Senin, 03 Juni 2019

Babad Negara Amarta


Holla guys, kali ini saya akan menceritakan tentang pembagian negara Hastinapura diantara Pandawa dan Kurawa. Dalam versi India, para Pandava memilih kota Kandavaprastha yang gersang dan mengubahnya menjadi kota yang makmur lalu namanya diganti menjadi Indraprastha. Sedangkan dalam versi Jawa, Pandawa mendapatkan hutan Wanamarta dan mendirikan negara baru bernama Amarta disana. Di sini saya berusaha menggabungkan kedua versi tersebut. Disini juga dikisahkan bagaimana pertemuan dan pernikahan Bratasena dengan Dewi Arimbi, yang kelak akan melahirkan seorang ksatria yang gagah berotot kawat tulang besi, Gatotkaca. Disini saya memekai sumber Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Kitab Pustakaraja Purwa, karya Raden Ngabehi Ronggowarsito, serial kolosal Indonesia Karmapala karya Imam Tantowi dan serial kolosal India Mahabaharat Starplus.
Pada suatu hari, Prabu Dretarastra sedang bersidang dihadap Maharesi Bhisma, Arya Widura, Patih Arya Sengkuni, Resi Dorna dan, Mpu Krepa. Mereka membicarakan tentang perselisihan Pandawa dan Kurawa yang tak pernah mencapai titik terang. Terakhir saat sayembara membuat sungai, para Pandawa dinyatakan menang oleh Resi Dorna dan para Kurawa semakin tak terima. Keputusan Resi Dorna juga membuat anak kesayangan sang Prabu Dretarastra, Prabu Anom Suyudana menjadi sakit dan tak mau makan obat. Maharesi Bhisma merasa tak ada jalan lain kemudian berkata “Anak Prabu. Aku sendiri sudah bosan, sudah jemu sekali dengan perselisihan cucu-cucuku itu. Aku sudah lama mendengar tentang ramalan bahwa negeri kita tercinta ini akan hancur oleh Mahapralaya Bharatayudha dari rayi Abiyasa. Aku tak ingin itu terjadi. Kalau demi kepentingan bersama dan tidak ada pilihan lain, dengan sangat terpaksa aku rela kalau negeri Hastinapura ini kita sigar semangka, kita bagi dua.” Arya Widura merasa sayang bila negara di pisah namun karena sudah menjadi ketentuan sang paman, dia tak bisa lagi menolak. “lalu untuk wilayahnya, wilayah mana yang akan kita serahkan pada para Pandawa?” tanya Arya Widura. Patih Arya Sengkuni kemudian berkata “ Aku punya usulan bagaimana kalau kita akan memberikan kepada Puntadewa dan saudara-saudaranya wilayah Kandaparasta disebelah timur bengawan Gangga?” Arya Widura jelas saja tak terima bila para pandawa diberikan wilayah itu “Aku tak setuju. Kandaparasta adalah wilayah gersang dan lagi tempat itu sudah lama tidak ditempati manusia malah menjadi tempat angker yang menjadi kerajaan hantu. Lagi pula luas wilayah Kandaparasta kurang dari seperempatnya Hastinapura.” Patih Arya Sengkuni kemudian menjawab “kalau rayi Widura tak terima, tak mengapa. Yang menentukan pilhan kan Puntadewa bukan rayi Widura juga.” Prabu Dretarastra kemudian melerai dan memerintahkan Arya Widura untuk merundingkan hal ini dengan para Pandawa.
Di wisma tamu Kadilengleng, Para Pandawa, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, dan Ki Lurah Semar kedatangan Arya Widura. Tanpa membuang waktu, Arya Widura menyampaikan hasil sidang dan diputuskan bahwa untuk menghindari konflik, Kerajaan Hastinapura akan di bagi menjadi dua dan pihak Pandawa boleh memilih antara Kerajaan Hastinapura beserta kotaraja atau wilayah Kandaparasta yang tandus dan angker. Setelah berpikir matang-matang, Puntadewa memilih wilayah Kandaparasta. Arya Bratasena kecewa dengan pilihan kakaknya itu “ Haduh, kakang Puntadewa. Kok malah milih Kandaparasta. Mereka para Kurawa pasti kegirangan. Kakang tahukan kalau Kandaparasta itu wilayah angker. Banyak hantu dan jinnya. Lagipula luasnya kurang dari seperempatnya Hastinapura. Ini jelas tak adil. Izinkan aku matur minta keadilan pada Uwa Prabu” sebelum Bratasena berangkat, Raden Puntadewa balik menasihati adiknya itu “Adhi Bratasena, dengarkan aku. Aku sudah memikirkan ini dengan masak-masak. Kita kembali kesini tidak untuk menciptakan perang saudara tapi menghindarkan perang saudara. Mungkin bukan hanya aku, eyang Bhisma dan uwa Prabu tidak mau ramalan eyang Abiyasa tentang perang akbar Bharatayudha menjadi kenyataan. Lagipula kita cuma berlima ditambah ibu. Menurutku itu sudah lebih dari cukup. Ingat, adhi Bratasena, yang dikatakan adil itu tidak harus sama rata sama rasa. Adil itu sesuai dengan kebutuhan dan takarannya. Tak adil rasanya bila beban yang ditanggung anak muda diberikan pada seorang kakek tua. Jadi tak adil rasanya bila seratus orang diberikan wilayah hanya seperempat dari wilayah aslinya.” Arya Bratasena tak lagi membantah dan balik mendukung kakaknya itu. Kemudian Raden Puntadewa bertanya tentang pendapat adik-adiknya yang lain. Raden Permadi menjawab “awalnya aku sendiri tak setuju. Tapi bila itu sudah menjadi keputusan kakang, aku akan mendukung keputusan kakang Puntadewa. Ini juga demi Hastinapura, demi terciptanya perdamaian.” Sementara itu Raden Pinten dan  Raden Tangsen menjawab “aku dan adhi Tangsen sejak kecil sudah menganggap kakang Puntadewa sebagai pengganti ayahanda Pandu....” “apapun yang kakang Puntadewa telah putuskan, aku dan kakang Pinten siap mematuhi dan melaksanakannya.” Kemudian Raden Puntadewa meminta pertimbangan pada sang ibu, Dewi Kunthi dan Ki lurah Semar. Dewi Kunthi berkata ”apapun yang telah kau anggap baik, ibu hanya bisa merestui, anakku. Semoga Sanghyang Widhi merestui dan melindungi kalian” Ki Lurah Semar mendukung apa yang dikatakan Dewi Kunthi “dul mblegedag mblegedug sadulito, aku hanya seorang pemomong dan kawan ndoro sekalian. Aku sih hanya ikut saja selama hal itu benar untuk dilakukan. Sama seperti kanjeng ratu Kunthi, Aku selalu mendukung ndoro bila itu benar.“
Karena sudah diputuskan, setelah memohon izin pada uwa Prabu Dretarastra dan menerima serah terima, mereka segera berangkat ke Kandaparasta, meninggalkan segala kemewahan keraton dan teduhnya alam pertapaan. Sebelum sampai disana, mereka bertemu Prabu Matsyapati dari Wirata yang sedang sidak di perbatasan. Dia telah mendengar bahwa Pandawa dan Dewi Kunthi telah selamat dari Bale Sigala-gala dan bersyukur sekali”aduh, cucu-cucuku Pandawa. Syukurlah kalian telah selamat dari kebakaran Bale Sigala-gala. Ngomong-ngomong, kalian hendak pergi kemana?” Raden Puntadewa menjelaskan bahwa mereka hendak ke Kandaparasta untuk mendirikan kerajaan baru disana. Prabu Matsyapati merasa kurang adil saja bila para Pandawa hanya mendapat Kandaparasta maka dia menghadiahkan hutan Wanamarta, sebuah hutan tak bertuan yang sangat luas bersebelahan dengan Kandaparasta kepada mereka. Raden Puntadewa merasa tidak enak hati pada Prabu Matsyapati namun sang Prabu meyakinkan bahwa hadiah ini sebagai bentuk persahabatan.
Akhirnya Raden Puntadewa menerima wilayah hutan itu. Setelah mereka melanjutkan perjalanan yang sangat melelahkan, melewati gunung menuruni lembah, akhirnya merka sampai di gerbang kota Kandaparasta.
Kandaparasta yang telah hancur menyatu dengan Wanamarta
Walaupun disebut kota, tempat itu nampak seperti kota mati. Ditinggalkan, gersang, dan telah bersatu dengan hutan Wanamarta di sebelahnya. Bangunan keraton yang ada disitu nampak sudah menjadi reruntuhan dan ditumbuhi berbagai pepohonan hutan dan tumbuhan liar bahkan sebagian besar bangunan keraton sudah bersatu dengan hutan Wanamarta. Sementara bangunan-bangunan lain disekitarnya sudah hancur dan tak bersisa satupun. Tak ada sumber air yang bisa diminum di daerah itu. Tanah di kota itu amat keras, tandus, dan berbatu kasar. Susah untuk ditanami ataupun untuk bertani. Aura negatif di tempat itu begitu terasa,  membuat siapapun tak betah berlama-lama. Raden Puntadewa bertanya pada sang istri, Dewi Drupadi “Dinda, daerah ini sangat wingit dan berbahaya. Aku tak mau bila dinda sampai celaka. Apa kau bersedia untuk pulang sejenak ke Pancalaradya selama aku dan saudara-saudaraku masih membangun tempat ini?” Dewi Drupadi kemudian berkata “Kanda, jangankan memasuki Kandaparasta dan Wanamarta yang angker, ke dasar neraka pun aku ikut asalkan aku bisa tetap melayanimu, kanda. Jangan khawatirkan aku. Aku sudah siap laku prihatin asal tetap bersamamu. Biarkan aku menjaga persediaan makanan kita dan menemani ibu selagi kanda dan adik-adik membabat hutan” Raden Puntadewa berterima kasih kepada sang istri yang telah setia bersama dalam susah dan senang bahkan siap meninggalkan segala kemewahan. Sementara Raden Puntadewa, Raden Pinten, dan Tangsen membangun kemah, Arya Bratasena dan Raden Permadi mulai membabat pepohonan yang ada di Kandaparasta dan Wanamarta. Dengan Kuku Pancanaka miliknya, Arya Bratasena membabat segala pepohonan, semak belukar, dan sulur-sulur yang mengganggu. Di sisi lain, di belakang reruntuhan keraton Kandaparasta yang tertutup hutan Wanamarta, tersebutlah kerajaan jin bernama Mertani yang dipimpin oleh Prabu jin Yudhistira. Prabu jin Yudhistira dihadap oleh ke empat saudaranya, Jin Arya Dandunwacana, Arya Dananjaya, Arya Damagranti, dan Arya Tantripala. Sang raja jin merasa terusik karena ada laporan dari kawanan makhluk halus yang datang mengatakan bahwa hutan tempat tinggal mereka dibabat oleh lima orang manusia. Arya Dandunwacana segera berangkat membereskan manusia-manusia itu.
Di tempat lain, Raden Permadi yang juga sedang membabat sebagian hutan Wanamarta kedatangan dua makhluk halus yang kebetulan mau menampakkan diri kepadanya, yaitu Resi Wilawuk yang berwujud jin naga raksasa dan Gandarwa Anggaraparna. Resi Wilawuk datang bersama sang putri, Dewi Jimambang yang kecantikannya bagai putri keraton. Resi Wilawuk membawa Raden Permadi ke rumahnya, di Pertapaan Pringcendani. Raden Permadi kemudian berguru kepada Resi Wilawuk. Dalam waktu singkat, Raden Permadi dapat menguasai ajian Pedut Wisa. Sedangkan Gandarwa Anggaraparna mengajarkan cara-cara menghadapi makhluk tak kasat mata . Resi Wilawuk kemudian mengatakan alasannya mengajarkan ilmu itu “Anakku, Permadi. Sebenarnya kedatanganku dan Anggaraparna melatihmu untuk memenuhi wangsit dewata. Menurut wangsit itu, kelak akan ada salah seorang ksatria tampan yang akan mengubah nasib Kandaparasta dan Wanamarta menjadi lebih baik dan orang itu lah yang akan menjadi jodoh putriku.” Sejak lama, Permadi yang melihat putri Resi Wilawuk seperti ada rasa cinta bergejolak, begitupun sebaliknya, sang putri juga sering salah tingkah ketika melihat Raden Permadi. Kemudian Resi Wilawuk menikahkan mereka. Tak terasa satu bulan telah berlalu, hamillah sang istri. Permadi tak bisa mengajak sang istri pertama ke Wanamarta namun dirinya berwasiat “istriku, tolong jagalah anak kita. Kalau yang lahir laki-laki, berilah dia nama Gandawardaya.” Singkat cerita, Raden Permadi segera kembali ke Kandaparasta. Sebelum berangkat, Resi Wilawuk memberikannya cupu berisi minyak ajaib, yaitu Lisah Jayengkaton. Resi Wilawuk berkata bahwa bila minyak itu dibalurkan ke kelopak mata, maka mata itu akan mampu melihat alam niskala beserta penghuninya yang tak kasat mata. Sementara Gandarwa Anggaraparna memberikannya akar sakti bernama Oyod Bayura “Permadi, bawalah Oyod Bayura ini. Bila kau pukul akar ini, maka segala bentuk jebakan gaib, sihir, teluh, dan guna-guna akan runtuh dan terlihat kasat mata”
Disisi lain hutan Wanamarta, tersebutlah seorang raksasi yang sedang melakukan tapa rame. Namanya Dewi Arimbi. Walaupun wujudnya raksasi berwajah menakutkan, namun hatinya sangat baik dan tulus. Perangainya begitu sopan dan dewasa bak putri keraton. Sudah banyak orang yang ditolongnya, banyak yang berterima kasih padanya namun tak sedikit pula yang lari karena melihat wajahnya. Ketika sedang berjalan mencari air, dia tersasar ke wilayah Kandaparasta. disana dia melihat seorang pria yang tinggi besar sedang kesakitan karena diserang makhluk tak kasat mata. “Raden tidak apa-apa? marilah ikut saya. Saya akan obati luka-luka raden.” Ketika sang pria itu menoleh dan dilihatnya adalah seorang raksasi, dirinya langsung menampiknya dan memandang jijik padanya “Hei raksasi apa mau mu? Apa kau ingin menjebakku? Aku tak sudi ditolong olehmu dan jangan harap kau akan mendapatkan aku” kemudian sang pria itu lari meninggalkannya. Dewi Arimbi yang melihat sang pemuda gagah itu tersinggung dan langsung mengejarnya.
