Tampilkan postingan dengan label Leluhur Pandawa dan Kurawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leluhur Pandawa dan Kurawa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2021

Indrawijaya


Matur Salam,para pembaca sekalian.Karena kesibukan menyelesaikan skripsi, blog ini terbengkalai lama dan tidak mengunggah post baru. Kisah kali ini berkisah tentang Batara Indra dan kisah kepahlawanannya mengalahkan Ditya Writrasura dan menghukum Prabu Nahusa. Sumber kisah ini berasal dari ringkasan Kitab Rgveda, Kitab Mahabharata bagian Adiparwa karya Mpu Vyasa, Kakawin Indrawijaya karya Mpu Madya Mregiwu.

Masa damai setelah angkara Ditya Sunda dan Upasunda berlangsung cukup lama. Hindustan dan Jawadwipa berkembang. Di sisi lain, Adalah seorang yaksa keturunan Maharesi Kasyapa dengan Dewi Danu bernama Writrasura bertapa dengan tekun kepada Batara Brahma. Tapa bratanya kuat sekali sampai-sampai gunung-gunung berapi di sekitar istana Daksinageni meletus dan memuntahkan lahar panas, batu, dan api bersamaan. Maka datanglah Batara Brahma ke hutan tempat Writrasura bertapa “anakku, Writrasura...tapa bratamu telah dijawab. Apa yang andika inginkan dari bertapa brata yang sedemikian berat itu?” “hamba ingin hidup kekal abadi, tidak bisa mati selamanya.” Batara Brahma lalu berkata “setiap makhluk hidup pasti merasakan mati, begitu pula kami para dewa. Di dunia ini tak ada yang kekal abadi kecuali Sanghyang Widhi yang Maha Awal lagi Maha Akhir. Mintalah yang lain.” “baiklah...hamba meminta kekuatan maha hebat.....tidak bisa mati karena benda cair, padat atau gas. Itu saja permintaan hamba.” Batara Brahma merasa sangsi namun akhirnya ia memberikan kekuatan seperti itu pada Writrasura. Lalu setelah pulang tapa brata, Writrasura menjadi jemawa dan menindas para yaksa dan manusia yang lebih lemah.

Alkisah, seorang resi kahyangan bernama Dadichi mendapat tugas untuk menyucikan senjata para dewa dan bidadara dari darah dan energi jahat karena perang melawan para yaksa keturunan Rudra Rancasan. Resi Dadichi mencuci semua senjata itu di kolam di dekat alun-alun Suralaya. Lalu ia mencuci sambil berdoa “Hong wilaheng awighnam astu namah siddham sekaring bawana langgeng....semoga Hyang Widhi melunturkan energi jahat senjata ini, hilang segala keburukannya, dan bagus auranya laksana semerbak bunga sejagat.” Tanpa disadari, sedikit demi sedikit kesaktian senjata para dewa menjadi tawar, berkurang kekuatannya larut ke dalam air kolam. Resi Dadichi lalu meminum seluruh air kolam bekas ia membersihkan senjata-senjata para dewa

Bersamaan dengan itu, Writrasura dan pasukannya mengobrak-abrik tiga dunia. Gunung-ganang meletus dahsyat....angin panas dan angin dingin berhembus kencang. Bumi gonjang-ganjing, langit kolap-kalip. Berkat kekuatan pemberian Batara Brahma, ia tak terkalahkan. Ia mampu krodha menjadi ular raksasa dan menyedot semua air, es dan salju di Jawadwipa dan Hindustan. Seluruh tanah Jawadwipa dan Hindustan dilanda kekeringan dan kekurangan air...tanah pecah-pecah dan panas bahkan sebagian berubah menjadi padang gurun nan gersang....tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, para yaksa/raksasa dan jin merana lemas kehausan. Para dewa di kahyangan khawatir jika Jawadwipa dan tanah Hindustan kembali tak bisa ditinggali, maka mereka memutuskan mengambil kembali senjata mereka yang dititipkan pada Resi Dadichi.

Ketika para dewa dipimpin batara Indra datang, kekuatan semua senjata itu lenyap sama sekali. Resi Dadichi menjelaskan bahwa sebelumnya ia mencuci semua senjata di kolam dekat alun-alun Suralaya. Batara Indra terkejut dan ia berkata “ampun, bapa resi. Kolam dekat Suralaya itu terkena cipratan Tirta Perwitasari, jadi senjata apapun akan luntur kesaktiannya bila di cuci di kolam itu.”Resi Dadichi terkejut. “waduh, ampuni hamba, pukulun. Maafkan keteledoran hamba......hamba sudah berbuat kebodohan dan sekarang semua kesaktian senjata pukulun semua ada dalam tubuh saya.”  Batara Indra kalut hatinya, begitupun para dewa lainnya. Kini para dewa sedang membutuhkan senjata-senjata mereka tapi malah lenyap kekuatannya. Resi Dadichi lalu bertekat untuk mengorbankan diri “pukulun Indra, seluruh kekuatan senjata para dewa sekarang tersimpan di dalam tubuh hamba, diantara tulang-tulangku. Hamba punya permintaan terakhir, tolong siapkanlah upacara pemakaman untuk hamba. Dengan kematian hamba, pukulun Batara bisa menggunakan sisa-sisa tubuh hamba untuk dijadikan senjata.” Singkat cerita, Resi Dadichi masuk ke pertapaannya dan bersemadi dengan khusyuk. Tak lama kemudian, ia meninggal dunia. Kahyangan berkabung. Upacara pemakaman di langsungkan. Jasad sang resi dibakar. Setelah habis api ngaben, para dewa mengambil abu dan sisa tulang-tulang Resi Dadichi. Batara Empu Wiswakarma, Batara Empu Ramayadi, dan Batara Empu Angganjali segera melebur segala senjata para dewa dan bidadara bersama abu dan tulang-tulang Resi Dadichi. Begitupun Batara Indra, ia ikut meleburkan Tombak Bajra miliknya. Tak lama kemudian, Tombak Bajra milik batara Indra tiba-tiba keluar dari tempat peleburan senjata dan mengeluarkan kilauan yang jauh lebih terang daripada sebelumnya. Kini kekuatan halilintar Tombak Bajra jadi berkali-kali lipat, setara dengan seluruh senjata para dewa yang digabungkan.

Hingga pada saatnya, Writasura kali ini benar-benar mengobrak-abrik kahyangan dengan menghisap seluruh air, es, dan salju di sana. Batara Indra segera mengerahkan kekuatan kahyangan. Pasukan Writasura dengan hebatnya mampu diobrak-abrik oleh pasukan dewa yang dipimpin Batara Bayu. Namun berbalik lagi ketika Batara Bayu menyerang Writrasura. Dengan entengnya, angin prahara yang dilemparkan sang dewa angin berbalik mengenainya karena mendal oleh ekor ular jelmaan krodha Writrasura. Tinggal Batara Indra dan Writrasura saling berhadapan. Kini ia menemui Writrasura di atas langit. Ia berkata pada Writrasura “Writra, jadi beginikah balasan kepada Yang Maha Kuasa, dengan menyakiti dan berbuat semena-mena pada sesama sendiri.” “peduli setan dengan Yang Mahakuasa, aku adalah raja diraja para yaksa dan sebentar lagi aku akan menjadi Yang Mahakuasa. Hanya aku di dunia ini yang patut dijadikan raja segala raja” Murkalah sang raja bidadari itu dan segera ia menghajar Writrasura.

Pertarungan sangatlah menggoncangkan tiga dunia. Kekuatan Writrasura dan Batara Indra setara. Lalu Writrasura mengerahkan wujud krodha terkuatnya, berubah wujud menjadi ular naga hendak mencaplok sang Batara Indra dan menelan Kala Rahu yang saat itu hendak menjalankan tugasnya untuk menciptakan gerhana matahari. Batara Indra segera masuk ke dalam mulut Writrasura dan menolong Kala Rahu. Di dalamnya, Batara Indra segera mengeluarkan ajian Tirta Muru hingga menutupi seluruh mulut Writrasura yang terbuka. Jutaan buih-buih air itu lalu menutupi mata Writrasura. Kala Rahu yang berhasil selamat lalu segera menelan cahaya matahari. Buih-buih yang mengganggu pandangannya itu berhasil disingkirkan namun Writrasura kembali menjadi susah mengetahui keberadaan Batara Indra karena langit gelap karena gerhana. Segeralah sang Batara melemparkan Tombak Bajra ke mulut sang yaksa dan  Duaaaar....kilat pun menyambar, petir menggelegar. Mulut dan seluruh tubuh Writrasura tersambar halilintar dari tombak Bajra.

Batara Indra mengalahkan Writrasura
Bersamaan dengan Kala Rahu mengembalikan cahaya matahari, Writrasura akhirnya limbung dan jatuh... lalu tewaslah ia dengan tubuh hancur. Tak dinyana, tubuhnya menjadi awan mendung yang sangat banyak dan gelap. Tuah dari berkat batara Brahma telah tawar karena ia diserang oleh petir, yang bukan benda padat, cair, ataupun gas melainkan panas dan cahaya yang menggabungkan tiga unsur itu. Awan jelmaan tubuh Writrasura semakin lama semakin gelap, menggumpal menutupi seluruh daratan Jawadwipa dan Hindustan, dan akhirnya hujan yang sangat deras pun turun. Badai salju dan es juga turun di puncak-puncak pegunungan dan kahyangan Jonggring Saloka. Jawadwipa dan Hindustan telah selamat dari bencana kekeringan.

Untuk merayakan kemenangan Batara Indra, sang batara mengundang beberapa yaksa baik ke istana Rinjamaya untuk berpesta diantaranya ada Resi Wiswa, adik Writrasura. Resi Wiswa adalah sahabat karib batara Indra. Walaupun ia sedih karena kakaknya tewas di tangan sahabatnya, Resi Wiswa tetap lapang dada dan memutuskan datang ke pesta batara Indra karena yang ia yakini bahawa itulah jalan yang ditempuh sang kakak demi mencapai alam baka. Kedatangan Resi Wiswa disambut baik oleh batara Indra dan mempersilakan ia untuk memimpin doa sebelum acara dilangsungkan. “Hong wilaheng awighnam astu namah siddham sekaring bawana jagat langgeng.....nuwun amit pasang kaliman tabik....semoga para yaksa dan para dewa tetap seperti ini.....jangan banyak permusuhan..” setelah doa dipanjatkan, pesta kemenangan para dewa diselenggarakan. Saat itu Batara Indra didatangi seorang dewa bernama Batara Dwapara. Sang dewa lalu berkata “Pukulun Indra, nampaknya kamu sangat menikmati pesta kali ini. tapi aku khawatir kalau ini akan berakibat buruk nantinya.” “apa maksudmu, Batara?” Batara Dwapara lalu menghasut batara Indra “begini Pukulun, anda pasti tahu siapa resi Wiswa kan. Dia adik dari Writasura, sudah barang tentu cepat atau lambat, seorang adik akan membalas dendam kakaknya yang tewas apalagi kakaknya tewas di tangan pukulun. Pikirkanlah lagi, Resi Wiswa mungkan akan membuat makar dan membinasakan pukulun kelak di kemudian hari.” Batara Indra mulai goyah hatinya. Lalu ia meminta Resi Wiswa untuk keluar dari arena pesta dan berjalan-jalan bersama.

Batara Dwapara yang tak lain adalah putra dari Batara Rudra Rancasan segera membuat siasat untuk membuat para dewa Jonggring Saloka malu. Lalu ia mendatangi Batara Bayu dan mengadu dombanya dengan Batara Indra “waduh-waduh...pukulun Batara bayu...rupanya pukulun enak sekali menikmati pesta ini...tadi aku bersama Pukulun Indra. Dia mengatakan padaku bahwa beliau kesal pada pukulun. Beliau mengatakan anginmu tak cukup kuat untuk membuat Writasura limbung makanya ia meragukan hasill kerjamu sebagai dewa angin.” Beranglah batara Bayu “beraninya...kakang Indra mengatakan begitu. Dia belum tahu saja kalau angin puting beliungku bia membuatnya menyesal seumur hidup.” Batara Dwapara lalu berkata “aduh....jangan terlalu marah begitu...pukulun Indra tidak mungkin melakukan hal semacam itu tapi aku rasa ia telah termakan kata-kata Resi Wiswa. Resi Wiswa telah mendoktrin pukulun Indra agar beliau bisa segera menjadi ajudan kahyangan disamping pukulun Wrehaspati lalu beliau akan mendepak pukulun.” Makin kesal hati sang batara Bayu. Ia lalu bertanya “dimana si Wiswa itu sekarang?” Batara Dwapara mengatakan bahwa sekarang Resi Wiswa sedang bersma Batara Indra di luar tempat pesta. Maka berangkatlah Batara Bayu. Sementara itu batara Dwapara kembali ke istananya di Kahyangan Tunjungkresna dan tertawa senang karena rasa iri hatinya kepada para dewa Jonggring Saloka telah terlampiaskan. Tak lama lagi dua dari para dewa itu akan saling bermusuhan satu sama lain.

Resi Wiswa dan Batara Indra saling berhadapan di pendapa Bale Marakata. Lalu batara Indra menodongkan keris ke hadapan Resi Wiswa seraya berkata “Wiswa sahabatku...apakah dalam hatimu ada secuil dendam padaku karena aku membunuh kakakmu?” terkejut Resi Wiswa namun dengan santainya Resi Wiswa menurunkan keris sang batara lalu berkata  “sabahabtku pukulun Indra....apakah di mata pukulun, saya terlihat sebagai pendendam? Untuk apa pula saya menaruh dendam pada pukulun, lebih-lebih lagi pada kakak saya yang jelas-jelas ingin menyamakan dirinya dengan Sanghyang Widhi, Gusti kang Murbeng Jagat? Saya sudah berulang kali mengingatkannya agar tidak salah jalan namun ia tetap memilih jalannya sendiri...saya tak berdaya namun saya yakin suatu saat ia akan sadar namun takdir berkata lain...ia justru menemukan kebebasan dri belenggu nafsu dan kotornya alam mayapada lewat tangan pukulun...sejujurnya saya yang iri, kakang Writrasura yang sedemikian jahat dan kejamnya mendapat kehormatan bisa terbebas dari kehidupan fana melalui pukulun sendiri....” tergetarlah hati batara Indra....sahabatnya sendiri terbukti tulus dan ikhlas, tidak ada dendam kepadanya. Batara Indra sadar bahwa Resi Wiswa sudah mencapai pencerahan rohani yang tertinggi. Batara Indra merasa ia telah diperdayakan kata-kata batara Dwapara. Tak dinyana tak diduga, datang angin kencang. Tangan sang batara Indra yang saat itu memegang keris terdorong lalu menusuk dan menggorok leher Resi Wiswa. Seketika itu pula Resi Wiswa roboh. Batara Indra terkejut dan menangis, merasa sangat berdosa. Ia tanpa sengaja membunuh sahabatnya dengan tangannya sendiri. Resi Wiswa dengan sisa-sisa kesadarannya menenangkan sahabatnya “sahabatku...tenangkanlah hatimu...tabahkanlah jiwamu....mungkin ini pula takdirku....bisa mati di tanganmu....aku merasa sangat senang....” tak lama kemudian Resi Wiswa meninggal dunia dengan tenang. Batara Indra menangis keras.... hujan turun dengan lebatnya.....sang batara mencoba membangunkan Resi Wiswa namun tak berhasil. Sahabtnya kini telah pergi. Ia terus merasa berdosa. Tak lama kemudian para dewa termasuk Batara Guru dan Batari Durga datang. Lalu Batara Indra menoleh ke belekang ke arah angin berasal. Rupanya ada Batara Bayu. Batara Indra marah dengan kelakuan adiknya itu “Bayu, apa yang kau perbuat? “ “aku coba membebaskan kakang dari ucapan yaksa busuk itu.” “busuk katamu? Resi Wiswa yang agung dengan legawa berterus terang tentang isi hatinya. Apakah yang telah merasukimu hingga membuat aku membunuh orang tidak bersalah?” perkataan Batara Indra membuat Batara Bayu berang lalu melemparkan angin kencang kearah Batara Indra. 

