Selasa, 12 Februari 2019

Manggadewa Tangganingjiwa : Lahirnya Ksatria Berdarah Putih

Holla para readers. Kisah kali ini mengisahkan kisah awal kelahiran dari sulung Pandawa. Yups, ini kisah kelahiran dari Puntadewa alias Yudhistira. Dalam kisah Mahabharata versi India dan yang ditayangkan di serial kolosal di televisi, Pandawa lahir akibat 'hubungan' para istri Pandu dengan para dewa tapi disini saya mengikuti alur pedalangan Jawa menceritakan Pandawa adalah murni anak biologis Prabu Pandu Dewanata yang dibantu oleh para dewa pada saat dipertemukannya benih dan saat kelahiran mereka. Disini juga dikisahkan kelahiran para pangeran kerajaan Wiratha, yaitu Raden Arya Seta, Arya Utara, Arya Wratsangka/Sangka dan Patih Nirbita. Sumber yang saya gunakan berasal dari Kitab Pustakaraja Purwa karaya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang dipadukan dengan kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa dan blog-blog pedalangan di internet yang lalu saya kembangkan sendiri.

Telah hampir setahun Prabu Pandu hidup menyepi di padepokan Saptarengga mengekang hawa nafsunya dan memohon pada dewata sebuah sarana untuk berputra. Di padepokan, Dewi Kunthi dan Dewi Madrim dibantu para punakawan dengan sabar menemani Prabu Pandu bersemedi. Pada suatu hari,ketika Pandu khusyuk bersemedi, terdengarlah wangsit dewata “Anakku, Pandu. sebentar lagi akan datang orang yang memberimu sarana untuk berputra. Tunggulah dia”
Pada suatu pagi di akhir musim dingin, datanglah dua pendeta agung ke gunung Saptarengga.. Mereka adalah Resi Durwasa dan Maharesi Abiyasa. Para penghuni padepokan dan punakawan sangat menaruh hormat pada mereka. Ki Lurah Semar menyambut kedatangan mereka, “selamat datang sang resi dan ndoro Abiyasa. Ada angin apakah sehingga ndoro sekalian mampir ke sini?” Resi Durwasa pun menjawab “Tidak ada yang sekedar kebetulan di dunia ini, betulkan itu, Kakang Semar? Aku kesini datang mendapat wangsit dari Dewata agung untuk memberikan buah mangga ini. Mangga ini bukan sembarang mangga. Ini buah Manggadewa Tangganingjiwa*. Berikan buah ini pada bendoro Kakang. Aku akan membantu anak prabu Pandu Dewanata untuk berputra. Beritahukan ini pada anak prabu, Madrim dan anak muridku, Kunthi”. Ki Lurah Semar segera memberitahu Prabu Pandu tentang berita ini. Harapan baru bagi Prabu Pandu telah muncul. Dengan tergopoh-gopoh, Prabu Pandu, Dewi Kunthi, dan Dewi Madrim yang baru selesai melakukan persembahyangan menghormat pada mereka. Kemudian setelah Resi Durwasa menjelaskan semuanya, Prabu Pandu segera bersemedi dan Resi Durwasa segera mengupas lalu meletakkan buah Manggadewa Tangganingjiwa di pangkuan Pandu Dewanata . Kemudian Resi Durwasa membacakan mantra.
Manggadewa Tangganingjiwa
Ajaib, atas seizin Hyang Widhi, muncul setitik cahaya penjelmaan air mani, benih Prabu Pandu keluar dari kelaminnya dan masuk meresap ke dalam daging buah mangga itu. Oleh Resi Durwasa, buah Mangga itu dipotong-potong itu menjadi lima bagian dan dibagikan pada istri-istri Prabu Pandu Dewanata. Dewi Kunthi memakan tiga potong dan Dewi Madrim memakan dua potong yang berukuran sama besar. Setelah itu, Maharesi Abiyasa meraba perut kedua menantunya dan mengatakan “ Kunthi, kelak kamu akan mendapatkan tiga anak dan kamu Madrim, akan memperoleh anak kembar. Jangan khawatir, daging Manggadewa Tangganingjiwa telah menempel di dinding rahim kalian dan bila waktunya tiba, akan berubah menjadi bayi. Bila kalian akan melahirkan, rapalkan mantra suci Aji Punta Wekasing Rahsa Tungggal seperti yang telah diajarkan Resi Durwasa, maka para dewa akan membantu proses persalinan kalian. Sekarang tugas kami telah selesai disini, kami berdua harus segera pergi. Kami akan berkunjung kerajaan Wiratha membantu eyang kalian, Prabu Matsyapati. Kami pamit” kedua pendeta agung itu langsung pergi dan hilang ditelan kabut pagi yang indah
Di kerajaan Wiratha, Prabu Matsyapati telah lama menikah dengan Dewi Sudesna, putri angkat Resi Parasara dan Dewi Durgandini Satyawati dan baru kali ini hamil. Kini Dewi Sudesna hamil bersamaan dengan kakak iparnya, Dewi Kandini, istri Arya Setatama dan di waktu yang bersamaan pula, mereka akan melahirkan. Arya Setatama, adik Maharesi Abiyasa, gugur di medan pertempuran dua bulan sebelumnya, mempertahankan negara Wiratha dari amukan Prabu Gajahsora, seorang raja serakah dari tanah seberang yang terpikat dan hendak merebut kedaulatan Wiratha dan Dewi Kandini, istrinya. Proses persalinan Dewi Sudesna dan Dewi Kandini mengalami kesulitan besar dan rasa sakit yang hebat. Di saat yang genting itu, Maharesi Abiyasa dan Resi Durwasa datang di saat yang tepat. Prabu Matsyapati menyambut mereka “Ampun Kakang Maharesi dan Bopo resi Durwasa, atas penyambutan kami yang ala kadarnya karena istri dan kakak ipar hampir melahirkan” “ tidak apa, rayi prabu. Kami justru datang kesini untuk membantu Dinda Sudesna dan Dinda Kandini” Dengan kesaktiannya, Resi Durwasa mengeluarkan empat rimpang bunga teratai berbeda warna, rimpang putih, kuning, merah, dan jingga dari kolam di pinggir keraton.“Yang mulia Matsyapati, rebuslah empat rimpang teratai ini di empat wadah berbeda. Lalu air rebusannya minumkan pada istri dan kakak ipar Yang mulia.”