Dewi Arimbi kemudian bertemu Dewi Kunthi dan Dewi Drupadi yang kebetulan sedang berkeliling hutan dan bertanya dengan sopan “Permisi, saya mau bertanya. Apakah bibi dan kakak pernah melihat seorang pemuda tinggi besar yang lewat sini?” Dewi Kunthi terkesan ada seorang raksasi namun memiliki sopan santun dan subasita. “ohh, pemuda tinggi besar yang kamu cari itu putraku yang nomor dua. Namanya Bima tapi lebih sering dipanggil Bratasena. Namaku Kunthi dan dia Drupadi, menantuku. Kami datang dari Hastinapura. Saya istri pertama mendiang kanda Pandu Dewanata.” Begitu nama Pandu Dewanata disebut, Dewi Arimbi menyembah hormat pada Dewi Kunthi “aduh ampun, bibi prameswari. Saya tidak tahu kalau anda istri paman Prabu Pandu. Perkenalkan nama saya Arimbi, putri kedua ayahanda Prabu Tremboko, raja Pringgandani.” Dewi Kunthi kemudian memeluk Dewi Arimbi bagai anak sendiri. Dewi Arimbi kemudan bercerita pada Dewi Kunthi tentang nasibnya dan kerajaannya“sejak merenggangnya hubungan Hastinapura dan Pringgandani puluhan tahun lalu, kerajaan menjadi terkucilkan dari pergaulan. Terlebih lagi kakang saya, Prabu Arimba. Sejak kematian ayahanda dan menjadi raja, dia sangat membenci orang Hastinapura,terutama paman Pandu yang dianggapnya telah mengadu domba negara. Sekarang saya melakukan tapa rame agar dosa-dosa ayahanda dan paman Pandu menjadi lunas. Saat saya kesasar kesini, kebetulan putra bibi minta bantuan tapi dia malah langsung lari. Saya ingin tau apa alasannya berbuat demikian. Saya hanya ingin menolong”
Dewi Arimbi berubah menjadi gadis cantik 
Dewi Kunthi sangat bangga sekaligus prihatin kepada Dewi Arimbi seraya berkata “Duhh, cantiknya jiwamu itu. Semoga kecantikanmu yang dari dalam itu memancar keluar.” Tak lama, Tiba-tiba muncul sebuah keajaiban. Sanghyang Widhi menurunkan karomah kepada salah satu hamba-Nya. Muncul seberkas cahya dan kabut menyelimuti seluruh tubuh Dewi Arimbi. Setelah cahya itu pudar, wujud Dewi Arimbi berubah, dari seorang raksasi berwajah mengerikan menjadi gadis cantik rupawan. Wajahnya bercahaya bak bulan purnama. Kecantikannya sebanding dengan kecantikan bidadari kahyangan.
Tak berapa lama, Arya Bratasena datang dan bercerita bahwa dia dikejar seorang raksasi. Dewi Kunthi berkata bahwa raksasi itu ada dihadapannya sekarang. Arya Bratasena tak percaya bahwa gadis cantik yang ada dihadapannya itu raksasi yang mengejarnya “raden, ini aku, raksasi yang mengejarmu tadi.” Dewi Kunthi kemudian menjelaskan “Anakku, inilah raksasi yang mengejarmu. Namanya Dewi Arimbi, putri dari Pringgandani. Dia putri dari Prabu Tremboko. Sebuah keajaiban telah terjadi padanya sehingga wujudnya berubah menjadi cantik.” Begitu memandang, Tiba-tiba muncul getaran di hati Bratasena. Begitupun Dewi Arimbi. Cinta bersemi didalam hati mereka berdua.
Tak lama kemudian datanglah Raden Permadi, Raden Puntadewa, Raden Pinten, dan Raden Tangsen. Mereka melihat seberkas cahaya dan mendatanginya. Belum sempat Dewi Kunthi menjelaskan, tiba-tiba para Pandawa diserang oleh sesuatu yang tak kasat mata. Sebelum mereka semakin parah, Raden Permadi segera membalurkan Lisah Jayengkaton pemberian mertuanya ke kelopak matanya dan saudara-saudaranya. Setelah dibalurkan, mereka melihat makhluk niskala berwajah mirip mereka. Mereka adalah Prabu Jin Yudhistira, jin Arya Dandunwacana, jin Arya Dananjaya, jin Arya Damagranti,dan jin Arya Tantripala. Di belakang mereka terlihat sebuah istana yang sangat megah. Mereka baru menyadari bahwa Kandaparasta dan Wanamarta adalah kerajaan hantu dan jin yang sangat besar. Karena sudah kepalang basah, mereka saling menyerang satu sama lain. Permadi menyerang mereka dengan Oyod Bayura sehingga mereka menjadi kesakitan. Lalu muncullah Batara Indra, ayah angkat Permadi. Batara Indra menolong lima jin itu “Anakku, Permadi. Apa yang kau lakukan? Para jin ini berada dibawah lindunganku.” “Mohon ampun, Romo Pukulun. Aku akan membakar hutan ini untuk dijadikan negara baru. Siapa yang menghalangiku akan aku tak segan melawan sekuat tenaga” Permadi mulai merentangkan busur Gandiwa dan mengeluarkan panah Agneyastra. Seketika begitu panah melesat, Kandaparasta dan hutan Wanamarta terbakar. Batara Indra segera menembakkan panah Tirta Sakethi ke arah awan. Seketika turunlah hujan deras. Padamlah sebagian api itu. Permadi kembali menembakkan panah Agneyastra dan berubahlah menjadi payung api yang menguapkan seluruh hujan yang diciptakan Batara Indra.
Karena sudah tak mampu bersabar lagi, Batara Indra mengeluarkan tombak Bajra miliknya. Tak ingin kalah, Raden Permadi segera merentangkan busur Gandiwa dan merapal ajian panah Sirsha.
Prabu Kresna melerai Batara Indra dan Raden Permadi
Seketika, alam bergejolak. Bumi gonjang-ganjing, langit kolap-kalip. Badai dan topan menyapu sebagian hutan Kandaparasta dan Wanamarta. Halilintar yang dikeluarkan Bajra dan Panah Sirsha saling beradu menciptakan badai api yang mengerikan. Di saat yang sedemikian gentingnya, datanglah seorang raja berkulit gelap. Mahkotanya indah dengan jamang emas berhiaskan sebuah bulu merak. Dialah Prabu Kresna. Prabu Kresna mengeluarkan senjata andalannya, Cakra Widaksana. Cakra Widaksana mulai berputar menyerap halilintar dan badai api. Prabu Kresna kemudian berkata”Hentikan, pukulun Batara. Perbuatan pukulun akan menghancurkan dunia. Aku datang kemari untuk mencegah kehancuran akibat perbuatan kalian. Tariklah senjata kalian.” Begitu mereka menarik senjata masing-masing, badai api menghilang. Prabu jin Yudhistira menampakkan diri lalu berkata pada Prabu Kresna bahwa mereka melawan para Pandawa untuk memastikan saja bahwa mereka benar adalah orang yang ditakdirkan memiliki kerajaan Mertani. Jauh sebelum para Pandawa dewasa, Batara Indra telah menciptakan sebuah istana megah beserta kota besarnya yang diberi nama “Indraprastha” di wilayah Kandaparasta dan Wanamarta. Istana itu dipersiapkan untuk menjadi istana para Pandawa. Lalu oleh Batara Indra, kelima jin itu ditugaskan olehnya menjaga istana itu di alam niskala dan kini karena para Pandawa sudah datang, mereka minta izin pada Batara Indra untuk kembali ke alam niskala. Batara Indra mengizinkannya. Sebelum kelima jin itu menghilang, kelima jin itu mempersilahkan para Pandawa memakai nama mereka sebagai bentuk kenang-kenangan. Sebelum kembali ke kahyangan, Batara Indra menganugerahkan panah Sangkali kepada putra angkatnya, Permadi.
Seketika kemudian, tanah Kandaparasta dan Wanamarta bergoncang. Tiba-tiba, muncul sebuah keraton yang sangat megah di bekas reruntuhan Kandaparasta dan sebagian hutan Wanamarta berubah menjadi alun-alun dan kota yang sangat indah lengkap dengan dinding kastil yang kokoh. Tanah yang tadinya tandus berbatu berubah menjadi subur. Sumber air yang tadinya tidak ada airnya berubah menjadi sumur-sumur indah berair jernih.
Terbukanya Kandaparasta dan Wanamarta
Tempat yang tadinya panas dan ber-aura negatif berubah 180 derajat menjadi kawasan ibukota yang sejuk bila mata memandang dan ber-aura sangat positif. Demikianlah, para Pandawa memasuki keraton Indraprastha diiringi, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, Dewi Arimbi, Prabu Kresna, dan ki Lurah Semar.
Ketika mereka sedang melihat-lihat isi keraton, tiba datanglah dua orang raksasa masuk ke keraton. Dewi Arimbi mengenali mereka. Mereka adalah Arya Brajamusthi dan Arya Kalabendana. Ketika Dewi Arimbi menghampiri kedua adiknya itu, mereka terkejut melihat sang kakak perempuan bisa berubah menjadi sangat cantik. Dewi Arimbi kemudian menjelaskan dirinya bisa secantik ini karena kemurahan Sanghyang Widhi. Brajamusthi kemudian berkata “kakang Mbok Arimbi, marilah kita pulang ke Pringgandani. Prabu Arimba sangat marah mendengar penuturan telik sandi bahwa kakang mbok bersama orang dari Hastinapura di hutan ini.” Dewi Arimbi mengatakan dia butuh waktu untuk berpikir. Arya Kalabendana yang tak mau berpisah dengan sang kakak memilih tinggal dan Arya Brajamusthi segera meninggalkan keraton. Sempat terlihat disamping Dewi Arimbi, selain Kalabendana ada seorang pemuda gagah tinggi besar menggandeng tangan Dewi Arimbi.
Sementara itu di perkemahan di hutan Wanamarta, Prabu Arimba bersama adik-adiknya yang lain yaitu Arya Brajadentha, Arya Brajawikalpa, dan Arya Prabakesha yang sedang mencari keberadaan Dewi Arimbi menerima kedatangan Arya Brajamusthi. Arya Brajamusthi menjelaskan bahawa Kalabendana mengikuti Dewi Arimbi lalu berkata “Ampun, kakang Prabu. Kakang mbok Arimbi sekarang berada di sebuah keraton di pinggir hutan ini. Dari yang aku lihat, Di dalamnya ada keluarga paman Prabu Pandu dan nampaknya Dewi Arimbi jatuh cinta pada salah satu putranya.” Meledaklah kemarahan Prabu Arimba mendengar laporan adiknya itu. Digebraknya meja kayu di dekatnya sehingga pecah dan hancur”Apa?? Adikku bersama keluarga pembunuh itu?? tak bisa dibiarkan!! Aku sendiri yang akan melabrak dan memaksanya pulang.” Brajamusthi berusaha mencegah kakak sulungnya itu namun terlambat, sang kakak sudah pergi duluan.
