Hallo semua, sudah lama saya tak menulis kisah Banjaran Sri Kresna. Kisah Kali ini menceritakan kedatangan Prabu Kresna sebagai raja baru ke Hastinapura dan memberi teka-teki kepada Bhisma dan Arya Widura tentang nasib Pandawa. Kisah berlanjut kunjungan Kresna ke pancalaradya, bertemu dengan Dewi Drupadi yang jadi sahabat terdekatnya dan sayembara sang putri. . Kisah ini mengambil sumber Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus, dan Radha Krishna Starbharat.
Setelah kerajaan Dwarawati terbangun menggantikan negara Dwarakawestri yang hancur karena serangan Kalayawana, Prabu Kresna mulai membangun berbagai hubungan diplomatik. Pertama yakni dengan Hastinapura, kerajaan tempat sang bibi dan para sepupnya yakni Dewi Kunthi dan para Pandhawa dulu tinggal sebelum mereka meninggal karena kebakaran di Bale Sigala-gala. Walaupun Kresna tahu bahawa bibi dan anak-anaknya masih selamat malah membantunya saat pencegahan makar di Mandura, Kresna sengaja tutup mulut karena ia tahu belum saatnya mereka muncul di hadapan keluarga kerajaan Hastinapura. “salam paman prabu Drestarastra, keponakanmu dari Dwaraka telah datang sebagai mitra kerajaan hastinapura.” Ucap Prabu Kresna di hadapaan Prabu Drestarastra dan . “sebelumnya,aku turut berduka karena saudara-saudaraku Pandhawa dan bibi Kunthi meninggal karena kebakaran tempo sasih lalu. Aku baru tahu kabar ini dari ayahanda Basudewa.” Prabu Drestarastra berkata “anakku ananda prabu, aku juga masih berduka dengn kepergian mereka. Belum kering air mataku karenanya.” “benar suamiku, akupun juga tak menduga bila ini menimpa adik ipar dan anak-anakku Pandhawa.” Balas Dewi Gendari juga dengan menyeka penutup matanya yang basah oleh air mata. Di sana, Prabu Kresna bertemu dengan para Kurawa yang pimpin Prabu Anom Kurupati (Suyudana), Raden Dursasana, dan paman mereka, Haryapati Sengkuni, patih Hastinapura yang merangkap sebagai raja Gandaradesa.
![]() |
| Kedatangan Kresna ke Hastinapura |
Setelah
beberapa hari di keraton Hastinapura, Prabu Kresna pamit ingin melanjutkan
perjalanan ke Talkandha dan Panggombakan untuk bertemu dengan Maharesi Bhisma
sang pinisepun kerajaan Hastinapura dan Arya Widura, adik bungsu Prabu
Drestaratra yang tinggal di Panggombakan. Kebetulan di Panggombakan, mereka
berdua ada di sana, bahkan kakek Semar sang pamomong juga berada di sana. “salam
kakek Maharesi! Salam paman adipati Arya Widura! Salam kakek Semar!” ketiganya
memberi salam kepadanya. Kakek Semar menyambut sang Madhawa “hhmmm... blegedeg gudug... anakku ngger
prabu Kresna. Terakhir kali kita bertemu saat di Widarakandha. Sekarang kau
sudah menjadi raja Dwaraka. Apa kabar kakangmu Kakrasana, adhimu Rara Ireng dan
Radha temanmu juga ibu ayahmu?” Kresna berkata kepada pamomongnya “Astungkara,
puja dan puji pada Hyang Widhi, mereka baik-baik saja.” Bhisma dan Arya Widura
menanyakan ada apakah kedatangannya
kemari “cucuku Kresna, kau sudah datang ke Hastinapura, tapi ada apa dikau
datang ke Panggombakan, cucuku?” “benar anakku, apakah ada sesuatu yang penting
telah terjadi?” Prabu Kresna lalu berkata “Kakek Maharesi, paman Arya, dan
kakek Semar, kedatanganku kemari hanya memberitahukan bahawa keadaan di negeri
ini kacau sekali. Paman Prabu pasti kerepotan karena pelantikan adhi Kurupati
sebagai yuwaraja. Keadaan di taman keraton jadi berantakan. Aku lihat di sana keluarga
bebek di sana menderita. Ibu bebek dan lima anaknya sampai kotor karena terus
berendam di lumpur kolam yang kering itu. Aku melihat mereka akan terbang
mencari kolam baru. Tolong ingatkan paman Prabu untuk memperbaiki taman
keratonnya.” Setelah berkata demikian, Prabu Kresna harus pamit kembali ke
Dwarawati karena banyak hal yang harus di kerjakan di kerajaannya. Maharesi
Bhisma dan Arya Widura masih bertanya apa maksud dari Kresna, namun Kakek Semar
paham bahwa para Pandawa masih hidup dan selamat. Maka ia pamit karena akan
kembali Karang Tumaritis.
