Senin, 27 Mei 2019

Serayu Winangun


Hai semua, akhirnya bisa nulis lagi. Nah kali ini saya akan menceritakan tentang sayembara ulang yang dilakukan Pandawa dan Kurawa. Disini juga diceritakan legenda Sungai Serayu di daerah Banyumas yang memang berhubungan dengan Pandawa dan Kurawa. Sumber cerita saya bersumber dari Kitab Pustakaraja Purwa dan ditambah dengan kisah-kisah legenda Sungai Serayu dan Tuk Bima Lukar yang ada di internet yang kemudian diubah dan diperhalus. 
Berita tentang Arya Bratasena yang berhasil selamat dari tipu daya Resi Dorna bahkan mendapatkan ilmu berharga membuat Prabu Anom Suyudana dan para Kurawa semakin geram pada para Pandawa. Mereka terutama Prabu Anom Suyudana geram karena takut takhta Hastinapura akan jatuh ke tangan Puntadewa. Kebencian itu membuat para tetua Hastinapura yang sedang bersidang semakin pusing untuk mencari cara mendamaikan mereka. Lalu Patih Arya Sengkuni memberikan usulan di sidang itu “raka prabu, kalau saya boleh berbicara, saya mengusulkan agar para Pandawa diajak kembali ke Hastinapura soal permasalahan itu biarlah kakang Resi Dorna yang menentukan jalan tengah penyelesaiannya”. Maharesi Bhisma kurang setuju dengan usulan itu, namun sebelum dia menyanggahnya, Prabu Dretarastra menyetujui usulan itu. Lalu Prabu Dretarastra mengutus adiknya, Arya Widura untuk mengundang para Pandawa, Dewi Kunthi, dan Dewi Drupadi kembali ke Hastinapura.
Sementara itu, di pertapaan Saptarengga, Maharesi Abiyasa datang dari rumahnya di puncak Saptaharga ditemani Ki lurah Semar membawa benda-benda pusaka miliknya. Para Pandawa, para Punakawan, Dewi Kunthi, dan Dewi Drupadi menyembah hormat padanya. Sebagai kakek dari Pandawa maupun Kurawa, dia berkata tak ingin memihak siapapun, karena cucu-cucunya itu punya sisi baik dan buruk masing-masing. Justru dia khawatir akan keberadaan Patih Sengkuni dan tipu dayanya yang semakin hari semakin mengobrak-abrik kedamaian Hastinapura karena dia titisan Wasi Dwapara, dewanya adu domba dan perselisihan. Kemudian Maharesi melanjutkan “Cucu-cucuku Pandawa, kedatanganku kesini selain mengingatkan akan keberadaan Patih Sengkuni, aku ingin mewariskan pusaka-pusaka ini pada kalian. Pusaka-pusaka ini adalah warisan para leluhur Hastinapura, dari Prabu Baharata dan Resi Sakri. Menurut cerita, pusaka-pusaka ini konon didapat setelah leluhur kita mengalahkan musuh kahyangan bernama Kalimantara dan sekarang aku akan mewariskan pada kamu berdua, Puntadewa dan Permadi karena aku melihat kalian berdualah yang mampu menjaga pusaka-pusaka ini.” Maharesi Abiyasa pun menyerahkan pusaka-pusakanya.Puntadewa mendapat pusaka berupa kitab bernama Jamus Kalimahusada, tombak Kyai Karawelang, dan payung agung Kyai Tunggulnaga, sedangkan Raden Permadi mendapatkan panah Ardadedali, panah Sarotama, dan keris Pulanggeni. Kedua cucu Maharesi Abiyasa itu berterima kasih dan akan menggunakan pusaka-pusaka itu untuk menegakkan jalan dharma. Tak berapa lama kemudian datanglah Arya Widura untuk menjemput Para Pandawa, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi dan para Punakawan untuk kembali ke keraton Hastinapura untuk membahas tentang pewarisan takhta Hastinapura dan solusi untuk perdamaian Pandawa-Kurawa. Demikianlah, rombongan para Pandawa dan Arya Widura mohon pamit kepada Maharesi Abiyasa untuk kembali ke Hastinapura.
Sesampainya di Hastinapura, rombongan Dewi Kunthi dan para Pandawa tidak mau masuk keraton dipersilahkan tinggal di wisma tamu dekat Taman Kadilengleng oleh Arya Widura. Beberapa hari kemudian para Pandawa dan Kurawa berkumpul di taman Kadilengleng dipanggil oleh Resi Dorna “Anak-anakku Pandawa dan Kurawa. Aku mewakili para tetua dan Prabu Dretarastra sudah suntuk, sudah lelah melihat kalian tak pernah akur karena soal takhta. Aku disini akan membuat sayembara ulang untuk menentukan siapa yang pantas menjadi penerus Prabu Dretarastra.” Kemudian Prabu Anom Suyudana disusul para Kurawa dan Pandawa bertanya “ Apa sayembaranya, guru?” Sejenak, Resi Dorna bersemadi. Beberapa saat kemudian dia bangun dan berkata “Anak-anakku aku mendapat penglihatan dari dewata tentang sebuah pohon jambu raksasa di tengah hutan Ara Gumiling. Kebetulan pohon jambu itu berbuah dengan lima warna berbeda. Ini adalah sayembara pertama kalian. Petikkan aku buah jambu lima warna itu.” Tanpa ba-bi-bu lagi para Kurawa segera bergegas ke hutan Warnawata mencari pohon jambu yang dimaksud, sementara para Pandawa memohon restu kepada Resi Dorna, Maharesi Bhisma, Prabu Dretarastra,  dan Dewi Kunthi lebih dahulu.
Tak butuh waktu lama, para Kurawa yang sudah mencari ke setiap sudut hutan Ara Gumuling menemukan pohon jambu raksasa dengan buah lima warna berbeda. Pohon itu bercahaya terang menyilaukan. Tanpa permisi dulu, para Kurawa memanjatnya beramai-ramai. Tiba-tiba muncul kabut dingin beracun dari dalam lubang pohon yang membuat para Kurawa jatuh pingsan semua. Tak berapa lama, para Pandawa telah sampai di hutan Ara Gumiling dan melihat ada kabut aneh di pojok hutan. Mereka melihat banyak tanaman membeku tertutup es dan mengering. Terkejutlah mereka melihat sepupu mereka jatuh pingsan di dekat sebuah pohon jambu raksasa. Raden Puntadewa segera mengajak adik-adiknya untuk berlutut memberi hormat kepada pohon jambu ajaib itu. Tiba-tiba dari atas pohon muncul sesosok makhluk halus yang diselimuti kabut biru datang menghampiri para Pandawa.” Wahai para putra Pandu, aku terkesan akan keluhuran budi kalian. Namaku Gandarwa Mayanila. Karena sikap kalian yang santun pada pohon tempat tinggalku ini, aku persilahkan untuk mengambil buah jambu lima warna yang ada di pohon ini.” Raden Puntadewa berterima kasih pada kemurahan hati sang Gandarwa. Begitu mendapatkan izin, Arya Bratasena segera maju memeluk batang pohon jambu raksasa itu lalu Raden Permadi memanjat bahu Arya Bratasena. Kemudian Raden Pinten naik ke bahu Raden Permadi sehingga yang paling atas adalah Raden Tangsen. Raden Tangsen kemudian memetik buah jambu lima warna itu lalu turun ke tanah dipersambahkan pada sang kakak tertua, Raden Puntadewa.
Batu mulia Panca Mayaretna
Setelah mereka semua berkumpul, Gandarwa Mayanila menjelaskan kepada Puntadewa dan adik-adiknya tentang buah jambu yang telah mereka petik itu “ anak-anak Pandu, buah jambu yang kalian petik itu sebenarnya adalah Panca Mayaretna, lima batu mulia kahyangan . Aku sebenarnya ditunjuk para dewa untuk menjaga lima permata ini. Permata berwarna putih itu bisa mengeluarkan air bah besar dengan ombak dahsyatnya. Permata yang hitam mampu membuat bumi bergoncang hebat dan retak-retak bagaikan gempa. Lalu permata berwarna kuning, permata itu mampu mengeluarkan badai topan dan angin kencang. Kemudian permata berwarna merah itu mampu mengeluarkan gejolak api dan lahar panas. Sementara permata hijau mampu mengeluarkan akar-akar kuat, sulur, dan tumbuhan rambat yang membelit. Sekarang aku serahkan batu-batu mulia ini pada kalian” Raden Puntadewa berterima kasih sekali lagi namun sebelum Gandarwa Mayanila pergi, dia meminta satu hal padanya “tunggu tuan Gandarwa. Sebelum kau kembali ke alammu. Aku meminta satu hal. Tolong hilangkan pengaruh kabut dingin beracunmu agar sepupu-sepupuku yang kau buat pingsan bisa  sembuh” Gandarwa Mayanila mengerti dan segera menghilang. Seketika setelah sang gandarwa menghilang, kabut beracun pun ikut hilang sirna tertiup angin kencang. Tanaman-tanaman yang tadinya layu dan membeku perlahan bersemi lagi dan para Kurawa yang tadinya pingsan mulai terbebas dari pengaruh kabut beracun.
Bersamaan dengan menghilangnya Gandarwa Mayanila, Resi Dorna dan Patih Arya Sengkuni datang. Raden Puntadewa segera mempersembahkan batu mulia Panca Mayaretna yang berbentuk buah jambu lima warna kepada Resi Dorna. Prabu Anom Suyudana yang baru berdiri buru-buru menyelat dan berkata bahwa para Kurawa telah dicurangi para Pandawa dengan diberi siasat kabut beracun. Resi Dorna nampak bimbang terlebih ada Patih Arya Sengkuni. Kemudian Resi Dorna duduk bersemadi di bawah pohon jambu raksasa untuk meminta pertimbangan dari dewata agung. Tiba-tiba muncul sebuah papan traju* yang terbuat dari baja sepanjang seratus depa dan terpasang pada batu besar di dekat pohon jambu itu. Resi Dorna kemudian memerintahkan para Pandawa dan Kurawa untuk naik papan traju itu lalu berkata “Siapapun yang bebannya lebih berat maka dia lah yang menang”. Para Kurawa segera menaiki sisi kanan papan traju semantara para Pandawa naik ke sisi kiri sambil mengerah kesaktian masing-masing dan sungguh ajaib, seratus orang ditimbang empat orang hasilnya seimbang. Arya Bratasena kemudian meloncat ke papan traju sambil mengerahkan ajian Angkusa Prana dan Bayu Bajra. Sekali hentak, para Kurawa yang berdiri di ujung papan menjadi terpental. Para Kurawa yang terpental antara lain Arya Bogadenta, Arya Wersaya, Arya Wikataboma dan Bomawikata, Raden Anuwinda, Arya Naranurwinda, Arya Surtayu dan Surtayuda, Arya Gardapati, Arya Gardapura, dan Arya Widandini. Prabu Anom Suyudana dibantu sang paman, Sengkuni segera mengumpulkan adik-adiknya. Prabu Anom Suyudana terus mencari-cari adiknya yang terpental namun belum ketemu juga. Rupanya hentakan itu membawa para Kurawa yang terpental ke negeri-negeri kecil di sekitar Hastinapura.
Para Kurawa yang tersisa kembali menghadap ke Resi Dorna agar diadakan sayembara ulang. Tekanan yang dialami Resi Dorna terlebih dengan adanya Patih Sengkuni membuatnya tak bisa lagi menyimpan uneg-uneg terdalamnya. Resi Dorna segera mengumumkan sayembara barunya“ siapapun yang bisa membuat sungai yang bersumber dari Gunung Dihyang, puncak pegunungan Himayan dan bermuara ke Laut Selatan, dialah pemenangnya. Setelah selesai, kita akan berkumpul lagi di tegal Kurusetra!” seketika hening sejenak. Para Kurawa terdiam begitupun para Pandawa. Namun keheningan itu pecah setelah Patih Arya Sengkuni mengajak Prabu Anom Suyudana dan adik-adiknya untuk mempersiapkan peralatan-peralatannya dan mereka segera pergi ke puncak Dihyang. Sementara itu, para Pandawa memohon izin dan restu dari sang guru. Setelah itu mereka juga pergi ke puncak gunung Dihyang. Sesampainya disana, mereka melihat para Kurawa sudah mulai menggali sungai dan mencari sumber mata air. Dibandingkan dengan para Kurawa yang menggunakan kekuatan otot, para Pandawa memilih untuk bersemadi di puncak Gunung Dihyang sisi sebelah timur, memohon petunjuk dari Sanghyang Widhi. Setelah cukup lama bersemadi, tiba-tiba muncullah sinar terang dihadapan mereka. Batara Narada turun dari langit memenuhi semadi para Pandawa “Holah dalah, cucu-cucuku Pandawa. Tapa dan semadi kalian aku terima. Apa yang membuat kalian bersemadi sedemikian kerasnya?” sulung Pandawa, Raden Puntadewa kemudian menjelaskan bahwa mereka ingin membuat sebuah sungai dari puncak gunung Dihyang tembus ke laut Selatan dan mereka bersemadi agar usaha mereka direstui oleh Sanghyang Widhi. Batara Narada paham dan berkata “Cucuku, keinginan kalian telah mendapat restu. Sekarang kamu Bratasena, tanggalkan pakaianmu lalu kencing dan mandi suci di kubangan itu. Permadi, keluarkan panah Sarotama. Kalian akan menggali sungai secara ajaib. Puntadewa dan si kembar, kalian akan kuajari mantra mengubah air kotor menjadi air bersih.” Setelah mengajarkan mantra itu, Batara Narada segera kembali ke kahyangan Jonggring Saloka.