 Setelah mendapat empat rimpang itu, Prabu Matsyapati memerintahkan mbok emban untuk merebas ke empat rimpang teratai itu sesuai yang dijelaskan Resi Durwasa. Di kamar bersalin, Dewi Sudesna yang sedang berbaring kesakitan meminum air rebusan rimpang putih, kuning, dan merah, sedangkan Dewi Kandini meminum air rebusan rimpang jingga. Sungguh sebuah keajaiban, setelah satu jam kemudian, mereka dapat melahirkan tanpa rasa sakit. Dewi Sudesna melahirkan tiga bayi laki-laki sehat dan Dewi Kandini melahirkan seorang bayi laki-laki juga. Tiga putra Dewi Sudesna pun dinamai bedasarkan warna rambut dan kulit mereka. Yang berambut hitam keperakan dijadikan kakak tertua, diberi nama Arya Seta. Yang berambut coklat kemerahan diberi nama Arya Sangka atau Arya Wratsangka dan bayi yang berkulit kekuningan diberi nama Arya Utara. Sedangkan putra Arya Setatama dan Dewi Kandini, berambut jingga kecoklatan, oleh Prabu Matsyapati diberi nama Arya Nirbita. Setelah itu, Maharesi Abiyasa meraba perut adik angkatnya, Dewi Sudesna.
 Dia mengatakan sesuatu pada Prabu Matsyapati “ rayi prabu, setelah aku meraba perut Dinda Sudesna, aku mendapat wangsit dari dewata kelak puluhan tahun lagi, Dinda Sudesna akan melahirkan lagi. Bayi itu akan menjadi pembawa wahyu hebat. Bila nanti dia lahir dan berkelamin perempuan, namakan dia Utari.” Prabu Matsyapati bertanya pada Maharesi Abiyasa.”Kakang Maharesi, kenapa dia tdak lahir sekarang? Kenapa harus setelah puluhan tahun?” “begini, rayi prabu. Menurut penglihatanku, kelak putrimu itu akan menjadi jodoh salah satu cicit keturunanku yaitu dengan cucu putraku, Pandu Dewanata. Aku tidak berani menyebutkan lagi karena hanya sampai disitu dewata memberiku penglihatan”. Prabu Matsyapati mengerti dan setelah dirasa cukup. Maharesi Abiyasa mohon pamit segera kembali ke Pertapaan Saptaharga dan Resi Durwasa kembali ke pertapaan Banjarpatoman di Mandura.
Sepuluh bulan setelah memakan Manggadewa Tangganingjiwa, Dewi Kunthi yang sudah hamil besar, tiba-tiba mengalami kesakitan hebat. Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Madrim membantu Dewi Kunthi untuk merapal aji Punta Wekasing Rahsa Tunggal untuk meminta dewata membebaskannya dari kesakitan karena melahirkan. Dewi Kunthi mulai merapal ajian itu sambil memanggil Batara Dharma. Seketika Batara Dharma muncul dan membantu Dewi Kunthi melahirkan. Setelah beberapa saat, rasa sakit yang dialami Dewi Kunthi menghilang dan dia langsung melahirkan seorang putra berkulit bersih tanpa darah setetespun. Kelahiran sang putra disertai bau harum dan wangi di seluruh padepokan Saptarengga.
Anugerah dari Batara Dharma.
Setelah menolong, Batara Dharma memberikan anugerah pada bayi itu “ sang prabu, putramu telah ku anugerahi dengan kebijaksanaan yang tinggi, keteguhan hati dalam membela kebenaran, sifat ikhlas yang besar, dan dia mampu disegani siapapun yang memusuhinya karena karismanya.” Setelah memberikan anugerah, Batara Dharma menghilang kembali ke kahyangan. Sebagai bentuk rasa syukur kepada dewata, Prabu Pandu memberi nama putranya itu Puntadewa. Dewi Kunthi memberinya nama Wijakangka, Dewi Madrim memberinya nama Dharmakusuma, dan Ki Lurah Semar memberinya nama sang Ajatasatru. Dua tahun kemudian, Dewi Kunthi kembali hamil untuk kedua kali dan kali ini kehamilannya sangat unik. Baru lima bulan, kehamilannya sudah sebesar kehamilan tujuh bulan. Bersamaan itu pula di Hastinapura, istri Adipati Dretarasta, Dewi Gendari juga telah hamil 13 bulan dan tak kunjung melahirkan.