Sesampainya di Keraton Indraprastha, Prabu Arimba mendapati seorang wanita sedang jalan bersama dengan seorang pria tinggi besar di tamansari. Berkat kekuatan batin yang kuat, dia dapat mengenali bahwa wanita itu adiknya, Dewi Arimbi dan sang pria adalah Arya Bratasena, putra kedua Pandu Dewanata. Lalu dengan marah-marah, dilabraklah Dewi Arimbi lalu dijambak dan diseretnya adik perempuannya itu “ Arimbi, apa yang kau lakukan dengan keluarga pembunuh ayahanda? Jatuh cinta? Atau kau mau berkhianat dari negaramu? Dariku, Adik kurang ajar” Dewi Arimbi mengakuinya sambil mengerang kesakitan “Ampun kakang prabu. Aku akui diriku telah jatuh cinta pada kakang Bratasena. Aku mohon kakang, lupakan dendammu. Paman prabu Pandu sudah tiada, begitu juga ayahanda. Jangan nodai nama besar ayahanda. Jangan membuatnya malu di swargaloka” Namun Prabu Arimba tak bergeming seakan tak peduli. Dendam telah merasuk ke dalam hatinya. Arya Bratasena menarik tangan Prabu Arimba dan membebaskan Dewi Arimbi dari jambakan kakaknya itu. “Hei, Arimba. Ayahmu meski berwujud raksasa tapi berbudi dewata. Sedangkan kau.....memuliakan adik perempuanmu kau tidak bisa. Kau bukan raja tapi iblis. Kau tak pantas menjadi kakaknya.” Memuncaklah kemarahan Prabu Arimba mendengarnya lalu diseretnya Arya Bratasena ke tengah alun-alun. Para Pandawa, Dewi Kunti, Dewi Drupadi dan yang lainnya ikut menyaksikan. Mereka saling bertarung, saling tendang, saling sikut, saling cakar, dan beradu senjata gada satu sama lain. Masing-masing dari mereka tak ada yang menang maupun kalah. Keduanya berimbang sampai Prabu Arimba menggunakan ajian Bayuntaka, ajian andalannya. Seketika tubuh Bratasena lemas begitu mendekati Prabu Arimba seakan tenaganya tersedot dan menyusut dengan cepat. Bratasena berhasil menghindar namun badannya masih lemas. Dewi Arimbi datang mengipasinya. Seketika Bratasena kembali kuat. Mereka kembali bertarung namun begitu tangannya menyentuh Prabu Arimba lagi, tenaganya susut lagi. Bratasena kembali lemas dan Dewi Arimbi dengan tulus mengipasinya. Prabu Arimba yang melihatnya merasa iba namun dendam rupanya telah mendarah daging, menjalar dalam kalbu dan urat nadi sang raja Pringgandani itu.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Kali ini Prabu Arimba semakin beringas dan kejam bagai denawa hutan. Tak kenal ampun lagi. Bratasena sudah tahu rahasia Prabu Arimba. Karena itu, Bratasena mulai mengurangi kontak fisik dan mulai menyabetkan Kuku Pancanka. Namun tiada diduga, karena ajian Bayuntaka pula, kulit Prabu Arimba sangat alot bagaikan kulit badak. Senjata bahkan Kuku Pancanaka miliknya hanya memberikan goresan kecil saja. Hari mulai berangkat siang. Dewi Arimbi semakin khawatir kepada mereka keduanya. Dilema melanda hatinya, antara sang kakak yang disayanginya atau sang kekasih yang dicintainya. Kemudian dia melihat ada pohon aren didekat alun-alun. Tiba-tiba Arimbi berteriak, “Tusuk pusarnya lalu pukul dia ke pohon aren itu.” Keduanya terkejut. Kemudian Prabu Arimba melihat matahari mulai bergeser dari puncaknya ke arah barat. Kesempatan itu digunakan Bratasena, Prabu Arimba dibenturkannya ke pohon aren lalu ditusukkan kuku saktinya itu ke pusarnya. Raja Pringgandani itu seketika mengerang kesakitan dengan luku menganga di pusarnya dan badan remuk terkena pohon aren. Dengan sempoyongan, Prabu Arimba berusaha mendekati Dewi Arimbi. Dewi Arimbi semakin cemas. Dengan kepasrahan totalnya, dia menanti apa yang akan dilakukan sang kakak pada dirinya. Dewi Kunthi sangat cemas dengan Arimbi segera mendekatinya sambil memeluknya diiringi Permadi dan Prabu Kresna dibelakangnya. Tak lama kemudian datanglah para Kadang Braja, adik-adik Prabu Arimba dan Dewi Arimbi dipimpin oleh Arya Brajadentha dan Brajamusthi. Ternyata yang terjadi diluar dugaan. Prabu Arimba tak meluapkan amarahnya malah berkata “Adikku, Dinda Arimbi. Aku tak marah..... aku sangat tersentuh melihatmu .....menyayangi Bratasena setulus hati......maafkan aku. Aku merestui hubungan kalian.” Tangis Arimbi pecah mendengarnya dan Bratasena segera memeluknya. Prabu Arimba merasa ajalnya telah dekat berkata kepada Bratasena “Bratasena.... aku tititipkan Arimbi, adik-adikku dan negara Pringgandani.... jagalah mereka......sebelum aku pergi.....aku akan memberikan kenang-kenangan.........karena kau telah bertarung denganku sebuas serigala..... maka aku menjulukimu sang Wrekodara.....” demikianlah Prabu Arimba meninggal dunia.
Prabu Arimba gugur
Para Kadang Braja terutama Dewi Arimbi semakin sedih. Tangisnya semakin pecah. Ditinggalkan sang kakak yang telah menjadi pengganti orangtua. Para Kadang Braja sudah mengaku ikhlas atas  kekalahan Prabu Arimba dan tak akan ada dendam lagi. Para kadang Braja minta izin pada Raden Puntadewa untuk melakukan pengabenan jenazah Prabu Arimba di Keraton Indraprastha. Setelah semuanya siap, api pancaka dinyalakan. Api berkobar mennebarkan hawa panas.
Tujuh hari setelah berkabung, sebagian Hutan Wanamarta telah dibuka menjadi negara baru dan sebagian lagi tetap dibiarkan menjadi hutan. Bersamaan hari pembukaan itu, dilangsungkanlah pernikahan Bratasena dan Dewi Arimbi. Pestanya berlangsung sangat meriah. Setelah resepsi tiga hari selesai,. Raden Puntadewa mengganti nama kerajaan Mertani menjadi Amarta dengan wilayah Kandaparasta sebagai kotaraja. Namun Raden Permadi tak setuju bila nama itu terus dipakai karena akan meninggalkan kesan buruk masa lalu. Maka oleh Raden Puntadewa, nama Kandaparasta diganti menjadi Indraprastha. Raden Puntadewa kemudian menunjuk Arya Bratasena sebagai raja Amarta namun Arya Bratasena menolak. Dirinya berkata “Kakang sudah bertindak sebagai kakak yang baik. Kakang adalah penurus ayahanda Pandu dan lagi kakang juga cakap memimpinku dan adik-adik. Kami adik-adikmu setuju kalau kakang jadi raja. Betul gak, Jlamprong? Pinten? Tangsen?” Raden Permadi, Raden Pinten dan Tangsen setuju bahkan mereka sampai berlutut. Hanya Bratasena saja yang tak berlutut hanya memberikan salamnya tanda memohon. Awalnya Raden Puntadewa tak setuju. Prabu Kresna berusaha mendukung perkataan Bratasena “Ayolah, rayi Puntadewa. Adik-adikmu setuju. Bahkan aku pun setuju. Negara Dwarawati setuju. Kau sudah terbukti cakap dan hebat memimpin. Sudah saatnya paman Pandu mendapatkan pewarisnya.” Namun Raden Puntadewa masih tak bergeming. Lalu Dewi Kunthi berkata pada putra sulungnya itu “putraku Dwijakangka, kau sudah membuktikan dirimu pantas menjadi pemimpin. Dukungan dari negara lain, dari keponakanku Kresna sudah ada didepan mata. Adik-adikmu juga yang menginginkannya tanpa keterpaksaan. Jadi kabulkan permohonan mereka. Aku sebagai ibu hanya bisa merestuimu.” Hati Puntadewa luluh dan tersentuh sambil memeluk keempat adiknya. Raden Puntadewa setuju untuk menjadi raja Amarta. Setelah itu, mereka segera mempersiapkan diri untuk menyiapkan dan menentukan hari penobatan. Kelak setelah hari penobatan, negeri Amarta akan menjadi negara merdeka, bukan lagi bawahan Kerajaan Hastinapura.

Senin, 27 Mei 2019

Serayu Winangun


Hai semua, akhirnya bisa nulis lagi. Nah kali ini saya akan menceritakan tentang sayembara ulang yang dilakukan Pandawa dan Kurawa. Disini juga diceritakan legenda Sungai Serayu di daerah Banyumas yang memang berhubungan dengan Pandawa dan Kurawa. Sumber cerita saya bersumber dari Kitab Pustakaraja Purwa dan ditambah dengan kisah-kisah legenda Sungai Serayu dan Tuk Bima Lukar yang ada di internet yang kemudian diubah dan diperhalus. 
Berita tentang Arya Bratasena yang berhasil selamat dari tipu daya Resi Dorna bahkan mendapatkan ilmu berharga membuat Prabu Anom Suyudana dan para Kurawa semakin geram pada para Pandawa. Mereka terutama Prabu Anom Suyudana geram karena takut takhta Hastinapura akan jatuh ke tangan Puntadewa. Kebencian itu membuat para tetua Hastinapura yang sedang bersidang semakin pusing untuk mencari cara mendamaikan mereka. Lalu Patih Arya Sengkuni memberikan usulan di sidang itu “raka prabu, kalau saya boleh berbicara, saya mengusulkan agar para Pandawa diajak kembali ke Hastinapura soal permasalahan itu biarlah kakang Resi Dorna yang menentukan jalan tengah penyelesaiannya”. Maharesi Bhisma kurang setuju dengan usulan itu, namun sebelum dia menyanggahnya, Prabu Dretarastra menyetujui usulan itu. Lalu Prabu Dretarastra mengutus adiknya, Arya Widura untuk mengundang para Pandawa, Dewi Kunthi, dan Dewi Drupadi kembali ke Hastinapura.
Sementara itu, di pertapaan Saptarengga, Maharesi Abiyasa datang dari rumahnya di puncak Saptaharga ditemani Ki lurah Semar membawa benda-benda pusaka miliknya. Para Pandawa, para Punakawan, Dewi Kunthi, dan Dewi Drupadi menyembah hormat padanya. Sebagai kakek dari Pandawa maupun Kurawa, dia berkata tak ingin memihak siapapun, karena cucu-cucunya itu punya sisi baik dan buruk masing-masing. Justru dia khawatir akan keberadaan Patih Sengkuni dan tipu dayanya yang semakin hari semakin mengobrak-abrik kedamaian Hastinapura karena dia titisan Wasi Dwapara, dewanya adu domba dan perselisihan. Kemudian Maharesi melanjutkan “Cucu-cucuku Pandawa, kedatanganku kesini selain mengingatkan akan keberadaan Patih Sengkuni, aku ingin mewariskan pusaka-pusaka ini pada kalian. Pusaka-pusaka ini adalah warisan para leluhur Hastinapura, dari Prabu Baharata dan Resi Sakri. Menurut cerita, pusaka-pusaka ini konon didapat setelah leluhur kita mengalahkan musuh kahyangan bernama Kalimantara dan sekarang aku akan mewariskan pada kamu berdua, Puntadewa dan Permadi karena aku melihat kalian berdualah yang mampu menjaga pusaka-pusaka ini.” Maharesi Abiyasa pun menyerahkan pusaka-pusakanya.Puntadewa mendapat pusaka berupa kitab bernama Jamus Kalimahusada, tombak Kyai Karawelang, dan payung agung Kyai Tunggulnaga, sedangkan Raden Permadi mendapatkan panah Ardadedali, panah Sarotama, dan keris Pulanggeni. Kedua cucu Maharesi Abiyasa itu berterima kasih dan akan menggunakan pusaka-pusaka itu untuk menegakkan jalan dharma. Tak berapa lama kemudian datanglah Arya Widura untuk menjemput Para Pandawa, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi dan para Punakawan untuk kembali ke keraton Hastinapura untuk membahas tentang pewarisan takhta Hastinapura dan solusi untuk perdamaian Pandawa-Kurawa. Demikianlah, rombongan para Pandawa dan Arya Widura mohon pamit kepada Maharesi Abiyasa untuk kembali ke Hastinapura.
Sesampainya di Hastinapura, rombongan Dewi Kunthi dan para Pandawa tidak mau masuk keraton dipersilahkan tinggal di wisma tamu dekat Taman Kadilengleng oleh Arya Widura. Beberapa hari kemudian para Pandawa dan Kurawa berkumpul di taman Kadilengleng dipanggil oleh Resi Dorna “Anak-anakku Pandawa dan Kurawa. Aku mewakili para tetua dan Prabu Dretarastra sudah suntuk, sudah lelah melihat kalian tak pernah akur karena soal takhta. Aku disini akan membuat sayembara ulang untuk menentukan siapa yang pantas menjadi penerus Prabu Dretarastra.” Kemudian Prabu Anom Suyudana disusul para Kurawa dan Pandawa bertanya “ Apa sayembaranya, guru?” Sejenak, Resi Dorna bersemadi. Beberapa saat kemudian dia bangun dan berkata “Anak-anakku aku mendapat penglihatan dari dewata tentang sebuah pohon jambu raksasa di tengah hutan Ara Gumiling. Kebetulan pohon jambu itu berbuah dengan lima warna berbeda. Ini adalah sayembara pertama kalian. Petikkan aku buah jambu lima warna itu.” Tanpa ba-bi-bu lagi para Kurawa segera bergegas ke hutan Warnawata mencari pohon jambu yang dimaksud, sementara para Pandawa memohon restu kepada Resi Dorna, Maharesi Bhisma, Prabu Dretarastra,  dan Dewi Kunthi lebih dahulu.
Tak butuh waktu lama, para Kurawa yang sudah mencari ke setiap sudut hutan Ara Gumuling menemukan pohon jambu raksasa dengan buah lima warna berbeda. Pohon itu bercahaya terang menyilaukan. Tanpa permisi dulu, para Kurawa memanjatnya beramai-ramai. Tiba-tiba muncul kabut dingin beracun dari dalam lubang pohon yang membuat para Kurawa jatuh pingsan semua. Tak berapa lama, para Pandawa telah sampai di hutan Ara Gumiling dan melihat ada kabut aneh di pojok hutan. Mereka melihat banyak tanaman membeku tertutup es dan mengering. Terkejutlah mereka melihat sepupu mereka jatuh pingsan di dekat sebuah pohon jambu raksasa. Raden Puntadewa segera mengajak adik-adiknya untuk berlutut memberi hormat kepada pohon jambu ajaib itu. Tiba-tiba dari atas pohon muncul sesosok makhluk halus yang diselimuti kabut biru datang menghampiri para Pandawa.” Wahai para putra Pandu, aku terkesan akan keluhuran budi kalian. Namaku Gandarwa Mayanila. Karena sikap kalian yang santun pada pohon tempat tinggalku ini, aku persilahkan untuk mengambil buah jambu lima warna yang ada di pohon ini.” Raden Puntadewa berterima kasih pada kemurahan hati sang Gandarwa. Begitu mendapatkan izin, Arya Bratasena segera maju memeluk batang pohon jambu raksasa itu lalu Raden Permadi memanjat bahu Arya Bratasena. Kemudian Raden Pinten naik ke bahu Raden Permadi sehingga yang paling atas adalah Raden Tangsen. Raden Tangsen kemudian memetik buah jambu lima warna itu lalu turun ke tanah dipersambahkan pada sang kakak tertua, Raden Puntadewa.