Karena saking sedih dan marahnya, batara Indra meluapkan segala emosinya kepada Batara Bayu, Keduanya lalu bertengkar dansaling berperang. Alam menjadi murka. Angin topan prahara dan badai halilintar beradu di marcapada. Tiga dunia dilanda kekacauan. Lalu Batara Guru, Batara Semar dan Batara Wisnu melerai pertarungan kedua dewa itu. Batara Semar lalu berkata “Kalian benar-benar memalukan! Kalian mudah sekali diadu musang berbulu ayam hingga tanpa sadar kalian telah membuang dharma dan kesopanan. Kalian bahkan mengabaikan jasad orang suci hanya karena perkelahian tidak penting seperti ini. Ditaruh dimana muka kalian?!” “benar apa yang dikatakan oleh kakang Semar, kalian mudah diadu domba. Saya sangat kecewa dengan perbuatan kalian” tukas Batara Guru. Batara Indra dan batara Bayu sadar. Malu mereka bertarung hingga melupakan persaudaraan dan dharma kesopanan karena hasutan Batara Dwapara. Batara Bayu dan Batara Indra murka dan melontarkan kutuk pasu bahwa kelak batara Dwpara akan menitis dan pada setiap penitisannya akan mati dengan cara yang sangat hina. Lalu para dewa semuanya segera menyiapkan upacara ngaben untuk Resi Wiswa.

Hari demi hari Batara Indra dirundung perasaan bersalah. Ia merasa seakan dikejar dosa. Maka ia sengaja meninggalkan kahyangan dan mengasingkan diri ke dasar danau. Rasa berdosa melingkupi hati sang raja bidadari itu. Langit seakan ikut merasakan rasa itu. Awan mendung berarak-arak menutupi sinar matahari. Di berbagai tempat, hujan turun dengan deras dan banjir tak surut-surut. Badai halilintar dan petir menyambar orang-orang dan hutan. Di tempat lain, badai es dan salju menenggelamkan puncak gunung-gunung dan mengubur dataran rendah di bawahnya sampai membeku. Panen menjadi gagal dimana-mana. Danau tempat Batara Indra mengasingkan diri menjadi sangat angker. Istri Batara Indra, Dewi Saci menjadi khawatir begitu juga penghuni kahyangan yang lain. Di tempat lain, Prabu Nahusa, raja Kandaparasta sudah mulai sepuh dan telah dikaruniai dua putra dari pernikahannya dengan Dewi Asokasundari yakni Resi Yati dan Raden Yayati. Resi Yati tidak berniat menjadi raja, lebih menyukai hidup tenang dan mendalami ilmu kerohanian maka takhta Kandaparasta diserahkan kepada Raden Yayati suatu hari nanti.

Kahyangan sedang kalang kabut karana ketiadaan Batara Indra sebagai dewa cuaca dan raja para bidadari. Tak ada yang tau kapan ia kembali dari pengasingan. Maka diadakan persidangan untuk melantik raja para bidadari yang baru. Batara Bayu mengusulkan agar Prabu Nahusa saja yang menjadi raja bidadari yang baru. Namun Batara Kala lebih mengusulkan agar cucunya yang bernama Prabu Kalayuwana saja yang menjadi raja. Kini gantian Batara Brahma yang berpendapat. Ia mengusulkan agar putranya yang sudah lama kembali ke kahyangan dari alam bumi yakni Prabu Bremana. Akhirnya diadakan undian. Setelah undian tersebut, yang keluar terbanyak adalah Prabu Nahusa. Maka para dewa sepakat bahwa Prabu Nahusa dari Kandaparasta akan dilantik sebagai raja bidadari menggantikan Indra. Maka batara Wrehaspati diutus turun ke bumi menjemput Prabu Nahusa. Prabu Nahusa merasa terhormat untuk dipanggil menjadi pengganti Batara Indra. Maka ia menyiapkan kendaraan untuk naik ke kahyangan. Ia menyiapkan sebuah joli namun dengan semena-menanya, ia memaksa para resi dan pendeta untuk mengangkat joli itu. Walaupun dipaksa, para resi dan pendeta bersedia mengangkat Prabu Nahusa ke kahyangan dengan kekuatan yogi mereka. Di sepanjang jalan, para resi minta untuk istirahat namun Nahusa tidak mengijinkan karena ingin merasakan enaknya kehidupan kahyangan. Maka dengan kepayahan, para resi memanggul itu joli.

Di kahyangan, Batara Wisnu menyaksikan dari kejauhan Prabu Nahusa memaksa para resi memanggulnya dengan joli. Lalu ia melaporkan itu ke Batara Guru dan Batara Semar “Nahusa benar-benar mencobai kesabaran kita, kakang Semar. Sudah mau jadi dewa saja sudah sepongah itu.” “benar dinda Manikmaya, lagipula para resi tidak pantas diperlakukan begitu. Kita harus menghentikannya. Anakku, Wisnu. Cepat bujuk kembali Indra untuk menghentikan Nahusa” singkat cerita, Batara Wisnu mencari Batara Indra di danau. Di sana Batara Indra bersemadhi melakukan tapa memohon ampun kepada Sanghyang Widhi. Batara Wisnu berusaha membangunkan tapa Batara Indra namun ia tak tergetarkan bahakan bergeming pun tidak. Tak ada pilihan lain, Batara Wisnu harus ikut bertapa dan masuk ke dalam pikiran Batara Indra. Di dalam alam pikiran, mereka saling bertarung argumen “kanda Indra, kembali lah ke kahyangan.” “tidak akan Wisnu, dosaku membunuh Wiswa tak terampunkan.” “dosa kakang akan semakin tak terampunkan bila meninggalkan amanah. Sekarang Nahusa sedang mengincar takhta kanda..” Batara Indra berkata tak peduli lagi dengan takhtanya malah merelakannya. batara Wisnu tak kurang akal. Ia mengatakan bahwa Nahusa tak akan menjadi pemimpin yang baik dan suka semena-mena lalu ia memberi penglihatan bahwa saat ini Nahusa sedang memaksa para resi memanggulnya di atas joli sebagai bukti. Batara Indra mulai luluh dan menimbang bahwa yang diperlihatkan oleh Batara Wisnu itu benar. Maka ia segera bangun dari tapa bratanya dan segera

Batara Indra menghukum Prabu Nahusa
memanggil Gajah Erawata. Batara Indra kembali ke takhtanya. Saat Prabu Nahusa sudah sampai di pintu gerbang kahyangan, Batara Indra segera melemparkan kilat dan halilintar ke arahnya. Tak pelak, Nahusa tersambar petir dan ia jatuh dari joli. Ia jatuh lalu lenyap menjadi ular karena di saat demikian batara Indra memberinnya kutuk pasu bahwa ia tak akan diterima di langit, bumi, surga, dan neraka sebagai manusia melainkan sebagai ular. Hanya keturunannya lah yang mampu membebaskannya kelak beratus tahun kemudian. Sekali lagi, Batara Indra berhasil mengalahkan kesombongan dan kepongahan Prabu Nahusa yang telah bersombong diri dengan bertindak semena-mena pada para resi dan pendeta.

Rabu, 16 Juni 2021

Kemelut Jawadwipa : Akhir Kisah Cingkaradewa dan Adhege Kandaparasta

 

Salam semua, para pembaca budiman. Sudah lama penulis tak memposting tulisan baru lagi. Kali ini penulis melanjutkan kisah sebelumnya. Dalam kisah ini, penulis menghubungkan leluhur Pandawa-Kurawa dari versi India dan versi Jawa. Kisah ini menceriterakan masa muda putra Batara Sadana, Arya Suganda dan pernikahannya dengan Niken Raketan, anak Resi Brikhu yang dulu pernah diasuh Dewi Sri, kakak Batara Sadana. Kelak dari pernikahan mereka, akan lahir salah satu leluhur (karuhun) dari Pandawa dan Kurawa dari Trah Wirata. Kisah ini juga dilanjutkan dengan hancurnya negeri Medanggalungan juga berakhirnya riwayat Prabu Cingkaradewa dan penyimpangan seksualnya. Kisah diakhiri dengan datangnya Prabu Nahusa dan berdirinya kerajaan Kandaparasta, salah satu kerajaan leluhur Trah Baharata dan Yadawa yang juga karuhun Pandawa-Kurawa. Kisah ini bersumber dari blog albumkisahwayang.blogspot.com, serat Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita dan Kitab Mahabharata kara Mpu Vyasa.

Arya Suganda Krida

Arya Suganda, anak dari Batara Sadana dan Dewi Laksmitawahini sejak bayi dititipkan ke Raden Wandu (Srimahawan) sesuai wasiat dengan sang ayah. Kini ia telah beranjak dewasa dan ingin mencari jodohnya. Maka diam-diam tanpa diketahui ayah asuhnya, ia pergi mengembara, ketika melewati Desa Wasutira, desa itu didatangi banyak perampok maka ia menghalau para perampok itu meskipun terlalu banyak Arya Suganda terus menyerang para perampok dengan segala kesaktiannya. Banyaknya rintangan dan cobaan yang dihadapi membuat ia kelelahan ketika berhasil mengalihakn pertarungannya ke pinggir hutan desa Wasutira. Tak ada satupun orang yang berani  menolong karena hutan itu wingit dan angker bahkan di siang hari. Hanya orang yang benar-benar punya nyali yang mau masuk ke dalam hutan. Para perampok berhasil dikalahkan namun Arya Suganda akhirnya pingsan karena terlalu letih dan lelah.

Cinta bersemi di Wasutira

Sang kepala desa Wasutira, Kyai Brikhu bersama putrinya, Niken Raketan baru saja pulang berniaga ke negeri sebrang malam itu melewati hutan desa. Tiba-tiba  mereka terkejut ada pria tergeletak di pinggir hutan desa. Setelah diperiksa, ternyata masih hidup. Mereka segera membopong orang itu. begitu sampai di rumah, Niken Raketan segera merawat pria itu. Beberapa hari kemudian, pria itu bangun lalu ia melihat sekitar lalu karena tak kuat bergerak ia jatuh. Niken Raketan yang hendak ke kamar pria itu kaget  “ehh...sudah bangun ki sanak? Mari ikut aku, sudah dua hari ki sanak tidur dan belum makan.” “terima kasih Ni sanak.” Setelah makan mereka saling berknalan “ni sanak perkenalkan, aku Suganda dari Purwacerita. Aku seorang pengembara. Kalau boleh tau siapa nama ni sanak.” “namaku Raketan, Niken Raketan. Ayahku kepala desa ini. Ki sanak masih kelihatan lelah, beristirahatlah barang beberapa hari disini” “terima kasih, ni sanak.” singkat cerita, Arya Suganda menetap sebentar di desa Wasutira. Di sana ia selain membantu keamanan desa, ia juga membantu Kyai Brikhu untuk berdagang. Kedekatan Arya Suganda dan kelurga Kyai Brikhu semakin rapat terutama dengan Niken Raketan. Setiap kali bertemu pandang, mereka sama-sama tersipu. Agaknya benih-benih cinta muncul diantara Arya Suganda dan Niken Raketan. Kyai Brikhu terkesan sekali dengan rajinnya Arya Suganda. Kyai Brikhu juga nampaknya melihat gelagat sang putri dan Arya Suganda. Akhir-akhir ini mereka kadang berduaan di taman dan di perigi di tengah desa. Dengan melihat hal demikian saja, sang kepala desa Wasutira itu mengajak baik-baik anaknya dan Arya Suganda. Kyai Brikhu dan istrinya akhirnya menyetujui hubungan sang anak dengan Arya Suganda bahkan mempertimbangkan tentang pernikahan mereka kelak.

Pada suatu hari, datanglah pasukan Medang Galungan ke desa Wasutira. Mereka ingin mengambil salah satu pemuda tampan dari desa itu untuk dijadikan pemuas hasrat seksual Prabu Cingkaradewa Purwacandra. Jelas saja tak ada satu pun yang mau anak laki-laki mereka jadi pemuas nafsu bejat raja berperilaku sedeng itu. karena tak ada yang mau, maka pasukan Medang Galungan segera mengobrak-abrik desa. Desa porak poranda dan dibakar pasukan Medang Galungan dengan beringas. lalu terdengrlah suara seseorang “hentikan!” lalu datang sang pemilik suara, Arya Suganda “kalian memaksakan kehendak. Kalau tidak ada yang mau, ya jangn mengganggu ketentraman desa ini. lagipula, bisa-bisanya prajurit-prajurit seperti tuanku semua mau menuruti hasrat rusak prabu kalian. Dosa kalian akan ikut bertambah banyak” Para prajurit hanya diam saja namun salah satu dari mereka berteriak “Persetan dengan dosa, kalau tidak ada yang mau, lebih baik kau saja yang  akan kami bawa!” seketika para pasukan Medang Galungan mengeroyok Arya Suganda. Tak terima dikeroyok,maka ia melawan para prajurit itu. satu dua prajurit berhasil dikalahkan namun karena kalah jumlah, maka terdesak juga ia.

Brahmana Wisaka

Di saat yang bersamaan, datanglah seorang brahmana sakti disertai empat puluh muridnya yang semuanya cantik dan tampan. Sang brahmana yang melintasi desa Wasutira bertanya pada penduduk apa yang terjadi. Para penduduk berkata ada yang sedang bertarung dengan prajurit Medang Galungan yang ingin mencari pemuda pemuas syahwat raja mereka. Sang brahmana melihat seorang pemuda yang dikeroyok tiga puluh orang, maka ia segera membantu pemuda itu dan dengan kesaktiannya ia membuat para prajurit itu limbung dan lari kucar-kacir. Pemuda itu berterima kasih “terima kasih, tuan brahmana. Tuan sudah membantu saya.” “sama-sama, anak muda. Kalau boleh tahu, dimanakah rumah kepala desa ini? saya ingin minta izin untuk mendirikan padepokan di tempat ini.” “saya tahu dimana kepala desa ini. kebetulan saya juga bekerja di rumahnya. Nama saya Arya Suganda.” Singkat cerita, Arya Suganda mengantarkan brahmana itu ke rumah Kyai Brikhu.“saya Brahmana Wisaka dari negara seberang. Saya dan keempat puluh murid saya mendapat wangsit untuk menyebarkan ilmu baca tulis dan pengetahuan dharma di negeri ini. kami mohon kerjasamanya, pak kepala desa” “dengan senang hati, saya akan sangat tersanjung bila tuan brahmana mau mengajar di desa ini, syukur-syukur apabila nanti raja di negeri ini sudi menjadikan padepokan tuan brahmana sebagai pusat pendidikan.” singkat cerita, Brahmana Wisaka mendirikan padepokan dan di sana diajarkan berbagai tata baca dan tulis yang baru. Brahmana Wisaka mengajarkan Bahasa Sangsekerta dan Aksara Kawi, turunan dari aksara Dewanagari dan Pallawa yang dahulu dipakai. Singkat kata, padepokan Brahmana Wisaka semakin besar hingga membuat Prabu dari Wirata yakni Prabu Basupati tertarik dan ingin berguru padanya. Hal itu diikuti dengan Prabu Brahmasatapa dari Gilingwesi beserta putra-putri dan Prabu Srimahawan dari Purwacerita. Prabu Srimahawan yang kebetulan sedang menimba ilmu di sana akhirnya kembali bertemu dengan Arya Suganda, sang putra kakaknya yang minggat berbulan-bulan. Rasa sukacita sang prabu bertambah lagi dengan rencana pernikahan Arya Suganda dengan Niken Raketan. Maka pada hari yang baik, dilangsungkanlah pernikahan putra Batara Sadana dengan anak asuh Dewi Sri itu. Setelah hari bahagia itu, Prabu Basupati meresmikan desa Wasutira naik derajat menjadi karesian Wasutira. Kyai Brikhu dilantik menjadi pemimpin karesian itu bergelar Resi Brikhu dan Brahmana Wisaka menjadi guru agung.

Prabu Cingkaradewa Menculik Para Pemuda Karesian

Prabu Cingkaradewa Purwacandra, sang penguasa tunggal Jawadwipa merasa gusar karena sudah lama tiga raja bawahan yakni Wirata, Gilingwesi, dan Purwacerita tidak menghadap ataupun memberikan pemuda pemuas nafsnya. Hal itu semakin diperkeruh dengan adanya kabar di desa Wasutira ada padepokan besar yang muridnya lebih dari seribu orang. Maka sang maharaja Jawadwipa itu datang sendiri ke tempat itu. diiringi ratusan pengawal yang tampan-tampan dan gagah, ia datang ke desa Wasutira. Ketika sampai di sana, Desa Wasutira kini bukan desa kecil lagi tapi sudah berubah menjadi karesian, pusat pendidikan yang besar. Merasa karesian itu akan merongrong wibawa Medang Galungan, Prabu Cingkaradewa Purwacandra membuat kerusuhan dengan menculik pemuda-pemuda tampan di sana untuk disetubuhi.

