Sabtu, 24 Agustus 2024

Banjaran Sri Kresna Episode 1 : Kelahiran Sri Kresna

 Hai hai.......Selamat datang kembali.......Sudah lama saya tidak posting..... Setelah fokus ke Mahabharata, sekarang penulis mengisahkan kisah Banjaran. Btw, kisah kali ini mengisahkan kelahiran  Prabu Sri Kresna dan saudara-saudaranya. Sumber kisah ini berasal dari pagelaran wayang Ki Purbo Asmoro berjudul Kresna Lahir, kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus, Radha Krishna Starbharat, blog albumkisahwayangblogspot.com dan beberpa blog pewayangan lainnya dipadukan dengan imajinasi penulis.

Kutuk Pasu Sridhama

Di Kahyangan Untarasegara yang indah, bagian dari Jonggringsaloka. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Pepohonan disana sangat indah memanjakan mata laksana berdaun sepuhan emas dengan batang merah bagai tembaga, dan buah berwarna perak. Para bidadara dan bidadari menari-nari dengan riang gembira. Kahyangan itu berbentuk sebuah danau indah yang dikelilingi tembok lengkung dengan gerbang-gerbang istana emas. Istana berbentuk danau semesta itu dinamai Bentukaloka.Di tengah danau sana lah bersemayam Hyang Batara Wisnu, sang dewa pengayom dan pemelihara. Disampingnya sang shakti, yakni Batari Sri Laksmi dan kedua wahana miliknya. Yang satu ular naga raksasa yakni Batara Nagaraja Adisesha dan burung elang raksasa, Garudeya Brihawan. Sang Batara melakukan yoga seteah bertemu berembug dengan Batara Guru soal kesewwnagan dan kekacauan di jaman Duparayuga, menandakan sebentar lagi era Purwa akan mengalami kemunduran. Sang dewa yang bersenjatakan Cakra Widaksana dan Cangkok Wijayakusuma itu melihat dalam mata batinnya keadaan dunia selepas masa Ramayana dilanda banyak kekacauan lalu ia terbangun dari yoga semadinya. Batari Sri Laksmi ikut terbangun dari semadi panjangnya. “suamiku, keadaan dunia wayang kacau sekali. Penindasan terjadi dimana-mana. Moral dan dharma memudar digantikan ketidakadilan. Kakek Semar yang telah lama turun ke dunia berusaha meredamnya tapi ia nampak kewalahan. Apa langkahmu selanjutnya, suamiku?” Batara Wisnu pun bangun dari tapa bratanya lalu berkata “Laksmi, sebentar lagi solusi untuk itu akan datang. Dia sedang menuju kemari.” Batari Sri Laksmi, Nagaraja Adisesha, dan Garudeya nampak dengan saksama mencerna apa perkataan sang dewa yang bergelar Narayana itu.

Di tempat lain, yakni di puncak Mahameru yakni istana Iswaraloka datanglah seorang pertapa sakti bernama Resi Sridhama. Ia seorang pemuja Wisnu yang sangat taat dan penuh dharmabakti. Ia ingin bertemu dengan sang dewa pujaanya. Hyang Batara Guru Pramesthi pun mempersilakan Sridhama menemui sang dewanya. Hyang Batara Brahma mengantarnya dengan angsa miliknya. Sepanjang perjalanan, ia melihat kawasan Untarasegara yang indah dengan istana air Bentukaloka yang laksana cermin semesta itu. setelah Batara Brahma mengantarnya, Resi Sridhama pun disambut Hyang Batara Narada yang kebetulan sedang berkeliling Untarasegara. Resi Sridhama menyampaikan tujuannya untuk bertemu Batara Wisnu, Batara Narada pun mengajaknya menuju ke istana Bentukalaoka. Sepanjang jalan, Para Bidadara-bidadari menari dengan riang gembira. Ketika tiba di depan istana, Sridhama menyaksikan pemandangan yang tidak terbayangkannya. Resi Sridhama menyaksikan Batara Wisnu memakai pakaian layaknya gembala sapi namun juga memakai mahkota raja sedang memainkan seruling  dan bersama batari Sri Laksmi yang turut memakai pakaian gadis desa namun berperhiasana emas mewah menari bagaikan merak kesimpir. Setelah menari, Batara Wisnu dan Batari Sri duduk di atas ayunan dan menikmati seguci mentega juga susu.

Resi Sridhama menyaksikan kemesraan Batara Wisnu dan Batari Sri Laksmi 
Resi Sridhama nampak tak suka dengan hal itu lebih-lebih lagi ketika batari Sri menyuapi sang suami dengan tangannya sendiri. Resi Sridhama pun menjadi semakin kesal dan menghentikan keharmonisan pasangan dewa-dewi itu “apa-apaan ini, gusti Batari!? Gusti batari telah memalukan dewa saya!” Sridhama juga berkata bahwa ini adalah penghinaan karena menurutnya tidak pantas lelaki makan makanan yang telah dimakan isterinya. Batari Sri pun berkata dengan penuh kelembutan “Sridhama, ini adalah bentuk cinta, kasih sayang yang murni.” Resi Sridhama berkata kalau pengabdian atau bhakti lebih berharga ketimbang cinta. Sridhama merasa cinta hanyalah ilusi semata. Lalu Batara Wisnu berkata “jika benar demikan, buktikanlah!” Resi Sridhama pun menyanggupinya.

Batara Wisnu pun tiba-tiba menghilang dan berada di dalam gerbang Bentukaloka. Sementara Resi Sridhama berada di luar gerbang. Batara Wisnu lalu berkata di dalam hatinya “Laksmi....!! Laksmi...!!” Sri Laksmi yang sedang berada di tengah taman bunga mendengarkannya dan pergi menemuinya, tetapi Sridhama tidak membiarkan Batari Sri Laksmi masuk. Sri Laksmi bersikeras, tetapi sia-sia. Kemudian, dia masuk mengabaikan Sridhama, Sridhama berkata dengan nada berang “jika Gusti melangkah maju, Gusti akan kehilangan suamimu!!” Sri Laksmi berkata “Wisnu ada di hatiku, jiwaku, Smriti (ingatan) ku, bagaimana aku bisa melupakannya.” Tanpa peduli resikonya, Batari Sri melangkah maju ke suaminya, kemudian Sridhama mengutuk Sri Laksmi “Gusti Telah melangkahi Pengabdianku demi Cintamu! Aku Sridhama Mengutukmu!! Semoga Gusti akan kehilangan ingatanmu!, dan harus hidup di alam bumi mengalami banyak derita! Jiwanmu akan terpisah menjadi enam wanita berbeda!” Batara Wisnu lalu muncul di hadapan Sridhama dan mewujudkan wujud dewatanya yang agung. Batari Sri juga memperlihatkan wujud indahnya yang bertangan empat. Sang Hyang Narayana pun berkata “berkat kutuk pasumu, aku dan Sri memiliki alasan untuk mewujudkan tujuan kelahiranku berikutnya. Ketahuilah, aku telah menantikan ini.” Resi Sridhama pun duduk berlutut meminta maaf karena telah menuruti nafsunya dan seenaknya mengutuk shakti dari dewanya. Batara Wisnu pun memaafkannya namun tidak dengan Batari Sri Laksmi. Menurutnya setiap perbuatan harus memberikan akibat. Maka sang dewi kesuburan itu mengutuk Sridhama “Untuk memberikan alam semesta ini pelajaran, aku harus memberikan pelajaran kepadamu! Karena Dikau Mengutuk Dewi Kemakmuran, Maka Di Kehidupanmu sebahgai Manusia Biasa, Kau akan Jauh dari Kemakmuran. Maka Terjadilah !” Resi Sridhama pun turun ke bumi menerima takdirnya.

Kabar kutukan Sridhama di dengar oleh Garudeya dan Batara Nagaraja Adisesha. Kedua hewan suci milik sang batara menghadap. Garudeya Brihawan berkata “Gusti Batara dan Batari, anda akan turun lagi ke bumi sebagai manusia. Izinkan hamba ikut sebagai wahana paduka.” Batara Nagaraja Adisesha yang berwujud ular naga sakti sedih lalu ia berkata “ jika  Gusti Batara dan Batari turun kembali, aku bersumpah tak akan melewatkan peristiwa turunnya paduak berdua. Izinkan aku turun ke bumi terlebih dahulu sebagaimana janjiku terdahulu saat terlahir sebagai Lesmana. Aku ingin turun sebagai abang dari Gusti Batara.” Batara Wisnu berkata “Garudeya! Sesha! Aku akan turun kembali sebagai pembasmi kejahatan. Aku menghargai keinginan kalian, maka aku izinkan kalian ikut denganku. Garudeya kelak kau akan ku panggil dan kau harus menjaga istanaku. Sesha, aku mengizinkanmu turun terlebih dahulu. Mulai hari ini aku akan memanggilmu kakang.” Garudeya Brihawan pun berterima kasih lalu ia kembali ke kediamannya di Kukilaloka, kahyangan para burung dan unggas. Nagaraja Adisesha pun pamit ia pun menghilang dan menjelma sebagai titik cahaya putih kemerahan menuju ke sebuah hutan. Batara Wisnu pun memeluk sang isteri sebelum pergi “Laksmi, aku akan menunggumu.” “Suamiku, aku pun menunggumu dan salah satu wujudku akan selalu bersamamu dan kakang Sesha.” Batari Sri Laksmi pun berubah menjadi wujud cahaya beraneka warna, enam macam cahayanya lalu menghilang. Batara Wisnu pun ikut membelah dirinya menjadi dua cahaya, hitam kebiruan dan kuning keemasan. Kemudian cahaya itu lenyap jatuh di hutan tempat naga Adisesha turun.

Kelahiran Tiga Permata

Sementara itu di Kerajaan Mandura, sedang mempersiapkan upacara empat bulanan tiga isteri sang raja yakni Prabu Basudewa: Dewi Rohini, Dewi Dewaki, dan Dewi Badrahini. Sebenarnya Prabu Basudewa punya isteri terua bernama Dewi Maherah, namun sang isteri tertua telah ia usir karena ketahuan bermain serong dengan seseorang yang mirip dengannya.  Pada hari itu juga raja Hastinapura yakni Pandhu Dewanata ditemani kedua isterinya, Dewi Kunthi dan Dewi Madrim. Dewi Kunthi adalah adik dari Prabu Basudewa. Dewi Kunthi saat ini mengandung anak ketiga. Selain itu datang pula adik-adik Basudewa yang lain. Mereka yakni Raden Aryaprabu dan Arya Ugrasena. Keduanya telah diangkat sebagai raja bawahan. Aryaprabu menjadi raja Kumbinapuri bergelar Bhismaka dan Ugrasena menjadi raja Lesanpura bergelar Satyajid. Setelah beramah tamah, Prabu Basudewa mengajak sang adik ipar untuk berburu hewan di hutan Boja “adhi Prabu, sekarang akan diadakan pesta empat bulanan untuk ketiga istriku dan kebetulan Dinda Kunthi juga sama hamil pula. Kita kekurangan makanan untuk pesta jadi kami harus berburu. Apakah adhi prabu mau ikut?” Pandhu Dewanata pun setuju “ Tentu, kakang Prabu. Mari segera berburu mumpung hari belum gelap” Tanpa banyak waktu mereka langsung berangkat. Sampailah mereka di hutan Boja, hutan perburuan negara Mandura. Mereka akhirnya berhasil mendapatkan anyak rusa dan kijang. Prabu Pandhu berkata “kakang prabu, sepertinya hasil buruan kita sudah cukup, kita kembali saja ke istana. Hari dah semakin gelap.” Belum sempat Prabu Basudewa bicara, datanglah sepasang harimau dan seekor ular raksasa. Tiga hewan buas itu menyerang hewan-hewan buruan dua raja tersebut. Karena terkejut, Basudewa dan Pandhu segera memanah harimau dan ular raksasa itu. ajaib, begitu tiga hewan itu tumbang, bangkai mereka hilang lalu bertukar wujud sebagai tiga cahaya. Sepasang harimau berubah menjadi cahaya hitam kebiruan dan kuning keemasan, sedangkan ular raksasa berubah menjadi cahaya putih kemerahan.

Harimau dan ular jelmaan Wisnu dan Adisesha
Ketiga cahaya itu melesat menuju keraton Mandura.” adhi prabu, cahaya itu mengarah ke keraton. Ayo kita ikuti” “mari kakang prabu Basudewa. Aku khawatir bila cahaya itu pertanda bahaya”. Ketika sampai, Prabu Basudewa dan Prabu Pandhu Dewanata melihat tiga cahaya itu masuk ke dalam perut isteri-isteri mereka yang tengah tertidur di keputren. Cahaya putih kemerahan masuk ke kandungan Dewi Rohini, sedangkan cahaya hitam kebiruan dan kuning keemasan masuk ke kandungan Dewi Dewaki dan Dewi Kunthi. Mereka merasa lega bahwa cahaya-cahaya itu tidak menyakiti isteri-isteri mereka. Upacara empat bulanan pun digelar dengan hikmat dan syahdu. Malam harinya, Prabu Basudewa mendapat mimpi dari Batara Wisnu “Basudewa, aku dan kakangku Nagaraja Adisesha telah datang kepada isterimu dan adikmu, Kunthi dalam wujud cahaya. Salah seorang anakmu dan anak Kunthi akan menjadi titisan-titisanku. Jika kelak anak-anakmu lahir, bawalah anak-anakmu ke dukuh Gokula karena kelak akan datang huru-hara yang ditimbulkan salah seorang putramu yang angkara.” Setelah mendapat mimpi itu, Prabu Basudewa pun tersentak bangun dengan keringat bercucuran. Ketiga isterinya ikut terbangun “kakanda, ada apa kakanda?” tanya Dewi Rohini “apa kakanda bermimpi buruk? Dinda Badrahini cepat tolong ambilkan air.” Ucap Dewi Dewaki. Dewi Badrahini pun segera mengambilkan air di kendi di dekatnya “ini kakanda, minumlah agar kakanda tenang.” sodor Badrahini yang membawa segelas air putih. Prabu Basudewa pun menceritakan mimpinya tadi. Isteri-isteri Basudewa pun kaget mendengarnya. Prabu Basudewa meminta para isterinya untuk merahasiakan mimpinya dari siapapun, termasuk dari Pandhu dan Kunthi. Setelah pesta empat bulanan selesai, Pandhu, Kunthi dan Madrim pun pulang ke Hastinapura.

