Rabu, 04 Maret 2026

Banjaran Sri Kresna Episode 10: Sayembara Drupadi

Hallo semua, sudah lama saya tak menulis kisah Banjaran Sri Kresna. Kisah Kali ini menceritakan kedatangan Prabu Kresna sebagai raja baru ke Hastinapura dan memberi teka-teki kepada Bhisma dan Arya Widura tentang nasib Pandawa. Kisah berlanjut kunjungan Kresna ke pancalaradya, bertemu dengan Dewi Drupadi yang jadi sahabat terdekatnya dan sayembara sang putri. . Kisah ini mengambil sumber Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus, dan Radha Krishna Starbharat.

Setelah kerajaan Dwarawati terbangun menggantikan negara Dwarakawestri yang hancur karena serangan Kalayawana, Prabu Kresna mulai membangun berbagai hubungan diplomatik. Pertama yakni dengan Hastinapura, kerajaan tempat sang bibi dan para sepupnya yakni Dewi Kunthi dan para Pandhawa dulu tinggal sebelum mereka meninggal karena kebakaran di Bale Sigala-gala. Walaupun Kresna tahu bahawa bibi dan anak-anaknya masih selamat malah membantunya saat pencegahan makar di Mandura, Kresna sengaja tutup mulut karena ia tahu belum saatnya mereka muncul di hadapan keluarga kerajaan Hastinapura. “salam paman prabu Drestarastra, keponakanmu dari Dwaraka telah datang sebagai mitra kerajaan hastinapura.” Ucap Prabu Kresna di hadapaan Prabu Drestarastra dan . “sebelumnya,aku turut berduka karena saudara-saudaraku Pandhawa dan bibi Kunthi meninggal karena kebakaran tempo sasih lalu. Aku baru tahu kabar ini dari ayahanda Basudewa.” Prabu Drestarastra berkata “anakku ananda prabu, aku juga masih berduka dengn kepergian mereka. Belum kering air mataku karenanya.” “benar suamiku, akupun juga tak menduga bila ini menimpa adik ipar dan anak-anakku Pandhawa.” Balas Dewi Gendari juga dengan menyeka penutup matanya yang basah oleh air mata. Di sana, Prabu Kresna bertemu dengan para Kurawa yang pimpin Prabu Anom Kurupati (Suyudana), Raden Dursasana, dan paman mereka, Haryapati Sengkuni, patih Hastinapura yang merangkap sebagai raja Gandaradesa.

Kedatangan Kresna ke Hastinapura
Lalu Kresna mendekati mereka “salam paman harya.” Sengkuni menjawabnya “salam, Basudewa! Aku turut senang nanda Prabu dan sekeluarga selamat dari makar Kangsa.” Ucap Sengkuni yang kedengaran manis tapi menyimpan tanda tanya, seperti sedang membaca situasi. Sengkuni bergumam “hmmm...raja gembala ini harus ku waspadai. Bisa-bisa semua rencanaku ke depannya bisa gagal dan berantakan. Aku harus hati-hati dan membaca apa rencananya.”

Setelah beberapa hari di keraton Hastinapura, Prabu Kresna pamit ingin melanjutkan perjalanan ke Talkandha dan Panggombakan untuk bertemu dengan Maharesi Bhisma sang pinisepun kerajaan Hastinapura dan Arya Widura, adik bungsu Prabu Drestaratra yang tinggal di Panggombakan. Kebetulan di Panggombakan, mereka berdua ada di sana, bahkan kakek Semar sang pamomong juga berada di sana. “salam kakek Maharesi! Salam paman adipati Arya Widura! Salam kakek Semar!” ketiganya memberi salam kepadanya. Kakek Semar menyambut sang Madhawa  “hhmmm... blegedeg gudug... anakku ngger prabu Kresna. Terakhir kali kita bertemu saat di Widarakandha. Sekarang kau sudah menjadi raja Dwaraka. Apa kabar kakangmu Kakrasana, adhimu Rara Ireng dan Radha temanmu juga ibu ayahmu?” Kresna berkata kepada pamomongnya “Astungkara, puja dan puji pada Hyang Widhi, mereka baik-baik saja.” Bhisma dan Arya Widura menanyakan  ada apakah kedatangannya kemari “cucuku Kresna, kau sudah datang ke Hastinapura, tapi ada apa dikau datang ke Panggombakan, cucuku?” “benar anakku, apakah ada sesuatu yang penting telah terjadi?” Prabu Kresna lalu berkata “Kakek Maharesi, paman Arya, dan kakek Semar, kedatanganku kemari hanya memberitahukan bahawa keadaan di negeri ini kacau sekali. Paman Prabu pasti kerepotan karena pelantikan adhi Kurupati sebagai yuwaraja. Keadaan di taman keraton jadi berantakan. Aku lihat di sana keluarga bebek di sana menderita. Ibu bebek dan lima anaknya sampai kotor karena terus berendam di lumpur kolam yang kering itu. Aku melihat mereka akan terbang mencari kolam baru. Tolong ingatkan paman Prabu untuk memperbaiki taman keratonnya.” Setelah berkata demikian, Prabu Kresna harus pamit kembali ke Dwarawati karena banyak hal yang harus di kerjakan di kerajaannya. Maharesi Bhisma dan Arya Widura masih bertanya apa maksud dari Kresna, namun Kakek Semar paham bahwa para Pandawa masih hidup dan selamat. Maka ia pamit karena akan kembali Karang Tumaritis.

Sementara itu, di kerajaan Pancalaradya, sang raja yakni Prabu Drupada dan patihnya yang tak lain patih Arya Gandamana, iparnya sendiri baru ssja merayakan ulangtahun ketiga anaknya yakni Dewi Drupadi, Arya Drestajumena, dan Dewi Srikandhi. Di saat itu, Prabu Kresna datang menghadap kepada Prabu Drupada. “salam gusti Prabu Drupada! Dan salam juga untuk gusti patih Gandamana dan raden mas putra-putri !” Prabu Drpada, Arya Gandamana, dan tiga anak prabu Drpada menyambut salam sang Madhawa. “salam ananda prabu Kresna! Berita tentang anak prabu dan ayahmu, Basudewa telah ku dengar. Ku dengar sekarang anak prabu sudah mendirikan negeri baru diseberang pantai barat. Aku ucapkan selamat!” prabu Drupada mempersilakan Prabu Kresna duduk bersamanya. Dewi Drupadi digambarkan sebagai gadis cantik berambut hitam ikal bergombak laksana api, berbadan sintal berkulit sawo matang dan bersih, harum semerbak bak wangi teratai  Ia putri yang cerdas, berpendidikan, dan memiliki widya dengan kualitas seorang raja. Adik-adiknya juga tak kalah hebat. Arya Drestajumena ibarat dewa perang yang turun menitis ke dunia. Rupa tampan rupawan, mata berapi-api, badan atletis bak pemuda di puncak pesonannya, dan berdedikasi tinggi dalam berbagai ilmu terutama ilmu berperang. Dewi Srikandhi pun kecantikan dan kecerdasannya menyamai sang kakak. Tampil dengan ayu namun berjiwa pejuang. Ia putri tapi juga pemanah yang ulung dan ahli beladiri yang mumpuni. Sungguh putri yang jarang ada di zaman itu, putri petarung yang tangguh tapi ayu dan molek.

Hari itu Prabu Kresna mendapat kehormatan oleh Prabu Drupada karena sang puteri, Dewi Drupadi telah selesai menyelesaikan pendidikannya dan kini dia akan siap menikah. Prabu Drupada lalu mempersilakan Prabu Kresna untuk menjamu selera hidangan yang ada.

Kresna dan Dewi drupadi di taman Keraton
Prabu Drupada memanggil Drupadi dan kedua saudaranya. Dewi Drupadi sangat anggun seperti yang ada dalam cerita dongeng. Kebaikan hatinya terasa dalam dan menyebar ke seluruh istana.”salam yang mulia Prabu kresna.” Kresna berkata pada Drupadi “temanku, jangan begitu. Kita ini seumuran. Panggil saja aku Gowinda.” “Baiklah, kakang Gowinda.” Kresna pun menceritakan tentang dirinya. Setelah itu Drupadi pun bercerita bagaimana kelahirannya yang ajaib: pada masa lalu, ayah Drupadi yakni Prabu Drupada dikalahkan Begawan Dorna di tangan para Pandawa dan Kurawa. Kerajaan Pancala terbagi dua. Karena itu, Drupada melakukan pertapaan keras demi mendapatkan seorang putra. Melalui Bantuan Resi Yodya dan Upayodya, Prabu Drupada melakukan sesaji Agni Putrakama. Ia lemparkan semua yang ia miliki hingga dari dalam api keluar tiga orang anak, satu putra dan dua putri yakni dirinya, Drestajumena, dan Srikandhi. Begitulah Dewi Drupadi menceritakan asal-usulnya.

Lalu datang prabu Drupada datang bersama Arya Gandamana dan para menteri. Ia berkata kepada putrinya bahwa sarana pernikahan sudah siap sekarang tinggal calon suaminya. Dewi Drupadi tersipu malu. Ia bahkan belum tahu siapa yang bakal jadi suaminya tapi ia pernah bermimpi bahwa ia bersama seorang lelaki yang pembawaannya tampan dan tenang. Ia diratukan dan siiringi empat orang lelaki sebagai pengiring. Prabu Kresna memberi usul agar Drupadi menggelar sayembara. Dewi Drupadi berkata “kakang Gowinda, sayembara apa yang harus ku gelar/ apakah kau punya saran tentang itu?” Prabu Kresna berkata “apa saja boleh, mau adu kekuatan, adu senjata, atau adu kecerdasan. Dari para pemenangnya kau bisa pilih dari mereka siapa yang panatas.” Dewi Drupadi berpikir keras dan akhirnya ia memutuskan akan menggelar sayembara memanah sasaran dan ia tidak masalah kalau jika yang melakukan sayembara ini adalah perwakilan maupun orangnya langsung. Drupada langsung setuju dan memerintahkan para menteri menyebar undangan sayembara di Pancala demi mendapatkan putrinya.

Sementara itu, Dewi Kunthi, para Pandawa, dan para Punakawan yang telah meninggalkan kerajaan Ekacakra melanjutkan pengembaraan menjauhi tanah Hastinapura. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Begawan Dhomya, sahabat sekaligus guru Maharesi Abiyasa. Berkat ketekunannya beribadah, dia masih diberi umur panjang untuk bertemu para Pandawa, cucu sang murid dan kakek Semar. Walaupun mereka sedang menjadi brahmana, Begawan Dhomya dapat mengenali mereka. “hmmm... kalian pasti cucu-cucuku Pandawa, mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi saya dapat mengenali kalian. Kalian adalah salah satu cucu Abiyasa, murid saya” Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa) kemudian bertanya “mohon ampun eyang Begawan, siapakah sebenarnya anda?” “nama saya Dhomya, dari pertapaan gunung Mahayana. Saya sahabat dari kakek kalian.” Setelah mendengar hal itu, para Pandawa, Dewi Kunthi, dan para punakawan memberi hormat. begawan Dhomya kemudian menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan wangsit dari dewata untuk memberitahukan kepada para Pandawa bahwa di Pancalaradya akan diadakan sebuah sayembara untuk mendapatkan putri sulung sang Prabu Drupada yaitu Dewi Drupadi dan mengijinkan para Pandawa ikut sayembara itu. Dewi Kunthi pun teringat tentang keinginan suaminya dulu, Pandu Dewanata yang ingin bisa berbesan dengan Prabu Drupada. Akhirnya Dewi Kunthi mengijinkan tiga dari para Pandawa ikut serta dan menyaksikan sayembara lebih dahulu sementara dirinya bersama Pinten,Tangsen, dan para punakawan akan menyusul belakangan.

Keesokan harinya, para raja dan para pangeran telah berkumpul di arena sayembara. Ditengah arena itu telah berdiri sebuah tiang setinggi seratus depa yang di puncaknya diikat sebuah jepit rambut bunga teratai milik Dewi Drupadi dan sebuah cermin besar selebar tujuh depa. Di dekatnya pula terdapat sebuah meja yang diatasnya ada busur sakti. etelah para tetamu undangan dan peseta sayembara berkumpul semua, Arya Drestajumena mengumumkan tatacara sayembara “Wahai para raja, para pangeran, dan para tetamu undangan yang telah dimuliakan Yang Maha Agung, disini saya akan mengumumkan tatacara sayembara ini. Barangsiapa yang mampu memanah jepit rambut yang ada pada mata boneka ikan yang berputar-putar sanagt cepat itu sambil memandang cermin menggunakan busur sakti, maka dia berhak memperistri Kakakku, Kanda Dewi Drupadi.” Selesai mengumumkan pengumuman, naiklah ke arena itu Prabu Salya, raja Mandaraka. Dia berniat untuk menjadikan Dewi Drupadi sebagai menantunya. Setelah mengutarakan maksudnya dan dipersilahkan oleh Prabu Drupada, Prabu Salya mematrapkan aji Candhabirawa dan seketika itu keluarah para raksasa untuk membantunya. Namun yang terjadi, para raksasa dan dirinya tak mampu mengangkat busur sakti itu. Semakin diangkat, busur itu semakin berat. Prabu Salya dan para raksasa menyerah lalu mereka mohon pamit untuk duduk kembali di tribun.

