " Samba! Kau sungguh tak punya hati! putriku hendak kau madu dan kau akan memadunya dengan iparmu. Kau benar-benar memalukan!" Samba balas menjawab " ayah sendiri apa bedanya? Kau sendiri berapa isterimu? Tak salah buatku untuk menikah lebih dari satu orang!" Arjuna terkena skakmat. Ia sadar kalau ia sendiri isterinya banyak tapi ia berkata "kalau itu mau lakukan lah, tapi aku tetap tidak akan merestuimu merebut isteri saudaramu sendiri!" Gatotkaca segera membawa Samba ke Trajutrisna" nah turunlah, aku hanya bisa mengantar sampai sini. Setelahnya usahakan sendiri. Aku tidak mau terlibat drama ini."

Di tempat lain, Prabu Boma Sitija bertemu ibunya, Dewi Pertiwi. Ia menanyakan tentang kejelasan rumah tangganya. Dewi Pertiwi berkata " anakku, tak perlu kau pusingkan isterimu itu. Dia tidak mungkin setia kepadamu. Hatinya tertambat pada yang lain sekarang. Tepatnya pada Samba, adikmu." " Apa ibu Bilang...? Kurang Ajar Si Samba..." Dewi Pertiwi menyabarkan putranya itu. " Anakku, tunggu dulu....kau ingin menghukum adikmu karena hal ini? Coba pikirkan lagi....Apa gunanya menyalahkan Samba apabila Hagnyanawati ternyata bukan wanita setia? Kecuali jika Samba yang memaksa, boleh kiranya ananda membela istrimu. Namun, Hagnyanawati sendiri juga melayani Raden Samba tanpa mengajukan syarat aneh-aneh segala." Prabu Boma terdiam merenungi ucapan ibunya. Ia lalu mohon pamit kembali ke Kerajaan Trajutresna untuk menceraikan Dewi Hagnyanawati dan menyerahkannya kepada Samba.

Di keraton Trajutrisna, Samba bertemu Dewi Hagnyanawati di taman keputren secara diam-diam. Sang permaisuri yang baru melahirkan itu awalnya cuek dengan Samba. Lama-lama ia luluh dan terjebak rayuan gombal Samba. " Yunda ehh sayang....kalau kau bosan dengan kakang Sitija, ceraikan saja dia lalu menikahlah denganku." " Ahhh dimas....bisa aja." Perbuatan amoral Samba dan Hagnyanawati itu diketahui para dayang dan segera diberitahukan kepada Patih Pacadnyana. Sang patih murka mendapati kabar itu, adik sang raja yang ia junjung tinggi justru bermain asmara dengan istri rajanya itu. Patih Pacadnyana menuju keputren dan menangkap Samba. Sang Patih mars besar dengan berkata " Kau Binatang! Kau Memadu Kasih dnegan Iparmu Sendiri. Benar-benar Kau Aib Trah Yadawa!" Samba berteriak minta tolong ketika hendak diseret oleh Patih Pacadnyana. Suara teriakannya terdengar oleh Prabu Gatotkaca yang masih menunggu di luar istana. Prabu Gatotkaca pun melesat terbang lalu menerjang turun untuk menolong Samba. Patih Pacadnyana ditendangnya hingga jatuh terjungkal. Sejumlah prajurit raksasa pun tewas oleh amukan Prabu Gatotkaca. Namun, Prabu Gatotkaca tidak mau memperpanjang masalah. Ia mengajak Samba untuk segera pulang ke Kerajaan Dwarawati. Dewi Hagnyanawati ingin ikut serta karena ia merasa dirinya sudah menjadi milik Samba. Samba juga tidak mau pulang apabila tidak bersama kekasihnya tersebut. Prabu Gatotkaca terpaksa menggendong mereka berdua dan melesat terbang ke angkasa meninggalkan Patih Pacadnyana yang memanggil bala bantuan. Prabu Boma Sitija yang baru kembali mendapati kabar kalau Samba membawa Hagnyanawati menjadi lega. Ia mengutus Patih Pacadnyana untuk mengirimkan surat cerai kepada isterinya.

Singkat cerita, Prabu Sri Kresna dan Baladéwa bersama Arjuna baru saja melaksanakan upacara ngaben untuk Resi Gunadewa, Arya Wisatha, Tumênggung Ancakogra, dan Tumênggung Yayahgriwa. Di sana juga ada Patih Sengkuni yang ikut berkabung karena bagaimanapun, Wisatha adalah keponakan Prabu Duryudhana. Di sana datanglah Samba dan Dewi Hagnyanawati diturunkan oleh Prabu Gatotkaca di Kerajaan Dwarawati dan mereka langsung menghadap Prabu Sri Kresna. Prabu Sri Kresna sangat marah melihat ulah putranya itu. “Samba! Kau Benar-benar Tak Punya Moral. Kakangmu, Gunadewa dan Wisatha baru saja gugur secara kesatria mempertahankan Astana Gandamadana, Kau Malah Melakukan Hal Nista! Ulahmu sama sekali bukan perbuatan kesatria, Kau Benar-benar seorang pengecut yang memalukan." Dewi Hagnyanawati menyela ikut bicara membela Samba. "Tunggu ayahanda, bukan salah dimas Samba yang membawanku kabur, tetapi aku sendiri yang ingin ikut dibawa kemari.” Prabu Sri Kresna semakin marah dan menyebut Dewi Hagnyanawati perempuan tercela " Hagnyanawati! Kau Benar-benar Jalang!!! Tidak Bisa Menjaga Kehormatan Diri, Maruah Suami, juga Maruah Rumah Tangga!! Karena Keinginan Anehmu, Putraku Gunadewa, Keponakanku Wisatha, dan Tumenggung Yayahgriwa juga Ancakogra tewas karenamu!!" Dewi Hagnyanawati tertunduk malu bercampur takut. Raden Samba yang seumur hidup selalu dimanja oleh Prabu Sri Kresna, baru kali ini ia ketakutan melihat sang ayah marah besar kepadanya. Prabu Sri Kresna menyuruh dua manusia candala itu mandi kembang dan menunggu hukuman selanjutnya.

Lalu tak lama kemudian datang Patih Pacadnyana membawa surat cerai dari Prabu Boma Sitija untuk Dewi Hagnyanawati. Di dalam surat itu bahkan putranya dan Pertiwi itu bersedia membiayai pernikahan mereka. Prabu Sri Kresna terenyuh hatinya dengan kebesaran hati putranya itu dan meminta sang patih menunggu di sana. Ia pun memanggil Raden Samba dan Dewi Hagnyanawati untuk menjelaskan kehendak Prabu Boma kepada mereka. Raden Samba dan Dewi Hagnyanawati merasa takut apabila kembali ke Kerajaan Trajutrisna, namun Prabu Sri Kresna menjamin mereka akan baik-baik saja. Karena sang ayah sudah menjamin demikian, maka Samba dan Dewi Hagnyanawati pun bersedia ikut bersama Patih Pacadnyana. Patih Sengkuni lalu mendekati Arjuna dan memberikan pendapatnya soal ini. "Arjuna...apa kau tidak curiga kok bisa Sitija selegawa itu. Jangan-jangan ada udang di balik batu. Bisa jadi itu hanya alasan untuk menghukum Samba. Apa kau mau kalau cucumu, Dwara jadi anak yatim?" Ucapan Sengkuni menancap di pikiran Arjuna. Ia pun minta izin pada Sri Kresna untuk menyusul Patih Pacadnyana dan berkata kalau ia takut Samba akan dibunuh dan cucunya menjadi yatim. Prabu Sri Kresna kaget mendengar ucapan ipar sekaligus sepupunya itu. Hendak ia mencegah namun terlambat, dengan mengandalkan Aji Sepi Angin, Arjuna berhasil menyusul Patih Pacadnyana. Tanpa banyak bicara ia menendang patih raksasa tersebut, lalu membawa Samba beserta Dewi Hagnyanawati kembali ke Kerajaan Dwarawati.

Patih Pacadnyana merasa dipermainkan oleh drama antara rajanya dan Arjuna. Maka ia menulis sebuah surat palsu dengan darahnya. Ketika ia datang, ia menyerahkan surat itu seolah-olah ditulis oleh Arjuna sebagai tantangan perang dan berkata tak akan menyerahkan Samba kecuali dengan perang. Boma Sitija marah dan merobek-robek surat itu. Sejak tadi ia menahan marah karena istrinya berselingkuh dengan adiknya sendiri. Meskipun ia mencoba ikhlas, namun isi surat yang kabarnya ditulis Arjuna telah menyakiti harga dirinya. "KURANG AJAR SI ARJUNA. KEBAIKANKU DIANGGAP PALSU, INI PENGHINAAN BAGIKU!" Prabu Boma Sitija pun memerintahkan Patih Pacadnyana untuk mempersiapkan semua pasukan Trajutrisna. Bersama-sama mereka berangkat menggempur Kerajaan Dwarawati. Prabu Boma tampak gagah duduk di atas kendaraannya yang berwujud burung garuda berkepala raksasa, bernama Paksi Wilmuna. Dalam perjalanan itu, Prabu Boma melihat Arya Wrekodara seorang diri. Ia pun mendarat menemui pamannya tersebut. Rupanya Arya Wrekodara sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Dwarawati untuk menyusul Arjuna dan Prabu Gatotkaca. Setelah mendengar cerita Prabu Boma tentang perselingkuhan Samba dengan Hagnyanawati, juga tentang Arjuna yang menantang perang dirinya, Arya Wrekodara merasa sangat terkejut. " Lah dalah...si Jlamprong kok sek sempat gawé masalah. Kudu diluruskan pikirane si Jlamprong ki." Dasar watak Arya Wrekodara yang selalu bersikap adil, ia pun ikut bergabung di pihak Prabu Boma untuk menemani keponakannya itu menuntut keadilan. Singkat cerita, perang terjadi sangat sengit. Perang antara saudara terjadi begitu mengerikan. Arjuna berperang dengan kakaknya. "Jlamprong, kau sungguh tega. Ulahmu gawe kerajaan iki banjir darah." " Apa aku salah kakang demi melindungi cucuku agar tak jadi yatim?" Arya Wrekodara menyadarkan Arjuna kalau khawatir itu boleh tapi tidak baik khawatir berlebihan. Arjuna sadar dan kini menyerah dengan sang kakak. Sementara Baladewa dan Gatotkaca melawan patih Pacadnyana dan pasukan Trajutrisna. Arjuna pun melawan Patih Pacadnyana yang telah memfitnahnya. Dengan sekali panah, sang patih Trajutrisna itu tewas.

Dalam kekacauan itu, Prabu Boma tidak ingin terlibat lebih jauh. Ia segera naik ke punggung Paksi Wilmuna untuk kemudian terbang mencari Samba dan Hagnyanawati.

Samba Juwing (Samba Sebit)
Rupanya kedua orang itu sedang berkasih-kasihan di dalam Taman Banoncinawi. Prabu Boma pun turun mendarat di hadapan mereka. Samba yang sedang memeluk Dewi Hagnyanawati dari belakang merasa terkejut. Prabu Boma berusaha ikhlas melihatnya, namun pikirannya terbayang betapa selama ini ia berusaha untuk bisa mendapatkan perhatian Dewi Hagnyanawati, ternyata semuanya sia-sia belaka. Paksi Wilmuna melihat rajanya sedang bimbang. Ia pun berbisik agar Prabu Boma memantapkan hati. Bagaimanapun juga Samba adalah penjahat yang sudah merusak rumah tangga orang lain. Hukum harus ditegakkan. Prabu Boma termakan ucapan Paksi Wilmuna. Ia lalu menarik tangan Raden Samba yang masih memeluk Dewi Hagnyanawati. Raden Samba pun menjerit kesakitan. Rupanya kedua lengannya telah putus akibat tarikan Prabu Boma yang terlalu keras. Dewi Hagnyanawati menjerit ketakutan, sedangkan mata Samba melotot menahan sakit, jangan sampai ia menangis di hadapan sang kekasih. Prabu Boma sebenarnya menyesal telah menarik putus lengan Raden Samba. Namun teringat akan ucapan Paksi Wilmuna, ia kembali terbakar amarah. Dalam amarahnya itu, jari tangan Prabu Boma bergerak kejam mencongkel kedua bola mata Raden Samba hingga terjulur keluar, bergantung-gantung di pipi kiri dan kanan.