Tiga bulan kemudian, terjadi sebuah keributan besar antara pasukan Goagra dan Mandura. Prabu Basudewa dibantu Prabu Bhismaka, dan Prabu Satyajid berusaha mengendalikan keributan itu. Lalu, datanglah seorang anak remaja tinggi besar berusia tiga belas tahun ke keraton Mandura. Sang pemuda itu mengaku bernama Kangsa, anak Dewi Maherah. Dia ingin dminta diakui sebagai putra Prabu Basudewa. “Mohon maaf, gusti Prabu. Maaf bila saya lancang. Perkenalkan, nama hamba Kangsa. aku adalah putra gusti dengan ibu Dewi Maherah yang pernah gusti prabu usir. Aku meminta hak untuk diakui sebagai putramu, gusti prabu!” Prabu Basudewa tiba-tiba teringat akan kata-kata Batara Wisnu tentang sosok putranya yang diramalkan akan membawa angkara murka. Prabu Basudewa menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan “Baiklah, aku akan mengakuimu sebagai putraku bila kau berhasil mengalahkan pasukan Goagra.” Tanpa ba-bi-bu lagi, Kangsa langsung ke medan perang. Seakan seperti dikode oleh Kangsa dan melihat kekuatan Kangsa yang hebat, pasukan Goagra berhasil dipukul mundur oleh Kangsa. Prabu Basudewa, Prabu Bhismaka,dan Prabu Satyajid kaget bukan kepalang. Prabu Bhismaka mengingatkan lagi “Kakang prabu, kita harus tetap waspada. Awasi anakmu yang satu ini” Prabu basudewa lalu berkata “baiklah, adhi Bhismaka. Tetap waspada. Kita tidak tahu apa niatnya selanjutnya.” Pada akhirnya, terpaksalah Prabu Basudewa mengakui Kangsa sebagai putranya dan diberi kedudukan di kadipaten Sengkapura sebagai adipati. Pada suatu hari, Kangsa berbincang-bincang pada ayahnya tentang adik-adik tirinya yang belum lahir “ayahanda, aku ingin mengasuh adik-adikku di Sengkapura. Aku merasa adik-adikku kelak akan jadi orang hebat. Akan ku perlakukan mereka layaknya pangeran dan putri dari kahyangan.” Prabu Basudewa berkata “anakku, kau masih muda. Belum mengerti caranya mengasuh anak. Menikahlah terlebih dahulu barulah kamu mengerti cara mengasuh anak.” Kangsa berkata dengan nada sedikit meninggi “Ayahnda, Aku Sudah Menikah. Sudah Menjadi Suami Dan Tak Lama Lagi Isteriku, Dewi Asti Akan Melahirkan. Jika isteriku tak mampu, masih banyak mbok-emban di Sengkapura yang bisa menyusui adik-adikku.” Prabu Basudewa berkata “hmm...akan ayahnda pikirkan lagi.” Ya sebenarnya Basudewa tahu apa niat Kangsa sebenarnya, ialah ingin menghabisi adik-adik tirinya karena ia mendapat ramalan kelak ia akan dijatuhkan dan dihabisi oleh keturunan Trah Mandura.

Singkat cerita, datanglah hari persalinan bagi Dewi Rohini. Prabu Basudewa khawatir dengan nasib anak dan isterinya. Untungnya Kangsa sedang berkunjung ke Giribajra. Para mbok emban segera mengungsikan Dewi Rohini ke dukuh Gokula. Dengan cepat, mereka menarik perahu tambang menyebrangi Bengawan Yamuna sebelum Kangsa dan pasukannya menyadari hal tersebut. Lalu dengan siasat salah seorang abdi istana kepercayaan sang prabu datang meminta bantuan “gusti prabu, bantulah hamba. Saudari hamba baru saja meninggal saat melahirkan bersama bayinya. Bantulah hamba membiayai upacara ngaben untuknya.” Prabu Basudewa mendapat akal. Kangsa pun diperdaya dengan kabar bahwa Dewi Rohini meninggal saat melahirkan bersama bayinya. Kangsa yang terpedaya percaya saja malah memimpin upacara ngaben sang ibu tiri. Di saat yang sama dengan upacara ngaben itu, Dewi Rohini yang telah sampai di hutan Gokula ditolong oleh Nanda Antagopa dan penduduk Gokula. melahirkan seorang anak yang tampan. Oleh sang ibu, anaknya itu dinamai Balarama. Namun kerna sang ibu melahirkan saat pindah tempat di pengungsian ia juga dikenal sebagai sang Kakrasana.

Lalu beberapa hari kemudian ketika Kangsa sedang berada di Mandura, Dewi Dewaki dan Dewi Badrahini akan segera melahirkan. Angin dan hujan badai turun dengan derasnya. Petir menyambar-nyambar. Tanpa disadari siapapun, secercah cahaya merasuk ke dalam kandungan Dewi Badrahini. Bersamaaan dengan hal itu, terjadi keajaiban. Kangsa dan pasukannya bahkan hampir semua dayang dan emban mendadak dilanda kantuk yang hebat malam itu lalu mereka semua jatuh tertidur. Dewi Dewaki melahirkan seorang putra yang tampan berkulit gelap kehitaman.

Basudewa mengungsikan Narayana
Prabu Basudewa menamai putranya Raden Kresna karena kulitnya yang gelap kehitaman, namun karena juga teringat bahwa putranya adalah titisan Batara Wisnu, maka ia juga memanggilnya sebagai Bambang Narayana. Namun, ia tiba-tiba teringat kata-kata Batara Wisnu harus mengungsikan putranya ke Gokula. Dewi Dewaki memohon untuk memeluk putranya untuk terakhir kali sebelum berpisah. Dewi Badrahini yang masih pembukaan pertama segera menyuruh sang suami mengungsikan bayi Kresna “kakanda, cepat bawa Kresna ke Gokula. Biar Yunda Dewaki yang menjagaku.” . Dengan berat hati Basudewa segera menuju ke Gokula.

Singkat cerita, segeralah Prabu berangkat ke Gokula membawa putranya sendirian. Perjalanan Prabu Basudewa amat panjang dan melelahkan, Ketika sampai di pinggir Bengawan Yamuna, terjadi badai dahsyat. Air bengawan banjir dan mengalir sangat deras. Ombak bengawan menggeliat seakan saling sabung menyabung laksana diaduk-aduk. Prabu Basudewa yang kebingungan berdoa agar bisa menyebrang. Atas pertolongan dewata agung, munculah seekor ular naga penjaga bengawan Yamuna bernama Kaliya menolong Prabu Basudewa menyebrang. Seekor burung merak turut menyertai mereka dengan terbang sebagai penunjuk arah. Setelah tiba di desa Gokula, badai berhenti, hujan pun mereda. Ular Naga kaliya kembali ke Bengawan Yamuna. Burung merak juga kembali ke hutan. Tak lupa, merak itu memberikan sehelai bulu ekornya dan meletakkan bulu itu di kepala bayi Kresna. Setelah berjalan hampir separuh malam, sampailah Prabu Basudewa di rumah Nanda Antagopa dan Niken Yasoda yang juga dipanggil Niken Sagopi oleh penduduk desa. Setelah membukakan pintu, Nanda Antagopa bertanya sambil berbasa-basi “Gusti Prabu Basudewa, ada keperluankah datang kesini malam begini? Dan inikah putramu gusti prabu? Sungguh tampan” Prabu basudewa menerima sanjungan Nanda “Terimakasih, Nanda. Tak usahlah kau panggil aku Gusti Prabu, panggil saja kakang. Kita sudah bersahabat sejak lama. Aku kesini untuk meminta bantuanmu dan Yasoda untuk mengasuh putraku. Bagaimana isteriku Rohini dan anaknku darinya?” Nanda Antagopa bertanya lagi “isterimu baik-baik saja. Bahkan anakmu dari dinda Rohini telah lahir sehat.” Prabu basudewa bersyukur sekali. Lalu ia mendekati Niken Yasoda “Yasoda, bagaimana kabar anak kita, Udawa?” Niken Yasoda yang sedari tadi melamun terkejut dan lalu berkata dengan canggung “Udawa baik-baik saja bahkan sekarang ia mengasuh Balarama, anak tuanku dari dinda Rohini.” Sebenarnya sebelum menikahi keempat isterinya, Basudewa muda pernah terlibat skandal dengan Yasoda sehingga melahirkan seorang anak bernama Udawa. Bahkan bukan hanya dengan Basudewa, kedua adiknya yakni Bhismaka dan Setyajid pernah juga membuat hal yang sama sehingga juga melahirkan anak-anak yakni Larasati dari Bhismaka dan si kembar Pragota dan Hadimanggala dari Setyajid beberapa hari yang lalu. Nanda Antagopa lalu kembali membuyarkan perasaan canggung itu dengan menanyakan maksud Basudewa “lalu, Apa gerangan yang terjadi sehingga gusti ehh kakang mau menyerahkan tugas ini pada kami?”. Prabu Basudewa menghela nafas lalu menceritakan segalanya, mulai dari garis nasib anak keturunannya hingga ancaman Kangsa, putra haram Dewi Maherah. Nanda Antagopa dan Niken Yasoda merasa tidak keberatan malah merasa ini menjadi suatu kehormatan besar bisa mengasuh para putra Mandura. Setelah menyerahkan putra-putrinya, Prabu Basudewa kembali ke keraton Mandura. Mulai hari itu, para putra Prabu Basudewa diasuh oleh Nanda Antagopa dan Niken Yasoda diantara para petani dan penggembala di Gokula.

Setelah mengantarkan bayi Kresna, ia segera menemui Dewi Badrahini. Tepat waktu, dengan berjalan tertatih-tatih, Dewi Dewaki mengabarkan pada suaminya jika anak Dewi Badrahini barus saja lahir. Dewi Badrahini melahirkan putri yang cantik berkulit gelap manis seperti gula jawa. namun di saat bersamaan Kangsa datang merebut sang adik dari tangan Dewi Badrahini “akhirnya, adikku telah lahir..akan aku rawat dia.” Prabu Basudewa meminta Kangsa untuk mengembalikan jabang bayi Dewi Badrahini, tapi Kangsa menolak malah mendorong ayahnya itu hingga jatuh. Dewi Dewaki dan Dewi Badrahini pun menangis melihat sang jabang bayi dibawa pergi begitu saja. Di depan mata ayah dan dua ibu tirinya, Kangsa melemparkan si jabang bayi itu tinggi-tinggi, lalu dengan tanpa rasa bersalah Kangsa  berkata “ramalan dewa akan aku patahkan! Sekarang anak ini akan mati di tanganku!” Kangsa pun melemparkan si orok yang masih merah ke dinding. Mendadak terjadi keajaiban, si jabang bayi lalu bertukar wujud menjadi sesosok dewi bertangan banyak, wajah yang mengerikan. Semua orang segera memberi hormat, kecuali Kangsa yang merasa ketakutan. Sang Dewi itu dikenal sebagai Batari Yogamaya, bentuk welas asih dari batari Durga Mahakali lalu berkata dengan penuh kemarahan “Hei Orang Berdosa! Dosamu Sudah Terlalu Banyak dan Tak Terampuni! Jangan Kira Para Dewa Akan Tutup Mata? Keangkaramurkaanmu Akan Segera Tumbang! Anak–Anak Yang Akan Menjadi Sebab Kematianmu Sudah Berada Di Tempat Yang Aman!”

Penampakan Dewi Yogamaya 
Kangsa merasa ngeri kemudian ia jatuh pingsan. Secara ajaib, Batari Yogamaya berubah kembali sebagai cahaya lalu mendekati Basudewa dan membawa anak bayi yang dilahirkan Badrahini lalu berpesan “Basudewa, anakmu baik-baik saja. Sekarang segera bawa anakmu ini juga ke Gokula! Kau tak perlu khawatir tentang keselamatanmu dan para isterimu. Aku akan melindungimu dan mereka.” Dengan kekuatan perlindungan dewi, Basudewa berhasil menyebarangi Bengawan Yamuna yang masih banjir dan kembali menemui Nanda Antagopa meminta menjaga putrinya itu. Nanada Antagopa dengan senang hati menerimanya. Sebelum kembali ke Mandura, Prabu Basudewa berpesan agar sang anak gadis anak Dewi Badrahini itu diberi nama Sumbadra alias Bratajaya. Sejak saat itu Sumbadra diasuh bersama kedua kakaknya. Karena kulitnya yang hitam manis, Niken Yasoda memanggil Sumbadra sebagai Rara Ireng.