Sementara
itu, di kerajaan Pancalaradya, sang raja yakni Prabu Drupada dan patihnya yang
tak lain patih Arya Gandamana, iparnya sendiri baru ssja merayakan ulangtahun
ketiga anaknya yakni Dewi Drupadi, Arya Drestajumena, dan Dewi Srikandhi. Di
saat itu, Prabu Kresna datang menghadap kepada Prabu Drupada. “salam gusti
Prabu Drupada! Dan salam juga untuk gusti patih Gandamana dan raden mas
putra-putri !” Prabu Drpada, Arya Gandamana, dan tiga anak prabu Drpada
menyambut salam sang Madhawa. “salam ananda prabu Kresna! Berita tentang anak
prabu dan ayahmu, Basudewa telah ku dengar. Ku dengar sekarang anak prabu sudah
mendirikan negeri baru diseberang pantai barat. Aku ucapkan selamat!” prabu
Drupada mempersilakan Prabu Kresna duduk bersamanya. Dewi Drupadi digambarkan
sebagai gadis cantik berambut hitam ikal bergombak laksana api, berbadan sintal
berkulit sawo matang dan bersih, harum semerbak bak wangi teratai Ia putri yang cerdas, berpendidikan, dan
memiliki widya dengan kualitas seorang raja. Adik-adiknya juga tak kalah hebat.
Arya Drestajumena ibarat dewa perang yang turun menitis ke dunia. Rupa tampan
rupawan, mata berapi-api, badan atletis bak pemuda di puncak pesonannya, dan berdedikasi
tinggi dalam berbagai ilmu terutama ilmu berperang. Dewi Srikandhi pun
kecantikan dan kecerdasannya menyamai sang kakak. Tampil dengan ayu namun
berjiwa pejuang. Ia putri tapi juga pemanah yang ulung dan ahli beladiri yang
mumpuni. Sungguh putri yang jarang ada di zaman itu, putri petarung yang
tangguh tapi ayu dan molek.
Hari itu Prabu Kresna mendapat kehormatan oleh Prabu Drupada karena sang puteri, Dewi Drupadi telah selesai menyelesaikan pendidikannya dan kini dia akan siap menikah. Prabu Drupada lalu mempersilakan Prabu Kresna untuk menjamu selera hidangan yang ada.
![]() |
| Kresna dan Dewi drupadi di taman Keraton |
Lalu
datang prabu Drupada datang bersama Arya Gandamana dan para menteri. Ia berkata
kepada putrinya bahwa sarana pernikahan sudah siap sekarang tinggal calon
suaminya. Dewi Drupadi tersipu malu. Ia bahkan belum tahu siapa yang bakal jadi
suaminya tapi ia pernah bermimpi bahwa ia bersama seorang lelaki yang
pembawaannya tampan dan tenang. Ia diratukan dan siiringi empat orang lelaki
sebagai pengiring. Prabu Kresna memberi usul agar Drupadi menggelar sayembara.