*Manggadewa Tangganingjiwa adalah buah mangga yang tumbuh di kahyangan dan menjadi salah satu makanan para dewa sehingga siapapun yang mendapat lalu memakan buah ini sambil membuat permohonan, maka oleh dewata agung akan dikabulkan .Dalam kebudayaan agama Hindu di India, terutama dalam kitab Vedas, mangga adalah salah satu buah suci, dianggap sebagai makanan para dewa. Daun mangga sering dijadikan dekorasi ritual di dalam kebudayaan Hindu.

Minggu, 10 Februari 2019

Kutuk Pasu Resi Kindama


Hai para readers yang budiman, kini saya akan melanjutkan kisah sebelumnya. Kali ini saya akan menceritakan sebuah kutukan yang kelak akan menyebabkan ayah para Pandawa menemui celaka dan juga ajalnya. Dalam kisah ini juga akan diceritakan bagaimana Prabu Drupada mendapatkan takhtanya di Pancalaradya dan bagaimana Gandamana, putra mahkota Pancalaradya yang sebenar bisa menjadi patih di Hastinapura. Kisah ini saya susun dengan memadukan sumber dari Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa dan Kitab Pustakaraja Purwa lalu saya kembangkan dan ubah seperlunya.
Pada hari yang dianggap baik, setelah melangsungkan pernikahannya,Pandu Dewanata dilantik menjadi raja Hastinapura, menggantikan ayahnya, Prabu Kresna Dipayana. Pelantikan itu disaksikan Maharesi Bhisma, Mpu Krepa, seluruh keluarga, segenap punggawa, dan rakyat Hastinapura. Setelah lengser, Prabu Kresna Dipayana kembali ke padepokan Saptaarga bersama sang ibu ratu dan kembali menjadi Maharesi Abiyasa. Sementara itu, Dretarastra ditunjuk menjadi Adipati di kota Gajahoya dan Arya Widura menjadi adipati di Panggombakan. Selama memerintah negara, Pandu terkenal cakap dan tanggap. Berbagai permasalahan baik luar dalam luar negeri, selalu bisa dikoordinasikan antara dirinya dan para menteri. Namun dirinya masih menghadapi kesulitan, karena belum memiliki seorang patih. Hingga pada suatu hari datanglah seorang pria muda bernama Sucitra, datang dari jazirah Atasangin menghadap pada Pandu Dewanata “Ampun, Yang Mulia. Nama hamba Sucitra. Hamba mendapat wangsit dewata untuk berguru kepada raja Hastinapura. Saya hendak melaksanakan sayembara di Pancalaradya untuk memenangkan Dewi Gandawati dengan mengalahkan putra mahkota Pancalaradya, Gandamana. Sudikah Yang Mulia menjadi guru hamba?” Prabu Pandu Dewanata menyanggupi permintan Sucitra. ”Tentu, Sucitra. Kebetulan sekali saya juga diundang untuk menonton sayembara itu”
Singkat cerita, Sucitra belajar berbagai ilmu kesaktian dan kanuragan. Kini dia telah siap mengalahkan Raden Gandamana. Di hari sayembara, setelah semua peserta kalah oleh Gandamana, Sucitra mampu mengalahkan Gandamana berkat berlatih dan berguru pada Prabu Pandu. Bahkan Gandamana bersedia menuruti keinginan Sucitra. Tapi Sucitra yang berhati besar membangunkan dan membesarkan hatinya “kakang Gandamana, jangan begitu. Kita akan bersaudara. tak perlulah menyanjung begitu. Apabila kakang Gandamana punya permintaan, sebutkan saja dan akan ku penuhi segenap jiwa ragaku”  setelah berpikir matang-matang, Raden Gandamana menyebutkan permintaannya “Sucitra, kini kau sudah menjadi calon suami adikku, Gandawati. Permintaanku hanya satu, jadilah raja di Pancalaradya. Aku ingin mengabdi pada orang yang menjadi gurumu”. Awalnya Sucitra menolak, tetapi karena terus didesak oleh Gandamana, Sucitra bersedia menjadi raja Pancalaradya dan Gandamana mengabdi pada Pandu Dewanata sebagai patih Hastinapura. Pada hari yang baik, setelah pernikahannya dengan Gandawati,Sucitra dilantik menjadi raja kerajaan Pancalaradya menggantikan mertuanya, Prabu Gandabayu dan mengganti namanya menjadi Prabu Drupada.