Jumat, 12 Juli 2024

Sarpa Yadhnya (Parikesit Lena/Mahabarata Kawedar)

Hai semua pembaca dan penikmat kisah-kisah pewayangan! Setelah hampir satu bulan vakum, penulis kembali bisa menulis kisah-kisah pewayangan dan kali ini penghabisan terakhir Mahabarata, jadi Kisah mahabarata resmi selesai. Kisah kali ini mengisahkan kelahiran Resi Astika, perlakuan tidak sopan Prabu Parikesit kepada Begawan Samiti yang berakhir dengan kematian Prabu Parikesit karena gigitan Naga Taksaka. Kisah diakhiri dengan Resi Astika menghentikan sesaji kurban ular yang dilakukan Prabu Udrayana dan diwedarkannya isi Kisah Mahabarata. Sumber kisah ini adalah Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, https://id.wikipedia.org/wiki/Parikesithttps://id.wikipedia.org/wiki/Adiparwahttps://metrobali.com/negeri-terbelit-naga-taksaka/, https://id.wikipedia.org/wiki/Jaratkaruhttps://en.wikipedia.org/wiki/Manasa, dan sumber-sumber lain di internet.

Alkisahnya, Dewi Manasa, putri Batara Guru yang diaku sebagai adik Batara Basuki dan Naga Taksaka, putra Dewi Kadru tinggal di sebuah hutan yang jauh di pedalaman. Di gubuknya yang indah, hidup bersama para ular. Dewi Manasa adalah anak jelmaan racun Halahala Kalakota yang dahulu ditelan Batara Guru saat pengadukan Samuderamanthana. Ketika ia turun ke bumi, ia bertemu seorang pertapa bernama Begawan Jaratkaru. Begawan Jaratkaru terlihat dalam kondisi kepayahan seperti kelelahan. Dewi Manasa menolong sang begawan yang tengah kelelahan itu. Dewi Manasa lalu bertanya “ampun resi agung, kenapa kau bisa sepayah dan selelah ini? Apakah tuanku tidak makan apapun?” Bukankah di hutan ini banyak bahan makanan yang bisa kau konsumsi?” Jaratkaru berkata “ hai wanita cantik, aku pergi seorang diri mengembara dan mengunjungi berbagai tempat suci dan petirtaan. Bahkan aku berpantang untuk makan dan tidur, serta hanya mengandalkan udara semata untuk bertahan hidup, hingga akhirnya aku berusia tua seperti sekarang ini.” Lalu Dewi Manasa menghidangkan makanan dan minuman untuknya namun ia menolak makan. Ia hanya menenggak secawan besar air untuk mengganjal perutnya.

Begawan Jaratkaru dan Dewi Manasa
Setelah dirasa kenyang, Begawan Jaratkaru lalu melanjutkan ceritanya. Begawan Jaratkaru bercerita “dalam perjalananku, aku mencium bau wangi akar narwastu lalu aku mencium sumber wangi itu berasal dari sebuah pohon dengan lubang besar menganga di bawahnya. Aku melihat sukma ayah, ibu, kakek, nenek, dan para leluhurku sedang tergantung dengan posisi kepala menghadap bawah, yang terdapat sebuah lubang mengarah ke neraka. Kaki mereka terikat dengan tali dari jalinan rumput wangi (akar narwastu) yang digerogoti oleh tikus. Mereka mencaciku yang memutuskan untuk membujang selamanya sehingga mengakhiri garis keturunan. Mereka lalu membujukku untuk menikah dan melanjutkan keturunan agar bisa berangkat ke swargamaniloka.”  Dewi Manasa kemudian tertarik dengan kisah sang begawan dan meminta melanjutkan ceritanya.  Namun setelah didesak, sang begawan melanjutkan. Begawan Jaratkaru berkata “Pada awalnya aku menolak untuk mengikuti bujukan mereka, tetapi aku terus dirayu-rayu dan akhirnya akhirnya aku menyanggupi dengan syarat: pertama, wanita yang dipilihnya harus bersedia menikah atas kemauan si wanita sendiri dan yang kedua, si wanita bersedia untuk tidak dinafkahi lahir olehku. Dalam kondisiku yang kian tua dan miskin, aku terus berkelana untuk mencari pasangan yang sesuai keinginanku. Saat berada di dalam hutan, aku berdoa tiga kali untuk memohon pasangan hidup demi menunaikan janjinya kepada leluhur. Tapi setelah tiga kali aku berdoa, tetap saja Dewata diam saja. Aku frustrasi, sedih, marah, kecewa...campur aduk sudah rasanya...usahaku terasa percuma dan sia-sia. Aku pun pergi kabur kanginan hingga sampai seperti ini.” Dewi Manasa pun merasa inilah mungkin yang dikatakan sang kakak dahulu “kelak akan datang seorang perjaka tua yang putus asa dan akan menjadikanmu pasangannya. Kelak darinya pula, akan lahir seorang anak yang cerdas dan bisa membantu hubungan baik antara para naga dan manusia.” Dewi Manasa pun berkata “ tuanku, ambillah diriku sebagai pasanganmu. Nikahilah aku. aku bersedia dengan hati rela dan ikhlas. Aku bersedia tidak kau nafkahi secara lahir. Cukup menjadi pasanganmu sudah membuatku bahagia.” Begawan jaratkaru pun tak percaya dengan yang diucapkan Manasa. Ia akhirnya menemukan orang yang ia cari-cari dan itu sesuai dengan kriterianya. Singkat cerita, di tengah hutan yang indah itu, digelarlah pernikahan antara Begawan Jaratkaru dan Dewi Manasa. Datang pula Batara Guru, Batari Durga, dan Batara Basuki memberkahi pernikahan sang putri. Setelah menikah, Jaratkaru tinggal di gubuk istrinya. Begawan Jaratkaru memperingatkan istrinya bahwa ia akan minggat apabila sang istri mengecewakannya dua kali, sehingga Manasa melayani suaminya dengan penuh perhatian. Benar saja, selama tinggal di sana, sang begawan asik terlarut dalam semadhinya. Jarang sekali ia menggauli isterinya itu atau membantunya dalam hal rumah tangga. Meski demikian, Dewi Manasa memang isteri berbakti. Keinginan suami dituruti. Sepanjang hari ia juga banting tulang mencari kayu bakar, bahan makanan, dan menyiapkan segala keperluan suaminya.  Seiring berjalannya waktu, Manasa pun hamil. Hal itu membuat keduanya bahagia bukan main dan setelah sembilan bulan lamanya mengandung, akhirnya lahir seorang anak lelaki. Nama anak itu ialah Bambang Astika.

Segalanya baik-baik saja sehingga semakin lama beban Manasa semakin berat. Sesabar-sabarnya isteri tapi jika dapat pria yang cuma bisa menumpang hidup rasanya menyiksa. Lelah dan letih rasanya. Pada suatu pagi, Dewi Manasa kelelahan karena sepanjang hari sebelumnya ia kelabakan harus mengurus rumah, merawat Astika, dan menyiapkan segalanya untuk sang suami sendirian tanpa pembantu atau teman sehingga Dewi Manasa ketiduran dan bablas sampai siang. Jaratkaru pun ikut bangun kesiangan sehingga ia melewatkan pamujan trisandhya pagi. Sang begawan murka dan terjadilah pertengkaran. Begawan Jaratkaru pun mengancam untuk mengusir sang isteri ke neraka karena dianggap sebagai istri yang lalai. namun akhirnya ia berhasil ditenangkan oleh Batara Surya. Batara Surya memberikan nasehat “Jaratkaru, kau harusnya malu pada dirimu yang malas! Kau harusnya bersyukur punya isteri berbakti dan baik hati. Jangan hidup serba enak menumpang tanpa beban. Dunia ini bukan sekadar kegiatan rohani tapi juga jasmani. Keegoisanmu di masa lalu telah memberatkan hidup orang lain!” Begawan Jaratkaru pun meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sejak itu, Begawan Jaratkaru bersedia melepas kriteria isterinya yakni ia bersedia menafkahi Manasa lahir dan batin. Begawan Jaratkaru kembali hidup dengan penuh kerja keras. Sekarang selain bersemadhi, kini Jaratkaru lah yang bertugas mencari kayu bakar dan mengambil air, sementara Manasa cukup mengurus Astika kecil dan membersihkan rumah. Hari-hari yang dilalui Begawan Jaratkaru dengan normal. Namun karena usia Jaratkaru yang memang sudah tua, ia merasa kelelahan tak kuat membawa beban berat. Hal itu membuatnya gampang capek dan akhirnya pada suatu hari, karena saking lelahnya, ia ketiduran. Pada saat itu, sang resi tertidur di pangkuan istrinya setelah lelah mencari kayu bakar. Sang begawan tertidur lelap sangat sehingga sudah hampir tiba waktunya matahari terbenam yang artinya sebenta lagi masa untuk melakukan pamujan trisandhya sandekala. Di dalam tidurnya, Jaratkaru mendapat penglihatan dari para dewa-dewi bahwa sebentar lagi ia harus pergi meninggalkan isterinya. Sementara itu, Manasa menghadapi dilema. Ia bingung untuk memilih apakah lebih baik membangunkan suaminya, atau membiarkan suaminya tertidur sehingga melewatkan trisandhya sandekala. Akhirnya Manasa memilih pilihan yang pertama. Ia berbisik di telinga suaminya agar terbangun untuk menyiapkan sesajen. Tindakan tersebut membuat sang resi marah. Ia berkata bahwa matahari tidak akan berani untuk terbenam sebelum Jaratkaru melaksanakan pamujan. Jaratkaru pun meninggalkan Manasa, meskipun sang istri telah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. "Hai suamiku, maafkan dinda! Bukan maksud dinda menghina kakanda, saat aku membangunkan kakanda. Dinda  hanya mengingatkan saat sembahyang kakanda, tiap senja. Salahkah itu, apakah aku harus menyembah kakanda? Seyogyanyalah engkau kembali ... kakanda. Karena aku telah melahirkan, anak kita ini akan menghapuskan korban ular bagi saudara-saudaraku, dan kakanda dapat membuat tapabrata lagi." Mulai dari hari itu, pernikahan antara Begawan Jaratkaru dengan Dewi Manasa sang putri ular berakhir. Anak tersebut dipeliharalah oleh Batara Basuki, dididik serta diasuh menurut segala apa yang diharuskan bagi brahmana, dirawat dan diberi kalung brahmana. Dengan lahirnya Bambang Astika, maka arwah yang menggantung di ujung bambu itu dapat melesat pulang ke alam kelanggengan, menikmati pahala tapanya, yaitu tapa yang luar biasa. Patuhlah Astika, sehingga dapat membaca Weda. Diijinkannyalah dia untuk mempelajari segala sastra, mengikuti ajaran Bhrgu. Bambang Astika tinggal dengan ibu dan pamannya sampai beberapa lama sehingga Astika sudah cukup umur. Setelah remaja, Dewi Manasa harus kembali ke kahyangan bersama kedua kakak angkatnya, Batara Basuki dan Naga Taksaka. Bambang Astika pun pergi berkelana. Setelah cukup ilmu, ia mengajar ilmu dan hikmah lalu mendirikan padepokan di pinggir Wanamarta.

Pada suatu ketika, Prabu Parikesit sedang pergi berburu di hutan Wanasengkala. Di sana ia berhasil mendapatkan bidikan seekor kijang namun karena panahnya tidak benar-benar melukainya, kijang itu berhasil kabur dan menghilang di balik kegelapan hutan. Prabu Parikesit pun mengejarnya dan tak menemukannya. Lalu di dekat sebuah pohon beringin besar, ada sebuah gubuk tua. Gubuk itu nampak reot dan rusak. Bahkan saking reotnya, beberapa ekor tikus dan juga tampak sebuah liang tempat ular bersarang di sana. Prabu Parikesit berhasil mengusir tikus-tikus tersebut dan membunuh ular yang ada di dalam liang itu. setelah membereskan gubuk itu, Prabu Parikesit beristirahat. Ketika ia masuk ke dalam gubuk, ia baru sadar kalau gubuk ini ada yang menempati. Yaitu seorang pertapa. Prabu Parikesit mengenali pertapa itu, ialah Begawan Samiti. Gubuk ini ternyata tempat tinggal begawan Samiti. Karena terlalu  kelelahan, tanpa izin sang begawan Prabu Parikesit pun langsung beristirahat setelah lelah melakukan perburuan. Ketika itu Begawan Samiti sedang melakukan tapa mbisu. Karena masih kepikiran soal buruannya yang hilang, Parikesit pun bertanya “ampun Bapa, adakah Bapa tau mana seekor kijang lewat rumah bapa? Itu buruan patik yang berhasil kabur.” Begawan Samiti hanya bergeming, diam membisu. Tak ada sepatah kata dua kata terucap dari bibir sang begawan yang kering itu, karena pantang berkata-kata saat bertapa apalagi tapa ini jenis tapa mbisu.

Prabu Parikesit mengalungkan bangkai ular di leher Begawan Samiti
Berkali-kali prabu Parikesit meminta sang begawan menjawab pertanyaannya namun hanya hening yang ada. Sang begawan tetap saja diam. Setelah pertanyaannya berkali-kali tidak digubris, Prabu Parikesit merasa dongkol hati “Dasar Begawan Bodoh! Kau Ini Benar-Benar Bisu Tuli dan Hanya Suara Nafasmu yang Ku Dengar!? Suara Hela Nafasmu Seperti Desisan Ular!!”  Dengan penuh kemarahan Prabu Parikesit mengambil bangkai ular yang tadi ia bunuh lalu dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke leher Begawan Samiti. Prabu parikesit pun pulang ke Hastinapura dengan perasaan dongkol dan kecewa.