Batu mulia Panca Mayaretna
Setelah mereka semua berkumpul, Gandarwa Mayanila menjelaskan kepada Puntadewa dan adik-adiknya tentang buah jambu yang telah mereka petik itu “ anak-anak Pandu, buah jambu yang kalian petik itu sebenarnya adalah Panca Mayaretna, lima batu mulia kahyangan . Aku sebenarnya ditunjuk para dewa untuk menjaga lima permata ini. Permata berwarna putih itu bisa mengeluarkan air bah besar dengan ombak dahsyatnya. Permata yang hitam mampu membuat bumi bergoncang hebat dan retak-retak bagaikan gempa. Lalu permata berwarna kuning, permata itu mampu mengeluarkan badai topan dan angin kencang. Kemudian permata berwarna merah itu mampu mengeluarkan gejolak api dan lahar panas. Sementara permata hijau mampu mengeluarkan akar-akar kuat, sulur, dan tumbuhan rambat yang membelit. Sekarang aku serahkan batu-batu mulia ini pada kalian” Raden Puntadewa berterima kasih sekali lagi namun sebelum Gandarwa Mayanila pergi, dia meminta satu hal padanya “tunggu tuan Gandarwa. Sebelum kau kembali ke alammu. Aku meminta satu hal. Tolong hilangkan pengaruh kabut dingin beracunmu agar sepupu-sepupuku yang kau buat pingsan bisa  sembuh” Gandarwa Mayanila mengerti dan segera menghilang. Seketika setelah sang gandarwa menghilang, kabut beracun pun ikut hilang sirna tertiup angin kencang. Tanaman-tanaman yang tadinya layu dan membeku perlahan bersemi lagi dan para Kurawa yang tadinya pingsan mulai terbebas dari pengaruh kabut beracun.
Bersamaan dengan menghilangnya Gandarwa Mayanila, Resi Dorna dan Patih Arya Sengkuni datang. Raden Puntadewa segera mempersembahkan batu mulia Panca Mayaretna yang berbentuk buah jambu lima warna kepada Resi Dorna. Prabu Anom Suyudana yang baru berdiri buru-buru menyelat dan berkata bahwa para Kurawa telah dicurangi para Pandawa dengan diberi siasat kabut beracun. Resi Dorna nampak bimbang terlebih ada Patih Arya Sengkuni. Kemudian Resi Dorna duduk bersemadi di bawah pohon jambu raksasa untuk meminta pertimbangan dari dewata agung. Tiba-tiba muncul sebuah papan traju* yang terbuat dari baja sepanjang seratus depa dan terpasang pada batu besar di dekat pohon jambu itu. Resi Dorna kemudian memerintahkan para Pandawa dan Kurawa untuk naik papan traju itu lalu berkata “Siapapun yang bebannya lebih berat maka dia lah yang menang”. Para Kurawa segera menaiki sisi kanan papan traju semantara para Pandawa naik ke sisi kiri sambil mengerah kesaktian masing-masing dan sungguh ajaib, seratus orang ditimbang empat orang hasilnya seimbang. Arya Bratasena kemudian meloncat ke papan traju sambil mengerahkan ajian Angkusa Prana dan Bayu Bajra. Sekali hentak, para Kurawa yang berdiri di ujung papan menjadi terpental. Para Kurawa yang terpental antara lain Arya Bogadenta, Arya Wersaya, Arya Wikataboma dan Bomawikata, Raden Anuwinda, Arya Naranurwinda, Arya Surtayu dan Surtayuda, Arya Gardapati, Arya Gardapura, dan Arya Widandini. Prabu Anom Suyudana dibantu sang paman, Sengkuni segera mengumpulkan adik-adiknya. Prabu Anom Suyudana terus mencari-cari adiknya yang terpental namun belum ketemu juga. Rupanya hentakan itu membawa para Kurawa yang terpental ke negeri-negeri kecil di sekitar Hastinapura.
Para Kurawa yang tersisa kembali menghadap ke Resi Dorna agar diadakan sayembara ulang. Tekanan yang dialami Resi Dorna terlebih dengan adanya Patih Sengkuni membuatnya tak bisa lagi menyimpan uneg-uneg terdalamnya. Resi Dorna segera mengumumkan sayembara barunya“ siapapun yang bisa membuat sungai yang bersumber dari Gunung Dihyang, puncak pegunungan Himayan dan bermuara ke Laut Selatan, dialah pemenangnya. Setelah selesai, kita akan berkumpul lagi di tegal Kurusetra!” seketika hening sejenak. Para Kurawa terdiam begitupun para Pandawa. Namun keheningan itu pecah setelah Patih Arya Sengkuni mengajak Prabu Anom Suyudana dan adik-adiknya untuk mempersiapkan peralatan-peralatannya dan mereka segera pergi ke puncak Dihyang. Sementara itu, para Pandawa memohon izin dan restu dari sang guru. Setelah itu mereka juga pergi ke puncak gunung Dihyang. Sesampainya disana, mereka melihat para Kurawa sudah mulai menggali sungai dan mencari sumber mata air. Dibandingkan dengan para Kurawa yang menggunakan kekuatan otot, para Pandawa memilih untuk bersemadi di puncak Gunung Dihyang sisi sebelah timur, memohon petunjuk dari Sanghyang Widhi. Setelah cukup lama bersemadi, tiba-tiba muncullah sinar terang dihadapan mereka. Batara Narada turun dari langit memenuhi semadi para Pandawa “Holah dalah, cucu-cucuku Pandawa. Tapa dan semadi kalian aku terima. Apa yang membuat kalian bersemadi sedemikian kerasnya?” sulung Pandawa, Raden Puntadewa kemudian menjelaskan bahwa mereka ingin membuat sebuah sungai dari puncak gunung Dihyang tembus ke laut Selatan dan mereka bersemadi agar usaha mereka direstui oleh Sanghyang Widhi. Batara Narada paham dan berkata “Cucuku, keinginan kalian telah mendapat restu. Sekarang kamu Bratasena, tanggalkan pakaianmu lalu kencing dan mandi suci di kubangan itu. Permadi, keluarkan panah Sarotama. Kalian akan menggali sungai secara ajaib. Puntadewa dan si kembar, kalian akan kuajari mantra mengubah air kotor menjadi air bersih.” Setelah mengajarkan mantra itu, Batara Narada segera kembali ke kahyangan Jonggring Saloka.
Sesuai dengan petunjik dari Batara Narada, Arya Bratasena segera menanggalkan pakaiannya, bertelanjang lalu kencing di sebuah lubang, lalu Arya Bratasena mandi suci di kubangan dan mengalirkan air bekas mandinya ke lubang bekas tempatnya kencing. Setelah Puntadewa, Pinten, dan Tangsen menjapa mantra dari Batara Narada, terjadilah sebuah keajaiban. Atas seizin Sanghyang Widhi, air bekas kencing dan mandi suci Arya Bratasena berubah menjadi air bersih dan muncul sebagai air mancur raksasa dari dalam lubang membanjiri seluruh kubangan dan membuat kubangan penuh dengan air bagaikan air bah. Raden Puntadewa menandai lubang kubangan tempat Arya Bratasena kencing dan mandi suci lalu menamai tempat itu Tuk Bima Lukar. Agar air bah itu tidak menghancurkan lereng Gunung Dihyang dan daerah sekitarnya, Raden Permadi segera merentangkan Busur Gandiwa dan menembakkan panah Sarotama. Seketika tanah yang dilewati panah itu tersibak, berubah menjadi jalur sungai ke arah selatan. Untuk membantu adiknya dan mempercepat waktu, Arya Bratasena yang masih telanjang bulat membantu menggali sungai itu dengan ehm maaf, “lingga”nya sampai di muaranya di Laut Selatan. Sementara Puntadewa dan si kembar yang berjalan di belakang terus membacakan mantra agar air bah jelmaan kencing dan air bekas mandi suci itu tetap bersih sampai di Laut Selatan.
Tak terasa panah Sarotama yang ditembakkan Permadi dan Arya Bratasena yang ikut membantu menggali tanah telah menciptakan muara di ujung pesisir pantai selatan. Tiba-tiba saja laju panah Sarotama terhenti karena terhalang benda keras. Ketika diperiksa, ternyata panah itu membentur seekor udang raksasa terdampar di pinggir pantai. Ketika berniat membawa udang itu ke laut, tiba-tiba udang raksasa itu berubah menjadi seorang wanita cantik. Wanita itu datang ke arah para Pandawa. Arya Bratasena yang masih bertelanjang bulat menjadi malu dan bersembunyi dibalik punggung saudara-saudaranya sambil menutup auratnya. Sang wanita juga tersipu malu lalu memalingkan mukanya. Lalu dengan kesaktiannya, wanita itu menggerakkan panah Sarotama dan begitu panah bergerak, panah itu menyibak tanah dan pasir yang menutupi muara. Tak lama kemudian air bah jelmaan kencing yang telah bersih itu datang mengisi sungai dari hulu sampai ke laut. Sungai itu telah selesai dibuat dan Arya Bratasena bisa kembali memakai pakaiannya. Setelah berpakaian, Arya Bratasena mendatangi sang wanita. Seolah ada getaran cinta bergelora, Arya Bratasena berkata “duh ni sanak, sira ayu. Kamu cantik. Siapa sebenarnya ni sanak?“
Pertemuan dengan Dewi Urangayu
Tersadar karena belum memperkenalkan dirnya, sang wanita mundur sedikit dan memperkenalkan dirinya “ohh maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya Urangayu. Saya putri dari Batara Mintuna, dewa air tawar. Saya masih keponakan Batara Baruna, dewa air laut. Saya sengaja duduk bersemadi di tepi pantai ini karena saya mendapat petunjuk akan bertemu jodoh saya di tepi pantai ini. Wangsit yang saya dapatkan mengatakan bahwa jodoh saya adalah seorang pangeran Hastinapura, ksatria bertubuh tinggi besar bernama Raden Arya Bima.” Kemudian Bratasena menjelaskan bahwa dia adalah orang yang dia cari. Dia mengatakan bahwa memang memiliki nama asli Raden Arya Bima. Petunjuk dewata menjadi kenyataan dan Dewi Urangayu meminta agar Arya Bratasena segera menikahinya. Arya Bratasena menjelaskan bawa dia sendiri sudah menikah” maaf ni sanak. Aku sudah beristeri satu, namanya Nagagini, putri Batara Anantaboga. Apa kamu mau dimadu?” Dewi Urangayu kemudian menjawab bahwa dia tak keberatan bila dimadu. Arya Bratasena akhirnya menyanggupi untuk menikahinya tapi kemudian berkata “Nini Dewi, aku bersedia, aku sanggup menikahimu tapi nanti setelah kakakku, Puntadewa menjadi raja. Apa kau sanggup menunggu ?” kemudian Dewi Urangayu menyanggupinya “ aku sanggup menunggu, kangmas Bratasena.” Setelah semua selesai, para Pandawa bersama Dewi Urangayu berangkat menuju tegal Kurusetra, tempat yang telah disepakati untuk berkumpulnya Pandawa-Kurawa
Tak lama kemudian setelah mereka sampai di pinggir tegal Kurusetra, datanglah Resi Dorna dan Patih Arya Sengkuni bersama para Kurawa. Resi Dorna memeriksa hasil kerja para muridnya itu dan hasilnya sungai buatan para Pandawa lah yang sampai ke Laut Selatan sedangkan sungai buatan para Kurawa tidak menuju ke Laut Selatan, malah justru menyatu dengan sungai buatan para Pandawa. Maka, Resi dorna menyatakan bahwa para Pandawa yang menjadi pemenangnya dan berhak atas takhta Hastinapura. Prabu Anom Suyudana kemudian berkeringat dingin dan jatuh pingsan mendengar keputusan itu. Para Kurawa dan patih Sengkuni segera membawa sang putra mahkota Hastinapura itu kembali ke keraton. Resi Dorna yang terjepit diantara para Kurawa menjadi limbung dan jatuh di pertemuan dua sungai. Resi Dorna terlihat megap-megap tak mampu berenang ke pinggir karena arus kedua sungai yang bertemu terlalu kuat. Arya Bratasena segera menolong sang guru dan membawanya ke tempat selamat. Arca lingga-yoni yang dibawa Resi Dorna terbawa arus dan terhempas air bah sungai hingga batu arca itu terdampar di seberang sungai. Oleh Resi Dorna tempat dimana lingga-yoni itu terdampar dinamai Panembahan Drona. Setelah para Kurawa dan Patih Arya Sengkuni benar-benar pergi, Resi Dorna memberikan hadiah atas kemenangan mereka berupa batu mulia Panca Mayaretna yang mereka dapatkan tadi. Raden Puntadewa mendapat permata putih, Arya Bratasena mendapat permata kuning, Raden Permadi mendapatkan permata merah. Sementara permata hitam dan hijau diberikan kepada Raden Pinten dan Raden Tangsen. Kelima Pandawa berterima kasih pada sang guru atas kemurahan hati dan kebijaksanaannya. Setelah itu, Dewi Urangayu memohon pamit kepada para Pandawa dan Resi Dorna untuk kembali ke Kahyangan Kisiknarmada. Setelah itu Resi Dorna menamai sungai buatan Pandawa itu Bengawan Serayu, karena pada saat mereka selesai membangun sungai, Arya Bratasena bertemu dan langsung jatuh cinta dengan Dewi Urangayu lalu Bratasena berkata “sira ayu”padanya dan sungai buatan Kurawa yang menyatu dengan Bengawan Serayu dinamai Bengawan Klawing alias Cing cing Gumuling. Resi Dorna kemudian memberikan peringstan”anak-anakku Pandawa. Jangan sampai kalian melangkahi apalagi mencebur ke bengawan buatan para Kurawa ini. Nanti kalian terkena sial karena para Kurawa membuat bengawan ini penuh dengan hawa nafsu dan dendam pada kalian. Berhati-hatilah, anak-anakku.” Para Pandawa mengerti lalu kemudian mengajak sang guru itu untuk kembali menghadap pada uwa Prabu Dretarastra dan eyang Maharesi Bhisma di Hastinapura.