Peserta berikutnya adalah pangeran mahkota Sindu Banakeling, Prabu Anom Jayadrata. Dia berusaha mengangkat busur sakti itu. Namun begitu busur itu terangkat sedikit, badannya langsung lemas. Prabu Anom Jayadrata akhirnya menyerah dan kembali ke tribun. Lalu keluarlah peserta berikutnya, yaitu Prabu Jarasanda alias Prabu Jaka Slewah, raja Giribajra. Dengan pongahnya, sang raja itu berusaha mengangkat busur sakti api seperti yang terjadi sebelumnya, Prabu Jarasanda tak kuat mengangkat busur itu malah jatuh terduduk karena seluruh tenaganya bagaikan disedot oleh busur panah itu. Setelah dibantu berdiri, dia marah-marah lalu naik lagi ke tribun karena mendapat malu. Begitulah yang terjadi sehinggalah dipanggillah wakil dari Hastinapura, yaitu Raden Suryaputra dari Awangga. Raden Suryaputra datang bersama Prabu Anom Suyudana, Arya Dursasana, Bambang Adimanggala, Bambang Aswatama, Patih Arya Sengkuni, Raden Citraksa-Citraksi, dan beberapa Kurawa lainnya.dia datang untuk mewakili Prabu Anom Suyudana. Begitu Raden Suryaputra naik ke arena, sifatnya yang biasanya angkuh dan berlagak berubah menjadi penuh hormat pada sang busur. Begitu tangannya memegang busur itu, busur itu langsung terangkat dan ringan sekali. Dewi Drupadi kemudian bertanya pada ayahnya”Ayahanda, saya mau tanya. Apa benar Raden Suryaputra yang disana itu pangeran Awangga? Aku dengar dia adalah anak Adipati Adiratha yang dulunya kusir keraton Hastinapura.” “ sepengetahuanku itu dia anak Adiratha tapi aku juga tak tahu kalau Adiratha sudah jadi Adipati di Awangga, anakku. Tapi jangan remehkan dia dan kesaktiannya.” Hati Dewi Drupadi menjadi bimbang dan ingin menanyakan hal itu pada Raden Suryaputra langsung. Prabu Kresna yang duduk di dekatnya melihat kebimbangan Drupadi “Drupadi, aku tahu kamu gelisah, kamu merasa Suryaputra memang mampu tapi hatimu menolak.” Drupadi bertanya “bagaimana ini Gowinda? Aku tidak mungkin tiba-tiba menolaknya tanpa alasan.” Prabu Kresna lalu berkata “Drupadi, kamu harus jujur pada diri sendiri. Katakan penolakanmu. Ini sayembaramu dan kamu punya hak untuk menentukan siapa yang pantas dan yang tidak.” Lalu ketika Raden Suryaputra sudah mulai menarik busur panah dan hampir melepaskan bidikannya, tiba-tiba Dewi Drupadi turun dari tribun dan berkata dengan lembut namun cukup keras ”Tunggu dulu, anak kusir.” Tak pelak, Raden Suryaputra menjadi hilang fokus dan tembakan panahnya meleset jauh dan mengenai pohon beringin. Raden Suryaputra menjadi tersinggung dan menanya balik Dewi Drupadi “Mohon maaf, tuan putri. Ada apa kau menghentikanku?” “bukan sebuah hal yang terlalu penting, raden. Saya hanya ingin bertanya apakah raden benar putra dari sais Adiratha? Bila benar, berarti raden ini hanya kere yang munggah bale. Saya merasa anda selain mewakili tapi juga sebearnya da niat lain, saya menolak anda atau orang yang menjadikanmu sebagai wakil!” mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, Raden Suryaputra merasa sangat disepelekan dan amat marah. Dia meletakkan busur itu kembali pada meja, lalu berkata dengan kasar “Ingat ini, tuan putri. Kau telah menggagalkan sayembaramu sendiri dengan menghina dan menyepelekan aku, maka aku bersumpah kau akan mengalami hal yang sama, dihina dan dipermalukan di depan khalayak. Semoga aku punya umur panjang untuk menyaksikan hal itu, tuan putri!!” setelah itu, Raden Suryaputra pergi meninggalkan arena disusul oleh adik angkatnya, Bambang Adimanggala sementara Dewi Drupadi kembali ke tempat duduknya sambil menangis.

Para tetamu undangan merasa terkejut dan terutama Prabu Anom Suyudana merasa marah atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap Raden Suryaputra. Dihadapan hadirin di sana, Prabu Anom Suyudana mengatakan bahwa sayembara ini terlalu mustahil dan berkata bahwa kerajaan Pancalaradya hendak membuka perang. Akhirnya kemudian berdirilah Arya Gandamana dan membuka satu sayembara lagi agar keponakan kesayangannya itu bisa segera menikah“ baiklah, karena ada yang merasa sayembara memanah ini terlalu susah, maka saya tambah satu sayembara tanding. Siapapun yang bisa mengalahkan saya, tak peduli apapun kasta yang disandangnya, kedudukan ataupun darimanakah asal-usulnya, maka dia yang berhak menikahi Dewi Drupadi. Terserah mau pakai senjata apa saja, saya akan ladeni dengan tanah kosong!” Prabu Anom Suyudana yang sejak tadi merasa kesal karena sahabatnya dihina segera meladeni sayembara tanding itu. Dengan menggunakan gadanya, dia memukul dan menyerang Arya Gandamana. Namun karena Ajian Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa yang dipatrapkan Arya Gandamana, Suyudana menjadi terdesak. Melihat kakak tertua mereka dalam keadaan yang demikian, Arya Dursasana dan adik-adiknya segera membantu Prabu Anom Suyudana. Namun bukannya kalah, justru Arya Gandamana mampu membuat para Kurawa terdesak dan pontang-panting bahkan terlempar keluar kotaraja.

Bersamaan itu pula datanglah empat orang pendeta. Yang tertua adalah begawan Dhomya dan tiga pendeta dibelakangnya. Mereka adalah Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa),Wasi Kusumayuda (Arya Bratasena), dan Wasi Parta (Raden Permadi). 

Arjuna menyelesaikan sayembara Panahan
Dua dari mereka, Wasi Kusumayuda dan Wasi Parta kemudian memohon pada Arya Gandamana dan Arya Drestajumena untuk diperkenankan ikut sayembara mewakilkan kakak tertua mereka yang bersama Begawan Dhomya. Setelah diijinkan Prabu Drupada, ajang sayembara itu dilangsungkan kembali. Wasi Parta mulai naik ke arena sayembara panah dan menghormat pada busur pusaka Pancalaradya. Wasi Parta mulai mengangkat busur panah sakti itu. Ajaib, busur itu sangat ringan ketika diangkatnya. Lalu Wasi Parta mulai mengambil anak panah menarik busur itu, lalu membidik sasaran melalui cermin. Setelah mendapatkan fokus, terlepaslah panah itu dan melesat secepat kilat, tepat mengenai jepit rambut yang berada di dalam mata boneka ikan yang berputar-putar itu.

Wasi Parta dinyatakan sebagai pemenang sayembara memanah. Bersamaan itu pula, datanglah Nyai Prita (Dewi Kunthi), Wasi Grantika dan Tripala (Raden Pinten dan Tangsen), dan kakek Semar beserta anak-anaknya. Mereka bangga akan kemenangan Wasi Parta dan memberikan selamat kepadanya. Sementara itu, Wasi Kusumayuda masih bertanding gulat dengan Arya Gandamana. Pertandingan itu masih berimbang. Anehnya, Aji Bandung Bandawasa dan Wungkal Bener tidak bekerja sebagaimana mestinya. Lalu di saat Wasi Kusumayuda lengah, Arya Gandamana mencekiknya dengan cara dikempit menggunakan ketiaknya. Wasi Kusumayuda merasa sesak nafas karena tercekik. Tanpa sadar, Kuku Pancanaka milik Wasi Kusumayuda memanjang dan menembus dada Arya Gandamana. Arya Gandamana merasa dingin dan roboh ke tanah dengan bersimbah darah. Tak lama, Resi Dwijakangka, Wasi Parta, Wasi Gratika dan Tripala, dan Nyai Prita diikuti Prabu Kresna mendekat untuk menghampiri mereka. Begitu juga keluarga Pancalaradya segera meninggalkan tempat duduk untuk melihat kondisi mereka. Namun Arya Gandamana tak menyalahkan sesiapapun dan mengumumkan bahwa Pandawa telah kembali. “rayi Prabu Drupada...ananda Prabu Kresna... inilah mereka. Para Pandawa dan Dewi Kunthi...... mereka telah selamat...dari kebakaran tempo hari.....” Prabu Drupada sekeluarga terkejut sekaligus gembira mendengarnya bahwa Pandawa dan Dewi Kunthi telah selamat tanpa kurang satu apapun.

Gandamana Gugur
Sebelum Arya Gandamana menghembuskan nafas terakhir, dia mengheningkan cipta dan mewariskan Aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa pada Arya Bratasena, Kalung sakti Robyong Mustikawarih kepada Puntadewa dan Ajian Sepiangin pada Permadi. Setelah mewariskan segala kesaktiannya, Arya Gandamana wafat dengan tenang dan seketika moksa ke alam dewa. Sayembarapun selesai. Kini, Prabu Drupada dapat berbesan dengan mendiang Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Drupadi telah mendapatkan jodohnya yaitu Raden Puntadewa, putra sulung Pandu Dewanata yang berwatak bagai brahmana, sesuai seperti dalam mimpinya. Dewi Srikandhi yang menyaksikan Permadi sedang membidik sasaran tadi seketika jatuh hatipadanya. Begitu pula Raden Permadi, sama-sama tertarik hatinya ketika melihat ayunya wajah Srikandhi namun mereka masih malu-malu untuk mengungkapkan.

Hari berikutnya, persiapan pernikahan disiapkan. Prabu Kresna lalu menghadap kepada Dewi Kunthi “salam, bibi Kunthi. Syukurlah Bibi dan para saudaraku selamat sejak dari Mandura.” “tentu saja, ananda prabu. Gowinda kesayangan bibi.” Prabu Drupada terkaget “Tunggu, ananda Prabu. Jadi ananda sudah....” Prabu Kresna berkata “benar, paman prabu. Bibi Kunthi dan para saudaraku pandawa telah membantu keluarga Mandura lepas dari kekejaman kakakku, Kangsa. Aku sengaja menutupi kebenaran ini demi keamanan Bibi Kunthi dan para Pandawa terjaga.” Permadi lalu menghadap “kakanda Madhawa, aku bahagia bisa bertemu denganmu kembali. Bagaimana keadaan pamanda Basudewa dan saudara-saudara kita?” Kresna menjawab “kabar mereka baik, Partha. Kami sudah membangun istana baru di pantai. Kerajaan Dwarawati telah berdiri. Ini sama seperti impianmu dan impian Radha.” Permadi teringat ia bermimpi melihat kota yang indah saat berada di Ekacakra dan ia menyaksikan bahwa Kresna menjadi raja di sana, lalu melihat wajah Radha tersenyum bahagia dan tiga wanita asing membelai Kresna. Permadi jadi penasaran bagaimana rupa negeri yang dibangun saudaranya itu. Prabu Kresna bilang akan ada masanya ia akan memasuki kota itu. tapi sekarang adalah hari bahagia kakangnya, Puntadewa.

Sementara itu, para Kurawa dan para peserta yang gagal belum pulang dari kerajaan Pancalaradya, telah mendengar bahwa sayembara telah usai dan Dewi Drupadi telah menjadi isteri seorang pendeta muda menjadi kesal hati. Di saat hari pernikahan Puntadewa dan Drupadi dilangsungkan, mereka datang menyerang Kerajaan Pancalaradya dan berniat merebut Dewi Drupadi. Arya Bratasena yang sudah memakai pakaian pangeran mengalahkan mereka dengan tiang bekas sarana sayembara. Mereka kemudian kucar-kacir dan lari pontang panting ke negara mereka masing-masing. Hari itu pula, para Pandawa dan Dewi Kunthi telah membuka penyamaran mereka. Dewi Kunthi sudah tak lagi menjadi Nyai Prita yang berpakaian dari kulit kayu dan berganti baju dengan pakaian ratu janda. Para Pandawa juga para punakawan mencukur janggut dan kumis tebal mereka. Setelah beberapa hari, mereka meminta izin untuk kembali ke pertapaan Saptaharga untuk menghadap Maharesi Abiyasa.