Dewi Drupadi berkata “kakang Gowinda, sayembara apa yang harus ku gelar/ apakah
kau punya saran tentang itu?” Prabu Kresna berkata “apa saja boleh, mau adu
kekuatan, adu senjata, atau adu kecerdasan. Dari para pemenangnya kau bisa
pilih dari mereka siapa yang panatas.” Dewi Drupadi berpikir keras dan akhirnya
ia memutuskan akan menggelar sayembara memanah sasaran dan ia tidak masalah
kalau jika yang melakukan sayembara ini adalah perwakilan maupun orangnya
langsung. Drupada langsung setuju dan memerintahkan para menteri menyebar
undangan sayembara di Pancala demi mendapatkan putrinya.
Sementara
itu, Dewi Kunthi, para Pandawa, dan para Punakawan yang telah meninggalkan
kerajaan Ekacakra melanjutkan pengembaraan menjauhi tanah Hastinapura. Di
tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Begawan Dhomya, sahabat sekaligus guru
Maharesi Abiyasa. Berkat ketekunannya beribadah, dia masih diberi umur panjang
untuk bertemu para Pandawa, cucu sang murid dan kakek Semar. Walaupun mereka
sedang menjadi brahmana, Begawan Dhomya dapat mengenali mereka. “hmmm... kalian
pasti cucu-cucuku Pandawa, mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi saya dapat
mengenali kalian. Kalian adalah salah satu cucu Abiyasa, murid saya” Resi
Dwijakangka (Raden Puntadewa) kemudian bertanya “mohon ampun eyang Begawan,
siapakah sebenarnya anda?” “nama saya Dhomya, dari pertapaan gunung Mahayana.
Saya sahabat dari kakek kalian.” Setelah mendengar hal itu, para Pandawa, Dewi
Kunthi, dan para punakawan memberi hormat. begawan Dhomya kemudian
menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan wangsit dari dewata untuk memberitahukan
kepada para Pandawa bahwa di Pancalaradya akan diadakan sebuah sayembara untuk
mendapatkan putri sulung sang Prabu Drupada yaitu Dewi Drupadi dan mengijinkan
para Pandawa ikut sayembara itu. Dewi Kunthi pun teringat tentang keinginan
suaminya dulu, Pandu Dewanata yang ingin bisa berbesan dengan Prabu Drupada.
Akhirnya Dewi Kunthi mengijinkan tiga dari para Pandawa ikut serta dan
menyaksikan sayembara lebih dahulu sementara dirinya bersama Pinten,Tangsen,
dan para punakawan akan menyusul belakangan.
Keesokan
harinya, para raja dan para pangeran telah berkumpul di arena sayembara.
Ditengah arena itu telah berdiri sebuah tiang setinggi seratus depa yang di
puncaknya diikat sebuah jepit rambut bunga teratai milik Dewi Drupadi dan sebuah
cermin besar selebar tujuh depa. Di dekatnya pula terdapat sebuah meja yang
diatasnya ada busur sakti. etelah para tetamu undangan dan peseta sayembara
berkumpul semua, Arya Drestajumena mengumumkan tatacara sayembara “Wahai para
raja, para pangeran, dan para tetamu undangan yang telah dimuliakan Yang Maha
Agung, disini saya akan mengumumkan tatacara sayembara ini. Barangsiapa yang
mampu memanah jepit rambut yang ada pada mata boneka ikan yang berputar-putar
sanagt cepat itu sambil memandang cermin menggunakan busur sakti, maka dia
berhak memperistri Kakakku, Kanda Dewi Drupadi.” Selesai mengumumkan
pengumuman, naiklah ke arena itu Prabu Salya, raja Mandaraka. Dia berniat untuk
menjadikan Dewi Drupadi sebagai menantunya. Setelah mengutarakan maksudnya dan dipersilahkan
oleh Prabu Drupada, Prabu Salya mematrapkan aji Candhabirawa dan seketika itu
keluarah para raksasa untuk membantunya. Namun yang terjadi, para raksasa dan
dirinya tak mampu mengangkat busur sakti itu. Semakin diangkat, busur itu
semakin berat. Prabu Salya dan para raksasa menyerah lalu mereka mohon pamit
untuk duduk kembali di tribun.
