Rabu, 04 Maret 2026

Banjaran Sri Kresna Episode 10: Sayembara Drupadi

Hallo semua, sudah lama saya tak menulis kisah Banjaran Sri Kresna. Kisah Kali ini menceritakan kedatangan Prabu Kresna sebagai raja baru ke Hastinapura dan memberi teka-teki kepada Bhisma dan Arya Widura tentang nasib Pandawa. Kisah berlanjut kunjungan Kresna ke pancalaradya, bertemu dengan Dewi Drupadi yang jadi sahabat terdekatnya dan sayembara sang putri. . Kisah ini mengambil sumber Kitab Mahabharata karya Mpu Vyasa, Serial Kolosal India Mahabharat Starplus, dan Radha Krishna Starbharat.

Setelah kerajaan Dwarawati terbangun menggantikan negara Dwarakawestri yang hancur karena serangan Kalayawana, Prabu Kresna mulai membangun berbagai hubungan diplomatik. Pertama yakni dengan Hastinapura, kerajaan tempat sang bibi dan para sepupnya yakni Dewi Kunthi dan para Pandhawa dulu tinggal sebelum mereka meninggal karena kebakaran di Bale Sigala-gala. Walaupun Kresna tahu bahawa bibi dan anak-anaknya masih selamat malah membantunya saat pencegahan makar di Mandura, Kresna sengaja tutup mulut karena ia tahu belum saatnya mereka muncul di hadapan keluarga kerajaan Hastinapura. “salam paman prabu Drestarastra, keponakanmu dari Dwaraka telah datang sebagai mitra kerajaan hastinapura.” Ucap Prabu Kresna di hadapaan Prabu Drestarastra dan . “sebelumnya,aku turut berduka karena saudara-saudaraku Pandhawa dan bibi Kunthi meninggal karena kebakaran tempo sasih lalu. Aku baru tahu kabar ini dari ayahanda Basudewa.” Prabu Drestarastra berkata “anakku ananda prabu, aku juga masih berduka dengn kepergian mereka. Belum kering air mataku karenanya.” “benar suamiku, akupun juga tak menduga bila ini menimpa adik ipar dan anak-anakku Pandhawa.” Balas Dewi Gendari juga dengan menyeka penutup matanya yang basah oleh air mata. Di sana, Prabu Kresna bertemu dengan para Kurawa yang pimpin Prabu Anom Kurupati (Suyudana), Raden Dursasana, dan paman mereka, Haryapati Sengkuni, patih Hastinapura yang merangkap sebagai raja Gandaradesa.

Kedatangan Kresna ke Hastinapura
Lalu Kresna mendekati mereka “salam paman harya.” Sengkuni menjawabnya “salam, Basudewa! Aku turut senang nanda Prabu dan sekeluarga selamat dari makar Kangsa.” Ucap Sengkuni yang kedengaran manis tapi menyimpan tanda tanya, seperti sedang membaca situasi. Sengkuni bergumam “hmmm...raja gembala ini harus ku waspadai. Bisa-bisa semua rencanaku ke depannya bisa gagal dan berantakan. Aku harus hati-hati dan membaca apa rencananya.”

Setelah beberapa hari di keraton Hastinapura, Prabu Kresna pamit ingin melanjutkan perjalanan ke Talkandha dan Panggombakan untuk bertemu dengan Maharesi Bhisma sang pinisepun kerajaan Hastinapura dan Arya Widura, adik bungsu Prabu Drestaratra yang tinggal di Panggombakan. Kebetulan di Panggombakan, mereka berdua ada di sana, bahkan kakek Semar sang pamomong juga berada di sana. “salam kakek Maharesi! Salam paman adipati Arya Widura! Salam kakek Semar!” ketiganya memberi salam kepadanya. Kakek Semar menyambut sang Madhawa  “hhmmm... blegedeg gudug... anakku ngger prabu Kresna. Terakhir kali kita bertemu saat di Widarakandha. Sekarang kau sudah menjadi raja Dwaraka. Apa kabar kakangmu Kakrasana, adhimu Rara Ireng dan Radha temanmu juga ibu ayahmu?” Kresna berkata kepada pamomongnya “Astungkara, puja dan puji pada Hyang Widhi, mereka baik-baik saja.” Bhisma dan Arya Widura menanyakan  ada apakah kedatangannya kemari “cucuku Kresna, kau sudah datang ke Hastinapura, tapi ada apa dikau datang ke Panggombakan, cucuku?” “benar anakku, apakah ada sesuatu yang penting telah terjadi?” Prabu Kresna lalu berkata “Kakek Maharesi, paman Arya, dan kakek Semar, kedatanganku kemari hanya memberitahukan bahawa keadaan di negeri ini kacau sekali. Paman Prabu pasti kerepotan karena pelantikan adhi Kurupati sebagai yuwaraja. Keadaan di taman keraton jadi berantakan. Aku lihat di sana keluarga bebek di sana menderita. Ibu bebek dan lima anaknya sampai kotor karena terus berendam di lumpur kolam yang kering itu. Aku melihat mereka akan terbang mencari kolam baru. Tolong ingatkan paman Prabu untuk memperbaiki taman keratonnya.” Setelah berkata demikian, Prabu Kresna harus pamit kembali ke Dwarawati karena banyak hal yang harus di kerjakan di kerajaannya. Maharesi Bhisma dan Arya Widura masih bertanya apa maksud dari Kresna, namun Kakek Semar paham bahwa para Pandawa masih hidup dan selamat. Maka ia pamit karena akan kembali Karang Tumaritis.