Menyadari keadaannya sudah cacat parah, Raden Samba tidak merintih, tetapi justru tertawa pahit karena merasa kutukan yang diucapkan Batara Narada tidak akan lama lagi akan terjadi. Sebaliknya, Prabu Boma justru menangis tersedu-sedu karena telah berbuat sedemikian kejam kepada sang adik. Namun Prabu Boma kembali terbakar amarah dan tangannya pun merobek mulut Samba hingga menganga lebar. Prabu Boma tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Seperti kesetanan, ia menarik kepala Samba hingga leher putus, serta mengeluarkan isi perut adiknya itu hingga berserakan di tanah. Meski demikian Samba masih tetap hidup seakan ia tersiksa. Dewi Hagnyanawati yang menyaksikan peristiwa itu tidak bisa menangis lagi. Air matanya seolah kering dan mulutnya seolah bisu. Prabu Boma berdiri menghampirinya dan mengajak Dewi Hagnyanawati pulang ke Kerajaan Trajutrisna. Namun, Dewi Hagnyanawati berlari mendekati Samba uang sudah sekarat, mengambil keris yang terselip di pinggang kekasihnya itu, lalu bunuh diri menusuk leher sendiri. Seperti orang kerasukan, Prabu Boma Sitija menginjak-injak jasad dua pelaku perbuatan nista itu. Kutukan Samba yakni mengalami dua kematian yang mengerikan yakni dengan cara di juwing (termutilasi) dan diinjak-injak oleh kakaknya sendiri.

Prabu Sri Kresna yang sedang di istana mengamankan orang-orang kaget melihat Samba dan Hagnyanawati sudah tewas bersimbah darah. Lebih-lebih jasad Samba yang telah termutilasi dengan kejam dan remuk diinjak-injak oleh Sitija. Dewi Jembawati pingsan mengetahui fakta itu. Dua putranya tewas. Ia pun dipapah oleh Dewi Radha, Dewi Rukmini, dan Dewi Setyaboma. Jembawati lemas dan menangis " Radha, Rukmini....bencana apa yang telah aku buat....Anak-anakku harus tewas dengan cara begini." Dewi Rukmini sambil menangis menyabarkan madunya itu " tenanglah Jembawati.....tabahkan hatimu......" Dewi Radha memeluk sahabatnya itu " Jembawati.....ini takdir kita....bersabarlah....tabahkan hatimu...." Dewi Setyaboma menyodorkan air untuk menenangkan hati Jembawati " minum lah dulu, yunda...tenangkan hatimu...." Keempat isteri Kresna itu bersujud memohon doa " Dewata, dosa apakah yang menyebabkan bencana seperti ini." Prabu Sri Kresna marah besar. lalu mengajak perang antara ayah dan anak.

Prabu Boma Sitija terjun ke tanah menghadapi Prabu Danuasmara alias Partajumena/Pradyumna dan Arya Saranadewa, putra-putra Prabu Sri Kresna dengan Dewi Rukmini. Kematian Resi Gunadewa dan Arya Wisatha membuat Partajumena tidak lagi menganggap Prabu Boma sebagai saudara tua. Ia pun menghujani Prabu Boma dengan ratusan anak panah. Prabu Boma tidak mampu menghindar dan akhirnya tewas terkena panah-panah itu. Namun, Aji Pancasonya yang dimiliki Prabu Boma membuatnya hidup kembali begitu jasadnya menyentuh tanah. Prabu Partajumena kembali menyerang Prabu Boma dengan panah-panahnya. Prabu Boma berkali-kali tewas, namun selalu saja hidup kembali ketika menyentuh tanah. Pertarungan ini membuat Raden Partajumena letih dan ganti dirinya yang terdesak oleh serangan Prabu Boma. Namun, tiba-tiba Arya Setyaka, putra Prabu Sri Kresna dengan Dewi Setyaboma muncul menyambar tubuh kakaknya dan membawanya kabur. Prabu Partajumena marah karena dihalangi untuk mati "Dimas, Kau Keterlaluan! Aku lebih baik mati daripada meninggalkan pertempuran seperti ini." Arya Setyaka menampar sang kakak dan menjawab "sadarlah kakang, kumohon kakang!!...hiduplah demi aku, demi ayahanda, demi ibu kita, demi yunda Rukmawati dan nanda Anirudha! Aku sudah jengah...sudah cukup kita kehilangan kakanda Gunadewa, kakanda Wisatha, dan kakanda Samba. Aku tidak mau kehilangan satu orang saudara lagi. Prabu Partajumena pun terkejut mendengar Samba sudah meninggal pula. Arya Saranadewa juga berkata " kakang, kumohon kita hidup lebih baik......kita harus bersatu. Berjanjilah kita akan hidup lebih panjang dan lebih mulia." Prabu Boma lalu menerjang Gatotkaca namun kaki ini Gatotkaca memurti menjadi wujud Krodhanya. Tak mau kalah, Boma ikut memurti/krodha menjadi raksasa. Kekuatannya keduanya setara namun karena aji Pancasonya, Gatotkaca kelabakan. Boma melemparkan senjatanya ke arah Gatotkaca namun ia dihalangi panah dari Arjuna. Boma Sitija marah dan menyerang sang panengah Pandawa. Arjuna luka-luka namun ia mampu bertahan.

Prabu Sri Kresna murka karena sang kusir dharma yang ia persiapkan diserang putranya sendiri. Ia lalu mengheningkan cipta dan sukmanya yakni Sukma Wisnuhari bertemu ibu Sitija yakni Dewi Pertiwi. " Dinda aku tau ini berat. Tapi jika terus dibiarkan, Sitija bisa menghancurkan jagat. Kalau itu terjadi Bharatayuda tak akan bisa digelar dan dunia akan tenggelam dalam kejahatan. Aku mohon dengan hati yang paling dalam bantu aku membebaskan putra kita dari lingkaran dosa ini." Dewi Pertiwi sedih. Ia sudah menduga kalau perang ini akan terjadi. Maka ia mengambil jaring Anjang-anjang Kencana dan menyerahkannya kepada sang suami. Seketika jaring yang tercipta dari pecahan Gamparan Kencana dan Topeng Waja itu telah terhampar di tengah medan laga. Di sana Prabu Gatotkaca, Prabu Patajumena/Danuasmara, Arya Setyaka, dan Arya Saranadewa sudah memegangi ke empat ujung jaring ajaib itu. Prabu Sri Kresna menyuruh Gatotkaca menarik perhatian Boma. Di saat yang tepat, Prabu Sri Kresna melemparkan Cakra Widaksana ke arah Boma Sitija. Terpenggallah kepala Sitija dan ia pun roboh. Namun kepala dan badannya tertahan Anjang-anjang Kencana sehingga tak menapak tanah. Aji Pancasonya tak berfungsi lagi. Sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya Sitija bertanya " ayahanda, kenapa bagimu paman Arjuna sangat istimewa?"

Sitija Gugur, Perang Gonjalisuta berakhir
Dengan berlinang air mata, Prabu Sri Kresna berkata " karena dia juga bagian dari diriku. Ketika Aku turun ke dunia bersama kedua ibumu, aku membelah diriku dengannya. Jika aku adalah Wisnu maka dia adalah Jisnu. Jika aku adalah Narayana maka dia adalah Nara. Bagaimanapun, Kami berdua adalah ayahmu." Sitija bersedih hati tapi ia merasa lega bisa kembali ke surga berkat perantaraan dua ayahnya itu. Sitija pun gugur dengan tubuh masih tertahan Anjang-anjang Kencana.

Tidak lama kemudian datang pula Dewi Pertiwi. Ia menemui Prabu Sri Kresna untuk menjemput pulang sukma/jiwa Boma Sitija. Prabu Sri Kresna mempersilakan. Perlahan-lahan sukma Prabu Boma keluar setelah terjebak di dalam Anjang-Anjang Kencana. Bersama sang ibu, sukma Sitija kembali bernama Batara Sitija, mohon pamit kepada Prabu Sri Kresna untuk kemudian kembali ke kahyangan. Kematian Prabu Boma Sitija membuat yang berperang sangat terpukul namun rupanya Sengkuni yang telah menghasut Arjuna justru bahagia. Calon senapati hebat yang mampu membantu Pandawa seperti Sitija telah ia singkirkan. Sementara itu, Arjuna menyalahkan dirinya sendiri. Karena keegoisannya lah penyebab perang ini terjadi. Sekarang ketakutannya yakni Harya Dwara menjadi yatim telah terpenuhi. Maka ia pergi dari sana dan memutuskan bertapa brata untuk beberapa waktu. Gatotkaca yang berniat menghilangkan duka malah kembali menciptakan duka lagi. Arya Wrekodara memeluk putranya itu demi menyembuhkan luka batin di hatinya. Akhirnya, Kerajaan Dwarawati mengambil alih sementara Trajutrisna sampai ahli waris yakni Bambang Kismaka, putra Boma Sitija dewasa. Sejak perang itu, era kemunduran trah Yadawa sudah mulai di depan mata.


Minggu, 19 November 2023

Kidung Sudamala

 Hai semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan! Kisah kali ini menceritakan perjalanan Arya Sadewa untuk menyembuhkan ibunya, Dewi Kunthi yang sakit lewan bantuan Batari Durga yang berakhir bukan hanya dewi Kunthi berhasil sembuh, tapi juga berhasil meruwat Batari Durga kembali menjadi cantik. Kisah ini mengambil sumber dari https://caritawayang.blogspot.com/2015/04/sudamala.html dengan perubahan dan penambahan seperlunya.

Suatu ketika, Batara Guru pernah menguji Batari Durga dengan berpura-pura sakit dan minta obat berupa susu sapi putih milik seorang penggembala muda. Batari Durga bersedia. Maka ia memintanya namun sang penggembala meminta syarat yakni harus tidur dengannya. Durga tentu saja tidak mau tapi si penggembala mengancam kalau ia tidak akan mendapatkan susu itu di tempat lain. Mau tidak mau, Batari Durga setuju " baiklah, aku akan memenuhi syarat darimu." Lalu ketika ia dan si penggembala tidur bersama, Si penggembala berubah wujud kembali sebagai Batara Guru. Batara Guru menganggap isterinya itu tidak setia. Batari Durga hendak membela diri tapi tak diberi kesempatan. Maka Batara Guru mengutuk Batari Durga menjadi raksasa bernama Ra Nini. Ra Nini pun tinggal di Alas Krendhawahana ditemani oleh Dewi Kalikamaya.

Di Negara Hastinapura, Prabu Duryudhana kedatangan dua orang raksasa Kalanjaya dan Kalantaka yang bersedia membantu menumpas Pandawa bersama para prajurit Hastinapura. Di tengah perjalanan dihadang oleh Prabu Gatotkaca dan para putra Pandawa, sehingga terjadi pertempuran. Anehnya, kekuatan para putra Pandawa tidak mampu mengalahkan Kalanjaya dan Kalantaka. Pertempuran itu pada akhirnya dimenangkan para Kurawa. Sementara itu di Kadipaten Upalawaya, Para Pandawa yang sedang bermuram durja, dihadapkan Prabu Sri Kresna membicarakan perihal Dewi Kunthi yang sedang menderita sakit dan belum ditemukan cara penyembuhannya, sedangkan Arya Sadewa yang diutus untuk menghadap Maharesi Abiyasa, belum kunjung tiba. Tak lama kemudian datang Arya Sadewa yang menghaturkan sabda Resi Abiyasa " aku menerima kabar dari kakek Maharesi. Penyakit kanjeng ibu jadi seperti ini karena kerasukan. Untuk menolong kanjeng ibu, harus meminta bantuan pada Ida Batari Durga." Prabu Sri Kresna mengusulkan agar para Pandawa mengucapkan nadar (janji) yang ditujukan kepada Dewi Kunthi. Arya Sadewa mengajukan diri untuk memenuhi nadar itu. Arya Sadewa dan Dewi Kunthi pun pergi meninggalkan Upalawaya. Sang kakak, Arya Nakula tidak tega melihat adiknya melakukan ini sendirian. Maka ia mohon pamit untuk menyusul. Bersamaan dengan ini datang musuh yang ingin menumpas para Pandawa hingga terjadi pertempuran, Arya Wrekodara dan tiga Pandawa dapat dikalahkan dan nyaris ditelan oleh raksasa Kalanjaya dan Kalantaka. Untungnya Prabu Sri Kresna menolong mereka. Namun Arya Nakula menghilang entah kemana.

Dewi Kunthi yang sedang sakit jiwanya pergi bersama Arya Sadewa jauh ke tengah Alas Krendhawahana, tempat bersemayamnya Batari Durga.