Lama kelamaan resahlah para penduduk dan murid karesian Wasutira termasuk keluarga tiga raja Jawadwipa yang sedang menimba ilmu di sana. Brahmana Wisaka segera menerawang dari mata batin. Dalam penglihatannya, ada seorang prajurit yang menculik seorang pemuda tampan dan sang prajurit menyerahkan pemuda itu kepada sorang lelaki dan dengan bejatnya, lelaki itu memperkosa pemuda itu. Brahmana Wisaka, Resi Brikhu, dan Arya Suganda segera mendatangi pria itu. Saat mereka menuju tempat lelaki itu, mendadak mereka diserang prajurit Medang Galungan.

Prabu Cingkaradewa menantang Brahmana Wisaka
 Mereka dikeroyok banyak orang. Karena tak ingin membuat ribut, ketiga orang itu menggunakan aji Pedut Seta, dan segera meninggalkan para prajurit yang terjebak kabut dari ajian itu.  Ketika itu, mereka menyadari bahwa pria itu tak lain adalah Prabu Cingkaradewa Purwacandra. Brahmana Wisaka bertanya pada apa keinginan sang prabu kenapa sampai-sampai menculik para pemuda, sang prabu menjawab untuk memuaskan nafsunya. Ia melihat para pemuda itu sebagai gadis cantik. Sang prabu juga berkata dengan berdirinya Karesian Wasutira ia merasa wibawa Medang Galungan akan jatuh. Karena sang brahmana Wisaka ingin menghindari keributan, maka Brahmana Wisaka mengajak Prabu Cingkaradewa Purwacandra untuk beradu kepandaian. Jika ia kalah, maka ia bersedia menjadi pemuas nafsu sang raja tapi jika sang prabu kalah, maka tiga negara besar Jawadwipa harus dimerdekakan.

Hukuman untuk Raja Homoseks

Dilangsungkanlah adu kepandaian antara Brahmana Wisaka dan Prabu Cingkaradewa Purwacandra di keraton Medang Galungan. Setelah beberapa babak, Prabu Cingkaradewa mengakui kecerdasan dan kepandaian Brahmana Wisaka diatas kepandaiannya. Karena kalah, Prabu Cingkaradewa Purwacandra dengan berat hati memerdekakan tiga negara besar Jawadwipa. Hal ini membuat jiwanya tergoncang hebat. Di saat yang sama tiba-tiba datang seorang jin bernama Jalegi, utusan Batara Kala merasuki Prabu Cingkaradewa Purwacandra dan membuat keonaran. Dengan kekuatan dan kesaktiannya, ia menggunakan tubuh raja homoseks itu untuk menghukum sang prabu yang sedeng itu dengan menghancurkan seisi kerajaan Medang Galungan dan membunuh Brahmana Wisaka. Namun, Brahmana Wisaka berhasil menundukkan jin itu. jin itu lallu berkata lewat tubuh sang prabu “hei, brahmana agung! Ampuni aku tapi Jangan ganggu tugasku. Aku diutus pukulun Batara Kala atas perintah Batara Guru untuk membawa orang ini ke neraka sebagai hukuman kerena sifat sedengnya. Sudah terlalu lama keturunan Watugunung ini merusak tatanan hidup di negeri ini.” “jika itu perintah dari para dewa, maka aku tidak bisa menghalangimu.” Maka Brahmana Wisaka beserta Resi Brikhu dan Arya Suganda segera pergi dari keraton dan kembali ke karesian. Amukan sang prabu kembali menguat bahkan tak terbayangkan dahsyatnya. Bahkan, sang prabu yang sedang kerasukan itu merapal ajian terlarang yakni ajian tapak Agnibrahma yang mampu membuat satu negara terbakar dan lebur menjadi debu.

Berakhirnya Medang Galungan

Ketika sampai di karesian, Brahmana Wisaka, Resi Brikhu dan Arya Suganda melihat dari puncak gunung tanda-tanda tidak baik. Tepat di atas langit kerajaan Medang Galungan, muncul meteor sebesar keraton Wirata berapi hendak menghujam bumi. Brahmana Wisaka dan yang lainnya segera turun dan mengajak semua orang di karesian termasuk Prabu Basupati, Prabu Srimahawan, dan Prabu Brahmasatapa beserta keluarga mereka dan para penduduk untuk sembunyi di bawah tanah dan bersemedi memohon perlindungan Hyang Widhi. Lalu terdengarlah suara yang keras mengguntur.dari celah-celah ruang bawah tanah, mereka melihat cahaya yang sangat terang. Sementara itu, kerajaan Medang Galungan kejatuhan meteor besar dan langsung hancur berkeping-keping. Keratonnya terjungkir balik lalu terbakar hebat bersama Prabu Cingkaradewa Purwacandra di dalamnya. Ini persis seperti kutukan Batara Guru yang pernah diberikan pada sang prabu. Kerajaan tetangga seperti Wirata, Gilingwesi, dan Purwacerita ikut terkena dampak dengan bumi disana ikut bergegar namun untungnya tidak meninggalkan dampak yang parah sehingga selamatlah kerajaan-kerajaan itu. Kini, habislah riwayat Medang Galungan dengan bersama dengan sifat sedeng sang prabu. Selang beberapa hari, keanehan terjadi, Puing-puing  sisa kerajaan Medang Galungan yang hancur mendadak tertutup hutan lebat dan sangat rapat seakan tak pernah ada di dunia. Tiga kerajaan besar Jawadwipa kembali berdaulat sebagai negara merdeka.

Adhege Kandaparasta

Setelah beberapa tahun di Jawadwipa, Brahmana Wisaka merasa sudah saatnya ia kembali ke Tanah Hindustan. Maka ia berpamitan dengan para raja, Resi Brikhu dan Arya Suganda.

Adhege Kandaparasta
 Namun sebelum ia pergi, ia menyuruh salah satu muridnya, Bambang Nahusa untuk tetap tinggal di Jawadwipa ”Nahusa, aku melihat kamu berjodoh dengan Jawadwipa. Maka sebaiknya kamu menetap disini. Dirikanlah kerajaan di tepi bengawan Yamuna dan kelak anak keturunanmu akan menjadi mulia bersama para raja disini.” “jika memang ini perintah guru, aku akan melakukan sebaik yang ku bisa.” Maka ditinggalkanlah Resi Nahusa dan singkat cerita, setelah mempelajari ilmu politik dan tata negara dari para raja, ia mulai membabat hutan di pinggir Bengawan Yamuna. Setelah itu ia mendirikan kota bernama Kandaparasta dan menjadi raja disana bergelar Prabu Nahusa.

Di dekat bengawan Yamuna, hduplah seorang yaksa bernama Ditya Hunda. Ia gemar membuat para dewa kerepotan dan kali ini ia menculik salah satu bidadari yakni putri satu-satunya Batara Guru dan Batari Durga yang bernama Dewi Asokasundari. Dewi Asokasundari mengutuk Hunda “hei raksasa, kamu akan menerima hukuman para dewa. Kelak calon suamiku akan datang menjadi penyebab kematianmu!” Ditya Hunda tertawa-tawa dengan sombong dan berkata “aku tidak taku...akan ku goreng calon suamimu itu kalau dia muncul kemari.” Tahun demi tahun berlalu, lama-lama kota Kandaparasta semakin besar dan mulai membabat sebagiah hutan tempat Ditya Hunda tinggal. Ditya Hunda terganggu dan mulai menculik beberapa gadis untuk dijadikan tumbal ajian peletnya. Prabu Nahusa mulai resah dengan hilangnya beberapa gadis di hutan dan memutuskan untuk mendatangi hutan tempat para gadis sering diculik. Di hutan, ia bersemadi dan mendapat wangsit dari Sanghyang Widhi. Wangsit itu mengatakan di hutan itu ia akan bertemu calon istrinya yang kini diculik sorang yaksa.

Ditya Hunda Perlaya

Sementaraitu, Ditya Hunda melihat ada cahaya pelangi di hutan dekat guanya. Maka ia mendatangi asal pelangi itu dan menemukan seorang pria tampan sedang bersemadi. Ia lalu mencoba mengacau sang pria. Lalu sang pria itu bangu dan berkata “ Hei Yaksa...beraninya kau mengganggu semadiku.” Ditya Hunda berkata dengan ketus “memang itu urusanmu . aku bebas mengganggu siapa saja termasuk para dewa.” “oohh berarti kau juga yang mengganggu ketentraman negeriku dengan menculik beberapa gadis?” “kalau iya, memang kenapa?” “rupanya kau....para dewa telah mempertemukan kita disini. Sebaikanya kau menyerah baik-baik kalau tidak mau hidupmu berakhir.” Ditya Hunda jemawa dan berkata ia tidak takut. Maka terjadilah perang tanding antara Prabu Nahusa dan Ditya Hunda. Ditya Hunda terus brusaha menggigit leher Prabu Nahusa namun sang prabu terus menghindar dan mampu membuat sang yaksa terdesak. Lalu Ditya Hunda mengeluarkan ajian Dityagni yang membakar apa saja. sementara Prabu Nahusa menancapakan tongkatnya dan merapal ajian Tirta Dewani. Maka keluarlah gelombang air raksasa menghancurkan api sang yaksa dan menjebaknya di dalam air. Ditya Hunda tak mudah dikalahkan karena ia mampu keluar dari perangkap air, lalu sang yaksa buas itu segera mengeluarkan ajian Gelap Sewu. Maka muncul berbagai halilintar dan kilat menyambar hutan membuat pandangan dan pendengaran sang prabu menjadi kabur. Di saat demikian, Ditya Hunda berhasil melayangkan pukulan ke wajah sang prabu. Karena sang Prabu terus didesak, maka ia mengeluarkan ajian pamungkasnya. Ia merapa ajian Toyahima dan keluarlah tombak-tombak es dan menyayat seluruh tubuh Ditya Hunda. Tombak terakhir akhirnya menancap ke leher Ditya Hunda dan berhasil membunuh sang yaksa itu.

Pernikahan Nahusa dan Asokasundari

Prabu Nahusa segera menuju gua dan melihat banyak anak gadis disekap dalam kurungan. Sang prabu segera membebaskan mereka. Lalu datang seorang perempuan cantik menyerang Prabu Nahusa. Prabu Nahusa menahannya dan mereka pun bertarung. Meski peremuan, ia bisa membuat Prabu Nahusa kuwalahan namun karena sang perempuan agak lengah, sang prabu akhirnya bisa mendesak perempuan itu. lalu perempuan itu kalah. Lalu mereka saling memandang. Tanpa sadar, prabu Nahusa jadi terpesona, begitu juga si perempuan. Lalu mereka berkenalan “ni sanak, siapakan dikau? Dilihat dari sisi manapun kamu bukan perempuan dari negeri ini.” "aku Asokasundari. Aku bukan dari negeri ini. aku sebenarnya bidadari. Aku putri ayahanda Batara Guru dengan ibunda Durga. Aku disekap Hunda saat ia menyerang kahyangan bersama Prabu Sumba dan Nisumba. Tuanku jua rasanya bukan berasal dari Jawadwipa ini. siapakah tuanku sebenarnya?” Prabu Nahusa lalu mengenalkan dirinya “aku Bambang Nahusa, putra Resi Hayu, cucu Prabu Pururawa dari Hindustan. Menurut penuturan ayahku, Aku masih cucu keturunan Resi Sucandra alias Maharesi Anggiras dari putranya yang bernama Begawan Buda. Menurut penuturan ayahku pula, leluhurku masih darah keturunan Batara Brahma. Walau leluhurku dari Jawadwipa ini, aku lahir di Hindustan lalu guruku, Brahmana Wisaka memerintahkan aku untuk tinggal dan mendirikan kota baru di Jawadwipa ini.”

Prabu Nahusa dan Permaisuri Asokasundari
 Singkat cerita, setelah perkenalan itu, Dewi Asokasundari dan Prabu Nahusa bersma-sama membebaskan para gadis dan membesarkan kerajaan Kandaparasta. Dewi Asokasundari bahkan menjadi kerani (juru tulis) kerajaan. Lama-lama setelah mengenali watak masing-masing, benih cinta tumbuh diantara mereka berdua. Pada akhirnya, mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Pernikahan itu dihadiri tiga raja besar Jawadwipa, segenap rakyat dan bahkan para dewa turut meramaikan. Para dewa termasuk Batara Guru dan Batari Durga menaburkan kembang dari angkasa dan memerinthkan para dewa menabuh gamelan Lokananta di hari bahagia sang putri.

Senin, 29 Maret 2021

Kemelut Jawadwipa : Raja yang Liwath dan Kelahiran Bidadari Utama

 Matur Salam, para pembaca budiman. Kisah kali ini menceritakan tentang keadaan Jawadwipa yang diperintah seorang raja yang penyuka sesama jenis dan masih keturunan Prabu Watugunung sehingga membuat keadaan Jawadwipa laksana negeri yang amoral. Dikisahkan pula kelahiran dan masa muda Bambang Parikenan, leluhur Pandawa dan Kurawa dari pihak ayah, ambisi Ditya Sunda dan Upasunda untuk menguasai tiga dunia dan kelahiran para bidadari utama keturunan Batara Indra. Dikisah aslinya, delapan bidadari utama terlahir dari permata mustika lalu diaku sebagai para putri batara Indra, maka penulis sedikit mengubahnya dengan membuat para bidadari utama benar-benar anak biologis Batara Indra dan Dewi Saci. Kisah ini bersumber dari blog albumkisahwayang.blogspot.com, Serat Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi ranggawarsita, dan Kitab Mahabharata bagian Adiparwa karya Mpu Vyasa dengan pengubahan dan pengembangan seperlunya. 

Raden Sahadewa Candra, Pangeran yang Gemar Liwath               

Kerajaan Medang Gotaka diperintah rajanya, Prabu Sindula. Dia bernama asli Arya Radeya, putra Prabu Watugunung dengan ibunya, Dewi Sintakasih. Setelah peristiwa aib itu, bayi Prabu Sindula dibawa dan diasuh Empu Pastima, anak Empu Gopa yang pernah dibunuh sang ayah. Di akhir pengembaraan, mereka membabat hutan Galungan dan mendirikan kota bernama Medang. Lama-lama negeri itu menjadi besar. Keraton pun dibangun tak lazim yakni di bawah tanah. Sang prabu menamai keratonnya itu Keraton Gotaka maka negerinya pun dinamai Medang Gotaka dan Empu Pastima menjadi patih sampai akhir hayatnya. Di dalam keraton bawah tanah itu penuh emas, permata, dan berbagai batu mulia. Sang prabu kemudian menikahi Dewi Tulus, putri sang paman, Arya Wukir yang juga dirawat Empu Pastima. Darinya lahir beberapa anak, yakni Raden Sahadewa Candra, Arya Dewaraka, Arya Jaladewata dan Dewi Ratna. Beberapa tahun kemudian, sang raja mendapat kabar bahwa Raden Sahadewa Candra bermesraan dengan seorang pemuda. Maka ia memastikan sendiri. Pada suatu malam, sang prabu memergoki putra sulungnya dan benarlah apa yang menjadi kabar itu, anaknya itu bermesraan dan bahkan bersanggama dengan prajurit jaga di taman sari. Maka murkalah sang prabu. Dilabraklah putranya itu lalu menamparnya dan berkata “kamu anak membawa aib. Enyah dari keratonku!...jangan kembali lagi!” terusirlah Raden Sahadewa Candra dari Gotaka

Takluknya Jawadwipa di tangan Raja yang Sedeng

Maka pergilah Raden Sahadewa Candra mengembara dan memperoleh kesaktian. Selang beberapa tahun, kerajaan Prabu Sindula diserang oleh kerajaan Bagacandra, kerajaan yang didirikan Raden Sahadewa Candra yang kini bergelar Prabu Cingkaradewa Purwacandra. Serangan demi serangan membuat Prabu Sindula putus asa dan akhirnya bunuh diri. Dewi Tulus dan Dewi Ratna ikut belapati dan kini  ikut gugur Raden Dewaraka dan Arya Jaladewata. Kerajaan Medang Gotaka akhirnya diduduki Prabu Cingkaradewa Purwacandra. Kerajaan Bagacandra digabungkan dengan Medang Gotaka. Kerajaan tetangga yakni Purwacerita, Gilingwesi dan Wirata yang membantu Kerajaan Medang Gotaka ikut ditaklukan. Raja Purwacerita yakni Prabu Srimahapungung tewas dan digantikan putranya, Raden Wandu, adik dari Dewi Sri dan Batara Sadana bergelar Prabu Srimahawan. Bersamanya pula raja Wirata yang baru yakni Prabu Basupati yang bernama asli Raden Brahmaneka, putra Prabu Basurata dan Raja Gilingwesi yakni Raden Tritusta bergelar Prabu Brahmasatapa, putra Prabu Bremana yang kalah dan tewas mengungsi ke Gunung Mahameru.