Setelah pelantikan patih, Patih Gandamana mulai bekerja sebagai patih dengan baik. Dibalik itu, Arya Suman tidak suka dengan kehadiran Patih Gandamana yang dinilai mengganggu rencananya untuk menaikkan derajat kakaknya, Dewi Gendari dan suaminya. Arya Suman akan memikirkan cara untuk menyingkirkan keberadaan Patih Gandamana dari Hastinapura sambil menunggu waktu yang pas. Pada suatu hari, karena kesibukannya sebagai raja, Prabu Pandu berniat menyisihkan waktu untuk berbulan madu di hutan Kandawa bersama kedua istrinya, Dewi Kunthi dan Dewi Madrim untuk sekedar melepas penat barang sehari. Singkat cerita, Prabu Pandu, Dewi Kunthi, dan Dewi Madrim beserta para punakawan Gareng, Petruk, dan Bagong akhirnya sampai di hutan Kandawa. Suasana yang nyaman di hutan itu, membuat Dewi Kunthi menyarankan untuk membuat pasanggrahan. “ Kanda prabu, sebaiknya kita segera membangun pasanggrahan. Tempat ini cocok. Tanahnya lapang, subur dan indah”.
Setelah membangun pasanggrahan, mereka bertiga berkeliling hutan. Hingga di sampailah di sebuah padang rumput, mereka melihat sekawanan kijang yang sedang kawin. Dewi Kunthi menyarankan untuk mencari buruan lain. “Kanda Prabu, jangan kita mengganggu mereka. Mereka sedang mempersiapkan keturunan. Sebaiknya kita cari buruan lain saja”. Tetapi Dewi Madrim malah meminta sang suami untuk memburu kijang-kijang “Kanda Prabu, kita buru saja mereka. Siapa tahu kita dapat makan malam yang enak dan banyak kali ini. Ayolah kanda. Aku kepingin kijang-kijang itu!“. Sebenarnya Prabu Pandu tidak tega tapi karena sang istri muda terus merengek, Pandu Dewanata pun mendekati kijang-kijang itu dan melepaskan panah. Merasa terancam, kijang-kijang itu berhamburan seketika. Diantara kijang-kijang itu, ada sepasang kijang yang tidak sadar akan bahaya dan tetap berkawin. Melihat ada kesempatan, Pandu Dewanata melepaskan panah dari kejauhan dan Jras! Sepasang kijang itu terkulai terkena panah. Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras
Resi Kindama mengutuk Prabu Pandu Dewanata
“aduuh sakitnya, siapa yang tadi memanahku?”  Pandu mencari asal suara itu dan terkejutlah dia, melihat sepasang kijang yang dipanahnya berubah menjadi manusia. Si perempuan meninggal duluan, sementara sang lelaki ternyata seorang resi masih hidup “Mohon ampun, Bopo resi. Hamba tak sengaja memanah anda dan istri anda. Tapi kenapa anda memadu kasih dengan wujud kijang? Maafkan kebodohan hamba yang tidak tahu bila bopo sedang berubah wujud ” Resi itu berkata lagi “ Wahai engkau raja Hastinapura, tak ku sangka. Engkau yang terkenal bijaksana dan waskita ternyata dapat bertindak tanpa pikir panjang. Ketahuilah, ada hukum alam, dimana makhluk apapun yang sedang bercinta, sedang berpadu kasih tidak boleh diganggu, apalagi dibunuh. Tapi sekarang engkau telah melakukan dosa besar dengan memanahku yang sedang berolah asmara. Sekarang dengarkan kutuk pasuku. Aku, Resi Kindama dan istriku Rara Suhatra mengutukmu, wahai raja. Ingatlah, Bila kau memadu kasih dan berolah asmara dengan istrimu atau wanita lain, kau akan mendapatkan celaka besar!!” Seketika itu pula, setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, sang resi meninggal menyusul istrinya dan jasadnya lengsung menghilang. Tiba-tiba, cuaca yang cerah berubah menjadi menakutkan. Petir dan angin bergemuruh mengerikan, pertanda kutuk pasu itu akan menjadi kenyataan. Badai dan hujan turun tak terkendali. Pandu Dewanata tercekat kaget karena dikutuk oleh sang resi. Pandu Dewanata pun kembali ke rombongannya dan menceritakan kejadian itu pada kedua istrinya. Mereka pun memutuskan kembali ke keraton Hastinapura.
Berita kutukan yang dialami Pandu tersebar hingga ke telinga Maharesi Abiyasa dan Bhisma. Mereka merasa sangat prihatin dengan apa yang dialaminya. Hati Pandu menjadi kalut dan sedih. Kini dia tidak bisa merasakan indahnya olah asmara lagi. Tentunya Prabu Pandu Dewanata merasa sangat terganggu akan kutuk pasu itu. Karena merasa kesulitan mengendalikan nafsu birahinya, Pandu meminta izin pada Maharesi Bhisma akan menyepi selama beberapa tahun.” Paman Maharesi, hamba sangat tersiksa dengan kutuk pasu ini. Karena itu, hamba ingin menyepi selama beberapa tahun untuk meredam hawa nafsu, syukur bila dewata agung juga menghapus kutukan ku” “tapi, anak prabu, Bagaimana dengan roda pemerintahan Hastinapura? Siapa yang akan menjalankannya bila anak prabu pergi?” Pandu sudah menyiapkan segala kemungkinan itu menenangkan hati pamannya itu “jangan khawatir, paman Maharesi. Hamba sudah bernegosiasi dengan Kakang Dretarastra dan dia bersedia menggantikanku sementara waktu” Maharesi Bhisma setuju “ Baik, Pandu. akan segera ku lantik Kakangmu sebagai raja wakil, tapi dia hanya menjabat sampai kau mendapatkan putra”. Singkat cerita, Dretarastra dilantik menjadi raja wakil. Dewi Gendari dan Arya Suman merasa senang melihatnya karena dapat melaksanakan ambisi mereka menguasai Hastinapura. Sementara itu setelah penobatan sang kakak, Prabu Pandu meninggalkan istana untuk menyepi. Rakyat Hastinapura menangis sedih melihat sang raja idaman pergi meninggalkan keraton.
