Jumat, 13 Desember 2024

Banjaran Sri Kresna Episode 4: Kisah Ular dan Naga di Gokula

 Hai hai.......Selamat datang kembali....... Btw, kisah kali ini mengisahkan gangguan-gangguan di Gokula yang semakin menjadi setelah kematian Bakasura. Kisah diawali dengan kemucnculan adik Bakasura dan Kotana yakni Ditya Nagasura yang menyaru sebagai ular sanca raksasa dan menyembunyikan diri di balik wujud gua hendak menelan Narayana dan teman-temannya. Dilanjutkan dengan gangguan Naga Kaliya yang menghancurkan kehidupan di sekitar bengawan Yamuna. Kisah diakhiri dengan takluknya Kaliya setelah ditundukkan oleh Narayana,  kepindahan penduduk Gokula ke desa Barsana untuk menghindari kejahatan yang terjadi dan berdirinya Wanua Gobajra. Kisah ini mengambil sumber kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Series Kolosal India Mahabharat Starplus dan Radha Krishna Starbharat, animasi Little Krishna, blog https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/tag/anand-krishna/page/58/, dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/07/31/krishna-kecil-menundukkan-kaliya-panca-provokator-dalam-diri-srimadbhagavatam/

Nagasura Ngraman

Kabar kematian Bakasura telah sampai ke telinga adik bungsunya, yakni Ditya Nagasura. Bagai petir di siang bolong, kabar itu membuat hati Nagasura terpukul dan marah penuh dendam. “sudah cukup...kakak-kakakku jadi korban malaikat kematian Kangsa! Akan ku telan dia hidup-hidup bersama orang-orang terkasihnya!” tak lama kemudian, adipati Kangsa memerintahkan Nagasura untuk ke dukuh Gokula demi membalaskan dendam kedua saudaranya. “Nagasura, kau adalah ajudanku yang paling perkasa dan ssetia. Pegi carilah malaikat kematianku dan bawa dia ke tanah yang terlupakan!” Nagasura pun dengan senang hati menerima perintah itu “keinginan tuanku adalah sabda untukku, adipati.” Nagasura pun berangakt meninggalkan kadipaten Sengkapura. Setelah perjalanan yang cukup panjang, Nagasura sampai di hutan pedukuhan Gokula. Nagasura mengubah wujudnya menjadi ular sanca raksasa lalu terus membesarkan ukuran tubuhnya menjadi yang sebesar gunung anakan. Ia menyembunyikan dirinya di antara pepohonan dan semak belukar, dan membuka mulutnya lebar-lebar bagaikan sebuah gua. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan Nagasura menunggu kesempatan itu.

Sampai suatu ketika, datanglah Narayana dan teman-temannya di padang rumput tak jauh dari tempat Nagasura berdiam . Narayana dan pengembala lainnya yang merasa penasaran, mencoba memasuki gua tersebut. “Narayana, kita belum pernah melihat gua seperti itu sebelumnya.” Ucap Madhu Manggala. Charu lalu ikut bicara “benar temanku. Betapa indahnya gua itu disinari cahaya matahari. Pasti di sana ada banyak batu berharga di dalamnya.” Subala dan Sudhama lalu mengajak para gembala untuk masuk kesana “kalau begitu ayo kita kesana.” Kakrasana, Narayana dan Udawa memutuskan untuk menjaga ternak-ternak. Para penggembala yang menuju ke gua itu merasa heran dengan pemandangan di depan gua.  “Madhu, kau lihat ini. Jalanan ini kok jadi seperti ini. Terakhir kali kita ke sini jalanan ini tidak begini.” Ketika sampai di depan gua, Madhu menjadi agak takut “aa...Charu, aku rasu gua ini aneh. Aku tidak suka dengan bau dan suasana tempat ini”. Charu lalu berkata “Madhu, tenang saja.. berhentilah bersikap cengeng.” Para gembala muda itu memasuki mulut gua itu tanpa menyadari bahaya yang akan mereka hadapi. Saat semua gembala termasuk berada di dalam mulut gua, tiba-tiba tempat itu bergoncang hebat dan pintu goa tiba-tiba menutup.

Para putra Nanda memasuki mulut Nagasura

Gua jelmaan Nagasura langsung menutup mulutnya. Semua gembala merasa ketakutan. “tolong!! Kakang Udawa!! Kakang Kakrasana!! Narayana!!! tolong kami!!!Narayana.”suara teriakan mereka terdengar Udawa, Kakrasana dan Narayana yang ada di atas bukit. Ketiga putra Nanda itu segera menuju sumber suara. Ketika masuk ke dalam gua, tiba-tiba gua itu menutup. “tolong!!...kakang Kakrasana! Kakang Udawa! Narayana!” suara teriakan para gembala muda terdengar mulai melemah lalu menghilang. Dengan suara memekakkan telinga, Kakrasana berteriak dengan lantang “Hei.....Monster! Siapa Kau?!” Nagasura lalu berkata dengan congkak “aku nagasura.....Aku akan melampiaskan dendam kedua kakakku.”  Lidah si raksasa yang menyaru jadi ular itu lalu menggulung lidahnya hendak menjatuhkan ketiga putra Nanda itu. Udawa segera melompat ke taring Nagasura “Kakrasana! Cepat raih tangan kakang!” Kakrasana segera melompat dan bergelantungan di tangan Udawa. Sementara Narayana terjun ke dasar perut  si raksasa itu. Di dalamnya, Narayana melihat teman-teman gembalanya pingsan karena keracunan gas perut Nagasura yang beracun. “Nagasura! Kesombonganmu dan dendam kesumatmu membutakan hatimu! Sudah saatnya akhir hidupmu di pastikan!. Dengan tongkat gembalanya, Narayana memukul-mukul perut si raksasa  dan akhirnya ditusukkannya melubangi perut asura tersebut. Akhirnya Narayana dan kakak-kakaknya dapat keluar bersama dengan para gembala yang masih tergeletak pingsan.. Nagasura meronta-ronta kesakitan. Kemudian Udawa, Kakrasana dan Narayana menyerang raksasa ular sanca tersebut dengan senjata apapun sampai Nagasura benar-benar mati. Setelah itu, mereka menyeret jasad Nagasura sampai di pinggir Bengawan Yamuna. Karena teman-temannya masih pingsan, Narayana meniup serulingnya dan mengalunlah irama yang indah. Tiba-tiba datanglah hujan yang segar. Hujan itu seakan membangunkan Madhu Manggala, Charu dan teman-temannya. Mereka semua pun bergembira karean lepas dari cengkraman maut.

Ular Kaliya

Kembali ke bagian lain dari belahan Wisnu yang lain. Tak lama setelah Permadi lahir, Kerajaan Hastinapura diselimuti awan kedukaan. Prabu Pandhu Dewanata bersama isteri keduanya, Dewi Madrim meninggal dunia. Malah kabarnya Dewi Madrim meninggal untuk mengorbankan diri bersama Pandhu padahal saat itu, putri Mandraka itu baru habis masa nifasnya setelah melahirkan adik-adik Permadi yakni Nakula dan Sadewa. Setelah upacara ngaben, Dewi Kunthi meninggalkan kedaton Hastinapura membawa para putranya dan puta Madrim yang dijuluki Pandawa untuk tinggal di padepokan Saptarengga bersama para punakawan sekaligus menghilangkan trauma kesedihan karena meninggalnya Pandhu. Kerajaan Hastinapura pun diserahkan sementara kepada kakak Pandhu, Adipati Dretarastra. Putar-putra Dretarastra yakni seratus Kurawa yang dipimpin oleh Raden Suyudana dan Arya Dursasana sering menjahati para putra Pandhu lebih-lebih dengan adanya patih Sengkuni, paman mereka dari pihak ibu yang suka mengadu domba. Kini usia Permadi dan saudara-saudaranya sudah mendekati akil balig. Puntadewa berusia 15 tahun, Bratasena 13 tahun, dan Permadi sendari berusia 10 tahun. Sementara Nakula dan Sadewa berusia 9 tahun. Pada hari itu, Permadi sedang bermain panahan di pinggir bengawan Yamuna. Ketika ia melihat ke air, tiba-tiba air itu berubah menjadi hitam pekat. Tanaman-tanaman di pinggir bengawan mendadak layu lalu mengering. Ikan-ikan berloncatan dan naik ke daratan seperti hendak menghindari air yang nampak beracun. Permadi lalu memanggi kakak-kakaknya “kakang Punta! Kakang Sena! Lihat kemari!” Puntadewa pun mendekat disusul Bratasena dan Nakula-Sadewa. Kakak sulung Pandawa itu.bertanya “ada apa Permadi?” belum Permadi berkata-kata, tiba-tiba Nakula dan Sadewa batuk-batuk sambil menutup hidung “uhuk...uhuk....bau ini...ini bau busuk sekali, kakang Permadi” ujar Nakula. “Benar kakang Nakula. Air bengawan kok bisa jadi begini? Uhuj..uhuk..uhuk...” ucap Sadewa sambil menahan batuknya. Puntadewa, Bratasena dan Permadi ikut terbatuk-batuk “uhuk...uhuk...Sena cepat amankan adhi Nakula dan Sadewa. Aku akan mengamankan adhi Permadi.” Bratasena pun mengiyakan “baik kakang...ayo Nakula! Sadewa!” belum sempat kelima putra Pandhu itu beranjak dari pinggir bengawan, tiba-tiba muncul seekor ular naga berkepala banyak dari dasar bengawan. Para Pandawa muda kaget bukan kepalang. Mereka semua lari dari bengawan dengan cepat. Suara teriakan mereka terdengar oleh Dewi Kunthi dan pamomong mereka, Kakek Semar “lolalole....hmmmm...ada apa ananda semua...kok lari begitu?” Puntadewa lalu bercerita “ Kakek, tadi di bengawan ada ular raksasa membuat air Yamuna menjadi beracun.” Lalu Dewi Kunthi dan Kakek Semar melihat ke arah bengawan Yamuna. Mereka melihat di sana seekor naga berkepala banyak bertarung dengan seekor burung raksasa.

Kaliya melawan Garudheya di hadapan para Pandawa muda

Air bengawan yang sudah menghitam nampak lebih menakutkan lagi ketika bergolak dan beradu dengan dua makhluk yang saling bertarung tersebut. Kakek Semar lalu mendekat ke bengawan Yamuna. Dewi Kunthi mengingatkan untuk berhati-hati “paman...hati-hati...” lalu melemparkan sebutir kerikil ke arah mereka. Ajaib, kerikil itu melukai kedua makhluk raksasa itu hingga mereka pergi dari sana. Si ular naga berenang ke hulu sementara burung raksasa terbang ke hilir sungai. Kakek Semar lalu berkata pada para bendaranya “ndara ratu! Ananda  semua! Ular itu sudah pergi. Baik kita masuk saja ke padepokan karena hari sudah mulai gelap.” Dewi Kunthi dan para putra bersyukur lalu mereka kembali ke Padepokan Saptarengga. Kakek Semar memandang ke arah bengawan lalu bergumam “sepertinya, ini tanda sang Wisnu akan menginjak ke fase hidup baru. Ular itu akan menjadi sebabnya.”