Arya Sudamala
Di sana kerasukan ibu para Pandawa itu makin parah bahkan Dewi Kunthi dimasuki roh Dewi Kalikamaya utusan Batari Durga yang menyatakan cintanya kepada Arya Sadewa. " Ah kakanda ganteng...nikah yuk....." Arya Sadewa menolaknya maka ia diikat di batang pohon oleh Dewi Kunthi yang tengah kerasukan Kalikamaya. Arya Sadewa bertanya "mana gusti Ida Batari?" Lalu datang sosok Ra Nini. Sosok Ra Nini lalu berkata meminta agar ujudnya kembali menjadi cantik jelita”Hei Sadewa, cepat ruwat diriku!” namun Sadewa menolak permintaan Ra Nini " aku tidak bisa meruwat seseorang. Aku bukan titisan dewa. Aku manusia biasa. Katakan, dimana Gusti Ida Batari?!" Mendengar jawaban itu, maka murka lah Ra Nini." Bodoh! Aku gusti Ida Batari yang kau cari! Cepat ruwat aku kembali seperti sediakala." Arya Sadewa ketakutan namun ia dengan tenang ia berkata tidak. Arya Sedewa terus menolak dan berkata kalau dia tidak bisa. Di saat demikian, Ra Nini makin murka dan berubah menjadi sosok raksasa ganas dengan taring runcing, mata melotot menakutkan, dan raut muka yang marah hendak menelan Arya Sadewa bulat-bulat. Pada saat itu, Batara Guru datang dan memberi kekuatan sakti. Kekuatan itu memasuki raga Sadewa hingga membuat Ra Nini lunglai dan memasrahkan diri. Lalu Arya Sadewa mendekat dan tangannya memerciki sekujur tubuh Ra Nini dengan air dari Cupu Tirtamayadi. Ra Nini pun berhasil diruwat lah oleh Arya Sadewa. Tubuh Ra Nini pun seketika diselimuti asap tebal dan seketika muncul cahaya emas. Ketika cahaya itu memudar, kembali lah wujudnya sebagai Batari Durga, kali ini sang Batari dalam wujud terbaiknya yakni wujud Dewi Uma, dengan wajah ayu dan kepala bermahkota bunga-bunga dengan aroma yang harum wangi. Dewi Kalikamaya pun ikut diruwat kembali sebagai bidadari yang cantik bernama Dewi Mayakresna. Atas keberhasilan Arya sadewa meruwat Batari Durga, Batara Guru memberikan anugerah nama dengan sebutan Arya Sudamala dan kelak memperoleh jodoh putri dari pertapaan Pring Alas bernama Endang Soka, anak dari Begawan Tamba Petra. Sebelum pergi, Batari Durga memberi anugerah kepada Dewi Kunthi “Kunthi, terima kasih untukmu untuk meminjamkan ragamu untuk Kalikamaya. Karena jasamu juga, kau akan kuberi anugerah. Bukan sekadar penyakitmu yang kuangkat., tapi kau akan bisa melihat hal-hal di masa depan. Kumohon terimalah anugerah ini.” “Terima kasih, Gusti Ida Batari.” Ucap Dewi Kunthi berterima kasih. Setelah dirasa cukup, Batara Guru, Batari Durga, dan Dewi Kalikamaya kembali ke kahyangan.

Begawan Tamba Petra dan kedua putrinya, Endang Soka dan Endang Pradapa membicarakan perihal mimpi bertemu dengan seorang kesatria bernama Arya Sudamala. Di tengah pembicaraan, datang Arya Nakula dalam keadaan terluka. Rupa-rupanya, saat menghilang setelah pertarungan dengan dua raksasa, ia berhasil menyelamatkan diri lalu melanjutkan pencarian. Dalam perjalanannya, ia tersasar ketika mencari adik dan ibunya. Endang Pradapa segera menolongnya. “Ki sanak mari, kita masuk ke rumah. Sepertinya ki sanak bukan orang sini” “benar, Ni sanak. Aku Arya Nakula dari Upalawaya sana. Aku tersasar ketika diserang raksasa Kalanjaya dan Kalantaka.” Lalu beberapa hari setelah kedatangan Arya Nakula, datang seorang pengemabara dan ibunya. Mereka ialah Arya Sudamala dan ibunya, Endang Briha. Arya Sudamala berkata bahwa ia akan melamar Endang Soka. Namun Arya Nakula menghalangi niat Sudamala. " Hei orang asing...kau ini barus datang sudah mau melamar anak orang....kau benar-benar murahan." Arya Sudamala marah namun berhasil ditahan oleh ibunya Endang Briha. Namun Nakula terus mengejek Sudamala . Tak tahan lagi, terjadilah pertarungan antara Arya Nakula dengan Arya Sudamala. Keduanya bertarung dengan sangat sengit, tak ada satu pun dari mereka yang kalah ataupun menang. Endang Soka berusaha melerai " kalian berdua hentikan ! Kalau memang pernikahanku jadi masalah! Aku memilih tidak kawin!?" "Kakak, apa yang kau lakukan?! Kau sudah mendapat wangsit Dewata akan menikahi Sudamala. Bagaimanapun aku akan menikahinya." Dalam hati, Endang Soka bahkan sudah jatuh cinta walau belum pernah bertemu pandang. Endang Pradapa menjelaskan kalau benar datang wangsit Dewata kepada kakaknya kalau dia akan menikahi Arya Sudamala. Arya Nakula merasa bersalah. Ia minta maaf pada Sudamala. Sudamala berkata "kakang Pinten tidak perlu minta maaf, aku sudah memaafkan kakang." Arya Nakula kaget bagaimana Sudamala tau nama masa kecilnya " kau memanggilku Pinten?! Kenapa kau bisa tau?" Hanya adikku Sadewa yang memanggilku dengan nama itu." " Arya Sudamala tertawa "hahahaha.... tentu saja kakang. Aku ini Sadewa, adikmu kakang. Dan ini kanjeng ibu. Dia sudah sembuh." Arya Nakula memeluk adik kembarnya itu. Beberapa hari kemudian, acara pernikahan antara Sudamala dengan Endang Soka dan Nakula dengan Endang Pradapa pun digelar mewah. Begawan Tambapetra senang putri-putrinya sudah menemukan jodohnya.

Prabu Sri Kresna, Prabu Yudhistira, Arya Wrekodara dan Arjuna mencari Dewi Kunthi, Arya Nakula, dan Arya Sadewa, yang masih belum kembali. Pada saat itulah datanglah Kalanjaya dan Kalantaka sehingga terjadi pertempuran seru. Kekuatan mereka terdesak, lalu datang rombongan Nakula, Sadewa beserta isteri mereka. Arya Sadewa berdoa kepada Yang Mah Kuasa lalu menyentuh dahi kedua raksasa itu. Terjadi keajaiban, akhirnya kedua raksasa tumbang tak berdaya lalu berubah ujud sebagai wujud asal mereka, yakni Gandarwa Citragada dan Citrasena. Para Pandawa gembira dengan kesembuhan Dewi Kunthi. Namun Prabu Sri Kresna merasa ada tanda alam tidak baik dan arahnya dari kerajaannya sendiri. Prabu Sri Kresna bergegas pergi untuk menyelesaikan konflik di sana.

 


Jumat, 17 November 2023

Gendreh Kemasan (Kalabendana Gugur)

 Hai semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan, kisah kali ini mengisahkan pernikahan Abimanyu yang kedua kali dengan Dewi Utari. Di kisah ini juga diceritakan gugurnya Arya Kalabendana karena tidak sengaja ditampar oleh Gatotkaca dan Irawan yang diserang pasukan dari negeri Pagaralun. Kisah ini mengambil sumber dari https://wayang.wordpress.com/2006/10/24/gendreh- kemasan/ dan  https://wayang.wordpress.com/2010/03/11/kala-bendana-gugur/

Setelah Pandawa mendirikan Kadipaten Upalawaya dan Prabu Yudhistira dilantik oleh Prabu Matswapati sendiri, sang raja sekeluarga masih merasa prihatin dan merasa bersalah. Maka demi memperbaiki hubungan, Dewi Utari akan dinikahkan dengan Arjuna. Namun Dewi Utari sudah kadung menganggap guru sekaligus cucunya itu sebagai ayah sendiri. Arjuna lau menceritakan tentang salah satu putranya yakni Bambang Gendreh Kemasan, bahkan menunjukkan lukisan wajah Gendreh Kemasan yang tampan. Seketika Dewi Utari kepincut dan jatuh hati minta dinikahkan oleh Gendreh Kemasan. Arjuna mengiyakan saja. Ia lalu segera membawa kabar ke Dwarawati.

Di Dwarawati, Abimanyu baru saja pulang dari Upalawaya setelah peresmian istana baru para pandawa. lalu Prabu Sri Kresna mendatangi Abimanyu. Dia berkata “Abimanyu, baik kau bersiap ke Wirata.” “memangnya kenapa aku harus ke Wirata? Aku baru saja ingin ke kamar dinda Siti Sundari.” Prabu Sri Kresna berkata lagi “Saat ini ayah dan para pamanmu ada di Wirata untuk membahas sesuatu yang penting. Mereka membahas tentang pernikahan Dewi Utari, putri bungsu eyang Matswapati.”Abimanyu lalu bertanya “lalu apa hubungannya itu denganku, paman?” Prabu Sri Kresna menjelaskan  “Menurut kabar yang telah sampai ke telingaku, bahwa yang akan menikahi Dewi Utari adalah Gendreh Kemasan” Abimanyu pun bertanya siapakah Gendreh Kemasan itu. Prabu Sri Kresna menjelaskan bahwa Gendreh Kemasan ialah orang yang beraura seperti pande emas (kemasan). Dia yang bisa mengeluarkan emas dari bongkahan batu, kiasan untuk orang yang memanggul amanat dari  wahyu Cakraningrat. Abimanyu seketika paham maksud sang paman. Orang yang dimaksud sebagai Gendreh Kemasan adalah Abimanyu sendiri. Abimanyu pun segera bersiap. Di saat menunggu Abimanyu bersiap, Prabu Sri Kresna juga sebenarnya  paham jika kabar ini adalah undangan untuk menentukan tanggal pernikahan Dewi Utari dan Abimanyu yang artinya pernikahan mereka akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Maka agar Siti Sundari selaku isteri pertama Abimanyu tidak sakit hati, ia menyarankan agar keponakannya itu berangkat sendiri ke Wirata. Anakku, kau ke Wirata duluan saja. Aku akan menyusul.” “lholho paman, aku kan juga harus minta izin dulu pada Siti Sundari untuk menikah lagi.” Prabu Sri Kresna menyarankan Abimanyu untuk segera menuju ke Wirata “sudah, Abimanyu, kau berangkat saja dulu. Urusan izin dari Siti Sundari, biarlah aku sebagai ayahnya yang menyelesaikan." Abimanyu tidak bisa berkata-kata lagi. Maka ia berangkat dengan hati yang kepikiran.

Singkat saja, Abimanyu berangkat. Di tengah jalan, ia bertemu sepupunya yakni Prabu Gatotkaca dan ibunya, Dewi Arimbi. Tujuan mereka sama yakni ke Wirata untuk acara lamaran Abimanyu. Tanpa banyak waktu, mereka segera pergi bersama-sama.

Abimanyu bersumpah palsu di hadapan Utari
Sesampainya disana, para kakak, adik, dan sepupu yang lain juga datang. Raden Walmuka, Jaya Sanga sanga, Arya Yodeya, Bambang Partajumena, Bambang Setyaka, Pangeran Arya Antareja, Haryapati Antasena, Bambang Wisanggeni, Prabuanom Srenggini, Wasi Sri Pancasena, Arya Pancawala, Bambang Brantalaras, dan Bambang Sumitra ikut ke sana. Yang tidak datang yakni adik Abimanyu, Bambang Irawan dan para sepupu, putra-putri Nakula dan Sadewa. Mereka tak bisa datang karena kadipaten mereka sedang dalam tahap pembangunan masif.