Di tengah perjalanan, Prabu Pandu dicegat oleh dua istrinya dan para punakawan. “Kanda, kami berdua tak mau tinggal di istana tanpamu” Dewi Madrim melanjutkan “betul apa yang dikatakan Yunda Kunthi, kami berdua sudah sepakat untuk mengikuti Kanda pergi, swarga nunut neraka kathut. Apapun yang terjadi, kami tetap di samping kanda” Dewi Kunthi dan Dewi Madrim sudah sepakat ingin menemani Pandu dan rela menanggung dosa dari kutuk pasu Resi Kindama bersama-sama “ Mohon maaf, ndoro Pandu. Saya sudah berusaha melarang dua istri ndoro. Tapi istri-istri ndoro sudah sepakat ingin bersama ndoro susah dan senang. Karena itu saya dan anak-anak saya juga ikut mendukung” jelas Ki Lurah Semar. Bagong berseloroh “betul, ndoro. Tanpa ndoro, dunia tak akan seru” “ngomong opo tho, Gong?” seloroh Gareng dan Petruk mencairkan suasana hati sang Prabu. Prabu Pandu Dewanata terharu atas kerelaan dua istrinya itu tinggal menyepi dan kesediaan para punakawan mengikutinya.
Padepokan Saptarengga
Mereka bertujuh kemudian melanjutkan perjalanan. Hingga sampailah mereka di lereng gunung Saptarengga, di kaki gunung Saptaharga. Disana mereka membuat pertapaan baru dan Prabu Pandu menamainya Padepokan Saptarengga. Mulai hari itu, Prabu Pandu bersemedi memohon pada dewata cara mendapatkan putra tanpa berolah asmara sekaligus berusaha mengekang segala hawa nafsunya.

Jumat, 08 Februari 2019

Sayembara Dewi Kunthi


 Halo semua, saya kembali. Kali ini saya akan menceritakan bagaimana ayah para Pandawa, Pandu Dewanata, mendapatkan istri-istrinya, Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Di sini juga akan diceritakan bagaimana Dewi Gendari, ibu para Kurawa menikah dengan Dretarastra, dan Arya Suman yang kelak bernama Patih Arya Sengkuni bisa menjadi punggawa di Hastinapura. Kisah sayembara Dewi Kunthi ini juga menjadi titik temu paling penting dalam pertalian kekeluargaan antara Wangsa Baharata dan Wangsa Yadawa. Sumber yang saya pakai berasal dari Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, serial televisi Karmapala karya Imam Tantowi, blog-blog pedalangan yang beredar di internet, dan Kitab Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Di tempat lain, pada suatu hari, Kerajaan Hastinapura sedang mempersiapkan calon raja baru. Prabu Kresna Dipayana telah mendapat undangan dari Kerajaan Mandura bahwa akan diadakan sayembara memperebutkan putri Prabu Kuntiboja, Dewi Kunthi. Ibu ratu Sayojanagandi*1 bertanya pada putra sulungnya itu “ Anak prabu, aku memang tidak ragu untuk melepas Pandu dan saudara-saudaranya untuk ikut sayembara karena hubungan persaudaraan, tapi aku masih sangsi, apakah keturunan Mandura adalah keturunan orang-orang budiman?  Sebab ini menyangkut masa depan Hastina selanjutnya” Prabu Kresna Dipayana menjelaskan “Ibu, sepengetahuan hamba, keturunan Mandura juga sebenarnya masih sedarah dengan kita. Selain dari darah Dinda Bandonsari, tapi juga dari leluhur, sama dengan kita. Sama-sama keturunan Prabu Yayati. Kita berdarah Baharata, mereka berdarah Yadawa*2.” Setelah mendapat penjelasan tersebut, ibu ratu bersedia untuk melepas tiga pangeran itu bersama para punakawan.”Ki Lurah Semar dan punakawan semua, tolong jaga putra-putraku. Ingatkan mereka kalau mereka salah jalan” Semar menjawab “ Baik, ndoro Abiyasa. Percayakan mereka pada kami”