Minggu, 03 Agustus 2025

Banjaran Sri Kresna Episode 9 : Narayana Jawata (Dwarawati Winangun)

 Hallo semua, sudah lama saya tak menulis kisah Banjaran Sri Kresna. Kisah Kali ini menceritakan mengungsianya keluarga Wangsa Yadawa dari serangan Jarasndha yang menyerang Mandura. Kisah dilanjutkan dengan  pernikahan Radha dan Narayana di alam dewata yang sempat ditentang oleh Kakrasana. Lalu dilanjutkan kematian Kalayawana karena kecerdikan Narayana. Kisah diakhiri pendirian negara Dwarawati dan pelantikan Kresna sebagai raja disana. Kisah ini mengambil sumber Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus, dan Radha Krishna Starbharat. Juga hasil diskusi dengan teman-teman pencinta wayang. Terima kasih mas https://www.instagram.com/dendykrisnaa/#https://www.instagram.com/wayang_kawildanan_gallery/#, dan beberapa yang gak bisa ta sebutkan.

Setelah menghabisi Kangsa dan mengakhiri makar, Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng dijemput pulang oleh Basudewa. Setelah beberapa lama, pada hari yang baik, Kakrasana dipersiapkan sebagai pangeran Mahkota negara Mandura yang baru. Perayaan berlangsung tujuh hari tujuh malam saat pelantikan Kakrasana. Akan tetapi, ketenangan seakan enggan berlama-lama berdiam di Mandura. Sekutu Kangsa yang tak lain, Jarasandha raja Giribajra yang juga mertuanya melancarkan serangan ke Mandura demi balas dendam. Wangsa Yadawa kembali tercerai berai. Keluarga Basudewa lari ke arah barat dekat pantai. Keluarga Nanda Antagopa dan Nyai Yasodha lari kembali ke Widarakandha. Sementara keluarga Bhismaka (Arya Prabu), saudara Basudewa yang namor tiga harus mempertahankan negeri Kumbinapuri dan Keluarga Satyajid (Ugrasena) kembali ke Lesanpura. Keluarga Pandawa juga tercerai berai. Mereka melarikan diri ke kerajaan Ekacakra, tepatnya di desa Manahilan. Negeri itu dekat dengan kerajaan Pancalaradya, negerinya Prabu Drupada. Di tengah perjalanan, Kakrasana dan Narayana memisahkan diri dengan Basudewa, ibu Rohini, Ibu Dewaki, Rara Ireng dan para penduduk Yadawa lainnya. Kakrasana bertanya ke adiknya “Kanha, kenapa kita pisah jalan dari yang lainnya?” Narayana menjawab  “kita akan ke Goloka, kakang.” Tanpa banyak tanya mereka berjalan ke Bukit Goloka.

Singkat cerita, mereka sampai juga di Bukit Goloka. Mereka bertemu kembali dengan Radha. Mereka bertiga saling melepas rindu. Radha telah bertemu kembali dengan Kanha-nya. Mereka menari diiringi nyanyian dan alunan seruling Narayana yang indah. Kakrasana bertanya lagi “ngapain kita ke sini?”. Narayana lalu menjawab “Di sini aku ingin mempersatukan cinta kita. Aku ingin menikahi Radha” Akan tetapi apa yang Narayana diharapkan dari sang kakak berbeda dari apa yang kira. Mukanya langsung kusut masam. Kakrasana menolak itu dan menghalanginya. Narayana menanyakan apa sebabnya. Kakrasana lalu berkata “tidak bisa, Kanha? Kalian tidak bisa bersatu! Radha adalah kawan masa kecil kita.” Kakrasana melanjutkan “Dia juga jandanya Ayyan, kawan kita juga!” Kakrasana mempersoalkan status Radha yang juga seorang janda. Kakrasana tidak bisa menerima itu. katanya “Janda Itu Wanita Yang Sudah Dikotori, Tak Lagi Suci. Aku Tidak Mau Kau Tercemar Oleh Kekotoran Seorang Janda” Kakrasana mengatakan hal itu sambil menunjuk ke arah Radha. Radha merasa rendah diri mendengarnya. Narayana lalu membela Radha Narayana mendebat kakaknya itu “Kakang Keterlaluan! Radha adalh gadis suci. Setiap wanita adalah penjelmaan dari Sri Laksmi yang suci. Setiap Wanita juga adalah wujud dari Dewi Gangga yang mengalirkan airnya demi membersihkan dosa! Sebab Kesucian Dari Seseorang Tidak Bisa Serta Merta Dipandang Berdasarkan Status Sosial Di Masyarakat, Melainkan Dari Ketaatan Dan Pengabdian Kepada Hyang Widhi.”  Kakrasana tetap mendebat “tapi jika semua orang seprti itu, penjahatpun juga akan dianggap baik.” Narayan terus mematahkan debat abangnya “penjahat dengan janda itu berbeda. Sifat seorang penjahat itu tidak bisa dibenarkan meski asal-usulnya berbeda dari kita . tapi janda berbeda. Kalau dia orang yang baik, meski dia seorang janda tetap kebaikannya pasti diterima oleh Yang Maha Kuasa,”

Pertengkaran Kakrasana dan Narayana 

perdebatan itu terus berlangsung sampai Kakrasana diskakmat oleh Narayana.

Karena masih terbawa jiwa mudanya, Kakrasana yang kalah debat bertengkar hingga bertanding siapa yang terkuat diantara mereka, titisan Naga Adisesha atau titisan Wisnu. Pertarungan itu dahsyat sekali. Narayana menembakkan panah-panah dan roda gerigi ke arah Kakrasana namun Kakrasana membalas dengan menyabetkan Nanggala, tombak berwujud luku/bajak sawah miliknya sehingga senjata itu bertabrakan di udara menciptkan goncangan besar, sehingga membuat alam bergolak. Bukit Goloka yang indah terbakar terkena tabrakan senjata. Bunga yang bermekarang kering terbakar. Batu-batu longsor. Para dewa kelimpungan karena Wisnu dan Sesha saling bertengkar. Radha merasa dikarenakan dirinya, dua saudara itu harus bertengkar. Maka ia berdoa agar Dewi Sri Laksmi, istri Wisnu membantunya untuk mendamaikan mereka “oh Batari Sri laksmi, tolonglah hamba-Mu mendamaikan kakangku Balarama dan Kanha.”. Radha pun sangat mengheningkan cipta lalu dari tubuhnya mengeluarkan cahaya diiringi datangnya tujuh cahaya lain yang kemudian membentuk satu wujud besar yang kemudian menjadi wujud Dewi Mahalaksmi, wujud tertinggi Dewi Sri Laksmi. Pertarungan itu pun terhenti lalu Kakrasana dan Narayana duduk bersimpuh memberi penghormatan. Mahalaksmi pun memberikan solusi dengan menikahkan Radha dan Narayana di alam dewata (kahyangan) jadi walaupun status Radha di dunia manusia adalah seorang janda tapi secara hakikat ia adalah isteri Narayana yang sah bahkan di mata manusia. Kakrasana setuju karena di alam dewata, hukum di dunia manusia sudah dilampaui dan ia akan jadi saksinya. 

 

Seketika wujud Mahalaksmi menghilang lalu kembali menjadi tujuh cahaya yang kemudian menghilang bersamaan dengan bukit Goloka yang kembali indah seperti semula, seperti tidak pernah terjadi pertarungan. Radha pun terbangun dari semadhinya.

penampakan Batari Mahalaksmi
Hari itu juga, para dewa yakni Hyang Guru Pramesthi (Batara Guru) diiringi permaisurinya, Batari Durga dan para dewata lainnya membawa mereka ke atas awan. Tempat batas antara dunia manusia dan alam dewata saling bertemu. Batari Saraswati dan Batari Durga lalu mendandani Radha sehingga terlihat sangat indah, cantik jelita bagai mutiara dan emas yang baru disepuh. Sementara itu Narayana dipakaikan atribut Batara Wisnu. Prosesi pernikahan pun dilangsungkan dengan khidmat oleh para dewa, bidadara-bidadari, hapsara-hapsari dan berbagai makhluk kahyangan sebagai saksi. Bahkan penghulunya adalah putra Hyang Guru Pramesthi sendiri yakni Batara Ganesha. Setelah prosesi pernikahan usai dan sah, mereka Narayana dan Radha di dudukkan di pelaminan bale Saka Domas dengan takhta emas di tengahnya.  Dewi Supraba dan para bidadari menjadi kembang mayangnya yang membawa pohon Klepu Dewandaru dan Jayandaru. Pernikahan itu berlangsung selama tiga jam penuh waktu kahyangan. Hingga pada waktunya, Kakrasana, Narayana, dan Radha turun kembali ke ke dunia manusia. Rupanya tiga jam kahyangan sama dengan berlalu tiga hari di dunia manusia. Mereka pun melanjutkan untuk pergi menyusul keluarga mereka. Akan tetapi Radha meminta agar ia turun di Goloka saja. Nanti ia akan bertemu sahabatnya dan dia akan mengajaknya tinggal di rumahnya. Narayana cukup mengantarnya saja nanti ia akan dijemput oleh sahabatnya itu. Mau tidak mau, Radha ditinggalkan di Bukit Goloka. Narayana berjanji akan menjemput Radha jika masalah di Mandura selesai. Setelah itu dua bersaudara itu berlalu meninggalkan Goloka melanjutkan perjalanan.

Setelah pernikahannya dengan Radha, Narayana ditemani Kakrasana kembali berjumpa rombongan dari Mandura, bahkan anak-anak dari ibu Yasodha lainnya yakni Udawa, Larasati dan Pragota ikut bergabung untuk membantu para yadawa yang tercerai berai agar bersama keluarganya yakni Keluarga Prabu Basudewa.

Pernikahan Radha dan Kresna
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mereka akhirnya sampai di pantai barat Jawadwipa yakni pantai Dwarakawestri. Mereka memohon suaka kepada prabu Yudakala, raja Dwarakawestri. Awalnya ia tak berkenan namun setelah dibujuk oleh Narayana, sang raja luluh dan mengizinkan mereka tinggal. Bahkan oleh sang raja, wangsa Yadawa diberikan tanah di pinggir pantai. Tanah itu dibangun sebuah rumah pesanggrahan yang indah dan dikelilingi banyak taman. Tempat itu diberi nama Taman Banoncinawi. Sudah beberapa sasih berlalu, pemerintahan darurat Mandura di Banoncinawi merasa kalau sekarang negara induk Mandura sudah cukup aman untuk direbut kembali. Narayana berniat kembali Mandura untuk memeriksa keadaan. Nampaknya keadaan makin kacau terlebih lagi patih dari Jarasandha yakni Kalayawana menduduki negara dan bersumpah akan menghabisi orang yang menghabisi Kangsa. Narayana yang sedang bersembunyi pun kepergok. Kalayawana pun mengejar sang Danardana hingga ke Dwarakawestri. Kalayawana lalu menghabisi raja Yudakala dan mulai mengobrak-abrik kerajaan. Sebagai orang yang diberi suaka, Narayana membela sang raja dengan membuat Kalayawana murka. Kalayawana pun mengejar Narayana yang dipanggilnya Ranchoot yang bermakna pengecut. Narayana terus lari hingga masuk ke sebuah gua. Namun di balik sifat pengecutnya, Narayana sebenarnya punya banyak akal bulus. Narayana pernah mendengar cerita seorang jendral kahyangan bernama Praburesi Mucukunda yang sedang istirahat panjang dan kebetulan dia istirahat di gua di dekat kota Dwarakawestri. Narayana pun masuk lebih dalam lagi. Kalayawana dcngan berang pun memasuki gua itu. Narayana bersembunyi jauh di ceruk gua yang paling dalam. Kalayawana yang murka mengobrak-abrik seisi gua itu sehingga ia menemukan ada seseorang yang tengah tertidur. Kalayawana pun mengejek orang yang dikiranya Narayana itu dengan menggoncang-goncang tubuh orang itu.
Mucukunda membakar Kalayawana

Karena gak mau bangun, Kalayawana pun membangunkan paksa orang itu dengan menampar, menendang dan meludahinya. Orang itu bangun lalu menoleh. Rupanya itu bukan Narayana, melainkan seorang pertapa tua bernama Mucukunda. Mucukunda yang marah memandang Kalayawana lalu dari sorot matanya keluar api yang membakar tubuh Kalayawana. Kalayawana menjerit hingga akhirnya ia tewas menjadi tumpukan abu.

Mucukunda pun jatuh pingsan namun ia kemudian ditolong Narayana yang dari tadi bersembunyi. Setelah siuman, Mucukunda bertanya apa yang terjadi “Terima kasih, anak muda sudah menolongku. Ananda ini siapa. Aku melihat ada cahaya Wisnu di belakangmu? Dan apa yang terjadi barusan?” Narayana lalu memperkenalkan dirinya dan menjelaskan apa yang terjadi “Ampun, Praburesi. Nama saya Narayana, putra Prabu Basudewa dari Mandura. Menurut keterangan dari guru saya, saya adalah titisan Batara Wisnu. Pukulun Praburesi sudah membakar Kalayawana dengan kekuatan semadhi dan yoga pukulun. Terbakarnya Kalayawana juga yang telah menggenapi bhakti anda dan karena itu yang akan mengantar pukulun kembali ke kahyangan. Begitulah yang guru saya sampaikan kepada saya” Praburesi Mucukunda terkejut ternyata inilah titisan Wisnu yang kelak akan menjadi tanda dia akan kembali ke alam kahyangan dan menjadi dewa.”rupanya kau titisan Batara Wisnu. Berarti ini saatnya aku kembali lagi ke kahyangan setelah sekian lama. Sebelum aku pergi, aku meramalkan kelak akan terjadi sebuah Mahapralaya yaitu perang Baratayudha, perang antara dharma melawan adharma, perang itu terjadi diantara saudara-saudara sepupumu dan kau akan menjadi penentunya. Setelah perang itu usai nanti, akan ada zaman yang gilang gemilang dan penuh keadilan.” Tak lama setelah mengatakan demikian,  Mucukunda pun didatangi para bidadara-bidadari dan membawanya balik ke kahyangan.