Pada suatu hari, Narayana dan teman-temannya menggembala sapi-sapi ke arah Sungai Yamuna. Kakrasana kali ini tidak menemani mereka. Narayana dan teman-temannya bermain-main di tepi hutan dan karena hari sangat panas, beberapa teman Narayana kehausan dan pamit mencari minum ke Bengawan Yamuna. Para lembu sapi dan anak-anak penggembala berenang dengan riang gembira tanpa tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Di dasar Bengawan Yamuna ular naga raksasa berkepala banyak yang diusir Kakek Semar tempo hari bernama Kaliya yang hidup bersama beberapa istrinya memutuskan tinggal di hulu Bengawan Yamuna. Kaliya mengeluarkan racun yang berbahaya yang memenuhi danau tersebut dan bahkan sedikit demi sedikit air dari bengawan sudah mulai mencemari sungai itu. Bengawan Yamuna mengalir ke hilir melalui kotaraja Mandura dan di bagian hilirnya lagi melalui kotaraja Hastinapura. Semua tanaman di sekitar bengawan terkena racun dan mengalami kekeringan. Ikan-ikan mati mendadak dan Burung-burung yang melintasi sungai pun berjatuhan terkena uap beracun yang menguap di atas bengawan. Akibatnya, seisi negeri Mandura hingga Hastinapura di timur ditimpa keracunan massal.

Setelah lama menunggu teman-teman mereka yang pergi ke sungai dan tidak kembali, Narayana kemudian memanggil Udawa dan Kakrasana. “kakang Udawa! Kakakng Kakrasana, teman-teman kita lama tak kembali dari bengawan Yamuna. Ayo kita cari mereka.” Akhirnya, Udawa, Kakrasana, Narayana dan teman-temannya mengikuti jejak teman-teman mereka dan sampailah mereka di Bengawan Yamuna. Narayana melihat kawanan sapi dalam keadaan panik. Kakrasana lalu menaiki sapi itu berusaha menenangkannya “hei tenang...ada apa sapi manis?” Udawa lalu menunjuk dengan wajah khawatir “Kakrasana! Narayana! Lihat kesana! Teman-teman kita pingsan!! Ayo kita tolong mereka! Ketiga putra Nanda Antagopa itu lalu teman-teman mereka pingsan dan segera meminta teman-temannya yang lain memindahkan mereka menjauhi bengawan. Narayana segera memanjat pohon kemuning di tepi bengawan. Pohon besar itu nampak kering tanpa daun tersebut tetap bertahan hidup di akhir musim dingin. Teman-teman Narayana melihat Narayana sampai di pucuk pohon dan segera meloncat ke dalam bengawan. Semua teman-temannya khawatir akan keselamatan Narayana, dan ada yang lari ke desa memanggil Nanda, Yasodha dan orang-orang tua para gembala. Di dasar bengawan yamuna, Narayana melihat seekor ular naga berkepala banyak sedang marah-marah sambil menyemburkan racun. Narayana yang iseng lalu menarik-narik ekor ular itu. Hal itu membuat si naga itu tambah gusar dan ketika ia menoleh, ia mendapati seorang anak kecil yang entah habis makan apa bisa hidup di dalam air sama sepertinya. Uklar itu lalu mengamuk, mengibaskan ekornya berusaha menampar Narayana. Narayana lalu bertanya siapakah ular itu “ Hei naga, siapa kau dan kenapa kau meracuni air bengawan ini? Apa yang kau tidak kasihan dengan makhluk hidup yang hidup dari bengawan ini?”. Ular naga itu menjawab “ Hei anak kecil! Nama ku Kaliya. Aku penjaga bengawan ini. Aku sengaja melakukan ini karena aku terancam pada Garudeya Brihawan yang terus menggangguku.” Narayana lalu berkata “ular sakti, racunmu telah membuat air bengawan ini jadi beracun. Pergilah kau dari sini!” makin murka Naga Kaliya diusir oleh anak kecil. Lalu ia menyerang Narayana dengan membabi buta.

Cukup lama Narayana berada di dasar dan tiba-tiba muncul di permukaan sungai suci itu Naga Kaliya berusaha melilit tubuh Narayana. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Narayana berhasil menghindar dengan sangat lincah dan tahan dengan uap beracun yang dikeluarkan oleh Kaliya. Ketika para penduduk sampai di pinggir bengawan itu, terkejutlah mereka melihat Narayana sedang bergulat dengan seekor ular naga di sana. Niken Yasodha sampai pingsan melihat anak kesayangannya itu bergulat dengan ular naga. Pada akhirnya, pertarungan itu dimenangkan oleh Narayana. Narayana memainkan serulingnya sambil menari-nari di atas lima kepala Kaliya. Kaliya kelelahan dan dari mulutnya keluar darah karena telah kehabisan racun berbisanya.

Narayana menaklukan Naga Kaliya
Kaliya sadar bahwa bila Narayana ingin membunuhnya, maka dia akan mati dengan mudah. Para istrinya keluar dan memohon pengampunan dari Narayana. “Narayana tolong maafkan suami kami!”  Nanda, Yasodha dan para gembala bersorak-sorai melihat Narayana menari-nari berlompatan di atas lima kepala Kaliya.

Akhirnya Narayana berkata, “naga Kaliya, kau kumaafkan, akan tetapi segera pergi dari bengawan ini bersama istrimu ke tempat tinggalmu di Pulau Ramanaka. Kau tak perlu takut Garudheya mengejarmu, melihat bekas tapak kakiku di kepalamu, Garudheya akan melepaskanmu. Hiduplah yang baik, karena semua racunmu telah habis.” Naga Kaliya mengantar Narayana ke pinggir bengawan Yamuna. Setelah mengantar Narayana dan menyelam ke dasar bengawan, atas seizin Hyang Widhi air bengawan kembali bersih dan bebas dari racun. Para penggembala, warga desa, dan ternak-ternak yang keracunan kembali sehat.

Adhege Wanua Gobajra

Setelah berbagai kejadian mengerikan yang mereka alami, Nanda Antagopa dan Niken Yasodha bermusyawarah dengan warga desa akan nasib mereka jika tetap di pedukuhan Gokula “warga-wargaku, aku tahu ini adalah keputusan yang berat. Tapi mengingat banyak kejadian dan kejahatan yang terjadi di Gokula, kita harus pindah dari sini. Tapi aku tidak ingin menjadi keputusan sepihak saja. Jadi aku membutuhkan pendapat kalian. Bagaimana menurut kalian semua?” seorang warga lalu memberikan suaranya disambut oleh para warga lainnya “aku Setuju!” “Aku juga!” Kami juga setuju!” “kami sebulat suara dengan pak lurah!” Setelah musyawarah itu, Lurah Nanda Antagopa berkata lagi bahawa tempat mereka untuk pindah sudah ada yakni di desa Barsana, di seberang Bengawan Yamuna. Di sana, ia memiliki teman yakni Buyut Wresabanu dan Niken Kirtidha yang bisa menjamin keamanan mereka. Singkat cerita, keesokan harinya para penduduk Gokula beserta ternak-ternaknya dipimpin Lurah Nanda Antagopa dan keluarganya pindah dari pedukuhan Gokula. Mereka menyeberangi Bengawan Yamuna dan menempuh perjalanan lebih dari tiga hari. Lalu sampailah mereka di desa Barsana. Buyut Wresabanu menyambut mereka dengan tangan terbuka “selamat datang penduduk Gokula...selamat datang di desa Barsana. Nanda, sahabatku. Pesanmu yang kapan hari kau kirimkan sudah ku baca. Silakan kalian beristirahat dan aku akan menunjukkan dimana kalian bisa tinggal.” “terima kasih, sahabatku.” Buyut Wresabanu lalu mengatakan penduduk Gokula bisa tinggal di selatan desa. Tempat itu berada di lembah dua bukit, yakni bukit Gowardhana dan bukit Goloka. Lembah itu terkenal sangat subur dan cocok untuk bertani juga menggembalakan ternak. Mulai saat itu, mereka tinggal disana dan mengubah nama tempat itu menjadi Wanua Gobraja.

Di tempat baru, para putra-putri Nanda mendapatkan teman baru. Udawa, Kakrasana, Narayana dan Pragota bersama Madhu Manggala, Charu dan Subala berteman dengan Ayan Yadawa, putra Lurah Ugrapada dan Nyai Jathila. Sedangkan Rara Ireng dan Rarasati berteman Endang Radha, putri Buyut Wresabanu dan Niken Kirtidha. Pada suatu sore yang indah, ketika itu Endang Radha bersama-sama para gopika (pengembala perempuan) mandi di pinggir sebuah telaga. Kebetulan di sana Rara Ireng dan Rarasati juga sedang mandi juga. Merka bertiga lalu saling berbincang“dinda Rarasati, bagaimana keadaan di Gokula dulu dan kenapa kalian pindah dari sana?” “Gokula sangat nyaman, tapi Gokula terus diserang para raksasa. Kata ibu, kakang Narayana yang selalu menyelamatkan Gokula.” Radha kemudian beertanya “benar begitu? kakang kalian Narayana itu orangnya sangat kuat.” Rara Ireng lalu menimpali “jangan percaya dengan apa yang kau pikirkan, mbakyu. Kakang Narayana itu sangat nakal. Di Gokula tak terhitung berapa kali kakang kami itu mencuri susu, mentega, dan madu. Sering banget lho kakang Narayana bersama teman-temannya mencuri dan memecahkan kendi berisi susu mentega, bahkan kakang kami yang tertua, Udawa dan Kakrasana ikut terpengaruh.” Radha yang mendengarnya menjadi agak jengkel. Di saat demikian tanpa mereka sadari, angin kencang tiba-tiba berembus. Pakaian-pakaian mereka terbang. Ketika melihat ke arah langit, cuacanya cerah. Rara Ireng yang kaget lalu berkata “Aaah...kakang! kembalikan pakaian kami!” Rarasati dan Endang Radha lalu menoleh dan melihat seseorang membawa lari pakaian-pakaian mereka. Radha dan Rarasati ikut jengkel. Mereka mengambil tongkat kayu dan mengejar orang itu hanya memakai kemben basahan. si pembawa pakaian itu ternyata Narayana. Narayana yang cerdik lalu berlari sekencang mungkin lalu menyangkutkan pakaian-pakaian mereka di pepohonan hutan. Para gopika , Radha, Rara Ireng dan Rarasati melihat pakaian mereka menyangkut di atas pohon. Mereka mengambilnya sambil melompat-lompat. Ketika berhasil meraih pakaian tersebut, mereka mendengar alunan suara seruling yang sangat merdu.

Narayana memainkan serulingnya
Ketika mencarinya ternyata itu Narayana bersama para penggembala lainnya duduk di balik pohon sedang menggembalakan lembu sapi. Radha lalu mendekat dengan muka masamnya “Narayana! Kamu kan yang mengambil pakaian-pakaian kami?!” Narayana berpura-pura kaget dan mengelak “hah? Apa yang aku lakukan Radha? Aku sedari tadi di sini menggembalakan ternak!” Rara Ireng ikut bicara “jelas-jelas kakang yag mengambil dan menyangkutkan pakaian kami. Hanya kakang di desa ini yang cerdik bisa begitu” Narayana lalu mendekati adiknya itu “adhiku yang manis, mana buktinya. Kan ada juga orang-orang tidak benar yang mengmbil kesempatan. Oh ya kalian belum tau ya kalau pelaku pencuri pakaian wanita yang meneror desa?” Radha dan lainnya menjawab “belum deh...memangnya kenapa?” Udawa lalu ikut bicara “sebaiknya kalian kembali saja untuk melihatnya. Singkat cerita, para Gopika kembali ke desa dan melihat si pencuri pakaian wanita itu sudah diarak warga desa untuk diadili. Para gopika lalu mnganggap pencuri itulah yang mencuri pakaian mereka. Tapi hanya Radha dan rara Ireng yang merasa ini ulah Narayana yang ia pakai untuk menjebak penjahat itu.