Salah seorang murid Begawan Samiti yakni Wasi Kresa baru saja kembali dari berburu dan mendengar seseorang marah-marah. Ia lalu mendekat ke gubuk dan menyaksikan tindakan tidak sopan Prabu Parikesit dengan mengintip dari balik celah gedhek (dinding anyaman bambu). Wasi Kresa pun pergi mengendap-endap meninggalkan gubuk sebelum sang prabu menyadari keberadaannya. Singkat cerita, Wasi Kresa datang ke rumah putra Begawan Samiti yakni Resi Srenggi. “Den bagus! Den Bagus Srenggi! Buka pintunya, den! Ini aku Kresa! Resi Srenggi pun membuka pintu dan menenangkan Wasi Kresa “Hei Kresa, tenang dulu.... ada apa kok nampak terburu-buru?” lalu Wasi Kresa menceritakan kejadian yang ia saksikan tadi kepada sang putra Samiti tersebut.  Resi Srenggi kaget dan segera pergi ke rumah bapaknya dan melihat ayahnya sendang bertapa bisu namun telah berkalungkan bangkai ular dan ada anak panah milik Prabu Parikesit di dekatnya. Resi Srenggi sangat murka lalu menyumpahi Prabu Parikesit “Parikesit! Dasar Raja Bodoh! Orang Sedang Bertapa Malah Kau Perlakukan Tidak Hormat! Aku Sumpahi Kau Akan Mati digigit Ular Tujuh Hari Dari Sekarang!”Sumpahan Resi Srenggi diiringi suara gelegar halilintar dan kelit yang menyambar-nyambar menakutkan. Begawan Samiti terbangun dari tapa bratanya dan merasa kecewa terhadap perbuatan putranya tersebut “Srenggi?!” bentak Begawan Samiti. resi Srenggi pun menoleh dan melihat sang ayah sudah bangun “ampun, bapa...jangan hukum daku...anak mana yang tidak sakit hati yang melihat ayahnya diperlakukan tidak adil, apalagi oleh seorang raja!” Begawan Samiti lalu berkata “kesabaranmu belum di tahap puncak, Srenggi! kau sudah berani mengutuk raja yang telah memberikan kita tempat berlindung. Kita bisa hidup di negaranya sudah bersyukur!” lalu Begawan Samiti meminta Resi Srenggi menyucikan pikirannya dahulu. Akhirnya Samiti berencana untuk membatalkan kutukan putranya. Ia lalu mengutus muridnya yang tak lain Resi Utangka. Resi Utangka sebelumnya pernah berguru kepada Begawan Weda, murid Begawan Dhomya. Resi Utangka pun datang kepada Prabu Parikesit di Hastinapura. Sesampainya di istana, Patih Harya Dwara bersama ketiga putra Parikesit yakni Raden Janamejaya (Udrayana), Raden Indrasena (Ramayana), Raden Ramasena (Ramaparwa), lalu diikuti Tumenggung Wisangkara, dan Panglima Wiratmaka bersama para keturunan Pandawa lainnya menyambut Resi Utangka dengan hormat. Resi Utangka pun membeberkan apa tujuannya datang ke hastinapura “ampun gusti Paduka, kedatangan patik kemari untuk Paduka agar datang kembali ke pertapaan guru saya, Begawan Samiti. Putra guru, den bagus Srenggi telah mengutuk pasu Paduka agar mati karena gigitan ular karena perbuatan paduka. Karena itulah , paduka telah diundang guru ke pertapaan demi melindungi diri Paduka.” Resi Yodeya, yang tak lain ayah dari Endang Yodini mendukung apa yang dikatakan Resi Utangka “anak prabu, baiknya kau datang penuhi undangan Begawan Samiti.” Lalu kakek Semar memberikan petunjuknya “hmm...ndoro prabu... dengarkanlah Den bagus Resi Utangka dan den bagus  Yodeya... ini demi kebaikan ananda prabu.” tetapi sang raja menjaga gengsi dan malu saat mendengar tawaran begawan Samiti, Resi Yodeya, dan Kakek Semar. Ia memilih untuk berlindung “tidak, tuan resi...aku malu jika harus bertemu dengan gurumu. Gurumu terlalu baik untukku. Aku akan melindungi diriku di balik tembok istana yang kokoh ini.” Maka hari itu segera dibangun tembok besar dan menara mengelilingi istana dan dalem puri. Selama beberapa hari itu, penjagaan semakin ketat dan jalan juga lorong menuju kamar sang raja Hastinapura juga dilengkapi oleh perangkap-perangkap mematikan. Sang raja mengisolasi dirinya sendiri demi terhindarkan dari kematian. Di sekeliling menara juga telah siap para tabib yang ahli menangani bisa ular.

Di tempat penyucian diri, Resi Srenggi masih merasa marah kepada Prabu Parikesit kemudian ia berdoa memanggil para naga dan ular. Tak lama kemudian, datang dari langit, seekor naga sakti terbang  ke arahnya, yaitu naga Taksaka. Naga Taksaka pun bertanya kepada sang resi “ada apa kiranya Resi memanggilku?” “hamba memanggil tuanku karena suatu tugas. Tugas dari hamba ialah menghabisi Prabu Parikesit karena dia telah menghinaku dengan mengalungkan bangkai dari bangsa tuanku di leher ayahku seakan-akan hendak menantangku.” Naga Taksaka merasa diatas angin “kebetulan sekali tuanku memenggil saya. Saya juga ada dendam pribadi dengan Arjuna dan keturunannya karena pernah mengusirku dahulu. Apapun keingiananmu akan aku kabulkan.” Maka berangkatlah Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintahnya menggigit raja Parikesit. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Prabu berada dalam menara tinggi di tengah kamarnya dan dikelilingi oleh prajurit, brahmana, dan ahli bisa. Naga Taksaka pada awalnya mengalami kesulitan untuk menjalankan perintah itu. 

Akhirnya pada hari ketujuh, yaitu hari yang diramalkan menjadi hari kematiannya sang Prabu, naga Taksaka meminta saudaranya yakni Naga Kaliya untuk menyamar menjadi seorang pelayan dan dia akan menyamar menjadi ulat dan masuk ke dalam buah jambu yang dihaturkan kepada Sang Prabu. Pelayan jelmaan naga Kaliya pun masuk ke kamar sang prabu “ampun paduka, ini saya pelayanmu....hamba datang memberikan makanan untuk makan malam hari.” Prabu Parikesit pun berkata di tangga rahasia menara. “letakkan makanannya di depan pintu tangga. biar aku yang mengambilnya sendiri.”  Setelah pelayan itu pergi, Prabu Parikesit membuka pintu tangga. Ia pun melihat keluar jendela, hari sudah hampir gelap. Prabu parikesit pun mengambil buah jambu itu sambil berkata mengejek “ahahaha...sudah hampir malam dan hari akan berganti...sumpah Srenggi sudah tawar karena kecerdasanku menghindari kematian. Ah..aku lapar.... aku makan saja jambu ini.”

Parikesit Lena
Pada saat Prabu Parikesit menyantap jambu yang dihidangkan, Tiba-tiba seekor ulat keluar dari buah itu dan lalu berubah wujud kembali sebagai Naga Taksaka. Prabu Parikesit kaget dan ketakutan. Ia berlarian ke sana kemari. Suara minta tolong terdengar lantang namun sudah terlambat. Kutukan tersebut menjadi kenyataan., naga Taksaka melilit tubuh sang raja, menggigit dan menyuntikkan bisa racunnya. Tubuh sang prabu pun perlahan terbakar dan perlahan meleleh oleh bisa panas dan korosif milik Taksaka. Naga Taksaka pun terbang menembus atap menara istana dengan gembira hati karena dendamnya dan dendam resi Srenggi telah terbalaskan.

Orang-orang di istana melihat di kejauhan kamar raja terbakar. Raden Janamejaya bersama lainnya menuju ke kamar itu. Perangkap-perangkap maut di lorong kamar ayahnya segera di-nonaktikan. Ketika memasuki kamar, benar kamar itu terbakar tapi api itu tidak menyebar, hanya terpusat di satu tempat yakni di dekat pintu tangga menara. Di sana ia tidak melihat ayahnya melainkan hanya mahkota dan pakaiannya saja tergeletak dan di dekatnya ada setumpuk abu juga beberapa sisik ular naga. Raden Janamejaya sangat sedih karena ayahnya telah tewas digigit naga sama seperti yang dikatakan Resi Utangka tujuh hari yang lalu. Setelah tujuh hari perkabungan, Raden Janamejaya dilantik sebagai raja Hastinapura. Ia pun memakai nama saat pengembaraannya yakni Prabu Udrayana.

Setelah menjadi raja, Prabu Udrayana melakukan sesaji Aswamedha (kurban kuda) dan menaklukan kembali kerajaan Gandaradesa lalu datanglah lagi Resi Utangka. Di sana mereka melepas rindu. Prabu Udrayana lalu bercerita “Resi...ketahuilah setelah ayahnda meninggal karena Naga taksaka beberpa bulan yang lau masih menyisakan trauma padaku dan keluarga. Apa salah ayahnda sampai harus menerima kutukan itu?” Resi Utangka lalu membeberkan alasan dibalik kematian Prabu Parikesit“gusti paduka, ketahuilah paduka bahawa kematian ayahanda paduka karena dulu Naga Takska punya dendam pada keluarga paduka dan dendam itu mendapat jalan lantaran Resi Srenggi.” Prabu Udrayana terhenyak “apa maksudmu, resi?” Resi Utangka lalu menjelaskan “ paduka, sebenarnya karena setelah mengutuk, den bagus Resi Srenggi juga mengutus naga Taksaka untuk menghabisi ayahnda paduka.” Prabu Udrayana menjadi marah mendengarnya. Ia pun berlalu pergi.

Singkat cerita, sekembalinya dari Gandaradesa, Prabu Udrayana berbincang dengan para sesepuh “para tumenggung, patih dan paman-pamanku sekalian. Aku telah mendengar penjelasan dari Resi Utangka bahawa ayahanda meninggal karena ulah Naga Taksaka yang punya dendam pribadi pada keluarga kita. Aku akan mengadakan upacara sesaji Sarpa Yadhnya, sesaji untuk membunuh semua ular dan naga demi ketenangan ayahnda.”  Para sesepuh kaget mendengarnya. Lalu adik pertama sang prabu yakni Raden Indrasena menyampaikan pendapatnya “kakang prabu, apa tidak terlalu berlebihan? Hanya karena satu ular naga yang bersalah, semua harus dikorbankan? Ingat kakang, ular juga punya peran penting di dunia sebagai pembasmi hama tikus. Raja naga Anantaboga juga adalah kakek canggah kita dari eyang Antareja.” Prabu Udrayana berkata “aku tidak peduli, dinda Indrasena. Karena gigitan ular pula ayah kita meninggalkan kita semua. Dinda Ramasena, cepat siapkan sarana upacara yadhnya !” Raden Ramasena hanya bisa menyanggupi “baik, kakang prabu. Perintahmu segera ku laksanakan.” Keputusan Udrayana sangat disesalkan oleh para sesepuh terutama oleh Arya Danurwenda, sepupu ayahnya yakni putra Antareja juga Tumenggung Wiratmaka, putra Irawan yang kakek dari pihak ibu adalah tumenggung istana Jangkarbumi, kerajaan para naga. Beberapa hari kemudian, Raden Indrasena dan Raden Ramasena menyiapkan segala kebutuhan upacara dan mengundang para pendeta, ajar, resi, dan ahli mantra untuk membantu proses upacara. Setelah sarana dan prasarana sudah lengkap, sang raja menyelenggarakan Sesaji Sarpa Yadhnya. Api di tungku pengorbanan berkobar-kobar. Dengan mantra-mantra suci yang dibacakan oleh para brahmana dan resi, beribu-ribu ular (naga) melayang di langit bagaikan terhisap dan lenyap ditelan api pengorbanan. Di istana Jangkarbumi, Arya Danurwenda juga pangeran ular naga merasakan dada dan kulitnya terbakar karena ia bisa merasakan kesakitan dan penderitaan para ular yang terbakar api yadhnya. Karena keadaan semakin tidak baik-baik saja, Arya Danurwenda segera memberitahu para sepupunya yakni Prabu Sasikirana, Tumenggung Wiratmaka dan Raden Antasurya. Setelah berkumpul di istana Jangkarbumi, semuanya kaget melihat tubuh Danurwenda yang dipenuhi luka bakar “Kakang Danurwenda, kenapa dengan tubuh kakang? Tubuh kakang terlihat gosong.” Tanya Antasurya. Danurwenda lalu berkata “ini karena ananda Prabu Udrayana melakukan sesaji Sarpa Yadhnya. Kalian kan tahu aku juga pangeran ular naga.” Prabu Sasikirana membenarkan “benar juga. Upacara ini tidak boleh diteruskan. Bisa-bisa semua ular dan naga di seluruh dunia habis.” “benar kakang, tapi apa yang bisa kita lakukan?” tanya Tumenggung Wiratmaka. Lalu datanglah bersama kakek Semar Arya Wisangkara membantu “kakang semua, mungkin aku bisa memberikan solusi!”  Prabu Sasikirana bertanya apa solusinya. Arya Wisangkara berkata bahawa mereka Kerajaan Nagaloka di kahyangan.

Singkat cerita,  para cucu pandawa ditemani kakek Semar terbang ke kahyangan bertemu Naga Taksaka. Sesampainya di kahyangan, angin panas tiba-tiba bertiup kencang. Arya Danurwenda semakin merasa kesakitan. Ia tak kuat lagi berjalan dan tubuhnya seakan-akan ditarik ke bawah ke arah api yadhnya yang menyala berkobar-kobar. Prabu Sasikirana segera menggendong sepupunya itu.