* papan jungkat-jungkit ; papan timbangan.

Senin, 06 Mei 2019

Nawaruci (Dewa Ruci)


Hallo, semua. Kali ini saya menceritakan kisah perjalanan Arya Bratasena mencari air sakti Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci atas perintah gurunya, Resi Dorna untuk belajar memahami Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip , hinggap pada akhirnya Arya Bratasena bertemu sang guru sejati, yaitu sang Nawaruci alias Dewa Ruci. Sumber yang saya gunakan berasal dari berbagai sumber di internet, Kitab Mahabharata yang ditulis ulang oleh Nyoman S, Pendit, dan serial kolosal Indonesia Karmapala karya Imam Tantowi.
Berita tentang selamatnya para Pandawa dan Dewi Kunthi membuat para Kurawa gusar bukan kepalang terutama Prabu Anom Suyudana. Pada suatu hari, Prabu Anom Suyudana mendapatkan mimpi bahwa takhta Hastinapura jatuh ke tangan Puntadewa dan dirinya dicemooh habis-habisan oleh para Pandawa. Hal itu amat mengganggunya selama berhari-hari. Diceritakannya hal itu kepada Resi Dorna. Resi Dorna yang lebih dekat pada para Kurawa berkata dengan nada yang setengah yakin“jangan khawatir, anak mas Suyudana. Sebelum para Pandawa datang kesini, aku akan mengelabuhi Bratasena lebih dahulu.” Di dalam hati Resi Dorna, sebenarnya dirinya amat bimbang, disatu sisi dia amat menyayangi Bratasena tapi disisi lain dia harus membantu Suyudana. Tak mungkin bagi dirinya untuk mencelakai muridnya sendiri. Tiba-tiba datanglah angin kencang menerbangkan kain kelambu. Terbesitlah sebuah ide untuk membuat Bratasena terjerumus dan celaka demi menyenangkan hati Suyudana. Lalu berangkatlah Resi Dorna ke pertapaan Saptarengga di kaki gunung Saptaharga, tempat para Pandawa untuk saat ini.
Sementara itu di Gunung Saptaharga, Maharesi Abiyasa menyambut kedatangan para Pandawa, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, dan para punakawan. Kebetulan disana ada pula Arya Widura, dan Maharesi Bhisma. Mereka bersyukur karena para Pandawa dan Dewi Kunthi masih diberi keselamatan oleh Sanghyang Widhi malah gembira mengetahui bahwa Puntadewa dan Bratasena sudah berumah tangga. Mereka berniat memboyong keluarga Pandawa kembali ke Hastinapura, namun Dewi Kunthi berkata “Terima kasih Paman Bhisma dan rayi Arya Widura, tapi kami bertujuh sudah sepakat akan tinggal di Saptarengga lagi saja.” Bhisma dan Arya Widura mengerti bahwa Dewi Kunthi dan para putra masih ada trauma. “Baiklah, kakang mbok Kunthi. Kami mengerti atas kondisimu dan para putramu, tapi bila kau membutuhkan segala sesuatu datang saja ke Hastinapura. Pintu gerbang Hastinapura selalu terbuka lebar untukmu dan putra-putramu.” Setelah Maharesi Bhisma dan Arya Widura pulang ke Hastina, beberapa jam kemudian datanglah Resi Dorna. Mereka saling beramah tamah dan Resi Dorna Bersyukur bahwa murid-murid terbaiknya berhasil selamat dari musibah kebakaran di Warnabrata. Dilihatnya wajah Bratasena yang lugu namun menyimpan uneg-uneg di hatinya. Lalu Resi Dorna ingin bicara dengan Arya Bratasena  di luar pertapaan“ Anak mas Bratasena, aku tahu di hati kecilmu itu sedang gundah gulana. Apa hal yang menggelisahkanmu, anakku?” Bratasena yang lugu kemudian menceritakan segala uneg-unegnya“Begini, guru. Atas segala ilmu kanuragan dan ajian-ajian yang kau berikan sudah cukup padaku. Tapi ada satu hal yang belum kau ajarkan, yaitu Ilmu Sangkan Paraning Dumadi, ilmu menuju Sejatining Urip. Aku ingin bisa memahaminya dan bukan hanya sekedar untuk diriku saja tapi ingin ku tularkan kepada orang lain.” Bak gayung bersambut, Resi Dorna kemudian berkata”anakku, bila kau ingin mendapatkan ilmu Sangkan Paraning Dumadi, Ilmu Sejatining Urip, aku bisa memberikannya sekarang, tapi kau harus membuktikan apakah dirimu pantas. Datanglah ke Sokalima besok hari.” Demikianlah Resi Dorna mengakhiri pembicaraanya itu dan bergegas pulang ke Sokalima setelah berpamitan pada Maharesi Abiyasa dan para Pandawa sekeluarga.
Keesokan harinya, Arya Bratasena datang ke Sokalima dan menemui Resi Dorna. Dirinya menyatakan telah siap dan pantas untuk mendapatkan pemahaman Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip. Resi Dorna pun berkata “ Anakku, Bima sang Bratasena. Sebelum kamu mendapatkan pemahaman tentang Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip, kamu harus mencarikan untukku sebuah pohon ajaib bernama Kayu Gung Susuhaning Angin terlebih dahulu. Carilah kayu itu di hutan Bawanasura di lereng Gunung Candramukha. Ciri-cirinya, pohon itu mengeluarkan angin kencang dan mengeluarkan gemuruh yang kuat ” Arya Bratasena kemudian menyanggupi permintaan itu. Setelah pamitan, Arya Bratasena berangkat meninggalkan Sokalima menuju Gunung Candramukha. Tak lama setelah Arya Bratasena pergi, Resi Dorna kedatangan salah satu adik Prabu Anom Suyudana, Arya Kartamarma yang ditemani Bambang Aswatama. Mereka bertanya apakah Bratasena sudah pergi. Resi Dorna menjawab dengan wajah liciknya “dia sudah pergi dan dia percaya padaku. Rencana untuk menjerumuskannya berjalan lancar. Lagipula, Gunung Candramukha itu amat angker dan wingit. Ada kerajaan para hantu dan setan di hutan Bawanasura dan sarang denawa pemakan manusia di puncak gunung itu. Jadi pasti dia bakal pulang tinggal nama saja.” Arya Kartamarma dan Bambang Aswatama merasa senang mendengarnya lalu kembali ke Hastinapura untuk dilaporkan pada Prabu Anom Suyudana.
Setelah berkuda menaiki gunung Candramukha selama sehari semalam, akhirnya Arya Bratasena menemukan hutan Bawanasura. Ditinggalkanlah kudanya di tengah hutan dan mulai mengobrak-abrik seisi hutan mencari Kayu Gung Susuhaning Angin. Nyatanya, kayu itu tak ada malah Bratasena harus melawan pasukan hantu dan setan di sana. Walaupun demikian, Arya Bratasena mampu mengalahkan hantu-hantu itu dengan bantuan ajian Niskala Sahashra Swasa*1. Setelah itu, dia merasakan adanya hembusan angin kencang  dan suara gemuruh dari puncak gunung. Arya Bratasena mengira pohon Kayu Gung Susuhaning Angin ada di puncak gunung itu. Kemudian dengan aji Angkusa Prana*2, dia bergerak melesat ke puncak gunung dan menemukan sumber gemuruh dan hembusan angin kencang, yaitu sebuah gua raksasa bernama Luweng Sigrangga yang tersumpal batu besar. Tanpa pikir panjang, dia memecahkan batu yang menyumpal sebagian mulut gua. Tak disangka, para penghuni gua, Denawa kembar Rukmukha dan Rukmakhala yang sedang tidur terbangun karena terganggu kuatnya tinjuan Bratasena yang kuat. Lalu mereka muncul di hadapan Bratasena. “ Heeehh... manusia,apa yang kamu lakukan disini. Mau cari mati kau dengan kami? Hooohoho.” Lalu Bratsena menjawab “Aku Bratasena. Aku diperintah guruku nyari pohon Kayu Gung Susuhaning Angin dan karena ada hembusan angin kencang dan suara gemuruh dari sini makanya aku kesini.” Kemudian kedua denawa itu menjawab dengan nada yang sinis dan berniat meledek keluguan dan sifat polos Bratasena.
 “Heei, manusia bodoh. Suara gemuruh itu adalah suara dengkuranku, Rukmakhala”
“dan hembusan angin kencang itu adalah hembusan nafasku.” Lalu kedua denawa itu menyerang Bratasena karena sejak terbangun tadi, mereka lapar dan baru kali ini menemukan makanan yang langsung datang dihadapan mereka. Merasa dipermainkan oleh kedua raksasa itu, Arya Bratasena kemudian membela diri dengan tinjunya. Namun, ketika Rukmukha jatuh terkena tinjunya, mendadak sehat lagi ketika Rukmakhala melangkahi tubuhnya. Begitupun Rukmakhala yang tadinya terkena tinju, begitu Rukmukha melangkahinya seketika dirinya langsung sehat. Arya Bratasena menjadi kewalahan. Akhirnya menemukan sebuah cara untuk mengalahkan mereka. Arya Bratasena langsung mengheningkan cipta dan membaca mantra penenang jiwa. Seketika, para denawa itu langsung limbung. Begitu dua raksasa itu limbung, Arya Bratasena menjambak rambut mereka lalu dibenturkanlah kepala mereka ke batu bersama-sama hingga kepala mereka remuk. Begitu kepala itu remuk lalu dipuntir sehingga dua kepala itu putus dan tewas lah mereka tanpa bisa bangun lagi.
Kemunculan Batara Bayu dan Batara Indra
Setelah itu terjadilah sebuah keajaiban. Bumi gonjang-ganjing, langit kolap kalip, angin bertiup bagai taufan badai, halilintar menyambar-nyambar. Jasad kedua denawa tu tiba-tiba hilang lenyap tak berbekas berganti dengan dua Dewata agung yaitu sang dewa langit, Batara Indra dan dewa angin, Batara Bayu, ayah angkat Bratasena. Kedua dewa itu berterima kasih pada Bratasena.” Terima kasih, putraku Bima Bratasena. Kau sudah membebaskan kami dari kutukan yang memalukan tadi.” Kemudian Arya Bratasena bertanya dengan bahasanya yang lugu “ Apa yang terjadi? Kok bisa Romo Batara dan Pukulun Batara Indra berubah jadi bhuta kala?” Batara Indra menjelaskan bahwa mereka dikutuk karena Batara Guru murka dengan kecerobohan mereka. Mereka datang terlambat ke persidangan para dewa ditambah mengerahkan kekuatan petir dan angin topan tapi membuat Dewi Wilotama yang sedang menari pendet jadi malu karena pakaiannya tersingkap terkena daya angin dari Batara Bayu. Karena itulah, Batara Guru mengutuk mereka menjadi denawa tadi. Lalu Arya Bratasena balik bertanya pada mereka “Romo Batara dan pukulun Batara Indra, apa kalian tahu dimana letak pohon Kayu Gung Susuhaning Angin? Aku dah cari kemana-mana gak ada” Batara indra kemudian menjawab “ Anakku, Bratasena. Ketahuilah, pohon kayu yang kau maksud itu bahkan tidak ada di kahyangan tertinggi. Kayu Gung Susuhaning Angin adalah perlambang dari dirimu, kau adalah putra Pandu Dewanata sekaligus putra angkat Bayu, putra dewa angin. Selain itu, makna Kayu Gung Susuhaning Angin yang sejati adalah penggambaran dari badan raga manusia yang setiap saat selalu memasukkan dan mengeluarkan angin dengan bernafas. “ Arya Bratasena yang bimbang bertanya lagi “Apa berarti Guru Dorna ngapusi, mempermaikanku?”  kemudian Batara Bayu memberikan jawaban yang menentramkan hatinya “ Tidak, anakku. Guru tak mungkin menjerumuskan muridnya kecuali agar muridnya menjadi semakin terdepan. Resi Dorna tidak sedang membohongimu tapi mengajarkan ilmunya melalui teka-teki dan jawabannya akan bisa kamu temukan sendiri bila dicari dengan betul-betul. Maka dari itu, kalau gurumu memberi tugas lagi, laksanakan, jangan ditolak.” Arya Bratasena pun sanggup menjalankan saran Batara Bayu. Sebagai bentuk terima kasih, Batara Indra memberikannya ikat pinggang sakti bernama ikat pinggang Naga Druwenda Manik Candhama. Batara Indra menjelaskan bahwa ikat pinggang itu akan berguna dan melindungi keselamatannya bila dia berada di dalam air. Arya Bratasena berterima kasih lagi dan memakainya di pinggangnya. Setelah itu, Arya Bratasena kembali lagi ke Sokalima.