Di kerajaan Mandura sendiri, telah banyak para raja dan pangeran datang berduyun-duyun untuk mengikuti sayembara. Kebetulan pula,Narasoma dan Dewi Madrim yang sedang mengembara mendengar sayembara itu. Merekapun mendaftar sebagai peserta sayembara. Sayembara itu berupa sayembara pilih. Siapapun yang dipilih Dewi Kunthi, dialah pemenangnya. Diantara para raja dan pangeran itu, Narasoma dan Dewi Madrim duduk berdekatan dengan pintu masuk keraton. Ketika Dewi Kunthi melihat ke sekeliling, tidak ada para raja dan pangern yang menjadi kriterianya dan menarik hatinya, termasuk Narasoma. Karena waktu terus berjalan, akhirnya dengan terpaksa Dewi Kunthi mengalungkan puspamala pada Narasoma. Para raja dan pangeran merasa tidak terima. Mereka akhirnya menyerang Narasoma. Merasa dapat kesempatan mencoba ilmu barunya, Narasoma merapal ajian Candhabirawa. Seketika muncullah seorang raksasa jelmaan ajian itu. Para raja dan pangeran yang sedang kalap itu menyerang Candhabirawa secara membabibuta. Tak disangka cipratan darah Candhabirawa berubah menjadi ratusan raksasa bajang lalu menyerang mereka. Para raja itu lari tunggang langgang meninggalkan arena sayembara. Candhabirawa pun masuk lagi ke dalam tubuh Narasoma. Di saat itu pula rombongan Dretarastra, Pandu Dewanata, dan Arya Widura datang bersama para punakawan. “Ampun paman prabu Kuntiboja, hamba Pandu Dewanata. Ini kakak hamba Dretarastra dan adik hamba, Arya Widura. Kami datang dari Hastinapura. Saya hendak mengikuti sayembara memperebutkan putri paman” Prabu Kuntiboja menjelaskan “Wahh, anakku, Pandu. Maaf beribu maaf. Kamu datang terlambat. Putriku, Dewi Kunthi sudah memilih Bambang Narasoma”. Pandu Dewanata merasa kecewa tapi tetap menghormati keputusan sang prabu. Mereka akhirnya memilih pulang kembali ke Hastinapura.
Belum sampai di pintu gerbang keraton, Narasoma dan rombongan Prabu Kuntiboja menghalangi perjalanan mereka. Narasoma turun dari kudanya dan menantang Pandu “hai Pandu, ku dengar kau ksatria sakti mandraguna. Bagaimana kalau kita bertanding. Kalau aku menang, Hastina harus jadi bawahanku” Pandu tidak tertarik dengan taruhan semacam itu lalu melengos pergi. Narasoma marah merasa diremehkan lalu menawarkan hadiah bila Pandu yang menang. “ Bagaimana jika kau yang menang Dewi Kunthi jadi milikmu?”Pandu yang tidak suka dengan sikap jumawa Narasoma lalu membalas “ aku tambah, adikmu Dewi Madrim juga akan menjadi milikku” “Ok, Deal !”. Pandu Dewanata meminta izin pada Prabu Kuntiboja agar sayembara ini menjadi sah “ Paman prabu, mohon disaksikan sayembara ulang ini sesuai taruhan yang kami sepakati*3”. Prabu Kuntiboja memberikan izinnya “Aku akan menjadi saksi pertandingan ini”
Pertarungan mereka dimulai. Awalnya mereka hanya beradu panah, lalu beradu keris, dan terakhir beradu tangan kosong. Karena sama-sama hebat dan tak ada yang kalah, akhirnya mereka saling beradu ajian. Narasoma mengeluarkan ajian Candhabirawa. Candhabirawa menyerang Pandu. Pandu membalas serang ajian itu dengan Aji Brajadenta.
Candhabirawa mengeroyok Pandu Dewanata
Tak disangka semakin dilukai, jumlah Candhabirawa semakin banyak. Lama-kelamaan, Pandu mulai kewalahan menghadapi Candhabirawa. Karena takut terjadi apa-apa pada adiknya, Tiba-tiba Dretarastra masuk ke pertarungan menyerang Candhabirawa dengan aji Leburgeni. Bukannya berkurang justru jumlah Candhabirawa semakin banyak. Di saat sedang terdesak tersebut, Ki lurah Semar memberi nasihat pada Raden Pandu dan Dretarastra lewat aji Pameling. “Raden berdua, untuk mengalahkan Candhabirawa, jangan menyerang secara fisik. Seranglah secara batin. Hentikan mengeluarkan ajian dan mulailah mengheningkan cipta” “ Terima kasih, Ki lurah. Saran yang bagus”. Dretarastra dan Pandu mulai berhenti merapal ajian dan segera bersemedi mengosongkan segala hawa nafsu. Secara tiba-tiba, Candhabirawa terkulai lemas dan mulai menghilang satu persatu. Candhabirawa yang tersisa masuk kembali ke dalam tubuh Narasoma. Tiba-tiba, Pandu Dewanata merapal aji Pangrupak Jagad*4 dan tubuh Narasoma terbenam ke dalam tanah secara mendadak.