 

Setelah menyaksikan Praburesi Mucukunda naik ke kahyangan, Narayana mulai membangun kerajaan peninggalan Prabu Yudhakala. Kemudian oleh Narayana, dia membangun keraton baru lagi menggantikan keraton Dwarakawestri. Para penduduk membangun pondasi keraton dan kota baru di sebuah tanah gosong pasir. Tapi memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membangun keraton itu sampai selesai. Kota yang dibangun baru seperempatnya saja. Maka di malam yang sudah di tentukan, Kakrasana dan Narayana bersama Prabu Basudeewa dan para penduduk Yadawa yang tersisa melakukan doa bersama di pinggir pantai demi kelancaran pembangunan keraton dan kota baru. Di saat pedanda baru saja membaca mantra-mantra pemberkatan, tiba-tiba datang angin yang sangat kencang dari arah samudera. Angin itu mengangkat air dan menyebar seperti hujan. Mendadak semua orang tertidur lelap di tengah prosesi, kecuali Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng. Rara Ireng lalu bertanya kepada dua abangnya “kakang-kakangku, kenapa semua orang tertidur? Apakah semua orang terkena sirep?” Kakrasana berkata “entah adikku? Sepertinya akan terjadi sesuatu, tapi yang jelas ini bukan hal yang buruk” Narayana menentramkan hati adik cantiknya “Sepertinya doa kita telah terkabul, adikku. Lihat lah ke arah langit itu adikku.” Rara Ireng melihat ke arah langit dan menyaksikan banyak bintang jatuh ke arah gosong pasir. Rupanya bintang-bintang jatuh itu anugerah dari para dewa dan angin kencang tadi adalah perbuatan Batara Wiswakarma. Sebenarnya ia sedang membangun sebuah keraton lengkap dengan kota dan bentengnya yang indah berkilauan. Batara Brahma memberikan pengetahuan dan aroma wangi di penjuru kota dan keraton baru. Batari Saraswati memberikan musik dan gita yang menggema dengan lembut di penjurunya. Batari Durga memberkati keraton dan seluruh kota dengan kesuburan dan kejayaan yang tak pudar meski berjaman-jaman. Batara Kuwera alias Waisrawana memberikan kekayaan pada keraton yang tak habis-habis dan Batara Indra memberikan perlindungan kepada para penduduk yang tinggal di sana. Hyang Guru Pramesthi memberikan anugerahnya semoga yang diberikan para dewa akan terkabul.

Tiba-tiba tanah bergegar kuat. Kakrasana, Narayana, dan Rara Ireng segera bangun dan berjalan ke arah laut. Mereka menyaksikan gosong pasir itu terangkat ke atas dan berubah menjadi sebuah pulau. Lalu dari bawah pulau, muncul sebuah keraton yang sangat indah, lengkap dengan kota dan bentengnya yang nampak kukuh seperti ditempa oleh baja dan berlian. Tiap benteng mempunyai banyak sekali pintu gerbang di tiap sisinya.Pulau itu sendiri tidak terpisah jauh dari daratan pulau Jawadwipa, hanya beberapa meter dari bibir pantai. Keratonnya berdinding berlapis lempengan emas murni, dengan bangunan utama dengan ratusan jendela dan genteng tembus pandang dari kaca dan berlian. Antara keraton dengan taman Banoncinawi maupun daratan Jawadwipa dihubungkan dengan beberapa jembatan besar yang dibangun di atas puluhan pulau kecil dan karang. Di kanan-kiri jembatan-jembatan itu, hutan-hutan bakau dan nipah tumbuh berjajar menciptakan pemandangan yang asri. Keraton itu pun jadi dan mereka semua terbangun dengan perasaan kaget bukan kepalng. Keraton, kota dan benteng sudah jadi begitu saja. Mereka menganggap berkah dewa mendatangi mereka dan membantu pembangunan kota baru itu. Prabu Basudewa dan semuanya menghaturkan rasa syukur kepada Para Dewa. Narayana kemudian diminta memasuki kota baru itu. sebelum memasuki kota, Narayana lalu berpidato di hadapan para Yadawa “hari ini kota baru ini akan menjadi kerajaan baru menggantikan Dwarakawestri. Karena pulau kita memeliki banyak pintu gerbang, aku menamai pulai ini Dwaraka, pulau dengan banyak pintu. Keraton ini juga akan beri nama Dwarawati!” ucapan Narayana dihadapan para Yadawa disambut mereka dengan bersorak sorai gembira.  

Dwarawati Winangun
Narayana diiringi keluarganya dan para penduduk Yadawa memasuki pulau itu dan menyaksikan kerajaan itu megah sekali. Keindahannnya tiada taranya di dunia. Banyak bangunan yang bagai terbuat dari emas, perak, permata, intan, dan berbagai batu mulia, mulai dari ruamh hingga keraton. Keratonnya juga tak kalah indah bagian dalamnya. Keratonnya sangat luas dan bagaikan istana perhiasan  yang nyata. Bahkan takhtanya terbuat dari kayu terbaik dan dihiasi bebatuan mulia yang belum tentu ada di dunia ini. Di hari itu juga, disaksikan oleh para penduduk wangsa Yadawa dan warga Dwarakawestri, Narayana dilantik oleh ayahnya, Prabu Basudewa sebagai raja Dwarawati. Dia menjadi raja bergelar Prabu Kresna dengan patihnya, Bambang Udawa, kakak sulungnya dari ibu Nyai Yasodha.

Selasa, 24 Juni 2025

Banjaran Sri Kresna episode 8: Makar di Mandura

Hallo semua, sudah lama saya tak menulis kisah Banjaran Sri Kresna. Kisah Kali ini menceritakan titik balik hidup Sri Kresna dan saudara-saudarnaya yakni Kangsa membuat makar (kudeta). Kisah diawali dengan kedatangan kakek Semar ke Widarakandha dan memerintahkan Udawa, Kakrasana, Narayana, dan Pragota meguu pada Resi Padmanaba. lalu kisah singkat Bale Sigala-gala dan pernikahan Bhima dengan Dewi Nagagini lalu pertemuan pertama Permadi dengan Narayana di peguiruan Resi Padmanaba. Kisah dilanjutkan dengan kudeta yang dilakukan Kangsa yang membuat seluruh keluarga Yadawa hampir mati. Kisah diakhiri dengan terbunuhnya Kangsa oleh Kakrasana dan Narayana. kisah ini mengambil sumber kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial kolosal india Mahabharat Starplus dan Radha Krishna Starbharat, dan berbagai karya lainnya.

Pada suatu hari di musim gugur yang indah, para gembala di Widarakandha sedang bersiap-siap untuk pulang, menyiapkan jerami dan rumput kering persiapan menyambut musim dingin. Para petani juga mulai membawa pulang padi, jelai, sayur dan buah-buahan yang baru selesai dipanen. Ketika itu, empat putra Nanda Antagopa: Udawa, Kakrasana, Narayana, dan Pragota baru saja pulang. Ketika memasuki rumah, mereka melihat di atas amben, Nanda Antagopa dan Nyai Yasodha sedang kedatangan tamu. Di saat demikian lah, Nanda Antagopa memanggil mereka “anak-anakku, untung kalian datang lebih awal.” Nyai Yasodha melanjutkan“Mari kesini duduk dulu anak-anak...kita kedatangan tamu besar.” Orang yang dimaksud kemudian berbalik. Terlihat ia seorang yang tua bijak. Jika dilihat sekilas, ia jelas seorang pria namun karena gemuk badannya, ia nampak seperti perempuan tapi ia sangat berwibawa. Matanya yang berkerut itu terlihat sembap meskipun demikian dari air muka yang nampak, ia sangat gembira hatinya. Nanda memperkenalkan orang itu “anak-anak...ini Kakek Semar. Dia pamomong dari resi agung Abiyasa.” Udawa dan lainnya tertegun, seketika bersimpuh hormat dan entah kenapa Kakrasana dan Narayana seakan sudah mengenalnya sejak lama.  Semar mendatangi mereka berempat dan menyuruh mereka menegakkan kepalanya “hmmm..mblegedag gedug...hmmm....bangunlah anak-anakku... aku ini hanya orang biasa saja.” Setelah menyuruh mereka bangun, kakek Semar memanggil mereka terutama Kakrasana dan Narayana “ kalian berempat duduklah di dekat amben...khusunya untuk kalian Kakrasana dan Narayana, duduk di sebelahku. Aku mendapatkan sesuatu yang harus kuberitahukan pada kalian ” Kakrasana dan Narayana saling berpandangan lalu bertanya“ apa yang ingin Kakek sampaikan pada kami?”

Semar bertemu putra-putra Nanda
Semar menjawab “ Anakku, Kakrasana dan Narayana. Sudah saatnya kalian pergi meguru.” Narayana bertanya kurang paham “meguru? Kepada siapa kami akan meguru, kakek? Kami tak ada koneksi ke siapapun resi atau pandita di sekitar sini.” Kakek Semar mengerti lalu ia melanjutkan bicaranya “Narayana kau harus pergi ke Gunung Untaryana. Di sana kamu akan meguru pada seorang resi di Gunung Untaryana. Namanya Resi Padmanaba. Beliau adalah resi kesayangan dewata. Dengan berguru padanya, takdirmu yang sesungguhnya akan tersibak.” Kakrasana dengan suaranya yang keras dan ceplas-ceplos bertanya “Lha Terus Aku Gimana? Aku Harus Meguru pada Siapa?!” Kakek Semar lalu tersenyum dan berkata “ Kakrasana, gurumu lumayan istimewa. Tapi kamu harus bertapa dulu di gunung Waikunta. Kelak akan ada seseorang yang akan membangunkanmu, maka kamu harus bergurulah padanya.”. Tanpa ragu, Kakrasana dan Narayana setuju dan beberapa hari kemudian, mereka pun meninggalkan desa Widarakandha untuk berguru. Narayana pergi bersama Udawa ke gunung Untaryana dan Kakrasana bersama Pragota ke gunung Waikunta.