Resi Dorna yang sedang duduk-duduk di bale bambu terkejut dengan datangnya Bratasena yang masih hidup dan tetap sehat tanpa kekurangan satupun. Arya Bratasena kemudian menceritakan segala pengalamannya tadi. Resi Dorna sangat terkesan atas keberhasilan muridnya itu dan membenarkan bahwa pohon itu adalah sebuah kias untuk raga wadag manusia. Dengan kata lain, Arya Bratasena berhasil membawa Kayu gung Susuhaning Angin dan lulus syarat pertama.Arya Bratasena kemudian bertanya lagi “Guru, apa aku sudah bisa mendapatkan ilmu Sejatinig Urip, Sangkan Paraning Dumadi?” Resi Dorna kemudian menjawab “Belum, anakku. Kau harus menerima satu tugasan lagi. Carilah dan temukan air sakti Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci di tengah pusaran Samudera Minangkalbu.” “dimanakah letak Samudera Minangkalbu itu, guru?” Resi Dorna kemudian menjawab “Ikutilah kata hatimu, kalau kata hatimu mengatakan ke utara maka ke Samudera utara tapi jika keyakinanmu di selatan maka berangkatlah ke Samudera selatan.” Teringatlah saran dari batara Bayu, maka Arya Bratasena menyanggupinya dan langsung berangkat untuk mencari air itu.
Arya Bratasena merasa tugasan kali ini lebih berat lagi, maka dirinya ingin minta izin pada ibu, empat saudara dan kakak iparnya. Sesampainya di Saptarengga, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, dan keempat saudaranya menyambutnya. Arya bratasena kemudian menceritakan keinginannya untuk mencari Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci di tengah pusaran Samudera Minangkalbu. Para Pandawa dan yang lain terkejut. Raden Puntadewa berusaha mencegahnya pergi karena takut itu hanya akal-akalan Kurawa saja melalui tangan Resi Dorna. Begitu juga Raden Permadi, Raden Pinten, dan Raden Tangsen. Mereka tak mau melepaskan tangan Arya Bratasena. Namun Bratasena semakin berkeras diri malah dia berusaha sungkem dihadapan kakak sulungnya itu. Melihat perjuangan adiknya yang tak bisa dihentikan lagi, Raden Puntadewa pun luluh. Begitu juga Raden Permadi, Raden Pinten dan Tangsen, luluhlah pula hati mereka melihat kebulatan tekad kakak nomor dua mereka. Kemudian Raden Puntadewa memberikan restunya “baiklah adikku, jika keinginanmu telah bulat, aku dan adik-adik tak berhak mencegahmu. Kami disini akan selalu mendukungmu”  Arya Bratasena kemudian meminta ijin ibunya, Dewi Kunthi “ Ibu, aku meminta ijinmu untuk mencari Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci agar mampu memahami Sangkan Paraning Dumadi” Dewi Kunthi kemudian berkata sambil menangis “Aku akan merestui mu, putraku Bayusuta. Tapi mohon pikirkanlah lagi. Ibu takut bila kau tak kembali.” Perkataan dewi Kunthi sempat membuatnya bimbang, namun segera dikuatkanlah hatinya “Ibu, pasrahkan segala nasib ku pada Sanghyang Widhi. Aku yakin rencana-Nya jauh lebih indah dari perkiraan kita, ibu” akhirnya Dewi Kunthi merestuinya dan Bratasena segera berangkat. Dirinya yakin bahawa Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci berada di Samudera selatan, sehinggalah dia berjalan selama berhari-hari dan sampai lah dia di pinggir pantai selatan.
Samudera selatan tampak tak pernah bersahabat. Ombaknya yang biru tinggi bergulung-gulung bagaikan setinggi gunung Mahameru, seakan hendak menelan apa dan siapa saja yang berani mencebur ke dalamnya. Suara gemuruhnya bagaikan tawa seribu pasukan denawa dan raksasa jahat yang tersiksa di neraka, membuat gentar hati siapa yang berada di pinggir pantai. Begitupun hati Arya Bratasena dan sempat berpikir untuk mundur saja karena takut tenggelam. Namun keinginan yang kuat untuk mencari Tirta sakti itu membuat dirinya yakin kembali dan menyerahkan hidup matinya di tangan Sanghyang Widhi. Dengan penuh kepasrahan, Arya Bratasena mencebur ke tengah samudera. Tak disangka, tubuhnya tiba-tiba ringan dan mampu mengambang di air. Rupanya daya kesaktian Ikat pinggang Naga Druwenda Manik Candhama telah memberikan kekuatan agar tubuhnya menjadi stabil ketika di air.
Berjuang melawan Naga Nawatnawa 
Dia pun berjalan kaki semakin ke tengah samudera mengikuti kata hatinya. Tiba-tiba muncul sesosok makhluk besar berwujud seekor ular naga raksasa. Naga itu berbadan sebesar sebuah bukit dan panjangnya lebih panjang dari anak sungai. Naga itu kemudian membelit seluruh badan Arya Bratasena mulai dari kaki hingga lehernya.  Arya Bratasena pun meronta-ronta namun semakin meronta, belitan sang naga semakin kuat. Bahkan ular naga itu terus menyemburkan hujan beracun yang amat panas dari mulutnya. Hampir-hampir dia gagal melepaskan diri. Namun, ketika sang naga hendak mencaplok kepalanya, Arya Bratasena berhasil mengeluarkan kedua tangannya dari belitan sang naga lalu dengan Kuku Pancanaka miliknya, Bratasena menusuk mulut dan leher ular naga itu. naga itu pun menggelepar-gelepar, lalu mati. Bangkainya dihempaskan ombak sehingga menghilang dari pandangan.
Tak lama setelah, pertarungan itu, sebuah ombak besar datang lagi dan menyapu Arya Bratasena semakin ke tengah laut. Semakin ke tengah laut, muncul sebuah pusaran air yang sangat besar. Arya Bratasena yang sudah sangat kelelahan membiarkan dirinya terhisap gelombang dari pusaran itu. Terombang-ambing bagaikan buih di samudera. Arya Bratasena semakin berserah diri kepada Sanghyang Widhi kemanapun dirinya akan dibawa ombak dan pusaran air itu. Kepasrahan dirinya semakin total, hidup matinya sudah benar-benar diserahkan dan dipasrahkan kepada Sanghyang Widhi. Dirinya sudah tak bisa merasakan apapun lagi, bagaikan Mati Sajroning Urip, Urip Sajroning Mati.
Di saat puncak dari kepasrahannya itu, Arya Bratasena dibangunkan oleh suara seseorang. Ketika membuka matanya, alangkah terkejutnya dia melihat sosok berwujud mirip manusia muncul dari cahaya berbentuk bagaikan bunga tunjung biru yang memiliki wajah dan postur tubuh yang sama persis dengan dirinya hanya saja berwujud kecil seperti anak-anak. “siapa kamu? Bagaimana bisa rupamu mirip denganku?” “Bima Bratasena, Putra kedua Pandu dan Kunthi, anak angkat dari sang Batara Bayu, aku adalah Nawaruci juga dipanggil Dewa Ruci. Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci yang sedang kau cari ada didalam dirimu” Arya Bratasena pun heran. Kemudian Nawaruci menjelaskan makna dari perjalanannya selama ini “Bima Bratasena, ketahuilah. Semua perjalananmu mencari persyaratan memahami Sangkan Paraning Dumadi, ilmu sejatining urip mengandung makna yang dalam. Para hantu dan setan yang kamu kalahkan di hutan Bawanasura adalah kiasan dari berbagai godaan dan fitnah di dunia ini. Kayu Gung Susuhaning Angin yang kau cari adalah kiasan dari manusia itu sendiri. Keindahan di Gunung Candramukha dan Luweng Sigrangga yang kamu datangi adalah kiasan dari keindahan tubuh dan wajah manusia. Denawa Rukmukha dan Rukmakhala adalah simbol dari godaan berupa keindahan rupa, perhiasan, dan kekayaan dunia. Kekayaan dan indahnya rupa menjadi salah satu penggoda terberat untuk manusia. Seringkali manusia lebih sibuk membenahi kebagusan rupa dan raganya ketimbang jiwanya. Karena itu setelah kau menang dalam pertarungan dengan dua denawa itu, muncullah Batara Indra dan Batara Bayu memberikanmu berkah. Batara Indra adalah lambang dari panca indria dan Batara Bayu adalah lambang dari hembusan nafas manusia. Peristiwa di gunung Candramukha adalah sebuah kiasan seorang manusia sudah menundukkan godaan panca indria, menghadapi fitnah dunia, dan telah mengatur olah napas untuk mengendalikan pikiran liar.”
Kemudian Nawaruci memperlihatkan gambar saudara-saudara Bratasena dan ibunya, Dewi Kunthi dengan kesaktiannya. Kemuadian Nawaruci menjelaskan “ Bratasena, lihatlah! Itu adalah saudara-saudaramu dan ibumu. Sebelum datang ke sini, awalnya kau di cegah oleh mereka berlima namun karena kebulatan tekadmu, mereka mendukungmu dan mengusahakan keselamatanmu melalui doa-doa yang mereka panjatkan. Mereka adalah perlambang dari saudara gaib setiap manusia. Mereka disebut ‘Kadang papat lima pancer.’ Yang empat adalah air kawah/ketuban, ari-ari/plasenta, tali pusar, dan darah. Mereka lahir bersamaan dengan kelahiran manusia melalui kelamin ibu. Meskipun secara fisik mereka sudah mati, tapi secara gaib, mereka tetap menjaga dan melindungi manusia sampai manusia itu menghadap kepada Hyang Widhi. Lalu yang disebut pancer adalah Marmati, disebut juga Ratu Jalu-Ratu Estri yang bersemayam di dalam kalbu setiap manusia. Orang pada umumnya menyebutnya nurani atau kata hati. Kata hati ini lah yang sepanjang hari, siang malam membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia. Orang yang berbuat seenaknya dan melampaui batas adalah bukan mengikuti kata hati tapi menuruti nafsu dan egonya. Mereka disebut kaum angkara murka atau di negeri seberang disebut dengan terhasut setan.“ Kemudian Arya Bratasena bertanya “Lalu bagaimana dengan perjalananku ke samudera ini? apakah memiliki makna juga?” Nawaruci pun menjawab”tentu saja, Bratasena. Saat kamu terjun ke laut, ombak di laut sedang bergejolak. Itu adalah adalah kiasan dari gejolak hati yang penuh kebimbangan dan keraguan. Kau telah berhasil melawan keraguanmu.  Lalu saat kau melawan naga yang membelitmu juga adalah kiasan dari perlawanan manusia melawan belitan hawa nafsu dan egonya sendiri. Naga yang membelitmu bernama Nemburnawa alias Nawatnawa merupakan perlambang dari sembilan lubang pada tubuh yang harus dijaga dengan baik oleh manusia yaitu lubang tempat kedua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang pelepasan. Dalam pertarungan, kau mampu mengalahkan ular naga dengan Kuku Pancanaka milikmu. Itu adalah perlambang dari manusia yang telah mampu mengheningkan segala cipta, rasa, karsa, dan tekad yang kuat untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan ego. Lalu saat kau membiarkan dirimu terombang-ambing dan terhisap pusaran air adalah gambaran sifat yang hendaknya dimiliki setiap manusia, tetap rendah hati di hadapan sesama makhluk-Nya dan semakin berserah diri kepada Sanghyang Widhi, Tuhan Semesta Alam agar tidak menjadi benih ujub, takabur dan menjadi belitan nafsu yang baru. Lalu tubuhmu yang tadi terombang-ambing digulung oleh ombak namun tetap mengambang juga sebuah perlambang manusia yang mampu menghadapi pasang surut dan fitnah kehidupan.”
Setelah mengakhiri penjelasannya, Nawaruci mengajak Arya Bratasena untuk masuk ke lubang telinganya apabila ingin mendapatkan Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci. Arya Bratasena merasa bimbang dan berkata “Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke telingamu. Ukuranmu saja hanya sebesar telapak tanganku” kemudian Nawaruci meyakinkannya” jangankan seorang Bratasena, seisi bumi, langit, kahyangan, bahkan seluruh jagad raya muat semuanya di dalam tubuhku.” Arya Bratasena kemudian sadar dengan siapa dirinya kini sedang berhadapan. Dia tak lagi berkacak pinggang melainkan menyembah penuh hormat dan menggunakan bahasa terhalus yang dia bisa. Padahal sehari-harinya dia selalu berbahasa lugu dan berkacak pinggang pada siapapun bahkan kepada Batara Guru sekalipun. Dengan tenang dan penuh kepasrahan, Bratasena memasuki telinga kiri sang Nawaruci. Ajaib, keadaan di dalam tubuh Nawaruci sangat luas tanpa berbatas. Tak ada barat, selatan, timur, dan utara. Suasana didalam sana terang benderang namun tak menyilaukan padahal tak ada mentari, tak ada rembulan, bahkan pelita pun tak ada. Hawanya tidaklah panas tidak pula dingin. Sungguh menentramkan hati siapapun yang memasukinya.
Lalu terdengarlah suara Nawaruci membimbing Arya Bratasena “lihatlah didepanmu. Adalah samudera luas tak bertepi. Itulah lambang dari Wahananing Tyas Pribadi, luasnya isi hati manusia namun karena hawa nafsu, isi hati terlihat menjadi kecil dan membuat manusia selalu berpikiran sempit.” Kemudian Arya Bratasena berjalan lagi dan melihat pemandangan kabut cahaya lima warna yang samar-samar. Nawaruci pun berkata bahwa itulah Pancamaya Wahananing Jantung, yang bersemayam di dalam cipta, mengendalikan panca indria manusia.
Setelah berjalan lagi, muncullah empat cahaya berwarna hitam, merah, kuning, dan putih berputar mengitari Arya Bratasena.