Di istana Dwarawati, Dewi Siti Sundari sedang memikirkan suaminya, Abimanyu yang akan menikah lagi. " Hah.....kakanda. Kau tega sekali. Aku tidak akan marah karena kau menikah lagi, yang aku sesali kenapa kau malah pergi diam-diam tidak minta izin padaku?" gumam putri Prabu Sri Kresna itu. Datang paman Prabu Gatotkaca, yakni Arya Kalabendana. Ia mendengar keluh kesah isteri dari sepupu keponakannya itu. Dengan gaya bicaranya yang lugu ia berkata " anakku, ayo paman antar ke Wirata. Mau bagaimanapun kamu istri pertama Abimanyu. Mari kita pergi." Siti Sundari pun digendong oleh Kalabendana dan terbang menuju negeri Wirata. Agar tidak ketahuan, Arya Kalabendana membuat Dewi Sitisundari tidak kelihatan dengan aji Panglimunan.

Singkat cerita, Abimanyu bertemu dengan Utari. Di mata sang putri bungsu Prabu Matswapati, Abimanyu terlihat seperti seorang Kemasan (pandai emas) yang membawa sebongkah emas murni. Begitu juga Abimanyu, di matanya Dewi Utari seperti bidadari memakai segala perhaiasan emas, perak dan permata yang indah-indah. Keduanya langsung saling jatuh hati dan setelah ditanyai para Pandawa dan Prabu Matswapati, Abimanyu dan Utari sepakat bersedia menikah bahkan sudah menetapkan akad nikah harus secepatnya. Setelah kedatangan Abimanyu ke Wirata, tiga hari kemudian, akad pernikahan antara Abimanyu dan Utari pun digelar....Abimanyu mengalungkan kalung Bunga ke leher Utari, begitu juga Utari mengalungkan juga kalung bunganya di leher Abimanyu. Setelah prosesi akad nikah selesai, Abimanyu dan Dewi Utari berjalan di taman istana. Di sana Dewi Utari bertanya kepada Abimanyu tentang ketulusan cintanya. Abimanyu yang juga jatuh cinta pada Utari mengutarakan ketulusannya. Dewi Utari masih ragu apakah calon suaminya orang jujur atau tidak. Apa dia sudah meminta izin kepada Siti Sundari selaku isteri pertamanya karena ia pernah dengar dari calon mertuanya itu bila Abimanyu si Gendreh Kemasan sudah menikah dengan sang putri Prabu Sri Kresna itu. Maka ia bertanya untuk memastikan "kakanda, aku mau bertanya." Abimanyu berkata " Tanyakan apapun yang nini ingin tanyakan." Dewi Utari lalu bertanya " kakanda, apa kau masih perjaka atau udah menikah?" Jika sudah menikah, sudahkah kakanda minta izin istri pertama?" Abimanyu tercekat dengan jawaban itu. Lalu datang Arya Kalabendana, paman Gatotkaca menceritakan bahwa Abimanyu sudah beristri. Gatotkaca yang kebetulan ada disitu  marah sekali dan menyeret pamannya ke tempat lain. Setelah kepergian Gatotkaca dan pamannya, Abimanyu jadi serbasalah. Utari dapat membaca gelagat jika calon suaminya hendak berbohong. Ia meminta Abimanyu untuk jujur. Abimanyu yang didesak malah melakukan sumpah palsu "Nini, apa yang dikatakan paman Kalabendana tidak benar. Aku masih perjaka. Jika aku bohong, biarlah Yang Maha Kuasa menghukumku. Aku bersedia tubuhku diranjap, ditembaki, dan dihantam banyak senjata jika aku berdusta!" jedar jedar....sumpah palsu penuh tipu daya itu di dengar para dewa. Pertanda hal itu akan jadi kenyataan nanti. Dewi Utari menangis karena calon suaminya itu tidak jujur malah bersumpah palsu. Lalu Dewi Siti sundari muncul di hadapan Abimanyu dan Utari. Ia menampar suaminya "kakang tega! Kakang sudah tidak jujur! " Dewi Utari lalu bersujud di hadapan Dewi Siti Sundari. " Ampun kakang mbok....aku yang bersalah....aku yang sudah meminta kakanda Abimanyu untuk jujur. Tolong maafkan aku." Dewi Siti Sundari segera mengangkat calon madunya untuk berdiri dan berkata " Ni Utari....jangan begitu.... kau tidak perlu minta maaf ... Ini bukan salahmu....mungkin takdir kita yang seperti ini. Pernikahan kita ini telah ditetapkan para dewa dengan noda tipu daya." Abimanyu hanya menunduk malu.

Di sisi lain taman istana, Prabu Gatotkaca bertengkar dengan Kalabendana. Ia memarahi pamannya kerena memberitahu kan hal yang seharusnya rahasia adik sepupunya itu. Kalabendana berkata bahwa rahasia itu menyangkut harga diri Siti Sundari. Prabu Gatotkaca makin marah lalu menampar pamannya itu. Dia lupa bahwa ia masih mematrapkan Aji Brajamusthi. Pukulannya sangat keras sehingga Kalabendana terlempar dan kepalanya membentur batu. Pamannya itu tergelatak sekarat tak berdaya. Prabu Gatotkaca segera mendatangi sang paman dan memeluknya "paman maafkan aku.....tolong ampuni aku. Aku khilaf, aku sudah berbuat dosa. Paman bertahanlah...pelayan...cepat pangil tabib! Cepat!" Kalabendana memegang pipi keponakan tersayangnya. " Anakku.. sudahlah...jangan sedih. Jangan kau sesali...Mungkin begini caraku...untuk menghadap Hyang Widhi.....tapi aku tidak ingin mati begini tanpa keponakanku tercinta.....Ahhh Hyang Widhi mengabulkan doaku....aku akan menunggumu." Tak lama, badan Kalabendana dingin. Hela nafasnya sudah berhenti begitu juga detak jantungnya.  Kalabendana pun meninggal. Prabu Gatotkaca hanya bisa menangisi kepergian pamannya itu. Ia hanya bermaksud menutup mulut pamannya tapi malah ia menutup usia pamannya dengan cara yang tidak ksatria. " Paman....bangun paman! ...Ampuni aku paman....tolong bangun paman!!!...." Tangisan Gatotkaca menyayat hati terdengar ke segala penjuru istana. Para Pandawa, Prabu Matswapati sekeluarga, dan semua orang berkumpul. Abimanyu, Dewi Siti Sundari, dan Dewi Utari yang baru datang langsung memalingkan muka tak mampu menahan pemandangan yang terjadi.

Kalabendana Gugur
Dewi Siti Sundari terjatuh lemas, menangis di hadapan jasad Arya Kalabendana. Dewi Arimbi dengan dipeluk sang suami, Arya Wrekodara hanya mampu terduduk lemas dengan duka di hati. Adik kesayangannya meninggal di tangan anaknya sendiri dengan cara nista dan tidak kesatria. Seisi Wirata berduka di hari akad nikah Abimanyu dan Utari. Upacara ngaben diadakan sesegera mungkin. Keluarga Pandawa dan Wirata hanyut dalam haru biru dan tangis nan pilu. Acara resepsi pernikahan pun ditunda.

Kabar kematian Kalabendana pun terdengar ke telinga Irawan. Ia akan pergi ke acara berkabung. Di tengah jalan ia dicegat oleh Ditya Lembusana, panglima kepercayaan Jatagimbal, raja Pageralun yang pernah dibunuh Arjuna. Ia diserang dan terkena senjata namun ia sempat mengalahkan Ditya Lembusana. Setelah mengalahkan Lembusana, Irawan menjadi lemas karena senjata Lembusana beracun. Irawan segera berlari menuju istana Wirata. Di tengah suasana yang masih berkabung, Irawan datang dengan tubuh sudah berlumuran darah. Arjuna dan Dewi Ulupi segera menggendong putranya itu. Setelah diperiksa oleh Nakula dan Sadewa, Irawan didiagnosis keracunan darah namun untungnya dapat disembuhkan. Ia harus istirahat total selama dua sasih (dua bulan) dan itu artinya Irawan tidak boleh ikut perang Bharatayudha. Irawan kadung kecewa " tunggu ayah! Ibu! Jangan seperti ini. Aku datang juga ingin menunjukkan darmabakti ku. Ayah, jangan anaktirikan aku. Ayah tolong pikirkan lagi." Arjuna mendekati putranya itu " Irawan tolong mengertilah. Ayah senang Irawan mau melakukan darmabakti sebesar ini. Tapi yang paling penting bagi ayah adalah kesehatanmu. " Dewi Ulupi lalu berkatap pada putranya itu "Irawan, dengarkan kata ayahmu. Ini demi kebaikanmu. Lagipula untuk berperang harus sehat jasmani rohani." Irawan pun diam. Ia bisa ditenangkan untuk saat ini. Dewi Titisari datang lalu menyampaikan sebuah pesan dari Nakula dan Sadewa untuk menemuinya. Arjuna dan Ulupi masih risau dengan Irawan. Dewi Titisari menenangkan mertuanya itu. " ayah! Ibu! Jangan khawatir... Penuhi pesan dari paman Nakula dan Sadewa. Biar aku yang jaga kakanda Irawan." Di ruang tengah, Nakula dan Sadewa bertemu dengan Arjuna dan Ulupi. Mereka mewanti-wanti agar Irawan dijaga dan jangan sampai lengah. Sadewa sadar sifat Irawan mirip sekali dengan ayahnya yang tidak suka dikekang atau dibatasi. Makanya ia berani berkata demikian kepada isteri dan orang tua Irawan.

Setelah tujuh hari berkabung,  Prabu Sri Kresna datang ke Wirata menanyakan kapan resepsi pernikahan Abimanyu dan Utari, sebab Siti Sundari sudah menerima izin dari Utari tempo hari. Arjuna berkata segera bahkan kalau bisa dua hari lagi akan digelar. Prabu Sri Kresna setuju. Dua hari kemudian, resepsi pernikahan Abimanyu dan Utari digelar meriah. Abimanyu duduk bersanding dengan dua isterinya yang cantik-cantik itu. Saudara-mara, kakak-adik, sepupu, semua datang tanpa kecuali. Putera-puteri Nakula dan Sadewa yang telah lama terpisah yakni adipati Pramusinta-Dewi Rayungwulan dan adipati Sabekti-Pramuwati datang juga.


Senin, 13 November 2023

Prabu Pathakal Baworsari

Hai semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan! Karena penulis ada waktu luang, maka kali ini penulis akan meceritakan kisah bagaimana punakawan Bagong alias Cepot bisa menjadi raja demi menyadarkan Arjuna dari rencana licik para Kurawa. kisah ini mengabil sumber dari https://hardiwinoto.com/indonesia-dalam-lakon-bagong-dadi-ratu/ dengan pengubahan dan penambahan seperlunya.

Kabar tentang para Pandawa telah menyelesaikan hukuman buang dan penyamaran selama 13 tahun merambah ke Hastinapura. Prabu Duryudhana, Arya Dursasana, dan ke 98 adiknya ketar-ketir. “waduh...para Pandawa sudah kembali dari pengasingan...ya’opo iki...aku gak kepingin Indraprastah balik ke tangan Pandawa.” Patih Sengkuni tak kurang akal “tenang keponakanku. Bukan Sengkuni kalau tidak punya akal licikku. Aku punya sesuatu hal yang bagus.” Maka ia membisiki isi rencana itu kepada Prabu Duryudhana. Prabu Duryudhana pun semringah medengar rencana itu. Tanpa menunggu waktu lama, patih Sengkuni menyusun rencana jahatnya yakni menggunakan kembali perintah sesat guru yakni Begawan Dorna. Selain itu, untuk rencana selanjutnya, Patih Sengkuni punya teman yakni seorang raja dari negeri jauh untuk melakukan suatu hal besar kepada Prabu Yudhistira. Dijalankan rencana itu dengan sangat matang. Patih Sengkuni merasa yakin kalau rencana kali ini pasti berhasil.