Sementara itu, kabar para Pandawa yang dimomong oleh Kakek Semar saat ini tidak bagus. Setelah peristiwa kemunculan Naga Kaliya di bengawan Yamuna, tak henti-hentinya ujian mendera mereka. Perundungan oleh para Kurawa tetap terjadi sehingga datanglah Begawan Dorna, seorang pandita dari Argasoka menjadi guru ilmu perang mereka dan para Kurawa. Lima tahun setelah belajar kepadanya mereka didadar untuk menentukan siapa pewaris takhta terbaik Hastinapura. Hasilnya seri. Lalu Begawan Dorna mengadakan pendadaran lagi dengan menyerang kerajaan Pancalaradya dikarenakan Dorna punya dendam pribadi dengan prabu Drupada. Para Kurawa dibuat kalang kabut oleh kesaktian Prabu Drupada dan Harya Gandamana. Asal tahu saja, Harya Gandamana adalah ipar Drupada yang dulu mengabdi sebagai patih Hastinapura yang pada akhirnya dikudeta oleh Harya Suman alias patih Harya Sengkuni. Namun ketika Para Pandawa harus berhadapan dengan Drupada dan Gandamana, mereka ragu dan bimbang karena bagi Pandawa, Drupada dan Gandamana adalah sosok paman bagi mereka namun para Pandawa tidak bisa mundur lagi. Mereka pun mengalahkan mereka berdua dan membawa keduanya ke hadapan begawan Dorna. Raja dan iparnya itu dipermalukan dengan Kerajaan Pancalaradya disigar menjadi dua. Akhirnya Pandawa berhasil memenangkan pendadaran dengan ditetapkannya Puntadewa sebagai pangeran mahkota Hastinapura. Hal itu membuat Raden Suyudana, sulung para Kurawa berang dan tak puas hati. Awalnya Suyudana coba mencelakai Harya Bratasena dengna mengajaknya makan di Pramanakoti lalu meracuninya tapi setelah terkena racun itu, ia diselamatkan oleh Batara Basuki, malah mendapat kekuatan dewata yang membuatnya kebal racun, tahan hidup di dalam air dan tanah, dan memiliki kekuatan sepuluh ribu gajah. Atas desakan dan hasutan Sengkuni, dibuatlah sebuah makar yakni membakar hidup-hidup para Pandawa dan ibu mereka. Maka dengan bantuan, Purocana, dibangunlah sebuah pesanggrahan megah di hutan Warnabrata yang terbuat dari kayu bakar, kulit pohon damar, papan tipis, dan bambu yang dilapisi bahan-bahan mudah terbakar seperti minyak gegala, minyak pernis (lak), lalu ditutup dengan kulit binatang dan kain katun bekas. Tiang-tiangnya diisi dengan bubuk mesiu, gandarukem, minyak tanah, lalu ditutup dengan jabung. Oleh Suyudana, pesanggrahan itu dinamai bale Sigala-gala. Para Pandawa pun diajak berpesta-pesta di sana. Lalu ketika mereka tertidur, para Kurawa pun membakar para Pandawa dan Dewi Kunthi hidup-hidup di dalam istana kehancuran itu.  Terdengarlah suara orang-orang panik dan ketakutan dari dalamnya. Para Kurawa suka hati dengan suara kepanikan di dalam pesanggrahan yang terbakar itu, pertanda itu suara para Pandawa dan Dewi Kunthi tersiksa oleh panas dan ledakan api. Ditambah lagi saat kebakaran mulai reda, mereka menemukan enam jasad manusia, lima lelaki dan satu perempuan. Yang disangka Kurawa sejatinya tidak sepenuhnya benar. Kepanikan memang terjadi. Akan tetapi, dengan siap siaga, Bratasena yang berbadan besar segera menggendong ibu dan adik-adik bungsunya, Pinten-Tangsen. Puntadewa, Bratasena, dan Permadi berlarian di antara puing-puing yang terbakar dan meledak. Namun keajaiban terjadi, seekor garangan putih muncul dan menuntun mereka ke ujung ruangan. Mereka mendapati ada sebuah terowongan dan dari dalamnya muncul Kanana, abdi kinasihnya Arya Widura, adik Drestarastra dan Pandu. Para Pandawa pun masuk dan langsung Kanana menutup terowongan secepat mungkin. Mereka bertujuh lari mengikuti garangan putih itu lari menjauhi pintu terowongan yang semakin lama semakin panas. Sementara enam jasad yang ditemukan para Kurawa adalah keluarga brahmana yang kebetulan sedang ditampung Dewi Kunthi yang terdiri dari seorang ibu dan lima anaknya.

Kisah pun berlanjut, para Pandawa berhasil selamat dari makar jahat Kurawa yang hendak membakar mereka di bale Sigala-gala. Mereka dituntun garangan putih hingga masuk ke sebuah negeri asing. Tempat asing itu sangatlah indah dan mengherankan. Banyak tanaman dan pohon di sana yang janggal dan tak ditemukan di belahan dunia manapun. Tanaman-tanaman tersebut ada yang tumbuh menggantung pada batu-batu stalaktit, ada pula menjalar di permukaan tanah, dan ada pula tanaman yang mampu bercahaya bak batu kristal. Negeri itu tak mengenal siang ataupun malam namun dapat terang benderang dan gelap temaram oleh pendar cahaya yang dipantulkan oleh batu-batu kristal beraneka ragam warnanya seakan-akan mengikuti perubahan siang-malam. Seorang prajurit  dengan kulit bersisik-sisik datang ke hadapan tujuh orang itu dan mempersilakan mereka masuk ke sebuah bangunan.Tak lama kemudian, mereka sampai di bangunan tersebut yang ternyata sebuah istana megah. Istana itu berupa istana yang dipahat pada dinding gua dan berhiaskan batu-batu indah bak dipahat oleh para bidadara dan hapsara-hapsari di kahyangan di atas langit sana. Dari dalam istana itu keluarlah sosok yang menjadi sosok raja di daerah itu. Raja tersebut juga berkulit sisik seperti para prajurit yang menuntun mereka di luar istana. Di sampingnya berdirilah putri sang raja. Berbeda dengan ayahnya dan penjaga disana, kulitnya putih bersih. Wajahnya sangat cantik bak bidadari. Badannya sintal dan berisi. Para Pandawa terutama Bratasena tak dapat berhenti menatap sang gadis cantik. Kemudian,sang raja menyambut para Pandawa,Dewi Kunthi, dan Kanana lalu mengenalkan dirinya ”selamat datang, anak-anakku Para Pandawa dan rombongan. Syukurlah, kalian bisa selamat dari kejadian buruk yang hampir menimpa kalian. Perkenalkan, aku Batara Anantaboga, penguasa kahyangan Saptapertala, kerajaan bawah bumi lapis ke tujuh dan ini putriku, Nagagini.” Para Pandawa dan Dewi Kunthi kemudian berlutut. Dewi Kunthi mengucap rasa syukur kepada Batara Anantaboga “Salam, pukulun Anantaboga. Suatu kehormatan bagi kami bisa datang ke kediaman pukulun. Rupanya garangan putih yang telah menuntun kami adalah salah satu punggawa pukulun” “sudahlah, Kunthi. Yang lalu biarlah berlalu, yang penting Hyang Widhi tetap memberikan keselamatan bagi kita. Mari masuk ke dalam istana. Kalian ku izinkan tinggal untuk beberapa waktu. Hitung-hitung untuk melepaskan trauma kedua putra kembarmu.” Kemudian mereka masuk ke istana indah Saptapertala. Di taman istana, Bratasena yang sedang memandangi indahnya tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga yang mekar di sana terkejut dengan kedatangan Dewi Nagagini “Raden, sedang apa disini?” “Ehhh... akuu..  sedang memandangi indahnya negeri tempat tinggalmu. Indah sekali. Tentram rasanya.” Bratasena yang selama ini biasa saja berhadapan dengan wanita kini menjadi kaku dan kelu ketika bersama Dewi Nagagini. Begitupun Dewi Nagagini. Ada getaran hati yang bergelora. Serasa di dalam hati mereka, bunga-bunga mekar dan menari bak padi ditiup angin dalam pikiran. Panah asmara telah menancap pada dua pasangan beda dunia itu. “Raden suka berada di Saptapertala ini?” Bratasena terkejut dan menjawab dengan gayanya yang lugas “Ehhh... senang. Senang sekali!” Nagagini juga membalas “ aku juga dan sejak kedatangan raden sekeluarga, aku makin betah berada disini.” Jawaban Bratasena tadi membuat hati Dewi Nagagini semakin bergetar. Sang dewi kemudian berbaring di pangkuan Bratasena. Lubuk hati Bratasena tak kalah bergetarnya melihat Dewi Nagagini berbaring di pahanya. Nampaknya gelora cinta Bratasena dan Nagagini sudah semakin membahana. Dewi Kunthi kemudian berunding dengan putra sulungnya, Puntadewa dan Batara Anantaboga tentang rencana hubungan mereka. Sebenarnya Dewi Kunthi dan Batara Anantaboga setuju kalau mereka segera menikah namun Dewi Kunthi merasa tidak enak pada Puntadewa yang sampai sekarang belum memperoleh kekasih.”ibuku, aku tidak masalah bila Bratasena menikah dulu. Aku tidak merasa dilangkahi malahan merasa senang dan aku merestui hubungan mereka ke jenjang yang lebih intim.” Pernyataan putra sulungnya itu membuat Dewi Kunthi terharu dan Batara Anantaboga sudah menyiapkan tanggal yang pas untuk pernikahan putri satu-satunya dengan putra kedua Pandu Dewanata itu. Hari pernikahan pun tiba, Bratasena dan Nagagini duduk bersanding di pelaminan berhiaskan berbagai bunga dan batu mulia yang mengeluarkan pendar yang menenangkan bila mata memandang. Nampaklah kebahagiaan di balik senyum dan mata mereka.

Pernikahan Bratasena dengan Nagagini
Pernikahan manusia dan bidadari dari bangsa ular naga itu nampak sempurna. Setelah upacara pernikahan selesai dan Dewi Nagagini hamil muda, para Pandawa dan Dewi Kunthi ingin kembali ke dunia atas. Dewi Nagagini coba mencegah sang suami, Bratasena tapi apa mau dikata, keputusan sang suami sudah bulat. Ia akan mengikuti kemanapun para saudara dan ibunya pergi demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Batara Anantaboga tak ayal mencegah keinginan mereka namun sebelum mereka beranjak, dia memberikan saran “Kunthi, aku tak bisa mencegahmu tapi menyamarlah kalian sebagai brahmana untuk menyembunyikan identitas kalian.” Setelah menanggalkan pakaian kebesaran mereka dan berganti dengan pakaian brahmana, Puntadewa memakai nama Resi Dwijakangka. Bratasena menjadi Wasi Kusumayuda. Permadi menjadi Wasi Parta. Pinten dan Tangsen menjadi Wasi Grantika dan Tripala. Sedangkan Dewi Kunthi memakai nama Nyai Prita. Setelah itu Batara Anantaboga berubah menjadi naga dan mengantar mereka ke permukaan bumi. Dewi Nagagini menatap suami, ibu mertua dan ipar-iparnya itu dengan penuh harap kelak putra mereka akan bertemu lagi dengan sang ayah di lain tempat dan kesempatan. Batara Anantaboga mengantarkan mereka hingga di permukaan bumi, tepatnya di pinggir Bengawan Yamuna. Setelah itu, Kanana memutuskan untuk kembali ke Panggombakan untuk memberi kabar pada Arya Widura yang sebenarnya terjadi “Kanana, aku tidak melarangmu untuk kembali tapi kumohon selain kau dan adhi Widura, tolong rahasiakan tentang nasib dan keberadaan kami. Biarkan Gusti Hyang Widhi dan sang-waktu lah yang akan menyibak keberadaan kami pada saatnya nanti.” “Baik, gusti ratu. Anak-anakku Pandawa, jagalah ibu kalian dan hati-hati di jalan.” Dalam perjalanan mengembara mengaku sebagai Brahmana, para Pandawa dan Dewi Kunthi singgah ke desa Widarakandha. Di sana, mereka diterima dengan baik oleh lurah Nanda Antagopa dan Nyai Yasodha. Bahkan Radha mengasihi mereka sebagaimana ibu Kirtidha sendiri. Begitupun Rara Ireng dan Niken Rarasati. Mereka bagaikan mendapat ibu kedua ketika bersama Dewi Kunthi yang kala itu mengaku bernama Nyai Prita. Akan tetapi, suatu panggilan hati mengusik hati Permadi untuk meguru lagi. Setelah meminta izin kepada sang ibu dan kakak adiknya, Permadi pun meninggalkan desa Widarakandha dan mengembara masuk hutan keluar hutan mencari guru.

Sementara itu di Gunung Untaryana, Narayana yang ditemani Udawa sedang didadar pendidikan oleh Resi Padmanaba, termasuk ilmu ramalan dan ilmu kawaskitaan.

Resi Guru Padmanaba
Ketika itu, Narayana memakai nama Madhawa. Lalu pada suatu hari datanglah seorang resi muda bernama Parta. Parta kemudian memperkenalkan diri “salam Maharesi.....hamba Parta, seorang pengembara...ingin berguru kepada Maharesi. Maukah maharesi menerima saya sebagai siswa bapa?!” Resi Padmanaba melihat dengan seksama diri Parta. Ia kaget melihat separuh jiwa Wisnu ada dalam dirinya, sama seperti muridnya Madhawa. Resi Padmanaba kemudian menerima Parta sebagai murid “baik anakku, Parta. Aku akan menerimamu sebagai muridku.” Selama dididik, Parta menunjukkan perkembangan yang matang dalam ilmu kanuragan. Seringkali Udawa dan Madhawa ikut melatih diri bersama Parta dan itu membuat persahabatan mereka kian rapat. Parta dan Madhawa seringkali jahil ketika melihat gadis-gadis muda dan menyembunyikan pakaian mereka. Lalu mencuri susu dan dadih untuk upeti ke Hastinapura dan Mandura sehingga Resi Padmanaba kerepotan dibuatnya. Parta juga sangat terlena dan menyukai saat Madhawa memainkan serulingnya. Di lain tempat yakni di Gunung Waikunta, Kakrasana dan Arya Pragota telah lama bertapa brata menunggu seseorang yang akan menjadi gurunya. Lalu mereka dibangunkan. Ketika membuka mata, mereka kedatangan Batara Brahma”salam-anak-anakku...aku Batara Brahma menerima kalian sebagai muridku.” Singkat cerita, Kakrasana dan Pragota berguru dan menyerap segala ilmu dari Batara Brahma. Batara Brahma telah memberitahukan jati diri Kakrasana yang sebenarnya lalu memberikan beberapa pusaka padanya. Pusaka pertama yaitu tombak yang berujung bajak sawah atau luku dari baja berkilauan bernama Nanggala yang mampu membuat siapapun yang terkena bisa terbakar bahkan hancur menjadi debu. Yang kedua adalah aji kesaktian Balabadra yang membuatnya bisa memiliki daya tahan sekuat para dewa, mampu mendaur ulang tenaganya sendiri, tahan kantuk, dan tahan berpuasa. Pusaka yang terakhir adalah Gada Alugora yang berbentuk seperti alu penumbuk padi.