Keadaan di dalam sang Nawaruci
Sang Nawaruci kemudian menjelaskan “ keempat cahaya itu adalah wujud dari Wahananing Budi, perlambang dari empat nafsu. Cahaya hitam yang kau lihat adalah nafsu aluamah, perlambang nafsu badaniah yang menyebabkan manusia merasakan lapar, dahaga, letih, dan mengantuk. Cahaya merah adalah nafsu amarah, perlambang dari keinginan meraih cita-cita dan kesumat. Lalu cahaya kuning, itulah nafsu supiah, perlambang dari keinginan untuk memuaskan kegembiraan, baik birahi maupun kesenangan duniawi dan cahaya putih adalaha perlambang dari nafsu mutmainah, nafsu kesucian. Perlambang dari keinginan untuk melakukan hal baik, maupun bersembahyang dan beribadah. Keempat nafsu ini menjadi bahan bakar bagi manusia, tapi harus sesuai takarannya, harus dikendalikan, dan tak boleh berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bahkan bisa menjadi racun yang mematikan .”
Tak lama kemudian, cahaya putih pecah menjadi empat warna lagi sehingga berubahlah,  empat cahaya itu melengkapi tiga warna sebelumnya dan menjadi tujuh warna cahaya bagai pelangi, yaitu hitam, merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan putih. Ketujuh cahaya itu melingkari tubuh Arya Bratasena. Sang Nawaruci menjelaskan “Bratasena, ketujuh cahaya pelangi yang mengelilingi seluruh tubuhmu adalah Cahyaning Pramono atau Wahananing Pengeran, perlambang dari kuasa penciptaan. Cahaya hitam melambangkan nisthaning cipta, lambang penciptaan binatang melata. Cahaya merah melambangkan dhustaning cipta, lambang terciptanya sifat-sifat liar dan buas pada setiap binatang. Cahaya kuning adalah lambang doraning cipta, simbolisasi penciptaan bangsa burung atau unggas. Lalu cahaya putih adalah simbol setyaning cipta, lambang kehidupan air. Selanjutnya cahaya hijau adalah lambang sentosaning cipta, perlambang tumbuh-tumbuhan. Ada lagi cahaya berwarna biru, itu lambang sembadaning cipta, kehidupan yang terlihat oleh panca indria dan yang terakhir cahaya berwarna jingga, perlambang dari owah-gringsing cipta, yakni hubungan maupun timbal balik diantara mereka.” sang Nawaruci juga menjelaskankan ketujuh warna itu bermakna juga tujuh cakra (warna aura) daam tubuh manusia.
Setelah itu, ketujuh cahaya itu lenyap dan Arya Bratasena melihat kegelapan total dan sebutir noktah kecil bercahaya yang tiba-tiba merekah disertai suara dengung ribuan lebah. Lalu dari suara dengungan itu, muncullah butiran-butiran telur yang sangat gelap lalu sebagaiannya meletup dan mulai berubah menjadi cahaya putih yang terang dan jernih membentuk segala bintang-bintang, awan kosmik, galaksi, dan planet. Sebagaian telur gelap itu lalu jatuh ke dasar planet-planet dan sebagaiannya tetap bersemayam di ruang antar planet. Sang Nawaruci berkata bahawa yang Bratasena lihat adalah wujud dari Pramononing Sukma, lambang dari terciptanya jagad agung (Makrokosmos) dan jagad alit (Mikrokosmos). Kemudian Arya Bratasena melihat wujud boneka gading yang jika diamati bagaikan bertahtakan mutiara dan berlian. Boneka itu bercahaya terang benderang tak menyilaukan dan membawa kedamaian. Sang Nawaruci berkata bahwa itu lah Pramononing Rahsa yang berkuasa atas ketetapan  terhadap seluruh jagad alit dan jagad agung, mendapatkan daya dari Sanghyang Atma.
Terakhir, Arya Bratasena melihat sebuah sifat Maha Tunggal, tak berjenis kelamin, tak bertempat juga tak bertakhta. Tak berupa dan tanpa warna. Wujud itu diselimuti cahaya yang indah penuh gilang-gemilang tanpa bayangan. Sebuah dzat yang Maha Agung. Sang Nawaruci berkata kepada Bratasena “itulah Atma Gaib, Sipat Sejati. Dialah sang kuasa mengatur alam raya. Dialah Sanghyang Widhi yang Maha Agung. Dia lah Sang Urip, Sanghyang Mahasuci. Pencipta alam semesta. Sebenarnya Dia sangatlah dekat dengan kita bagaikan dekatnya ruh dan atma, namun nafsu dan egolah yang membuat manusia yang menjauhkan diri dari-Nya.”
Arya Bratasena merasa nyaman dan tercerahkan setelah berada didalam tubuh Sang Nawaruci. Dia ingin tinggal didalam sana untuk selamanya. Nawaruci kemudian berkata “Bratasena, kau boleh tinggal disini tapi bukanlah sekarang. Belum saatnya kau menyatu dengan-Ku. Masih banyak hal yang harus kau lakukan di alam nyata. Sebarkanlah ilmumu, tebarkalah cinta dan kasih sayang terhadap setiap makhluk. Jangan kau lihat perbedaan yang ada. Itulah namanya ciri khas. Itulah dunia. Perbedaan akan membawa keberagaman dan kekayaan makna. Keluarlah, wahai ksatria. Dharma baktimu sudah menunggu untuk ditunaikan” Arya Bratasena pun keluar dari tubuh Nawaruci lewat telinga kanan.
Terbentuknya Gelung Minangkara
Saat melangkah, cahaya yang sangat terang pun muncul dan begitu berhasil keluar, rambutnya telah digelung dengan hiasan bentuk minangkara, tak lagi terurai dengan sanggul Garudha Mungkur. Arya Bratasena heran melihatnay lalu bertanya pada sang Nawaruci namun sebelum mengucakan pertanyaan, sang Nawaruci telah menjawabnya lebih dahulu “mengenai gelung minangkara yang kini kau pakai, itu adalah sebuah perlambang agar kau selalu berserah diri dan rendah hati. Aku berharap hendaknya kau tetap rendah hati dan semakin berserah diri. Tak perlu menunjuk-nunjuk, janganlah tinggi hati dan pamer ilmu kepandaian. Hendaknya kau menjadi manusia sejati yang semakin tahu semakin merendah bagaikan padi yang berisi. Hormatilah gurumu Resi Dorna seperti apapun jua karena jika tanpa perintah darinya, kau tidak mungkin kau bisa bertemu denganku” Usai berkata demikian, sang Nawaruci lenyap berubah menjadi cahaya terang dan masuk ke dalam diri Arya Bratasena.
Resi Dorna yang sebenarnya sangat khawatir pada keselamatan Arya Bratasena bergegas menuju ke pantai selatan. Kebetulan, datang pula Raden Permadi, murid kesayangannya yang juga sangat khawatir pada kakak nomor duanya itu. Mereka berdua akhirnya di sebuah tebing pantai. Mereka menunggu Arya Bratasena dan bila sampai matahari terbenam Arya Bratasena belum muncul juga, mereka bersumpah untuk menceburkan ke samudera. Sampai matahari tebenam, Arya bratasena belumlah muncul. Mereka akhirnya menceburkan diri ke dalam laut yang berombak besar. Mereka berdua ikut tersapu ombak kesana-kemari bagikan buih. Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Arya Bratasena keluar dari dalam air lalu mengangkat Resi Dorna dan Raden Permadi menuju ke pantai. Setelah Resi Dorna dan Raden Permadi siuman, Arya Bratasena sungkem pada sang guru dan berterima kasih padanya “Terima kasih, guru Dorna. Berkatmu, kini Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci telah ku dapatkan. Bukan berwujud benda tapi sebuah pelajaran yang sangat berharga.” Resi Dorna menjadi salah tingkah. Walaupun demikian, dia sangat bangga pada muridnya itu. Setelah meluruskan hal yang sebenarnya, Resi Dorna mengajak kedua murid kinasihnya itu untuk bersyukur kepada Yang Maha Agung dan memilih untuk mengundur kepergiannya ke Hastinapura. Sejak saat itulah, walaupun Resi Dorna menjadi kaya karena Suyudana dan lebih dekat pada Kurawa, di dalam hatinya tetap memihak keluarga Pandawa Lima.
*1 Niskala Sahashra Swasa adalah ajian angin gaib atau angin tak kasat mata. Angin yang dikeluakannya bersifat gaib, tak bisa dirasakan dengan indria biasa, namun efek yang ditimbulkannya akan membuat makhluk-makhluk tak kasat mata menjadi kelimpungan dan kucar kacir.
* 2 Angkusa Prana adalah ajian yang mampu membuat si pemilik ajian mampu mengumpulkan tenaga dua belas penjuru mata angin menjadi energi lontar dan energi ledak.

Rabu, 01 Mei 2019

Sayembara Dewi Drupadi ( Gandamana Gugur)


Hai guys, Kisah kali ini adalah kisah titik balik kembalinya Pandawa setelah selamat dari kebakaran besar di Bale Sigala-gala, yakni pernikahan Dewi Drupadi. Dalam versi India, Draupadi dinikahi oleh lima Pandava sekaligus alias berpoliandri karena keteledoran Kunti yang mengira Draupadi sebagai hasil minta-minta di jalan, dalam kisah yang saya ceritakan ini adalah versi yang sudah digubah oleh Sunan Kalijaga karena poliandri sangat tidak sesuai dengan budaya Jawa dan ajaran agama. Kisah ini juga menceritakan gugurnya Arya Gandamana setelah menjadi jago dalam sayembara itu. Kisah ditutup dengan Pandawa, Dewi Kunthi, dan para Punakawan membuka samaran mereka dan kembali ke Pertapaan Saptaharga untuk minta restu. Sumber kisah ini berasal dari kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, serial kolosal India Mahabharat Starplus, Kitab Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi Ronggowarsito, kisah Kidung Malam karya Herjaka.S, dan serial kolosal Indonesia Karmapala karya Imam Tantowi lalu saya kembangkan dan ubah dengan sedikit imajinasi saya.
Pada suatu hari, Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada sedang bermimpi naik kereta kencana dan bersanding bersama seorang pemuda rupawan berkulit bersih dengan dikawal 4 perwara yang semuanya berwajah tampan dengan wajah yang sumringah. Setelah terbangun dari mimpinya, Dewi Drupadi menceritakan mimpinya pada ayahandanya. Prabu Drupada menafsirkan mimpi itu bahawa sang putri akan mendapat jodoh seorang ksatria yang berwatak brahmana. Prabu Drupada merasa sudah saatnya Dewi Drupadi untuk segera menikah ditambah lagi banyak raja dan pangeran yang datang untuk melamarnya tempo hari. Lalu dia berunding dengan kakak iparnya, Arya Gandamana, Arya Drestajumena, sang putra mahkota dan patihnya, Patih Drestaketu untuk membahas hal itu. “kaka Arya, bagaimana pendapatmu? Aku bingung, banyak para raja dan pangeran ingin melamar putriku tapi Drupadi ingin memilih telah mendapat gambaran jodohnya” Arya Gandamana kemudian memberikan solusi “rayi Prabu, menurutku jika kita adakan sayembara untuk menentukan siapa yang pantas. Siapa tahu jodoh Drupadi ada pada salah satu peserta sayembara” “Hmm.....Sayembara? aku setuju bila diadakan sayembara. Tapi sayembara yang seperti apa? Ada yang punya usulan? Mungkin putraku Drestajumena bisa memberikan masukan.” Begitu namanya disebut, Drestajumena menjawab”Ayahanda Prabu, saya punya satu usulan. Semenjak aku berguru di Sokalima, aku sangat menyukai panahan dan kebetulan di gedong pusaka, tersimpan busur Agneyahimastra*1 milik para leluhur. Aku mengusulkan agar untuk pernikahan kanda Dewi Drupadi diadakan sayembara panahan dengan menggunakan busur Agneyahimastra. Untuk sasarannya, sasarannya adalah satu jepit rambut kanda Dewi yang digantung. Si pemanah tidak boleh melihat sasarannya secara langsung tetapi harus melalui media pantulan bayangan di cermin.” Setelah berunding, Prabu Drupada setuju. Setelah mereka membubarkan diri, Patih Drestaketu dan Arya Drestajumena segera mempersiapkan segalanya untuk sayembara itu. Tak butuh waktu lama, arena sayembara telah siap dan sayembara akan digelar besok harinya
Sementara itu, Dewi Kunthi, para Pandawa, dan para Punakawan yang telah meninggalkan kerajaan Ekacakra melanjutkan pengembaraan menjauhi tanah Hastinapura. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Begawan Dhomya, sahabat sekaligus guru Maharesi Abiyasa. Berkat ketekunannya beribadah, dia masih diberi umur panjang untuk bertemu para Pandawa, cucu sang murid dan Ki lurah Semar. Walaupun mereka sedang menjadi brahmana, Begawan Dhomya dapat mengenali mereka. “hmmm... kalian pasti cucu-cucuku Pandawa, mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi saya dapat mengenali kalian. Kalian adalah salah satu cucu Abiyasa, murid saya” Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa) kemudian bertanya “mohon ampun eyang Begawan, siapakah sebenarnya anda?” “nama saya Dhomya, dari pertapaan gunung Mahayana. Saya sahabat dari kakek kalian.” Setelah mendengar hal itu, para Pandawa, Dewi Kunthi, dan para punakawan memberi hormat. Ki Lurah Semar bertanya pada sang begawan “hmm blegedag blegedug...panjang umur untuk sang begawan. Jikalau diperkenankan, ada gerangan apakah sang begawan bertemu dengan kami?” begawan Dhomya kemudian menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan wangsit dari dewata untuk memberitahukan kepada para Pandawa bahwa di Pancalaradya akan diadakan sebuah sayembara untuk mendapatkan putri sulung sang Prabu Drupada yaitu Dewi Drupadi dan mengijinkan para Pandawa ikut sayembara itu. Dewi Kunthi pun teringat tentang keinginan suaminya dulu, Pandu Dewanata yang ingin bisa berbesan dengan Prabu Drupada. Akhirnya Dewi Kunthi mengijinkan tiga dari para Pandawa ikut serta dan menyaksikan sayembara lebih dahulu sementara dirinya bersama Pinten,Tangsen, dan para punakawan akan menyusul belakangan.