Sesuai dengan petunjik dari Batara Narada, Arya Bratasena segera menanggalkan pakaiannya, bertelanjang lalu kencing di sebuah lubang, lalu Arya Bratasena mandi suci di kubangan dan mengalirkan air bekas mandinya ke lubang bekas tempatnya kencing. Setelah Puntadewa, Pinten, dan Tangsen menjapa mantra dari Batara Narada, terjadilah sebuah keajaiban. Atas seizin Sanghyang Widhi, air bekas kencing dan mandi suci Arya Bratasena berubah menjadi air bersih dan muncul sebagai air mancur raksasa dari dalam lubang membanjiri seluruh kubangan dan membuat kubangan penuh dengan air bagaikan air bah. Raden Puntadewa menandai lubang kubangan tempat Arya Bratasena kencing dan mandi suci lalu menamai tempat itu Tuk Bima Lukar. Agar air bah itu tidak menghancurkan lereng Gunung Dihyang dan daerah sekitarnya, Raden Permadi segera merentangkan Busur Gandiwa dan menembakkan panah Sarotama. Seketika tanah yang dilewati panah itu tersibak, berubah menjadi jalur sungai ke arah selatan. Untuk membantu adiknya dan mempercepat waktu, Arya Bratasena yang masih telanjang bulat membantu menggali sungai itu dengan ehm maaf, “lingga”nya sampai di muaranya di Laut Selatan. Sementara Puntadewa dan si kembar yang berjalan di belakang terus membacakan mantra agar air bah jelmaan kencing dan air bekas mandi suci itu tetap bersih sampai di Laut Selatan.
Tak terasa panah Sarotama yang ditembakkan Permadi dan Arya Bratasena yang ikut membantu menggali tanah telah menciptakan muara di ujung pesisir pantai selatan. Tiba-tiba saja laju panah Sarotama terhenti karena terhalang benda keras. Ketika diperiksa, ternyata panah itu membentur seekor udang raksasa terdampar di pinggir pantai. Ketika berniat membawa udang itu ke laut, tiba-tiba udang raksasa itu berubah menjadi seorang wanita cantik. Wanita itu datang ke arah para Pandawa. Arya Bratasena yang masih bertelanjang bulat menjadi malu dan bersembunyi dibalik punggung saudara-saudaranya sambil menutup auratnya. Sang wanita juga tersipu malu lalu memalingkan mukanya. Lalu dengan kesaktiannya, wanita itu menggerakkan panah Sarotama dan begitu panah bergerak, panah itu menyibak tanah dan pasir yang menutupi muara. Tak lama kemudian air bah jelmaan kencing yang telah bersih itu datang mengisi sungai dari hulu sampai ke laut. Sungai itu telah selesai dibuat dan Arya Bratasena bisa kembali memakai pakaiannya. Setelah berpakaian, Arya Bratasena mendatangi sang wanita. Seolah ada getaran cinta bergelora, Arya Bratasena berkata “duh ni sanak, sira ayu. Kamu cantik. Siapa sebenarnya ni sanak?“
Pertemuan dengan Dewi Urangayu
Tersadar karena belum memperkenalkan dirnya, sang wanita mundur sedikit dan memperkenalkan dirinya “ohh maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya Urangayu. Saya putri dari Batara Mintuna, dewa air tawar. Saya masih keponakan Batara Baruna, dewa air laut. Saya sengaja duduk bersemadi di tepi pantai ini karena saya mendapat petunjuk akan bertemu jodoh saya di tepi pantai ini. Wangsit yang saya dapatkan mengatakan bahwa jodoh saya adalah seorang pangeran Hastinapura, ksatria bertubuh tinggi besar bernama Raden Arya Bima.” Kemudian Bratasena menjelaskan bahwa dia adalah orang yang dia cari. Dia mengatakan bahwa memang memiliki nama asli Raden Arya Bima. Petunjuk dewata menjadi kenyataan dan Dewi Urangayu meminta agar Arya Bratasena segera menikahinya. Arya Bratasena menjelaskan bawa dia sendiri sudah menikah” maaf ni sanak. Aku sudah beristeri satu, namanya Nagagini, putri Batara Anantaboga. Apa kamu mau dimadu?” Dewi Urangayu kemudian menjawab bahwa dia tak keberatan bila dimadu. Arya Bratasena akhirnya menyanggupi untuk menikahinya tapi kemudian berkata “Nini Dewi, aku bersedia, aku sanggup menikahimu tapi nanti setelah kakakku, Puntadewa menjadi raja. Apa kau sanggup menunggu ?” kemudian Dewi Urangayu menyanggupinya “ aku sanggup menunggu, kangmas Bratasena.” Setelah semua selesai, para Pandawa bersama Dewi Urangayu berangkat menuju tegal Kurusetra, tempat yang telah disepakati untuk berkumpulnya Pandawa-Kurawa
Tak lama kemudian setelah mereka sampai di pinggir tegal Kurusetra, datanglah Resi Dorna dan Patih Arya Sengkuni bersama para Kurawa. Resi Dorna memeriksa hasil kerja para muridnya itu dan hasilnya sungai buatan para Pandawa lah yang sampai ke Laut Selatan sedangkan sungai buatan para Kurawa tidak menuju ke Laut Selatan, malah justru menyatu dengan sungai buatan para Pandawa. Maka, Resi dorna menyatakan bahwa para Pandawa yang menjadi pemenangnya dan berhak atas takhta Hastinapura. Prabu Anom Suyudana kemudian berkeringat dingin dan jatuh pingsan mendengar keputusan itu. Para Kurawa dan patih Sengkuni segera membawa sang putra mahkota Hastinapura itu kembali ke keraton. Resi Dorna yang terjepit diantara para Kurawa menjadi limbung dan jatuh di pertemuan dua sungai. Resi Dorna terlihat megap-megap tak mampu berenang ke pinggir karena arus kedua sungai yang bertemu terlalu kuat. Arya Bratasena segera menolong sang guru dan membawanya ke tempat selamat. Arca lingga-yoni yang dibawa Resi Dorna terbawa arus dan terhempas air bah sungai hingga batu arca itu terdampar di seberang sungai. Oleh Resi Dorna tempat dimana lingga-yoni itu terdampar dinamai Panembahan Drona. Setelah para Kurawa dan Patih Arya Sengkuni benar-benar pergi, Resi Dorna memberikan hadiah atas kemenangan mereka berupa batu mulia Panca Mayaretna yang mereka dapatkan tadi. Raden Puntadewa mendapat permata putih, Arya Bratasena mendapat permata kuning, Raden Permadi mendapatkan permata merah. Sementara permata hitam dan hijau diberikan kepada Raden Pinten dan Raden Tangsen. Kelima Pandawa berterima kasih pada sang guru atas kemurahan hati dan kebijaksanaannya. Setelah itu, Dewi Urangayu memohon pamit kepada para Pandawa dan Resi Dorna untuk kembali ke Kahyangan Kisiknarmada. Setelah itu Resi Dorna menamai sungai buatan Pandawa itu Bengawan Serayu, karena pada saat mereka selesai membangun sungai, Arya Bratasena bertemu dan langsung jatuh cinta dengan Dewi Urangayu lalu Bratasena berkata “sira ayu”padanya dan sungai buatan Kurawa yang menyatu dengan Bengawan Serayu dinamai Bengawan Klawing alias Cing cing Gumuling. Resi Dorna kemudian memberikan peringstan”anak-anakku Pandawa. Jangan sampai kalian melangkahi apalagi mencebur ke bengawan buatan para Kurawa ini. Nanti kalian terkena sial karena para Kurawa membuat bengawan ini penuh dengan hawa nafsu dan dendam pada kalian. Berhati-hatilah, anak-anakku.” Para Pandawa mengerti lalu kemudian mengajak sang guru itu untuk kembali menghadap pada uwa Prabu Dretarastra dan eyang Maharesi Bhisma di Hastinapura.
* papan jungkat-jungkit ; papan timbangan.

Senin, 06 Mei 2019

Nawaruci (Dewa Ruci)


Hallo, semua. Kali ini saya menceritakan kisah perjalanan Arya Bratasena mencari air sakti Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci atas perintah gurunya, Resi Dorna untuk belajar memahami Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip , hinggap pada akhirnya Arya Bratasena bertemu sang guru sejati, yaitu sang Nawaruci alias Dewa Ruci. Sumber yang saya gunakan berasal dari berbagai sumber di internet, Kitab Mahabharata yang ditulis ulang oleh Nyoman S, Pendit, dan serial kolosal Indonesia Karmapala karya Imam Tantowi.
Berita tentang selamatnya para Pandawa dan Dewi Kunthi membuat para Kurawa gusar bukan kepalang terutama Prabu Anom Suyudana. Pada suatu hari, Prabu Anom Suyudana mendapatkan mimpi bahwa takhta Hastinapura jatuh ke tangan Puntadewa dan dirinya dicemooh habis-habisan oleh para Pandawa. Hal itu amat mengganggunya selama berhari-hari. Diceritakannya hal itu kepada Resi Dorna. Resi Dorna yang lebih dekat pada para Kurawa berkata dengan nada yang setengah yakin“jangan khawatir, anak mas Suyudana. Sebelum para Pandawa datang kesini, aku akan mengelabuhi Bratasena lebih dahulu.” Di dalam hati Resi Dorna, sebenarnya dirinya amat bimbang, disatu sisi dia amat menyayangi Bratasena tapi disisi lain dia harus membantu Suyudana. Tak mungkin bagi dirinya untuk mencelakai muridnya sendiri. Tiba-tiba datanglah angin kencang menerbangkan kain kelambu. Terbesitlah sebuah ide untuk membuat Bratasena terjerumus dan celaka demi menyenangkan hati Suyudana. Lalu berangkatlah Resi Dorna ke pertapaan Saptarengga di kaki gunung Saptaharga, tempat para Pandawa untuk saat ini.
Sementara itu di Gunung Saptaharga, Maharesi Abiyasa menyambut kedatangan para Pandawa, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, dan para punakawan. Kebetulan disana ada pula Arya Widura, dan Maharesi Bhisma. Mereka bersyukur karena para Pandawa dan Dewi Kunthi masih diberi keselamatan oleh Sanghyang Widhi malah gembira mengetahui bahwa Puntadewa dan Bratasena sudah berumah tangga. Mereka berniat memboyong keluarga Pandawa kembali ke Hastinapura, namun Dewi Kunthi berkata “Terima kasih Paman Bhisma dan rayi Arya Widura, tapi kami bertujuh sudah sepakat akan tinggal di Saptarengga lagi saja.” Bhisma dan Arya Widura mengerti bahwa Dewi Kunthi dan para putra masih ada trauma. “Baiklah, kakang mbok Kunthi. Kami mengerti atas kondisimu dan para putramu, tapi bila kau membutuhkan segala sesuatu datang saja ke Hastinapura. Pintu gerbang Hastinapura selalu terbuka lebar untukmu dan putra-putramu.” Setelah Maharesi Bhisma dan Arya Widura pulang ke Hastina, beberapa jam kemudian datanglah Resi Dorna. Mereka saling beramah tamah dan Resi Dorna Bersyukur bahwa murid-murid terbaiknya berhasil selamat dari musibah kebakaran di Warnabrata. Dilihatnya wajah Bratasena yang lugu namun menyimpan uneg-uneg di hatinya. Lalu Resi Dorna ingin bicara dengan Arya Bratasena  di luar pertapaan“ Anak mas Bratasena, aku tahu di hati kecilmu itu sedang gundah gulana. Apa hal yang menggelisahkanmu, anakku?” Bratasena yang lugu kemudian menceritakan segala uneg-unegnya“Begini, guru. Atas segala ilmu kanuragan dan ajian-ajian yang kau berikan sudah cukup padaku. Tapi ada satu hal yang belum kau ajarkan, yaitu Ilmu Sangkan Paraning Dumadi, ilmu menuju Sejatining Urip. Aku ingin bisa memahaminya dan bukan hanya sekedar untuk diriku saja tapi ingin ku tularkan kepada orang lain.” Bak gayung bersambut, Resi Dorna kemudian berkata”anakku, bila kau ingin mendapatkan ilmu Sangkan Paraning Dumadi, Ilmu Sejatining Urip, aku bisa memberikannya sekarang, tapi kau harus membuktikan apakah dirimu pantas. Datanglah ke Sokalima besok hari.” Demikianlah Resi Dorna mengakhiri pembicaraanya itu dan bergegas pulang ke Sokalima setelah berpamitan pada Maharesi Abiyasa dan para Pandawa sekeluarga.