Sementara itu, di negara Mandura, Adipati Kangsa mulai melakukan rencananya. Kerajaan Mandura diserang pasukan Goagra. terjadi sebuah kudeta, Adipati Kangsa menawan seluruh keluarga kerajaan di penjara karena wangsit bahwa dia akan mati di tangan putra putri Basudewa yang berkulit bule dan gelap masih terus menghantui kepalanya. Kalau mereka dibiarkan berkeliaran di sekitar Mandura, hambatannya untuk balas dendam karena kematian orang tuanya, Prabu Gorawangsa dan Dewi Maherah dan jalan untuk jadi penguasa tunggal Mandura akan terhalang. Setelah menawan Prabu Basudewa sekeluarga, Adipati Kangsa menjadikan diri sebagai raja bergelar Prabu Kangsadewa dan menantang adu jago antara putra-putra Mandura dengan paman yang sekaligus patihnya, Suratrimantra. Dia memerintahkan para prajurit Goagra dan Sengkapura mengobrak-abrik seisi Mandura. Untungnya salah satu adik Prabu Basudewa yakni Harya Prabu yang saat ini adalah raja Kumbinapuri bergelar Prabu Bhismaka berhasil lari ke arah Gokula. Namun kampung Gokula sudah lama kosong maka ia melanjutkan perjalanan ke Barsana. “untunglah Ki lurah masih disini. Aku datang membawa kabar buruk” Lurah Wresabanu meminta sang raja Kumbina tenang dulu. Setelah cukup tenang, ia bertanya “kabar apa yang gusti bawa? Sepertinya sangat gawat.” Prabu Bhismaka berkata “benar, ki Lurah. Mandura sedang gawat. Kangsa telah menawan kangmas Prabu Basudewa sekeluarga dan juga adhi Prabu Ugrasena. Ia akan mencari anak-anak kangmas Prabu yang dititipkan kepada Lurah Nanda dan Yasodha.” Lurah Wresabanu kaget bukan kepalang. Ia segera mengirimkan surat peringatan pada sahabatnya, Nanda Antagopa agar berwaspada. Akan tetapi, ia tetap khawatir apabila surat itu terlambat maka ia mohon diri, tidak perlu membuat surat segala ke Widarakandha. Prabu Bhismaka dengan memecut laju kudanya segera bertandang ke Widarakandha. Untunglah di saat demikian pasukan Goagra dan Sengkapura belum kemari.

Setelah sampai di Widarakandha, Bhismaka disambut Nanda Antagopa, Nyai Yasodha, Dewi Rohini ibu kandung Kakrasana dan Nyai Prita. Bhismaka mengenali Nyai Prita sebagai kakaknya, Dewi Kunthi. Dewi Kunthi lalu memperkenalkan anak-anaknya “adhi prabu, ini anak-anakku dan anak-anak dinda Madrim. Mereka Pandawa..” Nanda Antagopa dan Yasodha kaget mengenai jati diri Nyai Prita yang merupakan adik Prabu Basudewa dan juga anak-anak  yang ia bawa itu adalah para Pandawa. “aduh gusti Rani...kok tidak bilang kalau gusti adalah Dewi Prita, adik dari kangmas Prabu Basudewa. Maafkan hamba yang tidak melayani gusti dan para putra dengan nyaman dan menyenangkan.” Dewi Kunthi meminta Nanda dan Yasodha untuk bangun “sudahlah adhiku Nanda dan Yasodha. Aku juga orang biasa. Kami harus begini karena harus menyamarkan diri.” Bhismaka lalu bertanya “kakang Mbok Kunthi, bagaimana bisa kakang mbok dan anak-anakku Pandawa ada disini dan harus menyamar?” Dewi Kunthi berkata panjang ceritanya tapi itu tidak penting. Yang terpenting kabar apa yang akan disampaikannya. Prabu Bhismaka membawa kabar bahwa Mandura dikudeta oleh Kangsa, anak haram Basudewa. Dan saat ini, ia mencari anak-anak abangnya yakni Balarama dan Kresna juga Sumbadra. Tapi tak berapa lama kemudian, pasukan Goagra dan Sengkapura datang dan mengobrak-abrik seluruh desa. Mereka berhasil menangkap Nanda Antagopa dan Dewi Rohini sementara Nyai Yasodha, Rara Ireng, Endang Radha, dan Niken Rarasati beserta para Dewi Kunthi dan empat Pandawa berhasil melarikan diri dengan naik kuda. Bhismaka juga kembali berhasil kabur ke arah menuju hulu Bengawan Yamuna. Desa Widarakandha diobrak-abrik begitu juga desa Barsana. Lurah Wresabanu dan Nyai Kirtidha ikut ditawan.

Sementara itu di Gunung Untarayana, Madhawa yang ditemani Udawa dan Parta telah menyelesaikan pendidikan dan sudah mendapatkan semuanya dari Resi Padmanaba, termasuk ilmu ramalan, ilmu kawaskitaan, dan jati dirinya. Madhawa adalah Narayana alias Kresna, putra Prabu Basudewa, titisan Batara Wisnu. Identitas Parta juga diwedar bahwa ia putra ketiga Pandhu Dewanata dan Dewi Kunthi, titisan Jisnu yakni belahan Batara Wisnu yang ada dalam diri Madhawa. Resi Padmanaba hendak muksa dan memberikan tiga pusaka pada Madhawa. “ Anakku Madhawa, sebelum aku kembali ke alam kelanggengan, aku akan memberikan tiga buah pusaka. Pertama,  roda bergerigi bernama Cakra Widaksana alias Cakra Sudarsana. Aku telah tanam itu di dadamu. Jika ingin memunculkannya, maka sentuhlah dadamu. Siapapun yang terkena senjatamu ini, pasti tewas. Hanya orang–orang yang berjalan diatas dharma lah yang dapat selamat darinya.” Lalu Resi padmanaba melanjutkan ucapannya. “Yang kedua berupa bunga ajaib, Cangkok Wijayakusuma. Aku sudah letakkan bunga itu tepat di bawah riasan bulu merakmu. Bunga ini berkhasiat meningkatkan kekebalan dan mampu menyembuhkan luka separah apapun bahkan menghidupkan orang dari kematian yang bukan takdirnya. Rabalah bulu merakmu bila ingin menggunakannya dan pusakamu yang terakhir adalah panah Aji Kesawa. Panah itu sudah aku letakkan di belakang tengkukmu, anakku. Bila kau merabanya, kau akan mampu berubah menjadi raksasa berlengan dan berkepala banyak yang amat mengerikan. Gunakan pusaka-pusaka itu dengan bijak. Anakku, takdirmu sedang menanti. Kau, Udawa dan Parta harus segera ke Mandura. Kangsa akan mengeksekusi orang tua kandungmu. Bergegaslah!” Setelah mewariskan semua senjata dan mengabarkan keadaan orang tuanya, Resi Padmanaba perlahan memudar. Tubuhnya moksa menuju ke alam kelanggengan. Udawa, Madhawa dan Parta pun segera menuju Mandura.

Di lain tempat, di Gunung Waikunta, Kakrasana dan Arya Pragota telah diberitahu batara Brahma agar segera ke Mandura karena ia harus menyelamatkan ayah dan ibunya juga seluruh keluarga dari tangan Kangsa karena telah terjadi makar di sana. Lalu mereka segera meninggalkan gunung dan bertolak ke Mandura. Tapi sebelum itu, Kakrasana dan Pragota akan pamitan kepada ayah dan ibu asuhnya, ayah Nanda dan ibu Yasodha terlebih dahulu. Akan tetapi, ketika mereka sampai di desa, mereka kaget melihat seisi desa porak poranda seperti habis perang. Pragota dan Kakrasana melihat Madhu Mangala yang sedikit terluka sedang membenahi desa bersama para penduduk lainnya dan bertanya “sahabatku, apa yang terjadi selama kami pergi?” Madhu menjelaskan “kakang Pragota, desa diserang pasukan dari Sengkapura. Mereka menangkap kepala desa, ibu Yasodha dan lainnya. Desa ini juga tak luput dirusakkan mereka.” Kakrasana mendengar itu jadi berang. Lalu seorang datang dari Barsana dengan kepayahan. Para penduduk Widarakandha menolong orang itu. Kakrasana lalu bertanya “kakang, apa yang terjadi...kenapa kau datang kepayahan begitu.” Orang itu memberi kabar bahawa desa Barsana juga luluh diserang oleh pasukan Kangsa. Dengan berang, Kakrasana akan memutuskan datang ke Mandura sendirian. Pragota diminta olehnya agar menjaga para penduduk desa. Di tempat lain di hutan bukit Goloka, Prabu Bhismaka yang bersama empat Pandawa, ibu Kunthi, Endang Radha, Nyai Yasodha, Rara Ireng dan Niken Rarasati dikepung pasukan Sengkapura dan Goagra. Mereka tidak bisa lagi kabur. Patih Suratrimantra menyuruh mereka untuk menawan mereka. Orang-orang Basudewa harus ditahan tanpa terkecuali apabila pemuda berkulit bule dan hitam para putra Basudewa tidak ditemukan. Namun Prabu Bhismaka meminta agar dua atau tiga dari mereka diampuni satu orang saja. Patih Suratrimantra berkata “baiklah kalau itu permintaanmu, Bhismaka, akan ku turuti....... Aku lepaskan mereka!” sang patih menunjuk ke arah Radha, Rara Ireng dan Rarasati dan akhirnya mereka dilepaskan. Sementara Bhismaka, empat Pandawa dan yang lainnya dibawa ke Mandura. Kini tinggallah mereka bertiga di Bukit Goloka, menanti kedatangan Kanha atau siapapun yang bisa membebaskan keluarga Mandura dan Hastinapura yang saat ini ditawan oleh Kangsa.

Dengan segala kemungkinan di kepalanya, Radha, Rara Ireng, dan Rarasati memutuskan menunggu Kanha atau siapapun yang bisa membantu di Goloka setelah dilepaskan oleh Patih Suratrimantra. Satu hari serasa bagai setahun. Sehari dua hari itu pikirannya kalut, kusut.

Penantian di Bukit Goloka
Bagaikan badai yang berkecamuk kerena kepikiran nasib orang tuanya yang pasti sudah ditangkap pasukan Sengkapura. Nasib pak lurah Nanda, ibu Yasodha dan Dewi Kunthi juga empat Pandawa yang tertangkap, entah bagaimana kabarnya. Di saat harapan mereka hampir pupus, suara suling itu terdengar lagi. Seruling milik Kanha terdengar lagi di telinganya. Dari kejauhan terlihatlah Narayana alias Kanha alias Madhawa berjalan bersama Udawa dan Parta di belakangnya. Radha, Rara Ireng, dan Rarasati gembira serasa mendapat cahaya. Udawa dan Narayana yang melihat adik-adiknya bersama Radha berada di Goloka keheranan dan bertanya “kalian, apa yang kalian lakukan di sini sampai membangun tempat berlindungan?” Radha dan Rara Ireng bercerita “Kanha, keadaanya sangat gawat. Kampung diluluh lantak oleh pasukan dari Mandura.” Udawa kaget “lha kok bisa...?”  Rarasati lalu melanjutkan “kangmas Udawa, para pasukan itu mencari kangmas Kresna dan Balarama. Karena tidak menemukan mereka, mereka obrak-abrik desa dan menagkap ayah Nanda.” Parta jadi khawatir bertanya bagaimana keadaan orang tua dan para saudarnya “lalu bagaimana dengan nasib ibu dan kakak-adikku?” rara Ireng lalu berkata dengan terisak-isak “bibi Kunthi dan saudara-saudara adhi ikut tertawan bersama paman Prabu Bhismaka dan yang lainnya...kami bisa berada disini....karena belas kasihan....paman Prabu...” mereka jadi sangat sedih. Parta memutuskan untuk ke Mandura menyelamatkan ibu, para saudaranya dan kerabat-kerabatnya. Narayana berkata akan sangat berbahaya jika mereka datang begitu saja. Lebih baik jika menyamar. Mereka bersetuju. Maka akhirnya mereka pun menyusul ke Mandura dengan menyamar. Di perjalanan menuju Mandura, rombongan Narayana bertemu dengan Kakrasana. Narayana dan lainnya gembira melihatnya.