Narasoma menyerah kalah dan mengaku telah berlaku jumawa. “Maafkan aku, Pandu atas sifat jumawaku. Sebenarnya aku ikut sayembara ini untuk mencari alasan agar bisa mencoba ilmu baruku. Aku sudah punya istri dan aku sudah bersumpah tak akan menduakannya dan lagipula Dinda Kunthi juga tidak ikhlas memilihku. Dinda Kunthi, sekarang silahkan ambil puspamala ini. Kalungkan ini ke leher calon suamimu” tanpa bertanya lagi, setelah Narasoma keluar dari tanah dan menyerahkan puspamala itu, Dewi Kunthi mengalungkan puspamala itu ke leher Pandu Dewanata. “Dinda Madrim, sekarang ikutlah bersama Pandu . Dia sekarang calon suamimu. Aku akan yakinkan ayahanda prabu merestui hubungan kalian” “Baik, kakang Narasoma. Sampaikan salam ku pada ayahanda prabu, bunda ratu dan kakak ipar” Dewi Madrim tersipu malu lalu menaiki kereta dan duduk bersama Dewi Kunthi. Rombongan Hastinapura kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sementara Narasoma dengan kudanya memecut kembali ke Mandaraka dan Prabu Kuntboja kembali ke Mandura.
Di lain tempat, di kerajaan Gandara, sang raja yang bernama Prabu Suwala telah meninggal dunia telah digantikan oleh putranya, Raden Arya Suman bergelar Prabu Trigantalpati. Hari itu, Prabu Trigantalpati ingin mengikuti sayembara Dewi Kunthi bersama kakaknya, Dewi Gendari dan adik-adiknya, Arya Hanggayaksa, dan Arya Surawasanta. Ketika dalam perjalanan itu, Prabu Trigantalpati melihat rombongan kereta Hastinapura yang membawa Dewi Kunthi. Menyadari dirinya terlambat, terpikirlah cara licik untuk merebut Dewi Kunthi dari kereta itu. Dengan kesaktiannya, Prabu Trigantalpati menculik Dewi Kunthi dari kereta dengan terbang melayang diantara pepohonan. Dewi Kunthi meminta tolong. Pandu Dewanata menyadari hal itu lalu mengejar si penculik dengan aji Sepiangin*5sementara rombongannya mengikuti dari belakang.
Setelah Prabu Trigantalpati kembali ke rombongannya, Pandu Dewanata dan rombongan menemukannya. “Hai penculik. Beraninya kamu menculik calon istriku. Pakaianmu raja tapi kelakuanmu denawa*6. Tak pantas kau memakai mahkota itu” Prabu Trigantalpati malah berkata ketus dan sesumbar “Hei Pangeran. Sebenarnya aku ingin mengikuti sayembara di Mandura, tapi karena aku terlambat, bagaimana kalau kita perang tanding. Bila aku menang Dewi Kunthi jadi milikku dan bila aku kalah, kakak perempuanku jadi milikmu”. Pandu merasa orang yang mengajaknya taruhan itu sudah hilang akal “ Tuan raja, apa kau sudah hilang akal. Kau mempertaruhkan kakakmu? Memangnya seberapa cantik kakakmu?” Prabu Trigantalpati membalas “ohh kakakku itu sangat cantik, di negeriku dan negeri Pancala dan Kosala sudah terkenal cantiknya. Itu kakakku sedang duduk di kereta”. Pandu Dewanata menengok ke kereta tempat Dewi Gendari duduk. “ Rayi prabu! Ngapain disitu. Ayo kita lanjut perjalanan”.Memanglah Dewi Gendari cantik tapi kelakuannya terkesan galak dan terlihat penuh ambisi. Walau demikian, Tanpa ba-bi-bu lagi, Pandu melayani taruhan  Prabu Trigantalpati. Mereka pun saling bertarung. Mereka memang sakti tapi karena jumawa, Prabu Trigantalpati dapat didesak dengan mudah. Sambil menggerutu, Prabu Trigantalpati mengais tanah berdebu. Arya Widura yang awas dan waspada melakukan ngeragasukma*7 dan membantu Pandu. “Kakang Pandu, hati-hati, dia ingin menaburkan debu ke mata kakang” “ Terima kasih, rayi Widura. Sekarang kembali lah ke ragamu. Seketika kemudian, sukma Arya Widura kembali masuk ke raganya. Ketika Prabu Trigantalpati menaburkan debu, Pandu menghindar lalu memiting lehernya. “menyerah kau atau ku patahkan lehermu, raja culas!!!” Prabu Trigantalpati menyerah kalah dan memboyong Dewi Gendari ke Hastinapura. Bahkan Trigantalpati melepas takhtanya di Gandara lalu diserahkan ke adiknya, Arya Hanggayaksa dan ikut bersama kakaknya ke Hastinapura. Setelah melepas takhta, raja culas itu berganti nama dan kembali memakai nama lamanya, Arya Suman.
Setelah beberapa hari, tiga pangeran dan para punakawan sampai di keraton Hastinapura. Prabu Kresna Dipayana, Maharesi Bhisma, dan ibu ratu Sayojanagandi menyambut mereka dan keberhasilan Pandu Dewanata karena berhasil memboyong Dewi Kunthi, bahkan juga Dewi Madrim dan Dewi Gendari. Pandu Dewanata berniat membagi tiga putri itu pada kaka dan adiknya.Widura tidak mau menikah dulu karena masih ingin belajar tentang ilmu hukum “Kakang Pandu, terima kasih atas tawaranmu. Tapi aku masih ingin belajar ilmu hukum. Lagipula aku sudah punya Nini Dewi Padmarini dan kami sudah berkomitmen.”. kemudian Pandu menawarkan pada kakaknya dua istri namun Dretarastra menolak “Rayi, kau sudah bekerja keras dan memenangkan sayembara, lebih baik kau saja yang beristri dua. Biar aku saja yang beristri satu”. Karena sudah diputuskan maka Dretarastra dipersilahkan memilih terlebih dahulu.