Keesokan harinya, Arya Bratasena datang ke Sokalima dan menemui Resi Dorna. Dirinya menyatakan telah siap dan pantas untuk mendapatkan pemahaman Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip. Resi Dorna pun berkata “ Anakku, Bima sang Bratasena. Sebelum kamu mendapatkan pemahaman tentang Sangkan Paraning Dumadi, ilmu Sejatining Urip, kamu harus mencarikan untukku sebuah pohon ajaib bernama Kayu Gung Susuhaning Angin terlebih dahulu. Carilah kayu itu di hutan Bawanasura di lereng Gunung Candramukha. Ciri-cirinya, pohon itu mengeluarkan angin kencang dan mengeluarkan gemuruh yang kuat ” Arya Bratasena kemudian menyanggupi permintaan itu. Setelah pamitan, Arya Bratasena berangkat meninggalkan Sokalima menuju Gunung Candramukha. Tak lama setelah Arya Bratasena pergi, Resi Dorna kedatangan salah satu adik Prabu Anom Suyudana, Arya Kartamarma yang ditemani Bambang Aswatama. Mereka bertanya apakah Bratasena sudah pergi. Resi Dorna menjawab dengan wajah liciknya “dia sudah pergi dan dia percaya padaku. Rencana untuk menjerumuskannya berjalan lancar. Lagipula, Gunung Candramukha itu amat angker dan wingit. Ada kerajaan para hantu dan setan di hutan Bawanasura dan sarang denawa pemakan manusia di puncak gunung itu. Jadi pasti dia bakal pulang tinggal nama saja.” Arya Kartamarma dan Bambang Aswatama merasa senang mendengarnya lalu kembali ke Hastinapura untuk dilaporkan pada Prabu Anom Suyudana.
Setelah berkuda menaiki gunung Candramukha selama sehari semalam, akhirnya Arya Bratasena menemukan hutan Bawanasura. Ditinggalkanlah kudanya di tengah hutan dan mulai mengobrak-abrik seisi hutan mencari Kayu Gung Susuhaning Angin. Nyatanya, kayu itu tak ada malah Bratasena harus melawan pasukan hantu dan setan di sana. Walaupun demikian, Arya Bratasena mampu mengalahkan hantu-hantu itu dengan bantuan ajian Niskala Sahashra Swasa*1. Setelah itu, dia merasakan adanya hembusan angin kencang  dan suara gemuruh dari puncak gunung. Arya Bratasena mengira pohon Kayu Gung Susuhaning Angin ada di puncak gunung itu. Kemudian dengan aji Angkusa Prana*2, dia bergerak melesat ke puncak gunung dan menemukan sumber gemuruh dan hembusan angin kencang, yaitu sebuah gua raksasa bernama Luweng Sigrangga yang tersumpal batu besar. Tanpa pikir panjang, dia memecahkan batu yang menyumpal sebagian mulut gua. Tak disangka, para penghuni gua, Denawa kembar Rukmukha dan Rukmakhala yang sedang tidur terbangun karena terganggu kuatnya tinjuan Bratasena yang kuat. Lalu mereka muncul di hadapan Bratasena. “ Heeehh... manusia,apa yang kamu lakukan disini. Mau cari mati kau dengan kami? Hooohoho.” Lalu Bratsena menjawab “Aku Bratasena. Aku diperintah guruku nyari pohon Kayu Gung Susuhaning Angin dan karena ada hembusan angin kencang dan suara gemuruh dari sini makanya aku kesini.” Kemudian kedua denawa itu menjawab dengan nada yang sinis dan berniat meledek keluguan dan sifat polos Bratasena.
 “Heei, manusia bodoh. Suara gemuruh itu adalah suara dengkuranku, Rukmakhala”
“dan hembusan angin kencang itu adalah hembusan nafasku.” Lalu kedua denawa itu menyerang Bratasena karena sejak terbangun tadi, mereka lapar dan baru kali ini menemukan makanan yang langsung datang dihadapan mereka. Merasa dipermainkan oleh kedua raksasa itu, Arya Bratasena kemudian membela diri dengan tinjunya. Namun, ketika Rukmukha jatuh terkena tinjunya, mendadak sehat lagi ketika Rukmakhala melangkahi tubuhnya. Begitupun Rukmakhala yang tadinya terkena tinju, begitu Rukmukha melangkahinya seketika dirinya langsung sehat. Arya Bratasena menjadi kewalahan. Akhirnya menemukan sebuah cara untuk mengalahkan mereka. Arya Bratasena langsung mengheningkan cipta dan membaca mantra penenang jiwa. Seketika, para denawa itu langsung limbung. Begitu dua raksasa itu limbung, Arya Bratasena menjambak rambut mereka lalu dibenturkanlah kepala mereka ke batu bersama-sama hingga kepala mereka remuk. Begitu kepala itu remuk lalu dipuntir sehingga dua kepala itu putus dan tewas lah mereka tanpa bisa bangun lagi.
Kemunculan Batara Bayu dan Batara Indra
Setelah itu terjadilah sebuah keajaiban. Bumi gonjang-ganjing, langit kolap kalip, angin bertiup bagai taufan badai, halilintar menyambar-nyambar. Jasad kedua denawa tu tiba-tiba hilang lenyap tak berbekas berganti dengan dua Dewata agung yaitu sang dewa langit, Batara Indra dan dewa angin, Batara Bayu, ayah angkat Bratasena. Kedua dewa itu berterima kasih pada Bratasena.” Terima kasih, putraku Bima Bratasena. Kau sudah membebaskan kami dari kutukan yang memalukan tadi.” Kemudian Arya Bratasena bertanya dengan bahasanya yang lugu “ Apa yang terjadi? Kok bisa Romo Batara dan Pukulun Batara Indra berubah jadi bhuta kala?” Batara Indra menjelaskan bahwa mereka dikutuk karena Batara Guru murka dengan kecerobohan mereka. Mereka datang terlambat ke persidangan para dewa ditambah mengerahkan kekuatan petir dan angin topan tapi membuat Dewi Wilotama yang sedang menari pendet jadi malu karena pakaiannya tersingkap terkena daya angin dari Batara Bayu. Karena itulah, Batara Guru mengutuk mereka menjadi denawa tadi. Lalu Arya Bratasena balik bertanya pada mereka “Romo Batara dan pukulun Batara Indra, apa kalian tahu dimana letak pohon Kayu Gung Susuhaning Angin? Aku dah cari kemana-mana gak ada” Batara indra kemudian menjawab “ Anakku, Bratasena. Ketahuilah, pohon kayu yang kau maksud itu bahkan tidak ada di kahyangan tertinggi. Kayu Gung Susuhaning Angin adalah perlambang dari dirimu, kau adalah putra Pandu Dewanata sekaligus putra angkat Bayu, putra dewa angin. Selain itu, makna Kayu Gung Susuhaning Angin yang sejati adalah penggambaran dari badan raga manusia yang setiap saat selalu memasukkan dan mengeluarkan angin dengan bernafas. “ Arya Bratasena yang bimbang bertanya lagi “Apa berarti Guru Dorna ngapusi, mempermaikanku?”  kemudian Batara Bayu memberikan jawaban yang menentramkan hatinya “ Tidak, anakku. Guru tak mungkin menjerumuskan muridnya kecuali agar muridnya menjadi semakin terdepan. Resi Dorna tidak sedang membohongimu tapi mengajarkan ilmunya melalui teka-teki dan jawabannya akan bisa kamu temukan sendiri bila dicari dengan betul-betul. Maka dari itu, kalau gurumu memberi tugas lagi, laksanakan, jangan ditolak.” Arya Bratasena pun sanggup menjalankan saran Batara Bayu. Sebagai bentuk terima kasih, Batara Indra memberikannya ikat pinggang sakti bernama ikat pinggang Naga Druwenda Manik Candhama. Batara Indra menjelaskan bahwa ikat pinggang itu akan berguna dan melindungi keselamatannya bila dia berada di dalam air. Arya Bratasena berterima kasih lagi dan memakainya di pinggangnya. Setelah itu, Arya Bratasena kembali lagi ke Sokalima.
Resi Dorna yang sedang duduk-duduk di bale bambu terkejut dengan datangnya Bratasena yang masih hidup dan tetap sehat tanpa kekurangan satupun. Arya Bratasena kemudian menceritakan segala pengalamannya tadi. Resi Dorna sangat terkesan atas keberhasilan muridnya itu dan membenarkan bahwa pohon itu adalah sebuah kias untuk raga wadag manusia. Dengan kata lain, Arya Bratasena berhasil membawa Kayu gung Susuhaning Angin dan lulus syarat pertama.Arya Bratasena kemudian bertanya lagi “Guru, apa aku sudah bisa mendapatkan ilmu Sejatinig Urip, Sangkan Paraning Dumadi?” Resi Dorna kemudian menjawab “Belum, anakku. Kau harus menerima satu tugasan lagi. Carilah dan temukan air sakti Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci di tengah pusaran Samudera Minangkalbu.” “dimanakah letak Samudera Minangkalbu itu, guru?” Resi Dorna kemudian menjawab “Ikutilah kata hatimu, kalau kata hatimu mengatakan ke utara maka ke Samudera utara tapi jika keyakinanmu di selatan maka berangkatlah ke Samudera selatan.” Teringatlah saran dari batara Bayu, maka Arya Bratasena menyanggupinya dan langsung berangkat untuk mencari air itu.
Arya Bratasena merasa tugasan kali ini lebih berat lagi, maka dirinya ingin minta izin pada ibu, empat saudara dan kakak iparnya. Sesampainya di Saptarengga, Dewi Kunthi, Dewi Drupadi, dan keempat saudaranya menyambutnya. Arya bratasena kemudian menceritakan keinginannya untuk mencari Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci di tengah pusaran Samudera Minangkalbu. Para Pandawa dan yang lain terkejut. Raden Puntadewa berusaha mencegahnya pergi karena takut itu hanya akal-akalan Kurawa saja melalui tangan Resi Dorna. Begitu juga Raden Permadi, Raden Pinten, dan Raden Tangsen. Mereka tak mau melepaskan tangan Arya Bratasena. Namun Bratasena semakin berkeras diri malah dia berusaha sungkem dihadapan kakak sulungnya itu. Melihat perjuangan adiknya yang tak bisa dihentikan lagi, Raden Puntadewa pun luluh. Begitu juga Raden Permadi, Raden Pinten dan Tangsen, luluhlah pula hati mereka melihat kebulatan tekad kakak nomor dua mereka. Kemudian Raden Puntadewa memberikan restunya “baiklah adikku, jika keinginanmu telah bulat, aku dan adik-adik tak berhak mencegahmu. Kami disini akan selalu mendukungmu”  Arya Bratasena kemudian meminta ijin ibunya, Dewi Kunthi “ Ibu, aku meminta ijinmu untuk mencari Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci agar mampu memahami Sangkan Paraning Dumadi” Dewi Kunthi kemudian berkata sambil menangis “Aku akan merestui mu, putraku Bayusuta. Tapi mohon pikirkanlah lagi. Ibu takut bila kau tak kembali.” Perkataan dewi Kunthi sempat membuatnya bimbang, namun segera dikuatkanlah hatinya “Ibu, pasrahkan segala nasib ku pada Sanghyang Widhi. Aku yakin rencana-Nya jauh lebih indah dari perkiraan kita, ibu” akhirnya Dewi Kunthi merestuinya dan Bratasena segera berangkat. Dirinya yakin bahawa Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci berada di Samudera selatan, sehinggalah dia berjalan selama berhari-hari dan sampai lah dia di pinggir pantai selatan.