Peserta
berikutnya adalah pangeran mahkota Sindu Banakeling, Prabu Anom Jayadrata. Dia
berusaha mengangkat busur sakti itu. Namun begitu busur itu terangkat sedikit,
badannya langsung lemas. Prabu Anom Jayadrata akhirnya menyerah dan kembali ke
tribun. Lalu keluarlah peserta berikutnya, yaitu Prabu Jarasanda alias Prabu
Jaka Slewah, raja Giribajra. Dengan pongahnya, sang raja itu berusaha
mengangkat busur sakti api seperti yang terjadi sebelumnya, Prabu
Jarasanda tak kuat mengangkat busur itu malah jatuh terduduk karena seluruh
tenaganya bagaikan disedot oleh busur panah itu. Setelah dibantu berdiri, dia
marah-marah lalu naik lagi ke tribun karena mendapat malu. Begitulah yang
terjadi sehinggalah dipanggillah wakil dari Hastinapura, yaitu Raden Suryaputra
dari Awangga. Raden Suryaputra datang bersama Prabu Anom Suyudana, Arya
Dursasana, Bambang Adimanggala, Bambang Aswatama, Patih Arya Sengkuni, Raden
Citraksa-Citraksi, dan beberapa Kurawa lainnya.dia datang untuk mewakili Prabu
Anom Suyudana. Begitu Raden Suryaputra naik ke arena, sifatnya yang biasanya
angkuh dan berlagak berubah menjadi penuh hormat pada sang busur. Begitu
tangannya memegang busur itu, busur itu langsung terangkat dan ringan sekali.
Dewi Drupadi kemudian bertanya pada ayahnya”Ayahanda, saya mau tanya. Apa benar
Raden Suryaputra yang disana itu pangeran Awangga? Aku dengar dia adalah anak
Adipati Adiratha yang dulunya kusir keraton Hastinapura.” “ sepengetahuanku itu
dia anak Adiratha tapi aku juga tak tahu kalau Adiratha sudah jadi Adipati di
Awangga, anakku. Tapi jangan remehkan dia dan kesaktiannya.” Hati Dewi Drupadi
menjadi bimbang dan ingin menanyakan hal itu pada Raden Suryaputra langsung. Prabu
Kresna yang duduk di dekatnya melihat kebimbangan Drupadi “Drupadi, aku tahu
kamu gelisah, kamu merasa Suryaputra memang mampu tapi hatimu menolak.” Drupadi
bertanya “bagaimana ini Gowinda? Aku tidak mungkin tiba-tiba menolaknya tanpa
alasan.” Prabu Kresna lalu berkata “Drupadi, kamu harus jujur pada diri
sendiri. Katakan penolakanmu. Ini sayembaramu dan kamu punya hak untuk
menentukan siapa yang pantas dan yang tidak.” Lalu ketika Raden Suryaputra
sudah mulai menarik busur panah dan hampir melepaskan bidikannya, tiba-tiba
Dewi Drupadi turun dari tribun dan berkata dengan lembut namun cukup keras
”Tunggu dulu, anak kusir.” Tak pelak, Raden Suryaputra menjadi hilang fokus dan
tembakan panahnya meleset jauh dan mengenai pohon beringin. Raden Suryaputra menjadi
tersinggung dan menanya balik Dewi Drupadi “Mohon maaf, tuan putri. Ada apa kau
menghentikanku?” “bukan sebuah hal yang terlalu penting, raden. Saya hanya
ingin bertanya apakah raden benar putra dari sais Adiratha? Bila benar, berarti
raden ini hanya kere yang munggah bale. Saya merasa anda selain mewakili tapi juga sebearnya da niat lain,
saya menolak anda atau orang yang menjadikanmu sebagai wakil!” mendengar
pertanyaan dan pernyataan itu, Raden Suryaputra merasa sangat disepelekan dan
amat marah. Dia meletakkan busur itu kembali pada meja, lalu berkata dengan
kasar “Ingat ini, tuan putri. Kau telah menggagalkan sayembaramu sendiri dengan
menghina dan menyepelekan aku, maka aku bersumpah kau akan mengalami hal yang
sama, dihina dan dipermalukan di depan khalayak. Semoga aku punya umur panjang
untuk menyaksikan hal itu, tuan putri!!” setelah itu, Raden Suryaputra pergi
meninggalkan arena disusul oleh adik angkatnya, Bambang Adimanggala sementara
Dewi Drupadi kembali ke tempat duduknya sambil menangis.