Naga Taksaka disedot kekuatan mantra Sarpa Yadhnya
Ketika sampai di istana Nagaloka, para cucu Pandawa melihat Naga Taksaka mengalami hal yang sama seperti Danurwenda. Tubuh sang naga menjadi lemah dan seakan tersedot, ditarik kekuatan mantra api yadhnya. Prabu Sasikirana, Arya Wisangkara, dan Raden Antasurya segera menolong sang naga. Naga Taksaka bertanya “hei keturunan pandawa, apa yang kalian lakukan disini?” raden Antasurya berkata “naga Taksaka, bantu kami untuk menghentikan sesaji kurban ular yang dilakukan ananda prabu Udrayana.” “benar, tuanku naga Taksaka. Hanya tuan yang bisa membantu kami.” Ucap Tumenggung Wiratmaka  Naga Taksaka lau menjawab “tidakkah kalian melihat, aku juga tidak bisa membantu. Aku ikut tersedot.....” belum sempat melanjutkan bicara, Naga taksaka terhisap angin panas semakin jauh. Untungnya saja, ia masih berpegangan pada jubah milik Sasikirana dan kebetulan ia sedang terbang. Naga Taksaka lalu teringat tentang keponakannya Bambang Astika. Naga Taksaka berkata pada para cucu Pandawa “cucuku, aku tahu siapa yang bisa membantu kita.” Dengan sisa kekuatannya, Naga Taksaka menyuruh Sasikirana turun ke Hutan Wanamarta. Maka turunlah mereka ke Hutan Wanamarta. Sementara, kakek Semar akan pergi ke tempat lain untuk menemui seseorang.

Tanpa disadari mereka, sukma Maharesi Abiyasa yang tak lain kakek canggah mereka yang ada di kahyangan memperhatikan mereka. Maharesi Abiyasa segera berdoa “ohh pukulun dewata, bantulah para cicit piutku agar bisa menyadarkan Udrayana.” Tak lama kemudian datanglah batara Ganesa “Abiyasa, aku telah datang menjawab doamu. Solusi untuk masalah ini akan aku tuliskan di dalam sebuah kitab. Kitab tentang leluhurmu, dirimu, dan keturunanmu akan kutulis secara terperinci.” Batara Ganesa segera menyiapkan daun-daun lontar dan menuliskan semua isi kitab itu, dimulai dari kisah para leluhur kerajaan Hastinapura, lalu dilanjutkan kehidupan kerajaan di Hastinapura dari Santanu hingga Abiyasa, kehidupan Dretarastra, Pandu Dewanata, dan Arya Widura beserta pernikahan mereka, kisah keluarga Yadawa, kelahiran Pandawa dan Kurawa, masa muda mereka, berdirinya Amarta, permainan dadu, pengasingan dan penyamaran, Bharatayudha hingga akhirnya pada pengorbanan ular. Semua ditulis dengan rinci tanpa satu bab pun terlewat. Dengan kecepatan daya ingat sang Batara Ganesa, Kitab Mahabarata pun berhasil dituliskan. Sukma Maharesi Abiyasa lalu turun ke bumi untuk memberikan kitab itu kepada salah satu muridnya yakni Begawan Wesampayana. Kala itu Begawan Wesampayana sedang tidur dan didatangi gurunya itu lewat mimpi “muridku yang terkasih...terimalah kitab ini dan sampaikan kepada Udrayana, cucu cicitku kisah tentang kakek buyutnya dan alasan kenapa Taksaka harus menghabisi Parikesit yang sebenarnya.” “baiklah guru....hamba terima kitab ini” tak lama, Begawan Wesampayana bangun dengan keringat bercucuran dan mendapati sebuah kitab. Kitab itu sama seperti yang diberikan sang guru lewat mimpi.lalu datang kakek Semar “Wesampayana! Kau ada di padepokan? Keluarlah, ini aku kakek Semar” Begawan Wesampayana pun keluar dari padepokannya. Ia menyambut sang punakawan yang telah menemani gurunya dan para Pandawa itu. Baegawan Wesampayana berceritera “kakek, tadi aku baru saja mendapat mimpi dari guru dan mendapat kitab Mahabarata yang Beliau dapat dari Kahyangan.” Kakek Semar pun ikut bercerita bahwa sekarang ada huru-hara di Hastinapura dan dan mungkin sang guru memberinya kitab itu untuk meredam huru-hara yang terjadi. Tanpa banyak waktu, berangkatlah mereka berdua ke Hastinapura dan tak lupa pula Begawan Wesampayana membawa kitab Mahabarata.

Sesampainya di hutan, Naga Taksaka segera memanggil sang keponakan. Lalu berdirilah seorang resi muda. Ia lah Bambang Astika atau sekarang ia dikenal sebagai Resi Astika. Sang pandita muda itu menyambut kedatangan mereka. “salam paman Taksaka. Dan kalian pasti para cucu Pandawa itu. suatu kehormatan bisa bertemu kalian.” Naga Taksaka dan lainnya menerima salam Resi Astika. Sang resi lalu betanya” ada apa paman taksaka dan para cucu Pandawa yang agung menemuiku?” Naga Taksaka menceritakan setiap kejadian dari awal hingga akhir. Naga Taksaka meminta bantuan kepada Astika untuk menggagalkan upacara sesaji Prabu Udrayana “keponakanku, setelah mendengar kisahku, aku minta tolong segera hentikan sesaji Sarpa Yadhnya milik Prabu Udrayana.”

Resi Astika menghentikan sesaji Sarpa Yadhnya
Resi Astika menerima tugas tersebut lalu pergi ke lokasi upacara sesaji. Di sana angin yang sangat panas berhembus sangat kencang menarik semua ular dan naga ke tengah api yang marak. Resi Astika lalu mendekati Prabu Udrayana. Ia menyembah-nyembah sang raja Hastinapura memohon agar Sang Raja membatalkan yadhnya “ampun Paduka Prabu, tolong hentikan upacara ini. Keseimbangan alam akan goyah jika bangsa ular tidak ada.” Prabu Udrayana bertanya “apa hubungannya ini denganmu? Memang siapa kau bernai meminta begitu?” Resi Astika menajwab “aku Astika, putra Dewi Manasa sang dewi ular. Kakekku Batara Guru dan Batari Durga. Pamanku Batara Basuki dan Naga Taksaka yang akan paduka habisi. Aku mohon dengan kemurahan hati paduka hentikan sesaji ini.” Sang Raja yang memiliki rasa belas kasihan terhadap Resi Astika luluh dan akhirnya membatalkan upacaranya. Sesaat setelah upacara dibatalkan para ular naga menunduk hormat kepada Resi Astika dan memohon maaf kepada Prabu Udrayana lalu mereka kembali ke hutan. Akhirnya, Resi Astika berterima kasih kepada sang raja lalu ia mohon diri untuk kembali ke padepokannya. Naga Taksaka, Arya Danurwenda, dan para ular, naga, beserta keturunan mereka pun selamat dari upacara tersebut.

Setelah Resi Astika menggagalkan upacara yang dilangsungkan sang raja, Prabu Udrayana dikunjungi oleh kakek Semar dan Begawan Wesampayana. Sang prabu menyambut kedatangan kedua orang kepercayaan kakek buyutnya itu. “anak prabu, kedatangan ku bersama begawan Wesampayana untuk meluruskan dan bernostalgia dengan kisah-kisah dari para leluhurmu.” Prabu Udrayana seketika itu merasa rindu kepada ayah dan kakek buyutnya. Ia memohon pada Begawan Wesampayana agar menuturkan kisah para leluhurnya “Wahai bapa Begawan, engkau telah melihat dengan mata kepalamu sendiri, tingkah polah para kakek buyutku, Kurawa dan Pandawa. Aku penasaran untuk mendengarkan sejarah mereka darimu. Apa sebab dari perpecahan di antara mereka yang diakibatkan oleh perbuatan luar biasa tersebut? Mengapa pula Perang Bharatayudha—yang menyebabkan kematian insan yang tak terhitung banyaknya—terjadi di antara para leluhurku, yang pikiran jernihnya dikaburkan oleh takdir? Wahai bapa Begawan yang mulia, ceritakanlah kepadaku segala hal yang terjadi sejelas-jelasnya.” Begawan Wesampayana pun menuturkan kisah panjang untuk sang raja, yaitu kisah para kakek buyutnya―Pandawa dan Kurawa. Sesuai keinginan Udrayana, Wesampayana memulai dari ikhtisar perseteruan antara Pandawa dan Kurawa. Kemudian kisah berlanjut tanpa kronologis dan meloncat-loncat karena mengikuti kehendak sang raja.

Begawan Wesampayana mewedarkan isi kitab Mahabarata
Maka dari itu percakapan antara Udrayana dan Wesampayana menentukan mana cerita yang didahulukan dan mana yang belakangan. Kilas balik yang tercatat meliputi kisah Prabu Sentanu dan Satyawati, kemudian kelahiran Karna dan Sri Kresna, kisah awal mula kehidupan Begawan Dorna, kisah para leluhur sang raja, yaitu Dusyanta, Shakuntala, dan putra mereka yakni Baharata, serta kisah kakek moyangnya yang bernama Maharaja Yayati yang menurunkan lima putra dan mendirikan lima suku besar. Lima suku tersebut diturunkan oleh Yadu, Tuwasu, Drahyu, Hanu, dan Puru. Leluhur Udrayana diturunkan oleh Puru. Garis keturunan berlanjut kepada keluarga keraton Hastinapura. Lalu berlanjut ke kisah leluhur maharesi Abiyasa, dimulai dari Resi Manumayasa, kemudian berlanjut ke putranya, Bambang Sekutrem yang menikahi putri prabu Baharata, Nilawati lalu Begawan Sakri, hingga pernikahan anak Sakri yakni Palasara dengan Satyawati hingga melahirkan Abiyasa, orang yang menjadi penyambung darah Baharata yang hampir putus karena Bhisma, anak Sentanu bersumpah hidup membujang. Dari Abiyasa lahirlah Drestarastra, Pandhu Dewanata, dan Arya Widura. lalu juga kisah Begawan Mandawya atau Animandaya dengan Begawan Dharmajaya yang membuat sang begawan Dharmajaya lahir sebagai Arya Widura. Kisah dilanjutkan ke kelahiran Pandawa dan Kurawa, lalu masa muda mereka, pembakaran rumah Bale Sigala-gala, pernikahan Pandawa dan Kurawa, pendirian Amarta, sesaji Rajasuya, permainan dadu dan pengasingan Pandawa hingga Perang Bharatayudha. Prabu Udrayana merasa terkesan dan akhirnya tau seluk beluk tentang keluarganya. Prabu udrayana lalu bertanya “Bapa Begawan, lalu bagaimana kisah hidup mereka selanjutnya?” Begawan Wesampayana lalu menceritakan kelahiran ayah Prabu Udrayana yakni prabu Parikesit, kutukan Dewi Gendari kepada Sri Kresna, Prabu Yudhistira menjadi raja, lalu kisah diakhiri dengan kemoksaan sesepuh Hastinapura, penghancuran Trah Yadawa, dan moksanya para Pandawa. Prabu Udrayana bersama seluruh keturunan Pandawa dan Kurawa lainnya terharu. Setelah disampaikannya kisah Mahabarata, begawan Wesampayana pun pamit pulang bersama kakek Semar dan para sesepuh lainnya. Sebelum pergi, begawan Wesampayana menyerahkan Kitab Mahabarata kepada sang raja dan hendaknya isi dari kitab itu disebarkan Sejak hari itu, Kisah Mahabarata menjadi kisah yang melegenda. Prabu Udrayana memerintah negeri dengan bijaksana. Setelah meninggalnya Prabu Udrayana beberapa puluh tahun kemudian, Hastinapura diperintah putra Udrayana yakni raden Shatanika yang bergelar Prabu Gendrayana. Khawatir kisah leluhurnya akan hilang karena kitab Mahabarata yang mulai lapuk, Kitab Mahabarata ditulis ulang, diperbanyak, dan disebarkan luas ke seluruh daratan Aryawata (Hindustan dan Jawadwipa) dari generasi ke generasi.....

TAMAT


Sabtu, 22 Juni 2024

Bambang Udrayana (Janamejaya Kridha)

Hai semua pembaca dan penikmat kisah-kisah pewayangan! Setelah hampir satu bulan vakum, penulis kembali bisa menulis kisah-kisah pewayangan dan kali ini untuk dua series terakhir Mahabarata. Kisah kali ini mengisahkan kisah masa muda Raden Janamejaya yang pergi menghilangkan diri demi meguru memperbanyak ilmu. Kisah ini juga diselipkan pencarian sang pangeran mahkota Hastinapura itu oleh kedua saudaranya. Kisah diakhiri dengan pernikahan Janamejaya dengan Dewi Gendrawati. Kisah ini mengambil sumber dari Yudayana Ical - Kumpulan Cerita Wayang dengan perubahan dan penambahan karakter seperlunya.

Setelah kembali dari alam jin berkat bantuan Lengkung kusuma beberapa waktu lalu,  Pada suatu ketika raden Janamejaya, putra Parikesit yang tertua ingin mengembara ia meninggalkan istana yang hanya disertai Semar, Gareng, dan Petruk.”uyut Semar...semenjak kejadian di pertapaan waktu itu..aku sadar jika aku masih kurang ilmu...izinkan aku untuk pergi mengembara menimba ilmu.” Kakek Semar berkata “hmmm..blegedang blegedug...hmemel...hemel....cucuku, aku Cuma seorang abdi dari jaman kakekmu dan kakek buyutmu.....aku akan selalu mengikutimu, cucuku...” sekepergian janamejaya, prabu Parikesit, patih harya Dwara, Bambang Wiratmaka, dan Bambang Wisangkara membahas kepergian janamejaya untuk meguru “adhiku Wisangkara dan Wiratmaka. Janamejaya pergi bersama kakek Semar untuk meguru...kalian coba selediki kemana perginya “sendika dhawuh kakang prabu.”
rupanya, Raden Janamejaya pergi ke Gunung Manikmaya dan dididik ilmu pengetahuan oleh Begawan Sidikara. Sang begawan menerima sang putra Parikesit itu dengan senang hati karena ia bukan orang lain. Latar belakang begawan Sidikara pun tak kaleng-kaleng. Ia adalah putra dari Prabu Jayasentika, paman dari ayah Wiratmaka, Bambang Irawan yang menjadi raja di Rancangkancana. Setelah menyelesaikan pendidikan, Janamejaya izin untuk mencari kayu bakar di hutan.