Begawan Rukmawati menasehati tiga raja Jawadwipa
Mereka bertiga berniat ikut bunuh diri menyusul ayah dan paman mereka namun dicegah oleh seorang biarawati bernama Begawan Rukmawati, putri Batara Anantaboga. “anak-anakku jangan berpikiran pendek begitu. Kelak akan datang masanya raja baru itu mendapat karmanya. Untuk sementara ini kalian harus bersedia menjadi bawahannya.” Ketiga raja itu akhirnya luluh dan akhirnya bersedia menyerahkan diri mengakui kedaulatan Prabu Cingkaradewa Purwacandra. Sejak saat itu tiga kerajaan besar di Jawadwipa menjadi telukan kerajaan Medang Gotaka-Bagacandra. Nama Kerajaan Medang Gotaka pun diganti menjadi Medang Galungan.

Siasat Membawa Sengsara

Setelah kembali ke Gilingwesi, Prabu Brahmasatapa kembali membangun negerinya. Ia segera menjemput istri-istrinya yang mengungsi. Lalu selang beberapa bulan , Dewi Widati dan Dewi Rajatadi nyaris bersamaan hamil dan sembilan bulan pun berlalu. Kehamilan mereka semakin tua. Namun yang semakin disayang sang prabu Gilingwesi pada hanya Dewi Widati. istri keduanya, Dewi Rajatadi sangat kesal dan iri dengan itu. maka ia membuat sebuah siasat agar Dewi Widati sengsara. Tibalah hari persalinan dan sang prabu sedang kunjungan ke Medang Galungan. Dewi Rajatadi sengaja tidak memanggil tabib dan membantu persalinan saingannya itu. maka lahirlah dari rahim Dewi Widati sepasang bayi kembar buncing. Tanpa sepengetahuan Dewi Widati yang tengah pingsan, Dewi Rajatadi menukar bayi kembar buncing dengan sepasang anak anjing dan membuang bayi yang dilahirkan Dewi Widati di hutan. Lalu Prabu Brahmasatapa pulang dan menanyakan dimana anakna yang baru lahir. Dewi Widati menunjukkan tempat bayinya idur. Ketika dilihat ternyata anak anjing. Marahlah Prabu Brahmasatapa “apa-apaan ini? kau telah menyebabkan aib bagiku. Anak yang kau lahirkan itu anak anjing bukan bayi manusia!” “aku bersumpah, kanda. Aku melahirkan bayi manusia bukan anjing.” Semakin murkalah sang prabu “lalu ini apa?” ketika Dewi Widati menengok ke ranjang bayi terkejutlah ia. Dewi Widati terus membela dirinya “sumpah kanda. Atas nama Hyang Widhi, aku melahirkan bayi bukan anak anjing. Ada yang sengaja membuat aib begini pada dinda.” “persetan dengn Hyang Widhi! Faktanya yang kau lahirkan itu anjing bukan manusia.” Lama-lama kemarahan sang prabu memuncak dan ia menusuk mata sang istri dengan pisau dan butalah mata sang istri itu dan diperintahkan para prajurit untuk membuang Dewi Widati ke hutan. Diam-diam Dewi Rajatadi menguping dan ia terlihat senang. dua hari kemudian, Dewi Rajatadi melahirkan bayi perempuan bernama Dewi Satapi. Kini, Dewi Rajatadi semakin bahagia. Setelah saingannya telah tersingkir, kini dengan lahirnya sang putri, ia bisa menjadi permaisuri tunggal di Gilingwesi. Namun, Hyang Widhi tidak tidur. Tanpa dipikirkan sang Dewi Rajatadi, bayi kembar buncing Dewi Widati ditemukan oleh Begawan Rukmawati dan diangkat menjadi anaknya. Kedua anak itu oleh Begawan Rukmawati diberi nama Bambang Parikenan dan Dewi Srini.

Musuh Baru para Dewa

Sementara itu, Kahyangan cerah ceria setelah peperangan antara Ditya Sumba dan Ditya Nisumba dimenangkan oleh pasukan para dewi. Namun kedamaian itu tak seberapa lama. Hari itu, Batara Indra dan patihnya, Batara Wrehaspati datang ke istana Iswaraloka, tempat Batara Guru. Sang dewanya para bidadara dan bidadari itu mengabarkan kabar yang agak tidak mengenakkan “ampun ayahanda Batara.... ada kabar tak mengenakkan. Di Marcapada ada dua yaksa kembar, Ditya Sunda dan Upasunda yang tengah tapa brata.” “lalu apa yang kamu risaukan, Indra? Toh setiap makhluk di marcapada ini berhak melakukan tapa brata.” Batara Indra lalu melanjutkan “Tapi Ayahanda batara, tujuan mereka bertapa brata itu untuk menguasai seluruh dunia ini. kakanda batara Brahma mengabulkan permintaan mereka. Mereka meminta kekuatan tiada tara dan kedigjayaan.” Batara Guru terkesiap namun dia tetap tenang. Ia memohon diri sejenak untuk semadi. Dengan pandangan mata ketiga miliknya, ia melihat ke masa depan bahwa dua yaksa kembar itu dikalahkan karena berebut seorang bidadari cantik, keturunan dari Indra dan istrinya, Saci dengan bunga ratna di selipkan di mahkotanya. Lalu Batara Guru terbangun dan memberitahukan apa yang dilihatnya. Batara Guru menyarankan “Indra, putraku....kau harus turun ke marcapada bersama istrimu. Pergilah ke hutan Sunyawibawa dan carilah tujuh buah bunga ajaib. Setelah itu biarkan Sanghyang Widhi yang menentukan takdir untukmu.” Perintah pun ditaati.

Resi Sakra

Tersebutlah di tengah hutan Sunyawibawa, hiduplah sepasang suami istri bernama Resi Sakra dan Nyai Indri. Mereka adalah sepasang tabib dan ahli pengobatan ternama di Kerajaan Purwacerita dan sekitarnya. Para raja begitu hormat padanya, mulai dari Prabu Cingkaradewa Purwacandra dari Medang Galungan yang menyukai sesama jenis, Prabu Brahmasatapa dari Gilingwesi, Prabu Basupati dari Wirata, bahkan Prabu Srimahawan sendiri. Keempat raja itu suka berobat ke sana. Tak sekadar berobat, Prabu Srimahawan bahkan sering bertukar pikiran dengannya.

 

Pencarian Tujuh Bunga Ajaib

Pada suatu hari, tiba saatnya Resi Sakra menjelaskan maksud kedatangannya pada sang Prabu Purwacerita “ampun Sang Prabu. Kedatangan hamba di hutan Sunyawibawa ini ingin mencari tujuh bunga sakti. Bunga-bunga itu akan ku persembahkan pada para dewa. Apakah Sang Paduka tau dimana adanya?” “seperti apa rupa bunga-bunga itu, tuan Resi?” Resi Sakra menjelaskan jenis-jenis bunga itu yakni, bunga padma berwarna emas, bunga tunjung berwarna biru keperakan, bunga gambir hutan terlarang, bunga ratna* bertatahkan biji wijen, bunga mawar merah merona, bunga melati kuning, dan mayang pohon aren paling harum. “hmmm bunga-bunga itu nampaknya susah untuk dicari. Mungkin aku harus meminta bantuan para raja yang lain.” singkat cerita, Prabu Srimahawan, Prabu Basupati, Prabu Brahmasatapa dan Prabu Cingkaradewa Purwacandra saling bertemu dan membicarakan apa yang diinginkan Resi Sakra. Lalu tiba-tiba muncul tujuh cahaya seperti pelangi di penjuru Jawadwipa. Para raja merasa itulah benda-benda yang Resi Sakra cari. Dengan kesaktian masing masing mereka segera melesat pergi. Singkat cerita, Prabu Srimahawan mendapatkan bunga melati kuning dan bunga gambir hutan terlarang. Sementara itu Prabu Basupati mendapatkan bunga mawar merah merona dan bunga padma emas. Prabu Brahmasatapa mendapatkan bunga ratna bertatah wijen dan bunga tunjung biru keperakan sedangkan Prabu Cingkaradewa Purwacandra mendapat mayang aren paling harum.

Kutukan dari Batara Guru

Di tengah perjalanan, Prabu Cingkaradewa Purwacandra bertemu seorang pengembara berwajah tampan. Jelas saja libido sang prabu naik. Lalu ia turun dari kudanya sambil berkata “hei nak bagus.....kemarilah nak. mau ikut denganku?” “tentu tuanku...suatu kehormatan besar bagi saya bisa ikut bersama tuan.” Si pemuda polos itu tidak tahu bahwa ia akan dijadikan pemuas nafsu. Akhirnya sang raja menemukan gubuk kosong dan mereka pun masuk. Sang raja segera membuka bajunya dan membuka paksa baju sang pemuda. Pemuda itu meronta-ronta menolak untuk digauli. Dengan kekuatan gendamnya, Prabu Cingkaradewa Purwacandra membuat si pemuda seakan bertekuk lutut. Lalu datang halilintar menyambar gubuk dan mengenai si pemuda itu. sang pemuda lalu bertukar wujud menjadi Batara Guru. Batara Guru mengutuk perbuatan Prabu Cingkaradewa Purwacandra “hei kamu, manusia bejat. Terimalah kutukanku. Akan datang kepadamu seorang maharesi yang menggulingkanmu dan kau akan terlempar ke neraka dengan terjungkir balik!” terbangunlah Prabu Cingkaradewa dengan bercucuran keringat. Lalu ia menemukan arca emas Batara Guru dan ternyata ia jadikan bantalnya saat tidur tadi. Maka ia segera bergegas menyerahkan mayang pohon aren itu kepada Resi Sakra.

Kelahiran Delapan Bidadari, keturunan Sakra

Setelah semua tumbuhan-tumbuhan itu, Resi Sakra segera meramu obat dari sari semua tumbuhan itu yang lalu dijadikan satu. Setelah obat itu jadi, Resi Sakra dan Nyai Indri segera meminumnya sebelum melakukan hubungan badan. Singkat cerita, empat bulan kemudian, Nyai Indri mengandung dan kehamilannya aneh. Dia tidak merasakan sakit ataupun perut membesar, melainkan hanya mual-mual saja. di masa-masa itu, para raja mengusulkan untuk mengirimkan sepasukan prajurit untuk melindungi sang resi dan istrinya namun Resi Sakra menolak dengan halus. Saat kehamilan bulan ke tujuh ketika mencari jamur hutan, tiba-tiba datanglah harimau besar menakuti Nyai Indri dan ia pun lari terbirit-birit. Saat sampai di rumah, Nyai Indri merasakan sakit perut tak tertahankan petanda akan melahirkan . Tanpa tabib maupun bidan, Nyai Indri bersalin dibantu sang suami, Resi Sakra. Lalu datanglah dari kahyangan para bidadara dan bidadari antara lain Dewi Urwaci dan Dewi Punjisatala. Mereka segera membantu jujungannya itu melahirkan sementara para bidadara mengamankan rumah sang resi. Singkat cerita, akhirnya Nyai Indri berhasil melahirkan dengan selamat. Rupanya ia melahirkan anak kesemuanya ada delapan putri. Mereka pun menamainya putri-putrinya itu. anak pertama bernama Dewi Supraba, yang kedua Dewi Tunjungbiru, lalu Dewi Wilotama atau Nilotama, Dewi Warsiki, Dewi Surendra, Dewi Lengleng Mulat atau Lengleng Mandanu, dan kembar yang bungsu dinamai Dewi Gagarmayang dan Dewi Prabasini. Setelah kelahiran kedelapan putrinya, Resi Sakra dan Nyai Indri kembali menjadi Batara Indra dan Dewi Saci. Sudah saatnya mereka kembali ke kahyangan Rinjamaya. Sebelum pergi, Batara Indra menemui para raja yang telah membantunya. Para raja yang datang yakni Prabu Srimahawan, Prabu Basupati, dan Prabu Brahmasatapa sedangkan prabu Cingkaradewa Purwacandra tak hadir karena ada masalah di kerajaannya. Batara Indra lalu memberikan berkatnya “Dengan perkenan Hyang Widhi, aku memberkati kalian. Semoga kerajaan kalian makmur, anak keturunan kalian banyak dan menorehkan nama mereka dalam sejarah.” Setelah memberikan berkat, Batara Indra, Dewi Saci dan rombongan bidadari-bidadara terbang ke kahyangan.

 

Tujuh Bidadari dan Tiga Bidadari

Sesampainya di kahyangan, Batara Guru dan para dewa lainnya menyambut kedatang keluarga baru batara Indra. Lalu dengan Tirta Perwitasari, kedelapan putri bidadari itu diperciki dan disucikan. Ajaib, kedelapan bayi bidadari itu sekejap menjadi dewasa. Kecantikan mereka terpancar kuat. Karena kecantikan mereka, para dewa terperangah sampai-sampai Batara Brahma bertiwikrama menjadi dewa tampan berkepala empat demi memandangi delapan kemenakannya itu.

Delapan bidadari, putri Batara Indra
Delapan bidadari putri Batara Indra itu masing-asing melambangkan bunga yang dikonsumsi ayah dan ibu mereka. Dewi Supraba memakai subang emas berbentuk bunga padma lengkap dengan selendang jingga dan jarik kain sutra emas di badannya. Dewi Tunjung Biru memakai jarik sutra biru bermotif bunga tunjung dengn selendang berwarna biru samudra.  Dewi Wilotama atau Nilotama yang bersunting dan bermahkota bunga ratna dan buah wijen abadi lengkap dengan selendang sutra ungu, dengan baju yang senada. Dewi Warsiki memakai selendang satin halus berwarna merah jambu dengan sulaman berbentuk bunga gambir, Dewi Surendra memakai kemben dari batik bermotif bunga mawar merah berikut gelang dan giwangnya memakai permata mirah, lalu Dewi Lengleng Mulat memakai syal dari kain cindhe berwarna kuning cerah dengan motif melati kuning melingkar indah di leher dan bahunya dan sikembar Dewi Gagarmayang dan Dewi Prabasini bergelung dengan tusuk konde berhiaskan mayang aren dan berbaju kebaya hijau, yang membedakannya baju yang dipakai Dewi Gagarmayang berwarna hijau muda sementara yang dipakai Dewi Prabasini berwarna hijau tua. Singkat cerita, Dewi Supraba, Dewi Tunjung Biru, Dewi Wilotama, Dewi Warsiki, Dewi Surendra, Dewi Lengleng Mulat, dan Dewi Gagarmayang menjadi tujuh bidadari utama, pembawa pesan para dewa dan penguji keteguhan seseorang, maka mereka turun bersama Naga Andana. Sementara Dewi Prabasini bersama Dewi Urwaci dan Dewi Punjisatala menjadi tiga bidadari pemimpin tarian upacara kahyangan.

Siasat Mengalahkan Sunda dan Upasunda

Di Marcapada, Ditya Sunda dan Upasunda berkelana keseluruh dunia bersama pasukannya menyerang sejumlah negeri dan kota. Setiap negeri yang diserangnya pasti hancur lebur. Bahkan di suatu kesempatan, Batara Indra dan pasukan Dorandara yang membantu mengamankan Kerajaan Medang Galungan,  Purwacerita, Wirata, dan Gilingwesi dibuat kalang kabut, kewalahan menghadapi kesaktian Ditya Sunda dan Upasunda. Lalu Batara Indra segera mengutus salah satu putrinya. “Wilotama, bantulah ayahanda untuk mengalahkan dua yaksa pengacau marcapada itu. saat ini nasib tanah Hindustan dan Jawadwipa berada di tanganmu.” “baik ayahanda Batara. Titahmu akan segera hamba laksanakan.” Maka turunlah Dewi Wilotama ke bumi, tepatnya ke perbatasan empat negara besar Jawadwipa tempat Sunda dan Upasunda berikut pasukannya berkemah. Di sana ia melihat Ditya Sunda dan Upasunda sedang semedi memohon salah satu bidadari kahyangan sebagai kompensasi tidak menyerang kahyangan. Maka Dewi Wilotama membangunkan mereka “Kanda Sunda! Kanda Upasunda! Bangunlah!” kedua yaksa itu terbangun dan bertanya “siapa andika yang cantik ini? kamukah bidadari impian yang dijanjikan para dewa itu?” “benar, kakanda berdua. Aku Wilotama, bidadari yang dijanjikan para dewa pada kalian.” Kedua yaksa itu terpana maka mereka menghentikan semedi lalu Ditya Sunda merayunya “Dinda Wilotama, menikahlah denganku. Apa yang kau inginkan akan aku kabulkan.” Tak kalah dengan kakaknya, Ditya Upasunda ikut merayu “jangan dengarkan kakakku, lebih baik menikahlah dan hidup denganku, maka dinda akan bahagia selamanya.” Lalu Ditya Sunda membentak adiknya, “Upasunda! dimana tatakramamu? Dia itu calon istriku.” Ditya Upasunda lalu balik membentak “kakang yang seharusnya bertatakrama. Dia itu calon pendamping hidupku.” Maka terjadilah perselisihan antara dua saudara kembar.