Samudera selatan tampak tak pernah bersahabat. Ombaknya yang biru tinggi bergulung-gulung bagaikan setinggi gunung Mahameru, seakan hendak menelan apa dan siapa saja yang berani mencebur ke dalamnya. Suara gemuruhnya bagaikan tawa seribu pasukan denawa dan raksasa jahat yang tersiksa di neraka, membuat gentar hati siapa yang berada di pinggir pantai. Begitupun hati Arya Bratasena dan sempat berpikir untuk mundur saja karena takut tenggelam. Namun keinginan yang kuat untuk mencari Tirta sakti itu membuat dirinya yakin kembali dan menyerahkan hidup matinya di tangan Sanghyang Widhi. Dengan penuh kepasrahan, Arya Bratasena mencebur ke tengah samudera. Tak disangka, tubuhnya tiba-tiba ringan dan mampu mengambang di air. Rupanya daya kesaktian Ikat pinggang Naga Druwenda Manik Candhama telah memberikan kekuatan agar tubuhnya menjadi stabil ketika di air.
Berjuang melawan Naga Nawatnawa 
Dia pun berjalan kaki semakin ke tengah samudera mengikuti kata hatinya. Tiba-tiba muncul sesosok makhluk besar berwujud seekor ular naga raksasa. Naga itu berbadan sebesar sebuah bukit dan panjangnya lebih panjang dari anak sungai. Naga itu kemudian membelit seluruh badan Arya Bratasena mulai dari kaki hingga lehernya.  Arya Bratasena pun meronta-ronta namun semakin meronta, belitan sang naga semakin kuat. Bahkan ular naga itu terus menyemburkan hujan beracun yang amat panas dari mulutnya. Hampir-hampir dia gagal melepaskan diri. Namun, ketika sang naga hendak mencaplok kepalanya, Arya Bratasena berhasil mengeluarkan kedua tangannya dari belitan sang naga lalu dengan Kuku Pancanaka miliknya, Bratasena menusuk mulut dan leher ular naga itu. naga itu pun menggelepar-gelepar, lalu mati. Bangkainya dihempaskan ombak sehingga menghilang dari pandangan.
Tak lama setelah, pertarungan itu, sebuah ombak besar datang lagi dan menyapu Arya Bratasena semakin ke tengah laut. Semakin ke tengah laut, muncul sebuah pusaran air yang sangat besar. Arya Bratasena yang sudah sangat kelelahan membiarkan dirinya terhisap gelombang dari pusaran itu. Terombang-ambing bagaikan buih di samudera. Arya Bratasena semakin berserah diri kepada Sanghyang Widhi kemanapun dirinya akan dibawa ombak dan pusaran air itu. Kepasrahan dirinya semakin total, hidup matinya sudah benar-benar diserahkan dan dipasrahkan kepada Sanghyang Widhi. Dirinya sudah tak bisa merasakan apapun lagi, bagaikan Mati Sajroning Urip, Urip Sajroning Mati.
Di saat puncak dari kepasrahannya itu, Arya Bratasena dibangunkan oleh suara seseorang. Ketika membuka matanya, alangkah terkejutnya dia melihat sosok berwujud mirip manusia muncul dari cahaya berbentuk bagaikan bunga tunjung biru yang memiliki wajah dan postur tubuh yang sama persis dengan dirinya hanya saja berwujud kecil seperti anak-anak. “siapa kamu? Bagaimana bisa rupamu mirip denganku?” “Bima Bratasena, Putra kedua Pandu dan Kunthi, anak angkat dari sang Batara Bayu, aku adalah Nawaruci juga dipanggil Dewa Ruci. Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci yang sedang kau cari ada didalam dirimu” Arya Bratasena pun heran. Kemudian Nawaruci menjelaskan makna dari perjalanannya selama ini “Bima Bratasena, ketahuilah. Semua perjalananmu mencari persyaratan memahami Sangkan Paraning Dumadi, ilmu sejatining urip mengandung makna yang dalam. Para hantu dan setan yang kamu kalahkan di hutan Bawanasura adalah kiasan dari berbagai godaan dan fitnah di dunia ini. Kayu Gung Susuhaning Angin yang kau cari adalah kiasan dari manusia itu sendiri. Keindahan di Gunung Candramukha dan Luweng Sigrangga yang kamu datangi adalah kiasan dari keindahan tubuh dan wajah manusia. Denawa Rukmukha dan Rukmakhala adalah simbol dari godaan berupa keindahan rupa, perhiasan, dan kekayaan dunia. Kekayaan dan indahnya rupa menjadi salah satu penggoda terberat untuk manusia. Seringkali manusia lebih sibuk membenahi kebagusan rupa dan raganya ketimbang jiwanya. Karena itu setelah kau menang dalam pertarungan dengan dua denawa itu, muncullah Batara Indra dan Batara Bayu memberikanmu berkah. Batara Indra adalah lambang dari panca indria dan Batara Bayu adalah lambang dari hembusan nafas manusia. Peristiwa di gunung Candramukha adalah sebuah kiasan seorang manusia sudah menundukkan godaan panca indria, menghadapi fitnah dunia, dan telah mengatur olah napas untuk mengendalikan pikiran liar.”
Kemudian Nawaruci memperlihatkan gambar saudara-saudara Bratasena dan ibunya, Dewi Kunthi dengan kesaktiannya. Kemuadian Nawaruci menjelaskan “ Bratasena, lihatlah! Itu adalah saudara-saudaramu dan ibumu. Sebelum datang ke sini, awalnya kau di cegah oleh mereka berlima namun karena kebulatan tekadmu, mereka mendukungmu dan mengusahakan keselamatanmu melalui doa-doa yang mereka panjatkan. Mereka adalah perlambang dari saudara gaib setiap manusia. Mereka disebut ‘Kadang papat lima pancer.’ Yang empat adalah air kawah/ketuban, ari-ari/plasenta, tali pusar, dan darah. Mereka lahir bersamaan dengan kelahiran manusia melalui kelamin ibu. Meskipun secara fisik mereka sudah mati, tapi secara gaib, mereka tetap menjaga dan melindungi manusia sampai manusia itu menghadap kepada Hyang Widhi. Lalu yang disebut pancer adalah Marmati, disebut juga Ratu Jalu-Ratu Estri yang bersemayam di dalam kalbu setiap manusia. Orang pada umumnya menyebutnya nurani atau kata hati. Kata hati ini lah yang sepanjang hari, siang malam membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia. Orang yang berbuat seenaknya dan melampaui batas adalah bukan mengikuti kata hati tapi menuruti nafsu dan egonya. Mereka disebut kaum angkara murka atau di negeri seberang disebut dengan terhasut setan.“ Kemudian Arya Bratasena bertanya “Lalu bagaimana dengan perjalananku ke samudera ini? apakah memiliki makna juga?” Nawaruci pun menjawab”tentu saja, Bratasena. Saat kamu terjun ke laut, ombak di laut sedang bergejolak. Itu adalah adalah kiasan dari gejolak hati yang penuh kebimbangan dan keraguan. Kau telah berhasil melawan keraguanmu.  Lalu saat kau melawan naga yang membelitmu juga adalah kiasan dari perlawanan manusia melawan belitan hawa nafsu dan egonya sendiri. Naga yang membelitmu bernama Nemburnawa alias Nawatnawa merupakan perlambang dari sembilan lubang pada tubuh yang harus dijaga dengan baik oleh manusia yaitu lubang tempat kedua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang pelepasan. Dalam pertarungan, kau mampu mengalahkan ular naga dengan Kuku Pancanaka milikmu. Itu adalah perlambang dari manusia yang telah mampu mengheningkan segala cipta, rasa, karsa, dan tekad yang kuat untuk melepaskan diri dari hawa nafsu dan ego. Lalu saat kau membiarkan dirimu terombang-ambing dan terhisap pusaran air adalah gambaran sifat yang hendaknya dimiliki setiap manusia, tetap rendah hati di hadapan sesama makhluk-Nya dan semakin berserah diri kepada Sanghyang Widhi, Tuhan Semesta Alam agar tidak menjadi benih ujub, takabur dan menjadi belitan nafsu yang baru. Lalu tubuhmu yang tadi terombang-ambing digulung oleh ombak namun tetap mengambang juga sebuah perlambang manusia yang mampu menghadapi pasang surut dan fitnah kehidupan.”
Setelah mengakhiri penjelasannya, Nawaruci mengajak Arya Bratasena untuk masuk ke lubang telinganya apabila ingin mendapatkan Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci. Arya Bratasena merasa bimbang dan berkata “Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke telingamu. Ukuranmu saja hanya sebesar telapak tanganku” kemudian Nawaruci meyakinkannya” jangankan seorang Bratasena, seisi bumi, langit, kahyangan, bahkan seluruh jagad raya muat semuanya di dalam tubuhku.” Arya Bratasena kemudian sadar dengan siapa dirinya kini sedang berhadapan. Dia tak lagi berkacak pinggang melainkan menyembah penuh hormat dan menggunakan bahasa terhalus yang dia bisa. Padahal sehari-harinya dia selalu berbahasa lugu dan berkacak pinggang pada siapapun bahkan kepada Batara Guru sekalipun. Dengan tenang dan penuh kepasrahan, Bratasena memasuki telinga kiri sang Nawaruci. Ajaib, keadaan di dalam tubuh Nawaruci sangat luas tanpa berbatas. Tak ada barat, selatan, timur, dan utara. Suasana didalam sana terang benderang namun tak menyilaukan padahal tak ada mentari, tak ada rembulan, bahkan pelita pun tak ada. Hawanya tidaklah panas tidak pula dingin. Sungguh menentramkan hati siapapun yang memasukinya.
Lalu terdengarlah suara Nawaruci membimbing Arya Bratasena “lihatlah didepanmu. Adalah samudera luas tak bertepi. Itulah lambang dari Wahananing Tyas Pribadi, luasnya isi hati manusia namun karena hawa nafsu, isi hati terlihat menjadi kecil dan membuat manusia selalu berpikiran sempit.” Kemudian Arya Bratasena berjalan lagi dan melihat pemandangan kabut cahaya lima warna yang samar-samar. Nawaruci pun berkata bahwa itulah Pancamaya Wahananing Jantung, yang bersemayam di dalam cipta, mengendalikan panca indria manusia.
Setelah berjalan lagi, muncullah empat cahaya berwarna hitam, merah, kuning, dan putih berputar mengitari Arya Bratasena.
Keadaan di dalam sang Nawaruci
Sang Nawaruci kemudian menjelaskan “ keempat cahaya itu adalah wujud dari Wahananing Budi, perlambang dari empat nafsu. Cahaya hitam yang kau lihat adalah nafsu aluamah, perlambang nafsu badaniah yang menyebabkan manusia merasakan lapar, dahaga, letih, dan mengantuk. Cahaya merah adalah nafsu amarah, perlambang dari keinginan meraih cita-cita dan kesumat. Lalu cahaya kuning, itulah nafsu supiah, perlambang dari keinginan untuk memuaskan kegembiraan, baik birahi maupun kesenangan duniawi dan cahaya putih adalaha perlambang dari nafsu mutmainah, nafsu kesucian. Perlambang dari keinginan untuk melakukan hal baik, maupun bersembahyang dan beribadah. Keempat nafsu ini menjadi bahan bakar bagi manusia, tapi harus sesuai takarannya, harus dikendalikan, dan tak boleh berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bahkan bisa menjadi racun yang mematikan .”
Tak lama kemudian, cahaya putih pecah menjadi empat warna lagi sehingga berubahlah,  empat cahaya itu melengkapi tiga warna sebelumnya dan menjadi tujuh warna cahaya bagai pelangi, yaitu hitam, merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan putih. Ketujuh cahaya itu melingkari tubuh Arya Bratasena. Sang Nawaruci menjelaskan “Bratasena, ketujuh cahaya pelangi yang mengelilingi seluruh tubuhmu adalah Cahyaning Pramono atau Wahananing Pengeran, perlambang dari kuasa penciptaan. Cahaya hitam melambangkan nisthaning cipta, lambang penciptaan binatang melata. Cahaya merah melambangkan dhustaning cipta, lambang terciptanya sifat-sifat liar dan buas pada setiap binatang. Cahaya kuning adalah lambang doraning cipta, simbolisasi penciptaan bangsa burung atau unggas. Lalu cahaya putih adalah simbol setyaning cipta, lambang kehidupan air. Selanjutnya cahaya hijau adalah lambang sentosaning cipta, perlambang tumbuh-tumbuhan. Ada lagi cahaya berwarna biru, itu lambang sembadaning cipta, kehidupan yang terlihat oleh panca indria dan yang terakhir cahaya berwarna jingga, perlambang dari owah-gringsing cipta, yakni hubungan maupun timbal balik diantara mereka.” sang Nawaruci juga menjelaskankan ketujuh warna itu bermakna juga tujuh cakra (warna aura) daam tubuh manusia.