Janamejaya Kridha
Ketika itu, Janamejaya melihat seberkas cahaya yang terang dan muncul dari cahaya itu muncul seorang dewa yang amat tampan rupawan. Wajahnya mirip sekali dengan wajah buyutnya, Arjuna. Janamejaya rupanya bertemu dewa Kamajaya. “oh jagat dewa batara....ampuni hamba pukulun.....ada apakah kiranya pukulun dewata menemui hamba yang hina dina ini?” batara kamajaya kemudian menyuruh Janamejaya bangun “bangunlah cucuku...jangan terlalu menyanjungku....aku ini bapak angkat buyutmu Arjuna....jadi anggaplah aku juga sebagai kakek canggahmu.” Batara kamajaya kemudian berkata “cucuku...takdirmu selanjutnya tidak akan berada di padepokan Sidikara.... pergilah kamu ke Gunung Candramukha. Kelak masa depanmu menanti jemputan darimu, cucuku.” “sendika dhawuh, kakek pukulun dewata.” Batara kamajaya pun menghilang dari pandangan kembali ke kahyangan.

Sementara itu di Gunung Candramukha. Disekap seorang putri yang sangat cantik. Ialah Dewi Gendrawati, putra prabu Gendraparawa yang diculik oleh Ditya Wagotara, putra Kalasrenggi raja Pageralun yang telah dibunuh oleh Irawan waktu di Bharatayudha. Untuk berusaha melepaskan diri,  Gendrawati yang sedang disandra Wagotara, membuat permintaan “Wagotara! Kalau kau ingin aku tetap dalam genggamanku, turuti keinginanku.” Wagotara dengan suaranya yang berat bertanya “apa keinginanmu? Katakan!” dengan penuh keyakinan, Gendrawati mengajukan keinginannya “dengarkan permintaanku! Aku ingin kau membawakan aku seorang ksatria bagus!” Wagotara menyanggupi “jangankan satu ksatria, seribu pun akan kuturutkan keinginanmu, dewiku.” . maka pergilah Wagotara mencari sang ksatria bagus yang diminta. Di sepanjang perjalanan, yang ditemuinya hanya orang-orang biasa dan semuanya dihabisi lalu diminum darahnya. Di perjalanan yang cukup panjang itu akhirnya ia bertemu dengan seorang pria yang menurutnya orang kaya dan sepertinya seorang ksatria. ”Hei ksatria bagus...siapakah kau? Kau harus ikut aku demi menuruti keinginan seseorang!” ksatria bagus itu berkata “aku Udrayana...punggawa dari kerajaan yang jauh dari sini! Kau baru bertemu denganku hari ini dan kau memintaku untuk menuruti keinginanmu?! Aku tidak mau!” Wagotara merasa diremehkan menjadi marah “Hei...sombong lagakmu! Aku sudah memintamu baik-baik tapi malah berbicara kasar begitu. Cara halus tak bisa membuatmu menurutiku, cara kasar akan membuatmu berpikir lagi..”  dan perang tanding terjadi dengan hebatnya. Udrayana lalu mengerahkan ajian angin Garudha. Mendadak angin sangat kencang berhembus dan mengangkat tubuh sang ditya. Tak mau kalah, Ditya Wagotara mengerahkan kekuatan ajian Tirta Sewu. Seketika muncul air mancur menyembur dan hendak menenggelamkan Udrayana. Merasa ditantang, Udrayana kemudian mematrapkan ajian Prahara Salaksa. Seketika angin yang tadi berhembus menjadi diam. Namun tiba-tiba muncul dari angkasa, badai berputar-putar disertai kilat dan petir. Cahaya dan kilatan petir menyambar ke arah Udrayana namun seketika Udrayana mengalihkan petir itu ke arah Ditya Wagotara.  Sang raksasa itu tersambar petir yang diarahkan Udrayana dan akhirnya Ditya Wagotara terbunuh. Setelah tewasnya Wagotara, Udrayana melanjutkan perjalanan. Di tengh perjalanan itu, ia menemukan sebuah gua. Ketika memasuki gua itu, Udrayana melihat putri Gendrawati disekap. “jangan berteriak, ni sanak. Ni sanak akan aman.” Gendrawati lalu berkata “siapakah kau? Bagaimana kau bisa masuk?” udrayana tak lantas menjawab, ia membuka sekapan Gendrawati. Setelah lepas, Gendrawati lalu berterima kasih “terima kasih. Ki sanak. Kalau boleh tau siapa ki sanak dan bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?” Udrayana lalu memperkenalkan dirinya dan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami, mulai dari bertemu Wagotara dan perang tandingnya sehingga berhasil mengalahkannya.

Pembebasan Gendrawati
Gendrawati kembali berterima kasih dan ia pun merasa Udrayana ini lah yang akan menjadi jodohnya. Setelah dirasa sudah cukup, Udrayana mengantarkan Gendrawati pulang ke ayahnya yakni Prabu Gendraparwa dari Rancangkapura. Gendrawati lalu berkata “ki sanak, apakah kita akan bertemu kembali?” Udrayana menjawab “semoga saja. Jika Hyang Widhi berkehendak, kita akan bertemu dan berjodoh.”  Udrayana pun kembali melanjutkan pengembaraannya.

Di sisi lain, adik-adik raden Janamejaya yakni raden Indrasena dan raden Ramasena diminta juga oleh Prabu Parikesit mencari keberadaan sang kakak. Sebelum memasuki hutan, mereka berdua berdiskusi “kakang Indrasena baik kita menyamar saja. Agar kita tidak diketahui orang ramai.” Raden Indrasena lalu berkata “hmmm, boleh juga idemu. Baik kita akan menyamar.” Mereka pun melakukan penyamaran. Dengan bermodalkan nekat dan membeli pakaian di dekat pemintalan tua, mereka berdua mengubah pakaian mereka menjadi pakaian sederhana khas pemuda gunung.  Raden Indrasena menyamar dengan nama Bambang Ramayana dan raden Ramasena menyamar sebagai Bambang Ramaprawa. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang pria tua. Pria tua itu lalu memperkenalkan diri sebagai Danyang Sumila di pertapaan Sidara.” Anak bagus berdua sepertinya pemuda-pemuda kesasar. Mari ikut eyang ke gubuk sederhanaku.” Tanpa rasa curiga, bambang ramaparwa dan Bambang Ramayana ikut saja. Setelah dijamu, Mereka memantapkan niat untuk berguru kepada Danyang Sumila. Danyang Sumila setuju. Mulai hari itu, kedua pemuda itu dididik berbagai ilmu.

Waktu pun berganti dengan laju. Satu hari, dua hari, sepekan, satu sasih hingga tiga sasih kemudian, Bambang Ramayana dan Bambang Ramaparwa sudah mahir dan cakap. Kekuatan mereka sudah mumpuni. Setelah tamat sebagai imbalan jasa kedua ksatria gunung beserta sang guru Danyang Sumila melakukan perjalanan sehinggalah ketika melewati sebuah tanah lapang mereka bertemu dengan Begawan Sidikara dan keempat abdinya yang tak lain Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Rupanya antara Danyang Sumila dan Begawan Sidikara terlibat permusuhan yang sangat keras disebabkan di masa lalu Begawan Sidikara lebih mahir dan pandai. Begawan Sidikara juga murid kesayangan guru mereka yakni Begawan Gowasena, kakek dari Arya Yodeya yang tak lain merupakan paman jauh Prabu Parikesit. Bambang Ramayana dan Bambang Ramaparwa diminta membunuh Begawan Sidikara “kalian berdua, bunuh musuhku itu!” tanpa pikir panjang, Ramayana dan Ramaparwa menyerang sang resi itu. Awalnya sang resi terdesak namun setelah beberapa saat, datanglah Udrayana.

Balas Dendam Sumila
Kedua pemuda itu tidak mampu dan kalah. Melihat dua muridnya itu kalah, Danyang Sumila mengamuk dan menyiksa muridnya dengan membabi-buta. Bambang Udrayana melihat kedua dua pemuda itu dianiaya gurunya sendiri. Bambang Udrayana pun segera menepis tangan Danyang Sumila “hei, guru! Tindakanmu sudah di luar batas!” tepisan dari Udrayana membuat tubuh Danyang Sumila terjatuh. Bambang Udrayana segera mendekat dan menyembuhkan kedua pemuda gunung itu. tindakan Udrayana mencegah perbuatan amoral guru kedua pemuda itu membuat mereka simpati dan berbalik mendukung Begawan Sidikara. Melihat hal itu, Danyang Sumila melarikan diri kembali ke pertapaan Sidara. Selanjutnya ketiga pemuda itu dan Begawan Sidikara pergi ke Gunung Sidara mencari Danyang Sumila, maka peperangan terjadi. Tanpa banyak waktu, Danyang Sumila dihabisi oleh Udrayana dengan Sarotama. Bambang Ramaparwa dan Bambang Ramayana kaget melihat senjata itu karena hanya keturunan Arjuna saja yang bisa memiliki Panah Sarotama. “ki sanak, kau bisa menggunakan Sarotama?!” tanya Bambang Ramayana. Bambang Udrayana pun menjawab “tentu, aku bisa menggunakan Sarotama.” Lalu ganti Bambang Ramaparwa bertanya “bagaimana bisa?! Hanya eyang buyut kami Arjuna dan para anak keturunannya yang bisa memakai senjata itu. siapa kau sebenarnya, ki sanak?!” Udrayana pun membuka jati dirinya “aku Udrayana, juga dikenal sebagai Raden Janamejaya. Putra raja Hastinapura, Prabu Parikesit.” Kedua pemuda itu kaget. Bambang Ramaparwa dan Bambang Ramayana pun ikut membabar jati diri mereka “kakang? Darimana saja kakang selama ini?! Aku Indrasena dan adhi Ramasena.....sudah tiga sasih kami mencari keberadaan kakang!” Janamejaya pun berkata kalau ia minggat dari keraton untuk meguru berbagai ilmu. Lalu ketiga pangeran itu sepakat untuk ikut mengembara bersama.

Singkat cerita, Janamejaya kembali ke kerajaan Rancangkapura namun ia masih memakai nama Udrayana. Terdengar di negeri itu ada sayembara untuk mencarikan calon suami bagi Gendrawati. Berbagai raja, pangeran, dan perdana menteri melamar untuk sayembara panahan yang luar biasa namun semuanya gagal. Kini giliran Prabu Mandalayaksa untuk melakukan sayembara “hahaha, kalau untuk menarik busur kecil begini, aku juga bisa.” Omongan sesumbar sang raja Awu-awu Bumi itu membuat kesal para pelamar lainnya. Namun seperti kata pepatah “air beriak tanda tak dalam,” kemampuan Mandalayaksa jelas tak sebanding dengan busur sakti itu. Prabu Mandalayaksa pun tumbang menyerah. Di saat itu datang Udrayana naik ke panggung dan mengangkat busur itu. busur itu seakan menurut dan bisa diangkat. Lalu ketika menarik busur itu, suaranya terdengar begitu keras dan nyaring. Suranya terdengar hingga jauh ke Hastinapura. Prabu parikesit sampai tekaget-kaget mendengarnya. Prabu gendraparwa pun langsung naik ke panggung dan menyatakan Udrayana sebagai pemenang sayembara. Bersama dengan itu, sang prabu juga menyerahkan Gendrawati kepada sang pangeran maka perkawinan berlangsung megah hari itu juga. Tiba-tiba Prabu Mandalayaksa dari Awu-awu Bumi tidak terima dan berusaha merebut paksa Dewi Gendrawati. Terjadilah perang di arena sayembara. Antara Udrayana dan Mandalayaksa saling menyerang. Keduanya bagaikan ombak bersabung dengan badai tetapi akhirnya Prabu Mandalayaksa dapat diusir. Setelah pernikahan, Udrayana membuka jati dirinya sebagai Raden Janamejaya dihadapan Prabu Gendraparwa dan Dewi Gendrawati. Prabu Gendraparwa merasa suka hati bisa menjadi besan dari keturunan Pandawa. Setelah berbulan madu di Rancangkapura selama bebrapa sasih, Raden Janamejaya dan Dewi Gendrawati pun boyongan kembali ke Hastinapura. Kedatangan kedua pasangan itu diiringi Raden Indrasena, Raden Ramasena, kakek Semar dan para punakawan. Prabu Parikesit dan segenap keluarga besar keturunan para Pandawa gembira hati dengan kedatangan putra-putranya terlebih lagi kini Janamejaya kembali dengan membawa ilmu dan juga isteri. Pesta unduh mantu pun digelar begitu meriah tujuh hari tujuh malam.