Ditya Sunda dan Upasunda memperebutkan Dewi Wilotama
Dewi Wilotama berusaha menengahi namun terlambat keduanya terus berselisih, awalnya hanya perang mulut hingga terjadilah pertengkaran. Pertengkaran itu berubah menjadi pertempuran sesama yaksa dua kubu, kubu Ditya Sunda dan kubu Ditya Upasunda. Dewi Wilotama tak tahan melihat pertengkaran itu segera naik ke kahyangan dan menyumpahi bahwa mereka sudah mati tali kekerabatannya. Maka keduanya terus bertengkar sampai akhirnya kedua yaksa itu sampyuh, tewas bersama karena kekuatan mereka setara. Begitu juga pasukan mereka ikut tewas semua. Dengan tewasnya dua yaksa itu, empat negara besar Jawadwipa dan tanah Hindustan aman dari para yaksa itu. sebagai penghormatan atas keberanian sang dewi, bunga ratna sebagai lambang Dewi Wilotama dijadikan salah satu bunga suci yang istimewa bagi masyarakat Jawadwipa.

Tulah Kemarau Panjang karena Menelantarkan Istri

Para dewa senang karena musuh dewata untuk sementara sudah hilang namun Batara Guru mendapat laporan dari Dewi Sri “ampun uwa Pukulun, ananda Prabu Brahmasatapa pernah berbuat sewenang-wenang dengan nanda Dewi Widati dengan membuangnya ke tengah hutan karena termakan siasat istri mudanya. Sampai sekarang nanda dewi masih terbuang di tengah hutan.” Tak terhingga marahnya Batara Guru mka ia berdoa pada Hyang Widhi agar Prabu Brahmasatapa diberi pelajaran. Doa Batara Guru didengar oleh-Nya maka Hyang Widhi yang Maha Kuasa menghukum kerajaan Gilingwesi dengan berkurangnya air sedikit demi sedikit dan pada tahun ketujuh belas akan menjadi puncaknya. Atas perintah Hyang Widhi, Dewi Sri diperintahkan untuk berhenti menyebarkan kesuburan. Sebaliknya, ia bersama Batara Bayu mengirimkan berbagai macam hama penyakit, angin panas, dan angin dingin yang amat sangat ke Gilingwesi. Singkat cerita, angin kencang panas dan dingin menyapu kerajaan sepanjang hari. Kalang kabutlah sang prabu dan seluruh negara. Air di danau, sungai, dan perigi mulai berkurang, tanaman tak kunjung tumbuh dan layu terkena hawa panas dan dingin silih berganti. Sawah dan ladang menjadi bera tak terurus. Pada tahun ke tujuh belas, datanglah hama-hama memakan segala bahan makanan. Kelaparan terjadi dimana-mana.

Kembar Buncing Penyelamat Negeri

 Tujuh belas tahun berlalu, Begawan Rukmawati dan kedua murid sekaligus anak angkatnya, Bambang Parikenan dan Dewi Srini berkelana dari lereng gunung Mahameru ke sebuah desa di negara Gilingwesi yang dilanda paceklik. Penduduk desa itu ingin meminta hujan. Begawan Rukmawati lalu memerintahkan dua muridnya itu untuk membantu “Parikenan! Srini! Mari kita bantu penduduk desa ini agar paceklik di negeri ini hilang.” “baik, guru. Apa yang harus kami lakukan?” tanya Parikenan. Anakku Parikenan, kamu persiapkan sarana sesajiannya. Srini! kamu segera buat bubur panjang dan hijau.” Baik, guru!” singkat cerita bambang Parikenan segera menyiapkan dupa, kemenyan, banten dan sesajian. Sementara Dewi Srini membuat bubur berbentuk lonjong pnjang dan hijau. Bubur itu diberi nama Bubur Cendol Dawet. Bubur itu lalu diserahkan pada Bambang Parikenan untuk didoakan. Setelah didoakan, sebagian bubur itu dimakan oleh para warga dan sebagian lagi ditebarkan ke sawah, ladang dan seluruh penjuru desa. Tak berapa lama kemudian, awan mendung datang menutupi desa lalu turunlah hujan lebat mengguyur. Sungai-sungai, danau-danau, kolam-kolam dan perigi-perigi kembali terisi air, sawah dan ladang kembali basah. Pepohonan dan rerumputan tumbuh menghijau lagi. Warga desa bersukacita. Tulah kemarau panjang telah berakhir.

Pertemuan Dengan Sang Ibu Kandung

Setelah membantu desa, Begawan Rukmawati, Bambang Parikenan dan Dewi Srini melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang wanita cantik namun buta matanya ditemani sepasang anjing.Begawan Rukmawati bertanya “ni sanak, siapakah nisanak? kenapa ni sanak berada disini? Tak adakha ang menolong ni sanak.” Perempuan buta itu berkata “aku Widati. Aku dibuang suamiku selama tujuh belas tahun di hutn ini bersama dua anakku ini.” Begawan Rukmawati lalu mengheningkan cipta dan mendapat penglihatan dari para dewa bahwa Dewi Widati adalah permaisuri Prabu Brahmasatapa yang dibuang karena dituduh melahirkan anjing dan secara kebetulan di hari dibuangnya Dewi Widati, sang biarawati juga menemukan dan memungut dua anak kembar buncing, yakni Bambang Parikenan dan Dewi Srini di tengah hutan dahulu. Bambang Parikenan dan Dewi Srini merasa kasihan dan ingin menyembuhkannya. Begawan Rukmawati mengerti dan segera meramu obat. Atas kemurahan Hyang Widhi, begitu obat dibalurkan ke mata Dewi Widati, mata Dewi Widati seketika sembuh dan ia bisa melihat lagi. Begawan Rukmawati lalu menceritakan segala apa yang dilihatnya dalam semedi. Awalnya Dewi Widati menyanggahnya, namun Begawan Rukmawati meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah dari para dewa. Maka kini yakinlah bahwa anak-anak muda yang bersama begawan Rukmawati itu adalah anak kandungnya yang hilang. Berlinanglah air mata Dewi Widati penuh haru dengan kedua putra-putrinya. Pertemuan ang sangat dirindukan. Begawan Rukmawati mengantar mereka bertiga kembali ke Gilingwesi untuk mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersembunyi

Menemukan Jalan Pulang

Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan sepasang gadis dan jejaka yang kelelahan.Begawan rukmawati segera menolong. Lalu Dewi Widati bertanya “anak manis, siapa namamu, nak?” “saya Satapi dan ini tunangan saya, Sadaskara. Saya putri Gusti Prabu Brahmasatapa.” “saya Sadaskara putra dari Resi Pujangkara, Pendeta negeri Gilingwesi.” Dewi Widati terkejut bahwa yang ditemui adalah putri tirinya. Maka ia mengenalkan diri “anakku kamu jangan takut. aku Widati, ibu tirimu dan dua anak muda-mudi yang bersamaku adalah kakak-kakakmu. Nama mereka Parikenan dan Srini.” Dewi Satapi terkejut karena baru kali ini ia bertemu ibu dan kakak-kakak tirinya, Ia dan tunangannya itu segera sungkem kepada sang ibu dan kedua kakak tirinya lalu bertanya “kanjeng ibu...kenapa aku tidak pernah tau tentang ini. Kanjeng ayahanda tidak pernah menceritakannya” “ceritanya panjang, anakku dan ini berkaitan dengan ibu kandungmu.” Dewi Widati lalu menceritakan semuanya. Dewi Satapi terkejut namun tidak heran karena ibu kandungnya sendiri kadang terlalu kasar padanya. Lalu Dewi Widati balik bertanya kenapa mereka terlihat kelelahan. Dewi Satapi bercerita bahawa ia diculik oleh raksasa hutan bernama Ditya Singasari dan tunangannya berniat merebutnya kembali namun ia dicurangi maka ia terdesak. mereka berhasil kabur tapi terus dikejar-kejar. Bambang Parikenan tergerak hatinya untuk membantu Arya Sadaskara menumpas raksasa itu. Arya Sadaskara merasa senang karena calon kakak iparnya itu mau membantu. Maka ia mendatangi Ditya Singasari. Tak perlu waktu lama, Ditya Singasari berhasil ada dihadapan mereka. “heyy...manusia...kau kemana kan calon mangsaku...berikan lagi padaku.” “aku tidak sudi menyerahkannya lagi padamu, raksasa bejat.” Marah Ditya Singasari dan ia hendak memukul Arya Sadaskara. Namun berhasil dihadang oleh Bambang Parikenan “heyy...denawa!! kalau ingin mendapatkan adikku, langkahi dulu mayat kami.”  Terjadilah pertarungan sengit antara Arya Sadaskara dan Bambang Parikenan melawan Ditya Singasari. Pertarungan saling sikut, saling terjang,dan saling pukul. Namun dalam waktu tak terlalu lama, Arya Sadaskara merapal aji Gelap Lindu maka bergetarlah tanah dan terperosoklah Ditya Singasari ke dalam lubang. Bambang Parikenan segera memanfaat keadaan dengan menghunus keris Bayu Salaksa. Keris pun menancap ke dada Ditya Singasari dan tewaslah ia. Dewi Satapi gembira karena tunangan dan kakaknya berhasil mengalahkan raksasa yang telah menculiknya. Maka mereka berenam segera meninggalkan hutan dan berangkat menuju kotaraja Gilingwesi.

Kembali ke Gilingwesi

Prabu Bramasatapa dihadap permaisurinya Dewi Rajatadi dan Resi Pujangkara. Mereka sedang kalut memikirkan nasib Dewi Satapi dan Arya Sadaskara yang menghilang entah kemana. Bahkan Dewi Rajatadi bersedih keterlaluan hingga menyinggung perasaan suaminya. Suaminya murka dan tak sengaja mengeluarkan supata “Dinda Rajatadi, sedihmu keterlaluan...air matamu itu seperti air mata buaya...” maka kutukan pun terjadi, Dewi Rajatadi berubah wujud menjadi buaya putih dan langsung menghilang entah kemana. Sang prabu pun terduduk semakin kepikiran. Lalu adatanglah kabar dari penjaga bahwa ada sepasang pemuda-pemudi membawa Arya Sadaskara dan Dewi Satapi disertai Dewi Widati dan Begawan Rukmawati.maka sang prabu langsung berdiri dan menuju keluar keraton. Sesampainya di luar keraton, Prabu brahmasatapa dengan sinis berkata “Dinda Widati...sungguh kau tidak tau malu kamu....kau telah kembali dengan membawa bala bantuan. Itu tak akan berhasil membuatku luluh. Pergi dari hadapanku!.” Dewi Widati lalu berkata “kanda prabu...aku kemari bukan untuk pembelaanku. Aku kesini untuk membawa putra-putri kita yang hilang. Mereka dibesarkan eyang begawan Rukmawati. Inilah mereka, Parikenan dan Srini. Mereka juga yang menyelamatkan negeri ini dari kemarau panjang juga nanda Satapi dan Sadaskara.” “benar, anak prabu...aku bersaksi demi langit dan bumi. Demi nama Hyang Widhi yang Maha Mengetahui,mereka ini putra anak prabu dan anak permaisuri Widati. Mereka dibuang oleh nanda permaisuri Rajatadi dahulu karena iri hatinya pada nanda Widati” tambah Begawan Rukmawati. Namun namun  Prabu Brahmasatapa tetap tak percaya malah menantang putrannya itu”aku tidak percaya..kalau dia putra-putri kita maka buktikanlah.” Dewi Widati semakin sedih dan sakit hati dengan kepongahan suaminya.

Batara Narada melerai pertengkaran Bambang Parikenan dengan ayahnya
Melihat ibunya sedih, Bambang Parikenan lalu menghadap dan menantang ayahnya itu “Gusti prabu! Pongah sekali perangaimu. Kepongahanmu menyundul angkasa, mirip jemawanya Prabu Hiranyakasipu. Aku menantangmu adu kekuatan.” Mendidihlah darah sang prabu dan langsung melayani anak muda itu bertarung. Maka terjadilah pertarungan antara ayah dan anak. Keduanya saling sikut, saling tinju, saling pukul dan saling hunus senjata. Kekuatan mereka sama setara. Karena tak ada yang menang ataupun kalah, maka mereka mengeluarkan senjata pamungkas mereka. Prabu Brahmasatapa mengeluarkan ajian panah Hanggeni Ratri dan Bambang Parikenan mengeluarkan ajian Surya Ratri.maka terjadilah gara-gara dimana-mana. Bumi kembali gonjang-ganjing, langit kolap-kalip. Hawa panas membakar menyebar ke seluruh negeri bahkan ke kahyangan. Lalu turunlah Batara Narada dari angkasa dan melerai pertarungan mereka “haduh...ngger anak prabu...hentikan tindakan bodohmu...jadi orang mbok ya jangan pongah.... dengarkan perkataan orang...benar apa yang dikatakan istrimu dan nanda Rukmawati, parikenan dan Srini ini anak kembarmu yang hilang....nanda Rajatadi yang menukar mereka dengan sepasang anjing waktu mereka lahir....mereka lalu diselamatkan nanda Rukmawati waktu dibuang dulu hingga sebesar ini dan kembali menolong negerimu dari kemarau juga Satapi dan tunangannya dari marabahaya...sudahlah ngger anak prabu...jangan menuruti ego...belajarlah juga untuk mendengarkan kata-kata dari orang lain.” Setelah berkata demikian, Batara Narada kembali ke kahyangan.

Sadarnya Prabu Gilingwesi

Prabu Brahmasatapa sadar bahwa ia terlalu menuruti egonya. Maka ia segera memeluk permaisuri pertamanya dan ketiga anaknya. Mereka kembali berbaikan dan membangun rumah tangga dari awal lagi. Beberapa tahun kemudian, Bambang Parikenan melangsungkan pernikahannya dengan Dewi Brahmaneki, adik Prabu Basupati yang kebetulan sebaya dengannya. Tak hanya itu, Dewi Srini dan Dewi Satapi melangsungkan pernikahan juga. Dewi Srini menikahi putra Prabu Srimahawan, Raden Sriwahnaya dan Dewi Satapi menikahi tunangannya, Arya Sadaskara.