Setelah itu, ketujuh cahaya itu lenyap dan Arya Bratasena melihat kegelapan total dan sebutir noktah kecil bercahaya yang tiba-tiba merekah disertai suara dengung ribuan lebah. Lalu dari suara dengungan itu, muncullah butiran-butiran telur yang sangat gelap lalu sebagaiannya meletup dan mulai berubah menjadi cahaya putih yang terang dan jernih membentuk segala bintang-bintang, awan kosmik, galaksi, dan planet. Sebagaian telur gelap itu lalu jatuh ke dasar planet-planet dan sebagaiannya tetap bersemayam di ruang antar planet. Sang Nawaruci berkata bahawa yang Bratasena lihat adalah wujud dari Pramononing Sukma, lambang dari terciptanya jagad agung (Makrokosmos) dan jagad alit (Mikrokosmos). Kemudian Arya Bratasena melihat wujud boneka gading yang jika diamati bagaikan bertahtakan mutiara dan berlian. Boneka itu bercahaya terang benderang tak menyilaukan dan membawa kedamaian. Sang Nawaruci berkata bahwa itu lah Pramononing Rahsa yang berkuasa atas ketetapan  terhadap seluruh jagad alit dan jagad agung, mendapatkan daya dari Sanghyang Atma.
Terakhir, Arya Bratasena melihat sebuah sifat Maha Tunggal, tak berjenis kelamin, tak bertempat juga tak bertakhta. Tak berupa dan tanpa warna. Wujud itu diselimuti cahaya yang indah penuh gilang-gemilang tanpa bayangan. Sebuah dzat yang Maha Agung. Sang Nawaruci berkata kepada Bratasena “itulah Atma Gaib, Sipat Sejati. Dialah sang kuasa mengatur alam raya. Dialah Sanghyang Widhi yang Maha Agung. Dia lah Sang Urip, Sanghyang Mahasuci. Pencipta alam semesta. Sebenarnya Dia sangatlah dekat dengan kita bagaikan dekatnya ruh dan atma, namun nafsu dan egolah yang membuat manusia yang menjauhkan diri dari-Nya.”
Arya Bratasena merasa nyaman dan tercerahkan setelah berada didalam tubuh Sang Nawaruci. Dia ingin tinggal didalam sana untuk selamanya. Nawaruci kemudian berkata “Bratasena, kau boleh tinggal disini tapi bukanlah sekarang. Belum saatnya kau menyatu dengan-Ku. Masih banyak hal yang harus kau lakukan di alam nyata. Sebarkanlah ilmumu, tebarkalah cinta dan kasih sayang terhadap setiap makhluk. Jangan kau lihat perbedaan yang ada. Itulah namanya ciri khas. Itulah dunia. Perbedaan akan membawa keberagaman dan kekayaan makna. Keluarlah, wahai ksatria. Dharma baktimu sudah menunggu untuk ditunaikan” Arya Bratasena pun keluar dari tubuh Nawaruci lewat telinga kanan.
Terbentuknya Gelung Minangkara
Saat melangkah, cahaya yang sangat terang pun muncul dan begitu berhasil keluar, rambutnya telah digelung dengan hiasan bentuk minangkara, tak lagi terurai dengan sanggul Garudha Mungkur. Arya Bratasena heran melihatnay lalu bertanya pada sang Nawaruci namun sebelum mengucakan pertanyaan, sang Nawaruci telah menjawabnya lebih dahulu “mengenai gelung minangkara yang kini kau pakai, itu adalah sebuah perlambang agar kau selalu berserah diri dan rendah hati. Aku berharap hendaknya kau tetap rendah hati dan semakin berserah diri. Tak perlu menunjuk-nunjuk, janganlah tinggi hati dan pamer ilmu kepandaian. Hendaknya kau menjadi manusia sejati yang semakin tahu semakin merendah bagaikan padi yang berisi. Hormatilah gurumu Resi Dorna seperti apapun jua karena jika tanpa perintah darinya, kau tidak mungkin kau bisa bertemu denganku” Usai berkata demikian, sang Nawaruci lenyap berubah menjadi cahaya terang dan masuk ke dalam diri Arya Bratasena.
Resi Dorna yang sebenarnya sangat khawatir pada keselamatan Arya Bratasena bergegas menuju ke pantai selatan. Kebetulan, datang pula Raden Permadi, murid kesayangannya yang juga sangat khawatir pada kakak nomor duanya itu. Mereka berdua akhirnya di sebuah tebing pantai. Mereka menunggu Arya Bratasena dan bila sampai matahari terbenam Arya Bratasena belum muncul juga, mereka bersumpah untuk menceburkan ke samudera. Sampai matahari tebenam, Arya bratasena belumlah muncul. Mereka akhirnya menceburkan diri ke dalam laut yang berombak besar. Mereka berdua ikut tersapu ombak kesana-kemari bagikan buih. Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Arya Bratasena keluar dari dalam air lalu mengangkat Resi Dorna dan Raden Permadi menuju ke pantai. Setelah Resi Dorna dan Raden Permadi siuman, Arya Bratasena sungkem pada sang guru dan berterima kasih padanya “Terima kasih, guru Dorna. Berkatmu, kini Tirta Amertasari Prawidhi Mahaning Suci telah ku dapatkan. Bukan berwujud benda tapi sebuah pelajaran yang sangat berharga.” Resi Dorna menjadi salah tingkah. Walaupun demikian, dia sangat bangga pada muridnya itu. Setelah meluruskan hal yang sebenarnya, Resi Dorna mengajak kedua murid kinasihnya itu untuk bersyukur kepada Yang Maha Agung dan memilih untuk mengundur kepergiannya ke Hastinapura. Sejak saat itulah, walaupun Resi Dorna menjadi kaya karena Suyudana dan lebih dekat pada Kurawa, di dalam hatinya tetap memihak keluarga Pandawa Lima.
*1 Niskala Sahashra Swasa adalah ajian angin gaib atau angin tak kasat mata. Angin yang dikeluakannya bersifat gaib, tak bisa dirasakan dengan indria biasa, namun efek yang ditimbulkannya akan membuat makhluk-makhluk tak kasat mata menjadi kelimpungan dan kucar kacir.
* 2 Angkusa Prana adalah ajian yang mampu membuat si pemilik ajian mampu mengumpulkan tenaga dua belas penjuru mata angin menjadi energi lontar dan energi ledak.

Rabu, 01 Mei 2019

Sayembara Dewi Drupadi ( Gandamana Gugur)


Hai guys, Kisah kali ini adalah kisah titik balik kembalinya Pandawa setelah selamat dari kebakaran besar di Bale Sigala-gala, yakni pernikahan Dewi Drupadi. Dalam versi India, Draupadi dinikahi oleh lima Pandava sekaligus alias berpoliandri karena keteledoran Kunti yang mengira Draupadi sebagai hasil minta-minta di jalan, dalam kisah yang saya ceritakan ini adalah versi yang sudah digubah oleh Sunan Kalijaga karena poliandri sangat tidak sesuai dengan budaya Jawa dan ajaran agama. Kisah ini juga menceritakan gugurnya Arya Gandamana setelah menjadi jago dalam sayembara itu. Kisah ditutup dengan Pandawa, Dewi Kunthi, dan para Punakawan membuka samaran mereka dan kembali ke Pertapaan Saptaharga untuk minta restu. Sumber kisah ini berasal dari kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, serial kolosal India Mahabharat Starplus, Kitab Pustakaraja Purwa karya Raden Ngabehi Ronggowarsito, kisah Kidung Malam karya Herjaka.S, dan serial kolosal Indonesia Karmapala karya Imam Tantowi lalu saya kembangkan dan ubah dengan sedikit imajinasi saya.
Pada suatu hari, Dewi Drupadi, putri sulung Prabu Drupada sedang bermimpi naik kereta kencana dan bersanding bersama seorang pemuda rupawan berkulit bersih dengan dikawal 4 perwara yang semuanya berwajah tampan dengan wajah yang sumringah. Setelah terbangun dari mimpinya, Dewi Drupadi menceritakan mimpinya pada ayahandanya. Prabu Drupada menafsirkan mimpi itu bahawa sang putri akan mendapat jodoh seorang ksatria yang berwatak brahmana. Prabu Drupada merasa sudah saatnya Dewi Drupadi untuk segera menikah ditambah lagi banyak raja dan pangeran yang datang untuk melamarnya tempo hari. Lalu dia berunding dengan kakak iparnya, Arya Gandamana, Arya Drestajumena, sang putra mahkota dan patihnya, Patih Drestaketu untuk membahas hal itu. “kaka Arya, bagaimana pendapatmu? Aku bingung, banyak para raja dan pangeran ingin melamar putriku tapi Drupadi ingin memilih telah mendapat gambaran jodohnya” Arya Gandamana kemudian memberikan solusi “rayi Prabu, menurutku jika kita adakan sayembara untuk menentukan siapa yang pantas. Siapa tahu jodoh Drupadi ada pada salah satu peserta sayembara” “Hmm.....Sayembara? aku setuju bila diadakan sayembara. Tapi sayembara yang seperti apa? Ada yang punya usulan? Mungkin putraku Drestajumena bisa memberikan masukan.” Begitu namanya disebut, Drestajumena menjawab”Ayahanda Prabu, saya punya satu usulan. Semenjak aku berguru di Sokalima, aku sangat menyukai panahan dan kebetulan di gedong pusaka, tersimpan busur Agneyahimastra*1 milik para leluhur. Aku mengusulkan agar untuk pernikahan kanda Dewi Drupadi diadakan sayembara panahan dengan menggunakan busur Agneyahimastra. Untuk sasarannya, sasarannya adalah satu jepit rambut kanda Dewi yang digantung. Si pemanah tidak boleh melihat sasarannya secara langsung tetapi harus melalui media pantulan bayangan di cermin.” Setelah berunding, Prabu Drupada setuju. Setelah mereka membubarkan diri, Patih Drestaketu dan Arya Drestajumena segera mempersiapkan segalanya untuk sayembara itu. Tak butuh waktu lama, arena sayembara telah siap dan sayembara akan digelar besok harinya
Sementara itu, Dewi Kunthi, para Pandawa, dan para Punakawan yang telah meninggalkan kerajaan Ekacakra melanjutkan pengembaraan menjauhi tanah Hastinapura. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Begawan Dhomya, sahabat sekaligus guru Maharesi Abiyasa. Berkat ketekunannya beribadah, dia masih diberi umur panjang untuk bertemu para Pandawa, cucu sang murid dan Ki lurah Semar. Walaupun mereka sedang menjadi brahmana, Begawan Dhomya dapat mengenali mereka. “hmmm... kalian pasti cucu-cucuku Pandawa, mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi saya dapat mengenali kalian. Kalian adalah salah satu cucu Abiyasa, murid saya” Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa) kemudian bertanya “mohon ampun eyang Begawan, siapakah sebenarnya anda?” “nama saya Dhomya, dari pertapaan gunung Mahayana. Saya sahabat dari kakek kalian.” Setelah mendengar hal itu, para Pandawa, Dewi Kunthi, dan para punakawan memberi hormat. Ki Lurah Semar bertanya pada sang begawan “hmm blegedag blegedug...panjang umur untuk sang begawan. Jikalau diperkenankan, ada gerangan apakah sang begawan bertemu dengan kami?” begawan Dhomya kemudian menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan wangsit dari dewata untuk memberitahukan kepada para Pandawa bahwa di Pancalaradya akan diadakan sebuah sayembara untuk mendapatkan putri sulung sang Prabu Drupada yaitu Dewi Drupadi dan mengijinkan para Pandawa ikut sayembara itu. Dewi Kunthi pun teringat tentang keinginan suaminya dulu, Pandu Dewanata yang ingin bisa berbesan dengan Prabu Drupada. Akhirnya Dewi Kunthi mengijinkan tiga dari para Pandawa ikut serta dan menyaksikan sayembara lebih dahulu sementara dirinya bersama Pinten,Tangsen, dan para punakawan akan menyusul belakangan.