Sabtu, 13 April 2024

Begawan Pegatrasa (Kawedaring Bimawan, Bimawati dan Brajasena)

 Hai semua pembaca dan penikmat kisah pewayangan! Kisah kali ini mengisahkan kedatangan seorang pendita aneh yakni Begawan Pegatrasa ke Hastinapura setelah negeri itu dilanda pagebluk. Kisah ini juga menceritakan kemunculan  tiga keturunan Arya Wrekodara yakni Bimawan, Bimawati, dan Brajasena. Kisah ditutup dengan terbukanya jatidiri antara Bimawan, Bimawati, dan Brajasena serta terkuaknya kedok Begawan Pegatrasa. Kisah ini mengambil sumber hasil chatting dengan teman-teman di grup pewayangan di  Whatsapp. Terima kasih buat mas mzk130307, mas afka._.dfs05    dan mas dendykrisnaa untuk saran-saran dan suntingan-suntingannya. 

Di sebuah hutan yang jauh, gelap dan sunyi. Angin berhembus lirih menggelitik dedaunan dan ranting pepohonan, tiada suara hewan lantang terdengar. Kicau burung pun seakan hilang di tengah belantara ini. Suara yang tercipta karenannya menyiratkan kengerian dan kehampaan yang mencekam. Gelapnya hutan membayang-bayang, bahkan saat itu siang sangat terik. Tersebutlah di dalam hutan yang diberi nama Alas Ratrijanggala itu, hidup seorang petapa dengan segala keanehannya. Tak pernah sekalipun ia meminta sumbangan atau derma. Tapi ia selalu berpakaian seperti pendita kerajaan.

Begawan Pegatrasa datang ke Hastinapura
Karena hutan itu jarang dikunjungi manusia, petapa itu dianggap seperti hantu atau dedemit yang menyamar sebagai pendita kaya. Di balik kemisteriusannya, ia pun pergi meninggalkan hutan itu menuju negeri yanga makmur, Hastinapura.

Sementara itu, di Hastinapura, Prabu Parikesit dihadap oleh Patih Harya Dwara, Bambang Wiratmaka, Bambang Wisangkara, Prabuanom Srengganamurti, dan Arya Jayasumpena. Mereka membicarakan permasalahan di hastinapura dimana rakyat mendadak jatuh sakit dan dilanda wabah besar “Ampun kakang prabu, wabah ini semakin menggila. Rakyat banyak jatuh sakit, harga melambung tinggi, korban jiwa tak tertolong juga makin banyak.” Lapor Patih Harya Dwara. Lalu Bambang Wiratmaka melapor juga “Ampun kakang prabu, keamanan negara akhir-akhir ini terusik lagi. Pencurian dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Balai kesehatan membeludakj karena kasus ini juga.” Prabu parikesit merasa berdberduka mendengar nasib negeri yang dibangun oleh para leluhur dan diperjuangkan kakek nenek mereka seakan diujung tanduk “ini tidak masuk akal, kakang prabu” ucap Bambang Wisangkara. “tidak masuk akal bagaimana, adhi?”tanya Prabu Parikesit. “tidak masuk akal kerena segala hal telah kita kerahkan. Kualitas sarana dan prasarana sudah kita maksimalkan. Gizi rakyat juga kita perhatikan. Harga barang dan ekspor impor sudah kita periksa dan teliti.”ucap Bambang Wisangkara lagi “benar apa kata adhi Wisangkara “ ucap Prabuanom Srengganamurti “ada sesuatu yang membuat jalannya pemerintahan kacau dan itu bukan karena faktor fisik. Ini disebabkan kekuatan jahat entah dari mana.”. tak berapa lama, datang seorang pendeta bernama Bagawan Pegatrasa. “salam paduka prabu...perkenalkan hamba Pegatrasa, pertapa dari Alas ratrijanggala.” Prabu Parikesit dan para saudaranya menyambut sang pendeta itu. Prabu Parikesit lalu bertanya apa keperluannya datang kemari. Begawan Pegatrasa lalu memberitahukan cara mengakhiri pageblug dan rajapati di hastinapura “nanda prabu kalau ingin bisa mengakhiri pagebluk di Hastinapura hanya ada satu cara.” “apa caranya, bapak begawan?” Begawan Pegatrasa lalu berkata “ananda prabu harus mengorbankan kepala Lengkung Kusuma, anak pamanmu Petruk.” Entah terkena sihir apa atau terpesona dengan kata-kata sang begawan,  Prabu Parikesit dan Harya Dwara manggut-manggut saja, tepengaruh ucapan Pegatrasa yang mengandung sihir itu.  Bambang Wisangkara sebagai tangan kiri sang prabu berusaha menjernihkan pikiran adik sepupunya itu namun ia dihalang oleh kekuatan aneh. Akhirnya sang prabu Parikesit memerintahkan Wiratmaka, Jayasumpena, dan Srengganamurti mencari Lengkung Kusuma. Singkat kata, pasukan hastinapura datang dan berkata “Lengkung Kusuma! Serahkan dirimu...kau harus bersedia ikut kami ke Hastinapura!” “Lengkung Kusuma lalu berkata “Emoh...lebih baik aku mati daripada ditumbalkan sama orang tidak jelas seperti si Pegatrasa!” mendengar nama Begawan pegatrasa dihina, para pasukan yang dipimpin Wiratmaka, jayasumpena, dan Srengganamurti marah dan lalu mengobrak-abrik Karang Tumaritis. Kelauraga Lengkung Kusuma segera mengungsi ke Widarakandang kampung halaman Prantawati, isteri Lengkung Kusuma. Namun tak berapa lama, desa kembali diobrak-obrik. Lengkung Kusuma pun berhasil melarikan diri ke hutan lewat jalur rahasia tapi keluarganya ditahan dan tak bisa keluar desa.

 Ditempat lain, tersebutlah di sebuah desa bernama Sonosekar hiduplah keluarga Dewi Sumekar. Dewi Sumekar adalah pendeta perempuan yang kondang di desa itu. Ia adalah salah seorang isetri Arya Wrekodara selain Endang Sri Giyanti yang dulu menikah dengan cara lewat mimpi sehingga lahirlah raden Bimawan dan  Dewi Bimawati. Lalu beberapa tahun kemudian saat Bimawan dan Bimawati masih berusia 7 tahun datang pula seorang pendeta anak-anak, seumuran dengan dua anaknya.

Jatidiri Bimawan dan Bimawati
Ketika ditanya namanya, anak itu menjawab kalau dia bernama Brajasena. Dewi Sumekar pun memberikannya tempat tinggal dan dirawatnya anak kecil itu dengan penuh kasih sayang. Brajasena pun diaku anak oleh Dewi Sumekar. Setelah sekian lama saat usia Brajasena, Bimawan dan Bimawati sudah dirasa cukup dewasa, mereka ingin mencari ayah mereka. “Ibu, Bimawan dan Bimawati sudah dewasa...beritahukan pada kami siapa ayah kami?” “benar ibu. Telah lama kami menantikannya. Katakan ibu dimana ayah?”   Dewi Sumekar berkata “Bimawan! Bimawati! Ketahuilah, ayah kalian yakni Bhima Wrekodara, pahlawan perang perang Bharatayudha. Dia satu dari dari Pandawa lima putra Prabu Pandu Dewanata. Tapi menurut kabar, ayah kalian sudah lama wafat beberapa tahun setelah penobatan Parikesit, anak Abimanyu cucu dari Arjuna, adik dari ayah kalian sebagai raja baru Hastinapura.”  Mendengar hal itu, Bimawan dan Bimawati merasa sedih. Brajasena pun memeluk kedua saudara angkatnya itu “wes lah adhi-adhiku ! ada kakang Braja disini. Jika ada waktu, kita akan sowan ke Hastinapura.”  Untuk sementara itu membuat keinginan Bimawan dan Bimawati mereda sampai pada suatu hari, keinginan Bimawan dan Bimawati malah makin kuat untuk pergi ke Hastinapura, ingin diakui sebagai keturunan Pandawa. Dewi Sumekar tidak bisa menghentikan keinginan dua putra-putrinya .ia pun berpesan “ Le! Nduk! Kalau tekad kalian bulat, ibu tidak akan menghalangi. Tapi jika ingin diakui sebagai keturunan Pandawa, kalian harus mengabdi kepada sang raja Hastinapura, keponakan kalian itu.”  Bimawan dan Bimawati mematuhi perintah ibunya. Lalu Brajasena datang mengajukan diri untuk mengawal Bimawan-Bimawati. Awalnya hal itu dilarang karena Bimawan dan Bimawati khawatir dengan keselamatan ibunya jika mereka bertiga pergi. Dewi Sumekar berkata bahwa ia tidak apa-apa ditinggal toh selama ini dia tinggal sendirian, tentu bukan masalah jika ketiga anaknya itu pergi. Setelah berpamitan, Brajasena pun mengantar Bimawan dan Bimawati. Ketiga orang itu berjalan melewati hutan yang lebat dan gelap. Namun ditengah jalan mereka bertemu dengan Lengkung Kusuma. Bimawan pun menyodorkan air kepada Lengkung “ini kisanak...minum lah dulu...” setelah menyelesaikan minumnya. Bimawati membuika percakapan “kisanak, kalau boleh tau siapa anda? Dan ada apa seperti terburu-buru?” Putra Petruk itu pun menceritakan memperkenalkan dirinya “Aku Lengkung Kusuma, putra Petruk alias Dawala, cucu Kakek Semar, pamomonge para Pandawa.” Ketiga pemuda dari Sonosekar langsung bersujud mendengar nama Kakek Semar, karena mereka pernah diasuh sang punakawan saat masih kecil bersama Dewi Sumekar. Ketiga pemuda-pemudi itu lalu berlutut “ampun Paman Lengkung, jauhkan kami dari marabahaya dan bala bencana tak mengenalimu. “  “tidak perlu menghormat begitu...aku bukan siapa-siapa...” lalu Brajasena bertanya “apa penyebab paman bisa seperti ini?” Lengkung Kusuma pun menceritakansegalanya. Ketiga orang itu kasihan dengan nasib orang yang sudah memomong mereka dan mempersilakan Lengkung agar ikut mereka dengan jaminan perlindungan.

Di Hastinapura, Begawan Pegatrasa bermain sihir sehingga aura kerajaan menjadi gelap lalu datang lah jin qorin Dursasana dan Aswatama membuat pagebluk menghilang tapi hanya sementara. Begawan Pegatrasa lalu mencambuki dua jin qorin itu.  Putra mahkota Parikesit yakni Raden Janamejaya diam-diam memergoki sang begawan aneh itu. ia merasa ini tidak benar “ini tidfak benar...masa iya begawan mainnya beginian...aku harus bertindak...” gumam Janamejaya dalam hati. Namun sebelum melaksanakan niatnya, Janamejaya kepergok oleh Begawan Pegatrasa. Karena merasa tidak ada yang perlu disembunyikan lagi dihadapannya, janamejaya berkata dengan tegas “hei begawan aneh...sejak kedatanganmu kemari, susanan di kerajaaan jadi makin aneh. Aku memerintahkanmu untuk segera per...”baru saja Raden Janamejaya berkata pergi sang begawan, datang pasukan jin dan setan dari Setra Gandamayu. Begawan Pegatrasa lalu berkata “usirlah aku kalau berani.” Raden Janamejaya hendak melarikan diri pun diseret ke alam jin. Portal alam jin terbuka dan raden Janamejaya pun masuk ke dalamnya. Begawan Pegatrasa pun berpura-pura panik “paduka prabu.... paduka prabu...kabar buruk paduka...” Prabu parikesit yang tengah duduk di atas takhtanya berkata “:ada apa bapa begawan? Kau terlihgat kalut sekali.” Begawan pegatrasa lalu menceritakan bahawa raden janamejaya telah dibawa ke alam jin. Parikesit kalut mendengar kabar itu. begawan Pegatrasa berkata kalau penyebab anaknya hilang karena kemarahan Dewasrani yang kini dibakar di neraka. Satu-satunya cara agar Dewasrani tidak marah lagi ialah dengan menghabisi anak keturunan Wisanggeni yakni Wisangkara. Parikesit terhasut lagi dan merencanakan pembunuhan itu dengan tangan sendiri. Bambang Wisangkara mendengar secara diam-diam dan berkata “tidak bisa begini..sejak begawan aneh itu datang, kelakuan dinda prabu makin menjadi-jadi gilanya. Baik aku pergi dari sini... aku harus menyusun rencana agar bisa mengusir si begawan aneh.” Pada malam hari yang berkabut, Bambang Wisangkara mengerahkan ajian Pedut Wisa. Berkat jurus itu, seisi istana tertidur karena selimut kabut penenang itu. setelah dirasa penjagaan sudah cukup lemah, ia pun pergi dan menghilang di tengah kelamnya malam.

Ketika bangun keesokan paginya, Parikesitu terkejut melihat semua orang disana lengah dan tidak menemukan kemana perginya Wisangkara. Dengan penuh kemurkaan, Parikesit pun menetapkan Wisangkara sebagai pengkhianat negara. Lalu datanglah tiga orang pemuda-pemudi yakni Brajasena, Bimawan dan Bimawati. Mereka menghadap kepada Prabu Parikesit untuk diakui sebagai keturunan Pandawa. Prabu Parikesit mendatangi Bimawan dan Bimawati.