*bunga kancing ungu/bunga kenop

Rabu, 09 Oktober 2019

Kisah Asmara dan Kutukan (Leluhur Pandawa dan Kurawa)


Salam sejahtera semua. Semoga pembaca diberi kelimpahan karunia dari Yang Maha Kuasa. kisah kali ini adalah kilas balik (flashback) yang menceritakan tentang leluhur keluarga para Pandawa dan Kurawa. Sumber yang penulis pakai adalah Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa bagian Adiparwa, kitab Mahabharata yang ditulis ulang oleh Nyoman S. Pendit, dan  Kitab Pustakaraja Purwa karya Ngabehi Ranggawarsita. Terdapat dua versi siapa leluhur Pandawa dan Kurawa. Pertama, menurut versi Kitab Mahabharata, leluhur Pandawa dan Kurawa adalah Prabu Yayati namun menurut Kitab Pustakaraja Purwa, leluhur mereka dalah Resi Manumayasa. Disini penulis mencoba menggabungkan kedua  versi dimana kelak salah satu cucu keturunan Prabu Yayati menikah dengan keturunan Resi Manumayasa.
Selama hidup mengasingkan diri dan melakukan tapa ngrame, Raden Permadi sering bertemu beberapa brahmana dan para pendeta. Namun kali ini yang datang sungguh istimewa karena yang datang adalah Maharesi Abiyasa, sang kakek yang jauh-jauh datang dari Saptaharga. Kedatangan sang kakek bagaikan air sewindu yang mengucur dari dalam kendi membasahi tubuhnya. Sejuk, dingin menyegarkan hatinya yang dilanda gundah. Di pertapaan milik Permadi, Maharesi Abiyasa dijamu dan dilayani benar oleh sang cucu. “ulun kakek Abiyasa, ada angin apakah sehingga kakek capek-capek datang kemari?” “begini, cucuku. Kedatangan ku kemari untuk menyampaikan bahwa tapa bratamu telah diterima para dewa. Apa yang telah kau lakukukan sudah menebus dosa-dosamu terutama pada cucu Prabu Palgunadi dan cucu Dewi Anggraini. Melihatmu seperti ini, aku jadi ingat kisah seorang anak muda yang merelakan kemudaannya demi cintanya pada sang bapak. Akan kuceritakan kisah leluhur wangsa kita, wangsa Yadawa dan wangsa Baharata.” Latar cerita berubah kembali ke zaman silam.
Kisah Maharesi Sukra, Sangkacha, dan Dewayani
“Pada zaman dahulu kala, saat itu raja yang berkuasa di Jawadwipa adalah Prabu Basupati, putra dari Basurata (Srinada), putra Batara Wisnu mendirikan kerajaan Wirata, Prabu Yayati, keturunan batara Brahma dari Begawan Atri yang menjadi raja Kandaparasta, dan Prabu Parikenan, anak sulung Prabu Tritusta, seorang raja percampuran trah Batara Wisnu dan Batara Brahma memimpin di negeri Gilingwesi. Sebagai keturunan dewa, mereka bersatu memimpin kemakmuran di Jawadwipa pada masa dulu. Meskipun demikian, mereka nyatanya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kahyangan dan di luar negara mereka. .
Jauh di atas puncak Mahameru, di Kahyangan Jonggring Saloka, ketegangan antara para dewa dan bangsa Yaksa (raksasa) yang ingin mendapat pengaruh di Marcapada tak terhindarkan. Perang antara para Dewa dan para Yaksa berkecamuk dimana-mana baik di kahyangan maupun di Marcapada. Keseimbangan di tiga dunia goyah dan puncaknya adalah negeri Gilingwesi akhirnya hancur menjadi bawahan Kandaparasta dan Wirata. Setelah mengungsikan ahli warisnya ke Wirata, Prabu Parikenan kemudian moksa dan menjadi salah satu dewa bergelar Batara Parikenan. Keturunan laki-lakinya, Raden Manumayasa memutuskan menjadi pendita di tujuh puncak suci bergelar Resi Manumayasa, sedangkan putrinya yaitu Dewi Kaniraras menikah dengan raja negara lain. Semua ini terjadi karena di pihak bangsa Yaksa ada Maharesi Sukra. Maharesi Sukra sebagai guru bangsa Yaksa sakti mandraguna, arif bijaksana, dan mampu membuat bangsa Yaksa tak terkalahkan.
Di bale-bale Sarilaya, Batara Narada mendatangi Batara Resi Wrehaspati, salah satu putra Semar untuk meminta pertimbangannya soal bangsa yaksa yang tak terkalahkan. Disamping putra Batara Guru yaitu Batara Ganesa yang kini menjadi pendiri perpustakaan kahyangan, Batara Resi Wrehaspati juga sangat bijak dan dijadikan guru beberapa dewa muda.”keponakanku, perang yang sudah tak berkesudahan ini telah merenggut banyak korban jiwa, baik itu manusia maupun para Yaksa sendiri. Bahkan negara Gilingwesi warisan Brahma hancur dan menjadi bawahan negara lain. Di pihak dewata, jua banyak korban luka. Walaupun kita dan para dewa lainnya sudah meminum dan bermandikan Tirta Amerta, namun tetap saja bangsa yaksa tidak dapat dikalahkan. Apa semua ini salah Adi Guru yang telah memberikan ajian gaib Sanjiwani kepada Sukra?” “tidak paman patih, Paman pukulun Batara Guru tidak salah. Dia hanya menjalankan perintah Sanghyang Widhi yang Maha Kuasa. Orang baik yang telah melayani-Nya selama seribu tahun pantas mendapat hadiah agung hanya saja keadaan saat ini yang tidak pas. Untuk masalah ini, Aku akan mengutus putraku Sangkacha untuk berguru pada sahabatku, Sukra.” Singkat cerita, Batara Resi Wrehaspati memanggil Batara Sangkacha untuk berguru pada Maharesi Sukra. Mendapat angin segar, Batara Sangkacha yang haus akan ilmu pengetahuan menuruti perintah ayahnya dan segera turun ke negeri Parwata, negara yang dipimpin Prabu Wresaparwa, tempat Maharesi Sukra tinggal.
Di pertapaan hutan Saraparwata, Maharesi Sukra sedang dibuat bingung dengan putrinya, Dewi Dewayani. Sudah dua hari tiga malam dia melamun, bersusah hati karena kepergian sang ibu, Dewi Jayanti kembali ke kahyangan. Berbagai macam penghiburan tak mampu membuat sang putri gembira ria. Di saat yang sama pula, datanglah Batara Sangkacha mengutarakan keinginannya “Guru, aku putra Wrehaspati, Sangkacha bersimpuh datang di hadapanmu. Izinkan aku menjadi muridmu.” Gayung pun bersambut. Maharesi Sukra yang bijak tak pernah menolak siapapun berguru padanya”baik, anakku. Kamu keturunan yang baik-baik. Ayah dan kakekmu adalah keturunan dewa agung. Aku menerimamu sebagai muridku. Dan ingatlah, anakku. Aku menerimamu sebagai tanda persahabatanku dengan ayahmu akan tetap abadi walau kami bersebrangan haluan.”
Maharesi Sukra merestui Sangkacha menjadi muridnya
Demikianlah, Batara Sangkacha diterima sebagai murid Maharesi Sukra. Semua tugas kewajiban yang diberikan oleh gurunya dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu tugasnya adalah menghibur Dewi Dewayani, putri sang guru. Sangkacha diperintahkan menghibur Dewayani dengan menyanyi, menari atau mengajaknya bermain. Lambat laun, Dewi Dewayani berhasil melupakan kesedihannya.
Waktu terus berjalan. Hubungan Dewayani dan Sangkacha semakin akrab dan dekat. Mereka tak lagi dekat sebagai kakak dan adik, namun hampir seperti seorang pria dan wanita dewasa yang dimabuk asmara. Benarlah kata orang tua dulu-dulu  Witing tresna jalaran saka kulina,” Lama kelamaan, Sangkacha tertarik kepada putri sang guru. Gayungpun sama-sama bersambut, Dewayani diam-diam juga jatuh cinta pada Sangkacha. Namun, Sangkacha sadar bahwa dia sudah mengambil sumpah sebagai brahmacarin mengikuti jalan hidup Batara Togog (Antaga), kakak Batara Semar. Larangan keras baginya memiliki perasaan suka pada lawan jenis apalagi keinginan untuk berkahwin. Itu sudah jatuh pantangannya. Di lain pihak, para Yaksa murid Maharesi Sukra merasa curiga dan cemas, jangan-jangan Sangkacha tidak tulus berguru dan hanya ingin memenuhi permintaan para dewa. Karena kecurigaan mereka sudah di luar batas wajar, mereka sepakat untuk melenyapkan Sangkacha.
Seperti biasanya, Sangkacha menggembalakan ternak-ternak sang guru di padang rumput selesai menerima pelajaran. Saat itu, Sangkacha sedang lelap tertidur di bawah pohon. Di saat yang sama pula, para yaksa membekap mulut Sangkacha lalu menusukkan pedang ke dadanya. Setelah Sangkacha tewas, jenazahnya dicincang habis lalu dibiarkan menjadi makanan serigala. Sore harinya, ternak-ternak Maharesi Sukra pulang ke kandang tanpa Sangkacha. Dewi Dewayani menjadi cemas “ayah, ternak-ternak kita pulang tanpa kakang Sangkacha. Hari sudah petang. Waktu sembahyang kita sudah hampir. Aku khawatir dia kenapa-napa. Ayah, tolonglah kakang Sangkacha. Aku cinta padanya.” Permintaan sang putri satu-satunya dikabulkan. Maharesi Sukra segera menjapa aji Pameling. Berkat aji Pameling itu, sang maharesi tahu kalau Sangkacha telah tewas dan akan menjadi makanan serigala. Karena itu, untuk menghidupkan kembali dan memanggil pemuda itu, ia menjapa mantra ajian Gaib Sanjiwani. Seketika kemudian, Sangkacha hidup kembali dan langsung berada di antara mereka dengan wajah yang sumringah. Dewayani bertanya kenapa terlambat pulang. Sangkacha menjelaskan bahwa ada beberapa kaum yaksa yang membekap dan membunuhnya saat menggembala. Namun bagaimana dia bisa hidup lagi dia tak tahu.
Para yaksa kecewa melihat Sangkacha hidup kembali. Tapi itu tidak mengendurkan keinginan mereka untuk melenyapkan putra Wrehaspati itu. Hingga pada suatu hari, angin bertiup cukup kencang di pertapaan Saraparwata. Angin itu membawa terbang sekuntum bunga dari hutan dan bunga itu jatuh di pangkuan Dewi Dewayani. “kakang Sangkacha, lihatlah bunga ini. Cantik, harum, dan merona warnanya. Tolong carikanlah bunga ini di hutan kalau bisa pohonnya sekalian. Akan kutanam di bale-bale sebagai penghias pertapaan.” Sangkacha menuruti putri sang guru dan mencari bunga itu. para Yaksa yang tahu bahwa Sangkacha ke hutan mencari bunga melihat kesempatan untuk kembali melenyapkan Sangkacha. Diam-diam mereka membuntuti Sangkacha lalu di saat yang tepat mereka menyergap Sangkacha. Sangkacha yang kekuatan dewanya disegel sang ayah tak bisa melawan lalu dibunuh dan jenazahnya dicincang habis kemudian dibakar dan dibiarkan diterbangkan angin hingga jatuh di sungai.
Berhari-hari Dewi Dewayani menunggu Sangkacha namun sang pujaan hati tak kunjung pulang. Akhirnya sang dewi mengadu pada sang ayah. Sekali lagi, Maharesi Sukra menggunakan ajian Gaib Sanjiwani dan memanggil Sangkacha. Pemuda itu kembali hidup. Para Yaksa semakin kesal dan geram mendapati Sangkacha kembali hidup. Ketika ada kesempatan, mereka membunuh Sangkacha untuk ketiga kalinya. Kali ini mereka sangat cerdik. Setelah membakar jenazah Sangkacha, abu Sangkacha dicampurkan ke dalam tuak nira berkadar rendah yang mereka persembahkan kepada Maharesi Sukra. Tanpa curiga, Maharesi Sukra meminum tuak nira yang manis itu. Petang harinya, ternak-ternak yang digembalakan Sangkacha pulang sendiri. Dewi Dewayani menjdi khawatir dan risau, takut kalau Sangkacha kembali dicelakai para Yaksa. Sekali lagi, Dewi Dewayani menghadap sambil menangis, memohon agar sang ayah menggunakan ajian Gaib Sanjiwani. “Ayah, ternak-ternak kita pulang tanpa Sangkacha. Hatiku yang serapuh kapas di ujung ranting ini tak sanggup kehilangan kakang Sangkacha lagi. Kakang Sangkacha, cucu Semar dan putra paman Wrehaspati adalah pemuda yang tak tahu apa-apa. Dia cuma pemuda belia yang haus akan ilmu pengetahuan. Dia sudah menyerahkan dirinya pada ayah. Aku mohon, ayah. gunakanlah mantra ajian Gaib Sanjiwani sekali lagi.” Maharesi Sukra masih tak bergeming. Sampai pada akhirnya, Dewi Dewayani mulai berpuasa, tak makan dan tak minum selam tujuh hari tujuh malam. Badannya yang semula sintal menjadi kurus kering. Mukanya yang cerah menjadi kisut dan layu.
Maharesi Sukra tak tega melihat putri satu-satunya berduka. Dia marah pada para Yaksa yang tega membunuh seorang brahmacarin yang masih belia itu. Pembunuhan terhadap para pendeta dan resi terutama brahmacarin adalah dosa terkutuk. Kelak mereka akan dibalas dengan siksaan kekal yang setimpal. Sekali lagi, Maharesi Sukra menjapa mantra ajian Gaib Sanjiwani. Sekali lagi, Sangkacha hidup kembali dari tuak nira namun dia berada di tempat yang gelap dan basah. “guru, aku ada dimana ini? Tempat ini gelap, basah dan berlekuk-lekuk.” Maharesi Sukra terkejut dengan kata-kata Sangkacha dan mendapati perutnya tiba-tiba membesar. Maharesi itu terkejut “Hai Sangkacha, bagaimana bisa kamu bisa dalam tubuhku? Apakah karena ulah para Yaksa? Sungguh terlalu mereka telah menipu aku dengan tuak nira. Ingin kubunuh saja mereka namun sebelum itu ceritakan apa yang sebenarnya yang terjadi,” Sangkacha kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Maharesi Sukra menyahut, “Kini aku, maharesi Sukra yang konon katanya luhur budi dan suci, arif bijaksana telah ditipu oleh minuman tuak nira yang memabukkan. Karena itu, demi kebaikan manusia dan semua makhluk-Nya, ku peringatkan, siapapun yang menenggak anggur, tuak, arak dan segala minuman memabukkan dengan tak bijaksana, maka kesucian dan keluhuran budi akan meninggalkannya. Dosa akan menyelimuti dirinya. Itulah peringatanku dan kelak akan termaktub dalam kitab-kitab suci sebagai suatu larangan yang tak boleh dilanggar.” Kini maharesi itu memandang sang putri sambil berkata “putriku, kini pilihan ada di tanganmu. Jika kau ingin Sangkacha hidup, relakanlah aku. Dia harus keluar dari tubuhku dan itu artinya aku yang harus mati. Sangkacha hanya bisa hidup di atas kematianku.”
Dewi Dewayani yang mendapati perut sang ayah membesar menyadari bahwa Sangkacha kini berada dalam perut ayahnya akibat ulah para Yaksa. Dan kini dia dihadapkan dua pilihan yang mustahil itu. Dewi Dewayani hanya bisa menangis tersedu-sedan tak bisa memilih. “aduh Jagat Dewa Batara, hyang Jagat Pramudita, ohh Sanghyang Widhi yang Maha Kuasa. Ayah dan kakang Sangkacha adalah dua permata bagiku. Tak sanggup bagiku kehilangan salah satu dari kalian.”
Sembari mencari jalan keluar, Maharesi Sukra berkata pada Sangkacha “anakku, Sangkacha. Kini aku tahu apa penyebab kamu berguru padaku. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Satu-satunya jalan yaitu aku harus mengajarkan ajian gaib Sanjiwani kepadamu, anakku. Akan ku ajarkan ajian itu. Tapi kamu harus janji setelah keluar dariku, kamu harus menggunakannya untuk menghidupkanku lagi.” Sangkacha berjanji bahkan bersumpah akan menghidupkan kembali sang guru. Begitulah, Maharesi Sukra kemudian mewejangkan ajian Gaib Sanjiwani kepada Sangkacha. Sangkacha yang cerdas langsung paham dan menyatakan siap keluar dari tubuh sang guru. Sejenak kenudian, Maharesi Sukra mengambil sebilah keris lalu dia menusuk dan merobek perutnya dengan keris itu. Seketika itu juga, Sangkacha keluar dari dalam perut sang guru, sementara sang Maharesi Sukra langsung rubuh, wafat dengan luka besar menganga di perutnya. Dewi Dewayani menangis terisak-isak melihat kondisi sang ayah yang begitu mengenaskan. Sangkacha menepati sumpahnya. Dia kemudian bersimpuh dan memerciki sang guru dengan air Tirta Amerta yang dibawanya dari kahyangan Jonggring Saloka lalu menjapa mantra ajian Gaib Sanjiwani. Sangkacha berkata sambil menahan tangis, “Guruku yang telah ikhlas dan tulus memberikan ilmu pada muridnya bagaikan cinta seorang ayah pada putra-putrinya. Karena aku keluar dari tubuhmu, maka guru juga ayah kandungku.” Seketika kemudian, luka yang menganga di perut Maharesi Sukra langsung tertutup tanpa bekas dan maharesi Sukra terbangun kembali dari kematian. Dewayani dan Sangkacha kemudian memeluk sang Maharesi lalu Maharesi Sukra mengajak mereka untuk bersyukur kepada Sanghyang Widhi yang Maha Pemurah.
Setelah peristiwa itu, Sangkacha tetap menjadi murid sang guru selama bertahun-tahun. Sampai pada saatnya dia harus kembali ke alam kahyangan. Maharesi Sukra mengizinkan sang murid budiman pergi, kembali ke alam kahyangan. Namun tidak bagi Dewayani, hati Dewayani yang sudah terpaut cinta tak sanggup melepas Sangkacha. Di saat itu pula, Dewi Dewayani mengajak Sangkacha ke suatu tempat lalu tibalah mereka di padang rumput yang indah, sunyi dan penuh dengan bunga-bunga indah berwarna-warni.
Sangkacha kembali ke kahyangan
Di hadapan Sangkacha, Dewayani mengutarakan perasaannya selama ini “ kakang Sangkacha, cucu Semar. Telah lama merendam selasih, baru kini mengambang jua. Telah lama ku pendam kasih, baru kini ku utarakan jua. Aku putri Sukra, telah terpaut kasih dan cinta padamu. Kakang jangan pergi. Nikahilah aku dan berbahagialah kita di sini. Hidupku kosong hampa bagaikan lumbung tanpa padi bila tiada kau.” “adhi Dewayani, aku hargai ketulusan dan cinta mu. Aku pun sama jatuh cinta padamu namun cinta tak harus memiliki. Aku sudah bersumpah menjadi Brahmacarin mengikuti eyang batara Antaga dan lagipula aku telah lahir kembali dari tubuh ayahmu seperti halnya lahirnya Citragupta Sang Suratma dari tubuh Batara Brahma. Kini kita adalah saudara kandung. Tak pantas putri seorang pendita linuwih sepertimu menikahi saudara kandungnya.” Dewi Dewayani menjadi berang lalu berkata “kau putra Batara Wrehaspati yang patut kuhormati dan bukan anak ayahku. Aku yang menyebabkan kau bisa hidup kembali, karena aku mencintaimu dan mengharapkan engkau menjadi suamiku. Tidak pantas engkau meninggalkan aku yang tidak berdosa ini tanpa memberiku kesempatan untuk mengabdi kepadamu.” Sangkacha menjawab dengan lembut “ aduh, putri Mahaguru Sukra. Jangan mencoba membujukku untuk melakukan pantangan itu. kau sudah cantik jelita dan sekarang kau sedang marah begini jadi semakin ayu. Tapi aku tetap saudara kandungmu. Abdikanlah hidupmu untuk melakukan kebaikan di bawah bimbingan ayah. Relakanlah aku pergi menghadap ke pada bapakku Batara Wrehaspati. “ Dewayani yang marah sekali melontarkan kutuk pasu “Sangkacha, kau telah mengecewakan aku. Aku mengutukmu agar ilmu yang kau pakai tidak akan berguna pada dirimu.” Batara Sangkacha yang telah mendapatkan kembali kekuatan dewanya berkata “meskipun ilmu yang ku pakai tak akan berguna padaku, namun akan tetap berguna bila aku memberikan dan menularkannya pada orang lain.” Kemudian Batara Sangkacha terbang kembali ke kahyangan. Dewi Dewayani merasa sakit tak terperi lalu mendengar suara dari angkasa “Aku Sangkacha, seorang brahamacarin dan putra Wrehaspati telah dikutuk oleh Dewayani, seorang wanita luhur. Maka aku pun lontarkan kutuk pasu padamu. Keinginan untuk memiliki tanpa mau merelakan akan membuatmu sengsara. Kelak kau akan dikecewakan oleh sahabatmu sendiri lalu kau akan diselingkuhi dan dimadu olehnya. Di saat itu hatimu yang perih akan hancur lebur” Hati Dewayani semakin terasa perih tak tertahankan.