Sementara itu, di kerajaan Pancalaradya, sang raja yakni Prabu Drupada dan patihnya yang tak lain patih Arya Gandamana, iparnya sendiri baru ssja merayakan ulangtahun ketiga anaknya yakni Dewi Drupadi, Arya Drestajumena, dan Dewi Srikandhi. Di saat itu, Prabu Kresna datang menghadap kepada Prabu Drupada. “salam gusti Prabu Drupada! Dan salam juga untuk gusti patih Gandamana dan raden mas putra-putri !” Prabu Drpada, Arya Gandamana, dan tiga anak prabu Drpada menyambut salam sang Madhawa. “salam ananda prabu Kresna! Berita tentang anak prabu dan ayahmu, Basudewa telah ku dengar. Ku dengar sekarang anak prabu sudah mendirikan negeri baru diseberang pantai barat. Aku ucapkan selamat!” prabu Drupada mempersilakan Prabu Kresna duduk bersamanya. Dewi Drupadi digambarkan sebagai gadis cantik berambut hitam ikal bergombak laksana api, berbadan sintal berkulit sawo matang dan bersih, harum semerbak bak wangi teratai  Ia putri yang cerdas, berpendidikan, dan memiliki widya dengan kualitas seorang raja. Adik-adiknya juga tak kalah hebat. Arya Drestajumena ibarat dewa perang yang turun menitis ke dunia. Rupa tampan rupawan, mata berapi-api, badan atletis bak pemuda di puncak pesonannya, dan berdedikasi tinggi dalam berbagai ilmu terutama ilmu berperang. Dewi Srikandhi pun kecantikan dan kecerdasannya menyamai sang kakak. Tampil dengan ayu namun berjiwa pejuang. Ia putri tapi juga pemanah yang ulung dan ahli beladiri yang mumpuni. Sungguh putri yang jarang ada di zaman itu, putri petarung yang tangguh tapi ayu dan molek.

Hari itu Prabu Kresna mendapat kehormatan oleh Prabu Drupada karena sang puteri, Dewi Drupadi telah selesai menyelesaikan pendidikannya dan kini dia akan siap menikah. Prabu Drupada lalu mempersilakan Prabu Kresna untuk menjamu selera hidangan yang ada.

Kresna dan Dewi drupadi di taman Keraton
Prabu Drupada memanggil Drupadi dan kedua saudaranya. Dewi Drupadi sangat anggun seperti yang ada dalam cerita dongeng. Kebaikan hatinya terasa dalam dan menyebar ke seluruh istana.”salam yang mulia Prabu kresna.” Kresna berkata pada Drupadi “temanku, jangan begitu. Kita ini seumuran. Panggil saja aku Gowinda.” “Baiklah, kakang Gowinda.” Kresna pun menceritakan tentang dirinya. Setelah itu Drupadi pun bercerita bagaimana kelahirannya yang ajaib: pada masa lalu, ayah Drupadi yakni Prabu Drupada dikalahkan Begawan Dorna di tangan para Pandawa dan Kurawa. Kerajaan Pancala terbagi dua. Karena itu, Drupada melakukan pertapaan keras demi mendapatkan seorang putra. Melalui Bantuan Resi Yodya dan Upayodya, Prabu Drupada melakukan sesaji Agni Putrakama. Ia lemparkan semua yang ia miliki hingga dari dalam api keluar tiga orang anak, satu putra dan dua putri yakni dirinya, Drestajumena, dan Srikandhi. Begitulah Dewi Drupadi menceritakan asal-usulnya.