Adu Domba Pegatrasa
Parikesit melihat kedua orang itu memakai pakaian kebesaran peninggalan sang kakek, Wrekodara. Ia mengakui kalau Bimawan dan Bimawati adalah paman dan bibinya namun ketika melihat ke arah Brajasena, ia tak sengaja melihat bahawa dibelakang sang pemuda itu turut membawa Lengkung Kusuma, si calon tumbal, Parikesit memerintahkannya untuk menyerahkan calon korban tumbal itu. “anak muda, kau membawa orang yang kami cari...serahkan orang itu !”  Brajasena secara tegas berkata tidak mau “tidak akan paduka prabu, baru kali ini ada pagebluk harus pakai pengorbanan tumbal manusia? Paduka prabu sudah kehilangan akal sampai harus mendengar perkataan begawan tidak jelas itu!! ” kata Brajasena sambil menunjuk ke arah begawan Pegatrasa. Begawan Pegatrasa melihat ada kesempatan baik, maka ia merapal kembali ilmu sihirnya untuk mengadu domba tiga bersaudara itu. Lalu datang sebuah kekuatan aneh yang membuat Bimawan dan Bimawati terhipnotis dan menyerang Brajasena. Brajasena tidak mau melawan kedua saudaranya maka ia pergi dari Hastinapura sambil membawa Lengkung Kusuma namun mereka dihadang Bimawan dan Bimawati “kakang Brajasena, cepat serahkan Paman Lengkung!” “Yang dikatakan kakng Bimawan benar. Ini demi negeri ayahanda!” Brajasena pun berkata “kalian berdua sadarlah! Kalian terkena pukau..” namun belum selesai Brajasena bicara, terjadi perkelahian antar tiga saudara itu. Bimawan yang sedang terkena pukau mengeluarkan ajian Rengkah Samudra sehingga memancurlah air dari dalam tanah menyerang Brajasena. Dewi Bimawati juga mengerahkan kekuatannya. Dengan menarik selendangnya yang dilambari Ajian Candrasekhara, Brajasena dan Lengkung Kusuma terpencar. Di saat lengah, Bimawan menhantamkan ajian Rengkah Samudra miliknya dan Candrasekhara milik Bimawati. Baamm...Bimawan terpental jauh masuk ke dalam hutan. Lengkung mulai ketar-ketir namun ia teringat pesan dari kakeknya, Sri Kresna “tiup serulingmu lalu pergi ketika mereka lengah” Lengkung Kusuma segera mengeluarkan serulingnya dan memainkannya. Mendadak suara seruling itu seakan memanggil kabut. Kabut pun turun menutupi seisi istana. Semua orang dibuat seperti terpesona. Di saat demikian, Lengkung Kusuma terus meniup serulingnya dan sudah dirasa cukup jauh dari kejaran pasukan Hastinapura, Lengkung Kusuma pun segera melarikan diri sembari mengikuti arah jatuhnya Brajasena. 

Di hutan persembunyian, Wisangkara bertemu dengan ayahnya, Wisanggeni yang sudah menjadi makhluk kahyangan. Wisanggeni menerangkan “anakku, yang membuat kejadian aneh di Hastinapura itu begawan Pegatrasa yang dibantu anak Dewasrani, Sranikumara. Kau harus berhasil menghentikan mereka.” Maka Wisanggeni memberikan pakaian pendita. Mulai hari itu, Wisangkara menyamar sebagai brahmana bergelar Begawan Agnisuci. Selama menjadi brahmana, ia melindungi semua orang dan menyembuhkan orang-orang dari pagebluk. Ketika melewati sebuah hutan, Wisangkara menemukan Lengkung Kusuma bersama Brajasena yang sejak kemarin masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Agnisuci segera menerawang apa yang terjadi. Dalam penglihatan, Begawan Agnisuci melihat kondisi Brajasena saat ini mati suri. Sukmanya masih nglembara sedangkan badannya dalam keadaan pingsan seperti tertidur. “Paman, baik kau minggir sebentar. Aku akan bangunkan ki sanak ini.” Dengan menggunakan Ajian Widyagni (api pengetahuan), Sukma Brajasena bisa dikembalikan lagi ke raganya. Sekilas, Begawan Agnisuci melihat jati diri yang tersembunyi dalam diri Brajasena. Ketika masuk kembali pikiran alam bawah sadar, terlihatlah memori kelahiran Brajasena. Setelah keduanya sadar, Agnisuci menanyai Brajasena “ki sanak ini siapa? aku melihat darah kakekku Bratasena alias Bhima Wrekodara dalam darahmu.” Brajasena tidak tahu, yang ia ingat adalah ia mendadak bangun di sebuah hutan dan mendatangai Dewi Sumekar saat berusia tujuh tahun. Agnisuci lalu menceritakan soal  penerawangannya bahwa Brajasena adalah juga keturunan Pandawa. Menurut penerawangan Agnisuci, Brajasena lahir dari kama Wrekodara yang jatuh ke bumi saat pernikahan Wrekodara dan dewi Sumekar. Dahulu ketika pelaksanaan penobatan Parikesit selesai, Arya Wrekodara mencoba sekali lagi keampuhan ajian Rabi Batin miliknya dan rupanya berhasil. Ia bertemu dengam Dewi Sumekar dari desa Sonosekar. Kemudian mereka berdua saling bertemu dan kemudian menikah di alam nyata. Ketika berbulan madu, air kama (benih sperma) Arya Wrekodara muncrat dan tumpah meresap ke tanah yang kemudian diruwat dan menjadi seorang pria dewasa oleh Batara Naga Adisesa, ular suci Sri Batara Wisnu. Setelah cukup dewasa, Brajasena ingin pergi mencari jati dirinya. Batara Naga Adisesa mengizinkannya namun ketika naik ke permukaan bumi, ingatannya itu dihapus dan tubuhnya pun kembali ke usia asalnya yakni tujuh tahun. Itulah sebabnya, Brajasena tidak ingat apa-apa soal kelahirannya. Brajasena pun terharu mendengar bahwa ia bukan sekadar saudara angkat Bimawan dan Bimawati semata tapi saudara seayah. Maka dengan tekat yang kuat, Brajasena pun menjadi pendita di bawah pengajaran Agnisuci demi membebaskan keuda saudaranya dari belenggu sihir Begawan Pegatrasa.

Perlahan tapi pasti, padepokan Agnisuci mulai besar dan membuat pamor Begawan Pegatrasa semakin redup maka sang begawan meminta Parikesit dan saudara-saudaranya agar mengobrak-abrik padepokan itu. Singkat cerita, pasukan sekota Hastinapura datang mengobrak-abrik desa sekitar padepokan namun keajaiban terjadi. Ketika hendak menerobos masuk, para prajurit malah jatuh tertidur di depan pagar padepokan sementara Wiratmaka, Srengganamurti, Jayasumpena, dan lain-lain mendengar suara seruling yang sangat indah mengalun dihembus angin “dinda Wiratmaka, siapa yang bisa meniup seruling seindah ini? suara yang begitu sejuk...” ujar Srengganamurti “benar, kakang Srenggana. Suara ini mengingatkanku pada seruling eyang prabu Sri Kresna.” kata Wiratmaka sambil mengingat-ingat memori masa lalu “Bimawan ikut berkata “suara ini...pernah kami dengar beberapa hari yang lalu...” Bimawati ikut pula bicara “kau benar kakang, aku juga pernah mendengar suara ini.... tapi dimana ya kakang...aku tidak ingat...”  Jayasumpena lalu menangis terharu “duh gusti jagat dewa batara.....mengingat suara ini aku jadi ingat dinda Lengkung , paman Petruk, dan eyang Prabu Sri Kresna.” Seluruh saudara Parikesit pun memasuki padepokan yang menjadi asal suara itu. di dalam padepokan yang sederhana itu, mereka semua melihat Lengkung Kusuma memainkan seruling indah dan Begawan Agnisuci juga Begawan Brajasena sedang bermeditasi. Entah karena kekuatan sihir atau memang aura padepokan itu sangat positif, kesemua saudara-saudara Parikesit begitu pula Bimawan dan Bimawati ikut bermeditasi.dalam meditasi yang begitu hening itu, aura negatif yang memenuhi pikiran dan seluruh tubuh mereka pun perlahan sirna.

Janamejaya berhasil dibawa balik 
Saudara-saudaranya Parikesit berhasil disadarkan malah berbalik melawan Parikesit. Bimawan dan Bimawati begitu juga para saudara lainnya pun bahkan mengetahui jati diri Brajasena. “kakang Brajasena, tolong maafkan kami.” “sudahlah...kalian semua berdiri... kalian sudah ku maafkan...”  Mereka pun berpelukan haru dan meminta maaf.

Lalu datanglah Prabu Parikesit sendiri bersama Begawan Pegatrasa ke padepokan Agnisuci. Prabu Parikesit menggunakan Ajian Lebur Sakethi miliknya untuk meruntuhkan padepokan itu. Padepokan pun bergoncang dahsyat. “tidak bisa dibiarkan, kakang Parikesit harus segera disadarkan.” Begawan Agnisuci mengeluarkan ajian Waringin putih untuk mengimbangi kekuatan jahat yang bersemayam di tubuh Parikesit. Akhirnya Parikesit kalah “apa-apan ini? Aku kalah...sejauh ini tidak ada yang bisa mengalahkan Lebur Sakethi milikku..kecuali dinda Wisangkara...baik aku masuk ke sana” Prabu Parikesit pun penasaran lalu memasuki padepokan Agnisuci. Di dalam padepokan itu, Prabu Parikesit berhasil disadarkan kembali. Namun ia bersedih hati karena putranya Raden Janamejaya masih menghilang. Lengkung Kusuma pun membacakan ajian Lawang Pitu dengan menyebut nama-nama Pandawa, Kurawa, dan keluarga besar Yadawa. Tak lama kemudian, dengan keajaiban, sukma para Pandawa, para Kurawa yang sudah diangkat ke Swargamaniloka berkat bantuan Yudhistira, dan juga Sri Kresna yang sudah menjadi makhluk kahyangan membawa Raden Janamejaya keluar dari alam jin. “cucuku...ini anakmu telah kami bawa pulang...berkat bantuan Lengkung Kusuma membaca ajian Lawang Pitu, kami bisa mengeluarkan Janamejaya dari alam jin.” ujar sukma prabu Yudhistira.” Sukma prabu Sri Kresna yang tak lain adalah Batara Wisnu itu sendiri pun membersihkan seisi padepokan itu itu dari segala ilmu sihir gelap dan negatif.  Arya Wrekodara lalu mendekati ketiga putra-putrinya yakni Arya Bimawan, Bimawati dan Brajasena. Mereka pun melepas rindu dengan ayah mereka meskipun hanya badan halus saja. Begawan Pegatrasa kesal maka ia menyerang begawan Agnisuci dengan main belakang. Akibatnya Begawan Agnisuci terlempar ke sebuah pohon dan badar ke wujud aslinya yakni Bambang Wisangkara. Sukma Wisanggeni berusaha menyembuhkan putranya. Ketika itu, Brajasena pun maju dan menyerang Pegatrasa dengan berbagai kekuatan dan ajian. Sukma ayahnya yakni Arya Wrekodara ikut membantu. Akhirnya badar pula penyamaran begawan Pegatrasa ke wujud semula yakni Danyang Suwela, anak Aswatama yang selama ini dicari-cari Parikesit. “rupanaya kau Danyang Suwela.....aku perintahkan kau menyerah atau kami habisi...” “Dengan sombangnya, Danya Suwela pun berkata “hah...jangan harap!.... kalian semua terutama kau Parikesit! Keberadaanmu Membuat Ayahku Tidak Bisa Mati Dengan Tenang....Sekarang Saatnya Kau Yang Akan Mati!” Danyang Suwela merapal matra dan seketika terbukalah portal alam jin. Pasukan jin itu bersama Sranikumara datang. Danyang Suwela memerintahkan Sranikumara, jin qorin Dursasana, dan jin qorin Aswatama menyerang Brajasena. Lalu sukma/pancer dari Arya Dursasana pun datang membela Brajasena sehingga badarlah jin qorin itu ke wujud aslinya, yakni bangsa setan penghuni Setra Gandamayu. Sranikumara pun bertarung dengan Wisangkara dan sukma Wisanggeni. Dengan ajian Agniwarna, muncullah api berwarna-warni yang menghanguskan tubuh Sranikumara dan berbagain bangsa jin lainnya. Begawan Brajasena pun kembali bertarung dengan Danyang Suwela. Brajasena menyerang Danyang Suwela secara kilat dengan Ajian Sepi Angin. Tapak dan langkah kakinya bergerak sekencang angin. serangannya pun cepat dan beruintun. Danyang Suwela tak mau kalah.

Brajasena melawan Danyang Suwela
Sang putra Aswatama itu mengerahkan ajian Rengkah Bumi milkiknya sehingga ia bisa dengan cepat sembunyi ke bawah bumi, namun Brajasena mampu mengejarnya. Begitu danyang Suwela naik ke angkasa, Brjasena mampu mengimbanginya dan menghajarnya diatas awan. Tak mau kehilangan momentum, Brajasena  pun menyerang titik lemah Danyang Suwela yakni di bagian rambutnya yang mirip kuda (ayah Suwela adalah Aswatama yang berambut seperti kuda). Dengan sangat pintar, Brajasena mengerahkan seluruh kekuatannya dan memangkas rambut danyang Suwela dengan ajian Angin Garudha yang telah dilambari ajian Waringin Putih. Akhirnya Danyang Suwela berhasil dikalahkan dan Sranikumara berhasil dibawa Arya Dursasana  ke neraka agar dihukum bersama ayahnya. Setelah dirasa cukup, roh para Pandawa, Kurawa, dan Sri Kresna kembali ke Swarga. Kerajaan Hastinapura kembali damai. Brajasena, Bimawan, dan Bimawati mendapatkan hak mereka sebagai keturuna Pandawa. Mereka bertiga pun memutuskan untuk mengelaola Padepokan Angisuci. Sedangkan Wisangkara alias sang Begawan Agnisuci sendiri pun mendapatkan kembali nama baiknya. Ia kembali menjadi penasehat utama Prabu Parikesit.