Sementara itu, setelah mendirikan désa dan istana baru di Alas Kamyaka, para Pandawa mendapat restu dari Prabu Matswapati untuk menjadikan desa itu sebagai negeri baru mereka bagian dari negeri Amarta baru, pengganti dari istana Indraprastha yang saat ini masih diduduki para Kurawa. Desa itu diberi nama kadipaten Upalawaya dan Prabu Yudhistira menjadi pemimpin disana. Ketika selesai pelantikan, datang kegemparan. Permaisuri Prabu Yudhistira yakni Dewi Drupadi menghilang. Susah hati lah sang raja. Ia berkata " apa artinya negeri ini tanpa permata keadilan seperti Dinda Drupadi, lebih baik aku mati." Arya Wrekodara dan Arjuna menenangkan kakaknya. Mereka berjanji akan mencari Dewi Drupadi. Dalam kesenyapan, Wrekodara dan Arjuna merasa bertanggungjawab untuk mencari dan membawa pulang Drupadi. Kedua ksatriya berkonsultasi kepada sang guru, Begawan Dorna "guru, kami butuh bantuanmu. Saat ini kakang mbok Drupadi menghilang tanpa jejak. Kakang prabu sampai susah hati." Begawan Dorna rupanya sudah dipaksa oleh Prabu Duryudhana untuk tidak jujur memberi pesan " duh ngger ..angel iki ngger....aku gak sanggup ngomonge. " Arya Wrekodara berkata " waaa.....guru, angel kenapa....coba tunjukkan carane." Begawan Dorna berkata "cah ayu Dewi Drupadi hanya bisa ditemukan kalau tumbal." Arjuna bertanya "Tumbal? Tumbal apa? Maksud guru bagaimana ?" Begawan Dorna berkata seraya membaca komat-kamit mantra pelet penunduk " Tumbal yang dimaksud itu matine salah satu Punakawan dan yang ku maksud itu tuan Cepot ya tuan Bagong, ngger." Arjuna seakan seperti tersihir oleh ucapan sang guru. Arjuna juga berpikir paman Bagong dianggapnya tidak banyak berperan sebagai sang Pamomong. Perannya hanya melucu, membanyol, atau membuat tertawa. Malah di beberapa kesempatan, sering bertindak tidak sopan di depan para ndoro bahkan di hadapan bapaknya, kakek Semar. Arjuna mengajak kakak nomor duanya untuk segera pergi memenuhi perintah sang guru. Arya Wrekodara merasa ini tidak benar namun karena ini perintah guru, maka ia menuruti saja.

Wrekodara dan Arjuna langsung ke Karang Tumaritis, tempat tinggal Punakawan. Arjuna menceritakan kepada kakek Semar tentang kondisi Upalawaya yang sedang berkabung kehilangan Drupadi. “Ampun paman Semar, tolong bantulah kami. Sekarang kakang mbok Drupadi menghilang dan untuk mendapatkannya kembali, paman Bagong harus menjadi tumbalnya." Kakek Semar berkata " hhoalah ndg blegedug, ndoro. Ndoro dapat petunjuk ini dari siapa?" tukas kakek Semar dengan tenang. Arjuna berkata " kami dapat petunjuk ini atas nasehat guru Dorna." Semar dengan tenang berkata " tunggu ndoro, biar aku panggil si Bagong dulu." Begitu sampai di dalam kamar, kakek Semar pun memanggil Bagong. " Gong, Bagong...Pot, Cepot mrene." Bagong pun datang dan bertanya " ealah pak, aku kan lagi enak-enak nge game karo kakang Petruk karo kakang Gareng malah ditimbali. Ana apa tho,pak?" Dengan tenang, Semar berkata " ndoro Arjuna kena guna-guna lagi. Dia atas nasehat guru Dorna mau menumbalkanmu demi mencari ndoro Drupadi yang hilang." Bagong berkata " welah dalah...ndoro gak sadar-sadar mari kenek guna-guna. Gemes aku tuh...pengen tak guyang banyu kembang." " Wes gong, mumpung aku isok nahan ndoromu, ndang mlayu." Sang Punakawan yang juga bernama Cepot itu segera bablas mlayu mencari keselamatan. Setelah keluar kamar, kakek Semar berkata " ndoro, sepertinya pamanmu Bagong sudah pergi begitu mendengar hal ini. Baik kau mengejarnya sekarang " Arjuna marah kepada kakek Semar kenapa tidak menghentikannya.

Dewi Drupadi mendandani Bagong dan Besut
Arjuna pun pergi mengejar Bagong. Tak perlu waktu lama, Arjuna dapat menemukan Bagong alias si Cepot. Bagong pun langsung dioyak Arjuna sampai jatuh ke jurang. Wrekodara dan Arjuna sudah yakin bahwa Bagong sudah mati, sehingga bisa menjadi sarana ditemukannya Drupadi.

Di dasar jurang, Bagong ditolong dan ditemui Batara Narada atas permintaan sang bapak, kakek Semar. Narada berpesan kepada Bagong "Hei Bagong alias kang Cepot sang Astajingga, aku tau apa yang kau alami. Untuk itu, demi menyadarkan ndoromu, kamu harus berjalan ke arah barat. Jika ketemu raja yang sedang berkelana, kalahkan dia. Setelah dia dikalahkan, gantikan tahtanya." Bagong diberi ajian Kalung Mustika Srimanik oleh Narada. Dalam perjalanan ke arah barat ketemu raja bernama Kala Sereng dari negeri Simbar Ngelamanyura. Ia lah sekutu para Kurawa yang juga salah satu murid Begawan Dorna yang ditugaskan untuk melakukan salah satu rencana licik Sengkuni yakni menculik Drupadi. Saat ini, ia sedang melakukan laku mandi tujuh telaga di bawah bukit untuk mengguna-guna demi bisa memperistri Drupadi yang sedang disembunyikannya. Bagong menyahut dengan tertawa " hahahaha, sek jaman mandi tujuh telaga, gusti? Saiki jamane mandi pake tujuh skincare. Lagian, ndoro Drupadi ya belum tentu suka sama njenengan, Gusti." Prabu Kala Sereng marah-marah dikatai tidak pantas untuk Drupadi. " Wong edan!! Gak eruh kalau aku iki ganteng kinyis-kinyis. Isteriku bejibun. Kalau mau merebut Drupadi dariku, ta ladeni!" Terjadilah perang sengit antara Bagong dan Kala Sereng. Tak perlu waktu yang terlalu lama, Bagong mampu mengalahkan Kala Sereng. Patihnya juga berhasil dikalahkan dan para prajuritnya dibuat pingsan seakan jadi orang linglung.

Bagong pun membebaskan Dewi Drupadi. " Terima kasih, paman Bagong. Kalau tidak ada kau, entah jadi apa aku. Tapi bagaimana paman bisa tau aku diculik Kala Sereng. Bagong alias Cepot menceritakan seluruh kronologi bagaimana ia bisa tau. Dewi Drupadi marah juga kecewa kepada Arjuna. " Hadeuuh, iparku yang satu itu. Gak habis-habis. Aku akan membantumu. Paman harus sadarkan kembali Dimas Arjuna." Dengan berbekal ilmu merias dari hukuman penyamaran 13 tahun dan dengan kekuatan aji Kalung Mustika Srimanik, Bagong menjadi sangat tampan dan menjadi raja dengan jejuluk Prabu Pathakal Baworsari. Kemudian datang Besut, anak dari Bagong untuk memastikan keadaan ayahnya “walah..pak..bapak..untung slamet, ne’ gak, bapak wes dadi dadar endhog. Bagong pun memukul Besut dengan bercanda “asem koe, sut!”. Dewi Drupadi hanya tertawa kecil melihat tingkah ayah dan anak itu. Sang Panchali bertanya “Besut, gimana caranya kamu bisa tau bapakmu selamat?” Besut berkata “yo jelas tau, eyang Prameswari. sejak tadi aku membuntuti bapak. Eyang Semar yang menyuruhku untuk mengikutinya.” Dewi Drupadi lalu bertanya mau membantunya dalam rencana ini. Besut pun setuju. Dewi Drupadi lalu kembali merias Besut juga menjadi sangat tampan, dan Besut diberi nama baru yakni Patih Katinjasari. Setelah merias Besut, sang Dewi Panchali meminta paman Bagong untuk menghapus ingatannya demi berhasilnya rencana ini. Dengan kesaktiannya, Prabu Pathakal Baworsari membuat Dewi Drupadi lupa ingatan. Seperti orang baru bangun dari pingsan, Dewi Drupadi tidak ingat apapun yang terjadi beberapa saat yang lalu. Prabu Pathakal berkata " sayang, aku mau memperistrimu. Namun sebelum itu, aku mau memperistri pula Dewi Arjuna dan Dewi Wrekodara terlebih dahulu. Aku mohon restu darimu, sayang." Dewi Drupadi yang hilang ingatan lalu menjawab “baik, kakanda Baworsari. Aku merestuimu.” Prabu Pathakal menyuruh patih Katinjasari untuk melamar Dewi Arjuna dan Dewi Wrekudara ke Upalawaya. Prabu Pathakal mengikuti patihnya bersama Drupadi. Supaya Drupadi tidak kelihatan, dimasukkannya ke dalam Akik Cupu Mirahmustika.

Di Upalawaya, Arjuna melapor bahwa ia sudah mencari Dewi Drupadi dengan menumbalkan paman Bagong. Prabu Yudhistira malah makin sedih " duh....adikku, kenapa melakukan hal gegabah begitu. Nasehat mana yang kau pake untuk mencari kakangmbokmu? " Arya Wrekodara berkata "waaa kakakngku.....dinda Jlamprong dan aku datang kepada guru Dorna untuk minta nasehatnya. Jarene guru, untuk mencari kakangmbok Drupadi kudu menumbalkan paman Bagong." Belum selesai sedihnya, datang Patih dari Prabu Pathakal Baworsari. " Salam hormat untuk gusti prabu Yudhistira. Aku Patih Katinjasari dari Simbar Ngelamanyura" Prabu Yudhistira menerima salam sang patih dan bertanya apa keperluannya datang ke Upalawaya. Sang patih berkata" ampun atas kelancangan hamba. Hamba atas perintah gusti Pathakal Baworsari datang melamarkan gusti Dewi Arjuna dan Dewi Wrekodara. Kabarnya, kedua putri itu sangat cantik sampai-sampai membuat gusti prabu tak ingat dunia. Mohon gusti prabu untuk mempertimbangkan lamaran ini."

Arjuna dan Wrekodara marah karena dianggap perempuan. Upalawaya geger karenanya. Tanpa babibu lagi, Arjuna memerintahkan prajurit Upalawaya untuk menahan patih utusan Prabu Pathakal Baworsari dipenjara. Kabar ditahannya patih Katinjasari di penjara Upalawaya membuat Prabu Pathakal mencak-mencak mendengar kabar tersebut " waaa, ancen si anying iku Dewi Arjuna karo Dewi Wrekodara. Aku kurang ganteng opo coba. Tampan rupawan mempesona. Njalok setoran karo Yamadipati wong loro iki " tanpa pikir panjang lagi, pasukan Simbar Ngelamanyura dikerahkan untuk menggempur Upalawaya. Setelah sampai di halaman istana, Prabu Pathakal Baworsari pun maju membebaskan patihnya. Arjuna dan Wrekodara menyerang sang raja berwajah tampan imut-imut itu. Namun saking saktinya, Arjuna dan Wrekodara tak mampu mengalahkannya. Tanpa pikir panjang, Arjuna dan Wrekodara ditemani paman Gareng dan Petruk segera lari ke Dwarawati namu mereka tercerai berai karena paman Gareng jatuh ke sebuah lubang besar. Akibat perbuatan Arjuna, kadipaten Upalawaya yang baru saja berdiri diduduki prabu Pathakal Baworsari. Namun tak seperti negeri yang diduduki, prabu Yudhistira dan Arya Nakula-Sadewa justru tidak diperlakukan seperti tahanan malah oleh Prabu Pathakal Baworsari dijadikan teman slengekan dan berjenaka bersama.

Arjuna, Wrekodara, dan Petruk pun sampai di istana Dwarawati. Di sana ia wadul (lapor) minta cara untuk bisa mengalahkan Prabu Pathakal kepada Prabu Basudewa Sri Kresna. Prabu Sri Kresna lalu pergi pergi bersemai untuk mendapat jawabannya. Di tengah semadi, kakek Semar datang dalam alam awang-uwung. Kakek Semar berkata " lah dalah ndoro Wisnu. Kau pasti sedang mencari jawaban untuk mengalahkan Baworsari. Ini adalah skenarioku dan adhiku Narada untuk menyadarkan Arjuna. Semar laku membisikan sesuatu kepada Sri Kresna. Bangunlah sang raja bermahkota bulu merak itu dan berkata pada Arjuna “Parta, yang bisa mengalahkan Prabu Pathakal Baworsari adalah paman seorang pemuda berwajah tampan.” Saat mereka berpikir siapa orang yang dimaksud, datanglah seorang berwajah tampan kepada Prabu Sri Kresna. Ia menanyai pemuda itu hendak ada keperluan apa. Sang pemuda berkata " ampun Gusti prabu, aku mendengar gusti Bagong baru saja meninggal karena jatuh dari jurang, juga mendengar kalau gusti Gareng juga jatuh ke sebuah lobang perangkap hingga tak bisa menyelamatkan diri maka aku ingin mengabdi kepada ndoro Arjuna jadi pengganti Gusti Bagong." Arjuna merasa tertampar karena baru saja ia menghabisi paman Bagong dan meninggalkan paman Gareng. Prabu Sri Kresna berkata "kalau ingin mengabdi kepada Arjuna , kau harus membantu ndoromu itu melawan Prabu Pathakal Baworsari. Raja itu sedang menduduki Upalawaya, tempat tinggal ndoromu." Sang pemuda bernama Manik Jawara itu bersedia " baik ndoro, aku siap melawan Prabu Pathakal Baworsari."