Sabtu, 26 Oktober 2024

Banjaran Sri Kresna Episode 3 : Amukan para Raksasa di Gokula

 Hai hai.......Selamat datang kembali....... Btw, kisah kali ini mengisahkan keadaan masa kanak-kanak Sri Kresna di padukuhan Gokula. Kisah diawali dengan Hadimanggala yang harus tinggal terpisah bersama Ki Adirata, lurah desa Petapalaya yang tak lain orang tua angkat Aradeya (Adipati Karna), tipu daya Ditya Keshin, si raksasa berwujud kuda raksasa, pembebasan hutan Entalsewu dari tangan Kangsa dengan terbunuhnya sang penjaga hutan itu yakni Janggan Dhenukasura. Kisah diakhiri dengan usaha balas dendam Ditya Bakasura kepada Narayana karena terbunuhnya Kotana namun berakhir tewas. Sumber kisah ini berasal dari blog https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/08/11/krishna-kecil-keshi-kejatuhan-keangkuhan-diri-srimadbhagavatamhttps://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/07/30/krishna-kecil-balarama-menaklukkan-hawa-nafsu-dhenukasura-srimadbhagavatam/ , https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/07/26/krishna-kecil-melenyapkan-pola-pikiran-keliru-bakasura-srimadbhagavatam/, Serial animasi Little Krishna, Serial Kolosal India Radha Krishna Starbharat, lakon Wayang ki Purbo Asmoro yang berjudul Kresna Lair, dan sumber lainnya.

Keangkuhan Ditya Keshin

Waktu berjalan bagaikan kilat. Tak terasa para putra Mandura kini sudah berusia 8 tahun. Pada suatu hari, Nanda Antagopa mendapat mimpi bahawa ia harus membawa salah satu putranya yakni Hadimanggala kepada Ki Adirata, seorang kepala desa di desa Petapalaya dekat wilayah Awangga, salah satu wilayah bawahan Hastinapura yang pusat penghasil kereta kencana dan kusir kereta. Dalam mimpi itu, ia mendapat penglihatan apabila Hadimanggala diasuh Ki Adirata maka ia kan menjadi orang besar di kemudian hari. Ia pun menceritakan mimpinya itu kepada Niken Yasodha. Awalnya Yasodha menolak namun keesokan harinya, Yasodha juga mendapat penglihatan yang sama. Setelah menimbang-nimbang dengan matang, akhirnya Niken Yasodha pun mengizinkan Hadimanggala pergi dan diasuh oleh Ki Adirata. Dengan air mata berlinangan, Yasodha memeluk Hadimanggala untuk terakhir kalinya sebelum pergi “Hadimanggala, kamu yang baik ya sama ayah barumu. Kalau sudah berjaya, pulanglah. Ibu akan menunggumu.” Hari itu adalah hari yang berat juga bagi abang dan kakak Hadimanggala terutama bagi Pragota karena akan ditinggal oleh adik kandungnya.

Salah seorang ajudan Adipati Kangsa adalah Ditya Keshin merasa geram. Ditya Keshin mempunyai dendam yang mendalam kepada Narayana karena telah menghabisi Trinarwata sahabatnya. Selain Trinarwata, kabar Nyai Kotana yang dibunuh oleh Narayana saat masih bayi juga membuatnya penasaran. Keshin yang penat mendengar teman-temannya dihabisi ingin menunjukkan kelebihan kekuatan dan kepatuhannya kepada Adipati Kangsa dengan mengambil wujud seekor kuda raksasa “tuanku Kangsa, izinkan aku datang ke tempat Nyai Kotana dan sahabatku Trinarwata tewas. Aku akan membawa kepala dari pembunuh teman-temanku dan ku persembahkan padamu, tuanku.” “baiklah Keshin, aku mengizinkanmu dan bawa kepala dari malaikat kematianku itu ke hadapanku!”. Kecepatan larinya secepat pikiran, dan suara ringkikannya menimbulkan badai. Batu-batu yang ada di jalan yang dilewatinya tersepak hingga beberapa puluh meter. Keshin langsung menuju dukuh Gokula dan mencari Narayana.

Agar tidak mencolok perhatian, Ditya Keshin menyamar sebagai seorang ajar (pandita) bergelar Begawan  Jaranbergola dan membuat sebuah padepokan di pinggir hutan. Di sana, para orang durjana dan perompak belajar ilmu kesaktian. Pada suatu hari, saat ia mengajar, sang begawan Jaranbergola ditemui seorang mata-mata Kangsa bernama Janggan Dhenukasura. Ia adalah telik sandi yang mampu berubah wujud menjadi kimar (keledai). Ia bertukar kabar dan informasi tentang malaikat kematian Adipati Kangsa “sahabatku, sang begawan..... aku tahu bagaimana ciri-ciri orang yang menghabisi teman-teman kita.” Begawan Jaranbergola alias Keshin antusias “bagaimana ciri-cirinya? Bagitahu padaku, Dhenukasura!” Dhenukasura pun menjabarkan ciri-cirinya: seorang anak lelaki memakai jarik batik berwana kuning, membawa banshuri (seruling), dan memakai mahkota bulu merak. Setelah menjabarkan semuanya, Dhenukasura pamit untuk kembali ke pos jaganya di bagian hutan lainnya yakni hutan Entalsewu

Dengan persiapan yang matang, Begawan Jaranbergola memerintahkan murid-muridnya yang menjadi begal dan rampok bergerak hendak mengacau dukuh Gokula demi mencari anak yang menjadi incarannya. Sementara itu, jauh dari desa di pinggir padang rumput, para gembala muda menggembalakan anak-anak sapi dan lembu. Salah seorang gembala muda bernama Madhu Manggala bermain bersama teman-temannya diantaranya adalah anak-anak Nanda Antagopa.

Narayana bertarung dengan Jaran Keshin
Diantara anak-anak itu, Narayana yang nampak paling supel dan gemar bercanda. Semua orang suka kepadanya termasuk Madhu manggala. Di suatu kesempatan, Madhu Manggala bermain lalu mendekati Narayana. Madhu Manggala berkata kalau ia bangga berteman dengannya malah ingin sepertinya.lalu Madhu bertanya “Narayana...aku boleh gak pinjam jarik, seruling dan mahkotamu? Aku ingin jadi seperti kamu” Narayana mengizinkan. “boleh, Madhu.” Setelah bertukar pakaian, Madhu Manggala izin kembali ke pedukuhan untuk sekedar bermain-main dan berpura-pura menjadi Narayana.Narayana dan teman-teman gembalanya agak risau, maka mereka diam-diam mengikuti Madhu Manggala. Benar kerisauan Narayana, mereka melihat dukuh Gokula kacau dan di tengah jalanan desa yang sepi, nampaklah Madhu Manggala yang asik dengan dunianya tiba-tiba didatangi orang-orang suruhan Begawan Jaranbergola. “Hahahaha...akhirnya kita menemukan anak yang dicari-cari guru kita, malaikat kematian Kangsa.!” Madhu manggala terkejut dan berkata “aaa..aku..aku bukan malaikat!”  salah satu diantara suruhan Jaranbergola berkata “kau memang bukan malaikat, karena kami akan mengantarkanmu ke dalam kematian!” kata-kata itu membuat Madhu Manggala takut dan pingsan. Lalu datanglah Narayana, Kakrasana, dan Udawa mengalihkan mereka. Kakrasana segera menghajar orang-orang itu dengan kemampuan gulatnya dan Udawa mengevakuasi Madhu Manggala ke tempat aman. Beberapa dari suruhan Jaranbergola berhasil kabur. Kakrasana berhasil membawa satu yang tertangkap. Meski masih berusia tujuh tahun, kakrasana sudah terkenal dengan sifatnya yang keras tapi juga lembut. Ia lalu mengintrogasinya “hei paman, katakan siapa yang menyuruhmu! Katakan atau kau merasakan pukulanku!” karena ketakutan, orang itu mengatakan apa-apa yang ia ketahui. Kakrasana pun melepaskannya. Ketika ingin memberitahukan itu kepada Narayana, Kakrasana mendapati adiknya itu tidak ada dimana-mana. “aduuh...Kanha...kau ini menghilang. Kakang Udawa, ayo kita cari Kanha.” Para penggembala muda pun meminta bantuan orang-orang dewasa untuk membantu mencari Narayana.

Rupanya Narayana sudah tahu jika sang provokator adalah Begawan Jaranbergola. Ia pun mendatangi guru itu dan berdebat dengannya. Begawan Jaranbergola kalah dalam perdebatan dan berubah wujud ke wujud aslinya yakni Ditya Keshin berwujud kuda raksasa. Ketika itu orang-orang yang mencari Narayana kaget melihat perubahan itu dan menjadi ngeri. Mereka berteriak agar Narayana menjauh “Narayana...pergi dari situ! Dia iblis!” Narayana degna tenang berkata “paman-paman semua, tenang saja....eyang resi ini sedang mau main kuda-kudaan dengan aku!”. Keshin langsung menyerang Narayana, akan tetapi Narayana bisa berkelit dengan lincah. Keshin semakin marah, matanya melotot dan giginya bergemeretak “Kau Harus Belajar Tata Krama, Anak Sombong!”. Berkali-kali Keshin menginjak-injakkan kakinya ke arah Narayana namun ia bisa berkelit dengan pantas. Narayana sengaja memain-mainkan Keshin dengan selalu berkelit dari serangannya. Akhirnya, Narayana berhasil memegang kaki belakang Keshin dan segera memutar-mutarkannya di atas kepalanya. Keshi merasa pusing dan putus asa. Kemudian Keshin merasa dirinya dilemparkan sangat tinggi dan jatuh dengan telak. Meski demikian, Keshin masih bisa melawan. Akhirnya, Narayana yang masih bocah berusia 8 tahun mematahkan rahang atas dan bawah Keshin. Seketika itu pula, nyawa Ditya Keshin pun melayang. Sebuah makhluk bersinar keluar dari tubuh Keshin, bersujud di kaki Narayana, dan menghilang sebagai makhluk setengah dewa. Karena jasa-jasanya, Narayana kembali mendapat julukan baru yakni Keshinisudhana yang bermakna “yang mengalahkan Ditya Keshin”.

Janggan Dhenukasura

Suatu hari yang cerah di musim panas, Batara Indra sang raja bidadari dimintai tolong oleh isterinya, Dewi Shaci “kakanda, persedian minuman untuk bahan membuat air Soma habis. Bisakah kau mencarikannya untukku?” batara Indra berkata “bahan baku air soma paling bagus berasal dari nira lontar yang ada di hutan Entalsewu, tapi hutan itu alas gung liwang-liwung, jalma mara jalma mati..” Dewi Shaci lalu merayu “kan kakanda adalah dewa petir dan raja bidadari yang hebat, apa hutan itu telah membuat hati kakanda menjadi ciut?” Batara Indra lalu berkata “tentu saja tidak! Aku akan ambilkan buah-buahan dan air lontar dari hutan angker itu untukmu, cintaku!” maka Batara Indra pun pergi ke hutan Entalsewu. Sesampainya di pinggir hutan itu, para bidadara membuat pengalih perhatian agar para siluman disana sibuk sendiri. Datanglah angin kencang yang menerbangkan pepohonan dan buah-buahan disana berjatuhan. Batara Indra segera mengambili buah lontar, legen, nira, dan mangga itu. namun tiba-tiba datanglah seekor keledai raksasa menghadangnya. Dialah Janggan Dhenukasura, sang telik sandi adipati Kangsa yang ditugasi menjaga hutan itu setelah tewasnya Ditya Keshin “hahahaha...batara...kau ini kesasar?...kau kenapa mau mencuri buah-buahan hutan ini? Kalau kau mau buah, langkahi dulu mayatku!”terjadilah pertarungan antara Batara Indra dan Janggan Dhenukasura yang sangatlah sengit. Batara Indra tiba-tiba merasa goyah keseimbangan akibat hantaman Janggan Dhenukasura ke arahnya. Di saat demikian, Janggan Dhenukasura menginjak-injak tanah tempat sang dewa petir itu sehingga runtuh. Batara Indra hampir saja jatuh namun ia segera ditolong gajah Erawata dan segera melarikan diri. Janggan Dhenukasura sangat bangga bisa mempercundangi dewa.