Kisah Dewayani, Sarmista, dan Yayati
Lambat laun, Dewayani mulai melupakan kutuk pasu dari Sangkacha. Dia mulai menjalani kehidupan dengan biasa. Sampai pada suatu hari, dia bersama Dewi Sarmista, sahabatnya, putri tunggal Prabu Wresaparwa raja negeri Parwata mandi di telaga bersama dayang-dayangnya. Awalnya mereka bergembira. Namun tiba-tiba, angin puting beliung datang berembus kencang menerbangkan kain selendang mereka hingga menjadi bertumpuk-tumpuk. Setelah mandi dan berpakaian, ternyata terjadi kekeliruan. Selendang milik milik Dewi Dewayani dikenakan Dewi Sarmista, terjadi lah peristiwa rebutan selendang “ alangkah tak sopannya putri seorang murid memakai selendang milik putri sang guru. Sarmista kembalikan selendangku!” Dewi Sarmista merasa tersinggung dengan kata-kata Dewi Dewayani lalu berkata “lancang kau .apa kau tidak sadar Dewayani, ayahmu selalu meminta belas kasih dari ayahku. Sadar dirilah kau, putri pengemis” Dewi Sarmista kemudian mendorong Dewi Dewayani ke dalam sebuah luweng besar lalu meninggalkannya sendiri.
Dewi Dewayani menjadi sedih. Kutuk pasu Sangkacha yang pertama telah terjadi. Dia telah dikecewakan sahabat sendiri. Dewi Dewayani cemas dan takut karena tak bisa keluar dari luweng besar itu lalu berteriak minta tolong. Kebetulan, datanglah Prabu Yayati, raja Kandaparasta yang kebetulan sedang berburu di hutan dekat dengan tempat Dewayani jatuh. Dia turun dari kudanya dan melihat ke dalam luweng besar itu seorang wanita cantik di dalamnya “siapa kamu, ni sanak? Aku Yayati dari Kandaparasta. Bagaimana bisa kau berada di dalam luweng ini?” Prabu Yayati kemudian mengambil tali tmbang lalu melemparkannya kedalam luweng. Dewi Dewayani sambil meraih tali itu berkata “ Aku Dewayani, putri Maharesi Sukra dari negeri Parwata. Tolong bantu aku.” Setelah memanjat tali itu, Dewi Dewayani meraih tangan Prabu Yayati. Begitu bertatap mata, Dewi Dewayani teringat pada Sangkacha, sang kekasih. Wajah Prabu Yayati yang tampan dan berperawakan gagah mirip seperti Sangkacha membuat sang dewi jatuh cinta lagipada sang raja muda. Dewayani tidak ingin kembali ke kotaraja kerajaan Parwata. Ia merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi, lebih-lebih jika ia ingat perbuatan Sarmista. Karena itu, ia berkata kepada Yayati, “Kau telah memegang tangan kanan seorang putri, berarti engkau harus menikahinya. Aku yakin, dalam segala hal kau pantas menjadi suamiku.” “tunggu dulu, ni sanak. Kau putri seorang pendita, seorang Brahmana dan aku seorang raja ksatria. Kastamu lebih luhur dari kastaku. Apa kata dunia nanti jika kita menikah. Apa mungkin putri Maharesi Sukra yang agung dan setara sang Wrehaspati menjadi istri seorang ksatria sepertiku. Ibarat sebuah kembang putih, tak pantas bagimu mendapatkan lebah tanah sepertiku. Kembalilah ke Parwata, Dewayani”  setelah berkata demikian, Prabu Yayati kembali ke Kandaparasta.
Sepeninggal Prabu Yayati, Dewi Dewayani memutuskan tinggal di hutan yang jauh dari kotaraja Parwata. Dia memilih bertapa di dalam batang pohon yang berlubang. Setiap hari dia duduk bersemedi, bertapa brata merenungi nasibnya yang selalu gagal dengan urusan asmara. Akibat tapa bratanya itu, seluruh marcapada dan kahyangan Jonggring Saloka berguncang hebat. Kawah Candradimuka bergolak memuntahkan lahar panas dan menyelimutkan awan panas di sekitar puncak Mahameru. Para bidadari, bidadara, dan para dewa menjadi kepanasan. Batara Guru segera memerintahkan Batara Indra mendatangi Maharesi Sukra untuk membujuk sang putri agar berhenti bertapa brata.
Batara Indra datang ke pertapaan Saraparwata dan mengabarkan pada Maharesi Sukra “ampun Maharesi yang agung. Ramanda pukulun Batara Guru memerintahkan hamba untuk mengabarkan putri Maharesi, Dewayani bertapa brata sangat kuat hingga membuat kahyangan bergoncang hebat.” Maharesi Sukra menjadi semakin sedih mendengar kenyataan itu. sang putri yang tak balik-balik ke pertapaan kini membuat kahyangan menjadi kerepotan. Dia meminta maaf kepada Batara Indra lalu segera pergi menyusul sang putri. Sesampainya di tempat sang putri tercinta, dia mendapati Dewayani nampak menyedihkan. Kantung matanya gelap dan sayu karena lama menangis. Wajahnya keruh kisut karena marah dan kecewa. Badannya yang berisi kembali kurus kering karena banyak pikiran. Segala kekalutan, kemarahan, kekecewaan, dan kegalauan menyelimuti hatinya. Auranya begitu kelam. Maharesi Sukra kemudian menghibur sang putri kesayangan “Anakku sayang, kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang merupakan akibat dari perbuatannya sendiri. Kalau kita bijaksana, kebajikan atau kejahatan orang lain tidak akan mempengaruhi kita.” Dewayani bukannya bangun dari tapa bratanya malah semakin jumawa meneruskan laku tapanya. Alam semakin bergejolak. Tanah mulai bergegar dan terbelah. Angin taufan berembus kencang, hujan turun sangat lebatnya dengan kilat dan halilintar yang mengerikan. Bumi gonjang-ganjing, langit kolap-kalip. Hutan tempat Dewi Dewayani bertapa dilanda banjir dahsyat. Maharesi Sukra menjadi semakin khawatir lalu berkata “ anakku, jangan teruskan. Alam akan murka balik pada kita. Ceritakanlah apa masalahmu padaku. Jangan lampiaskan dengan menyengsarakan makhluk-Nya.” Hati Dewayani pun luluh dan dia segera menghentikan tapa bratanya. Seketika alam kembali tenang. Kemudian Dewi Dewayani menangis dan menceritakan segala yang dialaminya, mulai dari dihinakan Dewi Sarmista hingga ditolong oleh Prabu Yayati dari luweng. Dengan tenang, Maharesi Sukra meyakinkan sang putri “putriku, semua hal di Marcapada ini ujian. segala pujian,olok-olok, dan caci maki juga merupakan bentuk ujian hidup. Sungguh mulia orang yang bisa belajar dan memaafkan segala caci maki. Ibarat seorang sais kereta yang berhasil menaklukan dan mengendalikan kuda-kudanya yang liar. Telah banyak kitab-kitab suci mengatakan bahwa orang yang kuat bukanlah seorng petarung namun orang yang mampu menahan amarahnya, melepaskan egonya dan memaafkan kesalahan dengan tulus ikhlas. Orang yang mampu menahan amarah dan ego lebih mulia derajatnya dibandingkan orang saleh yang beribadah seribu tahun. Kesalehan, kebaikan, teman, keluarga, pelayan, dan kebenaran akan menjauhi sesiapa yang tak mampu menahan nafsu amarahnya.” Dewi Dewayani kemudian memeluk sang ayahanda “Ayah, diriku ini masih terlalu muda untuk paham apa yang ayah ucapkan. Namun yang aku tahu, sungguh tiada pantas bagiku hidup bersama orang-orang yang tidak mengenal unggah-ungguh. Putri gusti Prabu Wresaparwa, Sarmista telah kehilangan unggah-ungguhnya dengan mengambil selendangku lalu mencampakkan aku ke dalam luweng. Aku sangat marah dan kecewa padanya. Segores luka di badan masih bisa sembuh dengan obat dan jamu, namun luka di kalbu ini karena kata-kata cacian Sarmista tak akan bisa sembuh walau telah berlalu seribu tahun, ayah.” Gagal membawa pulang sang putri, Maharesi Sukra mendatangi Prabu Wresaparwa.
Prabu Wresaparwa, raja negeri Parwata, meskipun sang raja berparas Yaksa yang berwajah sangar, dia adalah raja yang saleh, berbudi, dan arif bijaksana. Dia tak pernah membeda-bedakan rakyatnya baik dari bangsa manusia biasa maupun bangsa Yaksa. Hukum di sana dtegakkan dengan adil. Dia dikarunia lima orang putra dan satu orang putri, yaitu Sarmista. Kelima putranya yang berparas Yaksa sangat berbudi, baik perangainya, tenang pembawaannya, dan teguh pendirian tapi berbeda dengan Dewi Sarmista yang berparas bak bidadari, kelakuannya begitu manja dan genit. Walaupun dia putri yang baik, kata-kata yang diucapkannya ceplas-ceplos tak jarang membuat siapapun sakit hati. Sang prabu yang kedatangan Maharesi Sukra segera membri hormat berikut para putra-putri, petinggi, patih dan para menteri. Maharesi Sukra kemudian berkata “ Anak prabu Wresaparwa, sebuah dosa tidak akan menghancurkan manusia seketika namun lambat laun dapat menghancurkan hubungan antar sesama makhluk Tuhan. Sangkacha, putra sahabatku, Batara Wrehaspati sudah bersumpah brahmacarin dan tak akan berlaku serong. Beberapa rakyat anak prabu telah beberapa kali berusaha melenyapkannya namun selalu berhasil kuhidupkan kembali dia. Kini putri anak prabu, Dewi Sarmista telah kehilangan unggah-ungguhnya dengan menghina putri kesayanganku, Dewayani hingga dia jatuh terjerembab ke dalam luweng di tengah hutan. Sekarang dia tak mau kembali ke Parwata dan tapa bratanya telah dirasakan bukan hanya di negeri ini tapi juga sampai ke Jonggring Saloka. Karena dia tak mau balik ke Parwata, aku akan pergi dari negerimu, anak Prabu.”
Mendengar hal itu, Prabu Wresaparwa menjadi khawatir. Dengan perginya Maharesi Sukra, negeri Parwata akan hancur. Lalu dia berkata, “Ampun, bapa Maharesi. Aku tak mengerti mengapa anda melontarkan tuduhan seperti itu. seperti kata pepatah tua, ‘Anak polah, Bapa kepradah,’ hamba bersedia menanggung kutuk dan derita apa yang akan ditimpakan nimas ayu Dewayani pada hamba.” “Hmm...baiklah, anak prabu. Kau kuizinkan untuk membujuk dan menenangkan putriku.” Maka pergilah Prabu Wresaparwa bersama putrinya, Dewi Sarmista untuk melunakkan hati batu Dewi Dewayani. Sesampainya disana, Prabu Wresaparwa dan Dewi Sarmista berlutut dan memohon agar Dewayani tidak meninggalkan negeri Parwata. Namun Dewi Dewayani justru memasang wajah kecut dan berkata, “Sarmista, sahabatku. Dia yang dekat di hatiku telah mengata-ngataiku anak pengemis. Dia harus merasakan bagaimana rasanya menjadi orang hina dan dia harus menjadi dayang-dayangku di rumahku sampai hari pernikahanku nanti. Baru setelah itu dan setelah itu, dia bisa kembali menjadi seorang putri terhormat.” Prabu Wresaparwa menerima tuntutan itu.
Dewi Sarmista menjadi dayang-dayang Dewi Dewayani
Dewi Sarmista yang telah insaf dan tobat dari kesalahannya seketika itu juga segera berganti pakaian. Bukan lagi sebagai putri raja gung binantoro yang terhormat, melainkan sebagai dayang-dayang hina papa, “Dewayani, maafkan kesalahanku. Aku terlalu picik sampai tak menyadari kau adalah putri pendita agung yang harusnya kuhormati. Negeri ayahku tak pantas kehilangan Maharesi kebanggaannya dan inilah balasan atas kesalahanku.” Dewi Dewayani hatinya luluh dan memaafkan kesalahan Dewi Sarmista.
Selama menjadi dayang-dayang, Dewi Sarmista melayani Dewi Dewayani dengan baik dan begitu sebaliknya, dia juga begitu disayang oleh Dewayani dan Maharesi Sukra. Pada suatu hari, Dewi Dewayani kembali bertemu dengan Prabu Yayati. Dia mengulang kembali permintaannya, minta dinikahi sang Prabu dari Kandaparasta itu. Prabu Yayati menolak. Katanya, sebagai ksatria ia tidak dibenarkan mengawini seorang wanita berkasta brahmana. Memang kitab-kitab Sastra tidak membenarkan hal itu, tetapi sekali perkawinan seperti itu terjadi, tak ada yang boleh membatalkannya dan perkawinan itu sah. Singkat cerita, pada akhirnya, setelah mendapat restu dari Maharesi Sukra, Prabu Yayati bersedia menikahi Dewayani dengan syarat Dewayani tak boleh dimadu orang lain. Mereka hidup berbahagia bertahun-tahun lamanya. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang putra, Raden Yadu dan Raden Turwasu.
Kutuk Pasu Maharesi Sukra
Meskipun masa hukuman Dewi Sarmista telah berakhir dia masih betah mengikuti kemanapun Dewi Dewayani tinggal. Diam-diam dia telah jatuh cinta pada Prabu Yayati. Hingga pada suatu malam, perasaan cintanya tak bisa disembunyikan lagi. Malam itu, Dewi Sarmista bertemu Prabu Yayati yang kebetulan sedang sendirian di tamansari. Dia mendatangi sang prabu sambil merangkulnya dengan genit dan manis manja “ampun gusti prabu, hati yang terpaut asmara tak bisa di lepaskan. Aku jatuh cinta pada gusti. Izinkanlah aku menjadi istri permaisurimu. Kalau tidak berkenan, jadikan selir bahkan selingkuhan juga tak mengapa.” “Aduhai, genit dan manjanya dirimu. Kau ternyata bahkan lebih menggairahkanku, dewiku. Dewayani tak ada apapun bila dibandingkan dengan dirimu. Baiklah aku akan menikahimu secara gandarwa dan diam-diam.” Karena kegenitan Sarmista dan Prabu Yayati yang mulai bosan dengan Dewayani, mereka pun menikah diam-diam. Dari pernikahan itu, Dewi Sarmista dikaruniai tiga orang putra, Raden Drahyu, Raden Hanu, dan Raden Puru.
Awalnya perselingkuhan itu tak terendus dan sangat rapi disembunyikan oleh Prabu Yayati selama bertahun-tahun, namun sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan tercium pula busuknya. Itu juga berlaku dengan perselingkuhan itu. Pada suatu hari yang cerah, Dewi Dewayani pergi mengunjungi sang ayah. Di tengah jalan dia dikepung tiga orang pemuda bertopeng. Karena mempelajari ilmu beladiri dari sang ayah , Dewi Dewayani mampu mengalahkan tiga orang pemuda dan membuka topeng mereka. Dia terkejut melihat ketiga pemuda itu. Wajah mereka tampan rupawan dan berwibawa mirip dengan Prabu Yayati, sang suami. Lalu mereka ditanyai “siapa kalian, anak-anak muda? Melihat wajah kalian, kalian mirip sekali dengan suamiku. Katakan siapa orang tua kalian?.” “ampun gusti kanjeng ratu permaisuri, nama hamba Puru dan ini kakak-kakak saya, Drahyu dan Hanu. Kami putra kanjeng ibu Sarmista, putri negeri Parwata. Ayah kami adalah seorang pengembara bernama Yayati.” Terkejut sekali dengan penuturan mereka, namun dia mencoba untuk tetap tenang. Dewi Dewayani segera memerintahkan tiga pemuda itu untuk tinggal di keraton Kandaparasta “Anak-anakku, aku Dewayani, ibu tiri kalian. Ayah kalian adalah raja di Kandaparasta. bergabunglah bersama putra-putraku di sana. Mereka juga saudara kalian. Tuan sais, antarkan mereka ke Kandaparasta. beritahukan pada Yadu dan Turwasu bahwa mereka adalah saudara seayah.” Tanpa banyak bicara, sang sais mempersilakan tiga putra Yayati itu dengan sopan lalu mereka kembali ke Kandaparasta. Sepeninggal mereka, Dewi Dewayani tak henti-hentinya menangis sepanjang jalan menuju negeri Parwata. Kutuk pasu kedua dari Sangkacha telah berlaku. Sang dewi telah diselingkuhi dan dimadu oleh sahabatnya sendiri. Hatinya yang baru mengecapkan bahagia kini kembali hancur ke dalam kepahitan yang tak terperi.
Sesampainya di pertapaan sang ayah, dia mendapati ayahnya sedang bersama sang suami. Mereka terkejut melihat Dewi Dewayani datang dengan wajah sedih dan menangis terisak-isak.. Prabu Yayati hendak memeluk sang permaisuri namun ditampik oleh permaisurinya itu. Maharesi Sukra kemudian bertanya pada sang putri. Dewi dewayani kemudian bercerita “Ayah, kau lihat menantu kesayanganmu ini. Bahkan seekor ayam betinapun tak akan rela bila sang jantan bersama betina lain. Aku telah diselingkuhi dan dimadu oleh Sarmista, putri Wresaparwa, sahabatku sendiri. Buktinya ada. Kini ketiga putra hasil perselingkuhan mereka ada di Kandaparasta. “ Maharesi Sukra menjadi berang, murkanya sudah tak tertahankan lagi. Matanya merah karena marah. Pipi dan telinganya juga merah padam. Giginya bergemeretak. Auranya berubah menjadi merah semerah darah. Aura itu membuat negeri Parwata dilanda huru-hara. Seisi negeri Parwata dilanda banjir dahsyat dan hancur berkeping-keping saking begitu dahsyatnya aura kemurkaan sang pendita agung. Lalu Maharesi Sukra melontarkan kutuk pasu pada sang menantu  “anak Prabu Yayati, kau sudah menduakan hati putriku. Kini dia sakit hatinya tak terperi. Kau telah kehilangan segalanya. Segala wibawa, kesaktian, kehormatan, kemegahan, keperkasaan bahkan keremajaanmu telah hilang musnah dari hadapanku! Semua itu sudah sirna ilang kertaning bumi bersama perselingkuhanmu!” Bukan main hebatnya kutuk pasu yang terlontar dari mulut Maharesi Sukra. Bumi gonjang-ganjing, langit kolap-kalip.
Prabu Yayati mendapatkan kutuk pasu
Seketika itu juga rambut Prabu Yayati menjadi putih beruban. Tubuhnya yang gagah menjadi lemah dan jompo. Kulitnya yang mulus menjadi keriput bergelambir. Prabu Yayati telah terkutuk menjadi seorang kakek-kakek tua bangka bau tanah sebelum waktunya. Prabu Yayati menerima kutuk pasu itu dan menangis sejadinya memohon agar kutuk itu dicabut namun apa yang dikatakan Maharesi Sukra sungguh membuatnya hilang semangat “anak prabu, kutuk pasu yang dilontarkan seorang resi adalah keniscayaan. Sebab sabdo pandita ratu, sabdo resi tan keno wola-wali. Aku tak bisa mencabut kutuk-ku kecuali ada seseorang yang sukarela menukarkan keremajaannya dengan ketuaanmu.”