Keesokan harinya, para raja dan para pangeran telah berkumpul di arena sayembara. Ditengah arena itu telah berdiri sebuah tiang setinggi seratus depa yang di puncaknya diikat sebuah jepit rambut bunga teratai milik Dewi Drupadi dan sebuah cermin besar selebar tujuh depa. Di dekatnya pula terdapat sebuah meja yang diatasnya ada busur sakti Agneyahimastra. Sementara itu, Prabu Drupada, Dewi Gandawati, Dewi Srikandhi, Arya Drestajumena, Arya Gandamana dan Dewi Drupadi menonton di kejauhan. Setelah para tetamu undangan dan peseta sayembara berkumpul semua, Arya Drestajumena mengumumkan tatacara sayembara “Wahai para raja, para pangeran, dan para tetamu undangan yang telah dimuliakan Yang Maha Agung, disini saya akan mengumumkan tatacara sayembara ini. Barangsiapa yang mampu memanah jepit rambut di atas tiang itu sambil memandang cermin menggunakan busur sakti Agneyahimastra ini, maka dia berhak memperistri Kakakku, Kanda Dewi Drupadi.” Selesai mengumumkan pengumuman, naiklah ke arena itu Prabu Salya, raja Mandaraka. Dia berniat untuk menjadikan Dewi Drupadi sebagai menantunya. Setelah mengutarakan maksudnya dan dipersilahkan oleh Prabu Drupada, Prabu Salya mematrapkan aji Candhabirawa dan seketika itu keluarah para raksasa untuk membantunya. Namun yang terjadi, para raksasa dan dirinya tak mampu mengangkat busur sakti itu. Semakin diangkat, busur itu semakin berat. Prabu Salya dan para raksasa menyerah lalu mereka mohon pamit untuk duduk kembali di tribun.
Peserta berikutnya adalah pangeran mahkota Sindu Banakeling, Prabu Anom Jayadrata. Dia berusaha mengangkat busur sakti itu. Namun begitu busur itu terangkat sedikit, badannya langsung lemas. Prabu Anom Jayadrata akhirnya menyerah dan kembali ke tribun. Lalu keluarlah peserta berikutnya, yaitu Prabu Jarasanda alias Prabu Jaka Slewah, raja Giribajra. Dengan pongahnya, sang raja itu berusaha mengangkat busur sakti Agneyahimastra, tapi seperti yang terjadi sebelumnya, Prabu Jarasanda tak kuat mengangkat busur itu malah jatuh terduduk karena seluruh tenaganya bagaikan disedot oleh busur panah itu. Setelah dibantu berdiri, dia marah-marah lalu naik lagi ke tribun karena mendapat malu. Begitulah yang terjadi sehinggalah dipanggillah wakil dari Hastinapura, yaitu Raden Suryaputra dari Awangga. Raden Suryaputra datang bersama Prabu Anom Suyudana, Arya Dursasana, Bambang Adimanggala, Bambang Aswatama, Patih Arya Sengkuni, Raden Citraksa-Citraksi, dan beberapa Kurawa lainnya.dia datang untuk mewakili Prabu Anom Suyudana. Begitu Raden Suryaputra naik ke arena, sifatnya yang biasanya angkuh dan berlagak berubah menjadi penuh hormat pada sang busur. Begitu tangannya memegang busur itu, busur itu langsung terangkat dan ringan sekali. Dewi Drupadi kemudian bertanya pada ayahnya”Ayahanda, saya mau tanya. Apa benar Raden Suryaputra yang disana itu pangeran Awangga? Aku dengar dia adalah anak Adipati Adiratha yang dulunya kusir keraton Hastinapura.” “ sepengetahuanku itu dia anak Adiratha tapi aku juga tak tahu kalau Adiratha sudah jadi Adipati di Awangga, anakku. Tapi jangan remehkan dia dan kesaktiannya.” Hati Dewi Drupadi menjadi bimbang dan ingin menanyakan hal itu pada Raden Suryaputra langsung. Lalu ketika Raden Suryaputra sudah mulai menarik busur panah dan hampir melepaskan bidikannya, tiba-tiba Dewi Drupadi turun dari tribun dan berkata dengan lembut namun cukup keras ”Tunggu dulu, anak kusir.” Tak pelak, Raden Suryaputra menjadi hilang fokus dan tembakan panahnya meleset jauh dan mengenai pohon beringin. Raden Suryaputra menjadi tersinggung dan menanya balik Dewi Drupadi “Mohon maaf, tuan putri. Ada apa kau menghentikanku?” “bukan sebuah hal yang terlalu penting, raden. Saya hanya ingin bertanya apakah raden benar putra dari sais Adiratha? Bila benar, berarti raden ini hanya kere yang munggah bale” mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, Raden Suryaputra merasa sangat disepelekan dan amat marah. Dia meletakkan busur Agneyahimastra kembali pada meja, lalu berkata dengan kasar “Ingat ini, tuan putri. Kau telah menggagalkan sayembaramu sendiri dengan menghina dan menyepelekan aku, maka aku bersumpah kau akan mengalami hal yang sama, dihina dan dipermalukan di depan khalayak. Semoga aku punya umur panjang untuk menyaksikan hal itu, tuan putri!!” setelah itu, Raden Suryaputra pergi meninggalkan arena disusul oleh adik angkatnya, Bambang Adimanggala sementara Dewi Drupadi kembali ke tempat duduknya sambil menangis.
Para tetamu undangan merasa terkejut dan terutama Prabu Anom Suyudana merasa marah atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap Raden Suryaputra. Dihadapan hadirin di sana, Prabu Anom Suyudana mengatakan bahwa sayembara ini terlalu mustahil dan berkata bahwa kerajaan Pancalaradya hendak membuka perang. Akhirnya kemudian berdirilah Arya Gandamana dan membuka satu sayembara lagi agar putri angkatnya itu bisa segera menikah“ baiklah, karena ada yang merasa sayembara memanah ini terlalu susah, maka saya tambah satu sayembara tanding. Siapapun yang bisa mengalahkan saya, tak peduli apapun kasta yang disandangnya, kedudukan ataupun darimanakah asal-usulnya, maka dia yang berhak menikahi putri sulung Prabu Drupada sekaligus putri angkat saya, Dewi Drupadi. Terserah mau pakai senjata apa saja, saya akan ladeni dengan tanah kosong!” Prabu Anom Suyudana yang sejak tadi merasa kesal karena sahabatnya dihina segera meladeni sayembara tanding itu. Dengan menggunakan gadanya, dia memukul dan menyerang Arya Gandamana. Namun karena Ajian Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa yang dipatrapkan Arya Gandamana, Suyudana menjadi terdesak. Melihat kakak tertua mereka dalam keadaan yang demikian, Arya Dursasana dan adik-adiknya segera membantu Prabu Anom Suyudana. Namun bukannya kalah, justru Arya Gandamana mampu membuat para Kurawa terdesak dan pontang-panting bahkan terlempar keluar ibukota.
Bersamaan itu pula datanglah empat orang pendeta. Yang tertua adalah begawan Dhomya dan tiga pendeta dibelakangnya adalah Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa),Wasi Kusumayuda (Arya Bratasena), dan Wasi Parta (Raden Permadi).
Permadi menyelesaikan sayembara memanah
Dua dari mereka, Wasi Kusumayuda dan Wasi Parta kemudian memohon pada Arya Gandamana dan Arya Drestajumena untuk diperkenankan ikut sayembara mewakilkan kakak tertua mereka yang bersama Begawan Dhomya. Setelah diijinkan Prabu Drupada, ajang sayembara itu dilangsungkan kembali. Wasi Parta mulai naik ke arena sayembara panah dan menghormat pada busur Agneyahimastra. Wasi Parta mulai mengangkat busur panah sakti itu. Ajaib, busur itu sangat ringan ketika diangkatnya. Lalu Wasi Parta mulai mengambil anak panah menarik busur itu, lalu membidik sasaran melalui cermin. Setelah mendapatkan fokus, terlepaslah panah itu dan melesat secepat kilat, tepat mengenai jepit rambut yang berada di atas tiang tersebut. Seketika, busur Agneyahimastra menghilang dan menyatu dengan busur Gandiwa miliknya. Wasi Parta dinyatakan sebagai pemenang sayembara memanah. Bersamaan itu pula, datanglah Nyai Prita (Dewi Kunthi), Wasi Grantika dan Tripala (Raden Pinten dan Tangsen), dan Ki Lurah Semar beserta anak-anaknya. Mereka bangga akan kemenangan Wasi Parta dan memberikan selamat kepadanya.
Sementara itu, Wasi Kusumayuda masih bertanding gulat dengan Arya Gandamana. Pertandingan itu masih berimbang. Anehnya, Aji Bandung Bandawasa dan Wungkal Bener tidak bekerja sebagaimana mestinya. Lalu di saat Wasi Kusumayuda lengah, Arya Gandamana mencekiknya dengan cara dikempit menggunakan ketiaknya. Wasi Kusumayuda merasa sesak nafas karena tercekik. Dia pun merintih ”Ayahanda Panduuu... Bunda Madriiiim.... Akuuu, anakmu ingin menyusulmuuuu......” seketika itu pula, Arya Gandamana terkejut bahawa yang bertanding gulat dengannya itu adalah Arya Bratasena, putra junjungannya dahulu.
Gugurnya Arya Gandamana
Tanpa sadar, Kuku Pancanaka milik Wasi Kusumayuda memanjang dan menembus dada Arya Gandamana. Arya Gandamana merasa dingin dan roboh ke tanah dengan bersimbah darah.
Wasi Kusumayuda menangis memeluk Arya Gandamana sambil memohon ampun karena tak sengaja melukainya ”Ampuun.... Paman Arya.... akuu... maafkan akuuu...” Tak lama, Resi Dwijakangka, Wasi Parta, Wasi Gratika dan Tripala, dan Nyai Prita ikut mendekat untuk menghampiri mereka. Begitu juga keluarga Pancalaradya segera meninggalkan tempat duduk untuk melihat kondisi mereka. Namun Arya Gandamana tak menyalahkan sesiapapun dan mengumumkan bahwa Pandawa telah kembali. “rayi Prabu Drupada.... inilah mereka. Para Pandawa dan Dewi Kunthi...... mereka telah selamat...dari kebakaran tempo hari.....” Prabu Drupada sekeluarga terkejut sekaligus gembira mendengarnya bahwa Pandawa dan Dewi Kunthi telah selamat tanpa kurang satu apapun. Sebelum Arya Gandamana menghembuskan nafas terakhir, dia mengheningkan cipta dan mewariskan Aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa pada Arya Bratasena, Kalung sakti Robyong Mustikawarih*2pada Puntadewa, dan Ajian Sepiangin pada Permadi. Setelah mewariskan segala kesaktiannya, Arya Gandamana wafat dengan keadaan khusnul kotimah dan langsung moksa ke kahyangan. Sayembarapun selesai. Kini, Prabu Drupada dapat berbesan dengan mendiang Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Drupadi telah mendapatkan jodohnya yaitu Raden Puntadewa, putra sulung Pandu Dewanata yang berwatak bagai brahmana, sesuai seperti dalam mimpinya. Dewi Srikandhi yang menyaksikan Permadi sedang membidik sasaran tadi seketika jatuh hatipadanya. Begitu pula Raden Permadi, sama-sama tertarik hatinya ketika melihat ayunya wajah Srikandhi namun mereka masih malu-malu untuk mengungkapkan.
Sementara itu, para Kurawa dan para peserta yang gagal belum pulang dari kerajaan Pancalaradya, telah mendengar bahwa sayembara telah usai dan Dewi Drupadi telah menjadi isteri seorang pendeta muda menjadi kesal hati. Di saat hari pernikahan Puntadewa dan Drupadi dilangsungkan, mereka datang menyerang Kerajaan Pancalaradya dan berniat merebut Dewi Drupadi. Arya Bratasena yang sudah memakai pakaian pangeran mengalahkan mereka dengan tiang bekas sarana sayembara. Mereka kemudian kucar-kacir dan lari pontang panting ke negara mereka masing-masing. Hari itu pula, para Pandawa dan Dewi Kunthi telah membuka penyamaran mereka. Dewi Kunthi sudah tak lagi menjadi Nyai Prita yang berpakaian dari kulit kayu dan berganti baju dengan pakaian ratu janda. Para Pandawa juga para punakawan mencukur janggut dan kumis tebal mereka. Setelah beberapa hari, mereka meminta izin untuk kembali ke pertapaan Saptaharga untuk menghadap Maharesi Abiyasa.