Di halaman kadipaten Upalawaya, datang Prabu Sri Kresna, Arjuna, dan Wrekodara beserta Bambang Manik Jawara menantang prabu Pathakal Baworsari " hoi....raja kok suka slengekan, mau dadi pemimpin atau pelawak negeri ini?" Prabu Pathakal Baworsari berkata dengan mencak-mencak " ohh iki tha seng ngelindungi Dewi Arjuna karo Dewi Wrekodara. Hmmm ayu pisan, cocok dadi bojoku sisan." Tak terima disangka perempuan, Bambang Manik Jawara menyerang Prabu Pathakal Baworsari. Terjadilah pertarungan antara Bambang Manik Jawara dan Prabu Pathakal Baworsari.

Pathakal Baworsari melawan Manik Jawara
Pertarungan keduanya begitu sengit, keris beradu keris, panah beradu panah, pedang beradu pedang. Hingga akhirnya, keduanya mengerahkan panah mantra dan jampi. Keduanya sama-sama terkena. Akhirnya Prabu Pathakal Baworsari dapat dikalahkan, sehingga dapat kembali kepada wujud aslinya yaitu paman Bagong. Bambang Manik Jawara yang terkena itu badar kembali menjadi paman Gareng. Disitulah Dewi Drupadi dikeluarkan dari Cupu Mirahmustika. Arjuna dan Wrekodara kaget. Mereka tambah terkejut lagi melihat yang ada di sebelah Prabu Yudhistira itu bukan patih Katinjasari, melainkan Besut putra Bagong.. Mereka berdua meminta maaf kepada Gareng, Bagong dan Besut. Bagong pun berkata " lha ndoro, makane lain kali, ne' denger nasehat tha omongan ojo langsung di-lêg ae. Iku udu panganan. Dipikir sek ben gak nyesel. Saiki pean nyesel tha?" Dewi Drupadi yang masih lupa ingatan ditolong lalu oleh kesaktiannya, Gareng membantu memulihkan ingatannya. Bagong pun mendekat dan segera mengembalikan Dewi Drupadi kepada Prabu Yudhistira. Dewi Drupadi juga memberi tahukan yang sebenarnya " kakanda dan Dimas, aku memang dibuat paman Bagong lupa ingatan demi menyadarkan Dimas Arjuna. Kejadian hilangnya diriku, semua rencana para Kurawa untuk mengacaukan keadaan dan membuat kita kembali mengasingkan diri." Prabu Yudhistira menyabarkan isterinya itu. Hari itu mereka membuat syukuran atas kembalinya Drupadi dan perayaan berdirinya istana Upalawaya.


Sencaki Kembar, Sencaki Krama

 Hai pembaca dan penikmat kisah pewayangan, kisah kali ini menceritakan kilas balik pernikahan Arya Sencaki (Setyaki) dan bagaimana Arya Sencaki mendapatkan pusaka Nagabanda yang sakti. Kisah ini mengambil sumber dari blog albumkisahwayang.blogspot.com dengan perubahan dan penambahan seperlunya.

Alkisahnya setelah serangan Prabu Mohasura, Prabu Setyajid dan Prabu Garbanata menemui para pandawa di Alas Kamyaka. Mereka datang bersama Arya Sencaki dan Dewi Garbarini juga anak mereka Raden Jaya Sangasanga. Para Pandawa menyambut mereka. Lalu datang para putra pandawa, diantaranya yakni Raden Pancawala, Arya Yodeya, Raden Abimanyu, Bambang Irawan, Bambang Wisanggeni, Prabu Gatotkaca, Pangeran Arya Antareja, Haryapati Antasena, Prabuanom Srenggini, dan Wasi Sri Pancasena. Mereka baru kali ini bertemu anak Arya Sencaki lalu mereka bertanya “paman Sencaki, kok kami baru tahu kalau paman punya anak sebaya dengan kami?”

Arya Sencaki dan Jaya Sangasanga bercerita masa lalu
Arya Sencaki menjawab “ohh itu karena Jaya Sangasanga jarang aku ajak ke luar. Dia fokus belajar segala ilmu kanuragan dan ilmu lainnya.” para Putra Pandawa lalu meminta Arya Sencaki bercerita bagaimana ia bisa menikahi Dewi Garbarini. Setelah mendapat persetujuan dari ayah dan mertuanya, Arya Sencaki pun bercerita:

Sekitar beberapa tahun lalu, saat itu setelah Sesaji Rajasuya di Amarta. Kerajaan Lesanpura gempar karena Arya Sencaki pergi dari istananya di Lesanpura. Bersamaan dengan hal itu, sang ayah yakni Prabu Ugrasena alias Setyajid Mendapatkan kabar kalau pasukan tidak dikenal mendekat ke istana Lesanpura. Dikirimlah pasukan telik sandi untuk mencari tahu. Singkat cerita, pasukan telik sandi datang membawa kabar “ ampun Gusti Prabu, pasukan yang akan menyerang Lesanpura itu dari Paranggubarja. Dia raja baru, bukan keturunan Jungkungmardeya. Namanya Garbanata.” Prabu Setyajid seperti mengingat nama itu lalu ia teriangat masa lalu. Sang raja pun mempersilakan para telik sandi berjaga-jaga. Lalu Dewi Warsini bertanya “kakanda, siapa yang menyerang kita?” “dinda, kau ingat si Garbanata? “ Dewi Warsini berkata tidak ingat. Prabu Setyajid bercerita “Garbanata itu musuh lamaku. Dulu ketika sayembaramu, Garbanata bersama Narasoma menyerangku bersama-sama dan keroyokan. Tapi berkat bantuan kakang Aryaprabu dan kakang Pandu, aku bisa mengalahkannya dan Narasoma. Setelahnya, aku dengar kabar, Paranggubarja diserang Jungkungmardeya dan ia menyelamatkan diri ke gunung. Aku rasa ia kembali bertakhta kembali setelah Jungkungmardeya dikalahkan Srikandhi. Jangan-jangan ia mau balas dendam lagi kemari. Baik nya kau bersedia diri, dinda.” Dewi Warsini pun bersiap-siap untuk melarikan diri. Singkat cerita, Prabu Garbanata dan Patih Saradenta telah berangkat memimpin pasukan Paranggubarja. Mereka disambut Prabu Setyajid dan Patih Setyabasa yang juga sudah bersiaga dengan pasukan Lesanpura. Pertempuran pun meletus di antara kedua pihak. Perang berlangsung begitu sengit. Mula-mula pihak Lesanpura berhasil mendesak mundur barisan Garbaruci. Ketika kemenangan sudah di depan mata, tiba-tiba Prabu Garbanata mengubah siasat, yaitu menantang Prabu Setyajid bertanding satu lawan satu.

Prabu Setyajid menerima tantangan tersebut. Sebagai mantan panglima perang Kerajaan Mandura, ia tidak pernah takut kepada musuh. Namun, Prabu Garbanata sendiri selama ini sudah menyepi di padepokan Resi Garbasumanda selalu melatih diri dan mengasah ilmu kesaktiannya. Sebaliknya, Prabu Setyajid sudah semakin berumur dan jarang berolah raga. Lama-lama ia terdesak dan berhasil diringkus oleh Prabu Garbanata. Kerajaan Lesanpura pun ditaklukan Paranggubarja. Prabu Setyajid dijebloskan ke penjara “Garbanata, awas saja kau! Putraku pasti akan mengalahkanmu!” Prabu Garbanata tertawa “hahahahahaha.....kalau dia di sini akan ku habisi dia sekarang juga. Tapi dia tidak disini dan malah menghilang. Sekarang membusuklah kau dipenjaramu sendiri!” tanpa pikir panjang, Prabu Garbanata memerintahkan pasukannya mencari Arya Sencaki bahkan ke Amarta, istana para para Pandawa. para pandawa yang mendengar kabar takluknya kerajaan Lesanpura segera mengirimkan pesan kepada Prabu Sri Kresna untuk membantu pencarian Arya Sencaki sebelum keduluan pasukan Paranggubarja.

Di tempat lain, yakni Alas Minangsraya, arya Burisrawa melakukan pembalasan dendam atas perlakuan Sencaki dahulu saat pernikahan Dewi Sumbadra. Ia melakukan tapa brata kepada Batari Durga meminta ilmu berubah wujud. Batari Durga pun datang dan memberikannya aji Kawrastrawam. Setelah mendapatkannya, Batari Durga memberi tahu kalau akan turun pusaka dari kahyangan dan menyarankan sang putra Mandaraka itu mendapatkannya. Arya Burisrawa berterima kasih dan ia segera melakukan tapa brata sekali lagi demi mendapatkan pusaka yang dimaksud. Tak lama kemudian, Batara Narada telah berangkat melaksanakan tugas dari Batara Guru untuk menurunkan pusaka Nagabanda kepada Arya Sencaki yang sedang bertapa di alas Minangsraya. Ia melayang terbang dan melihat dari kejauhan Arya Sencaki sedang duduk bersamadi di bawah pohon besar. Batara Narada segera membangunkan Arya Sencaki dan mengatakan “Anakku, Batara Guru telah mengabulkan permintaanmu yang ingin memiliki pusaka dari kahyangan. Pusaka ini berupa cambuk dari baja emas, bernama Nagabanda. terimalah! ” Arya Sencaki dengan senang hati menerima pusaka tersebut “Terima kasih Pukulun. Sudah lama hamba menginginkan pusaka ini. Hamba mohon pamit untuk kembali ke Swalabumi.” Batara Narada termangu-mangu dan merasa ada yang tidak beres. Ia lalu terbang ke angkasa dan melihat ada Arya Sencaki lain sedang duduk bersamadi di atas batu datar. Batara Narada segera turun dan membangunkannya untuk bertanya “lho la lhe... Sencaki? Kenapa kamu masih bertapa lagi padahal sudah memperoleh pusaka Nagabanda?” Arya Sencaki bangun dan menyembah. Ia berkata Lha...pukulun... aku sampai sekarang belum pernah menerima pusaka Nagabanda. Sudah beberapa hari ini aku bertapa. Sebagai panglima angkatan perang Kerajaan Dwarawati, akan penting sekali jika aku punya pusaka andalan buatan para dewa, di samping Gada Wesikuning....” Batara Narada akhirnya paham bahwa ia telah ditipu oleh Arya Sencaki palsu. Kejadian saat penyerahan Panah Konta terulang lagi. Batara Narada lalu menyela dan berkata ada Arya Sencaki lain yang telah merebut pusaka yang harusnya diberikan padanya. Mendengar ada orang lain yang menyamar sebagai dirinya, Arya Sencaki segera mohon pamit untuk mengejar orang itu dan merebut pusaka Nagabanda dari tangannya.

Arya Sencaki asli akhirnya berhasil mengejar Arya Sencaki palsu. “hoi, peniru...beraninya kau mengambil hakku! Serahkan Nagabanda itu!” “Enak saja! Kau itu yang palsu! Kalau kau ingin Nagabanda ini, ayo bertarung denganku! Kita Duel Satu Lawan Satu!”

Sencaki Kembar
Arya Sencaki asli pun meladeninya. Mereka pun bertarung seru sama-sama mengaku sebagai yang asli. Arya Sencaki yang satu memegang Gada Wesikuning, sedangkan yang satu lagi memegang pecut Nagabanda. Lalu ketika Arya Sencaki palsu mencambukkan Pecut Nagabanda ke arah Sencaki asli, keduanya saling beradu dan tarik menarik satu sama lain. Kedua senjata itu beradu, tiba-tiba Nagabanda melilit dan memilin erat Gada Wesikuning dan keduanya sama-sama terlempar ke udara.