Lalu datang prabu Drupada datang bersama Arya Gandamana dan para menteri. Ia berkata kepada putrinya bahwa sarana pernikahan sudah siap sekarang tinggal calon suaminya. Dewi Drupadi tersipu malu. Ia bahkan belum tahu siapa yang bakal jadi suaminya tapi ia pernah bermimpi bahwa ia bersama seorang lelaki yang pembawaannya tampan dan tenang. Ia diratukan dan siiringi empat orang lelaki sebagai pengiring. Prabu Kresna memberi usul agar Drupadi menggelar sayembara. Dewi Drupadi berkata “kakang Gowinda, sayembara apa yang harus ku gelar/ apakah kau punya saran tentang itu?” Prabu Kresna berkata “apa saja boleh, mau adu kekuatan, adu senjata, atau adu kecerdasan. Dari para pemenangnya kau bisa pilih dari mereka siapa yang panatas.” Dewi Drupadi berpikir keras dan akhirnya ia memutuskan akan menggelar sayembara memanah sasaran dan ia tidak masalah kalau jika yang melakukan sayembara ini adalah perwakilan maupun orangnya langsung. Drupada langsung setuju dan memerintahkan para menteri menyebar undangan sayembara di Pancala demi mendapatkan putrinya.

Sementara itu, Dewi Kunthi, para Pandawa, dan para Punakawan yang telah meninggalkan kerajaan Ekacakra melanjutkan pengembaraan menjauhi tanah Hastinapura. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Begawan Dhomya, sahabat sekaligus guru Maharesi Abiyasa. Berkat ketekunannya beribadah, dia masih diberi umur panjang untuk bertemu para Pandawa, cucu sang murid dan kakek Semar. Walaupun mereka sedang menjadi brahmana, Begawan Dhomya dapat mengenali mereka. “hmmm... kalian pasti cucu-cucuku Pandawa, mungkin kalian tidak mengenal saya, tapi saya dapat mengenali kalian. Kalian adalah salah satu cucu Abiyasa, murid saya” Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa) kemudian bertanya “mohon ampun eyang Begawan, siapakah sebenarnya anda?” “nama saya Dhomya, dari pertapaan gunung Mahayana. Saya sahabat dari kakek kalian.” Setelah mendengar hal itu, para Pandawa, Dewi Kunthi, dan para punakawan memberi hormat. begawan Dhomya kemudian menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan wangsit dari dewata untuk memberitahukan kepada para Pandawa bahwa di Pancalaradya akan diadakan sebuah sayembara untuk mendapatkan putri sulung sang Prabu Drupada yaitu Dewi Drupadi dan mengijinkan para Pandawa ikut sayembara itu. Dewi Kunthi pun teringat tentang keinginan suaminya dulu, Pandu Dewanata yang ingin bisa berbesan dengan Prabu Drupada. Akhirnya Dewi Kunthi mengijinkan tiga dari para Pandawa ikut serta dan menyaksikan sayembara lebih dahulu sementara dirinya bersama Pinten,Tangsen, dan para punakawan akan menyusul belakangan.

Keesokan harinya, para raja dan para pangeran telah berkumpul di arena sayembara. Ditengah arena itu telah berdiri sebuah tiang setinggi seratus depa yang di puncaknya diikat sebuah jepit rambut bunga teratai milik Dewi Drupadi dan sebuah cermin besar selebar tujuh depa. Di dekatnya pula terdapat sebuah meja yang diatasnya ada busur sakti. etelah para tetamu undangan dan peseta sayembara berkumpul semua, Arya Drestajumena mengumumkan tatacara sayembara “Wahai para raja, para pangeran, dan para tetamu undangan yang telah dimuliakan Yang Maha Agung, disini saya akan mengumumkan tatacara sayembara ini. Barangsiapa yang mampu memanah jepit rambut yang ada pada mata boneka ikan yang berputar-putar sanagt cepat itu sambil memandang cermin menggunakan busur sakti, maka dia berhak memperistri Kakakku, Kanda Dewi Drupadi.” Selesai mengumumkan pengumuman, naiklah ke arena itu Prabu Salya, raja Mandaraka. Dia berniat untuk menjadikan Dewi Drupadi sebagai menantunya. Setelah mengutarakan maksudnya dan dipersilahkan oleh Prabu Drupada, Prabu Salya mematrapkan aji Candhabirawa dan seketika itu keluarah para raksasa untuk membantunya. Namun yang terjadi, para raksasa dan dirinya tak mampu mengangkat busur sakti itu. Semakin diangkat, busur itu semakin berat. Prabu Salya dan para raksasa menyerah lalu mereka mohon pamit untuk duduk kembali di tribun.