*1 Busur Agneyahimastra adalah busur pusaka kerajaan Pancalaradya. Bila busur itu direntangkan sambil merapal mantra/ ajian beraliaran dingin, maka akan keluar hujan panah es. Sebalikanya, bila dirapal dengan mantra/ ajian beraliran panas, maka akan keluar hujan panah api
2*Kalung Robyong Mustikawarih adalah kalung sakti milik Puntadewa/Yudhistira yang tersembunyi di dalam kulit di luar daging. Bila Puntadewa meraba kalung itu dalam kondisi emosinya yang terdalam atau saat kesabarannya telah pada batasnya, maka dia bisa berubah menjadi raksasa mengerikan berkulit putih bersih bernama Dewa Amral.

Kamis, 25 April 2019

Bima Bumbu

Holla semua, lama gak menulis lagi. Maklumlah, penulis lagi banyak ini dan itu. Kali ini saya menceritakan perjalanan Pandawa dan Dewi Kunthi di Kerajaan Ekacakra. Disini, Bratasena membunuh Prabu Bakasura, raja Ekacakra yang sewenang-wenang dan tega menumbalkan rakyatnya sendiri. Sumber kisah kali ini berasal dari Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, yang dipadukan dengan Kisah Kidung Malam karya Herjaka.S dan serial kolosal indonesia Karmapala karya Imam Tantowi
Sementara itu, di saat yang sama, para Pandawa, Dewi Kunthi dan para punakawan berhasil melarikan diri ke kerajaan Ekacakra, kerajaan kecil di pinggir kerajaan Pancalaradya. dikisahkan mereka sampai di desa Kabayakan. Dalam keadaan lapar dan kecapekan, mereka menumpang di sebuah rumah besar yang terdapat sebuah bangunan bekas kandang kuda yang sudah kosong. Mereka merasa aneh karena desa itu sangatlah sunyi padahal saat itu sedang siang hari. Wasi Grantika dan Wasi Tripala (Pinten-Tangsen) tiba-tiba lemah badannya karena kelaparan dan belum makan apa-apa setelah menempuh perjalanan jauh dari Mandura ke Ekacakra. Walaupun hanya anak tirinya, Dewi Kunthi sangat menyayangi kedua putra suaminya dengan Dewi Madrim itu. Kemudian, Dewi Kunthi menyuruh putra nomor dua dan tiganya untuk mencari makanan ke sekitar desa. Mereka berdua kemudian berpencar. Bratasena ke arah barat sedangkan Permadi ke arah timur desa.
Sudah berjalan jauh cukup lama, namun baik Bratasena (Wasi Kusumayuda) maupun Permadi (Wasi Parta) belum menemukan seseorang yang dapat dimintai bantuan berupa makanan. Wasi Parta telah berjalan jauh sehingga sampailah di pinggir sebuah sendang. Disana tiba-tiba dia melihat seorang wanita cantik sedang mencuci dan mengambil air. Wasi Parta merasa sedikit lega karena pada akhirnya dia mendapatkan seseorang di desa sunyi itu untuk dimintai bantuan. Karena terpikat pula dengan kecantikannya, dengan tidak sabar dia mendekati wanita itu dan menepuk bahunya”Permisi, ni sanak. Bolehkah saya minta bantuan nini?”sang wanita terkejut melihat seorang brahmana tampan tapi berewok menepuk bahunya lalu dia lari menuju rumahnya. “Tunggu, ni sanak. saya tak bermaksud jahat.” Wasi Parta mengikuti larinya wanita itu hingga sampailah dia di sebuah rumah yang luas dan indah.
Sang wanita kemudian menutup pintu rumahnya dan setelah meletakkan gentong dan cuciannya, dia berlari menuju suaminya. Kemudian dipeluknya sang suami erat-erat.”kakang tolong aku. Ada orang yang berniat tidak baik padaku. Dia seorang brahmana tapi berewokan wajahnya. Aku takut” Sang suami ternyata bernama Ki Sagotra itu kemudian mengelus istrinya yang bernama Rara Winihan itu dan berusaha menenangkan istrnya “Tenang, istriku. Mungkin dia berusaha minta bantuan kita. Mari ikut aku ke depan untuk menemuinya” setelah sampai di pintu depan, Ki Sagotra bertanya pada sang brahmana “ Ki sanak. Siapakah anda dan ada keperluan apakah ki sanak? Sampai membuat istriku takut” “ohh maaf tuan jika kedatangan saya membuat istri anda takut. Saya Wasi Parta. Sebenarnya saya Permadi, putra ketiga Pandu Dewanata. Saya ingin minta bantuan dua bungkus nasi untuk adik kembar saya yang kelaparan.” Bagaikan tersambar petir, Ki Sagotra dan Rara Winihan terkejut lalu berlutut mohon ampun. “aduh raden, maafkan ketidaktahuan kami. Saya Lurah Sagotra dan istri saya Rara Winihan minta maaf atas kebodohan kami. Sampai-sampai tidak mengenali seorang pangeran dan putra raja agung Hastinapura” Wasi Parta kemudian berkata “sudahlah, Sagotra tak perlu berlebihan seperti itu. Aku hanya meminta dua nasi bungkus saja untuk saat ini. Apakah kalian tidak keberatan?”
“jangankan dua bungkus, segerobak nasi pun saya akan berikan untuk kedua adik, kakak dan ibu raden sebagai bentuk dharma bakti kami.”
“Ahh.... Ki Sagotra, tak perlu sebegitu. Saya hanya butuh dua bungkus untuk saat ini”
Ki Sagotra dan Rara Winihan segera menghaturkan dua bungkus nasi berikut lauk pauknya pada Wasi Parta. Wasi Parta merasa berterima kasih pada mereka dan memohon pamit. Sebelum dia pergi, Ki lurah Sagotra bersumpah dihadapan Wasi Parta “Raden, bila saatnya tiba. Saya akan korbankan jiwa raga saya demi kejayaan raden dan para Pandawa” “ terima kasih, Sagotra. Aku tersentuh pada kebesaran jiwamu. Saya mohon pamit.” Ki Sagotra merasakan kembali getar hati pada istrinya, begitupun sebaliknya Rara Winihan juga merasakan hal yang sama. Cinta kembali di hati mereka. Secercah harapan muncul dari balik kabut dalam sanubari. Kehidupan rumah tangga mereka kembali hangat dan penuh cinta.
Sementara itu, Wasi Kusumayuda (Bratasena) terus berjalan mencari siapapun yang bersedia memberikan nasi bungkusnya untuk kedua adiknya. Sehinggalah dia bertemu para penduduk yang hendak pergi mengungsi ke negara lain. Dari keterangan mereka, negeri Ekacakra yang dia dan saudara-saudaranya singgahi diperintah oleh seorang raja. Namanya Prabu Bakasura atau Prabu Dawaka. Dia seorang raksasa kejam yang memiliki kebiasaan yang juga begitu mengerikan yaitu memakan daging manusia. Istananya berupa sebuah gua indah di pinggir gunung. Setiap bulan dia meminta rakyatnya menghidangkan ingkung daging manusia dan dua hari lagi, di saat hari Tumpak Jenar Wuku* Langkir pada setiap tahunnya, dia akan mengadakan sebuah pesta besar yang menu istimewanya seratus ingkung manusia dengan bumbu botokan yang ditujukan untuk Batara Kala. Karena terus ditinggal penduduknya, Prabu Bakasura marah dan memerintahkan memperketat penjagaan di tiap sudut negeri. Dan para pengungsi itu adalah yang memakai cara nekat untuk pergi dari negara yang mencekam itu. Yang tidak mengungsi, mereka memilih sembunyi di rumah masing-masing bahkan membuat bunker bawah tanah bagi yang mampu. Wasi Kusumayuda merasa heran, pantas saja setiap desa di Ekacakra sepi karena ditinggal penduduknya yang merasa takut menjadi korban keganasan rajanya.
Sepertinya hari itu bukan hari keberuntungan para pengungsi itu. Mereka bertemu para prajurit Ekacakra lalu mereka dihadang. Melihat hal semacam itu, naluri Wasi Kusumayuda tergugah untuk menolong mereka. Sebelum para prajurit menyerang para pengungsi lebih jauh, Wasi Kusumayuda lebih dulu menyerang dan menerjang para prajurit yang rata-rata berbadan besar itu. Meskipun seorang diri, para prajurit mampu dibuatnya lari pontang panting. Tak butuh banyak waktu, Wasi Kusumayuda mampu membuat para prajurit itu lari kembali ke istana Ekacakra. Para pengungsi itu terkejut dan terkagum-kagum padanya. Belum pernah ada seorang brahmana yang mampu mengalahkan para prajurit seorang diri. Mereka merasa dia bukan seorang brahmana.kemudian mereka menghaturkan sembah pada Wasi Kusumayuda.
“Ampun, Brahmana. Terima kasih atas pertolongan anda. Melihat dari cara anda tadi, kami merasa kau bukan brahmana biasa karena tidak ada brahmana yang mampu menyerang dan punya kekuatan sebesar itu kecuali Batara Ramabargawa. Kalau di izinkan, siapakah sebenarnya tuan dan mengapa anda bisa berada disini?”
“Namaku Kusumayuda. Aku bukan Brahmana. Aku sebenarnya Arya Bratasena, putra nomor dua Pandu Dewanata. Aku kesini untuk mencari bantuan”
“Ooo, Raden Arya Bratasena? Pantas saja, kami telah mendengar tentang kehebatan raden. Sekali lagi maafkan kebodohan kami, Raden. Kami tidak tahu kalau ada salah satu putra Pandu datang ke sini” Wasi Kusumayuda kemudian menyuruh mereka berdiri
“ahh tak perlu berlebihan begitu. Aku kesini mau minta bantuan. Aku sedang mencari dua nasi bungkus untuk kedua adikku.”
Dengan senang hati, mereka berebut memberikan dua nasi bungkus kepada Wasi Kusumayuda. Setelah itu Wasi Kusumayuda merasa sangat berterima kasih dan segera meninggalkan para pengungsi. Para pengungsi itu kemudian lebih memilih mengikuti Wasi Kusumayuda menuju tempatnya. Mereka merasa mendapat harapan baru dengan kedatangannya. Sementara itu Ki Sagotra dan Rara Winihan mengumpulkan rakyat desa Kabayakan untuk menolak persembahan ingkung manusia pada Prabu Bakasura. Mereka sepakat untuk meminta bantuan pada para Pandawa dan Dewi Kunthi yang tinggal di ujung desa.
Sementara itu di rumah tempat Para Pandawa, Dewi Kunthi, dan para punakawan menumpang, walaupun para punakawan berusaha menghibur, hati Dewi Kunthi benar-benar teriris melihat keadaan Wasi Grantika dan Tripala yang berusaha tegar tapi tubuh mereka semakin lemah. Sejurus kemudian dia mendengar suara “Puntadewa, kemarilah. Aku mendengar suara seseorang dari dalam rumah. Cobalah tanya apakah mereka ada sedikit makanan.” Tanpa ba-bi-bu, Resi Dwijakangka (Puntadewa) bergegas masuk ke rumah. Tak berapa lama, Resi Dwijakangka datang membawa sedikit makanan yang amat nanggung. Tak berapa lama, makanan itu habis. Hampir bersamaan dengan itu, Wasi Kusumayuda dan Wasi Parta datang membawa nasi bungkus. Dewi Kunthi dapat melihat nasi yang dibawa Wasi Parta agak basah karena didapat dari hasil menggoda istri orang sedangkan nasi yang dibawa Wasi Kusumayuda bebau harum karena didapat dari menolong orang. Agar tak menyinggung siapapun, nasi yang dibawa Wasi Parta diberikan pada Ki Lurah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sementara para Pandawa memakan nasi yang dibawa Wasi Kusumayuda.
Sementara itu didalam rumah, terjadi sebuah perdebatan alot antar sesama penghuninya yaitu Resi Hijrapa dan anak-istrinya. Sang resi dihadapkan pilihan untuk mengorbankan salah satu putranya untuk jadi korban persembahan kepada Prabu Bakasura. Kecemasan, ketakutan, dan rasa bersalah bersatu campur aduk dalam diri sang resi. Dia jelas tak mampu bahkan tidak akan mau mengorbankan putra-putranya. Sepanjang malam itu, mereka saling bertangis-tangisan mendengar putra bungsu mereka, Putut Rawan secara sukarela bersedia menjadi korban persembahan raja angkara murka itu. Keesokan paginya, datanglah Lurah Sagotra dan Rara Winihan disertai beberapa penduduk menghadap ke rumah Resi Hijrapa menemui Dewi Kunthi dan para Pandawa.