Di suatu ketika, kala itu sudah hampir tiba musim panen, anak-anak Nanda Antogopa dianggap sudah mandiri dan dapat dipercayakan untuk menggembala sapi dan lembu dewasa, mereka tidak menggembalakan anak sapi lagi. Udawa, Kakrasana, Narayana, Pragota, dan teman-teman sebayanya setiap hari menggembalakan sapi ke hutan Gobajra yang banyak rumputnya. Kemudian mereka bermain-main di tepi hutan. Kali ini Kakrasana agak capek dan tertidur di bawah pohon. Narayana memijat-mijat betis Kakrasana. Dan beberapa temannya melepaskan lelah di dekat mereka dan beberapa yang lain masih tetap bermain di hutan. Pada waktu itu, 3 orang anak gembala: Madhu Manggala, Subala, dan Charu, sedang bermain mendekati Narayana dan Kakrasana. Mereka berkata, “Kakrasana! Narayana! kalian  mencium harum yang terbawa oleh angin ke tempat ini?” Udawa menimpali “ya, bau ini wangi seperti nira pohon lontar atau tal yang dijadikan legen.” Pragota ikut bicara “bukan cuma itu, aku juga mencium aroma mangga yang ranum.” Begitu mendengar kata mangga, Madhu pun ikut nimbrung “Mangga? Mana-mana? Aku mau mangga!” para penggembala muda pun tertawa dengan tingkah Madhu Manggala. Narayana pun mempertajam indria penciuamannya “hmmm...bau ini sepertinya dari hutan Entalsewu.” Mendengar kata hutan Entalsewu, para penggembala jadi ngeri sendiri “aduhh...kok dari situ? Aku gak jadi deh...tau sendiri kan kalau hutan Entalsewu itu angker. Jalma mara, jalma mati. Nafsu makanku langsung lenyap” Ujar Subala. Charu pun menenangkan Subala “jangan takut, Subala. Kan ada Kakrasana dan kakang Udawa yang akan melindungi kita. Lagipula Narayana juga pasti melindungi kita juga.” Setelah dibujuk, akhirnya mereka sepakat untuk ke hutan Entalsewu.

Demikianlah para putra Nanda Antagopa menemani para gembala muda masuk ke Hutan Entalsewu. Kakrasana menggoyang pohon dan buah-buahan yang telah ranum berjatuhan, kemudian diambil oleh para gembala kecil. Adalah Janggan Dhenukasura masih dalam wujud keledai kala itu sedang beristirahat, tiba-tiba ia merasa terusik dengan suara sayup-sayup dari kejauhan “heh siapa yang berani masuk ke hutan ini? Aku harus cari dia!”. Dhenukasura segera mempertajam indria pendengarnya lalu terdengarlah suara langkah kaki. Mendengar ada suara langkah kaki dan suara buah-buahan yang berjatuhan, Janggan Dhenukasura mendatangi mereka, dengan napas yang terengah-engah dan suara penuh kemarahan “Hei, Kalian Maling Cilik...Kalian Sudah Berani Masuk Hutan Ini, Maka Hukuman Untuk Kalian Yakni Kematian!”  tanpa peringatan, dia menyepak Kakrasana. Kakrasana menjadi kalap lalu melawan Dhenukasura dan dalam suatu kesempatan memegang kaki belakang Dhenukasura. Kemudian keledai tersebut diputar-putarkannya di sekeliling tubuhnya dan dilemparkan ke pohon. Pohon tersebut roboh dan kemudian menimpa pohon disebelahnya dan Dhenukasura mati. Seberkas sinar keluar dari tubuhnya dan jatuh di kaki Narayana lalu lenyap. Madhu Manggala lalu bertanya kepada Narayana “Narayana, apa Dhenukasura sudah mati?” Dengan santai Narayana berkata “ tentu saja, kakangku Kakrasana kan pegulat paling kuat diantara kita.” Udawa lalu meminta adik-adik dan teman-temannya untuk berwaspada “tunggu, ku rasa ini belum selesai.” Benar saja kata-kata Udawa. Seluruh kerabat Janggan Dhenukasura kemudian mengepung mereka “Kalian Hebat Sekali Bisa Menghabisi Pimpinan kami! Tapi Kalian tidak akan bisa Keluar Hidup-Hidup!”

Kakrasana dan Narayana mengalahkan para kerabat Dhenukasura 
para kerabat Dhenukasura lalu mengubah wujud menjadi keledai raksasa dan menyerang para gembala. Akan tetapi mereka semuanya dapat dipegang kakinya oleh Kakrasana dan Narayana lalu dicampakkan tinggi-tinggi ke udara sampai habis nyawa mereka. Udawa dan Pragota ikut membantu. Mereka berdua merobohkan tunggul-tunggul pohon lalu dilemparkan ke arah para raksasa keledai yang tersisa. Seluruh gerombolan keledai mati. Setelah mengalahkan Janggan Dhenukasura dan kerabat-kerabatnya, para gembala mengambil buah-buahan dari hutan Entalsewu dan memberikannya kepada para penduduk Gokula. Sejak saat itu, Hutan Entalsewu sudah “terbuka”, orang-orang dan binatang-binatang berani memasukinya.

Dendam Bakasura

Di istana Adipati Kangsa, Ditya Bakasura masih saja tidak tenang hatinya disebabkan kematian sang saudari tercinta, Nyai Kotana delapan tahun yang lalu. Diam-diam tanpa seizin sang kakak yakni Ditya Nagasura, Ditya Bakasura memohon izin kepada sang adipati Sengkapura ingin menyelidiki siapa penyebab kematian sang saudari “tuanku Kangsa izinkan hamba pergi barang sejenak untuk menyelidiki kematian adik saya, Kotana. Barangkali pembunuh adik saya itu adalah malaikat kematian tuanku.” Adipati Kangsa juga berpikiran sama “kau benar Bakasura, selidikilah dan jika benar dia adalah malaikat kematianku, habisi saja langsung tanpa ampun.”Ditya Bakasura segera mengubah wujudnya menjadi burung bangau raksasa dan pergi dari istana.

Setelah pergi dari istana, Bakasura dalam wujud bangau mengganggu masyarakat di sekitar bengawan Gangga dan Yamuna dengan mencuri ikan-ikan dan hasil ternak mereka. Rakyat dilanda rasa takut karena Bakasura ikut menelan siapa saja yang menghalanginya. Lalu dari kejauhan, Bakasura melihat segerombolan anak-anak penggembala. Diantara mereka ada satu anak yang seakan memiliki aura yang unik. Ditya Bakasura segera terbang ke sana. Tanpa disadari siapapun, Bakasura pun menyaru sebagai bukit besar.

Anak-anak penggembala yang dipimpin para putra Nanda Antagopa mulai melepaskan lembu dan sapi di pesisir bengawan Yamuna. Lalu mereka pergi bermain petak umpet. Kali ini giliran Udawa yang jaga “baik teman-teman, aku hitung sampai sepuluh, kalian sembunyi! 1! 2! 3! 4!...” para gembala segera bersembunyi. Kakrasana dan Pragota bersembunyi di balik pohon, Madhu Manggala berselindung di balik semak-semak, Charu, Subala, dan Sudhama ngumpet di balik batu besar. Sementara Narayana bersembunyi di bawah kayu dekat bukit besar. Tatkala Narayana duduk di sana tiba-tiba bukit besar itu bergerak lalu bertukar wujud ke wujud asal yakni menjadi Bakasura, si burung bangau raksasa. Anak-anak gembala yang menyaksikan hal demikian lari tunggang langgang. Tanpa mengambil waktu lama, Ditya Bakasura segera membuka paruhnya dan menelan Narayana bulat-bulat. Anak-anak penggembala kaget bukan kepalang menyaksikan hal itu. Udawa dan Kakrasana menenangkan teman-temannya “kalian jangan panik....adhiku Narayana pasti bisa melawan raksasa ini.”

Tak dinyana, tiba-tiba Ditya Bakasura diserang oleh kekuatan tidak terlihat. Rupanaya para dewa datang membantu Narayana. Batara Bayu dan Batara Sambu beserta beberapa gandarwa (bidadara) menyerang Ditya Bakasura dengan angin panas dan awan panas mereka hingga tubuh Bakasura hangus terbakar. Namun, Ditya Bakasura masih saja bisa bangun dan tak terluka sedikitpun. Sekali lagi para dewa merasa dipercundangi oleh raksasa. Bakasura lalu sesumbar “larilah kalian para dewa! Dendamku untuk Kotana telah kulunaskan! Aku telah menghabisi malaikat kematian tuanku Kangsa dan tidak ada satupun yang bisa mengalahkan aku! Aku sang pemuja Wisnu sejati...tidak seorang pun!”

Di saat sedang sesumbar begitu, tiba-tiba tenggorokan Ditya Bakasura menjadi panas seperti terbakar. Selain itu, ia merasa mual karena tekaknya ditendang sesuatu.

Narayana bertarung dengan Ditya Bakasura
Rupanya Narayana masih tertahan di tenggorokan sang raksasa bangau. Ia memukul-mukul dan menendang jalur nafas si raksasa yang diseliputi dendam itu. Maka Bakasura memuntahkan kembali Narayana dan terjadilah pertarungan yang sengit “Bakasura! Kau sangat sombong dan mengagungkan dirimui sebagai pemuja sejati! Sekarang rasakan kemarahanku!” Dengan marah, Bakasura mematuk Narayana dengan paruhnya yang seperti gunting baja raksasa. Berkali-kali Narayana berkelit menghindar. Kekesalan Bakasura semakin naik dan ia berusaha kembali menelan Narayana, namun kali ini Narayana berhasil berkelit dann naik ke leher bakasura dan mencekiknya hingga Bakasura tumbang. Meski sudah tumbang, Bakasura terus mengarahkan paruhnya ke arah Narayana. Namun fatal bagi Bakasura, Narayana memegang paruh sang bangau dan membukanya dengan paksa. Mulut bangau raksasa tersebut terbelah dan matilah Bakasura.

Dari jasad Bakasura, tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang kemudian mewujud sebagai makhluk seperti bidadara. Ia pun berlutut di di kaki Narayana lalu terbang kembali ke kahyangan. Bakasura dalam kehidupan sebelumnya adalah seorang bidadara pemuja Batara Wisnu. Karena ingin memberikan persembahan terbaik kepada Batara Wisnu, maka dia memetik bunga teratai dari danau milik Batari Durga, istri Batara Guru tanpa izin. Seorang penjaga menangkap sang bidadara dan membawanya ke tempat Batara Guru. Karena dia telah mencuri maka dia mendapat hukuman terlahir di dunia sebagai raksasa yang ingin memperoleh segala sesuatu dengan sekejap tanpa bekerja keras dan pengorbanan. Akan tetapi, karena dia mempersembahkan bunga tersebut kepada Batara Wisnu, maka di jaman Dupara Yuga, Bakasura akan mendapatkan pembebasan dari Narayana alias Sri Kresna, yang merupakan avatar (titisan) dari sang dewa pujaannya, Batara Wisnu.

Minggu, 08 September 2024

Banjaran Sri Kresna Episode 2: Narayana si Anak Ajaib

Hai hai.......Selamat datang kembali....... Btw, kisah kali ini mengisahkan keadaan Sri Kresna kecil dan saudara-saudaranya setelah sampai di Gokula. Kisah diawali dengan terbunuhnya Nyai Kotana alias Putana ditangan bayi Narayana (Kresna) lalu dilanjutkan dengan Kisah Narayana menumbangkan dua pohon beringin dan terbebasnya dua bidadara (gandarwa). Kisah diakhiri dengan terbunuhnya Ditya Trinarwata yang hendak menculik dan menghabisi Narayana. Sumber kisah ini berasal dari blog https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/07/22/krishna-kecil-bisakah-gusti-diikat-yashoda-bisa-srimadbhagavatam/, Serial Kolosal India Radha Krishna Starbharat, Serial Animasi Little Krishna, blog https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2017/07/16/krishna-kecil-pemberian-air-susu-asura-putana-srimadbhagavatam/, dan beberapa sumber lainnya.