Tepat pada saat itu Prabu Sri Kresna bersama kedua Pandawa dan para punakawan kebetulan lewat. Prabu Sri Kresna segera melesat terbang ke udara untuk menyambar Gada Wesikuning dan Nagabanda. Kedua senjata pusaka itu kini menjadi satu tidak terpisahkan. Cambuk Nagabanda melilit pada Gada Wesikunimg seperti seekor ular melilit pada dahan pohon. Bentuk Gada Wesikuning menjadi lebih indah sekaligus juga menjadi lebih ampuh. Prabu Sri Kresna, Arya Wrekodara, dan Arjuna gembira bertemu Arya Sencaki yang mereka cari-cari, tetapi sekaligus juga bingung karena sepupu mereka itu kini berubah menjadi dua. “waduh kakang Madhawa, bagaimana ini? Adhi Sencaki nya ada dua...gimana cara membedakannya?” “benar, Parta, aku juga agak bngung harus pilih yang mana?” Batara Narada muncul dan menceritakan bahwa ada orang lain yang menyamar sebagai Arya Sencaki untuk merebut pusaka Nagabanda pemberian dewa. Ia menjelaskan bahwa Arya Sencaki yang asli memegang Gada Wesikuning, sedangkan yang palsu memegang Nagabanda. Arya Wrekodara menjawab, “lha gusti batara, ciri-ciri begitu itu sudah tidak berlaku. Kedua pusaka kui sudah menjadi satu. Saiki kedua adhi Arya Sencaki sama-sama tidak pakai senjata dan bertarung tangan kosong.”

Prabu Sri Kresna lalu melerai kedua Arya Sencaki yang bertarung sengit. “wes-wes, kalian Berdua...hentikan perkelahian kalian...Gak malu apa dilihat dewa disini.” Keduanya segera berhenti dan menyembah penuh hormat. Prabu Sri Kresna pun berunding dengan Arya Wrekodara bagaimana caranya membongkar penyamaran Arya Sencaki yang palsu. Arya Wrekodara mendapat akal, “Ngene ae kakang prabu dan kalian berdua... Aku bakal uji kalian. Akan aku hantamkan Gada Rujhapala milikku. Seng sekali hantam langsung berubah wujud, berarti de’e Sencaki palsu. Gusti Batara Narada, mohon jadi saksi atas ujian ini” “aku menerima menjadi saksinya!”

Arya Sencaki yang berdiri di belakang langsung menjawab setuju, sedangkan yang di depan agak ragu-ragu. Arya Wrekodara mulai membaca gelagat tidak baik namun harus mendapatkan bukti nyata. Ia pun mengangkat Gada Rujhapala yang berukuran sangat besar kemudian menghantamkannya kepada Arya Sencaki yang berdiri di depan. Dalam sekali hantam, Arya Sencaki tersebut menjerit kesakitan lalu berubah wujud kembali ke asalnya yakni Arya Burisrawa. Dengan tubuh terluka ia pun melarikan diri kembali ke tempat Batari Durga untuk meminta perlindungan. Batara Narada senang melihatnya. “syukurlah sekarang kebenaran sudah terang. Sri Kresna, sekarang Serahkan Gada Wesikuning dan Nagabanda kepada Arya Sencaki yang satu lagi.” Arya Wrekodara tidak setuju “gak isok ngunu pukulun Batara. Sesuai kesepakatan, keduanya harus harus sama-sama diuji demi membuktikan keasliannya.” Batara Narada keberatan “Lha yang palsu sudah terbongkar, untuk apa yang asli harus menderita pula.” Arya Wrekodara berkata “kita harus jaga-jaga, gusti Batara, jangan-jangan ia juga samaran orang lain. Nah daripada kita ambil resiko, Arya Sencaki yang tinggal satu ini pun harus membuktikan keasliannya.” Arya Sencaki menjawab “aku bersedia. Silakan kau hantam dari mana saja.”  Dengan penuh keyakinan ia meminta Arya Wrekodara untuk segera menghantamkan Gada Rujhapala kepadanya. Arya Wrekodara menuruti. Ia pun mengayunkan gada besar tersebut hingga tepat memukul kepala Arya Sencaki. Akan tetapi, sedikit pun Arya Sencaki tidak goyah dan tidak terluka. Ini berarti ia telah membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar yang asli. Sesuai kesepakatan, Prabu Sri Kresna pun menyerahkan Gada Wesikuning yang sudah terlilit oleh Pecut Nagabanda kepada Arya Sencaki. Sekarang Gada Wesikuning juga boleh disebut dengan nama Gada Nagabanda. Arya Sencaki pun mencoba pusaka itu “Wesikuning! Dadi Pecut!” seketika Gada Wesikuning berubah jadi pecut Nagabanda. Ketika dicambukkan ke bumi, bumi seketika bergetar. Langit ikut bergemuruh. Lalu Arya Sencaki mencoba lagi “Nagabanda! Balik Dadi Gada!” seketika Pecut Nagabanda kembali menjadi Gada Wesikuning. Arya Wrekodara mengucapkan selamat dan memberikan julukan baru kepada Arya Sencaki yang telah membuktikan dirinya kebal terhadap pukulan Gada Rujhapala. Julukan baru tersebut adalah Sang Bhima kunting alias Bhima kecil.

Sementara itu di Kerajaan Lesanpura, Prabu Garbanata telah memenjarakan Prabu Setyajid. Tiba-tiba anak dan istrinya datang menyusul. Anak perempuan tersebut sudah berusia remaja dan berwajah cantik, bernama Dewi Garbarini. Ia datang bersama ibunya, yaitu Dewi Danasari untuk memohon kepada sang ayah agar menyudahi perang dan membebaskan Prabu Setyajid “ayahanda prabu, sudah cukup...jangan turuti dendam dan hawa nafsu setan. Dendam dibalas dengan dendam hanya akan seperti lingkaran yang berputar-putar tiada habisnya. Begitulah nasihat kakek maharesi sebelum wafat dulu. Tolong pikirkan lagi. Apa di hati ayahanda tidak punya rasa iba dan kasihan? Lihatlah paman prabu Setyajid. Pikirkan juga kondisinya. Apakah dengan memenjarakannya, hati ayahnda menjadi puas?” Prabu Garbanata termenung mendengar ucapan anak dan istrinya. Selama ini ia menyimpan dendam membara kepada Prabu Setyajid. Namun, begitu berhasil mengalahkan musuhnya itu, ternyata ia tidak merasa lega seperti yang ia bayangkan dulu. Apa yang diinginkan begitu dalam, ketika hal itu bisa diraih ternyata rasanya hanya begitu saja. Melihat Prabu Setyajid meringkuk di penjara, dalam hati Prabu Garbanata tumbuh perasaan iba. Tiba-tiba di luar istana terdengar suara teriakan menantang. Prabu Garbanata pun keluar menghadapi. Ternyata Arya Sencaki telah datang. Ia mendengar cerita dari Prabu Sri Kresna bahwa ayahnya kini menjadi tawanan Prabu Garbanata. Maka, ia pun bergegas pergi mendatangi Kerajaan Lesanpura untuk membebaskan Prabu Setyajid.

Prabu Garbanata merasa tertarik jika ia menyiksa Arya Sencaki di hadapan Prabu Setyajid. Maka, ia pun memerintahkan Patih Saradenta untuk menghadirkan raja Lesanpura tersebut agar menjadi saksi pertarungan antara dirinya degan Arya Sencaki. Tampak pula Prabu Sri Kresna, Arya Wrekodara, dan Raden Arjuna datang untuk menyaksikan pertarungan ini. Prabu Setyajid telah hadir dengan tangan terikat. Prabu Garbanata dan Arya Sencaki pun memulai pertarungan. Dengan senjata Gada Nagabanda, Arya Sencaki menyerang Prabu Garbanata. Keduanya pun bertarung sengit. Prabu Garbanata lama-lama menyukai ketangkasan lawannya dan tidak lagi memiliki rasa benci kepada Arya Sencaki. Hingga akhirnya, gada yang ada di tangannya pun hancur remuk dihantam Gada Wesikuning Nagabanda. Arya Sencaki lalu men-summon Pecut nagabanda miliknya “Wesikuning! Dadi pecut!”Gada Wesikuning pun bertukar wujud jadi Pecut Nagabanda. Sang Bhima Kunthing pun menyabetkan cambuk baja emas itu. Dan seketika, tubuh Prabu Garbanata bergetar melihatnya. Di saat ia lengah, tanpa terasa pundak kanannya terkena sabetan pecut nagabanda. Prabu Garbanata jatuh terduduk di tanah menahan sakit.

Melihat ayahnya kalah, Dewi Garbarini berlari maju dan menghalangi di depan Arya Sencaki. Ia memohon agar Prabu Garbanata diampuni, “Tolong, tuanku..ampuni ayahanda prabu....biarlah aku saja yang dihukum mati menggantikan ayahanda prabu.!”  Melihat sorot mata Dewi Garbarini yang berserah diri membuat tangan Arya Sencaki gemetar. Entah mengapa Gada Wesikuning Nagabanda pun terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah. Prabu Garbanata kembali teringat kepada nasihat-nasihat mendiang Resi Garbasumanda yang penuh cinta kasih dan hendaknya melupakan semua dendam. Akhirnya prabu Garbanata bertekuk lutut tanda menyerah “Sencaki, aku mengaku kalah, tapi jangan sakiti putriku!” Prabu Garbanata pun melepaskan ikatan Prabu Setyajid. Prabu Garbanata lalu kembali berlutut menyerahkan dirinya “silakan hukum aku, aku siap bertanggung jawab karena lancang berani menyerang Lesanpura.” Prabu Setyajid sendiri juga telah hilang kemarahannya begitu melihat kemenangan Arya Sencaki. “Sudahlah, Garbanata, dendam masa lalu kita akhiri saja... bagaimana kalau permusuhan ini diubah menjadi persaudaraan. Aku melihat putraku gemetar memandang putrimu. Bagaimana jika mereka berdua kita nikahkan saja. Dengan begitu, Lesanpura dan Paranggubarja bisa menjadi keluarga, tidak perlu lagi melanjutkan permusuhan.” Prabu Garbanata terharu mendengar ucapan Prabu Setyajid yang memaafkan dirinya. Kedua raja itu kemudian berpelukan menjadi teman. Mereka lalu menanyai Arya Sencaki dan Dewi Garbarini apakah bersedia untuk dinikahkan. Arya Sencaki menjawab bersedia, sedangkan Dewi Garbarini tersipu malu. Kedua raja pun tertawa lepas, sedangkan Prabu Sri Kresna dan kedua Pandawa segera mengucapkan selamat.

Demikianlah kisah permusuhan antara Prabu Setyajid dengan Prabu Garbanata telah berakhir dan berubah menjadi persaudaraan. Pada hari yang dianggap baik, dilaksanakanlah upacara pernikahan antara Arya Sencaki dan Dewi Garbarini. Kedua negara, yaitu Lesanpura dan Paranggubarja dapat dikatakan sama-sama menang, tidak ada yang kalah. Adapun kemenangan dapat dilambangkan dengan angka sembilan, yang dalam bahasa Jawa disebut “sanga”. Oleh sebab itu, Arya Sencaki pun berjanji apabila kelak Dewi Garbarini melahirkan anak nanti, maka akan diberi nama yang mengandung angka sanga atau sembilan demi mengenang peristiwa ini. Benar saja, setahun setelah pernikahan itu, lahirlah anak lelaki dari Sencaki dan Garbarini. Nak itu diberi nama Raden Jaya Sangasanga.

Begitulah Arya Sencaki menceritakan kehidupan pernikahannya dan bagaimana kerajaan Lesanpura dan Paranggubarja bisa menjadi sekutu walau di masa lalu pernah bermusuhan. Para Putra pandawa pun terkesan dengan kisah itu. Lalu di akhir pertemuan itu, kerajaan Lesanpura dan Paranggubarja mengumumkan dukungan mereka kepada para Pandawa dan membantu mereka dengan sejumlah bantuan demi pembangunan istana baru di Alas Kamyaka yang saat itu baru setengah jadi itu.


Kamis, 09 November 2023

Mohasura Ngraman

 Hai semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan, kisah kali ini mengisahkan Kerajaan Dwarawati yang ditimpa masalah dengan ilusi Prabu Mohasura yang menghilangkan cinta dan kasih sayang di abtara raksyat dan keluarga Prabu Sri Kresna. Akhirnya, Mohasura bisa dikalahkan oleh Begawan Mahodara yang merupakan penjelmaan Batara Ganesha sang dewa ilmu pengetahuan dengan bantuan para Pandawa dan Kakek Semar. Kisah ini mengambil sumber dari Serial Kolosal India Radha Krishna dan  https://www.hindustantimes.com/india/eight-incarnations-of-lord-ganesha/story-MtDl3KeLr8MVP2P6cYkd6I.html dengan pengubahan dan penyelarasan dengan pewayangan Jawa.