Di alun-alun kotaraja Mandura telah berdiri panggung besar untuk sarana adu jago. Seluruh kawula di Mandura berkumpul hendak menyaksikan adu jago. Prabu Kangsadewa berdiri diatas panggung itu bersama Prabu Basudewa, Nanda Antagopa, Prabu Setyajit (Arya Ugrasena), dan seluruh anggota keluarga lainnya yang dalam keadaan terikat rantai dan disamping mereka semua terdapat banyak algojo membawa kapak besar. Dari jauh, Prabu Jarasanda alias Jaka Slewah, sahabatnya menonton di kejauhan ditemani Patih Kalayawana. Lalu datang Patih Suratrimantra membawa tawanan yakni Prabu Bhismaka, Dewi Kunthi dan empat anaknya: Puntadewa, Bratasena, Nakula, dan Sadewa. Kangsa senang sekali “hahahahah.....paman...kau berhasil membawa pengkhianat ini dan sekali tepuk dua lalat, kau mendapatkan Bibi Kunthi dan adik-adikku para Pandawa. Tapi mana si bule dan si hitam itu?” “ampun anak mas Kangsa...dua anak itu tidak bersama mereka...” Kangsadewa murka karena pamannya itu tidak mendapatkan Balarama dan Kresna. Ia mencak-mencak dan minta agar Patih Suratrimantra mencari mereka lagi. Patih Suratrimantra naik ke gelanggang dan berkata “tapi sebagai gantinya, anak mas bisa melawan salah satu anak dari bibimu, Dewi  Kunthi.” Prabu Kangsadewa sangat marah mendengarnya dan menolak tantangan itu”Apa-apaan ini? Aku yang menentukan pertandingan, bukan kau,. Aku minta Balarama dan Kresna. Bukan Pandawa bongsor berotak dungu ini. !!” Bratasena bangun dari duduknya dan berkata “heeh ternyata raja agung Mandura badan doang besar tapi nyalinya sebesar tikus. Kakakku Prabu Kangsadewa ternyata raja penakut berhati lemah”. Prabu Kangsadewa marah lagi karena dihina oleh seorang putra Pandhu kemudian menyuruh patih Suratrimantra ke gelanggang untuk bergulat dengan Bratasena.

Pertandingan adu jago dimulai.mereka saling bergulat, saling banting dan saling sikut. Kesaktian mereka sangat dahsyat. Sebaliknya patih Suratrimantra merasa kerepotan melihat Bratasena yang ternyata sangat kuat dan sulit dikalahkan. Setelah cukup lama, Patih Suratrimantra terdesak namun dirinya sempat melihat ada dua pemuda berkulit bule dan berkulit gelap masuk diantara para penonton. Kemudian sang patih itu meronta-ronta dan berusaha mencekik Baratasena namun Kakrasana tiba-tiba naik gelanggang lalu memukul Suratrimantra dengan Gada Alugora hingga keluar gelanggang sampai tewas dengan kepala hancur. Prabu Kangsadewa kaget melihat kehadiran Kakrasana dan Narayana, orang yang ia nanti-nanti lalu memerintahkan dua algojonya, Chanura dan Musthika untuk bergulat dengan mereka berdua. Gulat antara Kakrasana dan Narayana dengan Chanura dan Musthika berlangsung sengit. Tetapi dengan mudah, Chanura dan Musthika berhasil dikalahkan. Akhirnya Kangsa sendiri yang melawan dua anak pemuda berkulit bule dan gelap. Pertarungan berlangsung sengit. Awalnya Kakarasana dan Narayana tersepit dan terdesak oleh kekuatan Kangsa, sang kakak haram mereka itu. akan tetapi datang Rara Ireng dan Niken Rarasati bersama Endang Radha dan Kakek Semar dari kejauhan. Mereka merapal aji Kemayan yang mengaburkan kewaspadaan dan mebuat kangsa terlena. Di saat demikian Permadi memanah Kangsa dan jrass kena ke dadanya. Kangsa menjerit kesakitan dan di saat demikian. Narayana menghajar Kangsa tanpa ampun lagi. Di saat Kangsa sudah tidak berdaya. Kakrasana menghantamkan Nanggala ke tubuhnya dan Narayana melemparkan Cakra ke leher Kangsa hingga tertebas.

Kangsa Lena
Di detik terakhir, Kangsa melihat bayangan Kakrasana dan Narayana bertukar wujud menjadi Batara Naga Adisesa dan Batara Wisnu. Kangsa pun tewas. Keadaan sudah kembali tenang. Prabu Basudewa berhasil dibebaskan dan kembali duduk di takhtanya, begitupula Nanda Antagopa, Nyai Yasodha, Lurah Wresabanu, Nyai Kirtidha dan anggota keluarga yang lain. Prabu Basudewa sangat bersyukur dengan kembalinya putra-putrinya dan berhasil mengalahkan Kangsadewa. Prabu Basudewa juga berterima kasih pada Bratasena dan Permadi yang sudah membantu putra-putranya. Dewi Kunthi merasa tidak enak kepada abangnya. Justru mereka yang sudah ditolong Kakrasana dan Narayana. Kerajaan Mandura kembali tenang. Kini Prabu basudewa sekeluarga bisa berkumpul lagi dengan anak-anaknya dan mengadakan syukuran. Para Pandawa dan Dewi Kunthi juga untuk sementara tinggal di Mandura namun tetap menyamar sebagai brahmana.


Jumat, 28 Maret 2025

Banjaran Sri Kresna Episode 7: Bukit Gowardhana

 Hai-hai....semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan. Kisah kali ini menceritakan Narayana mengangkat Bukit Gowardhana. Kisah diawali dengan kemarahan Nyai Jathila karena gagal membuat Narayana sakit hati setelah pernikahan Ayyan dan Radha dengan memnyebarkan kelaparan dan kekeringan. hal itu malah berimbas pada perceraian Ayyan dan Radha. Kisah dilanjutkan dengan Narayanan yang menentang upacara sesaji kepada Batara Indra agar hujan tetap turun dan membuat sang dewa marah lalu menimpakan bencana ke desa. Narayana pun mengangkat Bukit Gowardhana demi menyelamatkan warga desa membuat Batara Indra menyadari kesalahannya. Kisah ini mengambil sumber dari kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus dan Radha Krishna Starbharat, animasi Little Krishna, dan sumber-sumber lain dengan perubahan dan penyesuaian seperlunya.

Hari-hari keluarga Nanda Antagopa dan Nyai Yasodha berjalan sebagaimana biasanya. Perlahan namun pasti, hati Narayana yang masih berduka karena ditinggal menikah oleh Radha mulai bisa berdamai. Kini Narayana perlahan namun pasti menerima takdirnya. Narayana tetap berhubungan baik dengan Ayyan maupun Radha. Rancangan bibi Jathila dan Kutila untuk membuat menjatuhkan mental Narayana yang awalnya berhasil kini tak sepenauhnya berhasil. Baik sang putra maupun Narayana tetap berhubungan baik, begitupun dengan Radha. Lalu Nyai Jathila dan Kuthila datang ke sebuah tempat untuk menghukum Narayana namun memakai cara curang. Mereka lalu mendatangi rumah Narayana diam-diam dan menaruh segala macam sesaji aneh, mulai dari bunga-bunga tertentu, anak ayam cemani yang sudah membusuk, dan juga darah binatang juga abu pembakaran jenazah. Lalu abu itu disebarkan. Selain ditaburkan ke rumah Narayana, Sesaji itu lalu disebarkan ke seluruh desa Widarakandha dan Barsana sebagai bentuk pembalasan kebencian mereka. Tak ayal, terjadi bencana kekeringan dan kebuluran. Angin dingin lalu disusul panas terik datang silih berganti, dari hari ke hari mengeringkan segala sumber air di Widarakandha dan Barsana. Lalu Nyai Jathila mengumumkan bahawa ini adalah hukuman dari penguasa bengawan Yamuna. Maka harus diselenggerakan upacara untuk memohon mengakhiri kekeringan panjang ini kepada sang dewa. Namun mereka belum mendapatkan guru atau orang suci sebagai pemimpin upacara. Lurah Ugrapadha merasa belum mampu begitupun Lurah Nanda Antagopa, lalu Jathila berkata dengan penuh kesombongan “biar anakku Ayyan saja yang menjadi guru bagi kita. Kemampuan Ayyan untuk memberikan doa dan berkah tidak perlu dipertanyakan.” Ayyan berusaha untuk menghentikan kekonyolan ibunya namun adiknya berkata “kakang, coba pikirkan deh gimana rasanya menjadi guru. Kakang akan disanjung, dihormati, dan ditakzimi banyak orang.” Ayyan termakan rayuan lalu ia diam dan berkata “Baiklah, mulai hari ini aku akan memimpin setiap upacara keagamaan di desa Barsana dan Widarakandha.” Para penduduk menaruh takzim kepada Ayyan. Tapi Narayana dan saudara-maranya menganggap apa yang dilakukan Ayyan ialah sebuah ketololan tak berdasar. Narayana berkata bahawa Ayyan akan mendapatkan padah dari perbuatannya “sudah kakang-kakang dan adhiku. Ayyan pasti akan menyadari kesalahannya dan memutuskan hal besar di sini.” Narayana lalu menunjuk sebuah pohon Wilwa (pohon Maja). Di tempat itulah, hal besar itu akan dialami oleh Ayyan.

Pada suatu hari, ketika kemarau panjang hampir di puncaknya, datang rombongan pandita dan murid-muridnya. Mereka ialah Resi Durwasa dan para cantrik-cantriknya yang terkenal sangat brangasan dan suka mengutuk orang apabila keinginannya tidak terpenuhi atau tidak sesuai sedikit saja.

Resi Durwasa melindungi Radha dari Ayyan
Dewi Kunthi atau di masa mudanya dikenal sebagai Prita, putri Mandura yang kini menjadi ibu dari para Pandawa saja sabar sekali dan serba hati-hati selama menjadi cantriknya. Hari itu, Resi Durwasa dan cantrik-cantriknya datang kepada Lurah Nanda Antagopa “Lurah Nanda, aku meminta mu kepadaku suatu tempat untukku dan para cantrikku bersemadhi tanpa gangguan di tempatmu. Jika Kau Tidak Mampu Memberikannya, Maka Desa Ini Akan Terkutuk Selamanya!” Lurah Nanda yang mengerti bagaimana sepak terjang pandita pemarah itu segera memerintahkan anak-anaknya: Udawa, Kakrasana, dan Narayana untuk mencarikan tempat yang cocok. Dengan lemah lembut, Udawa, Kakrasana, Narayana bertanya kepada sang resi “ampun guru resi...tempat seperti apa yang anda inginkan?” Udawa membenarkan ucapan adiknya itu“benar, guru resi...kami tidak mengerti dengan apa isi hati keinginan guru resi.”.Kakrasana yang sedari tadi diam lalu berkata juga “mungkin dengan saran dan pertimbangan dari benak kalbu guru, kami bisa memberikan saran tempat yang pas.” Resi Durwasa heran melihat ada anak muda mau bertanya lalu meminta saran kepadanya. Hal itu mengingatkannya pada Prita, muridnya dahulu. Resi Durwasa berkata dengan tegas “baiklah, aku ingin tempat semadhiku dekat dengan pohon yang sedang berbuah lebat saat ini dan buah itu buah berkat dari Mahadewa Batara Guru!” Udawa lalu teringat pada pohon Wilwa (maja) yang tempo hari. Lalu tanpa banyak bicara, Udawa lalu berkata pada sang resi “guru resi, saya sudah mengerti tempat mana yang sesuai untuk anda bersemadhi. Mari ikut kami.” Resi Durwasa dan para cantriknya mengikuti ketiga anak Nanda itu. Lalu mereka berhenti di tengah hutan tempat pohon wilwa (maja) yang dimaksud berada. Resi Durwasa sesuai dengan tempat itu, begitupun para cantriknya. Resi Durwasa merasa senang dengan pelayanan ketiga anak itu dan memberkahi mereka “aku senang dengan pelayanan kalian. Terima lah berkah dariku.” Resi Durwasa memberkahi mereka bertiga kelak akan menjadi orang-orang penting di tatanan jaman Duparayuga ini. Sebagai bentuk terima kasih, Narayana meniupkan serulingnya agar Resi Durwasa lebih relaks dalam bersemadhi. Lalu ketiga anak Nanda itu pergi dan mengawasi sang resi dari jauh. Tak lama kemudian, datanglah Ayyan dan Radha yang sedang mencari ketenangan untuk persiapan upacara memohon kesuburan. Nampaknya Ayyan kelelahan selepas lebih dari satu pekan menghapal berbagai doa dan mantra untuk upacara. Maka ia menjadi kasar, besar kepala, dan telah memaksa Radha melayani sepenuh hati “Radha, sekarang aku adalah guru, maka sudah kewajibanku untuk mendidikmu dengan benar. sebagai isteriku, kau juga adalah muridku pula. Seorang murid harus memberikan pelayanan terbaik kepada gurunya.Sekarang cari kan aku makanan di hutan ini!” Radha yang kepayahan membantu suaminya itu berkata “suamiku, dimana aku mencari makanan? Seluruh Mandura dilanda kekeringan. Tanaman susah untuk berbuah, bahkan nyaris lengkara satu pun rumput hijau segar.” Ayyan lalu menunjuk ke sebuah pohon sambil marah-marah “Lalu Itu Kau Sebut Apa? Di sana ada Pohon Wilwa yang Berbuah! Isteri Tolol Kau!! Cepat Ambil Buahnya!” dengan tangisan penuh nestapa, Radha mendekati pohon Wilwa itu. ketika Radha mendekati pohon itu, ia melihat sebiji buah wilwa jatuh dan lalu menggelinding ke arah Resi Durwasa yang sedang bersemadhi. Radha mendekati sang resi, lalu mempersembahkan buah wilwa itu kepada sang resi untuk menyenangkannya.