Nyai Kotana

Setelah Dewi Yogamaya muncul dan ia mendengar darinya bahwa penyebab kematiannya telah aman disatu tempat, Kangsa menjadi dibayang-bayangi ketakutan dan kekhawatiran “ahhh... bedebah......anak-anak penyebab kematianku sudah terselamatkan. Aku harus bertindak dengan cepat.” Di istananya di Sengkapura, ia memanggil beberapa ajudannya. Yang pertama datang ialah tiga raksasa bersaudara. Mereka yakni Nyai Kotana, sang telik sandi yang lihai dan licik, Ditya Keshin, raksasa berkepala kuda, Nagasura, si raksasa bersisik kebal dan kandel. Lalu datang pula Trinarwata, si raksasa yang sanggup menciptakan angin ribut. Lalu Ditya Aristha dan Wasasura, dua bersaudara raksasa berkepala banteng. Datang pula Ditya Pralamba, guru Ditya Suratrimantra yang doyan bergulat, dan juga Yomasura, si manusia kelelawar. Kangsa tidak tahu dimana keberadaan anak-anak penyebab kematiannya maka ia mengutus Nyai Kotana mencari keberadaannya “Nyai, aku utus kau mencari anak penyebab kematianku. Kalau ketemu, habisi saja langsung!” Nyai Kotana pun dengan senang hati melaksanakan perintah sang atasan “Hanya dia yang tidak tahu Kotana yang meremehkan kekuatanku. Dengan racunku, akan kubuat anak-anak itu dan mereka yang menghalangiku mati dalam sekejap.”Nyai Kotana pun terbang mencari setiap anak-anak bayi di sekitar wilayah Wangsa Yadawa dan Baharata untuk dihabisi. Rakyat di Mandura, Lesanpura, Kumbinapuri, dan Hastinapura dihantui ketakutan akan hilangnya anak-anak dan bayi. Ketika melewati kerajaan Hastinapura tepatnya di Partapan Saptarengga, ia melihat anak bayi bernama Bambang Permadi. Dalam penglihatannya, anak ini punya kekuatan menghancurkan sebuah negara. Ia menyangka anak inilah penyebab kematian tuannya. Ia pun mendekati bayi itu namun sebuah kekuatan ajaib menghalangi. Kekuatan ajaib itu serasa seperti ribuan panah menacap di tubuhnya dan membuat Nyai Kotana menjerit kesakitan. Hal itu menyebabkan bayi Permadi terbangun lalu menangis dan membuat keributan.

Nyai Kotana melarikan diri dari Pandhu
Lalu datang para prajurit datang lalu orang tua bayi itu yang tak lain raja Hastinapura, Pandhu Dewanata, Dewi Kunthi, dan Dewi Madrim “Hei, raksasi! Beranainya kau mengganggu anakku. Pergi kau atau ku bunuh saat ini juga!” Prabu Pandhu pun memanah raksasi itu. Raksasi Kotana merasa walau anak ini anak sakti tapi ia bukanlah penyebab kematian Kangsa. Ia pun pergi melarikan diri lalu ia sampai di hutan dan bersembunyi di sebuah goa besar.

Sementara itu,di pedukuhan Gokula, Nanda Antagopa dan Niken Yasodha sedang bercengkrama dengan keluarganya. Di sana ada Dewi Rohini menggendong Kakrasana alias Balarama dan Rara Ireng. Bayi Narayana digendong Niken Yasodha. Udawa, anak tertua mereka bermain-main dengan tiga adiknya yang masih juga masih bayi yakni Niken Larasati, Pragota, dan Hadimanggala di ayunan mereka. Lalu datang sang carik desa Gokula yakni Carik Sukantha “pak Lurah Nanda, persiapan pesta selapanan untuk anak-anak pak lurah sudah selesai. Setelah adicara ini, semoga anak-anak pak lurah akan aman dan selalu sehat.” “semoga Hyang Widhi menghendaki itu.” lalu ia menengok ke arah langit yang gelap tertutup mendung. Dengan menghela nafas, ia berkata “tapi kita harus berwaspada. Kangsa masih mengancam kita dengan penarikan upeti yang tidak masuk akal dan ajudannya yang sakti-sakti. Bisa saja ajudan-ajudannya dikirim kemari untuk mencelakai kita dan anak-anak kita ini.” Tak lama, kilatan petir menyambar dengan gemuruh yang menggelegar. Nanda Antagopa dan semua anggota keluarganya segea memasuki rumah karena sebentar lagi hujan akan segera turun. Beberapa hari kemudian, rakyat dukuh Gokula sedang menyiapkan pesta selapanan untuk keenam anaknya. Para penduduk desa bergumam dengan ketampanan dan kecantikan mereka, terutama dua bayi gondang kinasih Kakrasana dan Narayana. “kalian sudah melihat bayi nini Dewi Rohini dan nini Yasodha?” tanya salah satu warga. Lalu salah seorang kerabat Yasodha yakni Niken Prabawati berkata “aku sudah melihatnya...mereka sangat tampan dan cantik. Kakrasana seperti bidadara, lalu adiknya Narayana...ya ampun kulit gelapnya manis seperti gula jawa,. Bagaikan dewa Wisnu sendiri turun ke bumi...bagaikan malaikat...” Tak dinyana oleh mereka, Nyai Kotana telah mencuri dengar hal itu di balik pohon-pohon di dekat situ. “Hmmm...Narayana...bagai malaikat....sepertinya dia yang ku cari....tapi jika memang dia seperti anak di Hastinapura waktu itu, aku tak boleh lengah..” Nayi Kotana pun membalurkan racun miliknya ke payudaranya. Ia akan membunuh bayi itu dengan susu beracunnya. Setelah persiapan selesai, Nyai Kotana segera menyusup ke dukuh Gokula.

Pesta selapanan para putra-putri Nanda Antagopa pun digelar meriah. Di tengah meriahnya pesta, datang lah seorang wanita yang sangat cantik. Wajahnya begitu ayu dan molek dengan badan yang sintal berisi. Para penduduk terpesona dan terkagum-kagum dengan kecantikan sang wanita. Ia lalu berdiri di hadapan keluarga Nanda Antagopa. Niken Yasoda pun bertanya “wanita cantik, siapakah gerangan puan? Apakah gerangan maksud puan datang ke rumahku yang sederhana ini?” Wanita itu berkata “aku seorang bidadari dari kahyangan sana. kedatanganku ingin mengabdi kepada anak tuanku karena ku dengar anak tuanku sangat kuat.” Niken Yasoda pun merasa terhormat karena kedatangan seorang dewi yang ingin mengabdi kepada putranya. Ia pun mempersilakan sang dewi itu melihat sang anak. Ketika memasuki kamar, dewi cantik itu segera menggendong bayi Narayana. Ketika melihat bayi itu, ia seakan melihat bayangan dewa melindunginya. Tanpa rasa takut, wanita itu menggendong Narayana dan membawanya ke ruangan sepi, ia lalu segera menyusui si jabang bayi. “bagus, cah ganteng. Minumlah semuanya.” Ia merasa misinya berhasil, tapi ia merasa jabang bayi Narayana menyusu dengan cengkeraman yang sangat keras dan menghisap semua tenanganya “ehh...hentikan....bayi sialan...kau menghisap daya hidupku...!” wanita itu menjerit kesakitan berusaha melepaskan cengkeraman Narayana “lepaskan...lepaskan!” suara jeritan itu terdengar sangat keras sehingga mengejutkan semua orang. Niken Yasodha diikuti sang suami, Dewi Rohini, dan para penduduk segera menuju kamar tempat Narayana. Di sana mereka kaget melihat wanita cantik itu menjerit lalu bertukar wujud aslinya yakni Nyai Kotana, raksasi yang selama ini meneror Mandura hingga Hastinapura. Nyai Kotana pun berusaha melarikan diri dengan bayi Narayana masih mencengkeram puting susunya. Namun sejauh apapun Kotana melarikan diri, dengan bayi Narayana yang terus mencengkeram dadanya membuat Nyai Kotana tidak berdaya.

Nyai Kotana dihabisi bayi Narayana
Pada akhirnya, Nyai Kotana pun jatuh ambruk kehilangan nyawa dengan bayi Narayana tetap mencengkeram dan menyusu. Carik Sukantha segera mengambil bayi Narayana dan menyerahkannya kepada Niken Yasodha. Niken Yasodha segera mengambil anaknya itu dan memeluknya dengan harap-harap cemas tapi juga bangga karena sejak bayi, Narayana sanggup melakukan apa yang bahkan sulit sekali dilakukan orang dewasa.

Narayana sang Damodhara.

Hari berganti pekan, pekan berganti sasih. Tak terasa anak-anak Nanda dan Yasodha kini sudah berusia dua dan tiga tahun. Udawa yang paling tua kini sudah berusia tujuh tahun. Pada suatu hari, saat Niken Yasodha mengaduk susu untuk membuat mentega di luar dapur, Narayana kecil yang merasa lapar mendatanginya. Narayana lama memandang wajah ibunya yang cantik yang sedang sibuk mengaduk susu dalam periuk. Niken Yasodha tersenyum dan kemudian memangku Narayana kecil dan membiarkan tangan kecil Narayana ikut memegang pengaduk susu, kemudian bersama-sama dengan Narayana mengaduk susu dalam periuk. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam diri Niken Yasodha. Dia betul-betul merasa bahagia memiliki seorang anak yang menjadi sumber kebahagiaan dirinya. 

Akan tetapi, rasa bahagia tersebut terhenti, kala dia membaui adanya bau gosong masakan di dalam periuk di dapur. Niken Yasodha segera meninggalkan Narayana kecil dan menengok masakannya di dapur. Setelah beberapa lama, ketika Niken Yasodha balik ke tempat semula, dia melihat periuk sudah pecah dan mentega yang sudah jadi hilang dan Narayana tidak nampak. Niken Yasodha tersenyum sambil berpikir bahwa Narayana telah memecahkan periuk dengan memukulnya memakai pengaduk, kemudian mengambil mentega dan bersembunyi. Niken Yasodha walaupun belum sadar siapa sejatinya Narayana, dia telah mengasihi sepenuh hati.

Sambil membawa kayu pengaduk Niken Yasodha mencari Narayana dan menemukannya sedang duduk di atas batu tempat menumbuk yang terletak di halaman sambil memakan mentega. Ada beberapa kera di depannya yang juga diberi mentega olehnya. Niken Yasodha marah juga namun ia berpikir Narayana kecil memang nakal dan bila ia dipukul dengan pengaduk walaupun pelan untuk menegur tindakannya, takut sang anak akan membencinya. Ia juga rasa kasihanmemandangkan kalau anak kecil nakal itu sudah biasa. Kemudian Niken Yasodha berupaya mendekati Narayana untuk menangkapnya. Tiba-tiba Narayana melihat Niken Yasodha datang dengan kayu pengaduk dan Narayana lari. Terjadilah kejar-mengejar antara Niken Yasodha dengan Narayana. Narayana kecil sangat lincah dan cukup sulit bagi Niken Yasodha untuk menangkapnya. Keringat Niken Yasodha bercucuran dan ikatan rambutnya terlepas menambah kecantikannya. Akhirnya, Narayana tertawa-tawa dan membiarkan dirinya dipegang oleh Niken Yasodha.” Kena kamu, anak nakal!” Niken Yasodha berkata lagi, “Narayana, kamu jangan nakal! Lain kali jangan memecahkan periuk dan mengambil mentega, Nanti ibu kuambilkan! Sekarang ibu akan ke dapur lagi, tetapi sebagai hukuman, ibu harus harus mengikatmu! Nanti ibu lepaskan ikatanmu!” Niken Yasodha kemudian mengambil tali pengikat sekitar 4 depa, mengikat batu penumbuk dan kemudian akan mengikat Narayana. Dalam pikiran Niken Yasodha biarlah Narayana bisa bergerak, tetapi tidak jauh. Akan tetapi, Niken Yasodha kaget karena talinya kurang panjang untuk mengikat badan Narayana. Niken Yasodha menyambung tali tersebut dengan tali lainnya, dan masih kurang panjang juga, sampai seluruh tali di dalam rumah diambilnya tetap kurang panjang juga.