Para putri boyongan terkejut bahwa mereka akan dipilihkan. Para putri boyongan berdoa agar tidak dipilih Dretarastra. Diantara mereka bertiga, hanya Dewi Gendari yang panik. Arya Suman mencari akal agar sang kakak tidak jadi dipilih. Satu ide pun muncul, Arya Suman menyuruh sang kakak melumuri tubuhnya dengan lendir ikan. Hari pemilihan pun tiba. Detarastra pun berjalan sambil menanyai usia mereka. Dewi Kunthi menjawab usianya 21 tahun, Dewi Madrim usianya 19 tahun, dan ketika mendekati Dewi Gendari, Dretarastra mencium bau amis ikan. Hal itu membuatnya teringat akan makanan kesukaannya, ikan bakar. ketika ditanya soal usia, Dewi Gendari menjawab usianya 23 tahun. Diakhir pemilihan, Dretarastra menjatuhkan pilihannya pada Dewi Gendari. Dewi Gendari syok dan lari meninggalkan pertemuan. Sambil meratapi nasibnya, Dewi Gendari berlari menuju ke taman istana lalu menyobek sebagian jariknya.
Sumpah Dewi Gendari
Sobekan jarik itu ditutupkan ke matanya lalu Dewi Gendari melakukan sumpah “Kau telah menghancurkan hatiku, Pandu. Karena kau, masa depanku suram. Ini taka adil bagiku. Disini, di taman ini, di saksikan para dewata di langit, aku bersumpah tidak akan melihat matahari lagi seumur hidupku! Aku bersumpah, keturunanku harus lebih banyak daripada keturunanmu, Pandu Dewanata! Aku juga bersumpah, kau akan mendapat celaka di tempat aku berdiri sekarang, Pandu!” Seketika langit di atas kerajaan Hastinapura menjadi gelap gulita. Petir dan angin bergemuruh. Menandakan sumpah itu didengar dewata. Arya Suman yang mengikuti Dewi Gendari merasa sedih karena tak tega melihat kakaknya bersedih, ikut bersumpah “Kalian orang Hastinapura, sudah menghancurkan hati kakakku. Aku bersumpah! Akan ku pecah belah kedamaian yang ada di negeri ini dan aku bersumpah akan menjadikan keturunan kakakku berjaya di negeri ini! Apapun caranya!” seketika suara gemuruh di langit menjadi semakin menakutkan. Sumpah Arya Suman juga didengar dewata.
Begitulah, sejak menikahi Dretarastra, Dewi Gendari selalu menutup matanya dengan kain di siang hari dan hanya membukanya di saat malam hari. Kesetiaan itu dipegang Gendari yang berprinsip suami istri haruslah adil dan setara, seia dan sekata. Arya Suman juga memulai tugasnya sebagai juru tulis istana di kota Gajahoya.

*1 Sayojanagandi adalah nama lain dari ibu ratu Durgandini Satyawati. Disini, saya memakai nama ini agar tidak rancu dengan Endang Ratna Setyawati, istri Narasoma/Salya
*2 Yadawa adalah sebutan untuk keturunan Prabu Yadu, putra sulung Prabu Yayati dari Kandaparasta dengan Dewi Dewayani, putri Maharesi Sukra yang kemudian bercampur dengan keturunan Sri Ramawijaya dari garis Prabu Ramabatlawa. Prabu Yadu bersaudara satu ayah dengan Prabu Puru, putra bungsu Prabu Yayati dengan Dewi Sarmista. Prabu Puru adalah kakek buyut Prabu Baharata, pendiri Kerajaan Hastinapura. Wangsa Yadawa inilah yang mendirikan Kerajaan Mandura, Lesanpura, Kumbinapuri, Dwarawati, dan Cedi. Kebanyakan rakyat mereka adalah petani buah-buahan dan para peternak sapi.
*3 Pada masa itu, sayembara ulang dengan taruhan putri boyongan hasil sayembara sebelumnya dan saudari dari penantang masih diperbolehkan.
*4 Ajian yang mampu menciptakan gempa bumi dan menenggelamkan siapapun kedalam bumi yang terkena ajian ini.
*5 Ajian Sepiangin adalah ajian kecepatan yang mampu membuat si pemakai bisa berjalan cepat sekencang angin. Ajian ini juga bisa menciptakan badai dahsyat untuk menggelapkan dan mengaburkan pandangan lawan lalu si pemakai bisa melarikan diri disaat lawan sedang lengah.
*6 Denawa adalah nama lain dari yaksa hutan atau bangsa raksasa yang tidak berbudi. Denawa biasanya merampok dan membunuh siapapun yang masuk ke hutan kekuasaan mereka.
*7 ngeragasukma adalah suatu kemampuan untuk memisahkan raga kasar dan roh dan melakukan perjalanan dengan menggunakan raga halus/roh dan meninggalkan raga kasar/jasmani.