Para
tetamu undangan merasa terkejut dan terutama Prabu Anom Suyudana merasa marah
atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap Raden Suryaputra. Dihadapan hadirin di
sana, Prabu Anom Suyudana mengatakan bahwa sayembara ini terlalu mustahil dan
berkata bahwa kerajaan Pancalaradya hendak membuka perang. Akhirnya kemudian
berdirilah Arya Gandamana dan membuka satu sayembara lagi agar keponakan
kesayangannya itu bisa segera menikah“ baiklah, karena ada yang merasa
sayembara memanah ini terlalu susah, maka saya tambah satu sayembara tanding.
Siapapun yang bisa mengalahkan saya, tak peduli apapun kasta yang disandangnya,
kedudukan ataupun darimanakah asal-usulnya, maka dia yang berhak menikahi Dewi
Drupadi. Terserah mau pakai senjata apa saja, saya akan ladeni dengan tanah
kosong!” Prabu Anom Suyudana yang sejak tadi merasa kesal karena sahabatnya
dihina segera meladeni sayembara tanding itu. Dengan menggunakan gadanya, dia
memukul dan menyerang Arya Gandamana. Namun karena Ajian Wungkal Bener dan
Bandung Bandawasa yang dipatrapkan Arya Gandamana, Suyudana menjadi terdesak.
Melihat kakak tertua mereka dalam keadaan yang demikian, Arya Dursasana dan
adik-adiknya segera membantu Prabu Anom Suyudana. Namun bukannya kalah, justru
Arya Gandamana mampu membuat para Kurawa terdesak dan pontang-panting bahkan
terlempar keluar kotaraja.
Bersamaan itu pula datanglah empat orang pendeta. Yang tertua adalah begawan Dhomya dan tiga pendeta dibelakangnya. Mereka adalah Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa),Wasi Kusumayuda (Arya Bratasena), dan Wasi Parta (Raden Permadi).