Dewi Rohini yang baru pulang dari pasar bersama Kakrasana melihat hal itu lalu bertanya “Dinda, kau sedang apa?” Niken Yasodha berkata “aku mengikat si kecilku ini. Dia nakal sekali.” Dewi Rohini lalu membantu. Tapi anehnya bantuan dari Dewi Rohini juga tidak cukup untuk mengikat Narayana. Para Gopika (penggembala perempuan) berdatangan melihat kejadian tersebut dan ikut membantu. Niken Yasodha sampai kewalahan menyambungnya dengan tali-tali lainnya. Narayana kecil hanya tersenyum dan setelah merasa cukup mempermainkan ibunya, Narayana kemudian membiarkan dirinya diikat oleh Niken Yasodha “ini ibu, ikat aku.” Niken Yasodha kaget begitu tali itu dipegang Narayana langsung bisa pas. Yasodha pun mengikat anak kesayangannya itu “kamu jangan nakal lagi, ibu mau mengurus adik-adikmu dulu.”

Ditunggu punya tunggu, Niken Yasodha ternyata masih belum selesai mengurus adik-adik Narayana. Narayana merasa gelisah lalu ia merangkak dengan keadaan perutnya diikat ke lesung. Anehnya, meski berat, lesung itu ikut bergerak kemanapun bayi Narayana bergerak. Akhirnya ketika Narayana merangkak melewati dua buah pohon beringin, kendi itu tersangkut di celah-celahnya. Narayana terus merangkak dengan perut terikat. Kakrasana yang sedang bemain bersama Udawa melihat hal itu berkata “kakang Udawa, lihat adhi Kanha. Berusaha keluar dari pohon dengan perut terikat lesung.” “Benar adhi. Kanha lucu banget. Kanha, kamu gak bakal bisa keluar.” Narayana tidak menggubris perkataan dua abangnya itu terus berusaha keluar dari celah pohon itu hingga akhirnya tarikannya itu membuat dua pohon itu roboh.  Suaranya berdentum keras menimbulkan getaran. Udawa dan Kakrasana segera mendekati pohon itu dan bersyukur Narayana masih selamat.Udawa segera melepaskan ikatan di perut Narayana. Keajaiban pun terjadi. Dari dalam tunggul pohon muncul cahaya yang sangat terang dan mewujudlah dua bidadara yang sangat tampan rupawan. Dua bidadara itu lalu berkata “kalian anak-anak yang hebat, telah membebaskan kami dari pohon beringin ini. Kami ucapkan terima kasih. Aku Nalakubara dan ini adikku Manigriba.” “Kami telah dikutuk Batara Narada untuk hidup sebagai pohon karena ketelodoran kami.” Udawa lalu berkata sambil menunjuk Narayana“bukan saya yang membebaskan paman-paman berdua. Adik saya Kanha yang telah membebaskan paman berdua.” Nalakubara dan Manigriba pun tetap berterima kasih pada mereka dan memberikan sejumlah hadiah dari kahyangan. Lalu mereka terbang kembali ke kahyangan.

Narayana sang Damodhara
Niken Yasodha yang tadi mendengar suara berdentum dari luar segera keluar rumah diikuti beberapa warga. Ia melihat anak-anaknya berada di dekat pohon beringin yang roboh tadi. Ia segera menghampiri anak-anaknya “Udawa! Kakrasana! Apa yang terjadi? Mana adikmu?”  Udawa segera memberikan sang adik untuk digendong ibunya lalu menceritakan semuanya yang terjadi. Para warga yang mendengar hal itu merasa takjub lalu memberi julukan kepada Narayana kecil sebagai Damodhara yang bermakna perut yang diikat tali.

Trinarwata si Angin Ribut.

Kabar kejadian terbunuhnya Nyai Kotana dan robohnya dua pohon beringin oleh seorang anak kecil terdengar oleh Ditya Trinarwata, salah seorang ajudan Kangsa yang sedang mencari keberadaan Nyai Kotana yang sudah lebih dari 24 sasih tak kembali. Trinarwata segera kembali ke istana Sengkapura dan melaporkan apa yang ia dapat kepada sang tuan. “tuanku, ternyata kabar itu benar.Nyai Kotana telah dihabisi oleh anak bayi dan sekarang ada berita jika anak tersebut sudah membuat kegemparan. Dia merobohkan pohon dengan keadaan perut diikat lesung.” Kangsa murka mendengarnya “Bedebah! Pasti anak itu salah satu penyebab kematianku. Cepat kau habisi dia.” Ditya Trinarwata pun segera pergi dan berubah wujud sebagai angin ribut yang sangat kencang. 

Hari itu, Niken Yasodha selesai memandikan sang anak-anaknya. Dia merasa sedikit pusing. Melihat anak-anaknya sedang tertidur nyenyak, maka Niken Yasodha meninggalkan mereka di ayunan halaman dan masuk ke rumah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Baru beberapa saat Niken Yasodha masuk ke dalam rumah, datang angin ribut yang berputar-putar. pedukuhan Gokula kalang kabut dibuatnya. Seluruh penduduk Gokula berada dalam kepanikan segera menutupi mata mereka dan segera masuk ke rumah, karena debu, daun-daun kering, dan kerikil berterbangan. , Niken Yasodha segera lari ke halaman mencari sang anak-anaknya. Akan tetapi, sang anak kesayangan, Narayana tidak ada di tempatnya “Narayana! Anakku Narayana! Dimana kamu? Kakanda! Ayo cari anak kita!” Nanda Antagopa segera memerintahkan para warga mencari Narayana. Beberapa saat kemudian, para warga mendengar suara tawa anak kecil dari atas lamgit. Ketika mereka mendongak, samar-samar di tengah debu dan pasir yang beterbangan mereka melihat Narayana dibawa oleh angin ribut yang berputar-putar. Niken Yasodha cemas melihat anaknya terbawa oleh angin puyuh itu.

Ditya Trinarwata membawa sang bayi terbang tinggi ke langit dan bermaksud menjatuhkannya “hahahaha...anak kecil...sebentar lagi kau akan jadi telur ceplok....” Narayana yang digendong tiba-tiba berdiri di tangan raksasa itu dan berkata “paman...mana telor ceploknya? Apa yang di atas hidung paman itu ya?” tiba-tiba melompatlah Narayana pun memukul mata Ditya Trinarwata lalu wajah dan hidungnya. Mendadak  Ditya Trinarwata merasa anak kecil itu begitu berat, sehingga dia tidak kuat membawanya. Kemudian dalam keadaan setengah sadar dia merasa tangan mungil anak kecil itu mencekiknya lalu tiba-tiba anak itu naik ke punggungnya dan diinjak-injak sampai tubuhnya hilang keseimbangan lalu jatuh menghantam bumi dengan keras. 

Trinarwata Lena
Ditya Trinarwata pun tewas menghantam tanah seperti telur ceplok. Para penduduk dukuh Gokula merasakan getaran bagai gempa bumi dan mendengar suara raksasa itu jatuh seperti bukit runtuh di tepi hutan. Mereka berlari ke sana dan melihat Trinarwata yang luar biasa besarnya mati dengan Narayana kecil yang masih berada dalam pelukannya. Carik Sukantha segera mengambil Narayana kecil dan menyerahkannya kembali kepada Niken Yasodha “Narayana, kamu ini membuat ibu khawatir...” ucap Niken Yasodha yang memeluk putra kesayangannya itu sambil menangis haru. Para penduduk bersyukur kepada dewata karena masih menyelamatkan putra Nanda Antagopa dan Niken Yasodha itu.

Sabtu, 24 Agustus 2024

Banjaran Sri Kresna Episode 1 : Kelahiran Sri Kresna

 Hai hai.......Selamat datang kembali.......Sudah lama saya tidak posting..... Setelah fokus ke Mahabharata, sekarang penulis mengisahkan kisah Banjaran. Btw, kisah kali ini mengisahkan kelahiran  Prabu Sri Kresna dan saudara-saudaranya. Sumber kisah ini berasal dari pagelaran wayang Ki Purbo Asmoro berjudul Kresna Lahir, kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus, Radha Krishna Starbharat, blog albumkisahwayangblogspot.com dan beberpa blog pewayangan lainnya dipadukan dengan imajinasi penulis.

Kutuk Pasu Sridhama

Di Kahyangan Untarasegara yang indah, bagian dari Jonggringsaloka. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Pepohonan disana sangat indah memanjakan mata laksana berdaun sepuhan emas dengan batang merah bagai tembaga, dan buah berwarna perak. Para bidadara dan bidadari menari-nari dengan riang gembira. Kahyangan itu berbentuk sebuah danau indah yang dikelilingi tembok lengkung dengan gerbang-gerbang istana emas. Istana berbentuk danau semesta itu dinamai Bentukaloka.Di tengah danau sana lah bersemayam Hyang Batara Wisnu, sang dewa pengayom dan pemelihara. Disampingnya sang shakti, yakni Batari Sri Laksmi dan kedua wahana miliknya. Yang satu ular naga raksasa yakni Batara Nagaraja Adisesha dan burung elang raksasa, Garudeya Brihawan. Sang Batara melakukan yoga seteah bertemu berembug dengan Batara Guru soal kesewwnagan dan kekacauan di jaman Duparayuga, menandakan sebentar lagi era Purwa akan mengalami kemunduran. Sang dewa yang bersenjatakan Cakra Widaksana dan Cangkok Wijayakusuma itu melihat dalam mata batinnya keadaan dunia selepas masa Ramayana dilanda banyak kekacauan lalu ia terbangun dari yoga semadinya. Batari Sri Laksmi ikut terbangun dari semadi panjangnya. “suamiku, keadaan dunia wayang kacau sekali. Penindasan terjadi dimana-mana. Moral dan dharma memudar digantikan ketidakadilan. Kakek Semar yang telah lama turun ke dunia berusaha meredamnya tapi ia nampak kewalahan. Apa langkahmu selanjutnya, suamiku?” Batara Wisnu pun bangun dari tapa bratanya lalu berkata “Laksmi, sebentar lagi solusi untuk itu akan datang. Dia sedang menuju kemari.” Batari Sri Laksmi, Nagaraja Adisesha, dan Garudeya nampak dengan saksama mencerna apa perkataan sang dewa yang bergelar Narayana itu.