Peserta berikutnya adalah pangeran mahkota Sindu Banakeling, Prabu Anom Jayadrata. Dia berusaha mengangkat busur sakti itu. Namun begitu busur itu terangkat sedikit, badannya langsung lemas. Prabu Anom Jayadrata akhirnya menyerah dan kembali ke tribun. Lalu keluarlah peserta berikutnya, yaitu Prabu Jarasanda alias Prabu Jaka Slewah, raja Giribajra. Dengan pongahnya, sang raja itu berusaha mengangkat busur sakti api seperti yang terjadi sebelumnya, Prabu Jarasanda tak kuat mengangkat busur itu malah jatuh terduduk karena seluruh tenaganya bagaikan disedot oleh busur panah itu. Setelah dibantu berdiri, dia marah-marah lalu naik lagi ke tribun karena mendapat malu. Begitulah yang terjadi sehinggalah dipanggillah wakil dari Hastinapura, yaitu Raden Suryaputra dari Awangga. Raden Suryaputra datang bersama Prabu Anom Suyudana, Arya Dursasana, Bambang Adimanggala, Bambang Aswatama, Patih Arya Sengkuni, Raden Citraksa-Citraksi, dan beberapa Kurawa lainnya.dia datang untuk mewakili Prabu Anom Suyudana. Begitu Raden Suryaputra naik ke arena, sifatnya yang biasanya angkuh dan berlagak berubah menjadi penuh hormat pada sang busur. Begitu tangannya memegang busur itu, busur itu langsung terangkat dan ringan sekali. Dewi Drupadi kemudian bertanya pada ayahnya”Ayahanda, saya mau tanya. Apa benar Raden Suryaputra yang disana itu pangeran Awangga? Aku dengar dia adalah anak Adipati Adiratha yang dulunya kusir keraton Hastinapura.” “ sepengetahuanku itu dia anak Adiratha tapi aku juga tak tahu kalau Adiratha sudah jadi Adipati di Awangga, anakku. Tapi jangan remehkan dia dan kesaktiannya.” Hati Dewi Drupadi menjadi bimbang dan ingin menanyakan hal itu pada Raden Suryaputra langsung. Prabu Kresna yang duduk di dekatnya melihat kebimbangan Drupadi “Drupadi, aku tahu kamu gelisah, kamu merasa Suryaputra memang mampu tapi hatimu menolak.” Drupadi bertanya “bagaimana ini Gowinda? Aku tidak mungkin tiba-tiba menolaknya tanpa alasan.” Prabu Kresna lalu berkata “Drupadi, kamu harus jujur pada diri sendiri. Katakan penolakanmu. Ini sayembaramu dan kamu punya hak untuk menentukan siapa yang pantas dan yang tidak.” Lalu ketika Raden Suryaputra sudah mulai menarik busur panah dan hampir melepaskan bidikannya, tiba-tiba Dewi Drupadi turun dari tribun dan berkata dengan lembut namun cukup keras ”Tunggu dulu, anak kusir.” Tak pelak, Raden Suryaputra menjadi hilang fokus dan tembakan panahnya meleset jauh dan mengenai pohon beringin. Raden Suryaputra menjadi tersinggung dan menanya balik Dewi Drupadi “Mohon maaf, tuan putri. Ada apa kau menghentikanku?” “bukan sebuah hal yang terlalu penting, raden. Saya hanya ingin bertanya apakah raden benar putra dari sais Adiratha? Bila benar, berarti raden ini hanya kere yang munggah bale. Saya merasa anda selain mewakili tapi juga sebearnya da niat lain, saya menolak anda atau orang yang menjadikanmu sebagai wakil!” mendengar pertanyaan dan pernyataan itu, Raden Suryaputra merasa sangat disepelekan dan amat marah. Dia meletakkan busur itu kembali pada meja, lalu berkata dengan kasar “Ingat ini, tuan putri. Kau telah menggagalkan sayembaramu sendiri dengan menghina dan menyepelekan aku, maka aku bersumpah kau akan mengalami hal yang sama, dihina dan dipermalukan di depan khalayak. Semoga aku punya umur panjang untuk menyaksikan hal itu, tuan putri!!” setelah itu, Raden Suryaputra pergi meninggalkan arena disusul oleh adik angkatnya, Bambang Adimanggala sementara Dewi Drupadi kembali ke tempat duduknya sambil menangis.