Tiga hari sejak Pandawa membuka samaran di negara Wirata, para Pandawa diizinkan Prabu Matswapati untuk membangun kembali kekuasaan di alas Kamyaka. Dengan kekuatan ajaib dari arsitek kepercayaan para Pandawa yakni Prabu Mayasura, sepenggal bagian istana Indraprastha yakni ruang balairung dan rumah kesatriayan yang ada di Wanamarta berpindah ke alas Kamyaka. Namun di tempat lain, tepatnya di kerajaan Dwarawati, masalah datang. Terjadi perang antara negeri Dwarawati dengan pasukan siluman yang dipimpin Prabu Mohasura, raja Negara Kamarodra. Prabu Mohasura adalah murid dari Maharesi Sukra yang berpaling dari kebenaran dan menjadi pengikut Dewasrani yang jahil. Dengan

Prabu Sri Kresna mengungsi ke Alas Kamyaka
kekuatan sihirnya, ia membuat ilusi. Dengan dibantu patihnya yakni Patih Apasmara ia hilangakn rasa cinta, rasa damai, dan kebersamaan di seluruh Dwarawati. Pasukan Narayani yang terkena ilusinya saling menyerang satu sama lain. Pengaruh ilusinya bahkan merambah ke seluruh Dwarawati. Di sekitar istana, para penduduk saling bertengkar sesama sendiri. Suami bertengkar dengan isterinya, adik bertengkar dengan kakaknya. Keadaan di dalam istana pun sama kacaunya. Anak-anak Prabu Sri Kresna saling bersitegang,  para isteri Prabu Sri Kresna juga mengalami hal yang sama, mereka bertengkar satu sama lain.Bahkan dua permaisuri utama Dwarawati, Dewi Radha dan Dewi Rukmini hampir saling membunuh satu sama lain karena hal yang sebetulnya sepele. Prabu Sri Kresna susah hati, negerinya tak karuan,cinta kasih menghilang karena adanya pengaruh ilusi. Maka ia memutuskan untuk mengungsikan sejumlah besar rakyat dan keluarganya. Kerajaan Dwarawati pun kosong sehingga Prabu Mohasura dengan berleluasa menduduki negeri itu. “hahaha...akhirnya si titis Wisnu itu pergi juga tapi aku masih khawatir.” Patih Apasmara bertanya “apa yang kau khawatirkan, gusti prabu? Kita sudah singkirkan Kresna dari sini. Apa yang harus ditakuti darinya sekarang?” Prabu Mohasura berkata “kau ini bagaimana sih, Kresna itu putra Basudewa. Basudewa punya adik bernama Kunthi. Kunthi menikahi raja Pandu dari Hastinapura. Bersama dengan Madrim putri raja Mandraka, mereka punya anak yakni lima Pandawa. Aku kasih tahu nih, patih! sama seperti Kresna, para Pandawa itu sakti mandraguna, apa lagi si Wrekodara dan Arjuna. Pasti sekarang Kresna hendak meminta bantuan kepada mereka. Sekarang kita harus luruk juga para Pandawa sebelum Kresna meminta bantuan mereka” Patih Apasmara pun segera memerintahkan para prajurit mencari keberadaan para Pandawa dan Sri Kresna. Namun sepertinya mereka kesulitan untuk mencari mereka karena para Pandawa memang belum membuka samarannya di muka umum selain kepada keluarga Matswapati.

Prabu Sri Kresna segera mencari tempat pengungsian. Lalu ia teringat kerajaan Wirata dan para Pandawa. Tempo setahun lalu, Prabu Sri Kresna datang kepada para Pandawa di Wirata sebagai Gopadewi dan tepat hari ini adalah tiga hari setelah para Pandawa mebuka samaran. Maka ia segera ke Wirata. Namun sesampainya disana, Prabu Sri Kresna mendapat kabar dari Prabu Matswapati kalau para Pandawa ada di pinggir alas Kamyaka. Menurut sang raja Wirata para Pandawa mendirikan désa baru pengganti Amarta.maka berangkatlah rombongan Prabu Sri Kresna ke alas Kamyaka. Singkat cerita, di alas Kamyaka, Para Pandawa, Dewi Drupadi, dan Kakek Semar beserta para punakawan menerima kedatangan pengungsi dari Dwarawati di desa baru. Di sana, Prabu Sri Kresna bertemu dengan kakek Semar dan para Pandawa. Para Pandawa gembira kembali berjumpa dengan sang Gowinda terutama Arjuna. Arjuna bisa kembali bertemu dengan para isteri dan anak-anaknya, apalagi setelah mendengar kalau Prabakusuma sudah menikahi Mustakaweni. Mereka saling bertukar rindu “adik-adikku para Pandawa, bagaimana kabar kalian selama ini?” “puji pada para dewa-dwi, kami baik-baik saja selama pengasingan dan penyamaran. Berkat bantuan eyang prabu Matswapati kami bisa sampat di titik ini.” Jawab Yudhistira. Arjuna kini gantian memberikan selamat kepada sang Gowinda ”Madhawa, selamat atas pernikahan Anirudha dan Usha juga. Aku turut bahagia mendengarnya” “tentu saja, Parta. Aku ucapkan terima kasih padamu juga.” Arya Wrekodara bertanya “ woo..kakangku Jlitheng..ada apa kakangku dan kakang-kakang mbok datang kemari rame-rame? kami baru saja membangun desa ini,belum bisa melayanimu dan keluargamu?” “adhiku, Bhima, aku dan segenap kelurga juga rakyatku kemari ingin mengungsi.” Nakula lalu diikuti Sadewa nimbrung. Nakula bertanya “lha kakang, ada masalah apa di Dwarawati kok sampai mengungsi?” “benar, kakang. sepertinya masalah yang kakang hadapi ini menyangkut rakyat banyak.”timpal Sadewa. Prabu Sri Kresna pun menceritakannya secara runut kronologi tentang serangan Prabu Mohasura. Para Pandawa, Dewi Drupadi, dan Kakek Semar mendengarkan dengan saksama dan merasa prihatin mendengar apa yang terjadi di Dwarawati. Prabu Sri Kresna lalu meminta pendapatnya mengatasi Mohasura. Kakek Semar lalu menerawang ke masa depan, lalu ia berkata “wolahdlaha ndoro prabu...aku rasa solusi untuk masalah ini sudah teratasi... yang bisa mengalahkan Mohasura hanyalah seorang yang berperut gendut dan penuh pengetahuan di hutan Widyajanggala.” “Hutan Widyajanggala? Dimana itu, pamanku Semar?” kakek Semar berkata kalau hutan Widyajanggala ada diseberang alas Kamyak berdekatan dengan daerah tak bertuan. Tanpa pikir panjang lagi, Prabu Sri Kresna dan kakek Semar disertai ke lima Pandawa berangkat ke hutan yang disebutkan itu.

Sementara itu, jauh di tengah hutan Widyajanggala, tinggal seorang resi berperut gendut bernama Begawan Mahodara. Dari wajahnya tak mencerminkan dia orang yang positif. Matanya sayu dan lemas, wajahnya dekil nan lusuh dan pakaiannya kusut masai tak seperti para begawan atau guru pada umumnya, lebih mirip seorang pengembara atau petapa liar. Sang Begawan mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan terutama cara membangun pikiran yang positif tanpa meracuni hati, menjernihkan hati dengan tapa brata yang tak biasa dan lain sebagainya. Suatu hari, datang wasi/murid pendeta yang belum diangkat sebagai resi bernama Wasi Acyuta dan Wasi Nayawuri. Kedatangan mereka disertai kelima calon pendeta lelaki. Mereka bertanya berbagai hal tentang berbagai pemikiran positif termasuk pemikiran positif yang beracun. Begawan Mahodara mampu menjelaskan semuanya. Wasi Acyuta dan Wasi Nayawuri terpuaskan akan jaeaban sang begawan lalu berubah ke wujud asal mereka yakni Prabu Sri Kresna, para Pandawa, dan Kakek Semar. Sementara Begawan Mahodara berkata bahwa ia sudah tau jati diri mereka “owalah....kau rupanya Sri Kresna..juga kakek Semar...dan kalian para Pandawa....selamat datang di pertapaanku yang sederhana. Apa gerangn yang membuat raja dari Dwarawati, juga kakek Semar dan para Pandawa datang kemari?”

Sang raja Dwarawati lalu menceritakan serangan Mohasura yang membuat kerajaan Dwarawati kini ada di bawah kendalinya, bahkan cinta hilang dari Dwarawati. Maka Prabu Sri Kresna bantuan sang Begawan untuk mengalahkan Mohasura. Begawan Mahodara bersedia membantunya asal ia diberi imbalan makan modaka dan ladu. Prabu Sri Kresna dan para Pandawa sepakat. Singkat cerita, sang Begawan berperang melawan Mohasura yang mengangkat dirinya sebagai raja Dwarawati. Para Pandawa dan Prabhu Sri Kresna membantu Begawan Mahodara. Dalam perang tanding itu, Begawan Mahodara mengalahkan banyak raksasa dan siluman. Bahkan ia berhasil membunuh dua panglima terkuat Prabu Mohasura yakni Ditya Durdubi dan Ditya Jananari. Patih Apasmara juga berhasil dikalahkan oleh Prabu Sri Kresna. Kini tinggal Prabu Mohasura sendirian. Dengan kekuatan ilusinya, ia meniupkan berbagai pemikiran negatif, kecurigaan, dan pola pikir beracun. Sang Begawan lalu kembali ke wujud aslinya yakni Batara Ganesha, sang dewa kebajikan dan ilmu pengetahuan. Semua orang disana lalu menghormat kepada sang dewa berkepala gajah kecuali Mohasura.

Batara Ganesha diejek oleh Prabu Mohasura sebagai dewa yang tidak tau apa-apa hanya terkungkung di balai pustaka kahyangan. Sang dewa berkepala gajah itu murka dan memperlihatkan 8 wujud krodha, yakni sebagai Ekadanta (membawa gading besar), Wignaraja (berwujud raja berkepala gajah membawa keris), Dumrawarna (wujud yang dikelilingi awan berwarna-warni lengkap dengan senjata trisula), Lambodhara (berwujud resi berkapala gajah berperut besar membawa kitab Lontar dan tombak), Ganapati alias Gajanana (berwujud prajurit berkepala gajah perkasa yang garang membawa pedang), Pileyar (wujud anak-anak berkepala gajah membawa pentungan dewa), Muskawahana (Wujud Ganesa raksasa mengenderai tikus raksasa membawa mangkuk darah), dan sang Wigneswara (berwujud Ganesa membawa kapak dan sabit).

Kekalahan Mohasura oleh delapan wujud Ganesha
Ganesha berkata kalau sebetulnya Mohasura lah yang picik. Dia berpikir bisa menaklukan Dwarawati hanya dengan mengusir sang raja yang sah dan membuat keluarganya saling bertengkar dengan kekuatan ilusi. Pikiran Mohasura sudah dikendalikan dengan racun dan sifat-sifat negatif dunia. Ke delapan wujud krodha Ganesha itu menyerang Mohasura dengan bersama-sama. Mohasura pun tewas seketika dengna delapan senjata menancap di tubuhnya. Trisula, pedang, tombak, keris pentungan, kapak, sabit, dan gading menancap di tubuh Mohasura sampai lukanya menganga dmana-mana dan sebagai serangan terakhir, jasad sang raja Kamarodra pun ditindih oleh mangkuk raksasa milik Ganesha sehingga menjadi remuk tak berbentuk lah wujud Mohasura. Setelah itu kedelapan wujud krodha Ganesha kembali bersatu dengan Batara Ganesha. Berbahagialah kakek Semar, prabu Sri Kresna, dan para Pandawa. Kerajaan Dwarawati kembali ke tangan Sri Kresna dan para Pandawa diundang untuk tinggal sementara di Dwarawati sambil menunggu keputusan dari Hastinapura tentang nasib mereka dan sesuai janji, Batara Ganesha dijamu oleh Prabu Sri Kresna dengan kue modaka dan ladu terbaik yang banyak.setelah terpuaskan, Batara Ganesha kembali ke kahyangan Glugutinatar.