Di tempat lain, yakni di puncak Mahameru yakni istana Iswaraloka datanglah seorang pertapa sakti bernama Resi Sridhama. Ia seorang pemuja Wisnu yang sangat taat dan penuh dharmabakti. Ia ingin bertemu dengan sang dewa pujaanya. Hyang Batara Guru Pramesthi pun mempersilakan Sridhama menemui sang dewanya. Hyang Batara Brahma mengantarnya dengan angsa miliknya. Sepanjang perjalanan, ia melihat kawasan Untarasegara yang indah dengan istana air Bentukaloka yang laksana cermin semesta itu. setelah Batara Brahma mengantarnya, Resi Sridhama pun disambut Hyang Batara Narada yang kebetulan sedang berkeliling Untarasegara. Resi Sridhama menyampaikan tujuannya untuk bertemu Batara Wisnu, Batara Narada pun mengajaknya menuju ke istana Bentukalaoka. Sepanjang jalan, Para Bidadara-bidadari menari dengan riang gembira. Ketika tiba di depan istana, Sridhama menyaksikan pemandangan yang tidak terbayangkannya. Resi Sridhama menyaksikan Batara Wisnu memakai pakaian layaknya gembala sapi namun juga memakai mahkota raja sedang memainkan seruling  dan bersama batari Sri Laksmi yang turut memakai pakaian gadis desa namun berperhiasana emas mewah menari bagaikan merak kesimpir. Setelah menari, Batara Wisnu dan Batari Sri duduk di atas ayunan dan menikmati seguci mentega juga susu.

Resi Sridhama menyaksikan kemesraan Batara Wisnu dan Batari Sri Laksmi 
Resi Sridhama nampak tak suka dengan hal itu lebih-lebih lagi ketika batari Sri menyuapi sang suami dengan tangannya sendiri. Resi Sridhama pun menjadi semakin kesal dan menghentikan keharmonisan pasangan dewa-dewi itu “apa-apaan ini, gusti Batari!? Gusti batari telah memalukan dewa saya!” Sridhama juga berkata bahwa ini adalah penghinaan karena menurutnya tidak pantas lelaki makan makanan yang telah dimakan isterinya. Batari Sri pun berkata dengan penuh kelembutan “Sridhama, ini adalah bentuk cinta, kasih sayang yang murni.” Resi Sridhama berkata kalau pengabdian atau bhakti lebih berharga ketimbang cinta. Sridhama merasa cinta hanyalah ilusi semata. Lalu Batara Wisnu berkata “jika benar demikan, buktikanlah!” Resi Sridhama pun menyanggupinya.

Batara Wisnu pun tiba-tiba menghilang dan berada di dalam gerbang Bentukaloka. Sementara Resi Sridhama berada di luar gerbang. Batara Wisnu lalu berkata di dalam hatinya “Laksmi....!! Laksmi...!!” Sri Laksmi yang sedang berada di tengah taman bunga mendengarkannya dan pergi menemuinya, tetapi Sridhama tidak membiarkan Batari Sri Laksmi masuk. Sri Laksmi bersikeras, tetapi sia-sia. Kemudian, dia masuk mengabaikan Sridhama, Sridhama berkata dengan nada berang “jika Gusti melangkah maju, Gusti akan kehilangan suamimu!!” Sri Laksmi berkata “Wisnu ada di hatiku, jiwaku, Smriti (ingatan) ku, bagaimana aku bisa melupakannya.” Tanpa peduli resikonya, Batari Sri melangkah maju ke suaminya, kemudian Sridhama mengutuk Sri Laksmi “Gusti Telah melangkahi Pengabdianku demi Cintamu! Aku Sridhama Mengutukmu!! Semoga Gusti akan kehilangan ingatanmu!, dan harus hidup di alam bumi mengalami banyak derita! Jiwanmu akan terpisah menjadi enam wanita berbeda!” Batara Wisnu lalu muncul di hadapan Sridhama dan mewujudkan wujud dewatanya yang agung. Batari Sri juga memperlihatkan wujud indahnya yang bertangan empat. Sang Hyang Narayana pun berkata “berkat kutuk pasumu, aku dan Sri memiliki alasan untuk mewujudkan tujuan kelahiranku berikutnya. Ketahuilah, aku telah menantikan ini.” Resi Sridhama pun duduk berlutut meminta maaf karena telah menuruti nafsunya dan seenaknya mengutuk shakti dari dewanya. Batara Wisnu pun memaafkannya namun tidak dengan Batari Sri Laksmi. Menurutnya setiap perbuatan harus memberikan akibat. Maka sang dewi kesuburan itu mengutuk Sridhama “Untuk memberikan alam semesta ini pelajaran, aku harus memberikan pelajaran kepadamu! Karena Dikau Mengutuk Dewi Kemakmuran, Maka Di Kehidupanmu sebahgai Manusia Biasa, Kau akan Jauh dari Kemakmuran. Maka Terjadilah !” Resi Sridhama pun turun ke bumi menerima takdirnya.

Kabar kutukan Sridhama di dengar oleh Garudeya dan Batara Nagaraja Adisesha. Kedua hewan suci milik sang batara menghadap. Garudeya Brihawan berkata “Gusti Batara dan Batari, anda akan turun lagi ke bumi sebagai manusia. Izinkan hamba ikut sebagai wahana paduka.” Batara Nagaraja Adisesha yang berwujud ular naga sakti sedih lalu ia berkata “ jika  Gusti Batara dan Batari turun kembali, aku bersumpah tak akan melewatkan peristiwa turunnya paduak berdua. Izinkan aku turun ke bumi terlebih dahulu sebagaimana janjiku terdahulu saat terlahir sebagai Lesmana. Aku ingin turun sebagai abang dari Gusti Batara.” Batara Wisnu berkata “Garudeya! Sesha! Aku akan turun kembali sebagai pembasmi kejahatan. Aku menghargai keinginan kalian, maka aku izinkan kalian ikut denganku. Garudeya kelak kau akan ku panggil dan kau harus menjaga istanaku. Sesha, aku mengizinkanmu turun terlebih dahulu. Mulai hari ini aku akan memanggilmu kakang.” Garudeya Brihawan pun berterima kasih lalu ia kembali ke kediamannya di Kukilaloka, kahyangan para burung dan unggas. Nagaraja Adisesha pun pamit ia pun menghilang dan menjelma sebagai titik cahaya putih kemerahan menuju ke sebuah hutan. Batara Wisnu pun memeluk sang isteri sebelum pergi “Laksmi, aku akan menunggumu.” “Suamiku, aku pun menunggumu dan salah satu wujudku akan selalu bersamamu dan kakang Sesha.” Batari Sri Laksmi pun berubah menjadi wujud cahaya beraneka warna, enam macam cahayanya lalu menghilang. Batara Wisnu pun ikut membelah dirinya menjadi dua cahaya, hitam kebiruan dan kuning keemasan. Kemudian cahaya itu lenyap jatuh di hutan tempat naga Adisesha turun.

Kelahiran Tiga Permata

Sementara itu di Kerajaan Mandura, sedang mempersiapkan upacara empat bulanan tiga isteri sang raja yakni Prabu Basudewa: Dewi Rohini, Dewi Dewaki, dan Dewi Badrahini. Sebenarnya Prabu Basudewa punya isteri terua bernama Dewi Maherah, namun sang isteri tertua telah ia usir karena ketahuan bermain serong dengan seseorang yang mirip dengannya.  Pada hari itu juga raja Hastinapura yakni Pandhu Dewanata ditemani kedua isterinya, Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Dewi Kunthi adalah adik dari Prabu Basudewa. Dewi Kunthi saat ini mengandung anak ketiga. Selain itu datang pula adik-adik Basudewa yang lain. Mereka yakni Raden Aryaprabu dan Arya Ugrasena. Keduanya telah diangkat sebagai raja bawahan. Aryaprabu menjadi raja Kumbinapuri bergelar Bhismaka dan Ugrasena menjadi raja Lesanpura bergelar Satyajid. Setelah beramah tamah, Prabu Basudewa mengajak sang adik ipar untuk berburu hewan di hutan Boja “adhi Prabu, sekarang akan diadakan pesta empat bulanan untuk ketiga istriku dan kebetulan Dinda Kunthi juga sama hamil pula. Kita kekurangan makanan untuk pesta jadi kami harus berburu. Apakah adhi prabu mau ikut?” Pandhu Dewanata pun setuju “ Tentu, kakang Prabu. Mari segera berburu mumpung hari belum gelap” Tanpa banyak waktu mereka langsung berangkat. Sampailah mereka di hutan Boja, hutan perburuan negara Mandura. Mereka akhirnya berhasil mendapatkan anyak rusa dan kijang. Prabu Pandhu berkata “kakang prabu, sepertinya hasil buruan kita sudah cukup, kita kembali saja ke istana. Hari dah semakin gelap.” Belum sempat Prabu Basudewa bicara, datanglah sepasang harimau dan seekor ular raksasa. Tiga hewan buas itu menyerang hewan-hewan buruan dua raja tersebut. Karena terkejut, Basudewa dan Pandhu segera memanah harimau dan ular raksasa itu. ajaib, begitu tiga hewan itu tumbang, bangkai mereka hilang lalu bertukar wujud sebagai tiga cahaya. Sepasang harimau berubah menjadi cahaya hitam kebiruan dan kuning keemasan, sedangkan ular raksasa berubah menjadi cahaya putih kemerahan.

Harimau dan ular jelmaan Wisnu dan Adisesha
Ketiga cahaya itu melesat menuju keraton Mandura.” adhi prabu, cahaya itu mengarah ke keraton. Ayo kita ikuti” “mari kakang prabu Basudewa. Aku khawatir bila cahaya itu pertanda bahaya”. Ketika sampai, Prabu Basudewa dan Prabu Pandhu Dewanata melihat tiga cahaya itu masuk ke dalam perut isteri-isteri mereka yang tengah tertidur di keputren. Cahaya putih kemerahan masuk ke kandungan Dewi Rohini, sedangkan cahaya hitam kebiruan dan kuning keemasan masuk ke kandungan Dewi Dewaki dan Dewi Kunthi. Mereka merasa lega bahwa cahaya-cahaya itu tidak menyakiti isteri-isteri mereka. Upacara empat bulanan pun digelar dengan hikmat dan syahdu. Malam harinya, Prabu Basudewa mendapat mimpi dari Batara Wisnu “Basudewa, aku dan kakangku Nagaraja Adisesha telah datang kepada isterimu dan adikmu, Kunthi dalam wujud cahaya. Salah seorang anakmu dan anak Kunthi akan menjadi titisan-titisanku. Jika kelak anak-anakmu lahir, bawalah anak-anakmu ke dukuh Gokula karena kelak akan datang huru-hara yang ditimbulkan salah seorang putramu yang angkara.” Setelah mendapat mimpi itu, Prabu Basudewa pun tersentak bangun dengan keringat bercucuran. Ketiga isterinya ikut terbangun “kakanda, ada apa kakanda?” tanya Dewi Rohini “apa kakanda bermimpi buruk? Dinda Badrahini cepat tolong ambilkan air.” Ucap Dewi Dewaki. Dewi Badrahini pun segera mengambilkan air di kendi di dekatnya “ini kakanda, minumlah agar kakanda tenang.” sodor Badrahini yang membawa segelas air putih. Prabu Basudewa pun menceritakan mimpinya tadi. Isteri-isteri Basudewa pun kaget mendengarnya. Prabu Basudewa meminta para isterinya untuk merahasiakan mimpinya dari siapapun, termasuk dari Pandhu dan Kunthi. Setelah pesta empat bulanan selesai, Pandhu, Kunthi dan Madrim pun pulang ke Hastinapura.