![]() |
| Arjuna menyelesaikan sayembara Panahan |
Wasi Parta dinyatakan sebagai pemenang sayembara memanah. Bersamaan itu pula, datanglah Nyai Prita (Dewi Kunthi), Wasi Grantika dan Tripala (Raden Pinten dan Tangsen), dan kakek Semar beserta anak-anaknya. Mereka bangga akan kemenangan Wasi Parta dan memberikan selamat kepadanya. Sementara itu, Wasi Kusumayuda masih bertanding gulat dengan Arya Gandamana. Pertandingan itu masih berimbang. Anehnya, Aji Bandung Bandawasa dan Wungkal Bener tidak bekerja sebagaimana mestinya. Lalu di saat Wasi Kusumayuda lengah, Arya Gandamana mencekiknya dengan cara dikempit menggunakan ketiaknya. Wasi Kusumayuda merasa sesak nafas karena tercekik. Tanpa sadar, Kuku Pancanaka milik Wasi Kusumayuda memanjang dan menembus dada Arya Gandamana. Arya Gandamana merasa dingin dan roboh ke tanah dengan bersimbah darah. Tak lama, Resi Dwijakangka, Wasi Parta, Wasi Gratika dan Tripala, dan Nyai Prita diikuti Prabu Kresna mendekat untuk menghampiri mereka. Begitu juga keluarga Pancalaradya segera meninggalkan tempat duduk untuk melihat kondisi mereka. Namun Arya Gandamana tak menyalahkan sesiapapun dan mengumumkan bahwa Pandawa telah kembali. “rayi Prabu Drupada...ananda Prabu Kresna... inilah mereka. Para Pandawa dan Dewi Kunthi...... mereka telah selamat...dari kebakaran tempo hari.....” Prabu Drupada sekeluarga terkejut sekaligus gembira mendengarnya bahwa Pandawa dan Dewi Kunthi telah selamat tanpa kurang satu apapun.
![]() |
| Gandamana Gugur |
Hari berikutnya, persiapan pernikahan disiapkan. Prabu
Kresna lalu menghadap kepada Dewi Kunthi “salam, bibi Kunthi. Syukurlah Bibi
dan para saudaraku selamat sejak dari Mandura.” “tentu saja, ananda prabu.
Gowinda kesayangan bibi.” Prabu Drupada terkaget “Tunggu, ananda Prabu. Jadi
ananda sudah....” Prabu Kresna berkata “benar, paman prabu. Bibi Kunthi dan
para saudaraku pandawa telah membantu keluarga Mandura lepas dari kekejaman kakakku,
Kangsa. Aku sengaja menutupi kebenaran ini demi keamanan Bibi Kunthi dan para
Pandawa terjaga.” Permadi lalu menghadap “kakanda Madhawa, aku bahagia bisa
bertemu denganmu kembali. Bagaimana keadaan pamanda Basudewa dan
saudara-saudara kita?” Kresna menjawab “kabar mereka baik, Partha. Kami sudah
membangun istana baru di pantai. Kerajaan Dwarawati telah berdiri. Ini sama
seperti impianmu dan impian Radha.” Permadi teringat ia bermimpi melihat kota
yang indah saat berada di Ekacakra dan ia menyaksikan bahwa Kresna menjadi raja
di sana, lalu melihat wajah Radha tersenyum bahagia dan tiga wanita asing
membelai Kresna. Permadi jadi penasaran bagaimana rupa negeri yang dibangun
saudaranya itu. Prabu Kresna bilang akan ada masanya ia akan memasuki kota itu.
tapi sekarang adalah hari bahagia kakangnya, Puntadewa.
Sementara itu, para Kurawa dan para peserta yang
gagal belum pulang dari kerajaan Pancalaradya, telah mendengar bahwa sayembara
telah usai dan Dewi Drupadi telah menjadi isteri seorang pendeta muda menjadi
kesal hati. Di saat hari pernikahan Puntadewa dan Drupadi dilangsungkan, mereka
datang menyerang Kerajaan Pancalaradya dan berniat merebut Dewi Drupadi. Arya
Bratasena yang sudah memakai pakaian pangeran mengalahkan mereka dengan tiang
bekas sarana sayembara. Mereka kemudian kucar-kacir dan lari pontang panting ke
negara mereka masing-masing. Hari itu pula, para Pandawa dan Dewi Kunthi telah
membuka penyamaran mereka. Dewi Kunthi sudah tak lagi menjadi Nyai Prita yang
berpakaian dari kulit kayu dan berganti baju dengan pakaian ratu janda. Para
Pandawa juga para punakawan mencukur janggut dan kumis tebal mereka. Setelah
beberapa hari, mereka meminta izin untuk kembali ke pertapaan Saptaharga untuk
menghadap Maharesi Abiyasa.