Para tetamu undangan merasa terkejut dan terutama Prabu Anom Suyudana merasa marah atas penghinaan Dewi Drupadi terhadap Raden Suryaputra. Dihadapan hadirin di sana, Prabu Anom Suyudana mengatakan bahwa sayembara ini terlalu mustahil dan berkata bahwa kerajaan Pancalaradya hendak membuka perang. Akhirnya kemudian berdirilah Arya Gandamana dan membuka satu sayembara lagi agar keponakan kesayangannya itu bisa segera menikah“ baiklah, karena ada yang merasa sayembara memanah ini terlalu susah, maka saya tambah satu sayembara tanding. Siapapun yang bisa mengalahkan saya, tak peduli apapun kasta yang disandangnya, kedudukan ataupun darimanakah asal-usulnya, maka dia yang berhak menikahi Dewi Drupadi. Terserah mau pakai senjata apa saja, saya akan ladeni dengan tanah kosong!” Prabu Anom Suyudana yang sejak tadi merasa kesal karena sahabatnya dihina segera meladeni sayembara tanding itu. Dengan menggunakan gadanya, dia memukul dan menyerang Arya Gandamana. Namun karena Ajian Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa yang dipatrapkan Arya Gandamana, Suyudana menjadi terdesak. Melihat kakak tertua mereka dalam keadaan yang demikian, Arya Dursasana dan adik-adiknya segera membantu Prabu Anom Suyudana. Namun bukannya kalah, justru Arya Gandamana mampu membuat para Kurawa terdesak dan pontang-panting bahkan terlempar keluar kotaraja.

Bersamaan itu pula datanglah empat orang pendeta. Yang tertua adalah begawan Dhomya dan tiga pendeta dibelakangnya. Mereka adalah Resi Dwijakangka (Raden Puntadewa),Wasi Kusumayuda (Arya Bratasena), dan Wasi Parta (Raden Permadi). 

Arjuna menyelesaikan sayembara Panahan
Dua dari mereka, Wasi Kusumayuda dan Wasi Parta kemudian memohon pada Arya Gandamana dan Arya Drestajumena untuk diperkenankan ikut sayembara mewakilkan kakak tertua mereka yang bersama Begawan Dhomya. Setelah diijinkan Prabu Drupada, ajang sayembara itu dilangsungkan kembali. Wasi Parta mulai naik ke arena sayembara panah dan menghormat pada busur pusaka Pancalaradya. Wasi Parta mulai mengangkat busur panah sakti itu. Ajaib, busur itu sangat ringan ketika diangkatnya. Lalu Wasi Parta mulai mengambil anak panah menarik busur itu, lalu membidik sasaran melalui cermin. Setelah mendapatkan fokus, terlepaslah panah itu dan melesat secepat kilat, tepat mengenai jepit rambut yang berada di dalam mata boneka ikan yang berputar-putar itu.

Wasi Parta dinyatakan sebagai pemenang sayembara memanah. Bersamaan itu pula, datanglah Nyai Prita (Dewi Kunthi), Wasi Grantika dan Tripala (Raden Pinten dan Tangsen), dan kakek Semar beserta anak-anaknya. Mereka bangga akan kemenangan Wasi Parta dan memberikan selamat kepadanya. Sementara itu, Wasi Kusumayuda masih bertanding gulat dengan Arya Gandamana. Pertandingan itu masih berimbang. Anehnya, Aji Bandung Bandawasa dan Wungkal Bener tidak bekerja sebagaimana mestinya. Lalu di saat Wasi Kusumayuda lengah, Arya Gandamana mencekiknya dengan cara dikempit menggunakan ketiaknya. Wasi Kusumayuda merasa sesak nafas karena tercekik. Tanpa sadar, Kuku Pancanaka milik Wasi Kusumayuda memanjang dan menembus dada Arya Gandamana. Arya Gandamana merasa dingin dan roboh ke tanah dengan bersimbah darah. Tak lama, Resi Dwijakangka, Wasi Parta, Wasi Gratika dan Tripala, dan Nyai Prita diikuti Prabu Kresna mendekat untuk menghampiri mereka. Begitu juga keluarga Pancalaradya segera meninggalkan tempat duduk untuk melihat kondisi mereka. Namun Arya Gandamana tak menyalahkan sesiapapun dan mengumumkan bahwa Pandawa telah kembali. “rayi Prabu Drupada...ananda Prabu Kresna... inilah mereka. Para Pandawa dan Dewi Kunthi...... mereka telah selamat...dari kebakaran tempo hari.....” Prabu Drupada sekeluarga terkejut sekaligus gembira mendengarnya bahwa Pandawa dan Dewi Kunthi telah selamat tanpa kurang satu apapun.