Tiga bulan kemudian, terjadi sebuah keributan besar antara pasukan Goagra dan Mandura. Prabu Basudewa dibantu Prabu Bhismaka, dan Prabu Satyajid berusaha mengendalikan keributan itu. Lalu, datanglah seorang anak remaja tinggi besar berusia tiga belas tahun ke keraton Mandura. Sang pemuda itu mengaku bernama Kangsa, anak Dewi Maherah. Dia ingin dminta diakui sebagai putra Prabu Basudewa. “Mohon maaf, gusti Prabu. Maaf bila saya lancang. Perkenalkan, nama hamba Kangsa. aku adalah putra gusti dengan ibu Dewi Maherah yang pernah gusti prabu usir. Aku meminta hak untuk diakui sebagai putramu, gusti prabu!” Prabu Basudewa tiba-tiba teringat akan kata-kata Batara Wisnu tentang sosok putranya yang diramalkan akan membawa angkara murka. Prabu Basudewa menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan “Baiklah, aku akan mengakuimu sebagai putraku bila kau berhasil mengalahkan pasukan Goagra.” Tanpa ba-bi-bu lagi, Kangsa langsung ke medan perang. Seakan seperti dikode oleh Kangsa dan melihat kekuatan Kangsa yang hebat, pasukan Goagra berhasil dipukul mundur oleh Kangsa. Prabu Basudewa, Prabu Bhismaka,dan Prabu Satyajid kaget bukan kepalang. Prabu Bhismaka mengingatkan lagi “Kakang prabu, kita harus tetap waspada. Awasi anakmu yang satu ini” Prabu basudewa lalu berkata “baiklah, adhi Bhismaka. Tetap waspada. Kita tidak tahu apa niatnya selanjutnya.” Pada akhirnya, terpaksalah Prabu Basudewa mengakui Kangsa sebagai putranya dan diberi kedudukan di kadipaten Sengkapura sebagai adipati. Pada suatu hari, Kangsa berbincang-bincang pada ayahnya tentang adik-adik tirinya yang belum lahir “ayahanda, aku ingin mengasuh adik-adikku di Sengkapura. Aku merasa adik-adikku kelak akan jadi orang hebat. Akan ku perlakukan mereka layaknya pangeran dan putri dari kahyangan.” Prabu Basudewa berkata “anakku, kau masih muda. Belum mengerti caranya mengasuh anak. Menikahlah terlebih dahulu barulah kamu mengerti cara mengasuh anak.” Kangsa berkata dengan nada sedikit meninggi “Ayahnda, Aku Sudah Menikah. Sudah Menjadi Suami Dan Tak Lama Lagi Isteriku, Dewi Asti Akan Melahirkan. Jika isteriku tak mampu, masih banyak mbok-emban di Sengkapura yang bisa menyusui adik-adikku.” Prabu Basudewa berkata “hmm...akan ayahnda pikirkan lagi.” Ya sebenarnya Basudewa tahu apa niat Kangsa sebenarnya, ialah ingin menghabisi adik-adik tirinya karena ia mendapat ramalan kelak ia akan dijatuhkan dan dihabisi oleh keturunan Trah Mandura.

Singkat cerita, datanglah hari persalinan bagi Dewi Rohini. Prabu Basudewa khawatir dengan nasib anak dan isterinya. Untungnya Kangsa sedang berkunjung ke Giribajra. Para mbok emban segera mengungsikan Dewi Rohini ke dukuh Gokula. Dengan cepat, mereka menarik perahu tambang menyebrangi Bengawan Yamuna sebelum Kangsa dan pasukannya menyadari hal tersebut. Lalu dengan siasat salah seorang abdi istana kepercayaan sang prabu datang meminta bantuan “gusti prabu, bantulah hamba. Saudari hamba baru saja meninggal saat melahirkan bersama bayinya. Bantulah hamba membiayai upacara ngaben untuknya.” Prabu Basudewa mendapat akal. Kangsa pun diperdaya dengan kabar bahwa Dewi Rohini meninggal saat melahirkan bersama bayinya. Kangsa yang terpedaya percaya saja malah memimpin upacara ngaben sang ibu tiri. Di saat yang sama dengan upacara ngaben itu, Dewi Rohini yang telah sampai di hutan Gokula ditolong oleh Nanda Antagopa dan penduduk Gokula. melahirkan seorang anak yang tampan. Oleh sang ibu, anaknya itu dinamai Balarama. Namun kerna sang ibu melahirkan saat pindah tempat di pengungsian ia juga dikenal sebagai sang Kakrasana.

Lalu beberapa hari kemudian ketika Kangsa sedang berada di Mandura, Dewi Dewaki dan Dewi Badrahini akan segera melahirkan. Angin dan hujan badai turun dengan derasnya. Petir menyambar-nyambar. Tanpa disadari siapapun, secercah cahaya merasuk ke dalam kandungan Dewi Badrahini. Bersamaaan dengan hal itu, terjadi keajaiban. Kangsa dan pasukannya bahkan hampir semua dayang dan emban mendadak dilanda kantuk yang hebat malam itu lalu mereka semua jatuh tertidur. Dewi Dewaki melahirkan seorang putra yang tampan berkulit gelap kehitaman.

Basudewa mengungsikan Narayana
Prabu Basudewa menamai putranya Raden Kresna karena kulitnya yang gelap kehitaman, namun karena juga teringat bahwa putranya adalah titisan Batara Wisnu, maka ia juga memanggilnya sebagai Bambang Narayana. Namun, ia tiba-tiba teringat kata-kata Batara Wisnu harus mengungsikan putranya ke Gokula. Dewi Dewaki memohon untuk memeluk putranya untuk terakhir kali sebelum berpisah. Dewi Badrahini yang masih pembukaan pertama segera menyuruh sang suami mengungsikan bayi Kresna “kakanda, cepat bawa Kresna ke Gokula. Biar Yunda Dewaki yang menjagaku.” . Dengan berat hati Basudewa segera menuju ke Gokula.

Singkat cerita, segeralah Prabu berangkat ke Gokula membawa putranya sendirian. Perjalanan Prabu Basudewa amat panjang dan melelahkan, Ketika sampai di pinggir Bengawan Yamuna, terjadi badai dahsyat. Air bengawan banjir dan mengalir sangat deras. Ombak bengawan menggeliat seakan saling sabung menyabung laksana diaduk-aduk. Prabu Basudewa yang kebingungan berdoa agar bisa menyebrang. Atas pertolongan dewata agung, munculah seekor ular naga penjaga bengawan Yamuna bernama Kaliya menolong Prabu Basudewa menyebrang. Seekor burung merak turut menyertai mereka dengan terbang sebagai penunjuk arah. Setelah tiba di desa Gokula, badai berhenti, hujan pun mereda. Ular Naga kaliya kembali ke Bengawan Yamuna. Burung merak juga kembali ke hutan. Tak lupa, merak itu memberikan sehelai bulu ekornya dan meletakkan bulu itu di kepala bayi Kresna. Setelah berjalan hampir separuh malam, sampailah Prabu Basudewa di rumah Nanda Antagopa dan Niken Yasoda yang juga dipanggil Niken Sagopi oleh penduduk desa. Setelah membukakan pintu, Nanda Antagopa bertanya sambil berbasa-basi “Gusti Prabu Basudewa, ada keperluankah datang kesini malam begini? Dan inikah putramu gusti prabu? Sungguh tampan” Prabu basudewa menerima sanjungan Nanda “Terimakasih, Nanda. Tak usahlah kau panggil aku Gusti Prabu, panggil saja kakang. Kita sudah bersahabat sejak lama. Aku kesini untuk meminta bantuanmu dan Yasoda untuk mengasuh putraku. Bagaimana isteriku Rohini dan anaknku darinya?” Nanda Antagopa bertanya lagi “isterimu baik-baik saja. Bahkan anakmu dari dinda Rohini telah lahir sehat.” Prabu basudewa bersyukur sekali. Lalu ia mendekati Niken Yasoda “Yasoda, bagaimana kabar anak kita, Udawa?” Niken Yasoda yang sedari tadi melamun terkejut dan lalu berkata dengan canggung “Udawa baik-baik saja bahkan sekarang ia mengasuh Balarama, anak tuanku dari dinda Rohini.” Sebenarnya sebelum menikahi keempat isterinya, Basudewa muda pernah terlibat skandal dengan Yasoda sehingga melahirkan seorang anak bernama Udawa. Bahkan bukan hanya dengan Basudewa, kedua adiknya yakni Bhismaka dan Setyajid pernah juga membuat hal yang sama sehingga juga melahirkan anak-anak yakni Larasati dari Bhismaka dan si kembar Pragota dan Hadimanggala dari Setyajid beberapa hari yang lalu. Nanda Antagopa lalu kembali membuyarkan perasaan canggung itu dengan menanyakan maksud Basudewa “lalu, Apa gerangan yang terjadi sehingga gusti ehh kakang mau menyerahkan tugas ini pada kami?”. Prabu Basudewa menghela nafas lalu menceritakan segalanya, mulai dari garis nasib anak keturunannya hingga ancaman Kangsa, putra haram Dewi Maherah. Nanda Antagopa dan Niken Yasoda merasa tidak keberatan malah merasa ini menjadi suatu kehormatan besar bisa mengasuh para putra Mandura. Setelah menyerahkan putra-putrinya, Prabu Basudewa kembali ke keraton Mandura. Mulai hari itu, para putra Prabu Basudewa diasuh oleh Nanda Antagopa dan Niken Yasoda diantara para petani dan penggembala di Gokula.

Setelah mengantarkan bayi Kresna, ia segera menemui Dewi Badrahini. Tepat waktu, dengan berjalan tertatih-tatih, Dewi Dewaki mengabarkan pada suaminya jika anak Dewi Badrahini barus saja lahir. Dewi Badrahini melahirkan putri yang cantik berkulit gelap manis seperti gula jawa. namun di saat bersamaan Kangsa datang merebut sang adik dari tangan Dewi Badrahini “akhirnya, adikku telah lahir..akan aku rawat dia.” Prabu Basudewa meminta Kangsa untuk mengembalikan jabang bayi Dewi Badrahini, tapi Kangsa menolak malah mendorong ayahnya itu hingga jatuh. Dewi Dewaki dan Dewi Badrahini pun menangis melihat sang jabang bayi dibawa pergi begitu saja. Di depan mata ayah dan dua ibu tirinya, Kangsa melemparkan si jabang bayi itu tinggi-tinggi, lalu dengan tanpa rasa bersalah Kangsa  berkata “ramalan dewa akan aku patahkan! Sekarang anak ini akan mati di tanganku!” Kangsa pun melemparkan si orok yang masih merah ke dinding. Mendadak terjadi keajaiban, si jabang bayi lalu bertukar wujud menjadi sesosok dewi bertangan banyak, wajah yang mengerikan. Semua orang segera memberi hormat, kecuali Kangsa yang merasa ketakutan. Sang Dewi itu dikenal sebagai Batari Yogamaya, bentuk welas asih dari batari Durga Mahakali lalu berkata dengan penuh kemarahan “Hei Orang Berdosa! Dosamu Sudah Terlalu Banyak dan Tak Terampuni! Jangan Kira Para Dewa Akan Tutup Mata? Keangkaramurkaanmu Akan Segera Tumbang! Anak–Anak Yang Akan Menjadi Sebab Kematianmu Sudah Berada Di Tempat Yang Aman!”

Penampakan Dewi Yogamaya 
Kangsa merasa ngeri kemudian ia jatuh pingsan. Secara ajaib, Batari Yogamaya berubah kembali sebagai cahaya lalu mendekati Basudewa dan membawa anak bayi yang dilahirkan Badrahini lalu berpesan “Basudewa, anakmu baik-baik saja. Sekarang segera bawa anakmu ini juga ke Gokula! Kau tak perlu khawatir tentang keselamatanmu dan para isterimu. Aku akan melindungimu dan mereka.” Dengan kekuatan perlindungan dewi, Basudewa berhasil menyebarangi Bengawan Yamuna yang masih banjir dan kembali menemui Nanda Antagopa meminta menjaga putrinya itu. Nanada Antagopa dengan senang hati menerimanya. Sebelum kembali ke Mandura, Prabu Basudewa berpesan agar sang anak gadis anak Dewi Badrahini itu diberi nama Sumbadra alias Bratajaya. Sejak saat itu Sumbadra diasuh bersama kedua kakaknya. Karena kulitnya yang hitam manis, Niken Yasoda memanggil Sumbadra sebagai Rara Ireng.