“Kakang Semar, saya beserta istri hendak menemui ibu ratu Kunthi dan para putra. Apakah beliau-beliau berkenan?”
“Oohh tentu sahaja, Sagotra, Winihan. Dengan tangan terbuka, bendara-bendara saya menerima kedatangan kalian.” Setelah mempersilakan mereka, mereka duduk dan membicarakan soal Prabu Bakasura.
“permisi Ibu Ratu Kunthi, kakang Semar, dan para Pandawa, saya dan suami mewakili seluruh warga Kabayakan mengucapkan terima kasih. Kedatangan ibu ratu dan para putra ibarat secercah cahaya matahari di balik awan mendung, kedatangan gusti telah memberikan harapan baru. Saya dan suami bisa rukun berkat bantuan Raden Permadi. Demikian pula para penduduk yang mengungsi, mendapatkan harapan baru berkat pertolongan Raden Bratasena. Aku meyakini bahwa Sanghyang Widhi telah memberikan berkah melalui ibu ratu dan para putra yang singgah ke wilayah ini”
“ahh Rara, aku, putra-putraku, dan kakang Semar disini hanya orang yang lewat numpang tinggal dan makan disini. Seharusnya aku yang berterima kasih kepada semua atas kemurahan kalian. Saya juga harusnya meminta maaf karena membuat repot banyak orang. Bahkan putraku Permadi sampai harus memohon dua bungkus nasi padamu dan suamimu”
“ampun, ibu ratu. Dua bungkus nasi yang kami berikan bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan berkah kerukunan rumah tangga kami.”
“kau benar, Rara. Mungkin Sanghyang Widhi telah menuntun putraku untuk menjadi perpanjangan tangan berkah-Nya kepada keluargamu.”
“Menurut hemat hamba juga demikian. Sepertinya ini sudah menjadi sebuah pertanda bahwa kesewenang-wenangan di negeri ini akan berakhir.”
“bicara soal itu, aku telah mencuri dengar dari Resi Hijrapa soal Prabu Bakasura yang sewenang-wenang memerintahkan untuk mengorbankan ingkung manusia. Aku tak tega bila Putut Rawan harus mengorbankan dirinya demi menjadi pemuas nafsu kerakusan sang raja besok. Aku telah membujuk putraku Bratasena untuk menolong mereka. Putraku sebenarnya setuju hanya belum menyanggupi karena Resi Hijrapa belum memintanya”
“mungkin Bapa Resi sedang kalut hatinya dan tertekan pikirannya sehingga tak memperhatikan sekitarnya tapi apabila beliau tahu siapa sebenarnya kakang Semar, Ibu ratu dan para putra, mungkin beliau akan tergopoh-gopoh meminta bantuan pada gusti sekalian. Karena itu izinkan saya untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Bapa Resi.” Tanpa menunggu jawaban dari Dewi Kunthi, Ki Lurah Sagotra dan Rara Winihan undur diri untuk menemui Resi Hijrapa sekeluarga
Rupanya kecerdasan Ki Sagotra dan Rara Winihan membuahkan sebuah ide. Ide untuk membantu Resi Hijrapa sekeluarga dari kemelut yang dihadapi mereka sekaligus membebaskan seluruh Ekacakra dari ketakutan. Maka setelah memohon diri pada Dewi Kunthi dan Ki Lurah Semar, Rara Winihan segera menemui Resi Hijrapa untuk memberitahukan pada Resi Hijrapa bahwa malaikat penolong Putut Rawan telah datang
“ Bapa Resi, kedatangan saya dan suami kesini karena aku sudah mendengar bahwa Putut Rawan akan dikorbankan. Aku amat prihatin dengan keadaan kita yang serba sulit seperti ini. Tapi, sebelum aku melanjutkan pembicaraan ini, Apakah Bapa Resi tidak berusaha menolak perintah pengorbanan itu dan minta tolong pada orang lain sebelumnya?”
“Aduhai, Pak Lurah dan bu lurah. Maafkan kami yang lemah dan dangkal pikiran ini. Pikiran saya dan istri sedang kalut dan galau. Kami tidak ada jalan lain lagi. Kalau harus menolak, nasib kami binasa. Kalau minta tolong, apakah ada yang mau bersedia menjadi silih korban putraku?
Ki Lurah Sagotra kemudian menjawab “Bapa Resi, tahukah siapa sebenarnya janda beserta lima resi dan empat pembantunya yang numpang di kandang kuda Bapa Resi?”
“Aduhai pak lurah, hati saya kalut dan pikiran saya gelap sehingga tak terpikir untuk menanyakan itu pada mereka. Memangnya mereka siapa, Pak lurah?’
“Mereka adalah malaikat penolong bagi keluargamu dan semoga untuk Ekacakra ini apabila Bapa Resi datang dan meminta bantuan pada mereka”
“Pak Lurah, Bu Lurah, siapa mereka sesungguhnya?”
“ Mereka adalah Para Pandawa, Dewi Kunthi, dan Ki Lurah Semar beseta putra-putranya”
“Benarkah itu Pak Lurah? Bu Lurah”
Mereka mengangguk mantap. Bagaikan jatuh ke lautan madu, Resi Hijrapa beserta keluarganya tergopoh-gopoh menghadap pada Dewi Kunthi, para Pandawa dan Ki lurah Semar lalu bersujud mohon maaf kepada mereka.
“Sembah bhakti hamba sekeluarga pada keluarga Prabu Pandu Dewanata. Jauhkanlah kutuk pasu, balak dan tulah karena kebodohan kami. Saya Resi Hijrapa mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Gusti ratu, para putra, dan Kakang Semar.
Ki Lurah Semar kemudian membangunkan Resi Hijrapa “Bangunlah, Hijrapa. Saya dan bendara-bendara saya tidak tersinggung malah kami yang harusnya minta maaf karena sudah membuat repot keluargamu. Katakan, Hijrapa. Apakah yang membuatmu datang menemui kami”
Resi Hijrapa menceritakan segala keluh kesahnya pada Dewi Kunthi sekeluarga dan Ki lurah Semar, termasuk tentang dilema yang dialami keluarganya. Wasi Kusumayuda kemudian berdiri dan berkata pada Resi Hijrapa ”Bapa Resi, aku sanggup menggantikan putramu sebagai silih korban.” Kemudian Putut Rawan merasa tak enak hati dan berusaha mencegah Wasi Kusumayuda menjadi silih korban.
“Ampun Raden. Maafkan saya, Biarkan saya yang berkorban. Saya tak ingin merepotkan anda. Keluarga Raden adalah tamu disini dan saya tak ingin merepotkan tamu karena hal ini”
“Tenang, Rawan. Aku tidak merasa direpotkan, begitu juga ibu, saudara-saudaraku, bahkan Ki lurah Semar juga.” Setelah itu, para warga desa menyiapkan segala keperluan di besok harinya.
Setelah itu, pada keesokan harinya di hari Tumpak Jenar Wuku Langkir, Wasi Kusumayuda diangkut oleh warga desa Kabayakan dan  dengan gerobak besar berisi makanan dan minuman yang enak-enak ke istana Ekacakra.
Pertarungan Wasi Kusumayuda dengan Prabu Bakasura
Wasi Kusumayuda sendiri melumuri tubuhnya dengan bumbu botokan. Dewi Kunthi, para Pandawa, dan para Punakawan mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya di istana Ekacakra, mereka melihat berbagai masakan daging terhidang disana. Pesta yang megah tapi tak ada satupun orang yang datang karena takut akan kebengisan Prabu Bakasura dan takut karena arena pesta itu adalah pesta mengorbankan manusia sebagai tumbal untuk Batara Kala. Tak lama berselang, Prabu Bakasura muncul dihadapan warga desa Kabayakan.”Hooaa hahaha, ini ternyata makanan pembuka untukku. Hei warga desa, pergilah.” Setelah warga desa mundur, Prabu Bakasura membuka tutup gerobak. Tak disangka seluruh makanan dan minuman di dalamnya telah dihabiskan oleh Wasi Kusumayuda. Lalu Wasi Kusumayuda menendang perut Prabu Bakasura hingga dia terpental jauh. Marahlah Prabu Bakasura tapi sebelum dia menghajar, Wasi Kusumayuda menantang Prabu Bakasura “ Heii, Bakasura. Perbuatanmu itu telah menyengsarakan wargamu. Kau tega membunuh dan menumbalkan mereka untuk kepuasan nafsumu. Biar apa coba? Aku datang kesini untuk menantangmu. Kalau aku kalah, makan saja aku tapi kalau aku menang, hadapilah takdirmu.”
Tanpa berlama-lama, Wasi Kusumayuda dan Prabu Bakasura bertarung sengit. Debu mengepul kemana-mana membuat kabur pandangan. Para kawula Ekacakra, para Pandawa, Dewi Kunthi, bahkan punakawan Gareng Petruk, dan Bagong yang menonton merasa ngeri melihat adu tanding itu. Hanya Ki lurah Semar saja yang nampak tenang dan yakin bahwa bendaranya itu akan menang. Semakin mendekati siang hari, diantara mereka tak ada yang kalah ataupun menang. Prabu Bakasura yang sejak pagi belum makan menjadi semakin garang dan membabi buta agar segera dapat mengakhiri pertarungan itu. Sementara itu, serangan-serangan Wasi Kusumayuda semakin tenang dan mantap. Sampai pada puncaknya, Prabu Bakasura berusaha mencekik Wasi Kusumayuda. Di saat demikian, Wasi Kusumayuda menusukkan Kuku Pancanaka ke dada Prabu Bakasura lalu dipukullah Gada Rujakpala ke kepala raja lalim itu sehingga kepala itu remuk. Tak lama setelah itu Prabu Bakasura rubuh dengan bunyi menggelegar.
Kejayaan Wasi Kusumayuda 
Sorak sorai kegembiraan membahana di pelataran istana Ekacakra. Prabu Bakasura telah dikalahkan dan ditewaskan oleh calon korbannya sendiri. Acara korban itu kini digantikan untuk membuat kenduri akbar sebagai ungkapan syukur kepada Sanghyang Widhi. Para kawula yang akan dijadikan santapan berhasil dibebaskan. Para prajurit Ekacakra yang juga bekas anak buah Prabu Bakasura memberontak namun dapat dikalahkan Wasi Parta dengan panah-panahnya. Setelah kondisi aman dan kondusif, mereka melanjutkan kenduri.
Tiga hari kemudian, setelah kedamaian dan ketentraman di Ekacakra telah kembali, Dewi Kunthi, kelima putranya, dan Ki lurah Semar beserta putra-putranya meminta izin untuk meninggalkan Ekacakra kepada Lurah Sagotra, Rara Winihan dan Resi Hijrapa. Tak pelak membuat air mata Resi Hijrapa dan keluarganya mengalir menganaksungai. Kesedihan dan rasa syukur telah selamat dari bahaya telah memmbulatkan tekat mereka sedesa untuk bersumpah untuk setia kepada para Pandawa. Bahkan sebelum pamitan, Resi Hijrapa dan Putut Rawan bersumpah besar “ Ibu Ratu Kunthi, dan para putra Gusti Pandu, terima kasih atas bantuan kalian. Akan kami balas kebaikan kalian yang tak akan terkira ini nanti. Disaksikan oleh Ki Lurah Semar, para kawula, langit, bumi, dan para dewa di kahyangan, aku dan keluargaku bersumpah bila terjadi perang besar antara Pandawa dan Kurawa, keluarga saya akan membantu bahan makanan di pihak kalian. Bukan hanya itu, saya dan putra bungsu saya, Rawan bersedia menjadi tawur agungnya.” Sontak saja, tiba-tiba halilintar menggelegar di langit. Bumi Ekacakra menjadi bergegar karena sumpah itu, pertanda sumpah itu direstui para dewa. Para Pandawa dan Dewi Kunthi merasa tersentuh  lalu mendoakan semoga perang itu bisa terhindarkan dan kehidupan Resi Hijrapa sekeluarga bisa sejahtera, damai, dan tentram selamanya. Setelah itu Para Pandawa, Dewi Kunthi, dan para punakawan meninggalakan Ekacakra kembali mengembara mengikuti arah kaki melangkah.

*Wuku adalah perhitungan waktu yang dalam siklus kalendar Jawa dan Bali yang berjumlah 30 wuku. Wuku datangnya dari dimulai dari hari Radite (Ahad) dan akan berakhir pada hari Saniscara/Tumpak (Sabtu) sehingga berulang 210 hari sekali. Oleh orang Jawa, perhitungan wuku ini kadang dijadikan sebagai penentu hari baik dan hari sial.