Gandamana Gugur
Sebelum Arya Gandamana menghembuskan nafas terakhir, dia mengheningkan cipta dan mewariskan Aji Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa pada Arya Bratasena, Kalung sakti Robyong Mustikawarih kepada Puntadewa dan Ajian Sepiangin pada Permadi. Setelah mewariskan segala kesaktiannya, Arya Gandamana wafat dengan tenang dan seketika moksa ke alam dewa. Sayembarapun selesai. Kini, Prabu Drupada dapat berbesan dengan mendiang Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Drupadi telah mendapatkan jodohnya yaitu Raden Puntadewa, putra sulung Pandu Dewanata yang berwatak bagai brahmana, sesuai seperti dalam mimpinya. Dewi Srikandhi yang menyaksikan Permadi sedang membidik sasaran tadi seketika jatuh hatipadanya. Begitu pula Raden Permadi, sama-sama tertarik hatinya ketika melihat ayunya wajah Srikandhi namun mereka masih malu-malu untuk mengungkapkan.

Hari berikutnya, persiapan pernikahan disiapkan. Prabu Kresna lalu menghadap kepada Dewi Kunthi “salam, bibi Kunthi. Syukurlah Bibi dan para saudaraku selamat sejak dari Mandura.” “tentu saja, ananda prabu. Gowinda kesayangan bibi.” Prabu Drupada terkaget “Tunggu, ananda Prabu. Jadi ananda sudah....” Prabu Kresna berkata “benar, paman prabu. Bibi Kunthi dan para saudaraku pandawa telah membantu keluarga Mandura lepas dari kekejaman kakakku, Kangsa. Aku sengaja menutupi kebenaran ini demi keamanan Bibi Kunthi dan para Pandawa terjaga.” Permadi lalu menghadap “kakanda Madhawa, aku bahagia bisa bertemu denganmu kembali. Bagaimana keadaan pamanda Basudewa dan saudara-saudara kita?” Kresna menjawab “kabar mereka baik, Partha. Kami sudah membangun istana baru di pantai. Kerajaan Dwarawati telah berdiri. Ini sama seperti impianmu dan impian Radha.” Permadi teringat ia bermimpi melihat kota yang indah saat berada di Ekacakra dan ia menyaksikan bahwa Kresna menjadi raja di sana, lalu melihat wajah Radha tersenyum bahagia dan tiga wanita asing membelai Kresna. Permadi jadi penasaran bagaimana rupa negeri yang dibangun saudaranya itu. Prabu Kresna bilang akan ada masanya ia akan memasuki kota itu. tapi sekarang adalah hari bahagia kakangnya, Puntadewa.

Sementara itu, para Kurawa dan para peserta yang gagal belum pulang dari kerajaan Pancalaradya, telah mendengar bahwa sayembara telah usai dan Dewi Drupadi telah menjadi isteri seorang pendeta muda menjadi kesal hati. Di saat hari pernikahan Puntadewa dan Drupadi dilangsungkan, mereka datang menyerang Kerajaan Pancalaradya dan berniat merebut Dewi Drupadi. Arya Bratasena yang sudah memakai pakaian pangeran mengalahkan mereka dengan tiang bekas sarana sayembara. Mereka kemudian kucar-kacir dan lari pontang panting ke negara mereka masing-masing. Hari itu pula, para Pandawa dan Dewi Kunthi telah membuka penyamaran mereka. Dewi Kunthi sudah tak lagi menjadi Nyai Prita yang berpakaian dari kulit kayu dan berganti baju dengan pakaian ratu janda. Para Pandawa juga para punakawan mencukur janggut dan kumis tebal mereka. Setelah beberapa hari, mereka meminta izin untuk kembali ke pertapaan Saptaharga untuk menghadap Maharesi Abiyasa.