Suara buah jatuh membuat resi itu terangun dan Resi Durwasa pun terbangun. Betapa kagetnya sang resi melihat seorang wanita duduk di hadapannya dan mempersembahkan sebiji buah wilwa kepadanya sambil terisak. Entah karena apa, Resi Durwasa yang biasanya brangasan, kali ini menjadi lembut hati kepada orang yang dianggap mengganggu semadhinya. Resi Durwasa bertanya kepada wanita itu “hai ni sanak, siapakah kamu? Kenapa kamu datang padaku dengan terisak-isak?” Radha menjawab dengan suara tertahan-tahan “aku Radha, isteri Ayyan. Kedatangan saya kemari karena ingin memetik buah wilwa di dekat tempat bapa resi bersemadhi demi suami saya yang kelaparan...” belum selesai Radha menjelaskan, Ayyan datang dengan marah-marah. “oh Kau Ini Lama Sekali, Rupanya Kau Bersama Orang Tua ini.” Radha berkata “aku harus melayani bapa Resi ini dan mempersembahkan buah wilwa yang aku petik.” Ayyan memaki Radha dan menganggap Radha lebih mengutamakan orang lain ketimbang suaminya sendiri lalu mengambil buah wilwa dari genggaman Radha lalu memakannya. Ternyata buah wilwa itu baru separuh matang sehingga rasanya sedikit getir. Ayyan memuntahkan nya lalu melempar buah itu ke hadapan Resi Durwasa. Resi Durwasa sangat marah melihat ada seorang istri yang dikasari dan dimaki di hadapannya ditambah lagi ia tidak diperlakukan dengan hormat oleh pria muda itu. Dengan murka, Resi Durwasa lalu berkata” Hai Engkau Lelaki Tidak Bermoral! Berani Sekali Kau Menghardik Istrimu Yang Baktinya Melebihi Baktiku Kepada Hyang Guru! Bahkan Kau Menghinaku Karenanya! Maka Aku Mengutukmu! Jika Tangan Kotormu Menyentuh Gadis Ini Seujung Jari pun, Maka Kau Akan Hancur Menjadi Abu! Ayyan dan Radha kaget mendengar Resi Durwasa memberikan kutukan itu, Bahkan anak-anak Nanda yang sedari tadi mengawsi sang resi dari jauh ikut kaget. Dengan memohon-mohon, Ayyan berlutut minta ampun agar sang resi mencabut kutuk pasu itu, namun Resi Durwasa pun pergi bersama cantrik-cantriknya tanpa sedikitpun mempedulikan nasib Ayyan.

Sesampainya di Barsana, Ayyan berkata pada orang tuanya “ayah! ibu! Aku akan menceraikan Radha.” Lurah ugrapada dan Nyai Jathila kaget mendengarnya Terutama Nyai Jathila yang selama ini selalu congkak. Ayyan lalu menjelaskan “Seorang resi telah mengutukku karena kekasaranku kepada Radha. Tolong kembalikan Radha kepada orang tuanya. Aku akan menghabiskan waktu dengan penebusan dosa di tempat yang jauh.” Singkat cerita, Radha kembali ke rumah orang tuanya. Sedangkan Ayyan pergi menyepi di hutan. Sekarang tanpa kehadiran Ayyan sebagai pemimpin upacara memohon kepada dewa, kekeringan dan kelaparan yang disebabkan kecurangan Nyai Jathila akan berterusan. Nyai Jathila menjadi dipenuhi kekalutan begitupun adik Ayyan, Kuthila.

Karena semakin hari kekeringan dan kemarau panjang semakin menggila, diadakanlah kenduri kepada Batara Indra. Selama beberapa tahun terakhir, memang hujan beberapa kali turun dan akhirnya menjadi sebuah tradisi baru. Kemarau dan kekeringan panjang bisa berakhir hingga pada suatu hari, penduduk desa Widarakandha dan Barsana hendak menyelenggarakan kenduri akbar dengan mengurbankan 100 ekor sapi untuk Batara Indra agar hujan turun sekali lagi. Narayana yang ditemani Udawa dan Kakrasana juga beberapa teman-temannya melihat para penduduk membawa sapi-sapi mereka bertanya pada sang ayah “ Ayah, kenapa kita melakukan kenduri semacam ini? Bukankah akan semakin memberatkan para penduduk. Para penduduk kaya saja sudah repot  kesusahan dan penduduk yang miskin menjadi semakin miskin ?” Nanda Antagopa menjawab” kita harus melakukannya agar Batara Indra mau membawa hujannya ke desa ini. Ini adalah tradisi kita selama bertahun-tahun” Narayana tidak puas dengan jawaban sang ayah memberikan petuahnya “tapi ayah, kenapa kita harus menelan tradisi itu mentah-mentah tanpa kita kupas. Toh bukan berarti setelah melakukan kenduri ini, hujan langsung turun begitu saja. Ingat ayah, Batara Indra dan para dewa lainnya mendapatkan kekuatannya dari Hyang Widhi Wasa. Jika ayah dan para penduduk masih ragu, kalian datang saja di lembah Gowardhana. Berdoa lah disana. Dari sanalah awan hujan terlihat. Pabila tidak ada Bukit Gowardhana, awan tersebut tidak menabrak bukit dan hujan tidak turun, atau turun di tempat lain. Air hujan yang turun disimpan oleh akar-akar pohon yang tumbuh di bukit, disimpan, dan dikeluarkan sedikit-demi sedikit, sehingga tanah selalu basah dan air keluar pelan-pelan di mata air menuju Bengawan Yamuna. Bukit itulah yang menyimpan air untuk seluruh tanaman dan makhluk di Widarakandha. Bukit itulah tempat merumput bagi sapi, dan sapi memberikan susu bagi penduduk. Tanaman tulasi dan tanaman obat lain juga tumbuh di Bukit Gowardhana memperoleh air dari air tanah yang tersimpan di bukit dan berguna bagi penduduk.” Lalu Narayana di hadapan para penduduk meyakinkan para penduduk untuk membawa sesaji mereka untuk beribadah di Bukit Gowardhana dengan berkata “hadirin sekalian, mari kita bawa sesaji kita kepada Gowardhana. Kita akan berdoa kepada-Nya di sana” Reaksi para penduduk pun beragam mendengar. Ada yang menolak, ada pula yang ragu-ragu, tapi juga tak sedikit juga yang sepakat dan sepaham dengan pemikiran Narayana. Terjadi sedikit ketegangan antara kubu Yadhnya Indra dan yadnya untu Bukit Gowardhana hingga baku hantam. Namun Udawa dan Kakrasana berhasil menenangkan keadaan "Hei...kalian jangan mempermasalahkan hal ini. Baik Indra maupun Bukit Gowardhana sudah menyelamatkan kita dari kemarau dan kekeringan." Udawa lalu berkata "yadhnya haru dilaksanakan dengan penuh kecintaan dan rela hati, bukan dengan rasa takut yang buta. coba resapi ini teman-teman dan saudaraku!". Setelah memikirkannya dengan matang, para penduduk desa dan para pendeta datang ke lembah Bukit Gowardhana namun sebagian tetap melanjutkan Yadhnya untuk Batara Indra. Mereka melakukan persembahyangan di tanah lapang di lembah itu. Dadih, puding beras, dan susu, bahkan segala hasil bumi turut ditawarkan ke acara sesaji. Ratusan brahmana dan tamu diberi makan. namun kericuhan kembali terjadi ketiak Pragota dan Madhu Manggala malah mencuri guci berisi minyak samin dan susu untuk upacara Batara Indra lalu menukarnya dengan air comberan. Para pemuja Indra segera mengejar Pragota dan Madhu Manggala. ketika sampai di dekat bukit Gowardhana, para pemuja fanatik Indra bentrok kembali dengan kubu yadhnya Bukit Gowardhana. Kakrasana kembali berusaha menengahi keadaan yang kacau lagi. 

Di kahyangan, Batara Indra menjadi sangat marah dan gusar karena yadhnanya telah berhenti, terlebih lagi yadhna ini berhenti karena ucapan seoarang anak baru gede dan dia kemudian memanggil awan, "Dengarkan apa yang saya katakan. Hancurkan ternak dengan hujan dan angin. Aku akan datang dengan Erawat, gajahku dan menurunkan hujan yang dashyat juga di Widarakandha!.” Angin dan awan segera memulai tugasnya. Kegelapan ada di mana-mana. Ada kilat, guntur, dan hujan lebat. Dunia menjadi gelap dan ada air membanjir di mana-mana. Ketika sebagian penduduk sedang melakukan doa dan di tempat lain beberapa masih diwarnai dengan panas dan kericuhan yang belum juga reda, para penduduk Widarakandha yang ada di sana dikejutkan dengan munculnya topan badai disertai hujan es dan halilintar yang menyambar-nyambar selama berhari-hari. Para penduduk lari pontang-panting menuju desa Widarakandha. Di desa, mereka dikejar-kejar banjir dan air bah juga angin kencang.

Narayana mengangkat Bukit Gowardhana
Sapi dan pedhet-pedhetnya mulai mati. Di ladang rumput, mereka juga di kejar halilintar dan api dari rerumputan kering. Angin pun menerbangkan apa saja. Badai dahsyat meluluh lantakan desa dan sarana yadhnya. Narayana lalu didatangi sebagian warga desa “Narayana bagaimana ini? Batara Indra murka karena sesajinya dihentikan! Kita harus membuat yadhna pengampunan dosa!” Narayana berkata dengan tegas “sebuah yadhna dan upacara harus dilakukan dengan hati yang bersih, penuh kerelaan,dan cinta, bukan dengan rasa takut dan gamang. Rasa takut kalian kepada Indra tak akan menyurutkan upacara di Bukit Gowardhana.” Lalu Narayana bergerak lalu menengadahkan tangannya seraya berdoa “penguasa Bukit Gowardhana, tolonglah para hamba-Mu yang kesulitan ini.” Sejenak kemudian, begitu satu jentik jari Narayana menyentuh tanah, tiba-tiba tanah bukit Gowardhana terbuka. Narayana lalu memasuki celah terbuka itu. orang-orang khawatir terutama Radha “tolong, tanah Gowardhana menalannya. Siapapun cepat tolong Kanha!!” Radha, Udawa, Kakrasana dan laiinya lalu terkejat mendengar suara suling dari bawah bukit. Mereka kaget karena menyaksikan Narayana mengangkat Bukit Gowardahana yang besarnya sebesar anak gunung itu hanya dengan satu jari saja layaknya payung raksasa. Para penduduk, para pendeta, dan seluruh keluarga Narayana segera masuk ke bawah kolong bukit itu beserta ternak-ternak mereka. Di dalam sana, para penduduk bisa merasa aman dan tentram. Dengan alunan seruling, mereka menari-nari bergembira selama tujuh hari.

Batara Indra yang melihat kejadian ajaib itu semakin murka dan melemparkan halilintar-halilintar, gumpalan es, dan air hujan yang berat ke bukit itu. Tapi tak sedikitpun tanah di bukit itu berguguran. Karena marahnya sudah tak bisa dibendung, Batara Indra mengeluarkan pusaka saktinya yaitu Bajra. Saat Bajra itu diarahkan ke bukit Gowardhana, keluarlah bunyi guntur yang amat memekakkan telinga dan bukit Gowardhana bergoncang dahsyat. Tak hanya itu, Batara Indra juga memanggil angin langkisau yang berputar-putar menyapu segala sesuatu didekatnya. Para penduduk khawatir dan risau. Namun Narayana berkata “Batara Indra tidak akan mencelakakan kita.” Narayana lalu meniup sulingnya dan ajaib, angin langkisau itu tersedot masuk ke dalam suling Narayana dan apesnya angin itu mengenai batara Indra sehingga ia dan gajah Erawat jatuh ke lumpur Bumi. Seketika langit pun cerah. Hujan angin dan badai mereda. Banjir pun surut. Para penduduk bisa kembali ke desa dan beraktivitas seperti biasanya. Setelah semua penduduk keluar dari kolong bukit, Narayana pun menurunkan dan menampatkan kembali Bukit Gowardhana kembali ke tempatnya. Batara Indra merasa malu dan meminta maaf kepada Narayana “ampuni hamba ..tuanku...maafkan kebodohan hamba yang congkak ini. Hamba terlalu terlena dengan rasa takut para penduduk terhadapku sehingga aku menjadi bodoh dan bertindak sewenang-wenang.” “Narayana pun memaafkannya “dewaku...kau hanya menjalankan tugasmu dan para penduduk dilanda rasa takut akan kemarau, mereka pun melakukan sesaji dengan penuh ketakutan sehingga kau menjadi tinggi hati. Karena mereka sudah terbebaskan dari rasa takut terhadapmu, maka aku akan memaafkanmu. Jangan kau risaukan lagi.” Batara Indra pun merasa lega. Dengan penuh takzim, ia pun naik kembali ke kahyangan.