Prabu Yayati Ingin Muda Kembali
Prabu Yayati memang masih belum puas dengan gairah masa mudanya. Dia ingin menukar wajah tuanya dengan wajah muda seseorang. Akhirnya dipanggillah kelima putranya ke balairung keraton. Lalu berkatalah ia dengan lembut “putra-putraku, aku telah mendapat kutuk pasu dari Maharesi Sukra, kakek kalian. Aku berubah menjadi orang tua lemah dan renta sebelum masanya. Padahal aku masih ingin menikmati kegairahan masa muda dan mengecap kenikmatan duniawi. Ketahuilah, para putraku, sejak muda aku hidup dengan mengekang hawa nafsu, menolak semua kesenangan duniawi walaupun kesenangan itu wajar dan tidak melanggar aturan kitab-kitab suci. Setelah menikah, belum lama mengecap kebahagiaan, tahu-tahu aku menjadi jompo dan renta. Sebab itu, salah seorang dari engkau hendaknya membantuku memikul beban azabku, mengambil ketuaanku dan memberikan kemudaanmu padaku. Siapa di antara kamu yang bersedia menolongku akan kuangkat menjadi raja negeri ini.”  Pertama-tama dia bertanya pada Raden Yadu, sang putra sulung. Raden Yadu kemudian berkata dengan lembut “duh, ayahanda Prabu. Seluruh dayang-dayang dan pacarku bisa terkejut dan menertawaiku bila aku menjadi tua renta di usiaku yang muda ini. Aku tak sanggup memikul bebanmu, ayahanda. Coba tanyai adik-adik. Mungkin salah seorang dari mereka mau.”
Prabu Yayati kemudian bertanya pada Raden Turwasu lalu Raden Turwasu menolak dengan halus “ Ayahanda Prabu, Jikalau saya menjadi tua berarti keamanan dan kekuatan negara ini juga di ujung tanduk. Siapa yang akan menjaga negara sementara salah satu panglima perangnya menjadi tua jompo.” Prabu Yayati walau kesal dengan penolakan Turwasu, tapi masih menerima alasan penolakan itu. Lalu dia bertanya pada Raden Drahyu, putra ketiga. Lalu Raden Drahyu berkata ”mohon ampun Ayahanda Prabu, jikalau saya menjadi tua bicara jadi gemetar, naik gajah atau berkuda juga susah. Saya tak sanggup menanggung ketuaan itu sebelum masanya.” Prabu Yayati mulai tak sabar dengan penolakan itu namun ditahannya lalu dia mendekati Raden Hanu dan bertanya, “Hanu, putraku. Mahukah kamu menukarkan kemudaanmu dan menggantikan aku menanggung azabku ini?” “Duh ayahanda Prabu, yang aku tahu orang tua tak akan bisa mandiri lagi. Bahkan untuk buang air saja harus dibantu. Aku terpaksa juga harus meminta bantuan orang lain. Aku tak sanggup menjadi tua untuk saat ini dan merepotkan orang lain.” Prabu Yayati menjadi kalut hatinya. Amarahnya yang ditahan tak mampu dikendalikan lagi. Lalu dia melontarkan kutuk pasu pula pada keempat putranya “duhh jadi anak kok tidak mau berbakti. Kalian berempat ingin memang ingin dapat tulah dariku.. Hei Yadu, kelak tanah negerimu tandus sehingga kau, anak keturunanmu, dan rakyatmu jadi gembala ternak. Hei Turwasu, kelak ada anak turunanmu yang tak akan berbudi. Hei, Drahyu, kelak negerimu bakal sering dilanda banjir dan harus pindah ke gunung sehingga anak keturunanmu menjadi raja di gunung dan hei Hanu, kelak akan mati dalam usia muda dan anak turunanmu terusir dari tanah kelahirannya sendiri.” Sesudah melontarkan kutuk pasu itu, Prabu Yayati yang tua jompo menjadi lemah dan lelah karena mengeluarkan kutuk pasu. Lalu dia dipapah oleh Raden Puru, sang putra bungsu lalu Raden Puru berkata “Ayahanda Prabu, aku sanggup menukar keremajaanku dengan ketuaan milik ayahanda. Dengan senang hati aku menerima azab dari kutuk pasu milik kakek Maharesi.” Seketika itu juga, wajah Raden Puru berubah menjadi tua jompo sementara Prabu Yayati kembali menjadi muda belia.
Seakan tak menyadari kesalahannya, Prabu Yayati bukannya bertobat malah melampiaskan segala hawa nafsunya. Sepanjang malam, dia berpesta pora sampai mabuk dan bukan hanya mabuk minuman saja tapi mabuk wanita. Dia kemudian pergi ke Taman Batara Kuwera, pergi bersenang-senang melampiaskan nafsu supiah dan aluamah. Dia reguk segala kenikmatan duniawi tanpa kenal ampun dan tanpa kenal puas. Dewi Dewayani menjadi semakin sedih. Kemudian dia memutuskan pergi dari Kandaparasta mengasingkan diri di pertapaan Saraparwata bersama ayahnya, Maharesi Sukra sampai akhir hayat. Begitupun Dewi Sarmista, dia memilih kembali ke negeri Parwata yang telah hancur lebur dan hidup menyendiri sebagai petapa selama sisa hidupnya. Anak-anak sang prabu juaga meninggalkan sang prabu kecuali raden Puru. Raden Yadu meninggalkan Kandaparasta dan mengawali hidup menjadi peternak lembu di pinggir bengawan Yamuna. Dari hasil usahanya dia membabat hutan dan mendirikan negeri para peternak dan penggembala bernama Kerajaan Woja (kelak bernama negeri Mandura) dan menjadi pemimpin disana bergelar Prabu Yadu. Keturunan Prabu Yadu menamai diri mereka dengan Wangsa Yadawa. Raden Turwasu juga mendirikan kerajaan Giribajra di gunung Citayaka (kelak salah satu keturunan Prabu Turwasu ada yang tak berbudi dan sesat yaitu Prabu Jarasandra alias Jaka Slewah). Raden Drahyu yang meninggalkan keraton dan tinggal di lembah sebagai petani selalu dilanda kebanjiran sehingga dia dan keluarganya mendirikan desa di Pegunungan Gandara. Setelah desa itu besar, desa itu berubah kota lalu berubah lagi menjadi negara berdaulat bernama Kerajaan Gandara (negara asal Dewi Gendari dan Patih Arya Sengkuni). Sementara Raden Hanu meninggal muda dan anak-anaknya menjadi terusir dari tanah Jawadwipa tersisih dari pergaulan. Mereka mendirikan negara di Jazirah Atasangin dan sebagian menjadi bangsa Mleccha. Sementara itu Raden Puru tetap tinggal di Kandaparasta dan menghabiskan hidupnya mendekatkan diri pada Sanghyang Widhi yang Maha Agung dan melatih olah kanuragan. Meskipun terjebak dalam tubuh pria tua, Raden Puru masih terkenal sakti mandraguna.
Lima puluh tahun telah berlalu, Prabu Yayati telah lelah dan jenuh. Dia merasa hidupnya hampa dan tak berarti karena hanya mengejar kenikmatan. Akhirnya ia sadar, semua itu sia-sia belaka. Istri-istrinya sudah wafat semua, anak-anaknya telah mandiri dan meninggalkannya. Dia kembali ke Kandaparasta dan menemui Raden Puru lalu dia berkata “putraku, kini aku sadar apa yang telah aku pelajari dalam kitab-kitab suci adalah benar adanya. Kenikmatan dan hawa nafsu kalau dituruti terus tak akan habis. Ibarat api yang disiram minyak, semakin lama semakin besar dan tak terpuaskan. Tak satu pun dapat membuat manusia merasa damai. Kita hanya dapat mencapai kedamaian dengan keseimbangan jiwa yang mengatasi segala kesenangan dan ketidaksenangan. Ketenangan jiwa dan perasaan damai yang sejati adalah karunia mulia dari Sanghyang Widhi Yang Maha Kuasa. Kemarilah, Puru. Warisilah negeri kita ini dan jadilah raja yang arif bijaksana dan penuh kebajikan. Ambillah keremajaanmu kembali. Aku ingin kembali menjadi orang tua jompo dan renta agar bisa semakin dekat dengan-Nya” Seketika itu pula, ketuaan yang ditanggung Raden Puru berganti dengan keremajaan. Raden Puru menjadi muda belia kembali smentara Prabu Yayati kembali tua dan jompo.
Hari pelantikan raja segera dilaksanakan. Kini Raden Puru menjadi raja Kandaparasta bergelar Prabu Puru. Prabu Puru punya anak bernama Prabu Hastimurti. Prabu Hastimurti punya putra bernama Prabu Dusyanta. Prabu Dusyanta menikahi Dewi Shakuntala, putri begawan Wiswamitra yang diasuh Resi Kanwa. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Sarwodamono yang kelak bergelar Prabu Baharata/Baroto. Raja yang memindahkan kotaraja dari kota Kandawa ke desa Kurugangga. Lalu nama Kurugangga diganti menjadi Hastina, untuk merayakan lahirnya sang cucu, Raden Hasti. Sejak saat itu nama kotaraja Kandaparasta tenggelam berganti menjadi Hastinapura. Dari Hastinapura inilah, Prabu Baharata memperlebar sayapnya hingga ke Tanah Hindustan. Prabu Baharata punya putra dan putri bernama Bumanyu dan Dewi Nilawati. Dewi Nilawati menjadi istri Bambang Satrukem, putra tertua Resi Manumayasa (leluhur Maharesi Abiyasa dari pihak ayah).”
Demikianlah Maharesi Abiyasa menceritakan kisah itu pada Permadi. Permadi terkesan sekali dengan kisah itu. Maharesi Abiyasa setelah itu menasihati cucunya untuk segera kembali ke Amarta, di sanalah darma baktinya harus ditunaikan. Jodoh sejati Raden Permadi akan segera menanti.