Keesokan harinya, para raja dan para pangeran telah berkumpul di arena sayembara. Ditengah arena itu telah berdiri sebuah tiang setinggi seratus depa yang di puncaknya diikat sebuah jepit rambut bunga teratai milik Dewi Drupadi dan sebuah cermin besar selebar tujuh depa. Di dekatnya pula terdapat sebuah meja yang diatasnya ada busur sakti Agneyahimastra. Sementara itu, Prabu Drupada, Dewi Gandawati, Dewi Srikandhi, Arya Drestajumena, Arya Gandamana dan Dewi Drupadi menonton di kejauhan. Setelah para tetamu undangan dan peseta sayembara berkumpul semua, Arya Drestajumena mengumumkan tatacara sayembara “Wahai para raja, para pangeran, dan para tetamu undangan yang telah dimuliakan Yang Maha Agung, disini saya akan mengumumkan tatacara sayembara ini. Barangsiapa yang mampu memanah jepit rambut di atas tiang itu sambil memandang cermin menggunakan busur sakti Agneyahimastra ini, maka dia berhak memperistri Kakakku, Kanda Dewi Drupadi.” Selesai mengumumkan pengumuman, naiklah ke arena itu Prabu Salya, raja Mandaraka. Dia berniat untuk menjadikan Dewi Drupadi sebagai menantunya. Setelah mengutarakan maksudnya dan dipersilahkan oleh Prabu Drupada, Prabu Salya mematrapkan aji Candhabirawa dan seketika itu keluarah para raksasa untuk membantunya. Namun yang terjadi, para raksasa dan dirinya tak mampu mengangkat busur sakti itu. Semakin diangkat, busur itu semakin berat. Prabu Salya dan para raksasa menyerah lalu mereka mohon pamit untuk duduk kembali di tribun.
Peserta berikutnya adalah pangeran mahkota Sindu Banakeling, Prabu Anom Jayadrata. Dia berusaha mengangkat busur sakti itu. Namun begitu busur itu terangkat sedikit, badannya langsung lemas. Prabu Anom Jayadrata akhirnya menyerah dan kembali ke tribun. Lalu keluarlah peserta berikutnya, yaitu Prabu Jarasanda alias Prabu Jaka Slewah, raja Giribajra. Dengan pongahnya, sang raja itu berusaha mengangkat busur sakti Agneyahimastra, tapi seperti yang terjadi sebelumnya, Prabu Jarasanda tak kuat mengangkat busur itu malah jatuh terduduk karena seluruh tenaganya bagaikan disedot oleh busur panah itu. Setelah dibantu berdiri, dia marah-marah lalu naik lagi ke tribun karena mendapat malu. Begitulah yang terjadi sehinggalah dipanggillah wakil dari Hastinapura, yaitu Raden Suryaputra dari Awangga. Raden Suryaputra datang bersama Prabu Anom Suyudana, Arya Dursasana, Bambang Adimanggala, Bambang Aswatama, Patih Arya Sengkuni, Raden Citraksa-Citraksi, dan beberapa Kurawa lainnya.dia datang untuk mewakili Prabu Anom Suyudana. Begitu Raden Suryaputra naik ke arena, sifatnya yang biasanya angkuh dan berlagak berubah menjadi penuh hormat pada sang busur. Begitu tangannya memegang busur itu, busur itu langsung terangkat dan ringan sekali. Dewi Drupadi kemudian bertanya pada ayahnya”Ayahanda, saya mau tanya. Apa benar Raden Suryaputra yang disana itu pangeran Awangga? Aku dengar dia adalah anak Adipati Adiratha yang dulunya kusir keraton Hastinapura.” “ sepengetahuanku itu dia anak Adiratha tapi aku juga tak tahu kalau Adiratha sudah jadi Adipati di Awangga, anakku. Tapi jangan remehkan dia dan kesaktiannya.” Hati Dewi Drupadi menjadi bimbang dan ingin menanyakan hal itu pada Raden Suryaputra langsung. Lalu ketika Raden Suryaputra sudah mulai menarik busur panah dan hampir melepaskan bidikannya, tiba-tiba Dewi Drupadi turun dari tribun dan berkata dengan lembut namun cukup keras ”Tunggu dulu, anak kusir.” Tak pelak, Raden Suryaputra menjadi hilang fokus dan tembakan panahnya meleset jauh dan mengenai pohon beringin. Raden Suryaputra menjadi tersinggung dan menanya balik Dewi Drupadi “Mohon maaf, tuan putri. Ada apa kau menghentikanku?” “bukan sebuah hal yang terlalu penting, raden. Saya hanya ingin bertanya apakah raden benar putra dari sais Adiratha? Bila benar, berarti raden ini hanya kere yang munggah bale” mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, Raden Suryaputra merasa sangat disepelekan dan amat marah. Dia meletakkan busur Agneyahimastra kembali pada meja, lalu berkata dengan kasar “Ingat ini, tuan putri. Kau telah menggagalkan sayembaramu sendiri dengan menghina dan menyepelekan aku, maka aku bersumpah kau akan mengalami hal yang sama, dihina dan dipermalukan di depan khalayak. Semoga aku punya umur panjang untuk menyaksikan hal itu, tuan putri!!” setelah itu, Raden Suryaputra pergi meninggalkan arena disusul oleh adik angkatnya, Bambang Adimanggala sementara Dewi Drupadi kembali ke tempat duduknya sambil menangis.
Para tetamu undangan merasa terkejut dan terutama Prabu Anom Suyudana merasa marah atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap Raden Suryaputra. Dihadapan hadirin di sana, Prabu Anom Suyudana mengatakan bahwa sayembara ini terlalu mustahil dan berkata bahwa kerajaan Pancalaradya hendak membuka perang. Akhirnya kemudian berdirilah Arya Gandamana dan membuka satu sayembara lagi agar putri angkatnya itu bisa segera menikah“ baiklah, karena ada yang merasa sayembara memanah ini terlalu susah, maka saya tambah satu sayembara tanding. Siapapun yang bisa mengalahkan saya, tak peduli apapun kasta yang disandangnya, kedudukan ataupun darimanakah asal-usulnya, maka dia yang berhak menikahi putri sulung Prabu Drupada sekaligus putri angkat saya, Dewi Drupadi. Terserah mau pakai senjata apa saja, saya akan ladeni dengan tanah kosong!” Prabu Anom Suyudana yang sejak tadi merasa kesal karena sahabatnya dihina segera meladeni sayembara tanding itu. Dengan menggunakan gadanya, dia memukul dan menyerang Arya Gandamana. Namun karena Ajian Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa yang dipatrapkan Arya Gandamana, Suyudana menjadi terdesak. Melihat kakak tertua mereka dalam keadaan yang demikian, Arya Dursasana dan adik-adiknya segera membantu Prabu Anom Suyudana. Namun bukannya kalah, justru Arya Gandamana mampu membuat para Kurawa terdesak dan pontang-panting bahkan terlempar keluar ibukota.
Bersamaan itu pula datanglah empat orang pendeta. Yang tertua adalah begawan Dhomya dan tiga pendeta dibelakangnya adalah Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa),Wasi Kusumayuda (Arya Bratasena), dan Wasi Parta (Raden Permadi).
Permadi menyelesaikan sayembara memanah
Dua dari mereka, Wasi Kusumayuda dan Wasi Parta kemudian memohon pada Arya Gandamana dan Arya Drestajumena untuk diperkenankan ikut sayembara mewakilkan kakak tertua mereka yang bersama Begawan Dhomya. Setelah diijinkan Prabu Drupada, ajang sayembara itu dilangsungkan kembali. Wasi Parta mulai naik ke arena sayembara panah dan menghormat pada busur Agneyahimastra. Wasi Parta mulai mengangkat busur panah sakti itu. Ajaib, busur itu sangat ringan ketika diangkatnya. Lalu Wasi Parta mulai mengambil anak panah menarik busur itu, lalu membidik sasaran melalui cermin. Setelah mendapatkan fokus, terlepaslah panah itu dan melesat secepat kilat, tepat mengenai jepit rambut yang berada di atas tiang tersebut. Seketika, busur Agneyahimastra menghilang dan menyatu dengan busur Gandiwa miliknya. Wasi Parta dinyatakan sebagai pemenang sayembara memanah. Bersamaan itu pula, datanglah Nyai Prita (Dewi Kunthi), Wasi Grantika dan Tripala (Raden Pinten dan Tangsen), dan Ki Lurah Semar beserta anak-anaknya. Mereka bangga akan kemenangan Wasi Parta dan memberikan selamat kepadanya.
Sementara itu, Wasi Kusumayuda masih bertanding gulat dengan Arya Gandamana. Pertandingan itu masih berimbang. Anehnya, Aji Bandung Bandawasa dan Wungkal Bener tidak bekerja sebagaimana mestinya. Lalu di saat Wasi Kusumayuda lengah, Arya Gandamana mencekiknya dengan cara dikempit menggunakan ketiaknya. Wasi Kusumayuda merasa sesak nafas karena tercekik. Dia pun merintih ”Ayahanda Panduuu... Bunda Madriiiim.... Akuuu, anakmu ingin menyusulmuuuu......” seketika itu pula, Arya Gandamana terkejut bahawa yang bertanding gulat dengannya itu adalah Arya Bratasena, putra junjungannya dahulu.
Gugurnya Arya Gandamana
Tanpa sadar, Kuku Pancanaka milik Wasi Kusumayuda memanjang dan menembus dada Arya Gandamana. Arya Gandamana merasa dingin dan roboh ke tanah dengan bersimbah darah.
Wasi Kusumayuda menangis memeluk Arya Gandamana sambil memohon ampun karena tak sengaja melukainya ”Ampuun.... Paman Arya.... akuu... maafkan akuuu...” Tak lama, Resi Dwijakangka, Wasi Parta, Wasi Gratika dan Tripala, dan Nyai Prita ikut mendekat untuk menghampiri mereka. Begitu juga keluarga Pancalaradya segera meninggalkan tempat duduk untuk melihat kondisi mereka. Namun Arya Gandamana tak menyalahkan sesiapapun dan mengumumkan bahwa Pandawa telah kembali. “rayi Prabu Drupada.... inilah mereka. Para Pandawa dan Dewi Kunthi...... mereka telah selamat...dari kebakaran tempo hari.....” Prabu Drupada sekeluarga terkejut sekaligus gembira mendengarnya bahwa Pandawa dan Dewi Kunthi telah selamat tanpa kurang satu apapun. Sebelum Arya Gandamana menghembuskan nafas terakhir, dia mengheningkan cipta dan mewariskan Aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa pada Arya Bratasena, Kalung sakti Robyong Mustikawarih*2pada Puntadewa, dan Ajian Sepiangin pada Permadi. Setelah mewariskan segala kesaktiannya, Arya Gandamana wafat dengan keadaan khusnul kotimah dan langsung moksa ke kahyangan. Sayembarapun selesai. Kini, Prabu Drupada dapat berbesan dengan mendiang Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Drupadi telah mendapatkan jodohnya yaitu Raden Puntadewa, putra sulung Pandu Dewanata yang berwatak bagai brahmana, sesuai seperti dalam mimpinya. Dewi Srikandhi yang menyaksikan Permadi sedang membidik sasaran tadi seketika jatuh hatipadanya. Begitu pula Raden Permadi, sama-sama tertarik hatinya ketika melihat ayunya wajah Srikandhi namun mereka masih malu-malu untuk mengungkapkan.
Sementara itu, para Kurawa dan para peserta yang gagal belum pulang dari kerajaan Pancalaradya, telah mendengar bahwa sayembara telah usai dan Dewi Drupadi telah menjadi isteri seorang pendeta muda menjadi kesal hati. Di saat hari pernikahan Puntadewa dan Drupadi dilangsungkan, mereka datang menyerang Kerajaan Pancalaradya dan berniat merebut Dewi Drupadi. Arya Bratasena yang sudah memakai pakaian pangeran mengalahkan mereka dengan tiang bekas sarana sayembara. Mereka kemudian kucar-kacir dan lari pontang panting ke negara mereka masing-masing. Hari itu pula, para Pandawa dan Dewi Kunthi telah membuka penyamaran mereka. Dewi Kunthi sudah tak lagi menjadi Nyai Prita yang berpakaian dari kulit kayu dan berganti baju dengan pakaian ratu janda. Para Pandawa juga para punakawan mencukur janggut dan kumis tebal mereka. Setelah beberapa hari, mereka meminta izin untuk kembali ke pertapaan Saptaharga untuk menghadap Maharesi Abiyasa.
*1 Busur Agneyahimastra adalah busur pusaka kerajaan Pancalaradya. Bila busur itu direntangkan sambil merapal mantra/ ajian beraliaran dingin, maka akan keluar hujan panah es. Sebalikanya, bila dirapal dengan mantra/ ajian beraliran panas, maka akan keluar hujan panah api
2*Kalung Robyong Mustikawarih adalah kalung sakti milik Puntadewa/Yudhistira yang tersembunyi di dalam kulit di luar daging. Bila Puntadewa meraba kalung itu dalam kondisi emosinya yang terdalam atau saat kesabarannya telah pada batasnya, maka dia bisa berubah menjadi raksasa mengerikan berkulit putih bersih bernama Dewa Amral.